Senja di Kota Madrid : Mama #1

FF perdana setelah berbulan-bulan tidak posting apa pun. Happy reading ya, guys. Yang mau ninggalin komentar silakan, yang gak mau juga gak pa-pa. Tapi bagusnya sih ninggalin. Hihihi…. *maunya penulis ini mah* Siapa tau jadi semangat posting next chapter-nya :p

Laura merapatkan mantel krem yang dikenakannya dan berjalan cepat menembus hujan salju yang mulai berjatuhan. Ia menyampirkan tali tas hitam di bahu kirinya, salah satu tangannya menahan topi rajut yang dipakainya agar tidak terjatuh tertiup angin.

Wajahnya mulai memerah akibat gigitan cuaca dingin. Hidungnya mulai terasa sakit. Laura benci cuaca kota Madrid akhir tahun seperti ini. Dingin dan basah. Membuatnya kerepotan karena ia memiliki sedikit masalah dengan imunitas tubuh saat musim dingin tiba.

Gadis itu semakin mempercepat langkah kakinya. Ia tidak sadar seseorang mengikutinya dari belakang. Ia terlalu sibuk melindungi dirinya dari sengatan hawa dingin untuk sekadar menoleh ke belakang, tepat di mana seorang pria berpakaian serba cokelat dan bersepatu boot hitam, terus mengekorinya sejak Laura turun dari metro tadi.

Jarak antara stasiun dan apartemennya tidak terlalu jauh. Sebenarnya ada fasilitas bus yang disediakan pemerintah setempat yang bisa digunakan. Tapi berhubung cuaca sedang tidak menentu dan jalanan di kota sedang licin, terlebih beberapa hari yang lalu baru saja terjadi kecelakaan tunggal sebuah bus akibat ban slip, Laura memutuskan lebih baik ia berjalan kaki saja agar lebih aman. Toh, hitung-hitung membakar lemak pada musim dingin walaupun ia harus terima konsekuensinya. Ia hanya berharap semoga saja tubuhnya bisa bertahan sampai ia tiba di apartemen.

Ponsel berbunyi di saku mantelnya. Laura merabah, kemudian mengeluarkan benda pipih itu, membacanya sekilas, lalu menempelkan ke telinga.

“Iya, Ma? Ada apa?” jawab Laura dengan bahasa Indonesia yang fasih. Kalau mamanya menelepon pasti ada apa-apanya. Jadi pertanyaan ‘ada apa’ sudah biasa digunakan gadis itu setiap mamanya menelepon.

“Kenapa sih setiap Mama telepon kamu tanyanya kayak begitu terus? Memangnya tunggu ada masalah dulu ya Mama baru telepon kamu?!” seru mamanya dengan nada tersinggung.

Laura tersenyum tipis. Membayangkan muka kecut mamanya membuat Laura terkekeh geli. “Maaf. Biasanya setiap Mama telepon pasti ada apa-apanya. Mama mau ngomong apa sama Laura? Laura lagi di jalan. Baru pulang kuliah.”

Terdengar helaan napas di seberang sana. “Kamu baik-baik saja, ‘kan? Akhir-akhir ini cuaca sedang tidak bagus. Dada kamu masih sakit, tidak?”

Laura menengadah ke langit sebentar untuk melihat apakah ada kemungkinan salju akan berhenti barang sekejap saja sebelum kemudian ia menjawab. “Tidak kok, Ma. Sejauh ini Laura masih baik-baik saja. Jadi tak usah khawatir, oke?” jawab Laura dengan nada penuh sayang.

Bukannya semakin tenang, Elena semakin khawatir akan keadaan putrinya. “Tapi, inhalernya dibawa, ‘kan? Terus obatnya bagaimana? Masih ada? Kalau sudah habis langsung bilang sama Mama. Nanti biar Mama yang bawakan. Terus jangan lupa minum banyak air putih. Makannya juga. Harus teratur. Pokoknya kamu harus jaga pola makan kamu. Awas kalau tidak dilakukan dengan benar. Sampai saja Mama dengar kamu jatuh sakit, jangan harap kamu masih bisa tinggal di apartemenmu itu. Mengerti?!”

Laura menjauhkan ponsel dari telinga saat suara mamanya mulai terdengar seperti orang marah-marah daripada seperti orang yang memberi nasihat. Disertai ancaman pula tuh.

Terkadang mamanya bisa sangat kekanakan. Walaupun Laura tahu hal itu dilakukan Elena semata-mata karena wanita itu sayang padanya. Apalagi fakta bahwa ia seorang anak tunggal dan saat mengutarakan keinginannya untuk tinggal terpisah dari rumah, kedua orangtuanya sempat keberatan. Bahkan Elena sempat mendiamkan Laura selama beberapa hari.

Namun, seiring berjalannya waktu, sadar bahwa putri mereka telah dewasa dan membutuhkan privasi, Robert akhirnya mengizinkan Laura tinggal sendiri di apartemen. Setengah hati merelakan putrinya tinggal jauh dari rumah walaupun masih berada di kota yang sama, Elena mau tak mau mengizinkan juga dengan catatan setiap akhir pekan Laura harus pulang ke rumah.

“Iya-iya, Mama Laura yang Super Cerewet. Laura paham. Mama tenang saja. Laura baik kok. Inhalernya selalu dibawa. Obatnya juga masih banyak. Pokoknya Mama tidak usah khawatir. Kalau ada apa-apa Laura pasti langsung bilang sam….”

Ucapan Laura terhenti bersamaan dengan langkahnya saat melewati sebuah etalase toko perhiasan. Pandangannya tidak terpaku pada perhiasan yang dipajang di depan, melainkan pada sesosok bayangan hitam, tinggi, dan besar, yang terpantul dari kaca toko, berdiri beberapa meter di belakangnya.

Darah mendadak menyurut dari wajahnya. Jantung Laura tiba-tiba berhenti berdenyut. Tanpa diminta, alarm peringatan melengking dalam kepalanya.

Bukankah itu… adalah orang yang sama ia lihat saat turun dari metro tadi?

Tidak. Ia dikuntit. Astaga!

Sadar bahwa ia sudah mulai tampak seperti orang kepanikan, Laura coba mengembuskan napas dalam dan melepas perlahan-lahan melalui mulut. Sedikit kepayahan menelan ludah, ia menggenggam tas erat-erat, berjaga-jaga siapa tahu saja pria itu bermaksud jahat padanya dan tas ini cukup berat–berisi 3 buah jurnal tebal–untuk dilemparkan ke wajahnya dan berpotensi mematahkan hidung pria asing itu.

Laura memikirkan cara lain untuk melumpuhkan pria itu. Ia ingat saat menginjak usia remaja Robert pernah mengajarkannya untuk menghadapi laki-laki yang mau berbuat kurang ajar kepadanya.

“Tusuk matanya dengan kedua jarimu. Tendang bagian atas pahanya dengan lututmu. Pastikan dia cukup dekat saat kau melakukannya. Setelah itu beri dia bogem mentah. Pastikan ibu jarimu tergenggam kuat saat meninjunya. Kau mengerti itu, Laura?”

“Iya, Daddy!”

Tapi….

Ia tidak pernah menusuk, menendang, apalagi meninju orang lain sebelumnya. Bagaimana kalau jarinya salah mengarah ke mata pria itu? Bagaimana kalau lututnya tidak cukup kuat untuk menendang apalagi sampai mengenai pangkal paha pria itu? Pria itu terlalu tinggi dan tinggi badan Laura tidak sampai seperdua orang asing itu. Dan meninju…. Demi Tuhan! Laura memandang telapak tangannya dengan ngeri. Tangan sekecil ini bisa meninju wajah seorang pria? Yang benar saja.

“Laura….”

“Sayang….”

“Kamu masih di sana, ‘kan?”

“Laura…!!!”

Mendengar teriakan tak sabar dari mamanya, Laura buru-buru menjawab dengan terbata-bata. “I-iya, M-ma. K-kenapa?”

“Kamu lagi di mana sih?” tanya Elena kesal.

Ditelannya bongkahan ketakutan yang menyangkut di tenggorokannya, Laura menjawab, “Itu… lagi di jalan, Ma. Sudah dulu ya. Nanti Laura telepon balik. Dah….”

Laura meletakkan ponselnya kembali, kemudian memusatkan perhatiannya pada lalu lalang orang yang berkeliaran di trotoar jalan. Tidak ada cara lain. Ia harus membaurkan diri di keramaian. Kalaupun ia pulang ke apartemen, ia tidak punya cukup waktu untuk masuk ke dalam dan menyelamatkan dirinya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria berpakaian cokelat itu. Bisa saja pria itu seorang pemerkosa atau gembong narkoba yang sedang mencari anak-anak gadis untuk dijual dan dibarter dengan barang-barang haram tersebut.

Memikirkan hal itu membuat Laura semakin takut. Tubuhnya mulai bergetar. Ia coba menggerakkan kakinya menuju keramaian. Memutar arah berlawanan dengan jalan pulang ke apartemennya, sejenak ketakutan lain menerjangnya. Jika ia tidak sampai ke apartemennya dalam waktu dekat, ia khawatir tubuhnya tidak cukup kuat melawan angin yang semakin bertiup kencang. Suhu juga semakin menurun di setiap waktunya. Ini akan memperburuk keadaan.

Tapi penguntit itu….

Lutut Laura mulai terasa lemas. Pandangan mengabur oleh air mata. Ia tidak tahu sejak kapan gumpalan cairan bening itu berkumpul di sudut matanya. Yang ia rasakan sekarang adalah perasaan takut.

Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Gadis itu kini benar-benar mulai panik.

Minta tolong!

Dua kata itu muncul di kepalanya. Ya, ia harus segera meminta bantuan. Laura merogoh sakunya dan kembali mengeluarkan ponsel dari kantung mantelnya. Sembari menggerakkan kakinya mengikuti lalu lalang orang, ia membuka phonebook iPhone-nya dan mencari nomor telepon orang yang ia harapkan dapat menolongnya.

Ayahnya? Ibunya? Kedua orang itu tidak mungkin dapat membantunya dalam waktu singkat. Adel, sepupunya? Gadis itu pasti masih berada di kampus karena ada mata kuliah tambahan dan tidak dapat menolongnya juga. Marc…, kekasihnya. Pria itu semakin tidak memungkinkan untuk dimintai pertolongan di saat seperti ini karena berada di kota yang berbeda dengannya. Yang ada ia hanya akan membuat pria itu khawatir. Telepon polisi? Masihkah ada kesempatan?

Laura menoleh ke belakang. Seketika kakinya berhenti. Matanya mencari-cari di antara lalu lalang orang. Ke mana perginya pria berpakaian serba cokelat tadi?

Laura mendesah lega. Akhirnya pria itu pergi juga. Namun, saat hendak memutar tubuhnya kembali ke jalan yang ia lewati tadi, mendadak ia seperti menginjak lumpur dan sedetik kemudian tubuhnya limbung. Pandangan berubah hitam seketika. Dan ia pingsan di tengah keramaian orang.

***

Saat membuka kedua kelopak mata, sang pemilik sepasang bola mata cokelat itu menyipitkan mata, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan. Samar-samar bau antiseptik tercium. Tapi ia tidak terlalu yakin dengan indra penciumannya sendiri. Hidungnya terpasang sebuah selang kecil.

Laura mengerjapkan matanya sekali lagi. Semuanya tampak putih di ruangan ini. Dinding, langit-langit atap, kecuali satu-satunya benda berwarna hijau berasal dari gorden yang tergantung di atas jendela. Apa ini di rumah sakit?

“Laura, Sayang. Kamu sudah sadar, Nak?” tanya sebuah suara sarat akan kecemasan.

Laura menoleh ke sumber suara itu. Dilihatnya Elena berjalan mendekatinya dengan raut wajah khawatir. Tidak salah lagi. Ia pasti berada di rumah sakit. Tapi kenapa bisa? Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia turun dari metro dan hendak pulang ke apartemennya, ia dikuntit oleh seorang pria berpakaian cokelat. Hanya itu.

Tapi, omong-omong soal penguntit itu….

“Sayang?” Elena memanggilnya sekali lagi. Wajah wanita itu memerah. Laura dapat melihat ada bekas air mata di wajah mamanya.

“Mama,” Laura membalas dengan lemah. Suaranya terdengar parau akibat selang yang terpasang di hidungnya.

Elena menyentuh pipi Laura dan mengelusnya lembut. “Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama. Mama tidak bisa jadi ibu yang baik untuk kamu. Ini salah Mama. Seharusnya Mama tahu ini pasti akan terjadi. Seharusnya kamu tidak Mama biarkan sendirian di saat cuaca sedang tidak menentu seperti ini. Mama benar-benar ibu yang buruk. Maafkan Mama, Sayang,” ujar wanita itu sembari terisak pelan.

Laura merasa bersalah mendengar mamanya menyalahkan diri sendiri. Tidak, ini bukan salah mamanya. Ini salahnya karena tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. Mamanya telah berusaha mengupayakan yang terbaik untuknya dan ia sendiri yang tidak bisa menjaga usaha mamanya.

Laura menggeleng lemah. Air matanya jatuh. “Jangan. Laura mohon, Mama jangan menyalahkan diri Mama. Laura yang salah. Laura yang salah, Ma. Laura yang tidak tahu diri. Mama tidak salah.”

“Tetap saja Mama bersalah, Nak. Kamu sakit gara-gara Mama. Gara-gara Mama kamu harus menanggung semua penderitaan yang tidak seharusnya kamu dapatkan. Ini salah Mama karena tidak bisa menjaga putri Mama sendiri dengan baik. Mama minta maaf, Sayang.” Elena terisak-isak.

“Mama, cukup!” Maksud hati ingin membentak, suara Laura lebih terdengar seperti orang memohon. “Jangan terus-terusan menyalahkan diri. Ini bukan salah Mama atau siapa pun. Ini takdir. Laura sakit karena Tuhan sayang sama Laura. Kan Mama sendiri yang bilang kalau Laura spesial. Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa dilalui oleh hambaNya. Jadi Mama tidak usah khawatir. Laura kuat, Ma. Laura bisa. Yang tadi mungkin karena Laura tidak bisa mengendalikan tubuh Laura sendiri makanya Laura bisa pingsan. Tapi Laura baik-baik saja. Laura sudah tidak apa-apa. Laura sudah sehat. Percaya sama Laura. Coba Mama lihat,” ucapnya bak seorang pahlawan yang coba bangkit dari kekalahan di medan perang. Namun, apa yang dilakukan kemudian langsung disambut pelototan tak senang oleh Elena.

“Laura, jangan!” Elena menangkap tangan Laura yang hendak menarik selang yang terpasang di hidungnya. Raut frustrasi tercetak di wajah akhir tiga puluhan miliknya. “Mama percaya sama kamu. Mama percaya, Nak. Kamu anak yang kuat. Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa ke Mama. Cukup dengan kamu di sini dan bicara dengan Mama, Mama tahu kamu jauh lebih kuat dari yang terlihat pada fisikmu. Mama percaya, Sayang.”

Mata Elena memancarkan sorot penuh kasih sayang. Ada sinar kebahagiaan dan kebanggaan di dalamnya. Putrinya, walaupun harus menderita karena keterbatasan akibat terlahir prematur saat bayi, namun anak itu tetap memiliki semangat untuk hidup. Saat dokter memvonis paru-paru Laura tidak cukup kuat untuk bertahan hingga usia remaja, mukjizat terjadi. Laura masih bertahan. Gadis itu tetap hidup. Bahkan setiap harinya kondisi Laura semakin membaik. Kecuali saat cuaca sedang buruk. Saat-saat seperti itulah yang menjadi waktu terentan untuk Laura. Gadis itu butuh pendamping karena ia bisa jatuh pingsan kapan saja akibat aliran udara tidak lancar di rongga paru-parunya.

“Kalau begitu Mama jangan khawatir lagi. Laura baik-baik saja dan akan baik-baik saja sampai kapan pun. Laura sayang sama Mama,” bisik Laura serak.

Elena mengangguk. Rasa haru merasuki dadanya. Sembari menghapus air matanya, Elena berkata, “Mama juga sayang sama kamu. Tapi jangan harap Mama akan berhenti khawatir sama kamu. Mama tidak bisa, Sayang. Untuk yang satu ini, Mama harap kamu bisa mengerti. Karena cuma kamu anak Mama satu-satunya. Kamu hidup Mama, Sayang. Mama bisa mati kalau sesuatu terjadi sama kamu.”

“Mama….” Laura menyerukan protes. Namun, ada nada manja dalam suaranya.

Elena kembali mengelus pipi Laura dan tersenyum, sangat lembut. “Mulai saat ini kamu berada dalam pantauan Mama. Kamu akan tinggal di rumah sampai musim dingin berakhir. Tidak ada kata tidak dan Mama tidak menerima bantahan. Mengerti?” Elena mengerutkan keningnya. Kedua ujung alisnya bertemu. Bibir wanita itu sedikit dikerucutkan. Elena sengaja memasang ekspresi seperti itu. Itulah adalah ekspresi aku-tidak-ingin-dibantah yang selalu berhasil membuat Laura maupun Robert tunduk padanya.

Tanpa disangka-sangka, seulas senyum tersungging di bibir Laura. “Iya, Mama Laura yang Suka Ngatur-ngatur. Laura tidak bakal membantah. Puas?”

“Nah, ini baru anak Mama.” Elena terkekeh. Dikecupnya kening putrinya dengan penuh kasih.

“Dasar.” Laura ikut terkekeh pelan.

***

4 thoughts on “Senja di Kota Madrid : Mama #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s