{Angel Bride} : Come Back, Please… [Mini FF]

Leeteuk mengangkat wajahnya dan matanya langsung terarah ke jam dinding yang sudah menunjukan pukul 00.30. Sudah berapa lama ia bekerja?

Akhir-akhir ini lelaki itu sering menghabiskan waktunya dengan bergelung di lembaran kertas di meja kerjanya. Leeteuk tidak akan berhenti jika ia tidak merasa penat yang menusuk tubuhnya.

Leeteuk bangkit dari kursi kerjanya, kemudian berjalan ke luar ruangannya. Hampir semingguan ini lelaki itu tidak ke kantor. Sebagai gantinya seluruh pekerjaannya ia kerjakan di sini, ruang pribadinya, dirumahnya.

Leeteuk melewati kamarnya yang terbuka lebar. Ia kemudian berhenti di bibir pintu dan menghadap ke dalam sana. Tampak seorang gadis yang sedang sibuk melipat baju dan tidak sadar jika Leeteuk tengah memperhatikan dirinya. Tak lama kemudian, setelah selesai melipat gadis itu pun membalikkan tubuhnya dan pada saat itu jugalah mata mereka bertemu.

Mata Hani masih seperti dulu. Cantik dan indah dengan sepasang bola mata berwarna hitam yang menghiasinya. Tak perlu menunggu lama, Leeteuk akhirnya mendapat senyuman itu, senyum kesukaannya yang menjadi sumber penyemangat dan kekuatan untuk menopang tubuhnya yang lemah.

“Kau merindukanku, Oppa?” tanya Hani seraya menatap Leeteuk penuh cinta. “Tidak usah kau jawab. Aku sudah tahu kau sangat rindu padaku,” lanjut Hani kemudian.

“Ne. Kau benar, Yeobo. Aku sangat merindukanmu,” jawab Leeteuk lirih, tetap berdiri pada posisinya. Jujur, ia ingin sekali menghampiri Hani dan membawanya kedalam pelukannya, mengurung gadis itu selama yang ia bisa. Tapi itu tidak dilakukannya. Leeteuk tetap menahan dirinya untuk tidak menggerakan kakinya. Baca lebih lanjut

Iklan

Akhir Cerita

Terbelenggu karena rasa

Kau dan aku : akhir ceritaku

Malam itu terasa beda dirumah ini, ramai dan berisik. Mata gadis itu mencari-cari sesuatu diantara kerumunan orang. Ada sesuatu yang aneh disini, seolah ada tatapan membunuh dari seseorang yang diarahkan kepadanya. Gadis itu waspada, belati yang sudah diasahnya tadi sudah terselip rapi disepatunya.

Sejenak ia lepaskan kewaspadaannya, gadis itu merasa sedikit haus lalu kakinya membawa tubuhnya ke meja hidangan khususnya bagian minuman untuk para tamu undangan. Ia mengambil gelas berisi air merah dan meneguknya hingga habis. Baru saja ia hendak berbalik, seseorang menepuk pundaknya. Gadis itu berwaspada.

Ia berbalik, melihat siapa yang menepuknya. Seorang pria tampan dengan tatapan dingin. Pria itu menatapnya lekat dan intens.

“Kau Lea Alegory?!” Kalimatnya yang dikeluarkannya bukan pertanyaan melainkan pernyataan.

“Kenapa?” balas gadis itu sinis. Ia tahu pria ini bukan orang baik.

“Kau masih ingat denganku?” tanyanya, tatapan matanya seolah menilai dan gadis itu tidak tahu apa yang dilihat darinya..

“Tentu saja. Kau adalah pembunuh atau… lebih pantasnya kau disebut psikopat,” jawabnya dingin. Ya, pria ini adalah psikopat yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Lea tidak takut, malah heran melihatnya disini?

“Tepat, Sayang. Kau tidak takut aku berada didekatmu?” Lea mulai mendengar nada mengancam dari pria itu. Ia tidak takut.

“Tidak. Aku rasa tidak ada yang perlu kutakutkan, karena kau akan membunuhku sebentar lagi. Aku sudah siap untuk itu,” Setiap kata yang diucapkan Lea terdengar menyakinkan. Ia siap untuk mati.

“Aku tidak akan membunuhmu, Sayang. Kau terlalu berharga untuk mati berdarah. Aku membuat penawaran untukmu,” kata pria itu tersenyum jahat. Tatapan matanya berubah menjadi tatapan sensual. Lea tahu apa arti tatapan itu.

“Kau mau membayarku? Jangan harap kau bisa mendapatkannya,” desis Lea sinis.

“Baiklah. Itu pilihanmu. Ada pesan terakhir? Kalau begitu saatnya mengucapkan selamat tinggal, Sayang,” Pria itu menusuk Lea dengan pisau beracunnya yang setajam mata elang. Seketika jerit orang-orang membahana ke seluruh penjuru rumah melihat kejadian itu.

“Oke, Cut!!!” teriak sang Sutradara. “Bagus sekali akting kalian,” pujinya seraya tersenyum puas.

Tepuk tangan pun berdatang dari seluruh kru film.

End

Flash Fiction : Api di Rumah Seberangku

Malam itu semua tampak biasa-biasa saja. Tak ada firasat apapun. Aku duduk di tangga bawah pintu rumahku, menunggu Mama yang tengah memasak di dapur.

Percikan minyak yang terkena air terdengar begitu menyenangkan. Aku memperhatikan Mama dengan saksama. Beliau sedang memasak sayur kangkung untuk makan malam.

Mataku kemudian menatap ke depan yang langsung mengarah keluar rumah, tepat di titik rumah seberangku. Tanganku masih memegang boneka Barbie, mainan khas anak seusiaku.

Dirumah itu ada yang janggal. Pantulan lampu teplok di dinding rumah itu seperti tengah membakar isi dalamnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Mataku terus memperhatikan rumah, hingga tak lama setelah itu aku melihat seorang bocah kecil dengan tubuh penuh kobaran api berlari keluar dari pintu rumah itu dan langsung menuju belakang rumahnya.

Tubuhku gemetaran. Karena takut? Entahlah aku tidak tahu. Dan saat itu juga aku berteriak histeris.

“Mama…!!! Yoga dibakar api!”

Terus berulang-ulang hingga Mama menghampiriku dan meraihku kedalam pelukannya. Aku menangis sekuatnya. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.

Keesokan harinya saat aku bangun dari tidurku, dan kulihat dari tempatku duduk semalam, banyak orang yang mengunjungi rumah itu. Ada apa? Aku bertanya-tanya. Lalu, aku mendapatkan jawabannya ketika kulihat sebuah pick-up yang mengangkut peti mati.

***

PS : Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang pernah terjadi 12 tahun yang lalu. Dan akulah yang menjadi penonton saat tragedi itu berlangsung.

Kasih Ibu

Kasih Ibu, kepada beta…

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Teringat setiap baris lirik yang sering kunyanyikan dirumah. Ibu siang itu sibuk menjahit baju pesanan para pelanggannya. Kulihat tetes keringat dikeningnya.

“Ibu,” panggilku.

“Iya, Sayang? Kenapa?” sahut ibuku. Senyum hangat tercetak dibibir indahnya. Ibu, sesibuk dan selelah apapun beliau, ia tetap memberiku senyuman itu. Senyum favoritku.

Aku naik kepangkuan ibu. Ibu sedikit heran melihat tingkahku, tapi tetap meraihku. Tetes keringat yang kulihat tadi segera kuhapus dengan telapak tanganku.

“Ibu capek ya?” tanyaku polos.

“Tidak, Sayang. Nanda main sama teman-teman gih! Ibu sedang sibuk,” kata ibu.

Aku menurutinya dan langsung berlari keluar.

Kasih Ibu, kepada beta…

Tak terhingga sepanjang masa

2 baris lirik itu pertama kali kuketahui saat mendengar beberapa pengamen seumuranku menyanyikannya dengan gitar sebagai alat pengiringnya. Saat itu, ibu dan aku baru pulang dari pasar. Kami naik bajaj.

“Ibu… Ibu…,” panggilku.

“Iya, Sayang. Kenapa?” sahut ibu tersenyum kepadaku.

“Mereka itu siapa?” Aku menunjuk ke para pengamen itu.

“Mereka pengamen, Sayang.”

“Aku ingin seperti mereka, Ibu,” kataku.

“Lho? Kenapa?” tanya ibu heran.

“Karena aku ingin bernyanyi setiap hari untuk ibu,”

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Besoknya, aku mendengar lagu ini lagi. Bukan aku yang menyanyikannya, tapi anak-anak dikompleks tempat tinggalku. Aku ingin bernyanyi bersama mereka. Tapi ibu sedang sakit. Kata beliau cuma kelelahan karena kebanyakan menjahit.

Ibu batuk-batuk dan memegang dadanya. Sesekali ibu meringis kesakitan. Napas ibu juga pendek-pendek. Sakit ibu tidak seperti biasanya. Sebenarnya ibu sakit apa sih?

“Ibu, kenapa?” tanyaku.

“Ibu tidak apa-apa, Sayang,” jawab ibu. Muka ibu putih pucat dan aku mulai khawatir.

“Ibu, Nanda panggil dokter ya?”

“Tidak perlu, Sayang. Ibu baik-baik saja kok,”

Sakit ibu semakin parah. Saat aku mengompres kening ibu, rasanya sangat panas. Ibu demam.

Tak lama setelah itu ibu pun tertidur. Keesokkan harinya, ibu belum juga bangun. Mungkin ibu kelelahan, pikirku. Kudekati ibu dan kusentuh tangannya, dingin.

Aku mulai menangis. Ibu tidak akan bangun lagi. Sekarang siapa yang menjadi sang suryaku?

Maafin, Hanna, Mama…

Ibu Tara membaca surat panggilan sekolah yang diantar oleh teman Hanna siang tadi. Betapa syoknya beliau ketika membaca setiap rentetan kata yang tertera disana. Ini bukan surat panggilan yang pertama, tapi sudah yang kesekian kalinya, dan Hanna tidak pernah menyampaikan surat yang harus diberikan kepada ibunya.

“Hanna,” panggil Ibu Tara dimalam itu saat Hanna baru saja pulang.

“Iya, Ma? Ada apa?”

“Ada apa? Kamu masih berani bilang ‘ada apa’? Ini surat apa?” tanya Ibu Tara seraya menunjukan surat panggilan itu.

Hanna terkesiap kaget. “Itu… Itu cuma…”

“Cuma apa, Hanna?” seru Ibu Tara. Beliau marah juga frustasi. Hatinya sakit.

Hanna menunduk.

“Ada apa dengan kamu, Nak? Apa selama ini mama kurang perhatian sama kamu? Apa mama tidak pernah peduli sama kamu? Apa salah mama, Nak, hingga kamu bermasalah dengan sekolah kamu? Nilai-nilai kamu bahkan dibawah rata-rata semua? Apa selama ini mama kurang mengajar kamu? Kenapa, Nak? Kenapa?” Ibu Tara menangis. Sedih dan kecewa. Ibu Tara tidak menyangka anak gadisnya tega membohonginya.

Hanna tahu ia sangat salah. Melihat mamanya menangis membuat Hanna semakin merasa ia bukan anak yang baik. “Maafin, Hanna, Ma. Maafin, Hanna,” kata Hanna menangis. “Maafin, Hanna,” katanya sekali lagi.

Ibu Tara meraih Hanna ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, beliau tahu Hanna punya masalah dan anak itu tidak ingin menceritakannya.

Ibu Tara merengkuh wajah anaknya dengan kedua telapak tangannya. “Mama maafin, Sayang. Mama maafin kamu. Tapi kamu mau cerita sama mama kan kenapa nilai-nilai kamu jadi menurun?”

“Aku lelah, Ma. Aku lelah dan bosan bersekolah,” jawab Hanna jujur.

Mendengar jawaban Hanna membuat Ibu Tara menghela napas. “Hanna, kamu gak boleh bilang seperti itu, Nak. Sekolah itu penting untuk masa depan kamu. Coba bilang sama mama cita-cita Hanna ingin jadi apa?”

“Pramugari,”

“Hanna ingin jadi pramugari? Hanna tahu kan setiap keinginan manusia pasti ada proses untuk mendapatkannya. Kalau Hanna ingin jadi pramugari, Hanna harus belajar, Sayang. Di dunia ini tidak ada yang instant. Hanna mengerti, kan?”

Hanna mengangguk sebagai jawabannya.

“Maafin, Hanna, Ma…,”

Pelangi Senja

Menatapnya dari jauh, seperti dulu. Wajah cantiknya tanpa polesan make-up membuatku kagum. Aku tertawan olehnya. Dia bagaikan matahari yang bisa menghangatkan orang disekitarnya, kecuali aku. Aku merindukannya, tapi dia terlalu nyata untuk kucintai. Aku hanya bayangan semu yang tak tampak, namun aku bisa menghadirkan diriku jika gadis itu bersedia menerimaku.

Namanya Pelangi Senja, lahir disaat senja setelah hujan dan memunculkan pelangi. Makanya ia diberi nama itu. Panggilannya Senja, tapi aku tak berani memanggilnya. Takut jika ia akan membenciku.

Takdir seperti tidak berpihak kepadaku. Malam itu ia mengenakan gaun panjang berwarna putih dan menggerai rambut panjangnya. Dia sangat cantik. Aku melihatnya keluar dari rumah dan diluar sana sudah ada yang menunggunya. Pacarnyakah itu?

Senja masuk kedalam mobil pria yang menunggunya tadi. Hatiku tiba-tiba senduh menatap kepergiannya bersama pria itu.  Aku kalah telak karena terlalu mencintainya hingga sekarang aku menerima hukumannya. Hatiku sakit.

Waktu serasa lambat ketika aku menunggunya pulang. Aku bertekad malam ini juga aku harus menyapanya walaupun jika ia nantinya akan membenciku. Tidak salahkan jika kita mencoba?

Senja pulang tentunya bersama pria tadi. Gadis itu kemudian melangkah masuk ke rumahnya. Hmm… Sepertinya ini momen yang saat pas.

Aku pun keluar dari persembunyianku.

“Senja…,” panggilku lantang. Gadis itu menoleh ke belakang. Matanya membelalak kaget dan mukanya pucat pasi. Bisa kulihat ia menelan ludah karena syok melihat siapa yang memanggilnya.

“Hai…,” balasnya dengan suara yang sedikit bergetar tapi sangat lembut.

“Boleh kita saling mengenal, Senja?”

“Ya,” jawabnya. Astaga Senja tidak takut padaku. Oh, syukurlah. Tiba-tiba saja ia sudah tergeletak di depan teras rumahnya. Kenapa dia?

Pintu rumahnya tiba-tiba terbuka dan keluar seorang wanita paruh baya, ibu Senja. Wajahnya kaget melihat Senja tergeletak didepannya. Namun ia lebih kaget lagi ketika melihatku.

“Po… Po… Pocong….,” ibu Senja teriak ketakutan.

End

Harapan Semu

Aku adalah kata yang kau tulis

Dan kau adalah rasa yang tak mampu kubaca

Hanya sebagai sahabat. Itulah status hubunganku dengan dengan Ladyra saat ini. 2 bulan yang lalu saat dia mengembalikan bukuku dan disaat itu juga aku berkenalan dengannya. Semakin hari hubungan kami semakin dekat dan akhirnya menjadi sahabat. Hari-hari yang kujalani bersamanya, walaupun tidak sesering dia menghabiskan waktunya bersama kekasihnya, tapi aku merasa Ladyra adalah sosok gadis yang memiliki kepribadian unik yang tidak dimiliki oleh gadis lain. Aku tak pernah menyerah untuk terus mendekatinya dan syukur-syukur kalau dia putus sama kekasihnya. Keterlaluan memang tapi jujur aku sangat mengharapkannya.

Namun, harapanku pupus seketika. Hari itu Ladyra memberiku surat undangan pertunangannya. Hatiku seperti disayat sembilu tajam dan saat itu juga aku berharap tidak pernah menghirup udara lagi karena oksigenku sudah dimiliki orang lain.

“Berhentilah mengejar Ladyra, Rio. Percuma saja kau mendekatinya. Ladyra sendiri yang mengatakannya kepadaku bahwa dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu. Dia hanya menganggapmu sebagai sahabat. Jadi simpan saja cintamu untuk gadis lain. Lagi pula, sebentar lagi dia akan bertunangan. Jauhilah dia sebelum kau lebih sakit lagi,” kata salah seorang sahabat Ladyra. Bagus! Itu semakin menyakitiku. Berarti selama ini usaha yang kulakukan, tidak sedikitpun membuatnya merasakan perasaan cintaku untuknya.

Saat itu aku mulai mundur menjauh darinya tapi Ladyra semakin mendekat kepadaku dengan alasan persahabatan. Itu semakin menyiksa batinku dan perih yang kurasakan karena dirinya. Bibirnya tersenyum sumringah bahagia saat bertemu denganku. Dia memunculkan harapan kosong untukku. Lagi. Atau aku yang terlalu bodoh karena terlalu sering berharap.

Dia hanya menulisku sebagai seorang sahabat dikertas dan menyimpan dimemori otaknya agar aku selalu diingatnya. Aku pernah tanya dengannya mengapa menjadikanku sebagai sahabatnya. Tapi jawabannya membuatku ragu, antara keinginan atau hanya permainan. Sulit untuk kubaca perasaannya. Sebaliknya, aku ibarat buku terbuka yang terang-terangan mendekatinya dan secara tak langsung mengungkapkan perasaanku kepadanya, Gadis jatuh cintaku.

Gadis Jatuh Cintaku

Jika kita memang berjodoh,

Maka takdir akan mempersatukan kita….

Pernahkah kau merasakan mencintai seseorang tapi kau mengorbankan perasaanmu sendiri untuk rela disakiti karena api cemburu yang membakarnya? Aku mengalaminya. Gadis yang berdiri beberapa meter didepanku ini adalah gadis yang kutaksir selama 3 tahun. Aku ingin sekali menghampirinya, bicara dengannya dan berkenalan lebih jauh. Tapi aku tak berani melakukannya. Kelewat pengecut memang. Aku punya alasan kuat untuk tidak melakukan hal tersebut. Ia sudah punya kekasih.

Aku sadar posisiku dan tak ada ruang untukku untuk mengenalnya. Satu-satunya hal yang dapat membuatku bertahan mencintainya dalam diam hanya menatap wajahnya dari jauh yang terpisah dengan jarak pemisah yang mustahil untuk dihancurkan.

Gadis itu diibaratkan oksigen hidupku. Saat itu, tidak mencintainya sama dengan tidak menghidup udara bagiku. Aku tidak bisa menarik nafas dengan benar. Tapi hanya melihat senyumannya, semuanya terasa mudah. Hanya sebuah senyuman mampu meredakan sedikit rinduku ketika malam saat aku sedang merindukannya.

Kulihat gadis itu menoleh saat seseorang memanggilnya dari belakang. Raut gembira langsung terpancar saat melihat siapa yang memanggilnya. Dan saat itu juga hatiku seperti tercabik-cabik. Ada perasaan yang tak bisa kujelaskan karena terlalu sakit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Haruskah aku tersiksa begini melihat gadis yang kucintai bahagia bersama orang lain?

Hati kecilku memerintahkan untuk meninggalkan tempat ini dan aku menurutinya. Aku berjalan menuju mobilku yang terparkir rapi dijejeran kendaraan lain diparkiran kampusku. Saat aku hendak membuka pintu mobilku, tiba-tiba saja ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku sontak menoleh dan… kaget melihat siapa yang ada dihadapanku saat ini. Gadis yang kucintai dan yang kunamai dengan Gadis Jatuh Cintaku karena gadis itu akan kucintai sampai mati. Karena gadis itu telah merebut seluruh perhatianku dan membuatku menaruh rasa cinta yang begitu besar terhadapnya.

“Hai…,” sapanya sedikit salah tingkah,”ini buku kamu, kan? Tadi ketinggalan dikantin,” lanjutnya sambil menyodorkan sebuah buku yang cukup tebal.

“Terima kasih,” ucapku seraya mengambil buku tersebut.

“Oh ya, nama aku Ladyra. Nama kamu siapa?” tanya Gadis Jatuh Cintaku lembut.

“Aku Rio,” jawabku sambil tersenyum. Beginikah rasanya jatuh cinta yang sebenarnya?

The End