ONESHOT : Find The Way

I’m not really sure. But, happy reading 🙂

Laura mengembuskan napas keras-keras, menatap kesal ke arah ponsel yang sejak sejam lalu terus bergetar setiap dua menit sekali. Peneleponnya orang yang sama. Orang yang membuat Laura sangat kesal.

Sumpah, rasanya ingin sekali Laura mencampak benda pipih itu ke tong sampah jika ia tidak ingat sedang menunggu kiriman foto dari Stuart dan Eleanor, teman satu kelompoknya yang sedang berada di pedalaman Kalimantan untuk melakukan penelitian mengenai persebaran suku Dayak Punan, salah satu rumpun Dayak yang masih primitif, sehingga mengusik rasa penasaran mereka untuk meneliti suku tersebut untuk kemudian dijadikan bahan laporan akhir mereka di semester ini.

Laura tidak ikut terjun langsung ke lapangan. Sebaliknya, ia tetap tinggal di Cambridge dan bertugas menjadi pengumpul setiap jenis informasi yang didapatkan dari kedua rekan dan berbagai sumber lainnya. Lalu, menyalinnya ke dalam bentuk laporan ilmiah yang akan dipresentasikan pada ujian akhir.

Jadi penelitian ini bersifat wajib. 60% nilai kelulusan di semester ini ditentukan dari hasil laporan akhir mereka. Mereka diberi waktu satu setengah bulan. Waktu yang menurut Laura terlalu singkat mengingat perjalanan mereka–Stuart dan Eleanor–ke Kalimantan harus melalui terjangan arus sungai Kapuas yang ekstrim untuk dapat mencapai ke hulu. Belum lagi mereka harus mendaki, masuk hingga ke pelosok-pelosok hutan untuk mencapai perkampungan tempat penduduk suku Dayak Punan menetap. Perjalanan itu membutuhkan waktu hampir seminggu. Itu pun sudah dibantu oleh warga setempat untuk mencapai tempat tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

ONESHOT : Remember When

Terdapat sedikit unsur dewasanya. Tapi kurasa masih amanlah. Ini hanya sebuah karya, jadi jangan terlalu dibawa serius. Happy reading 😉 Kritik dan saran kutunggu 😀 Cover-nya nyusul ya. Lagi gak megang laptop soalnya. Jadi ketik dan posting-nya via hp. Maafkan kalo ada salah-salah ya

Konsentrasi pria itu pecah ketika bunyi ponsel mengudara di ruang kerjanya. Ia meraih benda pipih yang terletak di atas meja kerja, kemudian memandang display ponsel yang menampilkan sebuah panggil masuk.

Senyum tipis mengembang di bibir pria itu. Ia meletakkan bolpoinnya, mendorong berkas yang ia baca ke samping, kemudian memutar kursi kerjanya menghadap ke luar jendela besar yang menampilkan jejeran gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang ramai dilalui puluhan kendaraan. Seberkas cahaya kuning oranye masuk ke jendela tersebut. Pria itu sedikit menyipitkan mata, namun tidak merasa terganggu sama sekali dengan kilauan yang menusuk matanya.

“Hai,” sapanya lembut setelah menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

“Kau tidak lupa kan janji kita malam ini? Pulanglah lebih awal. Aku akan sangat kecewa jika kau tidak pulang tepat waktu,” cecar seorang gadis di seberang sana.

Senyum di bibir pria itu semakin lebar saat mendengar nada jengkel dari gadis itu.

“Tentu saja aku akan pulang tepat waktu. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Pria itu mendengus geli.

“Baiklah. Kupegang kata-katamu. Awas kalau kau tidak menepati janjimu. Telat sedetik, jangan harap kau bisa masuk dan tidur seranjang denganku malam ini. Mengerti?” Baca lebih lanjut

{Epilogue} My Baby, You

Sesuai dengan judul, part ini adalah epilog dari My Baby, You. Jadi bagi yang belum baca ff itu, monggo, dibaca dulu biar gak bingung pas baca part yang ini. Happy reading 😉

“Tidak mau! Aku mau Daddy! Aku mau Daddy, Mommy!” teriak bocah kecil itu sembari menepis keras lengan ibunya. Bocah perempuan itu mengembungkan pipi kesal. Bibirnya cemberut dan wajahnya memerah. Tampak pucat masih menghiasi wajah oval mungilnya.

“Iya, Sayang. Daddy sudah di jalan. Alba sabar ya,” sang ibu berucap sembari tersenyum lembut, penuh kesabaran menghadapi kerewelan putrinya.

“Aku mau Daddy, Mommy!” Bocah itu 4 tahun kembali merengek seraya menjambak selimut pink-nya dengan kesal.

“Tak lama lagi Daddy pulang, Sayang.” Laura memeluk bocah itu, mencium hangat keningnya dan mengusap lembut punggungnya. Laura menyentuhkan pipinya ke kening Alba. Sisa demam anak itu masih terasa.

“Daddy lama sekali sih. Aku kan kangen Daddy,” rajuknya.

Laura menyentuh pipi Alba dan tersenyum. “Nak, Daddy-mu pasti pulang kok. Alba yang sabar. Sebentar lagi Daddy sampai.” Baca lebih lanjut

ONESHOT : One Kiss Is Never Enough

Cast :

Marc Márquez Alenta

Pearce Garcia Nieves

Siap-siap mual ya baca ff ini. Rada najong soalnya. Buat yang mau tanya-tanya silakan ke Twitter-ku @MissTata_Real 🙂 Happy reading 😉

Pearce mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya ruangan. Pusing masih mendera kepalanya. Langit-langit seolah berputar di atasnya. Ia kembali memejamkan matanya, berharap rasa pusing itu dapat menghilang perlahan-lahan.

“Kau sudah sadar?”

Sebuah suara mengagetkan Pearce. Ia menoleh ke samping dan menemukan seorang pria dengan kaus hijau pudar pas badan yang dipadu dengan celana jeans biru pupus berjalan mendekatinya. Pandangan Pearce menyapu dari bawah, kemudian naik dan matanya lantas menyipit saat melihat wajah pria itu. Lekuk tulang pipi yang tinggi, hidung mancung dan sepasang mata elangnya yang tajam, walaupun pria itu tidak mengarahkan tatapan tajamnya pada Pearce.

Dan wajah itu tampak familier.

Pria itu kini berdiri di hadapan Pearce. Tidak tersenyum dan tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya menatap Pearce dalam diam. Dengan sepasang mata cokelatnya yang dibingkai alis tebal membuat pria itu tampak memesona. Mendadak Pearce terkesiap dan ia merasa udara menipis di sekitarnya.

Tidak mungkin itu dia, pikir Pearce panik.

“Kau baik-baik saja?” tanya pria itu dengan nada rendah.

Tidak salah lagi. Tapi bagaimana mungkin? batin Pearce. Baca lebih lanjut

ONESHOT : The Vow

cove2r

Happy reading 😉

Laura menghentikan kegiatan membacanya dan langsung mendelik kesal pada seorang pria yang duduk berjarak beberapa meja darinya. Pria itu memandanginya, tersenyum manis dan mengerling nakal pada Laura. Ia mengangkat cangkir kopinya ke arah Laura, mengajak bersulang, kemudian meminumnya. Dan pandangan pria itu masih saja terpaku padanya. Bibirnya tertarik ke belakang.

Dasar perayu ulung, gerutu gadis itu dalam hati.

Sebelah alis Laura terangkat, kebiasaannya saat menilai seseorang. Laura akui pria itu cukup tampan dan pakaian yang dikenakannya cukup stylish dengan kemeja biru yang dipadukan dengan jaket hitam dan celana jeans berwarna senada.

Namun, mata gadis itu langsung menyipit saat menangkap benda berkilauan akibat terpantul cahaya matahari yang melingkar tepat di jari manis tangan kanan pria itu.

Cih! Dasar bajingan! Mata keranjang! Brengsek! makinya dalam hati.

Pria menikah dan terang-terangan menebar pesona padanya. Laura membuang muka dan kembali melanjutkan kegiataannya, membaca novel Morning Glory karya LaVyrle Spencer, penulis favoritnya. Baca lebih lanjut

Juara 1 : Because of El Clasico

Penulis : Sindi Primi Pujiyanti

Blog dan Twitter : @sindihpujiyanti

Malam ini adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh Marc dan Arez. Malam ini adalah malam di mana laga El Clasico dihelatkan. El clasico adalah sebutan pertandingan yang mempertemukan tim raksasa Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. Marc mendukung tim dengan julukan El Blaugrana, Barcelona, sementara Arez mendukung tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu, Real Madrid.

Keduanya menonton bersama di café yang berada di La Rambla. Tepat pukul 02.00 pm, café yang bernama The Rock Café ini sudah disesaki para pengunjung yang ingin menonton El Clasico. Arez yang memakai jaket putih bertulisan Real Madrid dengan kebawahan rok putih selutut sudah stand by di situ mendahului temannya, Marc Marquez. Sebenarnya di café tersebut hanya ada Madridista saja yang menonton, jika kedua pendukung disatukan ditakutkan ada seorang oknum yang memicu perkelahian dari kedua pendukung tim. Pengecualian untuk Marc. Dia memang Barcelonista, tapi dia berpura-pura menjadi seorang Madridista demi bisa menonton bareng bersama Arez.

Peluit dibunyikan tanda permainan dimulai, tapi Marc tak kunjung datang. Arez yang menempati kursi di tengah-tengah café melihat ke belakang, mengecek apakah temannya itu sudah datang atau belum. Lima menit berlalu akhirnya Marc menampakan batang hidungnya juga, dengan memakai kaus berwarna merah dan jeans hitam yang sangat kontras dengan jersey yang dipakai oleh para Madridista.

“Kau telat,” ejek Arez. Baca lebih lanjut

Juara 2 : Kau Adalah Yang Terbaik di Hati Kami

Penulis : Cut Ghaisa Safira

Blog dan Twitter : @ghaisa27_93

Daniel Pedrosa Ramal. Ya, itu adalah nama seorang pria berkebangsaan Spanyol yang selalu saja menjadi pengiring. Tidak pernah lebih. Namanya tidak pernah beranjak dari kisaran angka dua sampai empat di klasemen akhir. Bagaimanapun keras usahanya, tetap saja tidak bisa. Dani memiliki segalanya. Tapi tidak keberuntungan. Hanya satu-satunya modal utama yang tidak dimilikinya. Hal vital itu seolah tidak pernah mau menghampirinya. Entah karena apa. Hanya sekadar mendekatinya saja di tiap musim berlalu. Selalu begitu dan berulang-ulang. Ia selalu gagal menjadi yang pertama dalam setiap akhir musim olahraga balap motor paling bergengsi di dunia tersebut—MotoGP.

Bukannya ia tidak mempunyai keahlian. Tapi, lagi-lagi kembali pada satu hal paling pokok yang harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin menjadi raja di olahraga ini. Beruntung. Dan ia tidak memilikinya. Bagaimana ia tidak dikatakan memiliki segalanya? Dani Pedrosa sudah cukup mempunyai paket lengkap. Keahlian yang mumpuni, penggemar yang setia, keluarga yang selalu menyokong dari belakang, tim bernaung yang sangat luar biasa, hingga ketampanan yang sangat mempesona. Namun, semua itu rasanya sedikit hambar tanpa bubuk manis yang menjadi pelengkapnya. Juara dunia MotoGP.

Kedua bola mata cokelat madu pria itu masih belum bergerak. Fokusnya terus-menerus ditujukan ke arah layar monitor berukuran sedang yang tergantung gagah di sudut paddock-nya. Bahkan saking tegangnya, ia sampai menahan sedikit napasnya, sampai keringat keluar perlahan-lahan dari pori-pori pelipisnya. Laki-laki itu. Ya, rival sekaligus rekan setimnya sendiri. Mengapa pria itu begitu diagung-agungkan? Mengapa dia begitu dibangga-banggakan oleh semua orang? Mengapa pria itu sudah pernah mencicipi manisnya menjadi yang teratas walaupun baru satu musim berlaga? Sementara dirinya sendiri, yang bisa dikatakan sudah sangat senior di MotoGP, masih belum juga berhasil memegang tahta kelas para raja tersebut.

Dani masih tidak menggerakkan satu pun saraf motoriknya sampai suara itu akhirnya berhasil membuyarkan lamunannya. Baca lebih lanjut

ONESHOT : My Baby, You

Jarum panjang jam di dinding itu terus berjalan, menciptakan bunyi di setiap pergeseran detiknya. Malam kian larut, bahkan sudah memasuki waktu dinihari. Gadis itu masih terjaga, dengan posisi tubuh yang menghadap ke samping, membelakangi seseorang yang memeluknya erat dengan lengan kekar yang seolah tidak mengizinkan gadis itu pergi ke mana pun. Gadis itu bisa merasakan posisi kepala pria itu yang berada di ubun-ubunnya dan sesekali bernapas di sana, menciptakan rasa hangat yang menusuk ke kulit kepalanya. Pria itu tertidur begitu damai. Ia tidak sendirian.

Jantung gadis itu berdetak tak keruan. Keraguan mulai timbul di hatinya. Pertanyaannya sekarang, sejauh mana ia berani mengambil keputusan untuk meninggalkan pria yang tertidur pulas di sampingnya ini?

Air mata merembes turun dari sudut matanya. Tidak ada pilihan. Ia harus pergi sekarang. Demi kebaikan ia sendiri, pria itu dan seseorang lagi yang sekarang berada di rahimnya.

Dengan gerakan perlahan-lahan, gadis itu menurunkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya dan pelan-pelan coba menyingkirkan lengan kekar itu yang berada di pinggangnya. Jantungnya semakin berpacu dengan setiap gerakan yang ia ciptakan. Ia hanya berharap semoga pria itu tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan. Baca lebih lanjut