Sebuah Pilihan

Hola, sugar!!! Apa kabar semuanya??? Finally aku nge-blog lagi setelah sekian lama vakum. This would be my first post since 1997 *eh* bercanda cong.

Buat yang masih rajin berkunjung, I just wanna say thank you banget. Buat yang nyasar, welcome ya…

Well, mungkin buat teman-teman yang sering tanya kapan post ff lagi, I have no idea when exactly I’ll post again. Terkadang ya begitulah hidup. Dua tahun belakangan ini banyak banget yang berubah. Aku bukan lagi siswi SMA yang berprestasi atau mahasiswi perhotelan yang dulu pernah curhat salah jurusan. Dan fokusku juga gak lagi di dunia tulis menulis.

But, I am not giving up yet. That’s what I want to say. So, di sela-sela kesibukanku sebagai seorang hotelier, aku masih sering kok nulis-nulis kecil di note hp-ku. Walaupun gak dipublish.

Well, sebenernya di postingan ini aku mau curhat. Perasaan dari zaman putih abu-abu kerjaan aku curhat mulu ya. Hihihi…. Biar ah. Ini kan rumahku. Suka-suka aku dong. *sotoy*

Oke, kembali ke laptop. Balik ke topik 2 tahun belakangan ini, banyak pencapaian yang sudah terjadi dalam hidupku. Walaupun gak sesuai dengan rencanaku. Ya apa mau dikata kan? Manusia boleh berencana tapi tetap Tuhan yang menentukan.

Dulu rencananya setelah lulus dari sekolah perhotelan mau kuliah lagi. Mau ambil sesuatu yang berhubungan dengan politik, sejarah, sastra atau bahasa asing. Tapi realita berkata lain.

Well, here I am now… hotelier baru gede. Gak terasa sudah 2 tahun aku terjun ke dunia ini. Aku bersyukur walaupun kadang-kadang masih sering ngeluh. Hospitality changed me so much. Yang dulunya introvert banget sekarang jadi extrovert. Yang dulunya pemalu dan pendiam sekarang jadi talk active. Ya mau gak mau sih. Misiku yang dulu mau belajar bersosialisasi lewat jalur ini ternyata sukses besar. Di dunia ini, aku dituntut untuk selalu tersenyum, ceria, friendly, empati, dan willing to help. Apa pun itu. Mau suasana hati sekacau apa pun, kita tetap harus tersenyum dan selesaikan sampai tuntas. You have to finish what you have started. IMMEDIATELY.

Di dunia ini aku banyak belajar cara bersabar, mengalah, berempati kepada orang lain, dan berpikir tangkas. As a frontliner, kita adalah gadah terdepan di hotel. Citra sebuah hotel itu terbentuk dari bagaimana kita memperlakukan mereka. So, gak mudahlah jadi hotelier. Yang kita jual mungkin bukan jasa, but service. Ya, service. Kita jadi pelayan. Kita digaji dari melayani orang. Tapi bukan pelayan plus-plus ya. Kita kerja ada SOP-nya. Jadi gak sembarang kerja.

Belajar mengalah. Yes, buang egomu jauh-jauh. Mungkin waktu SMA atau kuliah, we always wanna be no. 1. Kita belajar mati-matian untuk selalu menjadi yang terbaik di kelas. Nilai anjlok dikit aja atau teman kita dapat nilai lebih tinggi dari kita, langsung kecewa berat. In hospitality, we don’t work as an individual, but as a team. That’s what we call as a teamwork. Ya walaupun kadang-kadang ada ‘sleg’ dikit sama rekan kita. Tapi tanpa teamwork, susah mak berdikari. Salah komunikasi dikit aja bisa berakibat fatal. Bisa kena f*ck-f*ck sama tamu atau diamuk sama atasan. Makanya poin ini menjadi yang terpenting. Komunikasi.

Perasaan tadi aku bilang mau curhat deh. Kok ini jadinya ke mana-mana. Maklumin yee. Namanya juga ababil. Jadi kadang sering gak efisien kalau mau cerita.

Tapi aku emang mau curhat masalah kerjaan ding. Soalnya hidupku emang gak jauh-jauh dari hotel yang menjadi tempatku mengais rezeki saat ini.

Well, terkadang aku iri sih dengan teman sebayaku. I mean dunia mereka. Aku sering merasa duniaku berbeda dengan mereka dan aku iri. Simply jealous.

Aku 19 tahun dan sudah bekerja. Pendidikan cuma D-1. Mereka yang 19 tahun, mungkin sedang berusaha menyelesaikan S-1. Aku gak iri dengan gelar yang akan mereka dapatkan. Tapi aku iri dengan proses yang mereka jalani. They make friends. Truly make friends. Berteman dengan yang sebaya. I do too actually. But, dunia kami udah beda. Aku sudah gak lagi berteman dengan orang sebayaku.

Aku tahu ini pilihanku sendiri. Mungkin dalam pikiran kalian pasti berpikir siapa suruh aku pilih cepat-cepat kerja, siapa suruh gak mau lanjut kuliah lagi, salah sendir pilih bekerja cepat sebagai jalan hidupmu.

I tried… actually to search university after finnishing my training. Bahkan sampai hari ini pun aku masih nyari. Tapi benar kata orang, semakin banyak ‘yang didapat’ semakin banyak pula keinginan-keinginan lain yang minta dipenuhi.

Aku mau kerja, aku mau kuliah, aku mau traveling, aku mau punya ini, aku mau punya itu, banyak yang aku mau dan gak semuanya bisa diwujudkan sekaligus. Semuanya butuh proses dan sekarang aku mulai cicil satu per satu.

Pendidikan emang penting. Tapi setelah kupikir-pikir, kalo sekolah ujung-ujungnya pasti nyari duit juga. Sekarang udah bisa nyari duit. Gak minta lagi ke orangtua. Bahkan sekarang tiap bulan ngasih ke orangtua. Bisa nabung, bisa beli apa yang kumau, dan bisa jalan-jalan dengan hasil jerih payahku. Kalau aku resign dan kuliah lagi, kesempatanku untuk dapat duit mungkin masih terbuka. Tapi gak bakalan sebesar yang kudapatkan sekarang. Kalau kuliah lagi dan mulai lagi dari awal, aku mungkin bakal jadi yang tertua di kelas. Tapi pikiran ini langsung kutampik dengan lebih baik terlambat daripada nantinya menyesal karena tidak pernah sama sekali.

Banyak sekali pikiran-pikiran tentang planning ke depan. Aku jadi serakah dalam berkeinginan walaupun tau hanya beberapa yang bisa kuwujudkan. Aku hanya bisa berharap apa pun yang sudah Tuhan rancangkan untukku, aku bisa menjalankannya dengan baik dan berharap yang terbaik. Dan gak lupa untuk tetap bersyukur. Ini PR banget sih walaupun kelihatannya simpel.

Sekian dari cuap-cuap absurd hari ini.

Rita

One thought on “Sebuah Pilihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s