The Unspoken Mind : Who am I?

Remember me when the best of me has gone…

Aku merasa asing. Dengan penampilan, tingkah laku, cara bertutur kata, dan semuanya. Gak tau kenapa aku selalu merasa aku berhenti bertumbuh di usia 17 tahun, tepat pada saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku tidak tau apa yang terjadi. Ingatanku menurun. Cara berpikirku berubah. Dan ambisius yang selalu menjadi kebanggaanku hilang.

Aku gak kenal siapa diriku yang sekarang. Seolah 3 tahun setelah kelulusan sekolah, aku tak ubahnya benda mati yang hilang arah dibawa angin. Aku menulis ini bukan berarti aku kurang bersyukur. Hanya saja aku merasa apa yang aku jalani sekarang murni bukan karena keinginanku. Aku kangen sama diriku yang dulu. Aku kangen sama kehidupan dan rutinitasku yang dulu. Aku belum siap beranjak. Dunia orang dewasa terlalu kejam dan aku belum siap menerima segala beban hidup yang bikin aku stres dan tertekan.

Mungkin bisa dibilang dunia orang dewasa penuh dengan kepalsuan. Orang-orang tak segan menusuk dari belakang untuk mempertahankan eksistensinya, memperbaiki reputasinya, dan mereka tak segan menikam orang-orang gak bersalah untuk dijadikan kambing hitam.

Aku jujur gak siap jadi orang dewasa. Aku gak bisa pura-pura tutup mata dan tutup telinga padahal aku tau apa yang mereka perbuat. Tapi bisa apa aku? Siapa aku?

Jangankan mau membela, untuk melindungi diri sendiri aja aku belum bisa. Aku tidak ngerti bagaimana cara orang-orang itu bertahan dengan segala keburukan mereka, menjatuhkan orang demi membentengi diri sendiri, menuduh, bermuka dua, dan bertingkah tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan.

Mereka jahat. Dan aku takut akan menjadi seperti mereka. Karena dunia dewasa membutuhkan segala kepura-puraan untuk mempertahankan eksistensi dan aku takut aku mulai terjerumus ke dalam dunia gila itu. Aku tidak mau. Aku tidak siap. Aku harus bagaimana?

Ingin rasanya hati ini menjerit. Tapi hari tidak akan berhenti berganti. Jam tidak akan berhenti berdetak. Dan umurku tidak akan berhenti bertambah. Namun, pikiranku buntu. Aku tidak tau kepada siapa harus berpegang. Perlahan aku mulai merasa moralku mulai tergerus dan bibit-bibit kegelapan mulai menggerogoti otakku. Aku tidak tau sampai kapan aku bisa mempertahankan diri. []

One thought on “The Unspoken Mind : Who am I?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s