Fanfiction : The One That Got Away #12

pageFF copy

Hola! I’m back! Hihihi…. Seneng deh bisa balik nulis lagi. I have a good news. Aku udah selese magang. Kemungkinan bakal aktif nulis lagi. Yipieeee……😀

Oh ya, tidak lupa aku juga mau ngucapin Minal Aidin Wal Faizin bagi teman-teman yang merayakan Idul Fitri. Maafkan ya kalau selama ini aku ada salah-salah, dari perbuatan maupun kata-kata yang tertuang dalam setiap tulisanku. Tidak ada maksud menyinggung lho. Hihihi…. Bagi ketupat dong😀 *minta ditabok*

Oke, sekian kalimat pembukanya. Semoga suka ya sama part ini. Kritik dan saran selalu ditunggu lho😉

Mata Casey menyalang ke arah Roser saat wanita itu mendorong pintu perpustakaan dan menutupnya kembali dengan gaya paling angkuh, membuat kekesalan Casey bertambah dua kali lipat.

Membalikkan tubuh dan sebelah alis terangkat, Roser balas memandang Casey dengan pandangan tak kalah angkuh dengan sikapnya. Ada sorot mengejek di sana, seolah menertawakan alasan di balik Casey marah padanya.

Tidak perlu menjadi seorang genius untuk menebak apa dan siapa yang membangkitkan amarah seorang Casey Stoner. Casey mudah dibaca. Sangat mudah bahkan, apabila kau tahu apa yang menjadi kelemahan pria itu.

Roser melewati rak-rak buku menjulang tinggi sebelum menuruni setiap undakan tangga yang memisahkan jarak di antara mereka. Harum aromaterapi yang berasal dari kayu cendana di tungku perapian mengudara dalam perpustakaan tersebut, membuat ruangan yang dipenuhi ribuan koleksi buku–rata-rata merupakan cetakan edisi pertama–terasa hangat. Beberapa lukisan dari zaman renaisans tergantung di sudut dinding. Deretan lampu kuning kecil yang menempel di setiap sisi rak menambahkan kesan kuno.

Saat mendekati ruang duduk yang dilengkapi satu set sofa merah marun berbentuk U dan sebuah meja mahoni bulat rendah di tengah, Roser duduk di ujung sofa, berlawanan dengan posisi duduk Casey yang berada di ujung lain, sehingga posisi mereka kini saling berhadapan bagai dua ujung mata pedang yang siap beradu di arena pertarungan.

Mengabaikan aura permusuhan yang terpancar di balik kedua bola mata aquamarine milik Casey, sebotol Cabernet Franc di atas meja menarik perhatian Roser. Kedua alisnya lantas terangkat. Ternyata pilihan Casey untuk minuman sebelum memulai konfrontasi boleh juga.

Wanita gempal itu melirik sekilas ke arah Casey, mencari gurat keberatan di wajahnya sebelum ikut meraih gelas dari nampan di meja kecil berkaki satu di sebelah tempatnya duduk.

Sembari memperhatikan Roser, Casey duduk dengan punggung bersandar kaku. Salah satu tangannya memegang gelas anggur, sesekali memutarnya, kemudian tiba-tiba berhenti. Gerakannya diikuti dengan rahang yang mengatup keras.

Sudah cukup basa-basinya!

Sadar diperhatikan, Roser kembali melirik Casey lalu turun ke pegangan gelas. Roser yakin seandainya benda mati yang dicengkeram erat oleh Casey itu dapat bicara, ia pasti akan menjerit keras minta dilepaskan saking tidak kuat terjepit di antara jari-jari besar Casey.

“Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan, Roser?” desis Casey dengan ketajaman suara yang mampu menebas leher orang.

Bahu Roser menegak, terlihat santai namun wanita itu berhati-hati. Roser tahu pria seperti apa Casey. Dia tidak memberi ampun bagi siapa pun yang menghalangi jalannya. Pria itu tak segan menggunakan cara licik ataupun cara kotor lainnya untuk menyingkirkan orang lain demi memenuhi ambisi besarnya. Tidak peduli orang itu keluarga ataupun kerabat terdekatnya. Baginya penghalang tetaplah penghalang. Orang seperti itu harus disingkirkan.

Selalu ada cara. Casey tidak pernah mengenal kata tidak. Begitu pun dengan rencananya. Ia tak pernah gagal. Cukup peringatan kecil dan orang yang dianggap Casey sebagai penghalang akan mundur teratur.

Oh, well….” Seolah tanpa merasa takut, Roser ikut menuangkan segelas anggur untuk dirinya sendiri. Sembari berkata lamat-lamat, Roser sengaja memutar gelas anggurnya, pura-pura memperhatikan cairan berwarna merah pekat tersebut. “Entahlah. Aku rasa ini bahkan belum larut malam. Cepat sekali dia memberitahumu. Apa yang dia katakan? Apa sesuatu yang dapat membahayakan kalian berdua?” Sebuah seringaian terbentuk di bibir penuh Roser sebelum wanita itu menyesap cairan merah pekat tersebut dari pinggiran gelas.

“Sialan kau, Roser!” Ledakan amarah Casey diikuti dengan suara pecahan gelas. Roser terkesiap. Tatapannya berubah waspada saat dilihatnya buku-buku di salah satu rak berjatuhan ke lantai. Percikan anggur tidak hanya menodai sampul buku-buku tersebut, pun mengenai pakaian Roser. “Sudah kubilang jangan pernah kau libatkan Clarissa dalam rencana ini! Tapi apa yang kau lakukan? Kau membuatnya berada dalam posisi berbahaya. Apa kau sudah tidak waras? Ini tidak pernah berada dalam daftar rencana kita. Kalau kau ingin bermain-main, sekarang bukan saat yang tepat!” lanjut pria itu berapi-api.

Roser terdiam. Jantungnya bertalu keras. Ia coba mengatur napas dan ekspresi wajahnya agar terlihat tenang. Meskipun merasa sedikit takut, ia coba mengabaikannya.

Casey kembali melanjutkan. Kali ini dengan suara lebih terkontrol walaupun masih dibaluri amarah. “Kau dengar! Aku tahu kau benci padaku, Roser. Tapi tidak bisakah kau menyingkirkan rasa bencimu demi kelancaran rencana kita? Jangan dia. Aku tidak akan membiarkan Clarissa terlibat. Tidak akan pernah,” tandasnya dengan nada tak ingin dibantah.

Dengusan geli keluar dari mulut Roser. Ia sungguh muak. “Kau bilang rencana? Rencana apa dan rencana siapa yang kau maksud? Seharusnya sebelum kau menyebut kata rencana, ambil cermin besar di kamarmu dan lihat dirimu sendiri. Seharusnya kau malu, Casey! Satu lagi, tidak perlu kau ingatkan betapa bencinya aku kepadamu. Asal kau tahu saja, aku sangat membenci kalian berdua. Manusia egois, tidak punya hati, munafik, dan menjijikkan,” tukas Roser geram.

Mata Casey menggelap seketika mendengar hinaan yang terlontar dari mulut Roser. “Jangan berani-berani kau menghinaku, Roser. Kau tahu dengan siapa kau berhadapan sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun berani menghinaku. Termasuk kau sekalipun,” ucap Casey dengan nada rendah berbahaya. Matanya berkilat penuh ancaman.

Roser balas mencibir tak peduli. “Terserah apa katamu. Siapa pun kau, kau tetaplah manusia biasa. Jadi untuk apa aku takut padamu? Apa kau pikir karena kau kaya dan punya kekuasaan?” tanya Roser dengan nada mengejek. “Tidak, Casey.” Roser menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian meletakkan gelas anggur yang telah ia minum hingga setengah di atas meja. “Aku tidak takut padamu sekejam apa pun ancaman yang kau lontarkan untukku. Kau tahu kenapa?” Kedua alis Roser terangkat. Tubuhnya ia majukan beberapa senti ke depan. Kemudian dengan sorot jijik, ia berkata, “Karena bukan kau yang menentukan hidup dan matiku. Tetapi Tuhankulah yang berhak menentukan sampai kapan aku boleh hidup di dunia ini. Kau boleh mengancamku, tapi kau tidak akan berhasil melaksanakan ancaman itu terhadapku, Tuan Stoner Yang Terhomat.

Casey menggeram. Dalam hati ia menyerapah ribuan kutuk untuk wanita di depannya ini.

Wanita jalang! Sialan! Kau benar-benar sialan, Roser!

Merasa di atas angin karena berhasil membungkam mulut Casey, Roser dengan santai bertanya, “Ada tambahan lain?”

Casey mencoba untuk tidak terpancing. Ditariknya udara melalui hidung, Casey coba menenangkan diri. Ia tidak boleh salah langkah kali ini. Roser berbahaya, oportunitis licik, dan cerdik. Ia tidak berada di posisi menguntungkan jika terus menekan.

“Baik. Kita tidak akan bicara tentang Clarissa. Aku mendatangkanmu ke sini bukan untuk mengurusi hubunganku dengannya, Roser. Kuharap kau tidak lupa dengan apa yang pernah kita sepakati dulu. Jadi jangan coba-coba mencampuri urusan pribadiku. Ini bukan urusanmu,” ucap Casey, mulai melunakkan nada suaranya. Matanya tidak setajam tadi. Namun kilatan jangan-coba-coba-menentangku masih tercetak di mata kelamnya.

Roser mengulum senyum penuh kemenangan. Akhirnya Casey mengaku kalah. “Tidak perlu sekeras itu untuk mempertegas maksudmu, Casey. Aku mengerti.” Roser mengangguk dramatisir.

“Bagus kalau kau mengerti,” sambar Casey dengan nada menyindir dan ekspresi kecut di wajahnya.

Roser kembali menyandarkan tubuhnya. Kedua lengannya disedekapkan di dada. “Kau tenang saja, Casey. Selama kau memperlakukanku dengan baik dan sopan, aku juga akan memperlakukanmu dengan hal senada. Tapi…,” ekspresi Roser berubah serius, “sekali lagi kau memperlakukanku sama seperti tadi, bukan hanya kau, tapi Clarissa juga akan merasakan akibatnya. Kau camkan itu!”

Casey tidak membalas. Ia hanya memandang kesal. Seumur hidupmu ia tidak pernah dikalahkan setelak ini. Apalagi oleh seorang wanita. Terkutuklah kau, Roser!

“Kau tidak perlu mengingatkanku, Roser. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Yang ingin kupertegas di sini adalah jangan pernah melibatkan Clarissa dalam kesepakatan kita. Dia tidak tahu apa-apa.”

Tanpa Casey sadari, ada sinyal ketakutan dalam dirinya akan rahasianya terbongkar. Roser menyadari hal itu. Pria itu mulai ketar-ketir walaupun tidak secara terang-terangan diekspresikan di wajahnya.

Roser tergelak, kemudian mendengus malas. Pecundang sejati.

“Casey… Casey….” Roser menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ekspresi tersinggung tampak di wajah Casey. Matanya lantas menyipit tajam.

“Apa yang kau inginkan, Roser?” Nada dingin Casey mengoyak ekspresi santai Roser.

Akhirnya sampai juga mereka pada inti pembicaraan.

Roser balas dengan tersenyum licik. “Yang kuinginkan?”

Casey menatap waspada. Degup jantungnya menggelepar. Urat lehernya menegang menunggu apa yang hendak dikatakan Roser.

Sembari menunggu detik demi detik berlalu, Casey menunggu dengan gelisah. Roser sengaja berlama-lama menggantung ucapannya.

“Pertama,” Roser berkata lamat-lamat, “Kurangi intensitas pertemuanmu dengan Clarissa. Kau kira aku tidak tahu setiap malam kau merayap ke kamar wanita itu? Seharusnya kau malu masih melanjutkan hubungan terlarang kalian. Dasar manusia iblis!” caci Roser dengan kebencian tampak kentara di kedua bola matanya.

Rahang Casey mengeras. “Sudah kubilang kau jangan coba-coba mencampuri urusan pribadiku. Apa kau tuli?” bentak Casey tak senang.

Roser mencibir. “Mencampuri urusan pribadi? Lucu sekali. Apa kau tidak memikirkan apa yang akan dipikirkan orang lain saat melihat kau mengendap-endap ke kamar pelayan? Kau sendiri yang membuat aturan bahwa majikan dilarang melakukan kontak lebih dari 5 menit dengan pelayan. Ini yang kau sebut aturan aristokrat? Munafik sekali!

“Kau masih beruntung karena pengawas pelayan dapat menutup mulut mereka setelah disogok oleh sejumlah uang. Tapi apa kau tidak memikirkan jika sewaktu-waktu pelayan lain atau putrimu sendiri, bahkan Alicia memergokimu pergi ke kamar pelayan? Kau hanya akan mempersulit keadaan. Perselingkuhanmu akan menghancurkan segalanya. Jadi, kumohon, jangan jadi perusak jika kau ingin memperbaiki hubunganmu dengan Estelle. Sadarlah! Kondisi kalian sudah sangat parah,” seru Roser setengah frustrasi. Meskipun merasa benci, ia kasihan pada Casey. Memangnya siapa yang tak sakit dibenci dan dimusuhi oleh anak sendiri? Roser juga orangtua dan ia tak dapat membayangkan seandainya kedua putranya membencinya sebesar kebencian yang dirasakan Estelle terhadap Casey.

“Lanjutkan keinginanmu selanjutnya,” ucap Casey tak acuh.

Roser menatap Casey lama sebelum mengatakan. “Berhenti melakukan penyiksaan dalam bentuk apa pun terhadap Estelle. Dia tidak pantas mendapatkannya.” Ekspresi Roser berubah dingin setelahnya. Ia menunggu tanggapan Casey.

Casey memandang Roser dengan sorot menilai, kemudian tanpa mengubah ekspresi di wajahnya, Casey berkata, “Aku tahu apa yang kulakukan, Roser. Anak itu terlalu liar. Cara lembut tidak akan mempan mengubah sikap kurang ajarnya. Kalaupun aku menyiksanya, itu demi kebaikannya juga.”

Roser mengembus napas keras. Amarah yang ia rasakan menembus sampai ke tulang-tulang. Memang susah berhadapan dengan iblis berwujud manusia.

“Tapi tidak dengan cara menyiksanya! Apa kau tidak memikirkan dampak psikologis yang kau timbulkan? Kau membuatnya takut, Casey. Kau satu-satunya keluarga yang ia miliki, tapi apa yang kau lakukan? Kau tak ubahnya serigala pemburu mangsa yang siap mengintai mautnya setiap kali ada kesempatan. Itu yang dirasakan Estelle.

“Estelle butuh perhatian ekstra. Dia butuh kasih sayang. Kalaupun sekarang kau menganggapnya anak liar, memang salah siapa dia berubah seperti itu? Salah siapa Estelle bersikap kurang ajar? Apa kau tidak sadar setiap kali dia membuat kekacauan di sekolah–bertengkar, beradu mulut, mengerjai murid-murid lain, bahkan membolos, itu karena dia menuntut perhatian darimu. Estelle ingin kau memperhatikan dia, Casey! Tidakkah kau mengerti kenapa dia melakukan semua itu?”

Melihat Casey tak bereaksi atas perkataannya, Roser semakin meledak. “Dasar manusia batu, tak tahu malu! Kau ayah terkejam dan tak berperasaan yang pernah kukenal.”

Ekspresi Casey tak terbaca. Dan tanpa Roser ketahui, ada rasa sakit bersarang di hati Casey. Seandainya Roser mampu melihat, Casey menangis dalam hati. Bukan keinginannya dibenci oleh anaknya sendiri. Tak sekali pun terpikir dalam benaknya untuk membuat Estelle menderita.

Casey tahu caranya sangat salah dalam mendidik Estelle. Sebutlah ia kejam karena menggunakan kekerasan untuk membuat Estelle patuh terhadapnya. Pada kenyataannya bukan kepatuhan Estelle yang Casey inginkan, melainkan sebentuk pengertian dari anak itu.

Casey akui ia tak dapat berpikir jenih akibat perasaan bersalah yang harus ia tanggung seumur hidup. Estelle tidak bersalah. Anak itu justru menjadi korban pelampiasan Casey. Salahnya Casey adalah tidak dapat berbesar hati dengan mengungkapkan apa yang terjadi. Ia takut Estelle akan lebih membencinya setelah tahu apa yang disembunyikan oleh ayahnya bertahun-tahun lalu. Dan Casey belum siap menerima kebencian Estelle sebesar itu.

Membalas ekspresi diam Casey, Roser berkata, “Sebentar lagi Estelle akan genap berusia 17 tahun dan secara hukum dia berhak menentukan apa yang ingin dia lakukan selanjutnya, termasuk meninggalkan rumah ini dan hidup sendiri.”

Pancingan Roser berhasil karena Casey langsung mengarahkan tatapan tajamnya pada Roser.

“Dia tidak akan ke mana-mana,” tukas Casey dingin. Rahangnya kembali menegang.

“Itu katamu,” balas Roser sinis.

“Aku tidak akan mengizinkannya pergi.” Geraman terdengar dalam suara Casey. Urat di sepanjang lengannya menonjol. Kepalan tangannya terbentuk sempurna di atas lengan sofa.

Roser mengangkat bahu santai. Senyum meremehkan tersungging di bibirnya. “Lakukanlah. Lihat apa yang akan diperbuatnya setelah kau melarangnya. Dia mulai beranjak dewasa, Casey. Sekali kau melakukan kesalahan, aku berani jamin Estelle tak akan sudi memaafkanmu, selamanya,” ujar Roser sangat yakin.

“Kau coba mengancamku?” tanya Casey dengan suara rendah.

Roser menggeleng. “Itu bukan sekadar ancaman. Tapi peringatan. Kesempatan terakhir, Casey. Ambil atau kau akan kehilangan Estelle, untuk selama-lamanya.”

Tatapan Casey mengancam. “Itu tidak akan terjadi. Tidak peduli sedewasa apa pun Estelle, dia akan tetap bersamaku. Dia putriku dan akan tinggal di rumah ini. Rumah ini miliknya. Dia tidak boleh ke mana-mana. Kau camkan itu!” bentaknya.

Roser mengangguk-angguk. Kedua alisnya terangkat. “Well.”

“Apa kau ada masih memiliki keinginan lain?” tanya Casey mulai malas dan tak sabar.

“Ada. Dan ini yang terakhir.” Roser memberi jeda sejenak. “Aku ingin mengembalikan ingatan Estelle. Aku ingin dia dapat mengingat semuanya, Casey. Semuanya. Tanpa terkecuali.”

Tubuh Casey mengejang. Amarah yang sebelumnya telah reda kembali terbit di matanya, membakar tubuh, masuk hingga ke tulang-tulangnya.

“Kau gila!” Casey bangkit dari duduknya dan melotot murka. “Kau tidak bisa melakukan itu!”

Roser mengatur ekspresi wajahnya agar tetap tenang. Perang baru saja dimulai. Saatnya mengatur strategi baru.

“Aku bisa,” ucap Roser penuh keyakinan, “karena aku mampu melakukannya.”

Aura berbahaya mengeluar dari sorot mata Casey saat gumaman rendahnya membuat tubuh Roser membeku. “Coba saja. Kau akan tahu akibatnya. Kau belum mengenalku sebaik itu, Roser. Aku bisa menghancurkan siapa pun yang aku inginkan. Kau, suamimu, bahkan kedua putramu. Aku tidak mengenal belas kasih. Akan kusisakan kau menjadi orang terakhir melihat muka bumi ini. Kau tinggal pilih penyiksaan seperti apa dan bagaimana penyiksaan itu untuk menghabisi hidupmu. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Kau ingat itu!”

Selesai berkata seperti itu, Casey berjalan menjauh, meninggalkan Roser yang terpaku syok dan terguncang. Roser memejamkan matanya, coba menyugestikan bahwa apa yang dikatakan Casey barusan hanya gertakan belaka. Pria itu tidak bersungguh-sungguh. Kata-kata yang keluar dari mulut Casey diakibatkan oleh kekalutan dan ketakutan beralasan akan rahasia kelamnya terbongkar.

Ya, seperti itu.

Jangan takut, Roser. Ingat kata-kata yang kau ucapkan. Hidup dan matimu tidak berada di tangannya. Jangan takut.

***

Berderap menaiki undakan tangga hendak menuju kamarnya, Marc berhenti saat melewati kamar Estelle ketika dilihatnya pintu berukir nama gadis itu terbuka 45 derajat. Kernyitan heran muncul di dahi Marc. Tumben-tumbennya pintu Estelle dibiarkan dalam keadaan terbuka. Biasanya pintu kamar gadis itu selalu tertutup dan dibuka pada saat-saat tertentu saja, seperti sedang dilakukan pembersihan kamar oleh para pelayan. Tapi pada jam seperti ini dan dengan kondisi belum terlalu sehat, Marc yakin Estelle cukup waras untuk tidak membiarkan orang lain mengganggu waktu istirahatnya.

Tergelitik oleh rasa penasaran, Marc coba mengintip melalui celah pintu terbuka. Namun, tubuhnya menegang seketika saat melihat siluet tubuh seorang gadis, membelakanginya, mengendap-endap seperti maling, berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur bertiang empat tanpa kanopi.

Tanpa berpikir panjang, Marc langsung mendorong pintu hingga terbentur keras ke dinding. Gadis itu melompat dan suara terkesiap keluar dari bibirnya. Kedua tangannya refleks berpindah cepat ke belakang punggungnya. Wajah Alicia sepucat mayat. Tubuhnya bergetar saat Marc menelisik penuh curiga ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tuntut Marc dengan suara dalam seperti lonceng kematian.

Kedua tangan Alicia saling meremas kuat. Keringat dingin membanjiri tulang punggungnya.

Sekuat tenaga menelan bongkahan ketakutan yang menyumbat batang tenggorokannya, Alicia berdeham. Ia coba menyunggingkan senyum terbaiknya, kemudian menjawab, “Aku hanya ingin menjenguk sepupuku. Kudengar dia sedang sakit.”

Kalau Alicia berpikir ia dapat membodohi Marc dengan pernyataannya, ia salah besar. Marc tahu Alicia dan sangat mengenal gadis itu untuk tidak memercayai satu pun yang keluar dari mulutnya. Gadis itu jelmaan ular, Marc meyakininya saat hari di mana Alicia mempermalukan Estelle di depan murid-murid lain dengan menyebarkan gosip tak senonoh.

“Di mana Estelle?” tanya Marc dengan sorot dingin. Ada geraman tertahan dalam suara Marc. Marc mendapat semacam firasat tidak bagus saat melihat Alicia muncul di kamar Estelle. Gadis itu licik, berhati iblis, dan jalang seperti ibunya. Marc menelusuri belakang Alicia dan tatapannya berhenti pada nampan berisi makan malam untuk Estelle dan segelas jus melon. Tatapan Marc langsung berpindah ke Alicia dan kecurigaan lain muncul pada saat bersamaan. “Apa yang telah kau lakukan padanya?!” tanya Marc murka saat sedikit dapat menebak apa yang ada di otak Alicia.

Alicia disergap ketakutan. Tubuhnya berdiri mematung. Ia menghitung detik demi detik. Tamatlah riwayatnya, pikirnya dalam hati. Namun, detik berikutnya Alicia mendesah lega. Jijik pada dirinya sendiri karena bersyukur diselamatkan Estelle dari situasi rumit yang menerpanya.

Estelle keluar dari kamar mandi dengan rambut tergerai lepas. Gadis itu mengenakan jubah tidur krem menutupi hingga ujung kaki. Sorot tak senang terpancar di balik bola mata aquamarine sedingin es miliknya saat melihat kedua orang yang dibencinya berada dalam kamarnya.

“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” bentaknya, bergantian menatap Alicia dan Marc.

Alicia menghadap Estelle dan pura-pura memamerkan senyum simpatik. “Aku dengar dari pelayan yang gemar bergosip bahwa kau sedang sakit. Aku turut prihatin. Sedih rasanya tidak melihatmu di meja makan tadi pagi dan malam ini aku kembali tidak melihatmu. Kita sepupuan, Estelle. Kita keluarga. Kau sakit aku pun ikut sakit.” Tapi aku lebih mengharapkan kau mati secepatnya, lanjut Alicia dalam hati tanpa mengubah sedikit pun ekspresi sedih di wajahnya.

Tepat beberapa meter tempat Alicia berdiri, Marc menggeram buas dalam hati. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Marc bersumpah kalau saja di negara ini tidak ada hukum, Marc akan menebas leher Alicia saat itu juga. Ia muak menonton sandiwara yang sedang dimainkan Alicia.

Sama seperti Marc, Estelle juga tahu Alicia sedang berpura-pura menunjukkan simpatiknya. Menyunggingkan senyum mengejek, Estelle menaikkan kedua alisnya. Ia tengah memikirkan sesuatu yang pantas diterima Alicia karena masuk ke kamar tanpa seizinnya.

Saat baru akan bersuara, suara lain mendahului Estelle. Jika Estelle tak salah melihat, wajah Marc berubah angker saat mata pria itu tertumbuk pada sesuatu di belakang tubuh Alicia.

“Kau pikir apa yang kau lakukan?!”

Alicia menoleh dan terkejut mendapati Marc tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Ia tak cukup waspada untuk menerka apa yang dilakukan Marc selanjutnya ketika pria itu dengan kasar merampas botol obat dari genggamannya.

Hal selanjutnya yang Alicia tahu adalah lengannya dicengkeram beringas oleh Marc dan wajah pria itu hanya berjarak beberapa belas sentimeter darinya.

“Apa ini?” tanya Marc dengan tatapan bengis.

Jantung Alicia seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat dan ketakutan lebih besar menyergap dalam dirinya.

“A-a….” Tidak jelas apa yang dikatakan Alicia, Marc menarik lengan Alicia hingga rasanya mau terlepas dari persendian.

Estelle terpaku di tempat. Benaknya melupakan pembalasan yang telah ia siapkan untuk Alicia.

Meskipun tak ingin mengakui, diam-diam Estelle merasa terhibur melihat Alicia disiksa Marc. Well, gadis itu memang pantas mendapatkannya setelah bersikap menyebalkan dengan pindah ke rumahnya. Estelle bahkan berharap Alicia akan lebih sering disiksa. Dengan begitu, tanpa diusir, gadis tak tahu malu itu akan enyah dari hadapannya.

Sebenarnya agak bingung juga kenapa Marc marah besar kepada Alicia. Dan botol obat itu… rasanya itu bukan obat yang diberikan Clarissa kepada Estelle untuk diminum.

Menjawab rasa penasaran Estelle, perkataan Marc selanjutnya sontak membuat tubuh Estelle mengejang.

“Kau mencoba mencampurkan obat pencuci perut ke makanan Estelle.” Kalimat bernada tuduhan itu membuat Alicia seakan dicabut paksa nyawanya.

“Tidak!” elak Alicia, coba menyentak tangan Marc dari lengannya.

“Tidak usah berpura-pura, Alicia. Aku cukup tahu tentang obat-obatan. Kau tidak bisa membodohi aku dengan berkata sebaliknya.”

Marc melirik sekilas ke arah Estelle yang tampak terkejut. Ada kelembutan dalam mata Marc saat menatap gadis itu.

“Jangan sentuh makanan itu. Aku akan menyuruh pelayan untuk membawakan yang baru. Tentang Alicia, kau tidak perlu khawatir. Akan kuurus dia. Kau hanya perlu banyak istirahat dan tidak usah banyak berpikir.” Marc mengalihkan pandangan ke Alicia. Matanya kembali mengeras. “Kuharap orangtuamu pernah mengajarimu tentang hukuman yang pantas diterima oleh pembuat masalah sepertimu. Ikut aku!” Setengah membentak, Marc menyeret Alicia keluar, mengabaikan pemberontakan yang dilakukan gadis itu untuk terbebas darinya.

Tersadar dengan apa yang barusan terjadi, Estelle kembali merasakan pusing di kepala. Setengah menyeret kakinya mendekati tempat tidur, Estelle duduk. Benaknya kemudian dipenuhi oleh kejadian demi kejadian yang akhir-akhir ini membuat kacau hidupnya. Masalah dengan ayahnya saja belum selesai. Kini parasit bernama Alicia–terkutuklah gadis itu pada hari kelahirannya—muncul dan mengganggu hidupnya. Tapi yang paling menganggu di antara setiap potong kejadian itu adalah Marc. Ada yang salah pada pria itu. Caranya menatap Estelle tadi membuat Estelle bergidik ngeri. Itu bukan jenis tatapan yang biasa dilemparkan pengagum Estelle kepadanya. Ada makna tersirat dan Estelle tidak berani menggali lebih dalam untuk menemukan arti makna tersebut.

Karena lelah dan lapar, Estelle coba mengalihkan perhatiannya pada makanan baru dibawakan oleh satu seorang pelayan ke kamarnya.

Aku butuh makan, pikirnya.

***

Beberapa kepala tertoleh ke belakang saat Alicia meringis kesakitan dan menjerit minta dilepaskan. Tak ada yang berani mendekat apalagi menghentikan sang tuan muda yang dengan sadis menyeret dengan kekuatan penuh tubuh tinggi semampai itu ke halaman belakang rumah.

Tubuh Alicia meronta hebat. Sentakan demi sentakan agar lengannya bisa lolos dari cengkeraman maut Marc berbuah sia-sia karena semakin Alicia berontak semakin keras pula cengkeraman Marc menekan lengannya. Alicia bersumpah kalau sampai lengannya putus setelah ini, ia akan menuntut dan menjebloskan Marc ke penjara.

“Lepaskan, sialan! Kau menyakiti lenganku! Marc Márquez!” teriak Alicia sekuat tenaga.

Marc tidak menggubris. Disambarnya tali tambang yang tergantung di sebelah pintu keluar, Marc terus menyeret Alicia, membawa gadis itu melewati rerumputan menuju ke tengah-tengah taman kecil di belakang rumah.

“Aduh! Kau membuat kakiku tergores! Berhenti, Marc Márquez! Aku bilang berhenti!” Alicia menjerit seperti orang kesetanan sambil merintih. Sandal rumah yang sebelumnya ia kenakan entah tertinggal di mana. Akibatnya, kaki telanjangnya tergores cukup dalam oleh ujung rumput yang tajam.

Marc berhenti mendadak, membuat tubuh Alicia yang tak siap menabrak cukup keras punggungnya. Namun, keterkejutan lain segera menyapa Alicia saat Marc tiba-tiba mengempaskan tubuh Alicia ke kursi panjang di depannya dan dengan cepat, tanpa disadari Alicia, tubuhnya sudah diikat oleh tali tambang yang dibawa Marc.

“Kau gila!” Alicia berteriak marah sembari memberikan perlawanan cukup sengit dengan menendang-nendang ke arah Marc. Mencoba berkali-kali dan pada satu kesempatan ia berhasil mengenai tulang kering Marc, membuat pria itu meringis tertahan, Alicia tertawa puas. Namun, hal itu tidak berlangsung lama saat Marc dengan cepat dan beringas mengikat kedua kaki Alicia dan membuatnya tak bisa bergerak lebih dari sesentimeter pun.

“Kalau kau berpikir bisa terlepas dariku malam ini, bermimpi saja kau!” kata Marc, menegakkan tubuh setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Sekujur tubuh Alicia terlilit tali tambang. Kedua kaki dan tangannya tidak bisa bergerak. Marc dengan cerdik membuat simpul rumit. Sekeras apa pun mencoba, ikatan tersebut tidak akan terlepas. Yang ada malah semakin keras Alicia berusaha terbebas, kulit mulusnya akan tergores permukaan tali yang kasar.

Tatapan sinis Alicia lemparkan kepada Marc. “Lihat saja kau! Akan kubalas perbuatanmu! Akan kulaporkan perbuatanmu ke Casey!” Mata Alicia berkilat penuh kebencian.

“Well, kutunggu kalau begitu.” Marc mendengus jijik, kemudian pergi meninggalkan Alicia yang menjerit-jerit seperti orang gila.

Di sudut lain yang tak terlihat, senyum puas tersungging di bibir seorang gadis yang menyaksikan kejadian itu di pinggir jendela kamar. Estelle terkekeh geli melihat musuhnya dibuat tak berdaya di tengah-tengah taman kecil belakang rumahnya.

Terkadang dia memang terlihat berpihak kepadaku. Tapi hal itu tidak akan mengubah pandanganku terhadapnya. Ingat, Estelle. Laki-laki itu pernah mencambukmu. Dia sama seperti ayahmu. Sama-sama berengsek!

Estelle dengan muram memikirkan kejadian beberapa hari lalu. Memang rasa sakitnya sudah hilang. Tapi bekas cambukan itu masih membekas di hatinya.

Ternyata Marc tidak benar-benar pergi. Berharap akan mendengar kabar baik, Alicia harus menelan pil pahit. Marc tidak berubah pikiran seperti yang Alicia harapkan. Kedatangannya justru untuk melakban mulut berisik Alicia.

“Kau berisik, kau tahu? Mengganggu waktu istirahat orang saja.”

Alicia membalas perkataan Marc sebelum kata-katanya hilang ditelan gumaman tak jelas keluar dari mulutnya. “Bajingan kurang ajar! Lepaskan aku, sialan! Hei! Hhmpp…. Hhmpp….

Selesai memberi sentuhan terakhir, Marc memandang puas. “Begini lebih baik. Berteriaklah sesukamu. Malam ini kau tidur di luar. Casey tak ada di rumah jadi dia tidak akan bisa menolongmu. Dan kuperingati kau, berani lagi kau mengganggu Estelle, kau akan mendapat yang jauh lebih buruk dari ini. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, Miss Scheunemann. Selamat malam.”

Alicia memandang kepergian Marc dengan sorot kebencian yang tak dapat disembunyikan. Ia bersumpah akan mengadukan semua perbuatan Marc ke Casey. Pria itu harus membayar semuanya.

Kemudian, tiba-tiba semua lampu di taman itu mati. Alicia menjerit lagi. Namun, suaranya tertelan oleh lakban yang menempel erat di mulutnya.

Sialan kau, Marc Márquez! Terkutuklah kau! Anak iblis! Enyahlah kau! makinya penuh dendam.

***

Keesokan hari berjalan lebih baik. Saat muncul untuk ikut sarapan, Estelle menjadi orang terakhir yang mengisi kursi yang ia tinggalkan beberapa hari ini. Duduk bersebelahan dengan Marc, di depan Estelle ada Alicia yang masih tampak kesal akibat hukuman yang terlampau sadis untuk ukuran seorang gadis. Casey seperti biasa menempati kepala meja dengan Roser di sebelah kirinya.

Kalau dibaca dari suasana hatinya, sepertinya Casey tidak tahu-menahu mengenai hukuman yang didapat Alicia.

Memikirkan soal hukuman, raut Estelle kemali muram. Setidaknya hukuman yang diterima Alicia tidak separah yang ia dapatkan. Menggunakan kekerasan dan ancaman. Pria itu menjelma menjadi sosok monster mengerikan hari itu.

Tidak ingin merusak suasana hatinya yang sedang bagus pagi itu, Estelle coba menyibukkan dirinya dengan makan apa pun yang tersedia di piringnya dan menganggap tak ada orang selain dirinya di meja makan ini.

“Terima kasih, Sue.” Estelle tersenyum tulus saat anak pelayan berusia 18 tahun itu menuangkan segelas susu untuknya.

“Sama-sama, Nona.” Pipi Sue memerah, tersanjung oleh keramahan yang tak diduga-duga datang dari putri majikannya.

Semua orang di meja itu sadar apa yang diperbuat Estelle. Tahu menjadi pusat perhatian, Estelle mengabaikan mereka semua dan terus makan.

“Bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau merasa lebih baik?” Tatapan Casey tertuju pada Estelle.

Tak ada yang menjawab.

“Estelle, Dad sedang berbicara denganmu.”

Estelle lantas mendongak, melirik ke sekelilingnya sekilas, kemudian kedua alisnya terangkat angkuh.

“Oh, Anda sedang berbicara denganku?” tanya Estelle dengan kekehan geli yang ia benci. Ia mengembuskan napas melalui mulutnya pelan. Mengangkat kedua bahu dan meletakkan serbet ke atas meja, Estelle memasang raut menyesal di wajahnya. “Maaf, aku tidak punya waktu untuk melayani Anda. Permisi.”

Estelle bangkit setelahnya. Tanpa menyentuh susu yang masih segelas penuh, ia berjalan pergi, tak memedulikan tatapan tak senang di mata Casey, ekspresi kaget di wajah Roser, dengusan sinis di bibir Alicia, dan sorot tak terbaca di mata Marc.

Seorang pelayan kemudian mendekati Estelle sebelum gadis itu keluar dari ruang makan.

“Nona, ini bekal makan siang yang Anda pinta,” ujar wanita paruh baya itu sembari tersenyum gugup.

Estelle membalas dengan senyum ramah, kemudian menerima kotak bekal yang disodorkan kepadanya. “Terima kasih, Mrs. Beer. Dan…,” Estelle menutup ruang di antara mereka, “…sampaikan rasa terima kasihku kepada Bibi Clarissa karena telah menyiapkan makan siangku. Sampaikan juga padanya bahwa aku sangat menyayanginya.”

Istri kepala pelayan itu mengangguk, kemudian cepat-cepat menyingkir ke belakang saat mata Casey mulai menyalang tak suka melihat keakraban mereka.

Estelle menoleh ke belakang. Tatapannya tertuju pada Marc. “Kau mau berlama-lama di situ atau aku perlu meminta Mr. Beer menyediakan sopir untuk mengantarku ke sekolah?”

Mengucap pamit kepada Roser, Marc lantas bangkit berdiri dan menyusul langkah Estelle. Sementara ketiga orang di meja itu hanya menatap kepergian Marc dan Estelle dengan pandangan berlainan.

“Dia membenciku,” cetus Casey dengan wajah muram.

“Bagus kalau kau menyadarinya. Hm, kurasa aku pun sudah selesai.” Roser ikut bangkit. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan meja makan, tatapannya tertumbuk pada Alicia. “Mau sampai kapan kau di situ? Kau tidak perlu bersekolah? Lihat sudah pukul berapa sekarang?”

Ucapan Roser bernada sindiran itu menampar harga diri Alicia. Dalam hati ia mengutuk anak dan ibu itu. Anak iblis! Wanita iblis! Keluarga iblis! Semuanya iblis!

***

Mobil Marc membelah keramaian lalu lintas jalanan di kota Sydney. Keduanya terdiam selama perjalanan. Baik Marc maupun Estelle sama-sama tidak bersuara.

Ketika mobil berhenti menunggu pergantian lampu lalu lintas, Marc melirik ke arah Estelle.

“Sudah merasa lebih sehat?” Akhirnya setelah beberapa menit membisu, Marc mengawali pembicaraan dengan menanyai kabar Estelle.

Sama seperti ketika ditanyai kabar oleh ayahnya, Estelle bungkam. Terlalu malas menanggapi pertanyaan yang menurutnya tidak penting.

“Estelle…,” panggil Marc, coba menarik perhatian gadis itu. Usahanya gagal. Tak sedikit pun Estelle menoleh ke arahnya.

Lampu berganti hijau. Marc melajukan mobilnya dengan pelan. Kepalanya sesekali ditolehkan ke samping.

“Sesulit itukah menjawab pertanyaanku?” tanya Marc sedikit frustrasi karena tidak mampu membuat Estelle bersuara.

“Es….”

Estelle tetap diam.

“Estelle….”

Estelle tak bereaksi.

“Clarita!”

Bahu Estelle langsung menegang dipanggil dengan nama kecilnya.

Estelle memutar kepala dan menghunjam Marc dengan tatapan tajam.

“Bisa tidak kau tutup mulutmu dan fokus ke depan? Tak usah banyak bicara!” bentaknya.

Bukannya merasa tersinggung dibentak seperti itu, Marc tersenyum dalam hati. Menyenangkan sekali ternyata membuat Estelle kesal.

“Oh, aku lupa. Kau juga tidak punya waktu melayaniku bicara, ‘kan? Ya sudah kalau begitu. Aku bicara sendiri saja,” ucap Marc, bermaksud menggoda Estelle.

Dahi Estelle berkerut. “Kau sakit?” tanyanya, menampilkan ekspresi ngeri di wajah.

“Tidak.” Marc menoleh ke arahnya. “Memangnya aku tampak seperti orang sedang sakit?” ia bertanya balik.

Estelle menggelengkan kepalanya. Sorot ngerinya kemudian berubah jijik. “Ya. Tampak seperti orang sakit jiwa.”

Tawa Marc langsung pecah, membuat Estelle berjengit di tempat. Ia rasa pria itu memang sakit jiwa.

“Fokus ke depan! Aku belum berniat mati muda!” bentak Estelle pedas.

“Iya, iya.” Marc masih belum bisa menghentikan tawanya.

Kesal karena Marc masih tenggelam dalam tawanya, Estelle bertanya dengan sinis. “Apa sih yang kau tertawakan?”

“Kau.” Marc melemparkan senyum humoris yang ditanggapi dingin oleh Estelle.

“Tak ada yang lucu,” ucapnya datar.

“Kaulah yang membuat lucu.”

Komentar Marc mendapat tatapan kesal dari Estelle. Tahu kalau semakin ditanggapi Marc akan semakin melunjak, Estelle diam. Ia mengabaikan komentar bodoh Marc mengenai cuaca.

Tidak orang Inggris, orang Spanyol, selalu saja mengomentari cuaca, Estelle membatin dongkol.

To Be Continued…

19 thoughts on “Fanfiction : The One That Got Away #12

  1. Ada beberapa dialog yang nggk ditutup pakek tanda petik, Rit. Eh, itu kelupaan atau bagaimana? Tapi kalo masalah tulis-menulis kamu lebih ngerti, Rit😀 dan di bagian “Kau mengancamku?” tanya Casey dengan suara rendah. Roser menggeleng. “Bla..bla…” Itu apa nggk enak dijadiin dua paragraf ya, Rit. Errr…abaikan saranku yang sok pinter itu. Tapi aku boleh kan tertawa jahat baca bagian Alicia disiksa Marc?😀 Harusnya, Marc nyiram Alicia pakek air juga, biar kedinginan tidur di luar dg keadaan basah >.<😄 ya, apa yg dialami Estelle itu banyak dialami anak2 "nakal" skarang. Casey salah satu contoh orang tua egois😀 ya, entahlah, aku ikut emosi baca cerita ini. Aku selalu suka gaya diksimu, penggambaranmu, semuanya. Jujur, sih, selama ini aku banyak belajar dari gaya bahasamu. Err…ini ngomong2 kok komenanku panjang ya? Tapi gpp deh, terlajur keposting😄 keep writing Rit, biar cepet lanjut😀

    Disukai oleh 1 orang

    • Kenapa tidak diakhiri tanda kutip di ujung kalimat, itu dikarenakan dialog berasal dari tokoh/karakter yang sama dan terlalu panjang jika dijejalkan dalam satu paragraf. Makanya dipecah jadi beberapa paragraf dan ujungnya tidak kukasih tanda kutip penutup agar pembaca tahu pembicaraan dari tokoh tersebut terus berlanjut.
      Hihihi… Iya, ‘bagian “Kau mengancamku?” tanya Casey dengan suara rendah. Roser menggeleng. “Bla..bla…”’ lupa aku enter.
      Mau tertawa jahat? Boleh banget. Hihihi…. Iya, temanya kuambil dari kejadian di sekitarku. Bukan salah mereka (anak broken home) kalo sikap mereka seperti itu. Ada sebab pasti ada akibat. Di ff ini aku menceritakan dari setiap sudut pandang tokoh yang terlibat. Dari orangtua, anak, lingkungan sosial, hingga ke pertemanan. Pasti ada penyebab kenapa mereka bisa seperti itu dan tugasku di sini selain bercerita juga mencari solusi. Hihihi… Semoga pesan moral yang mau kusampaikan tidak terkesan menggurui.🙂
      Aku juga masih belajar neng. Masih buka-buka kamus tiap dapat kosakata baru dan cari sinonimnya biar gak stuck di kata-kata itu saja.
      Over all, makasih ya udah baca dan kasih koreksiannya. Gak pa-pa kok komennya panjang-panjang. Lebih panjang lagi juga gak pa-pa. Malah bagus😀

      Suka

  2. nunggu lama bgt ini ff ini uda kangen berat. aku gatau bolis mau ngomen apa–tapi kalo gak ngomen tar dikira SiDer. pokoknya aku suka-lah part ini. part yang sedikit menegangkan apalagi scene Roser-Casey yang keliatan sama-sama mengancam. Dan, buat Alicia. tobatlah kau, Nak. sebelum terlambat. hhehee. Lanjut ya Bolisssss :*

    Suka

  3. ini aku perhatiin gaya bahasanya sedikit beda yah sama ff-ff kamu yg dulu-dulu, lebih puitis dan deskriptif (bener loh😀 ). btw pas casey sama roser adu mulut itu berasa nonton film action pas jagoan-jagoannya saling mengintimidasi satu sama lain sambil minum alkohol wkwk…

    btw ini dari awal casey sama roser emang nikah karena “rencana” mereka, bukan karena bener-bener cinta, gitu? soalnya aku nangkepnya di part ini sih pernikahan mereka cuma bagian dr “rencana” itu, tp kalo baca di part2 awal ada bagian dimana casey ngomong ke roser dengan penuh cinta, intinya casey cinta banget sama roser.

    hmm, btw marc ini psikopat bener dah. udah pernah nyambuk estelle, sekarang ngiket alicia dan dengan tanpa dosanya senyum2 + ketawa2 ke estelle. benci watak marc sama casey di ff ini ;(

    Suka

    • Terkadang otak terlalu liar berimajinasi. Makanya pas di tengah-tengah, eh, ide membelot. Hihihi…. Beberapa adegan di awal cerita udah kuedit-edit dikit sih, Kak.😀
      Agak beda ya? Aku juga ngerasa sih. Semoga bukan sebuah kemunduran ya.😀
      Btw, thanks for reading ya, Kak Tami ^^

      Suka

  4. Gk jadi komen deh, gk tau komen ap??? Tapi emang bahasanya agak beda sama tulisan kak Rita biasanya, tapi teep keren, aku selalu suka sama tulisan kakak. Lanjut !!!
    Ciee Marc Estelle cieee *ngomong APA sih*

    Suka

  5. Hai kak namaku rima salam kenal..

    Aku suka banget sama ff kk cerita nya bagus2 seru lagi .

    Maaf juga udah jadi silen rider bukannya gk mau coment cuman aku bingung juga mau coment apa.

    Dan setelah aku pikir2 gak baik juga sih jadi silen rider jadi aku putuskan buat menghargai karya orang lain walaupun coment nya agak geje .

    Sekali lagi aku minta maaf

    Suka

    • Hai, Rima😀 Salam kenal juga ya. Seneng kalo misalnya dikau suka sama cerita buatanku. Hihihi…. Dimaafkan kok. Santai aja neng. Mau komen segeje apa pun, tetep kuladeni hihihi
      Thanks for reading yawwwwww *kecup basah* #yaikkkssss

      Suka

  6. Huah… setelah lumutan *apaan sih?? nungguin ini ff akhirnya nongol juga…😀
    sumpah!!! di part ini feel nya dapet banget!!! apalagi adegan bang Casey sma tante Roser jd tegang bcanya,,, terbaik lh kau kak *ala boboiboy (y)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s