Marc & Laura : Turbulence

Alex :

Kakak ipar, aku sedang berada di Madrid. Boleh aku mampir ke tempatmu? Aku sangat rindu padamu.

Peluk dan cium dari adik ipar tercinta.

Laura tersenyum lemah saat membaca pesan singkat yang dikirimkan Alex. Jika dia sedang dalam keadaan baik-baik saja, dia akan terkekeh dan langsung menelepon adik ‘mantan’ kekasihnya itu.

Tidak ada  yang tahu. Bahkan kedua orangtuanya dan orangtua Marc, bahwa hubungan mereka telah berakhir sejak dua bulan yang lalu. Marc menjadi pihak yang mengambil keputusan. Alasannya sederhana dan Laura dipaksa untuk mau tidak mau menerima permintaan Marc tersebut.

Alibi you deserve better. Kesibukan Marc yang semakin padat membuat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersama. Baca lebih lanjut

Mini FF : Grow Old With You

cove2r

Setelah puasa bikin ff selama *cek kalender dulu* sebulan lebih, finally I come back with a new one. Aku gak terlalu menaruh ekspektasi besar untuk ff ini. Mungkin beberapa pembaca bakal mati kebosanan ngebacanya. Ini ff punya narasi berjibun mennnnn. Trus banyak typo *sepertinya* bertebaran. So, happy reading 😉

Laura mematut dirinya untuk terakhir kali di depan cermin besar yang tertempel di dinding kamarnya. Rambut ikal cokelat sepunggung yang dulu dimilikinya kini tinggal separuh. Bukan karena ia sengaja memotong rambut kesayangannya itu, tapi keadaanlah yang memaksanya harus merelakan mahkota indahnya itu.

Luka tusuk yang dideritanya di bagian depan perut yang menembus hingga punggung belakangnya, membuatnya harus mendapat perawatan selama 4 bulan di rumah sakit. Dokter menyarankan agar rambutnya dipotong hingga setengah punggung untuk memudahkan mereka mengobati lukanya karena hal ini sangat riskan mengingat rambut dapat menyebabkan kontaminasi silang walaupun luka yang diderita Laura sudah terbalut oleh perban khusus. Selain itu juga agar tidak mengganggu jalannya proses penyembuhan.

Sejujurnya ia tidak setuju dengan saran dokter yang menanganinya pada saat itu, begitu juga kedua orangtuanya. Tapi demi kesembuhan Laura, hal itu harus dilakukan. Toh, rambut bisa tumbuh lagi kan seiring berjalannya waktu? Satu-satunya hal yang harus ia pusingkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk menghilangkan bekas luka ini. Laura tidak mau bekas luka ini terus membekas di tubuhnya. Bukan karena ia malu memiliki bekas luka tersebut, namun faktor traumatis akibat kejadian itu membuatnya terkadang merasa waswas setiap ditinggal sendirian. Luka ini selalu membawa ingatannya kembali ke kejadian 4 bulan lalu, ke hari di mana luka tersebut bisa bersarang di perut hingga menembus ke punggungnya.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Jam baru menunjukkan pukul 19.30. Turun dari subway, Laura berencana pergi ke Starbucks untuk membeli secangkir kopi kesukaannya sebelum pulang ke apartemen. Ia membutuhkan kafein karena harus bergadang mengerjakan makalah yang mesti ia kumpulkan besok. Baca lebih lanjut

Mini FF : Gonna Marry Her

cove2r

Ini ff iseng-iseng. Dicatat! Iseng-iseng! Dijamin bakal bikin mual. Bagi yang gak suka romance, kusaranin, mending gak usah baca ff ini deh daripada entar illfeel sama Marc. Well, happy reading 😉

Marc mendatangi Yoga Center, salah satu tempat pelatihan yoga terbesar di Madrid. Mengenakan atasan abu-abu berbahan flanel pas tubuh yang dipadu dengan celana jeans biru gelap, pria itu tampak menawan. Wajahnya mampu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya saat ia memasuki lobi, membuat mereka tak bisa berpaling dari karya Tuhan yang memiliki pahatan wajah dan tubuh sempurna selama sekian detik sebelum Marc menghilang dari pandangan mereka.

Walaupun jarang mendatangi tempat ini, Marc masih ingat letak setiap ruangan yang mengajarkan tipe-tipe yoga tertentu sesuai kebutuhan para peserta. Marc membelokkan kakinya ke kiri, berjalan lurus, kemudian berhenti di depan ruangan yang bagian dindingnya terbuat dari kaca dan tertutup tirai krem dari dalam. Tidak ada tulisan tipe yoga ataupun tanda baca di depan pintu tersebut, tapi Marc tahu inilah tempat di mana gadisnya sedang berlatih penapasan di dalam sana.

Laura rutin seminggu dua kali datang ke tempat ini. *Penyakit asma yang pernah dideritanya saat kecil dan berpikir bahwa ia telah sembuh total, ternyata masih menjadi momok mengkhawatir untuk gadis itu. Dokter memang pernah memvonis ia telah bersih dari penyakit itu. Namun, nyatanya ia hampir mati kehabisan napas saat berada di Bali setahun lalu. Ia tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Terlebih Marc. Pria itu sangat khawatir akan keadaan Laura saat menemukan gadis itu kesakitan karena kesulitan bernapas.

Karena takut asma Laura kambuh lagi, sepulangnya mereka dari Bali, Marc menyarankan Laura untuk mengambil kelas yoga untuk melatih pernapasan. Dan ternyata saran Marc sangat manjur. Terhitung sejak setahun lalu, Laura tidak pernah mengeluh tentang asma lagi. Hal yang sangat melegakan Marc. Baca lebih lanjut

Mini FF : Just Believe in Me

Author’s note : Well, setelah sekian lama hilang dari peredaran, baru ngepost ff hari ini. Sebenernya sih mau ngelanjutin part yang kemarin2. Cm berhubung tidak rampung2 juga ya akhirnya di post sajalah mini ff ini dulu. Hohoho. Dan buat Rita, anak emak tersayang *peluksambilguling2*, thanks boleh ngotor2in blog kamu nak, thanks jg ide berserta pembenaran ejaan *yg selama ini tidak emakmu ini ketahui -.-* Anyway, happy reading ya! Maklumin aja kalo agak boring + gaje :D.

***

Alicia Scheuneman, model asal Jerman yang sempat diisukan dekat dengan salah satu pengusaha minyak terbesar, kini membuat sensasi lagi. Baru saja diberitakan putus minggu lalu, Alicia sudah menjalin hubungan yang dikabarkan cukup kontroversial.

Bagaimana tidak? Pasca berakhirnya satu tahun kisah cinta Alicia dan Maverick –pengusaha itu, seminggu kemudian Alicia langsung mengumumkan rencana pertunangannya dengan seorang dosen muda asal Spanyol. Diketahui dosen itu bernama Daniel Pedrosa. Berbagai foto mesra keduanya pun sudah beredar luas.

Bagaimana tanggapan Bradl, suami Alicia terkait isu yang sedang hangat diberitakan di media itu? Dan bagaimanakah kelanjutan hubungan Alicia dengan Dani Pedrosa? Apa mereka benar-benar akan merealisasikan rencana pertunangan mereka? Mari kita saksikan dalam berita acara hari ini…

Klik!

Adel mematikan televisi. Ia melempar benda mati berbentuk persegi panjang itu dengan kasar ke meja. Apa-apaan berita tadi? “Dasar infotaiment sialan!” umpatnya dalam hati. Baca lebih lanjut

Mini FF : The Real Champion In Our Heart

cove2r

Marc menatap ke sekelilingnya. Orang-orang berlalu-lalang dengan berbagai kesibukan. Kamera menyorot ke sana kemari. Seorang umbrella girl atau biasa yang dikenal dengan gadis payung berdiri di sebelahnya, memayunginya dari sinar matahari.

Sebenarnya ide umbrella girl yang dipakai Dorna, selaku pimpinan tertinggi ajang balap MotoGP ini hanya untuk menaikkan rating saja. Gadis-gadis itu berpakaian seksi dan memamerkan tubuh indah mereka. Membuat siapa pun yang melihat mereka akan kesulitan menelan ludah.

Mata Marc memandang bosan. Ini merupakan tahun keduanya di ajang balap bergengsi tersebut. Setelah merengkuh juara dunia pada musim lalu di sirkuit Valencia yang turut serta mencatatkan dirinya sebagai pembalap termuda yang merebut titel juara dunia, tak lantas membuatnya puas. Ia lelah. Duduk di atas tunggangnya, memulai balapan, melahap lap demi lap yang kemudian membawanya menuju garis finish.

Orang-orang akan menyambutnya di parc fermé, tempat berkumpul para tim juara yang telah menunggunya. Mereka akan menyorak bangga untuk kemenangan yang telah diraihnya. Kemudian naik ke atas podium, merayakan kemenangannya dengan hujan sampanye dan diakhiri dengan wawancara. Selalu begitu dan berulang-ulang.

Setiap akhir pekan pemandangan seperti ini sudah biasa baginya. Balapan demi balapan harus ia ikuti setelah menandatangi kontrak dengan Repsol Honda, pabrikan yang menaunginya. Jauh di lubuk hatinya ada ketakutan yang sering mengerubungi. Ia mempertaruhkan nyawanya setiap memacu kuda besinya dengan kecepatan di atas 200km/h. Baca lebih lanjut

Mini FF : Ridiculous Girlfriend

cove2r

Laura masuk ke gedung apartemennya. Sembari berjalan gadis itu mengambil ponsel dari tas tangannya dan membuka aplikasi Twitter. Ia ingin melihat perkembangan apa yang sedang terjadi setelah sekian lama tidak menyentuh akun media sosialnya itu. Namun, ada yang menarik perhatiannya. Twitter laki-laki itu.

Laura lantas mengklik tautan yang di-tweet oleh laki-laki itu. Tak butuh waktu lama, gambar di depannya sukses membuat Laura membatu di tempat. Napasnya tercekat, dan tangan refleks menutup mulutnya yang hampir mengeluarkan pekikan kaget. Layar ponselnya menampilkan beberapa foto Marc yang sedang syuting membuat perutnya mulas. Salah satunya adalah foto Marc sedang tertidur. Laura semakin kesulitan bernapas melihat foto lainnya yang menampilkan tubuh setengah telanjang Marc, menampakkan dada bidangnya dengan otot-otot yang mencuat sempurna. Demi Tuhan, maskulinitas Marc hampir membunuhnya.

Astaga! Gadis itu merasa sesak luar biasa. Kenapa manusia itu diciptakan begitu memesona sih? Bodohnya lagi, baru kali ini Laura mengakui ketampanan kekasihnya sendiri. Well, selama hampir 2 tahun berpacaran, Laura tidak terlalu memperhatikan ketampanan Marc. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini gadis itu menyadari Marc memiliki kadar ketampanan yang berlebihan. Ini untuk kesekian kalinya sejak beberapa minggu terakhir ia mengalami kejut jantung akibat foto laki-laki itu. Dan kali ini ia mengalami puncak yang paling parah. Baca lebih lanjut

Mini FF : Someday You Will Know

Warning : Ini hanya fiktif belaka. Jadi, nikmati saja dan jangan mempercayai apa yang terjadi di dalamnya. 😉 Happy reading

Anak itu mulai beranjak remaja, begitulah hal yang terlintas di benak Julia Marquez. Matanya yang memandang dari dalam jendela rumah mengarah ke seorang anak laki-laki yang sedang bermain bola kaki bersama adiknya di halaman rumah. Julia memijit keningnya pelan. Dia harus melakukannya, sesuai tradisi keluarga Marquez—tradisi penduduk Cervera, lebih tepatnya.

Ya, Julia harus melakukannya, seperti halnya yang pernah dilakukan Ramon—ayah Julia—padanya saat dia beranjak remaja.

Walaupun dia yakin ini pasti akan menyulitkan.

Napas berat kembali ia hembuskan.

***

“Tidak! Aku tidak mau!” seru anak laki-laki itu dengan lantang. Tubuhnya mundur ke belakang dan wajahnya memperlihatkan ekspresi cemberut. Raut keras kepala begitu tampak di wajah khas Spaniard-nya.

“Aku tidak memintamu untuk menjawab ya atau tidak. Kau harus mau dan kau harus melakukannya!” Julia berkata dengan tegas. Namun, hal itu tidak membuat anak laki-laki di hadapannya takut. Baca lebih lanjut

Mini FF : This Hand Is Only Yours

cove2r

Terinspirasi dari sakit hati yang aku alami gara-gara liat foto Marc dan Lara Lopez. Itu asli bikin galau berhari-hari. So, happy reading 😉

Malam kian larut. Gadis itu belum beranjak juga. Entah sudah berapa lama Laura mendekam di perpustakaan ini seraya mengerjakan tugas kuliahnya. Tapi, alih-alih mengerjakannya, ia malah sibuk bergelut dengan hati dan pikirannya. Perasaannya benar-benar kacau.

Suasana perpustakaan ini sepi, hanya tersisa beberapa mahasiswa yang sibuk mengerjakan tugas kuliah mereka. Memang perpustakaan ini bisa dibilang buka 24 jam. Bahkan pada saat menjelang ujian pun, banyak mahasiswa yang kerajinan sampai rela bermalam di sini.

Laura menghela napas berat. Gadis itu tak berniat pulang ke apartemennya. Ia ingin mengasingkan diri dan di sinilah tempat yang ia rasa tepat untuk menenangkan diri.

Sudah 2 hari dan cowok itu belum menghubunginya juga. Laura berusaha keras mengabaikannya. Tapi semakin ia lakukan itu semakin pulalah pikirannya melayang pada cowok itu. Atau mungkin lebih tepatnya pikirannya melayang pada foto-foto itu. Laura cemburu. Tentu saja. Siapa yang tidak cemburu melihat kekasihmu sendiri menyentuh tubuh gadis lain—gadis yang jauh lebih cantik dan menarik dibandingkan dirimu, walaupun itu untuk hal komersial.

Matanya kemudian memanas dan bulir-bulir sudah berkumpul di sudutnya. Laura menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menggigit bibir bawahnya keras-keras dan mendongakkan kepalanya ke atas. Baca lebih lanjut

Mini FF : Heartbeat

cove2r

Tubuh Laura terguncang, lebih tepatnya ranjang yang ia tiduri berguncang lumayan keras. Gadis itu sontak terbangun dengan perasaan panik. Astaga, ada apa ini? batinnya dalam hati.

Bukan hanya ranjangnya terguncang, tapi seluruh barang-barang di dalam kamarnya juga bergerak-gerak dan bahkan berjatuhan ke lantai.

PRANG!!!

Tubuh Laura tersentak kaget bersamaan dengan vas bunga di lemari kecil sebelah tempat tidurnya jatuh dan pecah. Lantas gadis itu langsung bangkit berdiri dengan hati-hati dan matanya menatap lekat ke pecahan kaca itu. Jantungnya berdetak tak keruan. Ketakutan mulai melanda di dalam dirinya dengan sangat cepat. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Baca lebih lanjut

Mini FF : Last Breath

cove2r

Edisi galau dan ff iseng-iseng. Happy reading…. Yang mau komen, silakan komen. Yang gak mau, aku gak maksa. 

“Mommy, kira-kira Daddy kapan pulang?” tanya Miguel, setengah terjaga.

“Mommy tidak tahu, Sayang,” jawab Laura pelan. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Mommy…,” panggil Miguel sekali lagi. Kali ini suaranya sangat pelan

“Iya, Sayang?” sahut Laura, ketakutan semakin bertambah. Ia belum siap. Bisakah ia menghentikan waktu sebentar saja? Ia ingin menikmati waktu lebih lama bersama Miguel. Laura ingin terus bisa memeluk Miguel seperti ini.

“Aku sayang padamu,” lirih Miguel. Air mata Laura jatuh membasahi pipinya. Dikecupnya dahi Miguel lama. Laura pun terisak.

“Aku juga sangat sayang padamu, Nak,” balas Laura perih. Laura mulai merasakan rasa dingin menjalar di kulitnya. Lebih tepatnya tubuh Miguel perlahan-lahan berubah dingin.

“Maukah kau mengabulkan permintaan terakhirku, Mommy?” Laura mengangguk. Miguel kemudian melanjutkan. “Apabila Daddy sudah pulang, tolong bilang padanya, aku sayang sekali padanya. Dan sampaikan permintaan maafku karena tidak bisa menemuinya saat dia pulang nanti,” ucap Miguel, lemah.

“Mommy akan sampaikan padanya, Nak. Mommy janji,” kata Laura dengan suara tercekat. Air matanya kini membanjiri wajahnya.

“Mommy, aku mengantuk.” Miguel menguap lagi, kemudian memejamkan matanya. 

Laura mengusap rambut Miguel lembut. Hatinya teriris mendengar kata-kata Miguel barusan. Ia sangat takut. Tapi, di saat bersamaan ia juga tidak ingin melihat Miguel menahan penderitaan lebih lama lagi. “Tidurlah, Nak,” suruh Laura, tersedu.

“Terima kasih, Mommy. Selamat malam,” gumam Miguel pelan dan seketika rasa dingin itu menjalar ke seluruh tubuh mungilnya. Tidak ada nadi yang berdenyut lagi dan tidak ada napas yang berhembus lagi. Miguel sudah pergi. Laura mendekap tubuh Miguel erat-erat dan menangis keras menyuarakan kehilangannya.

***