Marc & Laura : Turbulence

Alex :

Kakak ipar, aku sedang berada di Madrid. Boleh aku mampir ke tempatmu? Aku sangat rindu padamu.

Peluk dan cium dari adik ipar tercinta.

Laura tersenyum lemah saat membaca pesan singkat yang dikirimkan Alex. Jika dia sedang dalam keadaan baik-baik saja, dia akan terkekeh dan langsung menelepon adik ‘mantan’ kekasihnya itu.

Tidak ada  yang tahu. Bahkan kedua orangtuanya dan orangtua Marc, bahwa hubungan mereka telah berakhir sejak dua bulan yang lalu. Marc menjadi pihak yang mengambil keputusan. Alasannya sederhana dan Laura dipaksa untuk mau tidak mau menerima permintaan Marc tersebut.

Alibi you deserve better. Kesibukan Marc yang semakin padat membuat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersama. Baca lebih lanjut

My Secret, His Son #16a

My Secret1 copy

Saat anak-anak lain sibuk bermain dan berlarian dengan sesamanya di area perkebunan, tampak seorang bocah kecil menepi dari kegiatan tersebut. Sebenarnya serangkaian kegiatan field trip hari ini telah usai. Mereka mendapat kesempatan untuk bermain-main sebentar sebelum kembali ke sekolah.

Miguel tidak sendirian. Di sebelahnya ada seorang pria dewasa yang sejak sejam lalu tak sekali pun melepas genggamannya dari tangan mungil Miguel. Boleh dibilang Marc menyita bocah itu dari teman-temannya.

Mereka berjalan menyusuri kandang-kandang sapi. Marc sesekali mengusap-usap gemas puncak kepala Miguel. Tak jarang mereka tertawa berbarengan.

Pemandangan tersebut tidak luput dari perhatian beberapa wanita di sudut lain. Di bawah rerimbunan pohon willow yang teduh, para wanita beristirahat di atas kursi panjang dengan sebuah meja piknik terbentang di hadapan mereka.

“Apakah kalian melihat ada sesuatu yang aneh?” tanya salah seorang dari mereka.

Miss Laurens lantas berhenti memasukkan jaket hitamnya ke tas dan kepalanya menoleh ke arah Miss Caroline. Rambut pirang ikal yang membingkai wajah ovalnya bergoyang saat terpaan angin mengenai bagian belakang tubuhnya. Baca lebih lanjut

Fanfiction : The One That Got Away #12

pageFF copy

Hola! I’m back! Hihihi…. Seneng deh bisa balik nulis lagi. I have a good news. Aku udah selese magang. Kemungkinan bakal aktif nulis lagi. Yipieeee…… 😀

Oh ya, tidak lupa aku juga mau ngucapin Minal Aidin Wal Faizin bagi teman-teman yang merayakan Idul Fitri. Maafkan ya kalau selama ini aku ada salah-salah, dari perbuatan maupun kata-kata yang tertuang dalam setiap tulisanku. Tidak ada maksud menyinggung lho. Hihihi…. Bagi ketupat dong 😀 *minta ditabok*

Oke, sekian kalimat pembukanya. Semoga suka ya sama part ini. Kritik dan saran selalu ditunggu lho 😉

Mata Casey menyalang ke arah Roser saat wanita itu mendorong pintu perpustakaan dan menutupnya kembali dengan gaya paling angkuh, membuat kekesalan Casey bertambah dua kali lipat.

Membalikkan tubuh dan sebelah alis terangkat, Roser balas memandang Casey dengan pandangan tak kalah angkuh dengan sikapnya. Ada sorot mengejek di sana, seolah menertawakan alasan di balik Casey marah padanya.

Tidak perlu menjadi seorang genius untuk menebak apa dan siapa yang membangkitkan amarah seorang Casey Stoner. Casey mudah dibaca. Sangat mudah bahkan, apabila kau tahu apa yang menjadi kelemahan pria itu.

Roser melewati rak-rak buku menjulang tinggi sebelum menuruni setiap undakan tangga yang memisahkan jarak di antara mereka. Harum aromaterapi yang berasal dari kayu cendana di tungku perapian mengudara dalam perpustakaan tersebut, membuat ruangan yang dipenuhi ribuan koleksi buku–rata-rata merupakan cetakan edisi pertama–terasa hangat. Beberapa lukisan dari zaman renaisans tergantung di sudut dinding. Deretan lampu kuning kecil yang menempel di setiap sisi rak menambahkan kesan kuno. Baca lebih lanjut

She is Pregnant My Baby #1 (Modified Version)

Hai semua 😀 Apa kabar? Semoga kalian selalu dalam keadaan baik di mana pun kalian berada. Kali ini penulis mau menyajikan sesuatu lho. Bukan ff baru sih. Tapi ff modifikasi. Kalau sebelumnya ff ini diproteksi karena mengandung unsur dewasa, sekarang ff ini sudah aman untuk konsumsi publik. Tapi tetap perlu bimbingan orangtua ya. Semua yang tertulis di sini murni hanya fiksi semata. Tidak nyata. Hanya kesenangan penulis untuk menuangkan ide yang terlintas di otak saja. Akhir kata, penulis ucapkan selamat membaca. Sekiranya dapat meninggalkan jejak setelah membaca ya 😉 Penulis tidak akan memaksa 😉

Estelle melepas wedges putihnya dan mengendap-endap masuk ke kamarnya yang bertipe deluxe premier saat hari menjelang subuh. Wajahnya terlihat pucat. Ia diliputi perasaan takut setelah melakukan hal yang tak pantas di kamar laki-laki itu.

Aish! Sudahlah, Estelle. Anggap saja tidak ada yang terjadi semalam. Lupakan! Lupakan!

Estelle menggeleng-geleng, membuang jauh-jauh pikiran buruk yang menghinggap di kepalanya.

Sebelum masuk tadi, Estelle sudah merapikan pakaian dan rambutnya. Walaupun tidak serapi saat ia meninggalkan kamar ini, setidaknya penampilannya sekarang tidak membuat mata yang memandang ke arahnya memincing curiga. Namun, satu hal yang tak dapat ia pungkiri adalah rasa nyeri yang masih membekas di daerah selangkangannya.

Estelle berjalan pelan melewati dinding pemisah antara ruang tidur dan ruang duduk. Jantungnya berdetak kencang.

Semoga Adel masih terlelap, doanya dalam hati.

Dan… doa tinggallah doa. Adelaide Alessandra Stoner–kakak perempuan Estelle yang berusia 2 tahun lebih tua darinya–bersedekap dada, masih mengenakan piama tidurnya, duduk di tepi ranjang, dan menatap garang ke arah Estelle. Baca lebih lanjut

ONESHOT : Find The Way

I’m not really sure. But, happy reading 🙂

Laura mengembuskan napas keras-keras, menatap kesal ke arah ponsel yang sejak sejam lalu terus bergetar setiap dua menit sekali. Peneleponnya orang yang sama. Orang yang membuat Laura sangat kesal.

Sumpah, rasanya ingin sekali Laura mencampak benda pipih itu ke tong sampah jika ia tidak ingat sedang menunggu kiriman foto dari Stuart dan Eleanor, teman satu kelompoknya yang sedang berada di pedalaman Kalimantan untuk melakukan penelitian mengenai persebaran suku Dayak Punan, salah satu rumpun Dayak yang masih primitif, sehingga mengusik rasa penasaran mereka untuk meneliti suku tersebut untuk kemudian dijadikan bahan laporan akhir mereka di semester ini.

Laura tidak ikut terjun langsung ke lapangan. Sebaliknya, ia tetap tinggal di Cambridge dan bertugas menjadi pengumpul setiap jenis informasi yang didapatkan dari kedua rekan dan berbagai sumber lainnya. Lalu, menyalinnya ke dalam bentuk laporan ilmiah yang akan dipresentasikan pada ujian akhir.

Jadi penelitian ini bersifat wajib. 60% nilai kelulusan di semester ini ditentukan dari hasil laporan akhir mereka. Mereka diberi waktu satu setengah bulan. Waktu yang menurut Laura terlalu singkat mengingat perjalanan mereka–Stuart dan Eleanor–ke Kalimantan harus melalui terjangan arus sungai Kapuas yang ekstrim untuk dapat mencapai ke hulu. Belum lagi mereka harus mendaki, masuk hingga ke pelosok-pelosok hutan untuk mencapai perkampungan tempat penduduk suku Dayak Punan menetap. Perjalanan itu membutuhkan waktu hampir seminggu. Itu pun sudah dibantu oleh warga setempat untuk mencapai tempat tersebut. Baca lebih lanjut

My Secret, His Son #15

My Secret1 copy

Puji Tuhan setelah sekian lama gak nulis, akhirnya hari ini diberi kesempatan untuk mem-posting sebuah ff yang gak seberapa ini. Well, sejujurnya kurang pede. Nih ff mengandung unsur dewasa mennnnnnn. Jadi gak sehat banget bagi kalian yang masih di bawah umur baca yang beginian. Buat yang udah cukup umur, kuucapkan happy reading dan komentarnya ditunggu 😉

Matahari bersinar cerah setibanya bus yang ditumpangi anak-anak dan para guru di tempat tujuan. Semuanya menyerbu turun–kecuali para guru tentunya. Pekikan semangat terdengar dari bibir mungil mereka. Ada yang saling bergandeng tangan, merangkul bahu, dan ada juga yang usil mengerjai teman mereka. Semuanya tampak gembira siang itu.

Semua anak dikumpulkan sebelum diberi izin masuk ke perkebunan. Mereka diberi instruksi mengenai cara terbaik memetik buah stoberi oleh seorang instruktor.

Mereka mendengarkan dengan saksama walaupun masih ada satu atau dua orang anak yang sibuk dengan diri masing-masing dan menggoda teman mereka yang sedang berkonsentrasi mendengarkan instruksi. Ada yang iseng mencolek pinggang teman mereka, menggelitik leher belakang, dan menjaili teman mereka dengan cara menarik-narik rambut–khususnya yang anak cewek. Si teman yang menjadi korban kejailan mereka hanya menggerutu dan melemparkan tatapan kesal. Tak jarang ada juga yang membalas perlakuan mereka.

Setelah pemberian instruksi selesai, masing-masing dari mereka diberi sebuah keranjang mungil. Sangat kecil hingga beberapa anak-anak mengernyitkan kening. Baca lebih lanjut

Fanfiction : The One That Got Away #11

pageFF copy

Happy reading 😉

Marc berjalan cepat menuju kamar Roser dengan rahang mengeras dan tangan terkepal di kedua sisi tubuh. Langkahnya konstan. Sorot tajam matanya membuat pelayan-pelayan yang dilaluinya merinding. Mereka tidak pernah melihat tuan muda yang baru seminggu terakhir tinggal di rumah tempat mereka bekerja tampak begitu marah.

Tanpa mengetuk pintu, Marc menjeblak pintu kamar Roser, menemukan wanita paruh baya itu memunggunginya dan tampak sibuk mencari sesuatu di bawah nakas sebelah tempat tidur berukuran king-size. Marc segera menghampiri wanita itu.

Roser membalikkan tubuh saat mendengar pintu kamarnya terbuka agak keras. Sedikit merasa jengkel kepada ‘si lancang’ karena tidak mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk ke kamarnya, tetapi perasaan itu seketika lenyap saat Roser menatap wajah keras milik Marc.

“Ada ap….”

Sebelum Roser sempat menyelesaikan ucapannya, Marc langsung memotong, “Kau tahu, ‘kan?” desisnya penuh amarah. Tidak peduli sekalipun Roser adalah ibunya, Marc terlalu marah untuk tidak mengarahkan tatapan tajam pada Roser. Ia dilanda berbagai emosi setelah mengetahui kenyataan yang akan menghancurkan sahabat masa kecilnya.

“Tahu apa? Apa maksudmu, Marc?” Roser melemparkan ekspresi kebingungan karena ia memang tidak tahu apa maksud ucapan putra sulungnya itu.

Marc menggeram. “Estelle dan Clarissa. Kau sudah mengetahuinya, ‘kan? KAU TAHU KAN, MOM? KAU TAHU DAN KAU TIDAK MEMBERITAHUKU!” teriaknya penuh kekecewaan. Ekspresi terluka memenuhi wajah Marc. Baca lebih lanjut

Mini FF : Grow Old With You

cove2r

Setelah puasa bikin ff selama *cek kalender dulu* sebulan lebih, finally I come back with a new one. Aku gak terlalu menaruh ekspektasi besar untuk ff ini. Mungkin beberapa pembaca bakal mati kebosanan ngebacanya. Ini ff punya narasi berjibun mennnnn. Trus banyak typo *sepertinya* bertebaran. So, happy reading 😉

Laura mematut dirinya untuk terakhir kali di depan cermin besar yang tertempel di dinding kamarnya. Rambut ikal cokelat sepunggung yang dulu dimilikinya kini tinggal separuh. Bukan karena ia sengaja memotong rambut kesayangannya itu, tapi keadaanlah yang memaksanya harus merelakan mahkota indahnya itu.

Luka tusuk yang dideritanya di bagian depan perut yang menembus hingga punggung belakangnya, membuatnya harus mendapat perawatan selama 4 bulan di rumah sakit. Dokter menyarankan agar rambutnya dipotong hingga setengah punggung untuk memudahkan mereka mengobati lukanya karena hal ini sangat riskan mengingat rambut dapat menyebabkan kontaminasi silang walaupun luka yang diderita Laura sudah terbalut oleh perban khusus. Selain itu juga agar tidak mengganggu jalannya proses penyembuhan.

Sejujurnya ia tidak setuju dengan saran dokter yang menanganinya pada saat itu, begitu juga kedua orangtuanya. Tapi demi kesembuhan Laura, hal itu harus dilakukan. Toh, rambut bisa tumbuh lagi kan seiring berjalannya waktu? Satu-satunya hal yang harus ia pusingkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk menghilangkan bekas luka ini. Laura tidak mau bekas luka ini terus membekas di tubuhnya. Bukan karena ia malu memiliki bekas luka tersebut, namun faktor traumatis akibat kejadian itu membuatnya terkadang merasa waswas setiap ditinggal sendirian. Luka ini selalu membawa ingatannya kembali ke kejadian 4 bulan lalu, ke hari di mana luka tersebut bisa bersarang di perut hingga menembus ke punggungnya.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Jam baru menunjukkan pukul 19.30. Turun dari subway, Laura berencana pergi ke Starbucks untuk membeli secangkir kopi kesukaannya sebelum pulang ke apartemen. Ia membutuhkan kafein karena harus bergadang mengerjakan makalah yang mesti ia kumpulkan besok. Baca lebih lanjut

Mini FF : Gonna Marry Her

cove2r

Ini ff iseng-iseng. Dicatat! Iseng-iseng! Dijamin bakal bikin mual. Bagi yang gak suka romance, kusaranin, mending gak usah baca ff ini deh daripada entar illfeel sama Marc. Well, happy reading 😉

Marc mendatangi Yoga Center, salah satu tempat pelatihan yoga terbesar di Madrid. Mengenakan atasan abu-abu berbahan flanel pas tubuh yang dipadu dengan celana jeans biru gelap, pria itu tampak menawan. Wajahnya mampu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya saat ia memasuki lobi, membuat mereka tak bisa berpaling dari karya Tuhan yang memiliki pahatan wajah dan tubuh sempurna selama sekian detik sebelum Marc menghilang dari pandangan mereka.

Walaupun jarang mendatangi tempat ini, Marc masih ingat letak setiap ruangan yang mengajarkan tipe-tipe yoga tertentu sesuai kebutuhan para peserta. Marc membelokkan kakinya ke kiri, berjalan lurus, kemudian berhenti di depan ruangan yang bagian dindingnya terbuat dari kaca dan tertutup tirai krem dari dalam. Tidak ada tulisan tipe yoga ataupun tanda baca di depan pintu tersebut, tapi Marc tahu inilah tempat di mana gadisnya sedang berlatih penapasan di dalam sana.

Laura rutin seminggu dua kali datang ke tempat ini. *Penyakit asma yang pernah dideritanya saat kecil dan berpikir bahwa ia telah sembuh total, ternyata masih menjadi momok mengkhawatir untuk gadis itu. Dokter memang pernah memvonis ia telah bersih dari penyakit itu. Namun, nyatanya ia hampir mati kehabisan napas saat berada di Bali setahun lalu. Ia tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Terlebih Marc. Pria itu sangat khawatir akan keadaan Laura saat menemukan gadis itu kesakitan karena kesulitan bernapas.

Karena takut asma Laura kambuh lagi, sepulangnya mereka dari Bali, Marc menyarankan Laura untuk mengambil kelas yoga untuk melatih pernapasan. Dan ternyata saran Marc sangat manjur. Terhitung sejak setahun lalu, Laura tidak pernah mengeluh tentang asma lagi. Hal yang sangat melegakan Marc. Baca lebih lanjut