She is Pregnant My Baby #1 (Modified Version)

Hai semua 😀 Apa kabar? Semoga kalian selalu dalam keadaan baik di mana pun kalian berada. Kali ini penulis mau menyajikan sesuatu lho. Bukan ff baru sih. Tapi ff modifikasi. Kalau sebelumnya ff ini diproteksi karena mengandung unsur dewasa, sekarang ff ini sudah aman untuk konsumsi publik. Tapi tetap perlu bimbingan orangtua ya. Semua yang tertulis di sini murni hanya fiksi semata. Tidak nyata. Hanya kesenangan penulis untuk menuangkan ide yang terlintas di otak saja. Akhir kata, penulis ucapkan selamat membaca. Sekiranya dapat meninggalkan jejak setelah membaca ya 😉 Penulis tidak akan memaksa 😉

Estelle melepas wedges putihnya dan mengendap-endap masuk ke kamarnya yang bertipe deluxe premier saat hari menjelang subuh. Wajahnya terlihat pucat. Ia diliputi perasaan takut setelah melakukan hal yang tak pantas di kamar laki-laki itu.

Aish! Sudahlah, Estelle. Anggap saja tidak ada yang terjadi semalam. Lupakan! Lupakan!

Estelle menggeleng-geleng, membuang jauh-jauh pikiran buruk yang menghinggap di kepalanya.

Sebelum masuk tadi, Estelle sudah merapikan pakaian dan rambutnya. Walaupun tidak serapi saat ia meninggalkan kamar ini, setidaknya penampilannya sekarang tidak membuat mata yang memandang ke arahnya memincing curiga. Namun, satu hal yang tak dapat ia pungkiri adalah rasa nyeri yang masih membekas di daerah selangkangannya.

Estelle berjalan pelan melewati dinding pemisah antara ruang tidur dan ruang duduk. Jantungnya berdetak kencang.

Semoga Adel masih terlelap, doanya dalam hati.

Dan… doa tinggallah doa. Adelaide Alessandra Stoner–kakak perempuan Estelle yang berusia 2 tahun lebih tua darinya–bersedekap dada, masih mengenakan piama tidurnya, duduk di tepi ranjang, dan menatap garang ke arah Estelle. Baca lebih lanjut

Keluarga Marquez Punya Cerita [Bagian 4]

cove2r

Judul : Doa Anak Sholeh

Cerita dari Miguel…

Hai, pembaca Miguel yang unyuk-unyuk, hari ini Miguel mau bagi-bagi cerita lagi lho. Jadi… semalem kan malam minggu tuh. Masa Miguel diusir sama Daddy dan Mommy dari rumah. Jahat banget kan mereka? Demi bikin dedek buat Miguel masa anaknya dibuang ke rumah Grandpa Julia dan Grandma Roser. Miguel kan gak mau. Miguel maunya sama Mommy dan Daddy aja, sekalian lihat proses pembuatan dedek buat Miguel. Eh, Mommy malah melototin mata ke arah Miguel, sedangkan Daddy malah senyam-senyum gak jelas gitu. Hih! Kalo mata Mommy bagus sih gak pa-pa. Lah? Ini… mata gak ada bagus-bagusnya. Masih bagus mata kuntilanak di pohon tetangga sebelah. Nyebelin banget, kan?

Skip!

Aduh, ceman-ceman Miguel. Miguel jadi atut nih. Si Mommy mulai melototin matanya lagi. Padahal kan Miguel cerita apa adanya. Kayaknya jatah Miguel buat bercerita bakal dipotong deh.

Lanjut ke cerita.

Jadi, mau tak mau Miguel nginap di rumah Grandpa dan Grandma. Oh ya, Uncle Alex juga tinggal di sini lho. Miguel punya cerita nih tentang Uncle Alex. Ternyata Uncle Alex ini punya burket alias bubur ketek. Sumpeh, Miguel gak bohong. Kan semalam Miguel tidur sama Uncle Alex. Nah, pas tengah malam, Miguel kebangun gara-gara cium bau asem. Miguel kira Miguel berak di celana. Eh, tau-taunya tuh bau datang dari ketek Uncle Alex. Coba ceman-ceman Miguel bayangkan, itu baunya ampunnnn DJ, busuk pakai banget. Keterlaluan deh pokoknya. Lain kali Miguel ogah banget tidur sama Uncle Alex. Bikin cepat mati kalo dekat-dekat sama tuh orang. Busuknya itu lho… gak nahan, kayak parfum impor (read : tahan lama).

Omong-omong soal bau busuk, ceman-ceman Miguel masih ingat gak cerita di episode sebelumnya tentang kancut Daddy? Akhirnya kancut busuk Daddy udah dicuci lho sama Mommy. Jadi bersihhhhhhhh banget setelah digosok Mommy pakai sabut kelapa. Ini beneran. Soalnya Miguel juga bantuin Mommy buat bersihin kancut busuk Daddy. Bantu-bantunya sih gak banyaklah. Miguel cuma bantu doa dan ngeliatin aja. Doa anak sholeh gitu lho. Hihihi….

Cukup sekian ya cerita dari Miguel. Sampai jumpa di cerita-cerita lainnya. Dah… Dah…

Mini FF : The Real Champion In Our Heart

cove2r

Marc menatap ke sekelilingnya. Orang-orang berlalu-lalang dengan berbagai kesibukan. Kamera menyorot ke sana kemari. Seorang umbrella girl atau biasa yang dikenal dengan gadis payung berdiri di sebelahnya, memayunginya dari sinar matahari.

Sebenarnya ide umbrella girl yang dipakai Dorna, selaku pimpinan tertinggi ajang balap MotoGP ini hanya untuk menaikkan rating saja. Gadis-gadis itu berpakaian seksi dan memamerkan tubuh indah mereka. Membuat siapa pun yang melihat mereka akan kesulitan menelan ludah.

Mata Marc memandang bosan. Ini merupakan tahun keduanya di ajang balap bergengsi tersebut. Setelah merengkuh juara dunia pada musim lalu di sirkuit Valencia yang turut serta mencatatkan dirinya sebagai pembalap termuda yang merebut titel juara dunia, tak lantas membuatnya puas. Ia lelah. Duduk di atas tunggangnya, memulai balapan, melahap lap demi lap yang kemudian membawanya menuju garis finish.

Orang-orang akan menyambutnya di parc fermé, tempat berkumpul para tim juara yang telah menunggunya. Mereka akan menyorak bangga untuk kemenangan yang telah diraihnya. Kemudian naik ke atas podium, merayakan kemenangannya dengan hujan sampanye dan diakhiri dengan wawancara. Selalu begitu dan berulang-ulang.

Setiap akhir pekan pemandangan seperti ini sudah biasa baginya. Balapan demi balapan harus ia ikuti setelah menandatangi kontrak dengan Repsol Honda, pabrikan yang menaunginya. Jauh di lubuk hatinya ada ketakutan yang sering mengerubungi. Ia mempertaruhkan nyawanya setiap memacu kuda besinya dengan kecepatan di atas 200km/h. Baca lebih lanjut

Serial Keluarga Marquez #3

cove2r

Hola! I’m back again! Kali ini mau mempersembahkan sebuah fanfic berantai. Berantai? Maksudnya? Oke, begini saudara-saudara sebangsa tanah airku *lebay*, kali ini saya berkolaborasi dengan salah satu teman dunia maya saya, yakni @MarcAdmire. Nah, cerita yang kami buat ini berkisah tentang keluarga Marquez. Sebelumnya @MarcAdmire sudah terlebih dahulu menulis part 1 dan part 2. Nah, sekarang saya menulis yang bagian part 3. Jadi jangan bingung kenapa judulnya langsung part 3. Itu udah aku kasih link-nya. Kalau penasaran, silakan dibaca dulu part 1 dan part 2-nya. Well, sekian ocehan dari saya. Dan Happy reading. Jadilah pembaca yang budiman dengan meninggalkan komen di bawah tulisan ini. Oke? 😉

Cast :

Marc Márquez as himself

Alex Márquez as himself

Laura Amberita as Marc’s Girlfriend

Alicia Márquez as Marc and Alex’s Sister

Hari itu keluarga Márquez kedatangan calon mantunya. Namanya Laura Amberita Sánchez. Laura adalah pacarnya Marc. Awal pertemuan mereka terjadi di klinik tempat ayah Laura bekerja beberapa tahun yang lalu. Ayah Laura adalah dokter sunat yang terkemuka di Cervera. Jadi, setiap anak yang mau sunat pasti disunat di klinik itu. Ceritanya, sehari setelah Marc disunat, kemaluan Marc berdarah gara-gara ditendang Alex. Salah Marc sih sebenarnya. Baru juga disunat, eh besoknya main bola sama Alex. Awal kronologi kemaluan Marc bisa ditendang itu karena Alex sedang menendang bola ke arah Marc. Eh, entah gimana ceritanya, si Alex salah nendang. Alhasil kemaluan Marc pun berdarah dan dibawalah ke klinik. Dan kisah cinta mereka pun dimulai di sana saat Laura tak sengaja masuk ke ruang praktik ayahnya yang saat itu sedang memperbaiki jahitan Marc. Tapi, tenang saja. Laura tak melihat kemaluan Marc kok.

“Beb, kok rumah kamu sepi amat ya? Yang lain pada ke mana semua?” tanya Laura setelah dipersilakan duduk oleh Marc.

“Biasalah. Papa dan Mama lagi ke rumah Opung. Alice lagi nge-date sama si Antonelli, anak geng motor itu.”

“Alex?” Baca lebih lanjut

Our Little Miss Marquez : Jewel’s Happiness

Warning : This story is mine. Don’t ever think to copy-paste it! Don’t read if you don’t like. So, happy reading…. ^_^

Tubuh Kanya bergerak pelan sesaat ketika sebuah tangan mengusap rambut hitam kecokelatan miliknya. Matanya yang masih terpejam, sedikit bergetar dan perlahan-lahan terbuka. Pemandangan wajah pemuda berusia 20-an lantas memenuhi penglihatannya.

“Bangunlah, Princess,” kata cowok itu dengan suara lembut. “Kau sudah tertidur selama 10 jam,” lanjutnya. Jari-jari Marc masih bermain-main di atas rambut Kanya.

“Selama itukah?” Kanya balik bertanya. Gadis itu kemudian meregangkan tubuh sebentar, lalu mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Selimut tebal yang ia pakai tadi dibiarkan tersingkap hingga batas pinggangnya.

Marc mengangguk. “Sebentar lagi makan malam. Ayo, kita turun,” ajaknya sembari meraih tangan Kanya.

Sejenak Kanya terdiam dan menarik tangannya dari genggaman Marc. Ingatan tentang anak angkat itu kembali mengusik pikirannya. Apakah ia masih berhak duduk bersama di meja makan bersama keluarga angkatnya? Terlepas dari penerimaan mereka terhadap Kanya, tapi tetap saja ada suatu perasaan segan yang mengisi relung hati gadis itu. Baca lebih lanjut

Mini FF : Heartbeat

cove2r

Tubuh Laura terguncang, lebih tepatnya ranjang yang ia tiduri berguncang lumayan keras. Gadis itu sontak terbangun dengan perasaan panik. Astaga, ada apa ini? batinnya dalam hati.

Bukan hanya ranjangnya terguncang, tapi seluruh barang-barang di dalam kamarnya juga bergerak-gerak dan bahkan berjatuhan ke lantai.

PRANG!!!

Tubuh Laura tersentak kaget bersamaan dengan vas bunga di lemari kecil sebelah tempat tidurnya jatuh dan pecah. Lantas gadis itu langsung bangkit berdiri dengan hati-hati dan matanya menatap lekat ke pecahan kaca itu. Jantungnya berdetak tak keruan. Ketakutan mulai melanda di dalam dirinya dengan sangat cepat. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Baca lebih lanjut

Oneshot : The Happy Ending….

Okay!!! Ini ff lama-lama jadi sinetron jijay kayaknya. Bersambung terusss…. *kayak cinta pitri* Tapi, kali ini bener-bener ending *sebenarnya mau bikin part honeymoon sih* Readers setuju? wkwkwkwkk….. *dirajam* Okelah, sebelum baca, aku cuma mau ngasih tau kalo ada part di ff ini yang ngewakilin perasaan aku waktu ngundurin diri sehari sebelum lomba debat bahasa inggris *gak penting*.  Gak nyambungkan? Hahahaha… aku pun mikirnya kayak gitu. Kok bisa pulak aku nyambung-nyambunginnya ke ff.

Kedua, lagu background blog berubah lagi. Sengaja. Jadi sambil baca sambil dengerin lagu ini ya, biar makin dapet feel-nya. Itu khusus untuk yang baca via PC. Kalo via hp, kalian bisa download lagu Turning Page Instrumental di bursalagu.com. So, happy reading 🙂 Komennya ditunggu yoo… ;D

Jika ia diberi satu permintaan, ia ingin waktu berhenti di detik ini juga. Tapi, ia sadar itu permintaan konyol. Ia hanya terlalu gugup untuk menghadapi momen terpenting dan mungkin sekali seumur hidupnya. Khawatir dan cemas. Tidak bisakah pernikahannya ditunda beberapa hari lagi? Ia… belum siap, secara mental.

Gaun berwarna gading pucat itu tampak indah membalut di tubuh gadis itu. Dengan aksen modern dan elegan membuat tubuh mungil itu bak seorang putri. Gadis itu sedang duduk di meja rias dan membuat ekor gaunnya tersampir di belakang kursi. Sementara rambutnya disanggul longar ke belakang dengan kepangan sederhana. Beberapa helai rambutnya juga sengaja dibiarkan menjuntai di kedua sisi wajahnya, menambah kesan anggun gadis itu. Tapi… tetap saja itu tidak bisa memperbaiki suasana hatinya.

Laura berkali-kali menghembuskan napasnya, berusaha meredakan degup jantungnya yang tak karuan. Bibir ranumnya dibaluri pewarna alami tampak sangat pucat. Penata riasnya sudah berkali-kali mengolesi pewarna ke bibirnya, namun tak sampai 5 menit, bibirnya kembali memutih. Laura tidak bisa menahan giginya untuk mengigit bibir bawahnya. Ia terlalu cemas dan gugup dan juga takut. Bahkan jari-jarinya juga tidak ketinggalan saling meremas satu sama lain, seolah memperjelas semuanya.

Laura melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Wajahnya yang sudah diberi make up tampak sangat mengerikan, menurutnya. Raut khawatir di kerutan dahinya sangat kentara. Ia ingin menangis sekarang juga. Ia tidak siap menghadapi hari ini. Ia tidak bisa melakukannya.

Pintu di belakang terbuka. Laura memutar tubuhnya dan melihat kedua orangtuanya dengan senyum sumringah masuk dan datang menghampirinya. Laura sedikit meringis melihat raut wajah mereka.

“Aku tidak menyangka sebentar lagi gadis kecilku akan menjadi milik pria lain,” ujar Elena dengan haru yang tak terbendung. Elena kemudian menggenggam tangan putrinya dan seketika rasa dingin langsung menusuk ke telapak tangan wanita paruh baya itu. “Mom tahu kau pasti sangat gugup. Itu sangat normal, Sayang.”

“Aku tidak siap, Mom, Dad,” kata Laura, lirih. Baca lebih lanjut

Part of Cervera : Love At First Sight

Laura buru-buru turun dari tangga menuju kamar mandi yang terletak di bagian dapur. Memang kamar mandi itu dipakai bersama-sama. Jadi jangan heran jika setiap pagi pasti selalu ada adegan perebutan kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan antara Marc dan Alex yang selalu bertengkar menyangkut masalah yang satu ini.

Pernah suatu kali saat Marc sedang mandi, Alex dengan tidak sabaran menggedor-gedor pintu kamar itu hingga rusak, bahkan membuatnya roboh. Ini sudah sering kali terjadi. Baik Julia maupun Roser cuma bisa pasrah. Mulut mereka sudah capek mengomeli anak-anak mereka. Alhasil setiap sebulan sekali, Julia dan Roser pasti harus mengganti pintu kamar mandi mereka dengan yang baru.

Laura hendak memutar kenop pintu kamar mandi itu ketika tiba-tiba saja di saat yang bersamaan Marc keluar dari tempat itu dengan hanya terbungkus selembar handuk di pinggangnya dan memasang ekspresi terkejut saat melihat Laura. Dan entah kesialan yang datang dari mana, tiba-tiba saja handuk itu yang dipakai Marc terlepas dan jatuh ke lantai. Laura terkesiap, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan berteriak seperti lazimnya yang diperlihatkan seorang gadis jika melihat ketelanjangan laki-laki.

Sekilas Laura memandang ngeri ke arah bawah Marc, kemudian buru-buru ia kembali menatap wajah cowok itu. Laura menahan napas, begitu juga dengan Marc. Jantung mereka berdua berdegup kencang. Tidak ada yang bergerak. Marc sama sekali tidak berinisiatif mengambil kembali handuknya, ia terlalu terkejut untuk melakukannya. Sedangkan Laura, ia bingung harus melakukan apa. Mau tutup mata? Ia rasa sudah terlambat.

Lama mereka saling berpandangan dalam diam dengan posisi yang tidak terlalu berjauhan, sampai tiba-tiba saja…

“ASTAGA!!! DEMI YANG KUDUS, APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN???” teriakan Alex yang entah muncul dari mana langsung membuat Marc dan Laura tersentak. Marc buru-buru mengambil handuknya dan Laura melempar pandangannya ke arah jendela besar yang mengarah ke kebun belakang rumah. Pipinya memanas. Sial!

***

The Story of Us : Now All Is Felt Different #9

Image

Sibuk banget nih baru sempet ngepost sekarang, hehehe..

Ini gak diedit lagi, jadi muup ya kalo ada typo2 nya :p

 

***

 

 

Alex Marquez memeluk Adel untuk yang pertama kalinya. Hanya saja, kondisinya tidak tepat. Dan sekarang Adel sedang berada di kamar Alex.

Sehabis membuat teh hijau untuk dirinya sendiri, Alex memandangi Adel yang masih terlelap.

“Mungkin dia lelah,”  batin Alex sambil menyibak rambut Adel yang menutupi mukanya. Gadis itu terlihat menarik meski terlihat berantakan. Bahkan bajunya pun belum diganti sejak tadi. Matanya, hidungnya, bibirnya… Sedetik kemudian muncul hasrat dalam diri Alex secara tiba-tiba.

Sebuah keberanian melintas dalam pikiran laki-laki bertubuh jangkung itu. Ini saat yang mendukung, Alex! Perlahan Alex mulai mendekatkan wajahnya kearah Adel. Mengusap pipinya lembut dan mulai maju lebih mendekatinya.

Sedikit lagi! Sedikit lagi bibir mereka akan berpagutan kalau saja Alex tidak mendapati kembali kesadarannya. Astaga.. Apa yang baru saja ia lakukan? Sungguh konyol.

 

“Dani.. Dani mana?” Baca lebih lanjut