Hotelier Baru Gede Punya Cerita #1

Hai… hai… AKU KEMBALI!!! Adakah yang kangen sama Mommy Miguel yang super unyu-unyu ini??? *minta ditabok readers* Hihihi…

Setelah… *cek kalender dulu* hampir 5 bulan tidak posting apa pun di rumah tercintah saya ini, kini daku kembali dengan sebuah serial kehidupan. *eaaakkk*

Eh, serius lho. Seperti yang telah diketahui oleh beberapa teman, saat ini aku berprofesi sebagai seorang hotelier di salah satu resort bintang lima yang berada di Lagoi, Bintan. Mungkin nama Lagoi apalagi Bintan cukup asing di telinga kalian. But, tidak ada salahnya kan searching di google? Hitung-hitung sebagai pengenalan terhadap wilayah di negara sendiri gitu lho. Masa mau kalah sama turis mancanegara? Mereka yang bukan warga Indonesia saja lebih mengenal negara kita daripada kita sendiri sebagai warga Indonesia. Malu ding! Mau diletak ke mana wajah cantik dan ganteng kita ini???

Oke, back to the topic. Jadi asal mula kenapa aku bisa menjadi seorang hotelier itu tidak terlepas dari pendidikan yang aku tempuh. Bagi teman-teman yang sudah pernah membaca posting aku yang berjudul Suka, Duka, Manis, dan Pahitnya Kehidupan Anak Training di Hotel pasti sudah tahu dong background pendidikanku? Ya walaupun aku lulus tanpa gelar, setidaknya sekarang aku sudah bisa mencari duit dari hasil keringatku sendiri.

Bagi orang awam, kata hotel mungkin selalu identik dengan sesuatu yang berbau negatif. Ngaku deh. Iya, kan? Tenang. Bukan kalian saja kok yang punya pemikiran seperti itu. I have been there. Serius. Dulu, aku juga pernah punya pemikiran seperti itu sebelum benar-benar mengenal dan paham dengan dunia perhotelan. Hotel yang identik dengan free-sex-lah, narkotika, kehidupan glamor, dan sebagainya.

Faktanya… kami ini adalah babu. Eitt, kami babu tapi bukan sembarangan babu lho. Kami babu tapi babu elit. Mana ada babu yang pakai uniform keceh? Hehehe…. Bercanda.

Okay, let me clarify it. Kehidupan di hotel tidak seperti itu kok. Mungkin karena perspektif orang kita yang selalu beranggapan bahwa hotel itu identik dengan tempat yang biasa dipakai wanita dan pria untuk melakukan perzinaan makanya ikut melahirkan mindset kalau orang, apalagi cewek-cewek yang bekerja di hotel sudah pasti bukan cewek baik-baik karena bisa di-booking kapan saja dan di mana saja. Pokoknya sudah rusaklah.

Untuk kasus seperti ini mungkin balik lagi ke pribadi masing-masing. Tidak menutup kemungkinan hal tersebut bisa terjadi. Yang mau aku tekankan di sini mungkin ada beberapa. Tapi tidak semuanya seperti itu. Masing-masing dari kita pasti punya tujuan bekerja. Dan tujuanku pure untuk mencari uang, selain agar bisa mengurangi beban ekonomi keluarga, juga untuk bersenang-senang. Kapan lagi coba bisa beli barang-barang kesukaan tanpa harus minta duit ke orangtua? Aku bangga mennn sudah bisa menghasilkan duit sendiri dan lepas dari bayang-bayang orangtua. Tapi ingat ya, harus tahu batas juga. Jangan sampai jatuh ke dunia hedonisme. Kiamat untuk kalian kalau ini sudah terjadi. Tertobatlah sebelum terlambat. Hahaha….

Aku bersyukur, meski terlahir di keluarga yang terkadang masih kolot pemikirannya (read : sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi), orangtuaku mendukung 100% profesi aku. Mereka tidak pernah judge ataupun berpikiran yang macam-macam tentang pekerjaan yang aku jalani saat ini. Wong pekerjaan aku ini mulia kok. Eiii, aku serius lho. Jangan dikira guru saja yang punya pekerjaan mulia. Kami juga euy yang berprofesi sebagai hotelier. Mau bukti? Nih, kukasih. Sebenarnya ini contoh kecil yang pernah dikasih dosenku sih sewaktu kuliah.

Sebagai hotelier, yang kita jual adalah service. Ingat, bukan service plus-plus ya. Kita tidak pernah kenal apalagi melihat mereka sebelumnya. Kita bekerja bahkan sebelum mereka datang. Kita persiapkan kamar mereka, kita persiapkan makanan mereka, kita sambut dengan senyuman saat mereka datang, kita siap sedia membantu ketika diperlukan, kita bahkan memastikan keselamatan mereka selama mereka menginap di hotel. Siapa mereka? Mereka adalah tamu. Apakah kami pernah bertemu atau kenal sebelumnya?

Never. Kecuali mungkin beberapa repeater guest/tamu-tamu yang sudah beberapa berkunjung.

Apakah kita ikhlas melayani mereka? HARUS. Itu suatu keharusan. Mereka manusia. Mereka juga pasti punya perasaan dong. Gimana sih rasanya saat kita dilayani orang yang gak ikhlas melayani kita? Gak enak, kan?

Kurang baik apa lagi coba kami-kami ini sebagai hotelier? Gak mudah euy. Harus senyum meski hati dilanda galau gara-gara habis diputusin cowok. Padahal dalam hati nangis kejer. Eh, ini kok curcol? Hahaha…. Enggak ding! Ini cuma bercanda. Biar ada hiburan gitu.

Jadi Rita sudah berapa lama berprofesi sebagai hotelier?

Terhitung sejak 12 Agustus, tepat satu bulan setelah aku selesai jadi anak training. Just for you information, hotel tempat aku bekerja saat ini adalah tempat yang sama aku melakukan on the job training.

I praise to the Lord banget karena tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama kayak yang aku dapatkan sekarang. Meski dipermudah jalanku, tapi proses aku menjadi staf itu tidak semudah yang teman-teman bayangkan. Ada hasil ada usaha. Begitulah kira-kira pepatah yang dapat mewakili perasaan aku.

Tidak mudah. Aku yang harus menyelesaikan kuliah sambil kerja, menempuh perjalanan dari rumah ke Lagoi untuk interview. And you know what? Perjalanan dari rumahku ke Lagoi itu memakan waktu kita-kira 1,5 – 2 jam. Bolak-balik saja sudah 4 jam. And guess what? Waktu itu aku naik ojek. Aku gak bohong. Aku beneran naik ojek meskipun tukang ojeknya itu teman papaku sendiri. Gak ada orang rumah yang antar karena masing-masing punya kesibukan. Belum lagi proses menunggu untuk dipanggil untuk di-interview. Itu asli bikin galau berhari-hari. Mungkin teman-teman beranggap jalanku sudah dipermudah karena sudah ditawari kerja sebelum selesai training. Aku memang bersyukur untuk yang satu ini. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. Banyak proses yang harus aku lewati sebelum benar-benar resmi menjadi staf. And finally aku berhasil melewati semua proses tersebut.

Welcome to the hospitality, Rita!!!

Senang bercampur deg-deg-an. Aku masih ingat 2 atau 3 hari sebelum aku ditelepon oleh orang HRD dan dikabari kalau sudah bisa mulai kerja mulai hari Senin, 10 Agustus 2015. Dan tahu bagaimana reaksi aku? I was so scared. I have never been so that scared than that time. It was like someone’s gonna kill me and the hell was waiting for me.

I know this sounds lebay. Serius lho. Aku ketakutan banget. Waktu itu aku malah sempat kepikiran untuk mengundurkan diri karena tidak siap kerja. Padahal waktu itu posisinya aku udah tanda tangan surat perjanjian kerja. Sempat kena omel juga sama mamaku. Begini kata-kata beliau, “Sudah tahu belum siap kerja, ngapain juga ngajuin lamaran. Sekarang udah terlanjur. Ya sudahlah, dijalani aja dulu. Yakin pasti bisa. Rita bisa.”

Itu pertama kalinya aku terharu banget dengar mamaku sebegitu support-nya ke aku secara terang-terangan. Kalau waktu itu mamaku tak menyemangati aku, yakin deh aku gak bakalan berani muncul di hotel itu.

Aku sempat hubungi bagian HRD-nya dan minta start day kerjaku diundur 2 atau 3 hari karena alasan ada beberapa dokumen yang belum siap. Aku sempat ngaku sih kalau aku belum siap kerja dan orang HRD ini baik banget mau kasih aku waktu beberapa hari untuk mempersiapkan mental.

And when the day has come.

Tanggal 11 Agustus, aku disuruh ke hotel untuk ambil kunci dormitory sekalian uniform kerja. Ceritanya sudah pedelah. Sudah tidak takut-takut lagi.

Berangkat dari rumah dengan bekal doa orangtua, langit waktu itu masih terang benderang. Aku diantar Bele, anak asisten rumah tangga yang kerja di rumah aku. Bawa ransel yang berisi baju dan beberapa dokumen, kami langsung cabut ke Lagoi. Karena tak punya feeling bakal hujan dan badai, kami tak bawa jas hujan. Eh, tetiba di tengah jalan hujan lebat. Berteduhlah kami di pondok-pondok reyot.

Pokoknya perjuangan bangetlah. Sambil mengejar waktu biar tidak telat dari waktu yang sudah disepakati, eh, akhirnya telat juga. Aku sempat hubungi orang HRD-nya sih dan jelaskan kondisi di perjalanan.

Sampai di Lagoi, kondisi kami berdua mengenaskan. Basah kuyup. Ransel yang aku bawa pun ikutan basah. Untung dokumen penting tidak ikutan basah. Soalnya aku lapis pakai map plastik.

Serah terima kunci dorm selesai dan sudah dikasih tahu juga schedule kerja untuk besok, pergilah kami ke dorm. Sempat nyari-nyari dan pakai acara salah masuk kamar juga, finally aku ketemu kamar tercintaku.

Dan drama kehidupan pun dimulai.

Waktu aku buka pintu kamar itu, duniaku seakan runtuh. Air mata aku langsung turun men. Dalam hati aku berseru, “what kind of the hell is this?!”

Sumpah, gak bisa aku deskripsikan perasaan aku waktu itu. Hopeless, sedih, marah, dan kecewa. Pokoknya bercampur aduk. Aku langsung telepon mamaku dan bilang mau pulang. Aku tidak suka sama sekali dengan dorm-ku. Aku mau pulang.

But, the life must go on, right? I tried to survive. I was alone at that time. Nobody could help me. So I was thinking if I couldn’t survive for myself, who would survive for me? None. So I had to do it. I had to survive. I haven’t even started anything yet. I didn’t want to be a loser at all. Because I remembered I was born to be a winner. And as the time passed, I already could enjoy my life. So no worry, be happy, and don’t grogi. Hahahaha…. That was one of my favorite quote from my lecture.

I think it is enough for the first part. See you in the second part. I hope you guys enjoy reading this post and also can get the moral value from my experience. Thank you for reading anyway.

2 thoughts on “Hotelier Baru Gede Punya Cerita #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s