Introducing…

Sebuah perkenalan.

Hai…

Aku… seseorang yang punya hobi menulis. Mengeja huruf demi huruf, merangkai kata demi kata, membentuk kalimat demi kalimat, hingga jadilah sebuah cerita.

Aku bukan penulis yang baik, sungguh. Aku hanya seseorang yang senang berimajinasi dan bercerita. Melalui Symphony Rita ini, semua yang terlintas di otakku kutuangkan ke dalam bentuk untaian kata.

Aku bukan penyair yang hebat merangkai kata-kata indah. Aku hanya menulis apa yang terlintas di kepalaku, yang terlihat oleh mataku, dan yang kurasakan melalui batinku.

Untukmu yang tak sengaja mengunjungi rumah sederhana ini, dua kata yang ingin kuucapkan; selamat datang. Dan untukmu yang sudah sering dan tak pernah bosan berkunjung kemari, kuucapkan terima kasih. Blog ini–aku lebih suka menyebutnya sebagai rumahku–bukan apa-apa tanya dukungan kalian. Harapanku cuma satu. Semoga rumah ini terus bertahan dan tak tergerus oleh waktu. Aku harap dapat menjadi nyonya rumah yang baik untuk kalian.

Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh di kemudian hari. -Pramoedya Ananta Toer-

Tambahan untuk yang mau baca cerita-cerita di blog ini, cukup klik FF Library untuk melihat daftar ceritanya.

Sekian dan terima kasih

(◦^⌣^◦)

Hotelier Baru Gede Punya Cerita #1

Hai… hai… AKU KEMBALI!!! Adakah yang kangen sama Mommy Miguel yang super unyu-unyu ini??? *minta ditabok readers* Hihihi…

Setelah… *cek kalender dulu* hampir 5 bulan tidak posting apa pun di rumah tercintah saya ini, kini daku kembali dengan sebuah serial kehidupan. *eaaakkk*

Eh, serius lho. Seperti yang telah diketahui oleh beberapa teman, saat ini aku berprofesi sebagai seorang hotelier di salah satu resort bintang lima yang berada di Lagoi, Bintan. Mungkin nama Lagoi apalagi Bintan cukup asing di telinga kalian. But, tidak ada salahnya kan searching di google? Hitung-hitung sebagai pengenalan terhadap wilayah di negara sendiri gitu lho. Masa mau kalah sama turis mancanegara? Mereka yang bukan warga Indonesia saja lebih mengenal negara kita daripada kita sendiri sebagai warga Indonesia. Malu ding! Mau diletak ke mana wajah cantik dan ganteng kita ini???

Oke, back to the topic. Jadi asal mula kenapa aku bisa menjadi seorang hotelier itu tidak terlepas dari pendidikan yang aku tempuh. Bagi teman-teman yang sudah pernah membaca posting aku yang berjudul Suka, Duka, Manis, dan Pahitnya Kehidupan Anak Training di Hotel pasti sudah tahu dong background pendidikanku? Ya walaupun aku lulus tanpa gelar, setidaknya sekarang aku sudah bisa mencari duit dari hasil keringatku sendiri.

Bagi orang awam, kata hotel mungkin selalu identik dengan sesuatu yang berbau negatif. Ngaku deh. Iya, kan? Tenang. Bukan kalian saja kok yang punya pemikiran seperti itu. I have been there. Serius. Dulu, aku juga pernah punya pemikiran seperti itu sebelum benar-benar mengenal dan paham dengan dunia perhotelan. Hotel yang identik dengan free-sex-lah, narkotika, kehidupan glamor, dan sebagainya.

Faktanya… kami ini adalah babu. Eitt, kami babu tapi bukan sembarangan babu lho. Kami babu tapi babu elit. Mana ada babu yang pakai uniform keceh? Hehehe…. Bercanda. Baca lebih lanjut

My Secret, His Son #16a

My Secret1 copy

Saat anak-anak lain sibuk bermain dan berlarian dengan sesamanya di area perkebunan, tampak seorang bocah kecil menepi dari kegiatan tersebut. Sebenarnya serangkaian kegiatan field trip hari ini telah usai. Mereka mendapat kesempatan untuk bermain-main sebentar sebelum kembali ke sekolah.

Miguel tidak sendirian. Di sebelahnya ada seorang pria dewasa yang sejak sejam lalu tak sekali pun melepas genggamannya dari tangan mungil Miguel. Boleh dibilang Marc menyita bocah itu dari teman-temannya.

Mereka berjalan menyusuri kandang-kandang sapi. Marc sesekali mengusap-usap gemas puncak kepala Miguel. Tak jarang mereka tertawa berbarengan.

Pemandangan tersebut tidak luput dari perhatian beberapa wanita di sudut lain. Di bawah rerimbunan pohon willow yang teduh, para wanita beristirahat di atas kursi panjang dengan sebuah meja piknik terbentang di hadapan mereka.

“Apakah kalian melihat ada sesuatu yang aneh?” tanya salah seorang dari mereka.

Miss Laurens lantas berhenti memasukkan jaket hitamnya ke tas dan kepalanya menoleh ke arah Miss Caroline. Rambut pirang ikal yang membingkai wajah ovalnya bergoyang saat terpaan angin mengenai bagian belakang tubuhnya. Baca lebih lanjut

Senja di Kota Madrid : Mama #1

FF perdana setelah berbulan-bulan tidak posting apa pun. Happy reading ya, guys. Yang mau ninggalin komentar silakan, yang gak mau juga gak pa-pa. Tapi bagusnya sih ninggalin. Hihihi…. *maunya penulis ini mah* Siapa tau jadi semangat posting next chapter-nya :p

Laura merapatkan mantel krem yang dikenakannya dan berjalan cepat menembus hujan salju yang mulai berjatuhan. Ia menyampirkan tali tas hitam di bahu kirinya, salah satu tangannya menahan topi rajut yang dipakainya agar tidak terjatuh tertiup angin.

Wajahnya mulai memerah akibat gigitan cuaca dingin. Hidungnya mulai terasa sakit. Laura benci cuaca kota Madrid akhir tahun seperti ini. Dingin dan basah. Membuatnya kerepotan karena ia memiliki sedikit masalah dengan imunitas tubuh saat musim dingin tiba.

Gadis itu semakin mempercepat langkah kakinya. Ia tidak sadar seseorang mengikutinya dari belakang. Ia terlalu sibuk melindungi dirinya dari sengatan hawa dingin untuk sekadar menoleh ke belakang, tepat di mana seorang pria berpakaian serba cokelat dan bersepatu boot hitam, terus mengekorinya sejak Laura turun dari metro tadi.

Jarak antara stasiun dan apartemennya tidak terlalu jauh. Sebenarnya ada fasilitas bus yang disediakan pemerintah setempat yang bisa digunakan. Tapi berhubung cuaca sedang tidak menentu dan jalanan di kota sedang licin, terlebih beberapa hari yang lalu baru saja terjadi kecelakaan tunggal sebuah bus akibat ban slip, Laura memutuskan lebih baik ia berjalan kaki saja agar lebih aman. Toh, hitung-hitung membakar lemak pada musim dingin walaupun ia harus terima konsekuensinya. Ia hanya berharap semoga saja tubuhnya bisa bertahan sampai ia tiba di apartemen. Baca lebih lanjut

Suka, Duka, Pahit, dan Manisnya Kehidupan Anak Training di Hotel

Hai, sugar! Apa kabar nih? Tak terasa ya kita udah memasuki penghujung bulan Juli. Hihi…

Oke, jadi kali ini aku mau cerita suka dan duka selama menjalani masa PKL atau bahasa kerennya sih On the Job Training. Buat yang belum tau, aku jelaskan sedikit background pendidikanku. Sampai saat ini aku masih resmi tercatat sebagai salah satu mahasiswi D1 di salah satu sekolah tinggi pariwisata yang ada di Bintan. Jurusan yang kuambil adalah Front Office. Yup, sudah bisa tebak dong fokus studiku di bidang apa? Iyap, hospitality! Hohoho…😀

Nah, untuk ente-ente yang binun cari tempat buat OJT, aku saranin carilah hotel yang memiliki kualifikasi hotel berbintang lima. Lho, kenapa? Karena semakin tinggi kualitas sebuah hotel, maka tuntutan untuk bekerja secara profesional juga pasti tinggi dong? Eit, jangan pesimis dulu dengan berpikir pasti susah tembus ke hotel model begini. Justru di situlah letak tantangannya. Semakin tinggi kualifikasi yang ditetapkan, maka semangat kita semakin terpacu seiring dengan keinginan kuat kita untuk belajar di hotel tersebut. Ingat, hanya jiwa-jiwa orang pejuang yang pada akhirnya akan menjadi pemenang. Memangnya ada yang mau jadi pecundang? Belum perang aja udah mundur duluan. Baca lebih lanjut

Fanfiction : The One That Got Away #12

pageFF copy

Hola! I’m back! Hihihi…. Seneng deh bisa balik nulis lagi. I have a good news. Aku udah selese magang. Kemungkinan bakal aktif nulis lagi. Yipieeee……😀

Oh ya, tidak lupa aku juga mau ngucapin Minal Aidin Wal Faizin bagi teman-teman yang merayakan Idul Fitri. Maafkan ya kalau selama ini aku ada salah-salah, dari perbuatan maupun kata-kata yang tertuang dalam setiap tulisanku. Tidak ada maksud menyinggung lho. Hihihi…. Bagi ketupat dong😀 *minta ditabok*

Oke, sekian kalimat pembukanya. Semoga suka ya sama part ini. Kritik dan saran selalu ditunggu lho😉

Mata Casey menyalang ke arah Roser saat wanita itu mendorong pintu perpustakaan dan menutupnya kembali dengan gaya paling angkuh, membuat kekesalan Casey bertambah dua kali lipat.

Membalikkan tubuh dan sebelah alis terangkat, Roser balas memandang Casey dengan pandangan tak kalah angkuh dengan sikapnya. Ada sorot mengejek di sana, seolah menertawakan alasan di balik Casey marah padanya.

Tidak perlu menjadi seorang genius untuk menebak apa dan siapa yang membangkitkan amarah seorang Casey Stoner. Casey mudah dibaca. Sangat mudah bahkan, apabila kau tahu apa yang menjadi kelemahan pria itu.

Roser melewati rak-rak buku menjulang tinggi sebelum menuruni setiap undakan tangga yang memisahkan jarak di antara mereka. Harum aromaterapi yang berasal dari kayu cendana di tungku perapian mengudara dalam perpustakaan tersebut, membuat ruangan yang dipenuhi ribuan koleksi buku–rata-rata merupakan cetakan edisi pertama–terasa hangat. Beberapa lukisan dari zaman renaisans tergantung di sudut dinding. Deretan lampu kuning kecil yang menempel di setiap sisi rak menambahkan kesan kuno. Baca lebih lanjut

She is Pregnant My Baby #1 (Modified Version)

Hai semua😀 Apa kabar? Semoga kalian selalu dalam keadaan baik di mana pun kalian berada. Kali ini penulis mau menyajikan sesuatu lho. Bukan ff baru sih. Tapi ff modifikasi. Kalau sebelumnya ff ini diproteksi karena mengandung unsur dewasa, sekarang ff ini sudah aman untuk konsumsi publik. Tapi tetap perlu bimbingan orangtua ya. Semua yang tertulis di sini murni hanya fiksi semata. Tidak nyata. Hanya kesenangan penulis untuk menuangkan ide yang terlintas di otak saja. Akhir kata, penulis ucapkan selamat membaca. Sekiranya dapat meninggalkan jejak setelah membaca ya😉 Penulis tidak akan memaksa😉

Estelle melepas wedges putihnya dan mengendap-endap masuk ke kamarnya yang bertipe deluxe premier saat hari menjelang subuh. Wajahnya terlihat pucat. Ia diliputi perasaan takut setelah melakukan hal yang tak pantas di kamar laki-laki itu.

Aish! Sudahlah, Estelle. Anggap saja tidak ada yang terjadi semalam. Lupakan! Lupakan!

Estelle menggeleng-geleng, membuang jauh-jauh pikiran buruk yang menghinggap di kepalanya.

Sebelum masuk tadi, Estelle sudah merapikan pakaian dan rambutnya. Walaupun tidak serapi saat ia meninggalkan kamar ini, setidaknya penampilannya sekarang tidak membuat mata yang memandang ke arahnya memincing curiga. Namun, satu hal yang tak dapat ia pungkiri adalah rasa nyeri yang masih membekas di daerah selangkangannya.

Estelle berjalan pelan melewati dinding pemisah antara ruang tidur dan ruang duduk. Jantungnya berdetak kencang.

Semoga Adel masih terlelap, doanya dalam hati.

Dan… doa tinggallah doa. Adelaide Alessandra Stoner–kakak perempuan Estelle yang berusia 2 tahun lebih tua darinya–bersedekap dada, masih mengenakan piama tidurnya, duduk di tepi ranjang, dan menatap garang ke arah Estelle. Baca lebih lanjut

Tips Tap Tips Buat yang Kebelet BAB di Jalan

cove2r

Oke, gue tahu kalo gue nih nista banget nyebarin tips dan trik yang gak pantes banget dicontoh. Tapi gak ada salahnya kan kalo misalnya panggilan alam dari lubang burit gak bisa diajak kompromi? Apalagi kalo lu-lu pada lagi di jalan dan gak nemu tempat buat nampung pupu. Apa kata dunia dah? Gak mungkin kan ditampung di celana? Jorok ih….

Nah, ini pengalaman gue pas lagi di jalan dan panggilan alam tiba-tiba memanggil di saat yang tidak tepat. Si pupu udah tinggal di ujung bray. Untungnya tak jauh dari lokasi tempat gue nunggu jemputan, ada hotel berbintang. Dan muncullah lampu ajaib di kepala. Mau tau apa? Numpang BAB!

Waktu itu gue dijemput sama orang rumah. Pas naik ke motor dia, eh, si pupu kayaknya udah mau nongol. Akhirnya kami pun tancap gas ke hotel tersebut.

Sambil jalan sambil nahan nih, gue jalan ke resepsionnya. Gue kasih tahu ya biar lu-lu pada kalo ngalami kejadian kayaknya gue, pas lu setorin muka ke si abang ato mbak resepsion, tunjukin muka semanis mungkin. Senyumnya dilebarin. Trus tampangnya ala-ala orang beruang. *ini apalah -.-“*

Selanjutnya pura-pura nanya harga kamar dan minta room rate-nya. Setelah dikasih, elu pura-pura baca. Yang perlu diperhatikan di sini, tampang elu pada musti serius ya. Walaupun udah tinggal di ujung, setidaknya bisalah ditahan sedikit. Baca lebih lanjut

ONESHOT : Find The Way

I’m not really sure. But, happy reading🙂

Laura mengembuskan napas keras-keras, menatap kesal ke arah ponsel yang sejak sejam lalu terus bergetar setiap dua menit sekali. Peneleponnya orang yang sama. Orang yang membuat Laura sangat kesal.

Sumpah, rasanya ingin sekali Laura mencampak benda pipih itu ke tong sampah jika ia tidak ingat sedang menunggu kiriman foto dari Stuart dan Eleanor, teman satu kelompoknya yang sedang berada di pedalaman Kalimantan untuk melakukan penelitian mengenai persebaran suku Dayak Punan, salah satu rumpun Dayak yang masih primitif, sehingga mengusik rasa penasaran mereka untuk meneliti suku tersebut untuk kemudian dijadikan bahan laporan akhir mereka di semester ini.

Laura tidak ikut terjun langsung ke lapangan. Sebaliknya, ia tetap tinggal di Cambridge dan bertugas menjadi pengumpul setiap jenis informasi yang didapatkan dari kedua rekan dan berbagai sumber lainnya. Lalu, menyalinnya ke dalam bentuk laporan ilmiah yang akan dipresentasikan pada ujian akhir.

Jadi penelitian ini bersifat wajib. 60% nilai kelulusan di semester ini ditentukan dari hasil laporan akhir mereka. Mereka diberi waktu satu setengah bulan. Waktu yang menurut Laura terlalu singkat mengingat perjalanan mereka–Stuart dan Eleanor–ke Kalimantan harus melalui terjangan arus sungai Kapuas yang ekstrim untuk dapat mencapai ke hulu. Belum lagi mereka harus mendaki, masuk hingga ke pelosok-pelosok hutan untuk mencapai perkampungan tempat penduduk suku Dayak Punan menetap. Perjalanan itu membutuhkan waktu hampir seminggu. Itu pun sudah dibantu oleh warga setempat untuk mencapai tempat tersebut. Baca lebih lanjut

How to Get The Password???

cove2r

Hola! Kembali lagi bersama penulis gila pengidap plin-plan akut stadium 4. Hehehe😀 Betewe baswei, aku punya ff baluuu lhooo…. Bukan punyaku sih. Tapi titipan dari temanku. Buat yang penasaran sama ff tersebut, bisa langsung mention ke twitterku. Ntar ku-DM password-nya.

Eittt…. Tapi ada tapinya. Cerita ini mengandung unsur dewasa. So, so, buat sodara-sodara sekalian yang merasa masih di bawah umur, sangat tidak dianjurkan untuk membaca cerita di bawah ini.

Sekian cuap-cuapnya. Lebih dan kurang, semoga ff ini dapat menghibur. Buat yang bertanya-tanya kapan aku posting ff lagi, I just can answer ‘I don’t know’. Mohon pengertiannya ya. Terima kasih😉