Marc & Laura : Turbulence

Alex :

Kakak ipar, aku sedang berada di Madrid. Boleh aku mampir ke tempatmu? Aku sangat rindu padamu.

Peluk dan cium dari adik ipar tercinta.

Laura tersenyum lemah saat membaca pesan singkat yang dikirimkan Alex. Jika dia sedang dalam keadaan baik-baik saja, dia akan terkekeh dan langsung menelepon adik ‘mantan’ kekasihnya itu.

Tidak ada  yang tahu. Bahkan kedua orangtuanya dan orangtua Marc, bahwa hubungan mereka telah berakhir sejak dua bulan yang lalu. Marc menjadi pihak yang mengambil keputusan. Alasannya sederhana dan Laura dipaksa untuk mau tidak mau menerima permintaan Marc tersebut.

Alibi you deserve better. Kesibukan Marc yang semakin padat membuat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersama.

Cukup berat pada awalnya. Tapi Laura sadar menangis berkepanjangan tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Dia butuh hidup dan kembali menata hatinya yang telah dipatahkan berkeping-keping oleh pebalap kebanggaan warga Spanyol itu.

Laura hendak membalas saat pemberitahuan boarding dari operator maskapai yang akan dia naiki bergema di penjuru bandara. Dia memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, memperbaiki letak syal tipis melingkar di lehernya, kemudian menggeret kopor kabin menuju gerbang keberangkatan.

Begini lebih baik. Laura tidak siap berinteraksi dengan teman ataupun keluarga dari ‘mantan’ kekasihnya. Karena satu kata mengenai laki-laki itu terucap dari mulut mereka, sakitnya bisa sampai ke ulu hati. Laura tidak ingin luka yang masih menganga lebar tersiram air garam.

Suara riuh rendah dari orang-orang baru tiba dan akan berpergian mengiringi langkah gamang Laura. Kesibukan di bandara Madrid-Barajas seperti tiada berakhir.

Laura menarik napas dalam-dalam. Matanya tertuju lurus pada nomor gerbang keberangkatan pesawatnya. Dua pramugari berdiri menyambut di depan pintu. Tersenyum ke arah seluruh penumpang yang menaiki maskapainya.

Dia menyerahkan kertas boarding ke salah seorang dari mereka. Tersenyum balik ke arah wanita bersanggul rambut tinggi itu saat kertas boardingnya dikembalikan.

Diam-diam, dalam hati Laura berdoa semoga kepergiannya dari Madrid untuk sementara waktu dapat mengobati dirinya.

Karena… seseorang pernah berkata padanya, cara paling ampuh untuk menyembuhkan segala jenis luka adalah waktu. Dan Laura ingin membuktikan perkataan orang tersebut.

Seluruh kursi kabin hampir terisi penuh. Laura mendapat kursi tepat di samping jendela di tengah badan pesawat.

Sementara pesawat akan lepas landas dalam hitungan menit, suara-suara orang berbincang mulai merendah. Kursi di sebelahnya masih kosong. Hingga pada detik sebelum pilot mengumumkan pesawat akan meluncur, seseorang dengan aroma mint bercampur laut musim panas yang familier mengambil tempat di sebelahnya.

Laura refleks menoleh. Tubuhnya membeku seketika. Untuk sesaat waktu seolah berhenti. Ini tidak dalam perencanaan. Dia tidak berharap hal ini terjadi padanya. Karena orang yang sedang dia tatap balik menatapnya dengan ekspresi terkejut yang sama.

***

Dia tidak tahu bagaimana memulai percakapan. Dia tidak ahli berbasa-basi dan bukan tipikal yang akan berinisiatif memulai konversasi.

Dua bulan sudah berlalu dan mereka kembali dipertemukan. Dalam pesawat yang sama dan dalam perjalanan yang akan membawa mereka ke tujuan yang sama. Ironisnya, mereka bahkan duduk di deretan kursi yang sama. Berdampingan.

Permainan takdir macam apa ini?

Laura tidak berani mengalihkan pandangan dari jendela. Dia takut, sekali saja dia menoleh ke arah laki-laki itu, selamanya dia akan terperangkap. Duduk di samping dan mambaui aroma laki-laki itu sudah membuat dadanya terasa sesak. Membuatnya hampir gila. Dia tidak butuh tambahan lain untuk membuat hidupnya semakin kacau.

Marc membisu. Tak ada kata dapat terucap dari bibirnya. Mendapati gadis itu di sini merupakan sebuah kejutan. Dia tidak bertanya bagaimana takdir menjebaknya dan tidak juga tertawa akan kebetulan yang menimpanya.

Dia terkejut. Sungguh. Dua bulan lamanya sejak terakhir kali dia melihat gadis itu. Gadis yang terakhir kali dia lihat berderai air mata tanpa bisa dia cegah. Gadis yang dia minta untuk menjaga diri sendiri karena dia tidak bisa lagi berada di sisinya. Dan gadis yang dia minta untuk tidak berharap lagi padanya.

Laura tidak terlihat lebih baik dalam ingatan terakhir Marc. Kulit gadis itu pucat. Pipinya lebih tirus dan cekungan gelap menghiasi kedua bawah matanya.

Meski wajah Laura membelakanginya, perubahan-perubahan itu tetap jelas tertangkap Marc.

Marc mengembuskan napas tertahan. Dia merasakan nyeri kembali menyerang ulu hatinya. Mengetahui gadis yang pernah mengisi relung hatinya terluka parah membuat Marc merasa menjadi manusia paling bodoh sedunia.

Marc berdusta jika mengatakan tidak pernah mencari tahu kabar gadis itu. Dia mencari dan hasilnya tidak membuatnya merasa lebih baik. Dia menyakiti gadis itu. Sangat besar dan tidak tahu bagaimana cara mengobatinya.

“Sayangi dirimu. Itu adalah satu-satunya cara untuk tetap bertahan. Aku tidak bilang ini akan mudah. Tidak bagimu dan tidak bagiku. Tapi kita harus melakukannya.”

Marc teringat kalimat yang dia ucapkan pada Laura. Kalimat egois yang membuat mereka sama-sama terluka.

“Aku yakin, cepat atau lambat kita akan membiasakan diri. Karena aku percaya waktu dapat mengobati segala jenis luka. Termasuk luka yang saat ini kau derita.”

Marc mengatup rahang rapat. Kedua tangannya mengepal di sandaran lengan kursi. Berbagai emosi tergurat di wajahnya. Sedih, kecewa, sakit hati, dan sayang. Semuanya berpadu membentuk gelombang elektromagnetik berdaya besar.

Dan gadis yang berada di sampingnya adalah medan magnetnya.

Pengendalian diri yang sedari tadi dia coba bangun hampir runtuh. Dia tidak bisa menahan lebih lama lagi.

Untuk sesaat, dia berharap waktu berhenti pada detik ini juga.

***

Perjalanan menyisakan satu setengah jam lagi saat pesawat yang akan membawa mereka ke Paris tiba-tiba mengalami turbulensi. Beberapa penumpang terkesiap dan panik. Lampu indikator keselamatan dinyalakan. Suara pilot dari pengeras suara menyerukan untuk kembali ke kursi masing-masing dan memasang sabuk pengaman. Lampu di kabin seketika dipadamkan.

Laura termasuk salah satu penumpang yang dilanda panik. Badan pesawat terguncang hebat. Deru mesin terdengar lebih kencang. Seolah benda itu berada tepat di bawah kakinya.

Laura memejamkan mata rapat-rapat. Jeritan mulai merebak dari penumpang barisan depan. Jantung Laura bertalu semakin kencang. Punggungnya bersandar tegang. Bayangan-bayangan buruk mulai menghantui pikirannya.

“Ssttt…, tidak apa-apa.”

Tubuh Laura membeku untuk kedua kalinya. Aroma mint bercampur laut pada musim panas menusuk indra penciumannya membabi buta. Tangan kanannya direngkuh, erat. Terbungkus dalam keliman jari yang kuat dan kokoh.

Ada perasaan lega tanpa sadar dia rasakan. Laura yakin saat ini wajah Marc berada sangat dekat dengannya. Dia tidak berani membuka mata. Bohong jika dia mengatakan tidak merindukan momen seintim ini dengan Marc. Laura takut saat dia membuka mata, semua akan mendadak sirna. Takut perasaan hangat yang saat ini dia rasakan semu.

Jari-jari besar dan panjang itu meremas lembut punggung telapak tangannya. Ujung ibu jari Marc mengusap halus permukaan kulit Laura yang dilalui pembuluh darah.

“Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja,” bisik Marc sekali lagi. Sapuan napasnya mengenai wajah Laura.

Laura tidak bereaksi. Matanya tetap terpejam. Tubuhnya masih tegang. Butiran keringat perlahan menampakkan diri di pelipisnya.

Belum ada tanda-tanda pesawat akan kembali stabil. Guncangannya masih statis. Tangisan anak-anak mulai terdengar. Ada yang karena takut, dan ada yang karena pusing.

Kabin pesawat dalam keadaan temaram. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu indikator keselamatan.

“Laura, tenang. Kita pasti akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku.” Marc merangkul bahu ringkih Laura.

Laura mengernyit. Bukan karena sentuhan, melainkan perkataan laki-laki itu.

Percaya padamu? Kau bilang aku harus percaya padamu?

Batin Laura berteriak marah. Terakhir Marc memintanya untuk percaya, hal itu berujung pada kehancurannya sendiri. Omong kosong tentang waktu yang akan menyembuhkan luka dan nasihat agar lebih menyayangi diri sendiri untuk menyelamatkan diri dari kehancuran. Semua itu omong kosong! Bullshit! Yang terjadi justru dia terpuruk selama dua bulan ini.

Kita pasti akan baik-baik saja.

TIDAK!

Kita tidak akan pernah baik-baik saja. Setidaknya aku tidak akan pernah merasa baik-baik saja!

Laura ingin meneriakkan kata-kata itu di depan muka Marc. Dia ingin Marc tahu betapa sakit dan sulitnya dia bertahan selama ini. Dia ingin Marc sadar bahwa perbuatan laki-laki itu telah melukainya sangat dalam. Bahkan dia sangsi luka itu dapat diobati.

Laura terisak pelan. Dia kalah. Amarah menjilatnya seperti lidah api. Dia tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan.

“Laura…,” panggil Marc dengan nada khawatir.

“Singkirkan tanganmu. Kumohon,” isaknya tertahan. Kerongkongannya tercekat.

“Laura….” Marc semakin mempererat rangkulan dan genggamannya.

Please…,” bisiknya parau dengan sisa kekuatan terakhir yang dimiliki.

Laura membuka mata. Pandangannya tertuju lurus pada Marc. Tanpa kata dan tanpa isyarat, kedua mata almond itu menyimpan ribuan luka.

Marc terpukul. Tak ada kata yang dapat mewakili perasaannya saat ini. Lidahnya kelu. Dia tidak tahu bagaimana harus memperbaiki keadaan.

Dua bulan yang lalu, dia meminta gadis itu untuk tidak menunggunya. Dia dengan bodohnya meminta gadis itu pergi, mencari orang yang memiliki waktu jauh lebih banyak dan tidak sering bepergian. Dia tanpa memikirkan apa akibat dari perbuataannya, berkata pada gadis itu untuk membiasakan diri tanpa kehadiran satu sama lain. Dia yang menyesali tindakannya, menyarankan gadis itu untuk lebih sayang pada diri sendiri agar tidak hancur dan berkata padanya bahwa waktu dapat mengobati segalanya.

Marc menyesal. Dia sungguh-sungguh menyesal. Seandainya waktu dapat diulang, dia akan membayar dengan apa pun untuk kembali ke hari itu dan menarik seluruh ucapannya.

Mereka, dua anak manusia yang sama-sama terluka. Duduk berdampingan dalam diam. Yang saling mencinta dalam kebisuan menyiksa. Seandainya waktu dapat diputar kembali, seharusnya hari ini tidak terjadi. []

 

Seharusnya sudah selesai. Tapi ece tidak rela boooo’. Cerita mereka belum usai. Semoga belum ya 😅

Hai, sugar! Makasih udah sempetin waktu buat baca cerita singkat ini. Sudah lama banget vakum dan sempet labil mau berhenti nulis. Aku mau ngucapin terima kasih buat pembaca yang masih setia nunggu cerita yang kutulis. Di postingan sebelumnya, aku sempat ngumumin kalo bakal pindah ke dunia oranye alias Wattpad. Dan sepertinya bakal kubatalkan. Karena I love my home so much dan lebih nyaman nulis di sini. 

Anyway, kutunggu komen dari kalian. Sekali lagi thank you for reading and see you when you get a notif! 😊😊😊

12 thoughts on “Marc & Laura : Turbulence

  1. Uceett dah aku kangen bangat sama ff nya kakak dan pas tau ada cerita baru akhirnya baca juga deh hehehe 🙂 as always aku suka sama cerita kakak, apalagi cara penyampaiannya itu, lho, yg bikin baper hehe. Btw, berharap bgt ada lanjutan dr crta ini sih krn ini gantung dan bikin kepo wkwk. Jangan berhenti buat terus nulis ya, kak. Semangat kak!

    Suka

  2. Hai rita ✌ ya ampuun kok nanggung bgt cerita? Bikin penasaran dek hihihi 😄 marquesistas juga ternyata nih *sama dong* ditunggu kelanjutannya yaak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s