Cerpen : Habibie & Ainun (Versi Saya)

PS : Ini untuk tugas Sastra Indonesia disekolahku yang ditulis dengan versiku sendiri. Happy reading 😉

Tepat jam sepuluh pagi lima puluh tahun yang lalu
Dengan ucapan Bismilaahirrrahmaanirrahiim saya melangkah
Bertemu yang dilahirkan untuk saya dan saya untuk Ainun
Alunan budaya Jawa bernafaskan Islam, menjadikan kita suami isteri
Melalui pasang surut kehidupan, penuh dengan kenangan manis
Membangun Keluarga Sejahtera, Damai, dan Tenteram, Keluarga Sakinah
Tepat jam sepuluh pagi lima puluh tahun kemudian di Taman Makam Pahlawan
Setelah membacakan Tahlil bersama mereka yang menyayangimu
Saya panjatkan Do’a untukmu, selalu dalam lindunganNYA dan bimbinganNYA
Bersyukur pada Allah SWT yang telah melindungi dan mengilhami kita
Mengatasi tantangan badai kehidupan berlayar ke akhirat dalam dimensi apa saja
Sekarang sudah 50 tahun berlalu, selalu menyatu dan tetap menyatu sampai akhirat.

-Habibie-

Kita hanya berpisah sementara, bukan?

Entah bagaimana ketika aku menyadari ada sesuatu yang hilang dariku sejak kau pergi. Aku menangis, tentu saja. Memangnya siapa yang tidak menangis ketika kehilangan sesuatu yang sangat berharga di hidupmu. Kembalilah, aku mohon. Sebentar saja, itu sudah cukup.

Hari-hari yang kulalui selalu sukses membuatku semakin putus asa dan menangis. Ya, menangis adalah kegiatan favoritku sekarang setiap aku membayangkan wajahmu yang cantik, matamu yang selalu berbinar-binar ketika menatapku dan senyum yang selalu terpampang ceria dibibir mungilmu.

Namun, ketika perpisahan itu tidak terelakkan, aku hanya bisa mengatakan, aku tidak tahu apakah aku bisa hidup dengan benar tanpamu disisiku. Aku tidak tahu apakah aku bisa menarik napas dengan benar seperti yang kulakukan saat kau masih ada bersamaku.

Kembalilah, sebentar saja. Selalu itu yang ingin kuteriak setiap air mata ini jatuh dipelupuk mataku. Aku mencoba membersihkannya, menyekanya berkali-kali sepanjang waktu, tapi tetap saja sulit untukku berhenti menangis. Apapun dan bagaimana pun setiap aku memulai sesuatu yang benar, tanpamu tetap saja aku menangis. Aku merindukanmu, sungguh. Baca lebih lanjut

Cerpen : Beautiful In My Eyes

Menikahlah denganku. Dan selamanya hanya aku yang akan melihatmu dari sudut pandangku, Hanna. Bersediakah kau?

Seorang gadis duduk di bingkai jendela kamarnya yang membawanya menghadap langsung ke arah danau buatan yang berada di depan rumahnya. Wajahnya tampak begitu muram dan sedih.

Pria itu telah kembali. Begitulah pikirannya terus bergelung. Pria itu. Entah sudah berapa ribu kali ia terus menyuarakan nama pria itu dikepalanya.

Alex, pria yang dicintainya kini sudah kembali setelah menjalani wajib militernya selama 2 tahun. Pria yang bahkan sudah melamarnya menjadi istrinya. Tapi, apa lamaran Alex pada saat sebelum pria itu menjalani wajib militernya dan bahkan sebelum kecelakaan yang menimpa dirinya itu masih berlaku? Gadis itu yakin, pandangan Alex kepadanya pasti sudah berubah.

Kejadian itu telah mengubah dunianya. Kebahagiaan yang dulunya sempat dirasakan, kini hancur berkeping-keping membentuk sesuatu yang bahkan tak berharga lagi dimata. Gadis itu tidak tahu dosa apa yang telah diperbuatnya hingga Tuhan, menurutnya begitu kejam memberinya cobaan yang begitu berat.

Dulu, ia begitu cantik. Dengan bentuk wajah yang oval memanjang kebawah yang dihiasi sepasang matanya yang begitu indah, hidung mancung dan bibir mungil yang setiap kali tersenyum akan memunculkan sepasang lesung pipi. Namun, semua itu hilang begitu saja karena kecelakaan besar yang menimpanya.

Ia bukan Hanna yang dulu lagi. Ia bukan Hanna yang dulunya cantik. Tapi, ia adalah Hanna yang sekarang mempunyai wajah seperti monster. Bahkan ia sendiri takut melihat wajahnya yang tampak begitu jelek di cermin. Baca lebih lanjut

Cerpen : Rumahku Adalah Rumahmu…

 Jangan Rusak Alam Kita :

Rumahku Adalah Rumahmu…

Karya : Rita

Deru mesin berputar terdengar di dalam sana. Seperti biasa mungkin, pikirku dalam hati. Tapi, setiap mendengar deruan gerigi itu merongrong, menembus kerasnya batang-batang berimbunan di dalam sana membuatku sedih. Ada rasa tercabik, seolah ada ribuan jarum yang berlomba-lomba mengepung tubuhku, lalu satu per satu menusuk ke ulu hatiku.

 Tepat 2 bulan yang lalu, aktivitas penebangan itu terus berlanjut seolah tak terbendung hingga sekarang. Jujur, aku sangat marah kepada mereka semua. Pohon-pohon itu tidak seharusnya diambil!

Percikan air mengenai wajahku saat piring-piring yang baru saja kusabuni itu mulai kubilas satu per satu. Tanganku memang bekerja, tapi pikiranku melayang ke dalam hutan yang dulunya lebat dan hijau, tapi berubah menjadi tanah gersang yang menyisakan debu-debu kering.

Aku, Nafael Pratama, bocah berumur 11 tahun yang hidup dibawah garis kemiskinan bersama seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya. Aku tidak pernah menyesal lahir di keluarga ini, malahan sangat bersyukur walaupun hidup serba berkekurangan.

Setelah selesai mencuci, aku pun masuk ke dalam rumah dan… suara itu masih saja terdengar.

Dulu, sebelum tempat itu dijadikan daerah penebangan liar, disanalah tempatku bermain bersama kelinci-kelinci yang berlari bebas di atas rumput lembab, tempatku menikmati terpaan angin sejuk dan ditemani nyanyian indah burung-burung yang berterbangan di udara. Disanalah rumah keduaku, tempatku menghabiskan masa-masa indahku. Tapi, sekarang apa? Apa yang telah mereka lakukan terhadap rumahku? Bahkan sekarang ibu melarangku mendekat ke sana. Katanya daerah itu tidak boleh lagi dimasuki dan sangat berbahaya. Aku rindu suasana hutan. Hm, mungkin aku harus pergi ke sana. Ya, inilah waktunya mumpung ibu belum pulang.

Jarum panjang di dinding pondok reotku menunjukan angka 5. Sepertinya tidak masalah jika aku pergi sebentar. Lagipula semua pekerjaan rumah sudah kuselesaikan sesuai pesan ibu sebelum berangkat ke kebun tadi.

Aku pun meninggalkan pondok yang beratapkan helai-helaian daun nipah yang di bingkai sedemikian rupa. Dengan beralaskan sendal yang berbeda warna, yang diberikan oleh ibu ketika pulang dari kebun sebulan yang lalu. Tak apalah, daripada tidak ada alas kaki sama sekali. Walaupun jelek yang penting masih bisa dipakai. Baca lebih lanjut

Cerpen : Flying Piano

Author : Rima Angelina

Jika kamu percaya pada dirimu sendiri, sekecil apapun harapan itu, Tuhan pasti mewujudkannya. Aku percaya mimpi bisa jadi kenyataan, karena itu yang selama ini kulakukan, berharap dan berdoa setiap aku menutup mataku. Jika kau ingin harapan itu terkabulkan. Dengan usaha, tentu saja!

Hidup tidak pernah adil untuk semua orang, itu benar. Takdir selalu berjalan beriringan dengan mengalirnya darah kalian. Hidupku jauh dari garis kesempurnaan. Aku bukan ratu, aku bukan putri, dan aku bukan orang yang spesial. Aku hanya gadis usia 11 tahun yang hidup di rumah seorang diri. Tidak ada orang tua, saudara, dan siapapun. Mungkin kalian berfikir ini menyedihkan. But… easy going, guys! aku selalu berfikir dewasa dan sedikit memaksa otak dan mentalku untuk memahami segala garis takdir yang tak dapat kuubah.

Karna takdir permanen.

***

Aku merasa hidupku sudah cukup sempurna dengan segala kekuranganku. Aku selalu melakukan aktifitas yang menurutku baik, aku senang membuat orang-orang tersenyum melihat penampilanku mengamen di sudut kota setiap harinya, lebih tepatnya bernyanyi. Walau aku tidak sekolah setidaknya aku masih bisa melakukan hal-hal yang berguna. Baca lebih lanjut

Akhir Cerita

Terbelenggu karena rasa

Kau dan aku : akhir ceritaku

Malam itu terasa beda dirumah ini, ramai dan berisik. Mata gadis itu mencari-cari sesuatu diantara kerumunan orang. Ada sesuatu yang aneh disini, seolah ada tatapan membunuh dari seseorang yang diarahkan kepadanya. Gadis itu waspada, belati yang sudah diasahnya tadi sudah terselip rapi disepatunya.

Sejenak ia lepaskan kewaspadaannya, gadis itu merasa sedikit haus lalu kakinya membawa tubuhnya ke meja hidangan khususnya bagian minuman untuk para tamu undangan. Ia mengambil gelas berisi air merah dan meneguknya hingga habis. Baru saja ia hendak berbalik, seseorang menepuk pundaknya. Gadis itu berwaspada.

Ia berbalik, melihat siapa yang menepuknya. Seorang pria tampan dengan tatapan dingin. Pria itu menatapnya lekat dan intens.

“Kau Lea Alegory?!” Kalimatnya yang dikeluarkannya bukan pertanyaan melainkan pernyataan.

“Kenapa?” balas gadis itu sinis. Ia tahu pria ini bukan orang baik.

“Kau masih ingat denganku?” tanyanya, tatapan matanya seolah menilai dan gadis itu tidak tahu apa yang dilihat darinya..

“Tentu saja. Kau adalah pembunuh atau… lebih pantasnya kau disebut psikopat,” jawabnya dingin. Ya, pria ini adalah psikopat yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Lea tidak takut, malah heran melihatnya disini?

“Tepat, Sayang. Kau tidak takut aku berada didekatmu?” Lea mulai mendengar nada mengancam dari pria itu. Ia tidak takut.

“Tidak. Aku rasa tidak ada yang perlu kutakutkan, karena kau akan membunuhku sebentar lagi. Aku sudah siap untuk itu,” Setiap kata yang diucapkan Lea terdengar menyakinkan. Ia siap untuk mati.

“Aku tidak akan membunuhmu, Sayang. Kau terlalu berharga untuk mati berdarah. Aku membuat penawaran untukmu,” kata pria itu tersenyum jahat. Tatapan matanya berubah menjadi tatapan sensual. Lea tahu apa arti tatapan itu.

“Kau mau membayarku? Jangan harap kau bisa mendapatkannya,” desis Lea sinis.

“Baiklah. Itu pilihanmu. Ada pesan terakhir? Kalau begitu saatnya mengucapkan selamat tinggal, Sayang,” Pria itu menusuk Lea dengan pisau beracunnya yang setajam mata elang. Seketika jerit orang-orang membahana ke seluruh penjuru rumah melihat kejadian itu.

“Oke, Cut!!!” teriak sang Sutradara. “Bagus sekali akting kalian,” pujinya seraya tersenyum puas.

Tepuk tangan pun berdatang dari seluruh kru film.

End

Sepasang Sayap di Langit Tertinggi

merpati

Tuhan menciptakan manusia yang dilengkapi dengan sebuah sayap dibelakang tubuhnya. Laki-laki disebelah kanan dan perempuan disebelah kiri. Lalu, jika ingin terbang, menyongsong birunya langit, bukankah mereka harus bersatu, menyatukan dua sayap itu menjadi satu hingga membentuk sepasang sayap?

Aku mempunyai sayap, yang tercipta 20 tahun yang lalu. Saat tercipta sayapku lemah, butuh perlindungan dan aku mendapatkannya dari penciptaku. Penciptaku merawatku, menjagaku hari demi hari hingga sayapku menjadi kuat dan kokoh, bahkan sekarang aku bisa mencari sayap kananku.

Aku mencarinya, terus mencari. Sampai suatu hari aku menemukan sayap itu. Kami bersatu membentuk sepasang dan mencoba untuk terbang. Gagal. Bahkan ini pun belum sampai setengah langit tertinggi. Dia bukan sayap kananku. Aku terjatuh. Tubuhku membentur tanah keras, rasanya sakit sekali dan aku sadar sayapku terluka.

Butuh berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk menyembuhkan luka sayapku. Hingga suatu hari, aku kembali menemukan sayap lagi. Kami pun bersatu kembali dan mencoba terbang ke langit. Kami berhasil. Aku pikir mungkin inilah sayap kananku, sayap yang kutunggu-tunggu. Namun, yang namanya berjuang pasti ada rintangan yang harus dilewati.

Kami terbang, semakin tinggi, tinggi dan hampir mencapai langit tertinggi. Namun, ada badai disana dan kami harus melewatinya agar bisa mencapai langit itu. Kami pun menerobos badai itu, berputar-putar mengikuti arahnya sampai aku merasa ada celah disayap kami. Perlahan-lahan, entahlah siapa yang memulainya sayap kami terlepas hingga terseret angin. Hal terakhir yang kullihat sebelum aku jatuh membentur tanah keras untuk kedua kalinya, pemilik sayap kananku hilang ditelan angin. Baca lebih lanjut

The Second Loving You

577814_495456053825214_1514063181_n

I’m always in second place Loving you
From rainy days
To cloudy days
To sunny days when you escape the past
I’m always in second place waiting for you
From yesterday
To today
Right up to forever, I believe I love you most

Hujan lebat, untuk kesekian kalinya di bulan Maret ini. Aku menatap rintik-rintiknya dari kaca bening jendela kamar yang kutempati hampir 5 tahun. Jari-jariku perlahan menyentuh kaca berembun itu, menggoreskan sebuah nama disana.

Lama aku duduk diam memandangi nama itu dengan pikiran yang berkecambuk. Diantara semua pikiran itu, hanya satu yang paling menyita fokusku. Gadis itu. Gadis yang setiap hari aku rindukan.

Terlihat bodoh memang duduk termenung memikirkan dan merindukan gadis yang bahkan tidak kuketahui apakah dia juga melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan.

Kenangan yang dulu pernah kulewatkan bersamanya, tepatnya selalu di hari hujan. Dia menyukai bagaimana ketika air itu jatuh dari langit. Gadis itu sangat mengagumi hujan yang awalnya adalah hal yang paling kubenci. Tapi, gadis itu membuatku menyukainya, menyukai apa yang disukainya.

Saat itu hujan turun yang disertai petir di bulan Maret tepat 5 tahun yang lalu. Gadis itu memintaku menjemputnya dihalte depan kampusnya. Kubawa payung kecil hitam-kuning dan turun dari mobil. Gadis itu ada disana, meringkuk kedinginan sendiri. Aku langsung berlari ke arahnya, memeluknya dan mengusap punggung lembut.

“Maaf, aku terlalu lama menjemputmu,” ucapku ditelinganya.

“Aku takut,” katanya, dan aku merasakan tubuhnya yang gemetar karena menangis.

Sial! Aku merutuki diriku sendiri. Gadis itu menangis dan itu karena aku. Perasaan bersalah langsung mengerubungi dadaku.

Lambat laun tubuhnya mulai rileks dan hujan juga sudah berhenti. Aku mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke mobilku. Dia langsung tertidur begitu saja. Wajahnya yang sedikit pucat tampak damai. Walaupun gadis ini menyukai hujan, tapi ia sangat membenci petir, dan aku juga membencinya karena membuat gadis ini takut.

Aku tersenyum getir mengingatnya. Setiap detik yang kulewati bersama akan selalu kuingat, kusimpan dalam memoriku.

Ada satu hari dimana hari terakhir kami berkencan dia memberitahuku dengan halus. Gadis itu ingin memberitahuku, tepatnya minta maaf dan mencoba mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Aku tahu itu maksudnya.

Aku ingin menyebutnya ‘gadisku’ agar tidak ada yang bisa menguasainya kecuali aku. Gadisku, terdengar begitu posesif, bukan? Sayangnya, takdir tidak memihak kepadaku. Gadis itu telah bertunangan dengan orang lain.

Sampai hari dimana sebuah surat undangan yang dihias cantik pita kuning datang ke rumahku. Undangan pernikahan. Aku tersenyum miris dan tiba-tiba saja aku merasa udara seolah menipis.

Yang kedua, begitulah aku mencintainya. Aku hanya bagian kedua dengan kenyataan ada pria yang juga mencintainya dan gadis itu juga mencintai pria itu. Rasanya untuk menarik napas saja terasa begitu sakit. Padahal itu adalah hal yang paling sederhana yang bisa kulakukan tapi begitu sulit untuk dilakukan.

Jika ditanya mengapa aku mencintainya hingga seperti orang tolol, jawabannya banyak. Banyak hal yang bisa kucintai dalam dirinya dan tentu aku mencintainya tanpa syarat dengan alasan aku tidak bisa hidup dengan benar tanpa gadis itu.

Aku mencintainya, sejak awal aku menatap matanya, seolah ada magnet pribadi yang menarikku untuk mendekat agar bisa mengenalnya lebih dalam. Aku menuruti hatiku dengan mengenalnya dan saat itulah aku tahu dia gadis yang bisa menyempurnakan cela kekuranganku.

Aku mencintainya, saat kencan pertama yang kami lakukan, aku semakin mengenal pribadinya dan membuatku kembali jatuh cinta padanya.

Aku mencintainya, saat aku tahu dia sudah memiliki seorang kekasih dan akan bertunangan dalam waktu dekat. Disaat itulah aku baru menyadari bahwa aku menjadi bagian keduanya.

Aku mencintainya, bahkan disaat dia telah bertunangan dan akan melangsungkan pernikahan. Betapa bodohnya aku kalau dipikir-pikir. Mencintai gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri orang.

Aku mencintainya, setelah dia menjadi istri orang lain. Sampai kapan aku tidak mencintainya?

Air mataku kembali jatuh untuk kesekian kalinya mengingat wajah cantiknya, mata indahnya dan bibir mungilnya. Aku ingin melemparkan diriku ke masa lalu lagi. Kembali mengenal dia untuk pertama kalinya. Kini hanya selembar foto usang yang bisa kupandangi untuk memuaskan rasa rinduku pada gadis itu.

Suara gemerisik dari palang-palang besi pintu yang berdiri kokoh itu terbuka. Dua orang yang memakai seragam serba putih masuk dan tersenyum ramah kepadaku. Dengan paniknya aku berjalan mundur dan meringkuk ketakutan di pojok kamar sambil menatap waspada ke arah mereka.

Foto usang yang kupegang tadi kugenggam erat-erat, mereka pasti mau mengambilnya dariku.

“PERGI!!! KALIAN MAU APA, HAH??? PERGI!!! PERGI DARI SINI!!! AKU TIDAK GILA!!!” teriakku pada mereka. Aku tidak gila. Ya, aku tidak gila, merekalah yang gila karena menahanku disini.

—***—

Flash Fiction : Api di Rumah Seberangku

Malam itu semua tampak biasa-biasa saja. Tak ada firasat apapun. Aku duduk di tangga bawah pintu rumahku, menunggu Mama yang tengah memasak di dapur.

Percikan minyak yang terkena air terdengar begitu menyenangkan. Aku memperhatikan Mama dengan saksama. Beliau sedang memasak sayur kangkung untuk makan malam.

Mataku kemudian menatap ke depan yang langsung mengarah keluar rumah, tepat di titik rumah seberangku. Tanganku masih memegang boneka Barbie, mainan khas anak seusiaku.

Dirumah itu ada yang janggal. Pantulan lampu teplok di dinding rumah itu seperti tengah membakar isi dalamnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Mataku terus memperhatikan rumah, hingga tak lama setelah itu aku melihat seorang bocah kecil dengan tubuh penuh kobaran api berlari keluar dari pintu rumah itu dan langsung menuju belakang rumahnya.

Tubuhku gemetaran. Karena takut? Entahlah aku tidak tahu. Dan saat itu juga aku berteriak histeris.

“Mama…!!! Yoga dibakar api!”

Terus berulang-ulang hingga Mama menghampiriku dan meraihku kedalam pelukannya. Aku menangis sekuatnya. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.

Keesokan harinya saat aku bangun dari tidurku, dan kulihat dari tempatku duduk semalam, banyak orang yang mengunjungi rumah itu. Ada apa? Aku bertanya-tanya. Lalu, aku mendapatkan jawabannya ketika kulihat sebuah pick-up yang mengangkut peti mati.

***

PS : Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang pernah terjadi 12 tahun yang lalu. Dan akulah yang menjadi penonton saat tragedi itu berlangsung.

Hurts : Is It Wrong If I love You Too Much?

Karya : Rita Huang

Sebegitu mengerikankah jika kau sendiri yang tersiksa dengan berakhirnya sebuah hubungan percintaan? Terperosok dan sendirian di kelamnya sakit hati yang menderamu. Aku merasakannya, sangat menyakitkan.

Bulan ke berapa sekarang? Entahlah. Aku ingat betul saat kami bertemu tepatnya di bulan Oktober. Sebuah pertemuan yang tidak sengaja saat pria itu masuk dan membeli secangkir kopi di café-ku. Sedikit cream dan jangan terlalu manis, itulah kata-kata yang di ucapkannya. Aku menyuruh Doni, pembuat kopi yang bertugas di dapur untuk membuatkan kopinya. Pria itu langsung berlalu saat kopi sudah di tangannya.

Keesokan harinya dia datang kembali dan membeli secangkir kopi lagi. Tetap sama, sedikit cream dan jangan terlalu manis. Kali ini aku yang membuatkan kopi itu karena hari ini Doni tidak masuk kerja.

Pria itu tidak langsung pulang setelah mendapatkan kopinya, melainkan duduk di salah satu kursi di café-ku. Hari itu pelanggan tidak terlalu banyak karena hujan. Aku memutuskan untuk duduk juga di salah satu kursi di sana sambil menatap hujan yang jatuh membasahi kaca café ini. Aku selalu menyukai hujan, menyukai bagaimana airnya jatuh bebas sesuka hati mereka.

“Kau yang membuat kopi ini?” Aku mendongak dan mendapati pria itu duduk di hadapanku. Astaga! Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya.

“Ya. Kenapa? Apa kopinya terlalu manis atau cream-nya yang terlalu banyak?” tanyaku.

“Tidak. Semuanya pas dan aku sangat menyukai kopinya. Kau tahu? Kopi ini sangat berbeda dengan kemarin yang aku minum.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Aku tidak merasakan kehangatan saat kuminum kopi kemarin. Dan aku baru bisa merasakannya saat aku minum kopi buatanmu. Sangat berbeda,” jawabnya tersenyum. Aku juga tersenyum mendengarnya.

“Dan kau mau tahu kenapa rasanya berbeda?” lanjutnya. Aku menunggu jawabannya. “Itu karena kau membuatnya dengan hati. Membuatnya dengan penuh senyuman. Sedangkan yang kemarin, aku yakin si pembuatnya membuat kopi itu hanya sebatas kewajibannya karena dia bekerja di sini.” Baca lebih lanjut