Fanfiction : The One That Got Away #12

pageFF copy

Hola! I’m back! Hihihi…. Seneng deh bisa balik nulis lagi. I have a good news. Aku udah selese magang. Kemungkinan bakal aktif nulis lagi. Yipieeee…… 😀

Oh ya, tidak lupa aku juga mau ngucapin Minal Aidin Wal Faizin bagi teman-teman yang merayakan Idul Fitri. Maafkan ya kalau selama ini aku ada salah-salah, dari perbuatan maupun kata-kata yang tertuang dalam setiap tulisanku. Tidak ada maksud menyinggung lho. Hihihi…. Bagi ketupat dong 😀 *minta ditabok*

Oke, sekian kalimat pembukanya. Semoga suka ya sama part ini. Kritik dan saran selalu ditunggu lho 😉

Mata Casey menyalang ke arah Roser saat wanita itu mendorong pintu perpustakaan dan menutupnya kembali dengan gaya paling angkuh, membuat kekesalan Casey bertambah dua kali lipat.

Membalikkan tubuh dan sebelah alis terangkat, Roser balas memandang Casey dengan pandangan tak kalah angkuh dengan sikapnya. Ada sorot mengejek di sana, seolah menertawakan alasan di balik Casey marah padanya.

Tidak perlu menjadi seorang genius untuk menebak apa dan siapa yang membangkitkan amarah seorang Casey Stoner. Casey mudah dibaca. Sangat mudah bahkan, apabila kau tahu apa yang menjadi kelemahan pria itu.

Roser melewati rak-rak buku menjulang tinggi sebelum menuruni setiap undakan tangga yang memisahkan jarak di antara mereka. Harum aromaterapi yang berasal dari kayu cendana di tungku perapian mengudara dalam perpustakaan tersebut, membuat ruangan yang dipenuhi ribuan koleksi buku–rata-rata merupakan cetakan edisi pertama–terasa hangat. Beberapa lukisan dari zaman renaisans tergantung di sudut dinding. Deretan lampu kuning kecil yang menempel di setiap sisi rak menambahkan kesan kuno. Baca lebih lanjut

Introducing…

Sebuah perkenalan.

Hai…

Aku… seseorang yang punya hobi menulis. Mengeja huruf demi huruf, merangkai kata demi kata, membentuk kalimat demi kalimat, hingga jadilah sebuah cerita.

Aku bukan penulis yang baik, sungguh. Aku hanya seseorang yang senang berimajinasi dan bercerita. Melalui Symphony Rita ini, semua yang terlintas di otakku kutuangkan ke dalam bentuk untaian kata.

Aku bukan penyair yang hebat merangkai kata-kata indah. Aku hanya menulis apa yang terlintas di kepalaku, yang terlihat oleh mataku, dan yang kurasakan melalui batinku.

Untukmu yang tak sengaja mengunjungi rumah sederhana ini, dua kata yang ingin kuucapkan; selamat datang. Dan untukmu yang sudah sering dan tak pernah bosan berkunjung kemari, kuucapkan terima kasih. Blog ini–aku lebih suka menyebutnya sebagai rumahku–bukan apa-apa tanya dukungan kalian. Harapanku cuma satu. Semoga rumah ini terus bertahan dan tak tergerus oleh waktu. Aku harap dapat menjadi nyonya rumah yang baik untuk kalian.

Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh di kemudian hari. -Pramoedya Ananta Toer-

Tambahan untuk yang mau baca cerita-cerita di blog ini, cukup klik FF Library untuk melihat daftar ceritanya.

Sekian dan terima kasih

(◦^⌣^◦)

She is Pregnant My Baby #1 (Modified Version)

Hai semua 😀 Apa kabar? Semoga kalian selalu dalam keadaan baik di mana pun kalian berada. Kali ini penulis mau menyajikan sesuatu lho. Bukan ff baru sih. Tapi ff modifikasi. Kalau sebelumnya ff ini diproteksi karena mengandung unsur dewasa, sekarang ff ini sudah aman untuk konsumsi publik. Tapi tetap perlu bimbingan orangtua ya. Semua yang tertulis di sini murni hanya fiksi semata. Tidak nyata. Hanya kesenangan penulis untuk menuangkan ide yang terlintas di otak saja. Akhir kata, penulis ucapkan selamat membaca. Sekiranya dapat meninggalkan jejak setelah membaca ya 😉 Penulis tidak akan memaksa 😉

Estelle melepas wedges putihnya dan mengendap-endap masuk ke kamarnya yang bertipe deluxe premier saat hari menjelang subuh. Wajahnya terlihat pucat. Ia diliputi perasaan takut setelah melakukan hal yang tak pantas di kamar laki-laki itu.

Aish! Sudahlah, Estelle. Anggap saja tidak ada yang terjadi semalam. Lupakan! Lupakan!

Estelle menggeleng-geleng, membuang jauh-jauh pikiran buruk yang menghinggap di kepalanya.

Sebelum masuk tadi, Estelle sudah merapikan pakaian dan rambutnya. Walaupun tidak serapi saat ia meninggalkan kamar ini, setidaknya penampilannya sekarang tidak membuat mata yang memandang ke arahnya memincing curiga. Namun, satu hal yang tak dapat ia pungkiri adalah rasa nyeri yang masih membekas di daerah selangkangannya.

Estelle berjalan pelan melewati dinding pemisah antara ruang tidur dan ruang duduk. Jantungnya berdetak kencang.

Semoga Adel masih terlelap, doanya dalam hati.

Dan… doa tinggallah doa. Adelaide Alessandra Stoner–kakak perempuan Estelle yang berusia 2 tahun lebih tua darinya–bersedekap dada, masih mengenakan piama tidurnya, duduk di tepi ranjang, dan menatap garang ke arah Estelle. Baca lebih lanjut

Tips Tap Tips Buat yang Kebelet BAB di Jalan

cove2r

Oke, gue tahu kalo gue nih nista banget nyebarin tips dan trik yang gak pantes banget dicontoh. Tapi gak ada salahnya kan kalo misalnya panggilan alam dari lubang burit gak bisa diajak kompromi? Apalagi kalo lu-lu pada lagi di jalan dan gak nemu tempat buat nampung pupu. Apa kata dunia dah? Gak mungkin kan ditampung di celana? Jorok ih….

Nah, ini pengalaman gue pas lagi di jalan dan panggilan alam tiba-tiba memanggil di saat yang tidak tepat. Si pupu udah tinggal di ujung bray. Untungnya tak jauh dari lokasi tempat gue nunggu jemputan, ada hotel berbintang. Dan muncullah lampu ajaib di kepala. Mau tau apa? Numpang BAB!

Waktu itu gue dijemput sama orang rumah. Pas naik ke motor dia, eh, si pupu kayaknya udah mau nongol. Akhirnya kami pun tancap gas ke hotel tersebut.

Sambil jalan sambil nahan nih, gue jalan ke resepsionnya. Gue kasih tahu ya biar lu-lu pada kalo ngalami kejadian kayaknya gue, pas lu setorin muka ke si abang ato mbak resepsion, tunjukin muka semanis mungkin. Senyumnya dilebarin. Trus tampangnya ala-ala orang beruang. *ini apalah -.-“*

Selanjutnya pura-pura nanya harga kamar dan minta room rate-nya. Setelah dikasih, elu pura-pura baca. Yang perlu diperhatikan di sini, tampang elu pada musti serius ya. Walaupun udah tinggal di ujung, setidaknya bisalah ditahan sedikit. Baca lebih lanjut

ONESHOT : Find The Way

I’m not really sure. But, happy reading 🙂

Laura mengembuskan napas keras-keras, menatap kesal ke arah ponsel yang sejak sejam lalu terus bergetar setiap dua menit sekali. Peneleponnya orang yang sama. Orang yang membuat Laura sangat kesal.

Sumpah, rasanya ingin sekali Laura mencampak benda pipih itu ke tong sampah jika ia tidak ingat sedang menunggu kiriman foto dari Stuart dan Eleanor, teman satu kelompoknya yang sedang berada di pedalaman Kalimantan untuk melakukan penelitian mengenai persebaran suku Dayak Punan, salah satu rumpun Dayak yang masih primitif, sehingga mengusik rasa penasaran mereka untuk meneliti suku tersebut untuk kemudian dijadikan bahan laporan akhir mereka di semester ini.

Laura tidak ikut terjun langsung ke lapangan. Sebaliknya, ia tetap tinggal di Cambridge dan bertugas menjadi pengumpul setiap jenis informasi yang didapatkan dari kedua rekan dan berbagai sumber lainnya. Lalu, menyalinnya ke dalam bentuk laporan ilmiah yang akan dipresentasikan pada ujian akhir.

Jadi penelitian ini bersifat wajib. 60% nilai kelulusan di semester ini ditentukan dari hasil laporan akhir mereka. Mereka diberi waktu satu setengah bulan. Waktu yang menurut Laura terlalu singkat mengingat perjalanan mereka–Stuart dan Eleanor–ke Kalimantan harus melalui terjangan arus sungai Kapuas yang ekstrim untuk dapat mencapai ke hulu. Belum lagi mereka harus mendaki, masuk hingga ke pelosok-pelosok hutan untuk mencapai perkampungan tempat penduduk suku Dayak Punan menetap. Perjalanan itu membutuhkan waktu hampir seminggu. Itu pun sudah dibantu oleh warga setempat untuk mencapai tempat tersebut. Baca lebih lanjut

How to Get The Password???

cove2r

Hola! Kembali lagi bersama penulis gila pengidap plin-plan akut stadium 4. Hehehe 😀 Betewe baswei, aku punya ff baluuu lhooo…. Bukan punyaku sih. Tapi titipan dari temanku. Buat yang penasaran sama ff tersebut, bisa langsung mention ke twitterku. Ntar ku-DM password-nya.

Eittt…. Tapi ada tapinya. Cerita ini mengandung unsur dewasa. So, so, buat sodara-sodara sekalian yang merasa masih di bawah umur, sangat tidak dianjurkan untuk membaca cerita di bawah ini.

Sekian cuap-cuapnya. Lebih dan kurang, semoga ff ini dapat menghibur. Buat yang bertanya-tanya kapan aku posting ff lagi, I just can answer ‘I don’t know’. Mohon pengertiannya ya. Terima kasih 😉

Pengumuman Hiatus… Pesan untuk Pembaca yang Tak Pernah Lelah Berkunjung ke Symphony Rita

Banyak cerita yang ingin penulis bagikan di blog ini. Senang, sedih, kesal, penuh suka dan duka. Tak terhitung sudah berapa banyak kejadian yang penulis lewatkan untuk diceritakan di blog ini.

Sebenarnya waktu ada. Namun, saat ditanya kenapa tidak mem-posting apa pun, selalu alasan kelelahan dan tidak punya waktu yang disampaikan oleh penulis. Ini sebuah kebohongan besar, sungguh.

Melalui tulisan ini, penulis ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas ketidakpastian dan ketidakjelasan yang penulis beri untuk pembaca sekalian. Bukan maksud tidak ingin mem-posting apa pun di blog. Yang ingin penulis sampaikan adalah saat ini dan mungkin untuk beberapa bulan ke depan, blog ini akan kosong, tak terisi, dan postingan terakhir terhitung sampai 31 Maret 2015. Selanjutnya penulis tidak akan mem-posting apa pun sampai waktu yang tak bisa ditentukan.

Penulis tidak bisa mengungkapkan alasan sesungguhnya. Selain karena penulis sedang dalam masa Praktek Lapangan Kerja/on The Job Training, ada beberapa alasan yang bersifat persona yang tak bisa penulis sampaikan di sini.

Selanjutnya penulis hanya dapat berharap setelah masa-masa sulit terlewati, penulis dapat kembali berkarya dan menulis sebanyak yang bisa dilakukan. Untuk pembaca sekalian, sekali lagi penulis minta maaf. Mohon doanya agar masa-masa sulit ini cepat berlalu.

Terima kasih.

Salam,

Rita

My Secret, His Son #15

My Secret1 copy

Puji Tuhan setelah sekian lama gak nulis, akhirnya hari ini diberi kesempatan untuk mem-posting sebuah ff yang gak seberapa ini. Well, sejujurnya kurang pede. Nih ff mengandung unsur dewasa mennnnnnn. Jadi gak sehat banget bagi kalian yang masih di bawah umur baca yang beginian. Buat yang udah cukup umur, kuucapkan happy reading dan komentarnya ditunggu 😉

Matahari bersinar cerah setibanya bus yang ditumpangi anak-anak dan para guru di tempat tujuan. Semuanya menyerbu turun–kecuali para guru tentunya. Pekikan semangat terdengar dari bibir mungil mereka. Ada yang saling bergandeng tangan, merangkul bahu, dan ada juga yang usil mengerjai teman mereka. Semuanya tampak gembira siang itu.

Semua anak dikumpulkan sebelum diberi izin masuk ke perkebunan. Mereka diberi instruksi mengenai cara terbaik memetik buah stoberi oleh seorang instruktor.

Mereka mendengarkan dengan saksama walaupun masih ada satu atau dua orang anak yang sibuk dengan diri masing-masing dan menggoda teman mereka yang sedang berkonsentrasi mendengarkan instruksi. Ada yang iseng mencolek pinggang teman mereka, menggelitik leher belakang, dan menjaili teman mereka dengan cara menarik-narik rambut–khususnya yang anak cewek. Si teman yang menjadi korban kejailan mereka hanya menggerutu dan melemparkan tatapan kesal. Tak jarang ada juga yang membalas perlakuan mereka.

Setelah pemberian instruksi selesai, masing-masing dari mereka diberi sebuah keranjang mungil. Sangat kecil hingga beberapa anak-anak mengernyitkan kening. Baca lebih lanjut

I Need You More

Author : @Nataa_diva

“Jadi kau tidak bisa menemaniku nanti malam?” tanya Adel datar.”Sepertinya begitu. Pekerjaan di kantor menumpuk dan aku harus membereskan semuanya. Kau tetap mau pergi malam ini?”

Adel mengangkat kedua bahunya–meski ia tahu Dani tidak bisa melihat gerakannya–sembari menghela napas. “Aku bisa pergi sendiri, Dani. Lagipula aku bukan anak kecil yang bisa tersesat di pusat perbelanjaan.”

“Hm, benar.” Dani menandatangani selembar kertas putih, lalu melanjutkan, “Kalau begitu, hati-hati ya. Aku akan menemuimu besok malam. Sampai nanti, sayang.”

Adel melempar ponselnya ke nakas di samping tempat tidurnya. Dengan malas ia mengambil penyedot debu dari dalam lemari, satu set sprei baru, dan pembersih cair serta kain lap. Lebih baik membuang tenaga untuk bersih-bersih daripada meluapkan kekesalannya pada orang lain. Adel bukan tipe orang yang pandai menutupi emosinya. Suasana hatinya mudah ditebak, dan dapat berubah dengan cepat. Ia memang lebih menggunakan perasaan dan emosinya–menurut orang-orang di sekitarnya.

Lewat setengah jam, gadis itu sudah mulai menyentuh jendela kamarnya. Sudut-sudut perabotan yang sedikit berdebu juga ikut dibersihkan. Setelahnya, baru ia mengganti sprei yang baru diganti minggu kemarin. Ia melepaskan sprei lama dan melemparnya ke dalam keranjang khusus pakaian kotor. Kemudian, masih dengan perasaan kesal, ia memasang sprei baru. Namun keberuntungan tampaknya tidak berpihak pada gadis itu.

Lehernya tertarik–atau salah urat mungkin– hingga membuat Adel mengerang kesakitan. Ia memijit tengkuknya dan duduk di samping tempat tidur. Pukul 2 tepat. Waktunya makan siang, tapi perutnya sama sekali tidak lapar. Suara ketukan di pintu memaksanya melangkahkan kaki ke arah sumber suara. Baca lebih lanjut