Marc & Laura : Turbulence

Alex :

Kakak ipar, aku sedang berada di Madrid. Boleh aku mampir ke tempatmu? Aku sangat rindu padamu.

Peluk dan cium dari adik ipar tercinta.

Laura tersenyum lemah saat membaca pesan singkat yang dikirimkan Alex. Jika dia sedang dalam keadaan baik-baik saja, dia akan terkekeh dan langsung menelepon adik ‘mantan’ kekasihnya itu.

Tidak ada  yang tahu. Bahkan kedua orangtuanya dan orangtua Marc, bahwa hubungan mereka telah berakhir sejak dua bulan yang lalu. Marc menjadi pihak yang mengambil keputusan. Alasannya sederhana dan Laura dipaksa untuk mau tidak mau menerima permintaan Marc tersebut.

Alibi you deserve better. Kesibukan Marc yang semakin padat membuat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersama. Baca lebih lanjut

Iklan

Diproteksi: Spring #2

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

{Angel Bride} : Come Back, Please… [Mini FF]

Leeteuk mengangkat wajahnya dan matanya langsung terarah ke jam dinding yang sudah menunjukan pukul 00.30. Sudah berapa lama ia bekerja?

Akhir-akhir ini lelaki itu sering menghabiskan waktunya dengan bergelung di lembaran kertas di meja kerjanya. Leeteuk tidak akan berhenti jika ia tidak merasa penat yang menusuk tubuhnya.

Leeteuk bangkit dari kursi kerjanya, kemudian berjalan ke luar ruangannya. Hampir semingguan ini lelaki itu tidak ke kantor. Sebagai gantinya seluruh pekerjaannya ia kerjakan di sini, ruang pribadinya, dirumahnya.

Leeteuk melewati kamarnya yang terbuka lebar. Ia kemudian berhenti di bibir pintu dan menghadap ke dalam sana. Tampak seorang gadis yang sedang sibuk melipat baju dan tidak sadar jika Leeteuk tengah memperhatikan dirinya. Tak lama kemudian, setelah selesai melipat gadis itu pun membalikkan tubuhnya dan pada saat itu jugalah mata mereka bertemu.

Mata Hani masih seperti dulu. Cantik dan indah dengan sepasang bola mata berwarna hitam yang menghiasinya. Tak perlu menunggu lama, Leeteuk akhirnya mendapat senyuman itu, senyum kesukaannya yang menjadi sumber penyemangat dan kekuatan untuk menopang tubuhnya yang lemah.

“Kau merindukanku, Oppa?” tanya Hani seraya menatap Leeteuk penuh cinta. “Tidak usah kau jawab. Aku sudah tahu kau sangat rindu padaku,” lanjut Hani kemudian.

“Ne. Kau benar, Yeobo. Aku sangat merindukanmu,” jawab Leeteuk lirih, tetap berdiri pada posisinya. Jujur, ia ingin sekali menghampiri Hani dan membawanya kedalam pelukannya, mengurung gadis itu selama yang ia bisa. Tapi itu tidak dilakukannya. Leeteuk tetap menahan dirinya untuk tidak menggerakan kakinya. Baca lebih lanjut

Cerpen : Habibie & Ainun (Versi Saya)

PS : Ini untuk tugas Sastra Indonesia disekolahku yang ditulis dengan versiku sendiri. Happy reading 😉

Tepat jam sepuluh pagi lima puluh tahun yang lalu
Dengan ucapan Bismilaahirrrahmaanirrahiim saya melangkah
Bertemu yang dilahirkan untuk saya dan saya untuk Ainun
Alunan budaya Jawa bernafaskan Islam, menjadikan kita suami isteri
Melalui pasang surut kehidupan, penuh dengan kenangan manis
Membangun Keluarga Sejahtera, Damai, dan Tenteram, Keluarga Sakinah
Tepat jam sepuluh pagi lima puluh tahun kemudian di Taman Makam Pahlawan
Setelah membacakan Tahlil bersama mereka yang menyayangimu
Saya panjatkan Do’a untukmu, selalu dalam lindunganNYA dan bimbinganNYA
Bersyukur pada Allah SWT yang telah melindungi dan mengilhami kita
Mengatasi tantangan badai kehidupan berlayar ke akhirat dalam dimensi apa saja
Sekarang sudah 50 tahun berlalu, selalu menyatu dan tetap menyatu sampai akhirat.

-Habibie-

Kita hanya berpisah sementara, bukan?

Entah bagaimana ketika aku menyadari ada sesuatu yang hilang dariku sejak kau pergi. Aku menangis, tentu saja. Memangnya siapa yang tidak menangis ketika kehilangan sesuatu yang sangat berharga di hidupmu. Kembalilah, aku mohon. Sebentar saja, itu sudah cukup.

Hari-hari yang kulalui selalu sukses membuatku semakin putus asa dan menangis. Ya, menangis adalah kegiatan favoritku sekarang setiap aku membayangkan wajahmu yang cantik, matamu yang selalu berbinar-binar ketika menatapku dan senyum yang selalu terpampang ceria dibibir mungilmu.

Namun, ketika perpisahan itu tidak terelakkan, aku hanya bisa mengatakan, aku tidak tahu apakah aku bisa hidup dengan benar tanpamu disisiku. Aku tidak tahu apakah aku bisa menarik napas dengan benar seperti yang kulakukan saat kau masih ada bersamaku.

Kembalilah, sebentar saja. Selalu itu yang ingin kuteriak setiap air mata ini jatuh dipelupuk mataku. Aku mencoba membersihkannya, menyekanya berkali-kali sepanjang waktu, tapi tetap saja sulit untukku berhenti menangis. Apapun dan bagaimana pun setiap aku memulai sesuatu yang benar, tanpamu tetap saja aku menangis. Aku merindukanmu, sungguh. Baca lebih lanjut

Cerpen : Beautiful In My Eyes

Menikahlah denganku. Dan selamanya hanya aku yang akan melihatmu dari sudut pandangku, Hanna. Bersediakah kau?

Seorang gadis duduk di bingkai jendela kamarnya yang membawanya menghadap langsung ke arah danau buatan yang berada di depan rumahnya. Wajahnya tampak begitu muram dan sedih.

Pria itu telah kembali. Begitulah pikirannya terus bergelung. Pria itu. Entah sudah berapa ribu kali ia terus menyuarakan nama pria itu dikepalanya.

Alex, pria yang dicintainya kini sudah kembali setelah menjalani wajib militernya selama 2 tahun. Pria yang bahkan sudah melamarnya menjadi istrinya. Tapi, apa lamaran Alex pada saat sebelum pria itu menjalani wajib militernya dan bahkan sebelum kecelakaan yang menimpa dirinya itu masih berlaku? Gadis itu yakin, pandangan Alex kepadanya pasti sudah berubah.

Kejadian itu telah mengubah dunianya. Kebahagiaan yang dulunya sempat dirasakan, kini hancur berkeping-keping membentuk sesuatu yang bahkan tak berharga lagi dimata. Gadis itu tidak tahu dosa apa yang telah diperbuatnya hingga Tuhan, menurutnya begitu kejam memberinya cobaan yang begitu berat.

Dulu, ia begitu cantik. Dengan bentuk wajah yang oval memanjang kebawah yang dihiasi sepasang matanya yang begitu indah, hidung mancung dan bibir mungil yang setiap kali tersenyum akan memunculkan sepasang lesung pipi. Namun, semua itu hilang begitu saja karena kecelakaan besar yang menimpanya.

Ia bukan Hanna yang dulu lagi. Ia bukan Hanna yang dulunya cantik. Tapi, ia adalah Hanna yang sekarang mempunyai wajah seperti monster. Bahkan ia sendiri takut melihat wajahnya yang tampak begitu jelek di cermin. Baca lebih lanjut

Cerpen : Rumahku Adalah Rumahmu…

 Jangan Rusak Alam Kita :

Rumahku Adalah Rumahmu…

Karya : Rita

Deru mesin berputar terdengar di dalam sana. Seperti biasa mungkin, pikirku dalam hati. Tapi, setiap mendengar deruan gerigi itu merongrong, menembus kerasnya batang-batang berimbunan di dalam sana membuatku sedih. Ada rasa tercabik, seolah ada ribuan jarum yang berlomba-lomba mengepung tubuhku, lalu satu per satu menusuk ke ulu hatiku.

 Tepat 2 bulan yang lalu, aktivitas penebangan itu terus berlanjut seolah tak terbendung hingga sekarang. Jujur, aku sangat marah kepada mereka semua. Pohon-pohon itu tidak seharusnya diambil!

Percikan air mengenai wajahku saat piring-piring yang baru saja kusabuni itu mulai kubilas satu per satu. Tanganku memang bekerja, tapi pikiranku melayang ke dalam hutan yang dulunya lebat dan hijau, tapi berubah menjadi tanah gersang yang menyisakan debu-debu kering.

Aku, Nafael Pratama, bocah berumur 11 tahun yang hidup dibawah garis kemiskinan bersama seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya. Aku tidak pernah menyesal lahir di keluarga ini, malahan sangat bersyukur walaupun hidup serba berkekurangan.

Setelah selesai mencuci, aku pun masuk ke dalam rumah dan… suara itu masih saja terdengar.

Dulu, sebelum tempat itu dijadikan daerah penebangan liar, disanalah tempatku bermain bersama kelinci-kelinci yang berlari bebas di atas rumput lembab, tempatku menikmati terpaan angin sejuk dan ditemani nyanyian indah burung-burung yang berterbangan di udara. Disanalah rumah keduaku, tempatku menghabiskan masa-masa indahku. Tapi, sekarang apa? Apa yang telah mereka lakukan terhadap rumahku? Bahkan sekarang ibu melarangku mendekat ke sana. Katanya daerah itu tidak boleh lagi dimasuki dan sangat berbahaya. Aku rindu suasana hutan. Hm, mungkin aku harus pergi ke sana. Ya, inilah waktunya mumpung ibu belum pulang.

Jarum panjang di dinding pondok reotku menunjukan angka 5. Sepertinya tidak masalah jika aku pergi sebentar. Lagipula semua pekerjaan rumah sudah kuselesaikan sesuai pesan ibu sebelum berangkat ke kebun tadi.

Aku pun meninggalkan pondok yang beratapkan helai-helaian daun nipah yang di bingkai sedemikian rupa. Dengan beralaskan sendal yang berbeda warna, yang diberikan oleh ibu ketika pulang dari kebun sebulan yang lalu. Tak apalah, daripada tidak ada alas kaki sama sekali. Walaupun jelek yang penting masih bisa dipakai. Baca lebih lanjut

Cerpen : Flying Piano

Author : Rima Angelina

Jika kamu percaya pada dirimu sendiri, sekecil apapun harapan itu, Tuhan pasti mewujudkannya. Aku percaya mimpi bisa jadi kenyataan, karena itu yang selama ini kulakukan, berharap dan berdoa setiap aku menutup mataku. Jika kau ingin harapan itu terkabulkan. Dengan usaha, tentu saja!

Hidup tidak pernah adil untuk semua orang, itu benar. Takdir selalu berjalan beriringan dengan mengalirnya darah kalian. Hidupku jauh dari garis kesempurnaan. Aku bukan ratu, aku bukan putri, dan aku bukan orang yang spesial. Aku hanya gadis usia 11 tahun yang hidup di rumah seorang diri. Tidak ada orang tua, saudara, dan siapapun. Mungkin kalian berfikir ini menyedihkan. But… easy going, guys! aku selalu berfikir dewasa dan sedikit memaksa otak dan mentalku untuk memahami segala garis takdir yang tak dapat kuubah.

Karna takdir permanen.

***

Aku merasa hidupku sudah cukup sempurna dengan segala kekuranganku. Aku selalu melakukan aktifitas yang menurutku baik, aku senang membuat orang-orang tersenyum melihat penampilanku mengamen di sudut kota setiap harinya, lebih tepatnya bernyanyi. Walau aku tidak sekolah setidaknya aku masih bisa melakukan hal-hal yang berguna. Baca lebih lanjut

Bieber Story : Sorry My Son

Genre : Family

Cast : Justin Bieber and his family

Rated : K+

Author : Noni Safitri

“Mom?”

“Hmm?”

“Apa benar aku dilahirkan karena terpaksa?”

“Ehh?”

“Apa itu benar, Mom?”

Pattie mengernyit heran. Pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang anak lelaki berusia 10 tahun itu terasa janggal di telinga dan membuatnya terdiam dari aktifitasnya merangkai bunga.

Pattie bangkit dari kursi taman dan segera menghampiri Justin Bieber, satu-satunya penerus keluarga Bieber, yang tengah termenung di ruang keluarga yang langsung terhubung dengan taman belakang tempat Pattie merangkai bunga.

Dielusnya rambut coklat karamel milik anak semata wayangnya, “Mengapa kau bertanya seperti itu, Sayang?”

“Kelihatannya seperti itu. Kalau tidak terpaksa, mengapa Dad membenciku?” pertanyaan retoris sang Bieber junior yang cukup membuat ibunya shock.

“Memangya siapa yang mengatakan Dad membencimu, hm?”

“Tidak ada,” Justin berfikir sejenak, “Tapi Dad selalu menghukumku dan menyiksaku. Setiap berlatih akting, bila aku melakukan kesalahan sedikit saja, Dad pasti menghukumku. Mom lihat saja sendiri.” Baca lebih lanjut

Akhir Cerita

Terbelenggu karena rasa

Kau dan aku : akhir ceritaku

Malam itu terasa beda dirumah ini, ramai dan berisik. Mata gadis itu mencari-cari sesuatu diantara kerumunan orang. Ada sesuatu yang aneh disini, seolah ada tatapan membunuh dari seseorang yang diarahkan kepadanya. Gadis itu waspada, belati yang sudah diasahnya tadi sudah terselip rapi disepatunya.

Sejenak ia lepaskan kewaspadaannya, gadis itu merasa sedikit haus lalu kakinya membawa tubuhnya ke meja hidangan khususnya bagian minuman untuk para tamu undangan. Ia mengambil gelas berisi air merah dan meneguknya hingga habis. Baru saja ia hendak berbalik, seseorang menepuk pundaknya. Gadis itu berwaspada.

Ia berbalik, melihat siapa yang menepuknya. Seorang pria tampan dengan tatapan dingin. Pria itu menatapnya lekat dan intens.

“Kau Lea Alegory?!” Kalimatnya yang dikeluarkannya bukan pertanyaan melainkan pernyataan.

“Kenapa?” balas gadis itu sinis. Ia tahu pria ini bukan orang baik.

“Kau masih ingat denganku?” tanyanya, tatapan matanya seolah menilai dan gadis itu tidak tahu apa yang dilihat darinya..

“Tentu saja. Kau adalah pembunuh atau… lebih pantasnya kau disebut psikopat,” jawabnya dingin. Ya, pria ini adalah psikopat yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Lea tidak takut, malah heran melihatnya disini?

“Tepat, Sayang. Kau tidak takut aku berada didekatmu?” Lea mulai mendengar nada mengancam dari pria itu. Ia tidak takut.

“Tidak. Aku rasa tidak ada yang perlu kutakutkan, karena kau akan membunuhku sebentar lagi. Aku sudah siap untuk itu,” Setiap kata yang diucapkan Lea terdengar menyakinkan. Ia siap untuk mati.

“Aku tidak akan membunuhmu, Sayang. Kau terlalu berharga untuk mati berdarah. Aku membuat penawaran untukmu,” kata pria itu tersenyum jahat. Tatapan matanya berubah menjadi tatapan sensual. Lea tahu apa arti tatapan itu.

“Kau mau membayarku? Jangan harap kau bisa mendapatkannya,” desis Lea sinis.

“Baiklah. Itu pilihanmu. Ada pesan terakhir? Kalau begitu saatnya mengucapkan selamat tinggal, Sayang,” Pria itu menusuk Lea dengan pisau beracunnya yang setajam mata elang. Seketika jerit orang-orang membahana ke seluruh penjuru rumah melihat kejadian itu.

“Oke, Cut!!!” teriak sang Sutradara. “Bagus sekali akting kalian,” pujinya seraya tersenyum puas.

Tepuk tangan pun berdatang dari seluruh kru film.

End

Sepasang Sayap di Langit Tertinggi

merpati

Tuhan menciptakan manusia yang dilengkapi dengan sebuah sayap dibelakang tubuhnya. Laki-laki disebelah kanan dan perempuan disebelah kiri. Lalu, jika ingin terbang, menyongsong birunya langit, bukankah mereka harus bersatu, menyatukan dua sayap itu menjadi satu hingga membentuk sepasang sayap?

Aku mempunyai sayap, yang tercipta 20 tahun yang lalu. Saat tercipta sayapku lemah, butuh perlindungan dan aku mendapatkannya dari penciptaku. Penciptaku merawatku, menjagaku hari demi hari hingga sayapku menjadi kuat dan kokoh, bahkan sekarang aku bisa mencari sayap kananku.

Aku mencarinya, terus mencari. Sampai suatu hari aku menemukan sayap itu. Kami bersatu membentuk sepasang dan mencoba untuk terbang. Gagal. Bahkan ini pun belum sampai setengah langit tertinggi. Dia bukan sayap kananku. Aku terjatuh. Tubuhku membentur tanah keras, rasanya sakit sekali dan aku sadar sayapku terluka.

Butuh berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk menyembuhkan luka sayapku. Hingga suatu hari, aku kembali menemukan sayap lagi. Kami pun bersatu kembali dan mencoba terbang ke langit. Kami berhasil. Aku pikir mungkin inilah sayap kananku, sayap yang kutunggu-tunggu. Namun, yang namanya berjuang pasti ada rintangan yang harus dilewati.

Kami terbang, semakin tinggi, tinggi dan hampir mencapai langit tertinggi. Namun, ada badai disana dan kami harus melewatinya agar bisa mencapai langit itu. Kami pun menerobos badai itu, berputar-putar mengikuti arahnya sampai aku merasa ada celah disayap kami. Perlahan-lahan, entahlah siapa yang memulainya sayap kami terlepas hingga terseret angin. Hal terakhir yang kullihat sebelum aku jatuh membentur tanah keras untuk kedua kalinya, pemilik sayap kananku hilang ditelan angin. Baca lebih lanjut