Hola Bali!!!

Definisi mandiri untuk tiap orang pasti berbeda.

Hola, Bali!!! Setelah satu setengah bulan, akhirnya kita bisa berteman. Well, I’m officially moving out from Bintan dan di sinilah aku sekarang. Di kota yang sebenarnya gak bisa disebut kota-kota amat, tapi gak bisa juga disebut pedesaan.

So, how does it feel like?

Amazing, awesome, fun, and… tired. To be honest, aku sebenarnya gak tau apa yang aku cari di sini. Aku suka petualangan. Aku suka jalan. Dan aku suka hal-hal yang baru.

Banyak dari rekan kerjaku tanya kenapa sih pindahnya jauh amat ke Bali? Di Batam (read : I told them I was coming from Batam. Bintan gak terdeteksi di peta Indonesia. Jadi kurang femesss) kan banyak hotel dan dekat pula dengan Singapura. Jawabanku beragam. Aku bilang aku addicted sama sawah. Aku suka lihat padi dan di kampung halamanku gak ada. Sebenarnya ini gak bisa jadi pemicu utama kenapa aku pindah. Aku suka canang sari, bau dupa, dan everything about Balinese culture. But now everything seems so so to me. Baca lebih lanjut

Iklan

Sebuah Pilihan

Hola, sugar!!! Apa kabar semuanya??? Finally aku nge-blog lagi setelah sekian lama vakum. This would be my first post since 1997 *eh* bercanda cong.

Buat yang masih rajin berkunjung, I just wanna say thank you banget. Buat yang nyasar, welcome ya…

Well, mungkin buat teman-teman yang sering tanya kapan post ff lagi, I have no idea when exactly I’ll post again. Terkadang ya begitulah hidup. Dua tahun belakangan ini banyak banget yang berubah. Aku bukan lagi siswi SMA yang berprestasi atau mahasiswi perhotelan yang dulu pernah curhat salah jurusan. Dan fokusku juga gak lagi di dunia tulis menulis.

But, I am not giving up yet. That’s what I want to say. So, di sela-sela kesibukanku sebagai seorang hotelier, aku masih sering kok nulis-nulis kecil di note hp-ku. Walaupun gak dipublish. Baca lebih lanjut

Rasanya Dicap Sombong Tuh…

Cerita ini mau kumasukkan ke kategori Cerita Sebelum Magang. Well, setelah menempuh pendidikan selama 6 bulan di salah satu sekolah pariwisata di Bintan, kini aku mulai mempersiapkan jiwa dan raga untuk bertempur di dunia industri yang sesungguhnya. Buat yang belum tau, aku ambil program D1 Akomodasi Hotel jurusan Front Office. Kalo gak ada halangan yang melintang, tanggal 21 Januari aku bakal magang di salah satu resort bintang 5 di kawasan wisata internasional Lagoi, Bintan. Untuk nama hotelnya tidak aku sebutkan dulu. Nanti baru kuceritakan kalo udah jadi anak magang. 😀

Kali ini aku mau curhat sedikit masalah kepribadian. Kayaknya aku memang punya masalah dengan kepribadian. Udah banyak julukan sih yang kudapet sejak masih SMA; si sombong, kutu buku, si dingin, si kepala batu, si egois, dan sejuta julukan lainnya.

Riset membuktikan, 8 dari 10 orang yang pertama kali kenal aku di kampus pasti bilang, “Ish, tuh cewek siapa sih? Sombong amat. Sengak kali. Sok ng-Inggris. Dikit-dikit pake bahasa Inggris. Taulah yang pintar. Gak usah pamer juga kali.” So, how do I feel? Actually it’s really weird. Aku gak ngerasa sombong sih. Tapi ya kan yang nilai diri kita orang lain. So, mereka yang merasakan bagaimana diri kita ketika bergaul atau berbaur dengan masyarakat.

Sejujurnya agak sedikit sedih dicap sombong sama orang-orang itu. Dari SMA udah dicap si dingin dari jurusan Bahasa sih. Tapi kan gak segitunya juga kalik. Aku baik kok. Gak sombong, rajin menabung lagi. Sumpeh lho, aku ini baik, ramah dan suka menolong. *ngomong sendiri* Baca lebih lanjut

Menyesalkah? Atau…

Banyak orang yang tanya sama aku, “Rit, gimana kuliahnya? Lancar gak?”,“Rit, kamu jadi ambil perhotelan? Kok bisa sih? Sayang banget lho padahal.”,“Rit, jadi masuk Sahid? Enak gak kuliah di sana?”, dan berbagai pertanyaan yang serupa.

Jawabanku? Fine-fine aja. Setidaknya pada awalnya. Ya, pada awalnya.

Memang pada awalnya aku iseng-iseng daftar ke sekolah pariwisata tersebut. Atau boleh dibilang sebagai back up kalo seandainya SNMPTN tidak jebol. Dan benar saja, pada akhirnya aku tidak jebol SNMPTN.

Sebenarnya ada banyak pilihan. Cuma aku bingung mau pilih yang mana. Niat hati pengen kuliah di Jogja. Tapi apa mau dikata ketika orangtua tidak memberi izin. Alasannya? Jarak yang jauh dan aku masih dianggap kurang dewasa dan belum bisa mandiri. Hingga pada akhirnya, kuterima dengan lapang dada dan pasrah tentunya, maka Sahid menjadi keputusanku. Toh, ini cuma program D1, pikirku waktu itu. Dan jangka waktu kuliahnya hanya setahun, dengan 6 bulan teori dan 6 bulan terjun ke industri hotel. Setelah itu selesai. Intinya hanya menghabiskan waktu dan menunggu hingga usia cukup untuk tinggal jauh dari orangtua.

Seperti yang kutulis di atas, pada awalnya semuanya baik-baik saja. Perkuliahan lancar dan menyenangkan hingga dua bulan kemudian, sesuatu terjadi. Tidak secara langsung, tapi sangat berefek ke psikologisku. Ibarat burung yang terbang tinggi di angkasa, kemudian terjatuh akibat terhempas badai tornado. Itulah yang aku rasakan. Kecewa dan sakit.

Rasa tidak nyaman menyeruak. Tidak ada lagi rasa senang seperti dulu. Rasa yang ternyata semu. Tidak nyata karena adanya manipulasi.

Aku merasa seperti itu. Dan dengan jujur aku bilang, aku mulai tidak betah. Tapi seorang dosen yang tahu masalahku kemudian menyakinkan aku untuk tidak memikirkan masalah tersebut, tetap fokus sama kuliah, dan semuanya akan baik-baik saja.

Aku coba. Awalnya berjalan dengan baik. Semuanya kembali berjalan lancar. Tak terasa ujian tengah semester dengan sukses kulalui. Bangga dengan nilai-nilaiku yang memuaskan.

Tapi, semua itu tidak cukup. Rasa tidak nyaman itu tetap ada. Hingga rasa lelah yang tak terucap ini tak mampu terus membisu. Aku semakin tak betah. Tapi aku coba bertahan. Setidaknya setelah 6 bulan teori ini kulalui, aku akan terjun ke lapangan. Dan di sinilah pembuktian apakah aku benar-benar punya bakat di bidang perhotelan atau jurusan ini hanya pintu pelarianku saja.

Beberapa planning sudah tersusun. Kalau gagal di sini, well, memang perhotelan bukanlah takdirku. Mungkin setelah terlepas dari kampus ini, aku akan pergi, mencari apa yang menjadi passion-ku; menulis, sastra, bahasa dan budaya. Aku akan mengejar apa yang menjadi tujuanku. Menjadi seorang penulis jika Tuhan mengizinkan, menjadi penerjemah jika takdir berkata itulah garis hidupku, menjadi seorang diplomat seperti cita-cita awalku.

Aku percaya rencana Tuhan itu indah. Rancangan-Nya tidak pernah mengecewakan umat-Nya. Dia Allah yang hidup dan aku akan berserah kepada-Nya. Ke mana pun dia akan membawaku, aku akan menapaki tempat tersebut, tempat yang telah Ia tujukan untukku.

Aku tidak mau mengeluh. Walau hati ini ingin. Toh, untuk apa ngeluh kalau tidak mengubah hasil akhir? Rasanya akan sia-sia dan tidak berguna.

Ada harapan yang selalu kuselipkan dalam doa, aku ingin menjadi terang di mana pun aku berada. Menjadi orang yang benar-benar orang, bisa menjadi panutan bagi orang lain. Dan yang terbesar adalah membanggakan kedua orangtuaku dan mengukir senyuman lebar di bibir mereka.

Jadi Korban Bullying Itu…

Siapa sih yang mau dibully?

Apa sih yang terlintas di benak kalian kalau mendengar istilah bullying? Perlakuan tidak menyenangkan yang diterima seseorang? Menghina atau mengejek seseorang? Atau bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap seseorang?

Kata bully sendiri memiliki arti sebagai berikut : a person who uses strength or power to harm or intimidate those who are weaker atau seseorang yang menggunakan kekuatannya untuk menyakiti (secara fisik) atau mengintiminasi orang yang lemah.

Beberapa waktu lalu saya sempat menonton acara Kick Andy di MetroTV tentang bullying. Nontonnya cuma sekilas. Tentang seorang gadis Indonesia yang tinggal di Amerika, kemudian pindah ke Indonesia dan bersekolah di sekolah dasar—sekolah umum. Karena tidak terbiasa atau belum bisa menyesuaikan diri di sekolah tersebut, sang gadis dibully oleh teman-temannya. Alhasil dia pun pindah ke sekolah lain. Di sekolah yang baru, sang gadis masih juga dibully dikarenakan hanya dia satu-satunya siswi yang fasih berbahasa Inggris. Sang gadis dikata-katai sok pintarlah, sok cari mukalah, dan lain sebagainya. Namun, tahukah Anda, sang gadis yang pernah menjadi korban bullying ini berhasil menjadi orang sukses. Meraih IPK tertinggi di Universitas Indonesia dan sekarang menjabat sebagai Vice President di salah satu perusahaan. Kunci kesuksesannya adalah jadikanlah perlakuan yang tak menyenangkan itu sebagai cambuk untuk melesat menjadi yang terhebat. Baca lebih lanjut

Curhatan : Yang Tak Terlupakan…

PS : Tulisan ini mengandung unsur rohani. Tidak ada konten yang menyudutkan. Jadi bagi pembaca yang beragama lain, silakan juga kalau mau baca tulisan ini. Aku cuma mau berbagi kebaikan aja kok dan semoga bermanfaat untuk kita semua. Happy reading 😉

Sebagai pembuka

Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

Hola! Apa kabar? Adakah yang rindu pada diriku? Hihihi… Aku juga kangen kalian kok. Masih ada yang penasarankah dengan kelanjutan My Secret, His Son? Sabar ya. Aku usahakan bisa secepatnya nulis cerita itu.

Kali ini aku mau cerita tentang masa-masa SMA. Ya, tanggal 20 Mei kemarin aku resmi dipecat *beuhh… bahasanya* dari SMAN 1 Bintan secara terhormat. Hihihi… Finally, aku lulus dengan nilai ya lumayan… lumayan bikin senang dan sedih. Cuma ya, aku bersyukur banget nilai Matematika-ku *musuhku di dunia akhirat* gak malu-maluinlah. And I wanna say thanks to all my teachers who had taught me. Really thank you 🙂

Aku mau cerita tentang satu orang guru. Insialnya Pak C. Guru favoritku sekaligus guru yang paling nyebelin 😀 Jadi Pak C ini adalah guru agama Kristen di sekolah. Aku deket banget sama beliau ini dan sering banget saling ngeledek. Pokoknya banyaklah suka dan duka, sedih dan senang di antara aku dan beliau ini. Soalnya Pak C enak banget dijadikan tempat curhat. Setiap pelajaran agama aja, ada aja tingkahku biar gak usah belajar. Hihihi…. Yang paling sering sih celoteh tentang hal-hal gak penting di saat beliau sedang mengajar. Modus banget, kan? Ujung-ujung berakhir dengan sharing dan curhat-curhat gak jelas. 😀

Pak C ini tipe guru yang nyenengin dan asyik deh. Tapi, suka nyeramahin juga. Maksudnya ngasih nasihat dan kata-katanya selalu dikutip dari Alkitab. Aku mah iya-iya aja tiap beliau ngomong. Sampai rumah, eh, lupa deh apa yang dikatakan sama Pak C.

Sejak kami *pelajar Kristen* kelas satu, kami selalu disuruh menghafal Firman Tuhan di alkitab. Jadi ada satu hari, aku lupa kalo ada tugas menghafal. Matilah. Jadi pas jam pelajaran agama, aku hafal mati-matian. Pak C ini sampe ngancem. Begini kata-kata beliau, “cuaca lagi panas nih. Enak kali ya kalo Bapak suruh kalian lari keliling lapangan.”

ALAMAK!!!

Cepat-cepatlah kami hafal. Untung aja kami bisa. Hihihi….

Sampai kelas XII, acara hafal-menghafal ayat alkitab ini tetap berlanjut. Kadang sih jengkel banget pas disuruh ngafalin. Sering banget kami gondok sama Pak C. 😀 Hihihi…

Jadi, sejak aku meninggalkan SMA, entah kenapa aku jadi kangen banget hafalin ayat Alkitab, trus pengen banget balik ke SMA lagi dan belajar seperti biasa. Rasanya sedih pas natapin pakaian putih abu-abuku. Sekadar informasi, baju sekolahku masih sangat-sangat-sangat BERSIH dari noda corat-coret. Jadi pas teman-teman lainnya sibuk konvoi, aku mah duduk santai angkat kaki di rumah. Gak guna sih menurutku konvoi-konvoi gitu. Sayang sama baju. Mending disumbang trus dapet pahala. Nah, lebih berguna, kan?

Jadi beberapa hari yang lalu, aku sedikit berkonflik dengan you-know-lah. Aku gak mau bahas masalah itu lagi sih. Kenapa? Karena aku teringat kata-kata Pak C tentang ‘kita boleh meluruskan permasalahan yang ada tanpa harus membuka perkara seseorang’. Kata-kata Pak C tiba-tiba aja mukul batinku. Dan kenangan masa-masa kami belajar agama pun berputar di benakku. Kangen banget.

Pak C juga pernah bilang begini, “yesterday is a history, tomorrow is a mystery, and today is a gift of God.” Kata-kata itulah yang bikin aku langsung minta ampun sama Tuhan. Rasanya bersalah banget udah menyia-nyiakan anugerah dari Tuhan dengan melakukan hal-hal yang gak guna (Read : hujat-hujatan di Twitter). Lagian masalahnya juga sepele dan dibuat hingga berlarut-larut. Memang sih ada dongkol di hatiku. Tapi, aku terus berdoa sama Tuhan dan malam itu aku coba baca Alkitab. And you know what? Aku menemukan Firman Tuhan yang benar-benar menguatkan dan dongkol di hatiku seketika hilang.

Berikut ayat-ayatnya.

Lukas 6 : 27-28

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

Jika Anda seorang Kristiani, semoga ayat ini dapat kalian renungkan.

Dan akhir-akhir ini aku lihat banyak banget fanwar di Twitter. Saling hujat menghujat dan aku pernah melakukannya. Memang sih itu lumrah terjadi dan bagian dari bumbu persaingan. So, buat kalian yang bertanya-tanya, kok aku jarang nongol di Twitter, itu karena aku gak mau terpancing dan sedikit gak nyaman dengan beberapa followers-ku. Banyak ajang sindir menyindir dan aku juga salah satu korbannya. Tapi, aku selalu menanamkan satu prinsip di hatiku sejak kejadian itu, biarlah mereka berkata apa, biarlah mereka mau menulis apa, aku cuma akan membalas dengan mendoakan mereka saja. Kata Pak C, semakin banyak yang membenci kamu, maka kamu harus rajin-rajin mendoakan mereka. And I did it. 🙂

Akhir kata, aku ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat dan apa pun agama kalian, suku kalian, dan bahkan idola kalian, salinglah bertoleransi. Hidup ini keras. Kuncinya adalah bertahan. Bertahan bagaimana? Yaitu dengan belajar bersabar dan mengontrol diri sendiri.

Auf wiedersehen. 😉

Today Is A Gift of God

cove2r

Hari ini, tanggal 28 April 2014, saya bermimpi tentang kematian saya sendiri. Tenggelam di pantai karena hendak mengajari teman saya berenang. Tubuh saya hanyut dibawa air. Semuanya mencari. Teman, sahabat dan guru-guru. Dan hasilnya nihil. Dengan berat hati pihak sekolah mengabari kematian saya pada keluarga. Bisa ditebak mereka sangat syok bukan main. Mama teriak histeris dan Papa menangis.

Awalnya saya bingung mengapa mereka mencari saya di tengah-tengah laut. Saya di sini, teman-teman. Kemudian saya menghampiri Pak Aris, yang dulu merupakan wali kelas saya. Beliau hendak melapor ke kepala sekolah. Ketika saya memanggil beliau, beliau menoleh dan terkejut. Kemudian beliau tersadar, saya tidak nyata. Saya hanya roh dan tubuh saya sudah hanyut di laut. Seketika saya terkejut. Saya pun pergi menemui teman-teman dan guru-guru saya. Mereka sudah menyiapkan seperangkat alat upacara kematian. Saya masih belum bisa mencerna. Siapa yang meninggal?

Saya semakin panik. Kaki ini menuntun saya keluar dan tepat di depan sana kakak saya sudah jemput seperti biasanya. Dia bisa melihat saya, tapi ia tahu saya hanyalah sebuah roh yang keluar dari tubuh. Kakak saya bilang, waktu saya semakin sedikit dan ia hendak membawa saya pulang untuk menemui keluargga sebelum saya benar-benar pergi. Namun, di jalan, kami tersesat. Jalan menuju rumah tidak seperti biasanya. Kami tidak tahu berada di mana. Dan entah macam mana, kami ditangkap dan dimasukkan ke sebuah penjara yang penuh orang-orang jahat. Tangan kakak saya dipatahkan dan hampir dibunuh. Tiba-tiba saja sahabat saya datang. Dia yang menolong kami. Di saat itulah saya semakin merasa tidak berdaya. Waktunya hampir habis. Baca lebih lanjut

Di Saat Galau Hadir…

Targetnya sih tahun 2014 ini mau produktif menulis. Entah itu menulis novel, cerpen, fanfic dan lain-lain. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini jadi males banget nulis fanfic. Seharusnya sih makin rajin karena dapat banyak support dan komen positif dari my lovely readers. Jadi buat yang bertanya-tanya kapan ff ini lanjut, kapan ff itu lanjut, aku cuma bisa jawab, well, aku butuh waktu.

Waktu? Kenapa waktu? Bukannya sekarang udah leluasa karena sudah selesai UN? Yep! Awalnya aku pikir kalo udah selesai UN itu udah bebas, bisa jungkir balik sesuka hati dan guling-guling gak jelas di aspal. *dilindes bus baru tau rasa lu Rit* 😀 I’m totally wrong. Ternyata kegalauan setelah UN itu meningkat dua kali lipat. Adalah milih jurusan kuliah apa, mau kuliah di mana, dan tetek-bengek lainnya.

Jadi ceritanya aku benar-benar bingung dan gak tahu musti ngapain sekarang. Karena… diriku ini mengidap penyakit plin-plan tingkat akut yang tak tertolong lagi. Coba aja tanya satu pertanyaan hari ini sama aku, aku pasti jawab A. Pas besok dikasih pertanyaan yang sama, pasti aku jawab B. Dan jawaban bisa berubah lagi dalam 1 atau 2 jam kemudian. Jadi inilah yang bikin aku khawatir tentang masa depan. Mau jadi apa aku nanti? Baca lebih lanjut

Mengapa…. Oh, Mengapa….

Gak tau kenapa tiba-tiba kepikiran buat nulis ini. Padahal besok udah mulai Try Out 3 dan aku sama sekali belum nyentuh buku. Xixixixi…. Jangan ditiru contoh seperti ini.

Oke, jadi pas BAK alias Buang Air Kecil—biasanya kalo buang air besar kan disingkat jadi BAB—aku teringat sama cerita masa lalu. *emang WC tempat paling ampuh buat dihinggapi dewa ide. Makanya aku betah duduk di sana berjam-jam* #PLAK 😀

Jadi, beberapa tahun yang lalu *eaaaaa* tukang kebun papaku yang tinggal di daerah Wacopek, istrinya kena DBD. FYI, kebun papaku ada di sana dan sehari-hari tukang kebun itulah yang ngurus lahan papaku. Kalau dilihat dari tali persaudaraan, keluarga dari pihak mamaku yang notabene orang asli Kalimatan Barat, tepatnya Singkawang masih ada hubungan darah gitu sama tukang tersebut. Oke, sebut sajalah tukang kebun ini namanya Ahok *nama samaran*. Eittt, bukan wagub DKI lho. Ntar aku kena lempar sendal pulak. Hihihi….

Alhasil anak-anaknya diungsikan ke rumahku dan istrinya yang pada saat itu sudah sekarat dilarikan ke rumah sakit. Nah, cerita bermula pada saat anak-anak itu, sebut saja yang laki-laki namanya Upik dan yang perempuan Buyung. *ini apaan coba (¬_¬”)* Selama mamanya Upik dan Buyung di rumah sakit, tuh dua anak diasuh sama keluargaku. Dan kekonyolan pun terjadi. Sebelumnya aku mau jelasin dulu ya kalo keluarga Upik dan Buyung ini asli dari Kalbar, sedangkan mamanya adalah orang dayak. Jadi mereka pakai bahasa Khek/Hakka untuk komunikasi sehari-hari. Begitu pun dengan keluarga kami yang juga menggunakan bahasa Khek/Hakka. Namun, kutegaskan, bahasa Khek kami dan mereka itu beda kosakata. Jadi ada beberapa keanehan dan situasi konyol yang bikin aku mengerutkan kening.

Salah satu kejadiannya seperti ini. Si Upik dan si Buyung ini pada suatu malam gelisah banget. Trus papaku suruh aku tanya mereka kenapa. Laparkah? Atau kangen ortunya? Maklum si Ahok alias papa mereka jagain sang mama yang terbaring si rumah sakit.

Pergilah aku ke kamar yang mereka tempati. Dengan perhatiannya aku tanya begini. “Nya tu phat ngo, mo?” *Translate : perutmu lapar, tidak?*

Dan…. TARAP…. TARAP…. JEREENG….!!! Baca lebih lanjut

Curhatan Penting/Tidak Penting

Aku memiliki banyak cerita yang ingin kutuangkan di sini. Sebentar lagi…. Ya, tidak terasa hampir 3 tahun aku menginjakkan kakiku di sebuah tempat yang membuatku tahu apa arti sebuah kebanggaan, cinta, kesedihan, kekecewaan dan lain-lain yang tidak akan bisa kudapatkan dari tempat lain. Aku suka sekolah. Aku suka mempelajari ilmu baru. Terkadang juga jengkel sama beberapa mata pelajaran. Tapi, semua itu dirasa wajar dan merupakan sebuah proses. Proses pembentukan diri. Aku belum sempurna dan memang tidak akan menjadi sempurna. Tapi, aku berusaha untuk memberikan yang terbaik, walaupun harus diselingi jatuh bangun yang kadang membuatku ingin menyerah. Tapi, aku kuat. Karena itulah aku mampu dan sebentar lagi akan meninggalkan tempat yang telah memberiku berbagai pelajaran hidup, tempat yang membuatku mengerti bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari proses dan masa-masa proses itulah yang melahirkan berbagai kejadian-kejadian yang akan kukenang selamanya.

Pertama kali masuk sekolah itu. Jujur aku cuma ikut-ikut teman doang. Padahal tujuan utama ke SMK, dan akhirnya malah nyasar ke SMA. Itulah rencana Tuhan, menempatkanku ke sebuah rumah yang awalnya kuanggap sekolah rendahan. Tapi, setelah aku mengenal rumahku sendiri, aku bangga menjadi bagian rumah itu. Baca lebih lanjut