Hola Bali!!!

Definisi mandiri untuk tiap orang pasti berbeda.

Hola, Bali!!! Setelah satu setengah bulan, akhirnya kita bisa berteman. Well, I’m officially moving out from Bintan dan di sinilah aku sekarang. Di kota yang sebenarnya gak bisa disebut kota-kota amat, tapi gak bisa juga disebut pedesaan.

So, how does it feel like?

Amazing, awesome, fun, and… tired. To be honest, aku sebenarnya gak tau apa yang aku cari di sini. Aku suka petualangan. Aku suka jalan. Dan aku suka hal-hal yang baru.

Banyak dari rekan kerjaku tanya kenapa sih pindahnya jauh amat ke Bali? Di Batam (read : I told them I was coming from Batam. Bintan gak terdeteksi di peta Indonesia. Jadi kurang femesss) kan banyak hotel dan dekat pula dengan Singapura. Jawabanku beragam. Aku bilang aku addicted sama sawah. Aku suka lihat padi dan di kampung halamanku gak ada. Sebenarnya ini gak bisa jadi pemicu utama kenapa aku pindah. Aku suka canang sari, bau dupa, dan everything about Balinese culture. But now everything seems so so to me.

I’m enjoying my life for sure. But sometimes getting tired and sick of everything. I am good learner if I can say so. I am good when listening to other people talking, when they show me how to do that and this. But I am not good enough when doing something in such a long time.

Tempat pelarian?

Aku gak bisa bilang Bali adalah tempat pelarian. Karena di sini aku juga belajar untuk survive. Belajar untuk menerima hal-hal baru yang terkadang masih berat.

Jika ditanya ada gak keinginan untuk pulang ke Bintan? Saat ini, I say NO. Bukan berarti aku tidak sayang sama keluargaku ya. 2 tahun sebelumnya, aku udah tinggal terpisah dari orangtua walaupun masih pulang seminggu sekali atau dua minggu sekali ke rumah, sebenarnya aku sudah belajar untuk mandiri. Walaupun sebenarnya aku belum bisa lepas dari bayang-bayang mereka. Kalau ditanya aku kangen rumah gak selama di Bali, sebenarnya biasa aja sih. The only person yang aku kangenin itu ponakanku. Yang tiap ditelepon selalu panggil, “Tatatata… kuku ukumm…”

Kalau ada yang ngikutin instagramku dan pernah lihat postingan baby lucu, itulah ponakanku. So sad actually. But, I am quite happy that way I am now.

Pernah gak menyesal setelah pindah ke Bali? Ninggalin Bintan, keluarga, dan teman-teman. Gak sih ya. Aku gak pernah nyesal pindah ke Bali. Bali has a lot of things yang gak bisa aku dapatkan di Bintan. And the most important is Bali has taught me how to love and treat myself as an individual who never thinks this would be so much important. I live comfortely in Bintan. I have a lot of close friends to share and to talk. Eat together, hang-out, and spending some time after work.

Aku bukan tipikal orang yang berani melakukan apa-apa tanpa orang lain. Aku takut kesendirian. Kikuk di tempat ramai dan salah tingkah sendiri kalau dilihatin orang-orang. Tapi setelah satu setengah bulan di sini, I am enjoying myself. I love to walk alone, sit alone, and eat alone. Aku lebih nyaman sekarang walaupun masih belajar untuk lebih berani ke mana-mana atau ngapain-ngapain sendirian. Because when you go to the a new place, you have to do everything only by yourself. Even when you want to eat, you have to put an effort. Karena gak semua orang nyaman sama kesendirian. Dulu, duduk nunggu bus aja kadang berasa lama amat. Apalagi kalau lagi ramai. Itu omaigat banget dah. Kayak nunggu bang toyib yang gak pulang-pulang. Kalau sekarang mah, I can do everything to kill the time. If I want to talk to someone around me, I will talk. If I don’t, I just keep myself quiet and make myself relax.

So, how is life now?

Tough and I’m still struggle  Ada satu kelemahanku sebenarnya. Aku bukan penyampai informasi yang handal. Apa yang disampaikan orang sama aku kadang beda dengan apa yang aku sampaikan ke orang lain. I mean, aku ngerti dengan apa yang disampaikan, tapi caraku menyampaikan ke orang lain itu beda dengan apa yang disampaikan orang pertama sama aku. Jadi kadang suka miss communication. Jadi aku benar-benar butuh kertas dan pulpen setiap saat kalau menerima informasi yang penting. Takut ada yang missed. I am really bad at this.

So that’s why aku jarang mengutarakan apa yang aku pikirkan karena aku takut bakal jadi perusak di tim kerja ataupun di hubungan pertemanan. I’m not a good speaker and there is no way to fix it. So keep quiet is the only way to make myself safe and talk when it urgently needed.

Jika dibilang kepindahan aku ke sini adalah pencarian jati diri, bisa jadi ya. But, I don’t expect much. Aku cuma mau menikmati hidup, bahagia, dan belajar untuk menjadi orang yang lebih kuat dan berani. Harapanku sederhana, semoga ke depannya aku bisa lebih memaknai hidup, tidak menyakiti orang lain, dan belajar untuk menerima segala hal. Dalam keadaan terburuk sekalipun.

Kesimpulannya, pindah ke Bali mungkin bisa dibilang pelarian. Tapi tidak semua pelarian itu jelek. Pelarian dalam definisiku adalah healing. To make yourself feel better, healed, and happy. What a simple life!

 

Kuta, 24/09/2017

Sunday, 02:30AM

 

Rita

Iklan

One thought on “Hola Bali!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s