ONESHOT : Find The Way

I’m not really sure. But, happy reading🙂

Laura mengembuskan napas keras-keras, menatap kesal ke arah ponsel yang sejak sejam lalu terus bergetar setiap dua menit sekali. Peneleponnya orang yang sama. Orang yang membuat Laura sangat kesal.

Sumpah, rasanya ingin sekali Laura mencampak benda pipih itu ke tong sampah jika ia tidak ingat sedang menunggu kiriman foto dari Stuart dan Eleanor, teman satu kelompoknya yang sedang berada di pedalaman Kalimantan untuk melakukan penelitian mengenai persebaran suku Dayak Punan, salah satu rumpun Dayak yang masih primitif, sehingga mengusik rasa penasaran mereka untuk meneliti suku tersebut untuk kemudian dijadikan bahan laporan akhir mereka di semester ini.

Laura tidak ikut terjun langsung ke lapangan. Sebaliknya, ia tetap tinggal di Cambridge dan bertugas menjadi pengumpul setiap jenis informasi yang didapatkan dari kedua rekan dan berbagai sumber lainnya. Lalu, menyalinnya ke dalam bentuk laporan ilmiah yang akan dipresentasikan pada ujian akhir.

Jadi penelitian ini bersifat wajib. 60% nilai kelulusan di semester ini ditentukan dari hasil laporan akhir mereka. Mereka diberi waktu satu setengah bulan. Waktu yang menurut Laura terlalu singkat mengingat perjalanan mereka–Stuart dan Eleanor–ke Kalimantan harus melalui terjangan arus sungai Kapuas yang ekstrim untuk dapat mencapai ke hulu. Belum lagi mereka harus mendaki, masuk hingga ke pelosok-pelosok hutan untuk mencapai perkampungan tempat penduduk suku Dayak Punan menetap. Perjalanan itu membutuhkan waktu hampir seminggu. Itu pun sudah dibantu oleh warga setempat untuk mencapai tempat tersebut.

Sebenarnya pemilihan Kalimantan sebagai tempat melakukan penelitian merupakan keinginan mereka. Pihak kampus memberi mereka kebebasan untuk melakukan penelitian apa saja asal berkaitan dengan kebudayaan manusia, sesuai dengan jurusan yang mereka ambil, Department of Anthropology, Faculty of Arts and Sciences. Namun, karena kesulitan berkomunikasi akibat perbedaan bahasa dengan penduduk Dayak Punan, hingga gangguan kecil lainnya seperti diare akibat makanan yang tidak cocok dengan perut mereka, membuat penelitian ini berjalan sulit.

Sebenarnya Laura yang mewarisi setengah darah Indonesia dari ibunya sudah menawarkan diri untuk terjun ke lapangan. Karena dari awal ia sudah memprediksi hal seperti ini pasti terjadi. Stok makanan yang Stuart dan Eleanor bawa tidak akan mencukupi selama tinggal di salah satu kampung yang dihuni penduduk asli tersebut. Selain itu, akses untuk menuju ke sana juga sulit. Sehingga tidak memungkinkan untuk Stuart maupun Eleanor membawa barang terlalu banyak.

Namun, gadis bertubuh jangkung dan rambut semerah tembaga khas Skotlandia, Eleanor Harrison, yang jelas memiliki rasa ingin tahu tinggi dan suka berpetualang ke tempat-tempat yang menurutnya menarik dan asing, bersikeras untuk ikut terjun langsung. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Selain untuk menambah daftar panjang tempat yang pernah ia datangi, Eleanor memiliki tujuan lain. Tujuan yang pada awalnya membuat Laura mengurut dada, namun akhirnya mengerti.

Mengesampingkan ego untuk terus dapat menjadi yang terbaik di jurusannya, Laura memilih mundur. Ini memang kesempatan terbesar Eleanor. Jadi Laura merelakan tempatnya diisi oleh gadis itu.

Bermodalkan kepercayaan dan keyakinan terhadap kedua rekannya, Laura tetap tinggal di Boston, terpisah berpuluh ribu mil jauhnya dari Indonesia. Sembari menunggu dengan sabar setiap penemuan atau informasi baru yang dikirim Stuart dan Eleanor kepadanya, Laura juga rutin berkonsultasi dengan dosen pembimbing mereka.

Kembali ke tujuan Eleanor. Gadis itu sebenarnya memendam rasa pada Stuart. Sudah dua tahun.

Sebenarnya mereka saling suka. Sikap Stuart yang cuek terkadang membuat Eleanor frustrasi. Semua cara sudah Eleanor coba untuk menarik perhatian Stuart. Dimulai dari menjadi gadis pemalu, responsif, bahkan sampai agresif, namun laki-laki itu benar-benar seperti patung hidup. Sedikit pun tidak memberi respons. Hanya memandang sekilas, kemudian kembali menaikkan buku ensiklopedia milik perpustakaan kampus ke wajahnya, dan melanjutkan kegiatan membaca yang tertunda.

Di lain sisi, tanpa sepengetahuan Eleanor, Stuart diam-diam suka memperhatikan Eleanor. Gadis itu menarik minatnya. Penuh semangat, suka bicara, mudah penasaran, dan antusias terhadap hal-hal baru. Bukankah itu tipe gadis cerdas?

Stuart menyukai gadis cerdas. Contohnya seperti Laura. Sayangnya gadis itu sudah punya kekasih di Spanyol. Kalau saja tidak, mungkin Stuart akan mempertimbangkan Laura menjadi kekasih potensial.

Gadis tercedas kedua yang Stuart kenal di Harvard University setelah Laura adalah Adelaide Alessandra, mahasiswi Public Health. Gadis itu bukan tipenya. Terlalu idealis, angkuh, dan penggiat kelompok self-proclaimed feminist–hal yang sangat dibenci sebagian kaum pria, termasuk Stuart. Bukannya Stuart membenci kebangkitan kaum feminis. Namun, untuk apa mereka menuntut kesetaraan gender sementara sebagian dari mereka membutuhkan perlindungan dari kaum lelaki. Benar-benar tidak masuk akal. Mereka selalu menuduh kaum lelaki merendahkan para wanita dan terlalu mendominasi di kehidupan mereka. Kalau tidak mau hidup mereka didominasi, apalagi bagi yang sudah menikah, lebih baik tidak usah menikah seumur hidup. Bukankah lelaki dilahirkan untuk jadi seorang pemimpin? Apalagi di dalam keluarga. Benar-benar munafik, bukan?

Tercerdas ketiga? Dialah Eleanor Harrison, gadis yang disukai Stuart setahun belakangan ini. Stuart beruntung sebenarnya karena ia tahu gadis itu juga menyukainya. Namun, Stuart enggan mendekati gadis itu. Belum saat ini. Tapi pasti akan ada waktunya. Suatu hari nanti.

Laura meraih ponselnya dengan kasar. Saat getaran terakhir berhenti, ia mengubah settingan ponselnya menjadi airplane mode. Setelah itu, ia melempar ponselnya ke atas meja belajar, tidak lagi memikirkan kiriman foto dari Stuart dan Eleanor.Layar laptop masih menyala di hadapannya, bukan menampilkan informasi suku Dayak Punan yang seharusnya ia cari, melainkan sebuah artikel berbahasa Spanyol yang memberitakan kedekatan seorang model majalah dewasa asal Portugal dengan seorang pebalap muda yang dijuluki The Baby Alien. Beberapa minggu setelah melakukan pemotretan untuk sebuah perusahaan pakaian, mereka tertangkap kamera saat sedang berjalan keluar dari sebuah restoran Italia di pinggiran kota Barcelona, setelah menghabiskan waktu beberapa jam di sana. Bahkan Marc juga mengantar Sara pulang ke apartemennya.

Demi Tuhan, mereka pikir apa yang mereka lakukan? Marc… apa pria itu sudah kehilangan kewarasannya? Tidakkah laki-laki itu mengingat Laura saat melakukan pertemuan itu dan memikirkan apa akibat dari perbuatannya? Dia benar-benar keterlaluan.

Laura menatap sekilas ke arah jurnal yang penuh coretan bolpoinnya, kemudian menutup dengan kasar dan menggesernya ke samping meja. Laptopnya ikut menyusul tak lama kemudian. Mood-nya benar-benar kacau hari ini.

Laura menopang siku di atas meja, memijat pelan kepalanya sambil memejamkan mata. Ia tidak berselera lagi melanjutkan pekerjaan penyusunan laporan setelah membaca artikel itu. Padahal waktu yang tersisa untuk menyelesaikan laporan tinggal 3 minggu lagi.

Semua gara-gara laki-laki itu. Laura menggeram.

Sialan! Kau benar-benar sialan, Marc! Tidak cukupkah kau menyakitiku selama aku berada jauh darimu? Apa kau sengaja melakukan ini padaku? Kalau ingin balas dendam padaku karena lebih memilih studiku dibandingkan kau? Kau pikir aku senang, hah, dengan keadaan kita seperti ini? Apa maumu sebenarnya? Apa, Marc? batin Laura berteriak marah.

Air mata menggenang di sudut mata Laura. Laura menengadahkan kepala ke atas. Giginya menggigit keras bibir bawahnya. Kedua tangannya terkepal di atas meja.

Aku benci padamu! Aku sungguh benci padamu!

Gigi Laura beradu tajam. Ia kembali memejamkan matanya. Dua bulir air mata kemudian membasahi pipi halusnya.

“Marc…,” lirihnya dengan nada perih.

Laura menekan kedua tangannya ke dada. Jari-jarinya mencengkeram keras kerah kemeja birunya. Bibirnya bergetar. Sekuat tenaga Laura coba mengendalikan dirinya. Hingga pada akhirnya ia menyerah. Laura menangis, tersedu-sedu memanggil nama pria itu. Meja di hadapannya tertutupi rambut cokelatnya, kemudian basah oleh air matanya.

***

Marc berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan ponsel tertempel di telinga. Raut gusar tercetak di wajahnya. Sesekali ia lidahnya berdecak. Marc kemudian meremas rambut dengan frustrasi.

Jari-jarinya tidak berhenti mengetik angka-angka di atas layar ponsel dan terus menempelkan benda itu ke indra pendengarannya. Hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban. Gadis itu sengaja tidak mengangkat.

Marc tidak menyerah. Dicobanya sekali lagi dan kali ini hanya terdengar tut sekali, kemudian mati. Marc menatap heran ke arah ponselnya, kemudian seketika tersadar bahwa gadis itu telah menon-aktifkan ponselnya.

“Laura…,” Marc mengerang putus asa sambil melempar tangannya ke udara.

Ia kembali mencoba. Hasilnya tetap sama. Ponsel Laura tidak aktif.

Tahu bahwa usahanya sia-sia, Marc melempar bokongnya ke atas sofa berbentuk L merah marun di sudut kamarnya, membuang ponselnya ke samping, dan menyandarkan punggung ke sandaran sofa dengan ekspresi merana. Ia menengadahkan kepala, menatap langit-langit.

Mata Marc merawang. Ia tahu Laura sedang marah padanya. Gadis itu salah paham. Marc ingin menjelaskan situasi yang terjadi. Tapi Laura tidak memberinya kesempatan.

Aku tidak bermaksud menyakitimu, Laura. Aku menyayangimu. Maafkan aku jika perbuatanku membuatmu marah. Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Sara. Bahkan berteman pun kami tidak. Hubungan kami murni hanya rekan kerja.

Marc mengangkat ponselnya lagi, dalam hati berharap semoga kali ini Laura mau menjawab panggilanya.

Kembali ia mencoba. Dan masuk! Namun, gadis itu menolak panggilan teleponnya di dering pertama.

Laura, please….

Marc memejamkan matanya. Ponsel masih tertempel di telinganya, hingga…

“Aku benci denganmu….”

Jantung Marc bagai terhantam beton. Tubuhnya mengejang. Bukan perkataan Laura yang mengenai ulu hati Marc, tapi tangisan gadis itu. Laura menangis. Gadisnya menangis.

“Laura….” Marc berkata lirih. Rasa sakit menyerang kuat dada Marc. Rasanya sesak.

“Aku benci padamu, Marc. Kau jahat! Kau jahat! Aku benci,” erang Laura tersedu-sedu.

Darah seolah menyurut dari wajah Marc. Tubuh Marc mematung. Tanpa sadar tangannya terkepal keras di atas paha. Garis rahangnya menegang. Urat di lehernya menonjol. Tapi mata itu, tak mampu menyembunyikan rasa bersalah yang teramat sangat.

“Laura, Sayang….” Marc kalut. Kekhawatiran akan gadis itu merasukinya.

Tangisan Laura tidak menunjukkan akan berhenti. Dada Marc semakin sakit. Telinganya terasa perih. Rasa nyeri menyerang seluruh saraf Marc mendengar setiap erangan marah dan kecewa dibarengi tangisan pilu yang diarahkan kepadanya.

Marc menunggu. Lama setelah itu, tangisan Laura mulai mereda. Tinggal isakan kecil yang masih menyayat hati Marc.

“Ra….” Marc memanggil gadis itu.

Tak terdengar jawaban dari seberang.

“Kau masih di sana?” tanya Marc cemas, ingin memastikan Laura masih mendengarkan.

“Ya….” Laura terdengar ragu-ragu.

“Aku ingin menjelaskan sesuatu. Tapi kumohon, jangan matikan ponselmu atau menyela hingga aku selesai bicara. Aku ingin meluruskan apa yang terjadi. Sesuatu yang membuatmu menangis seperti tadi. Kau mau janji padaku?” tanya Marc, diam-diam merasa waswas Laura tidak mau mendengarnya.

Lama tak terdengar suara. Namun, Marc dapat menangkap tarikan napas Laura yang berembus pelan.

“Ya,” jawab Laura, kali ini terdengar lebih meyakinkan.

“Aku tahu seharusnya kita bertatapan muka saat aku menjelaskan ini padamu. Aku minta maaf tidak bisa berada di dekatmu untuk mengatakan ini. Sungguh, demi apa pun di dunia ini, aku tidak memiliki hubungan khusus terhadap Sara. Sedikit pun tidak. Kami tidak berteman.”

Marc memberi jeda sebelum melanjutkan, “Malam itu, kami tidak berdua. Ada Hector dan Alex bersamaku. Aku tidak merecanakan pertemuanku dengan Sara. Kami hanya kebetulan bertemu dan Hector yang mengenal Sara karena ayah Sara adalah teman baiknya, mengajak dia bergabung bersama kami. Hanya saja pada saat kami selesai makan malam, Hector pamit duluan karena ada urusan mendadak. Sedangkan Alex sudah pergi duluan sebelum makan penutup dihidangkan. Otomatis tinggal kami berdua.”

“Setelah selesai makan, aku bersikap sopan menanyakan dengan siapa dia pulang. Saat tahu dia akan pulang naik taksi, aku menawarinya tumpangan. Kau tahu, bukan, taksi bukan opsi terbaik untuk ditumpangi seorang gadis pada malam hari. Tidak aman. Kebetulan tujuanku juga searah dengannya. Jadi kutawari dia untuk pulang bersamaku. Hanya itu. Tidak lebih. Aku tidak melakukan apa-apa dengannya. Jangan percaya pada media, Laura. Mereka hanya mencari untung dengan menjual berita murahan macam itu. Jangan pernah kau percaya,” jelas Marc panjang lebar. Dalam hati berharap Laura memercayainya. Ia tidak bohong, sungguh. Itulah yang terjadi.

Lama tak terdengar respons Laura, membuat Marc semakin cemas.

“Laura….”

“Apa kau berharap aku percaya padamu?” tanya Laura pada akhirnya. Suaranya terdengar letih di telinga Marc. Ini bukan berita baik.

“Tidak ada yang paling kuinginkan selain kepercayaanmu terhadapku. Aku tahu situasi kita cukup sulit saat ini. Hanya bermodalkan kepercayaan agar kita bisa terus bertahan. Ini tidak mudah. Aku bisa mengerti jika kau masih meragukan penjelasanku, Laura. Karena kita memang terpisah oleh jarak. Tidak memungkinkan kita untuk saling melihat dalam waktu dekat. Tapi aku hanya ingin kau percaya. Aku tidak melakukan itu. Bahkan terpikir untuk melakukannya pun tidak pernah.” Marc tahu gelengan kepalanya tak akan terlihat oleh Laura.

Marc berjalan ke arah balkon. Pemandangan malam tampak di luar. Lampu-lampu dari bangunan yang berdiri kokoh di bawahnya, serta gedung tinggi yang tampak di kejauhan, memancarkan terang samar. Marc tidak tahu sejak kapan matanya mulai dilapisi cairan bening.

Ia tersenyum pahit. Sejak bertemu dan mengenal Laura, bahkan kini menjadi kekasih gadis itu, Marc merasakan banyak perubahan pada dirinya. Berlebihan memang jika seorang gadis mampu mengubah seorang jantan menjadi sosok melankolis. Tapi Laura berhasil. Gadis itu melakukannya terhadap Marc. Laura, satu-satunya gadis yang Marc beri izin untuk mengatur hidupnya. Bahkan Marc–yang entah sejak kapan, ia sendiri pun tidak tahu kapan tepatnya– telah menaruh separuh hidupnya pada Laura. Marc berani memberikannya karena ia percaya gadis itulah yang ia inginkan untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya kelak. Keyakinan itu bukan tak beralasan. Seseorang berkata, jangan pernah kau hidup dengan orang yang kau pikir bisa hidup dengannya. Tapi, hiduplah dengan orang yang kau pikir tidak bisa hidup tanpanya.

Dan orang itu adalah Laura. Alasan kenapa Marc tidak bisa menggunakan akal sehatnya jika berdekatan dengannya. Gadis itu mengambilnya–mencuri bahkan–semua yang menjadi milik Marc, sehingga Marc tidak mempunyai apa-apa lagi. Namun, semua itu sebanding dengan apa yang Marc dapatkan. Cinta. Cinta dari gadis yang ia cintai. Tidak ada yang lebih membahagiakan saat kau tahu bahwa gadis yang kau cintai juga mencintaimu. Sesederhana itu.

“Laura….” Marc memanggil ragu-ragu.

“Terima kasih,” sahut gadis itu, terdengar lega.

“Untuk apa?” tanya Marc heran.

“Menjelaskan semuanya padaku. Maaf aku menuduhmu cheating. Aku benar-benar menyesal.”

Sesuatu membuncah dalam diri Marc. Sudut-sudut bibirnya bergetar. Marc terbahak sampai harus membungkukkan tubuhnya.

“Kau benar-benar di luar dugaan,” ucap Marc, merasa sangat lega akhirnya permasalahan mereka selesai. “Aku khawatir kau tidak mau mendengarku, kau tahu?”

“Maaf. Marc….” Terdengar embusan berat gadis itu.

“Ya?” respons Marc lembut.

“Aku benar-benar merindukanmu.”

Bibir Marc tertarik ke atas. “Begitu juga aku. Lebih dari yang kau tahu.”

“Besok ke Le Mans, ‘kan? Sudah berkemas? Sekarang pasti sudah larut. Kau seharusnya banyak istirahat. Kumpulkan tenagamu. Kau tidak boleh kelelahan. Itu akan memengaruhi hasilmu di sana,” ucap Laura, menasihatinya.

Hati Marc hangat mendapat perhatian kecil Laura. “Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang jika gadisku yang berada jauh berpuluh-puluh mil dariku sedang marah kepadaku? Aku tidak bisa, Laura. Aku tidak tenang memikirkanmu setelah berita itu muncul di media. Rasanya pasti tidak menyenangkan mendengar kekasihmu diberitakan sedang kencan dengan orang lain sementara kau berada jauh di sana. Maaf membuatmu merasa seperti itu. Kau tidak seharusnya mendengar adanya berita ini,” gumam Marc.

“Lupakan, Marc. Aku baik-baik saja. Well, setidaknya sekarang aku merasa jauh lebih baik. Tidak usah dipikirkan. Istirahatlah. Aku mencintaimu, sangat.”

Marc menyukai kata ‘sangat’ yang diucapkan Laura. Kata itu terdengar seksi sekaligus hangat.

Marc kemudian membalas, “Lebih dari hidupku sendiri, Laura. Aku juga mencintaimu.”

“Selamat malam, Marc. Mimpi indah.”

“Pasti. Aku akan memimpikanmu malam ini. Sampai bertemu lagi.” Di mimpiku. Aku akan melihatmu di sana, kemudian memeluk dan menciummu.

***

Dua jam lalu, Laura masih dapat mendengar kekehan Marc. Mereka bahkan masih saling menggoda. Kebiasaan yang sering mereka lakukan untuk melepas ketegangan sebelum Marc menghadapi race di atas lintas balap.

Namun, saat berita itu muncul beberapa menit lalu, bahkan menjadi trending topic dunia saat ini, Laura merasa hidupnya di ujung tanduk. Sesosok bayangan gelap dapat Laura lihat di depan matanya. Dengan kedua sayap terkepak di belakang tubuhnya, itu adalah malaikat pencabut nyawa yang siap untuk mengambil nyawa seseorang.

Laura tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di kabin pesawat. Saat mendengar beberapa mahasiswa heboh dengan berita kecelakaan hebat yang menimpa salah satu pebalap MotoGP, jantung Laura berhenti berdetak. Dan saat nama pebalap itu disebut namanya, Laura histeris.

Tidak mungkin itu Marc. Tapi kenyataannya laki-laki itulah yang dibicarakan oleh mahasiswa seantero kampus.

Laura membatalkan pertemuan terpenting dengan dosen pembimbingnya tanpa pemberitahuan. Dibantu beberapa mahasiswa agar bisa berjalan, Laura langsung pulang ke apartemennya, bersiap terbang ke Barcelona.

Tanpa membawa bagasi, hanya bermodalkan diri dan sebuah tas berukuran sedang berisi dompet dan paspornya, ia duduk seperti orang terkena autis. Diam tak bergerak dengan sepasang mata bengkak dan sembap.

Laura menghitung dalam hati detik demi detik berlalu saat pesawat yang ia tumpangi meninggalkan landasan pacu.

Laura duduk dengan raut gelisah. Kedua tangannya sedari tadi tidak bisa diam. Keringat menetes dari pelipisnya dan membasahi lehernya. Padahal suhu ruangan cukup dingin. Orang-orang dalam kabin pesawat yang melihatnya, mengira penyakit epilepsi yang diderita Laura kambuh. Laura tidak peduli apa yang orang-orang pikirkan. Saat ini pikirannya kalut.

Laura memejamkan matanya, menautkan jari-jari di depan dada, bibirnya bergumam Tuhan beberapa kali.

Air mata kembali membasahi wajah Laura.

Kumohon, Tuhan. Selamatkan dia. Jangan ambil dia sekarang. Masih banyak yang belum kami lakukan. Beri dia kesempatan untuk hidup. Dia tidak boleh mati. Kumohon, Tuhan….

***

Bagai terlempar ke dasar jurang, semua orang menangis di kursi tunggu saat dokter keluar dari ruang operasi setelah menangani Marc selama dua belas jam dan memvonis kaki kanan Marc akan lumpuh akibat terputusnya salah satu saraf terpenting.

Semua orang terpukul. Bahkan Roser sampai harus dipapah ke ruang IGD untuk mendapat bantuan oksigen akibat tidak kuat menahan kenyataan pahit yang menimpa putra sulungnya. Alex menemani Roser sementara Julia terus mendesak dokter agar mendapatkan cara untuk menyembuhkan kaki Marc. Pria paruh baya itu bahkan sampai bersujud di hadapan dr. Mir sebelum ditarik berdiri oleh Hector.

Laura yang duduk di ujung tidak berani bersuara selain memperdengarkan isakan hebatnya. Tito yang berada di sebelahnya coba menenangkan gadis itu walaupun ia sendiri cukup terpukul akan kondisi sahabatnya.

“Ini tidak mungkin terjadi, bukan? Tito, katakan, aku pasti sedang bermimpi. Tampar aku. Pukul aku. Aku pasti sedang bermimpi. Benar kan, Tito? Jawab aku! Aku sedang bermimpi, ‘kan?” Laura menggucang lengan Tito.

Tito tidak tahu harus berkata apa. Ia juga berharap ini mimpi. Tapi inilah kenyataan yang sedang terjadi. Sahabatnya, Marc, mulai hari ini akan mengucapkan selamat tinggal pada ajang balap yang membesarkan namanya. Demi Tuhan, kenapa ini harus terjadi?

***

Dua bulan telah berlalu sejak kecelakaan mengerikan itu terjadi. Tak terdengar lagi berita tentang Marc sejak berita resmi laki-laki itu mundur dari ajang balap yang membesarkan namanya.

Posisi Marc di Repsol Honda sendiri digantikan oleh Hiroshi Aoyama. Dunia perbalapan seolah kehilangan sosok murah senyum ini. Tak ada lagi angka 93 dengan bendera semut merah yang menghiasi bangku penonton. Dunia berduka atas kehilangan salah satu talenta muda yang harus gantung helm lebih cepat.

Selama dua bulan ini, Marc dirawat jalan di rumahnya, di Andorra. Laura yang sejak hari di mana Marc kecelakaan, tak sekali pun meninggalkan pria itu. Bahkan Laura rela mengambil cuti dan mengikhlaskan gelar Summa Cum Laude sebagai lulusan terbaik dari universitas nomor satu di dunia itu.

Demi Marc, Laura rela meninggalkan semuanya. Keputusan ini membuat ibunya berang bukan main. Ibunya, Elena Wilhemia Tanujaya, merupakan seorang pengacara terkenal di New York, tidak habis pikir apa yang ada di otak Laura. Entah setan jenis apa yang merasuki putrinya hingga rela mengorbankan masa depannya demi laki-laki cacat tak berguna seperti Marc. Benar-benar bodoh!

Tapi Laura bukan Laura jika tidak tetap pada pendiriannya. Ibunya boleh saja marah. Bahkan Stuart dan Eleanor juga marah padanya. Apalagi dosen pembimbingnya. Tapi ini hidupnya. Mereka tidak berhak ikut campur.

Terdengar egois dan naif memang. Tapi ini keputusannya. Dan tak seorang pun dapat mengganggu gugatnya.

***

Marc memandangi Laura yang terbalut dalam gaun biru laut selutut dan sebuah celemek menempel di depan tubuhnya, memunggungi Marc di balik konter dapur. Terlihat gerakan gadis itu telanten, berjalan ke sana-kemari, mengobrak-abrik kulkas, dan mengambil bahan-bahan yang dibutuhkannya untuk membuat makan siang.

Pemandangan seperti ini sudah berlangsung sejak dua bulan lalu. Marc selalu suka cara Laura bekerja di dapurnya. Ini benar-benar definisi rumah seperti yang ia impikan. Dengan seorang gadis yang selalu memasakkanmu makanan, mengurus keperluanmu, dan mendukungmu di saat susah ataupun senang.

Samar-samar bau harum masakan mulai tercium. Marc tersenyum. Laura memang sangat berbakat dalam urusan dapur.

Lama dipandanginya Laura, perasaan bersalah yang sering Marc rasakan kembali muncul. Rasa bersalah karena menahan gadis itu bersamanya. Walaupun ia tidak pernah meminta. Pernah suatu hari ia meminta Laura pulang, namun gadis itu bersikeras ingin tetap bersamanya.

Gadis itu seharusnya sekarang ada di Amerika, sedang kuliah, bukannya terjebak bersama lelaki lumpuh di sini. Walau begitu, Marc tak dapat menyembunyikan rasa bahagia di hatinya. Meskipun lumpuh, Laura masih menerimanya apa adanya. Gadis itu bahkan rela menghabiskan waktunya demi menemani Marc di Andorra.

Marc tahu sebenarnya ia tidak pantas bersanding dengan Laura dengan kondisinya seperti ini. Ia tak ubahnya seorang laki-laki cacat yang–demi Tuhan, ia seharusnya menyuruh Laura pulang dan meneruskan sekolahnya.

Saat makan siang sudah terhidang di meja makan, Laura dengan senyum semringah menghampiri Marc. Celemek hijau masih membungkus tubuhnya. Ekor rambut Laura bergoyang saat berjalan. Gadis itu tampak sangat cantik dengan penampilan sederhananya hari ini.

“Makan siang sudah siap. Ayo kita makan,” ucapnya bersemangat sambil memamerkan senyum menawan.

Marc membalas senyum itu. Tanpa dibantu Laura, Marc memutar roda kursinya menuju meja makan.

Bau harum omelet dengan mashed potatoe buatan Laura mengudara saat Marc mendekat ke meja makan. Masing-masing terhidang dua porsi.

Laura menuangkan air putih ke gelas Marc dan gelasnya. Mereka berdoa sebelum makan. Marc yang memimpin doa tersebut.

Sejak mengalami kecelakaan, Marc banyak mengalami pemulihan iman. Laki-laki itu menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Rutin datang ke gereja dan berdoa sebelum melakukan sesuatu.

Laura tersenyum saat menatap raut nikmat yang tercetak di wajah Marc.

“Omelet terenak dan mashed potatoe terlezat yang pernah kucicipi. Terima kasih untuk makanannya,” ucap Marc dengan mata memancar tulus.

“Sama-sama kalau begitu.” Laura terkekeh pelan.

Mereka kembali melanjutkan makan sebelum suara interkom di pintu depan terdengar dan menghentikan kegiatan makan mereka. Kedua kepala itu refleks menoleh bersamaan.

Kening Laura mengerut. Ia menengadah memandang jam dinding di atas pintu masuk dapur. Pukul 2 siang. Siapa yang datang berkunjung siang-siang seperti ini?

Marc mengarahkan pandangan bertanya yang langsung disambut gelengan tidak tahu dari Laura.

“Sepanjang ingatanku, aku tidak membuat janji dengan siapa pun. Kau sendiri?” Laura balas bertanya.

“Aku juga tidak.” Marc mengangkat barunya.

Laura mengerucutkan bibirnya sejenak, coba menebak-nebak. Tapi ia tahu menebak seperti ini tidak akan gunanya jika ia tidak segera membuka pintu untuk melihat secara langsung siapa si tamu tersebut.

“Baiklah. Aku akan melihatnya.. Kau tunggu di sini, oke? Aku akan segera kembali.” Laura mengecup pipi Marc sekilas sebelum menghilang.

Laura berjalan ke ruang depan. Saat mengintip ke layar yang tertempel di samping pintu, tubuh Laura mengejang seketika. Matanya membelalak lebar.

Mau apa Mama ke sini? Laura bertanya waswas.

Laura menyiapkan diri sebelum membuka pintu. Jantung berdetak keras saat melihat ekspresi dingin ibunya.

“Mama?” Suara Laura bergetar saat memanggil ibunya.

Kedua alis Elena terangkat. “Kenapa terlihat terkejut sekali melihat Mama di sini?” tanya wanita itu datar. Meskipun terkesan tak acuh, namun mata Elena menatap nyalang sekujur tubuh Laura dari atas hingga bawah. Bagian yang paling lama dilihatnya adalah perut Laura.

Sadar mata Elena yang mengarah tajam membuat Laura risih ditatap seperti itu.

“Mama lihat apa sih?” tanyanya tak nyaman.

Elena menyeringai. Wajahnya terlihat angkuh. “Cuma mengecek. Siapa tahu saja anak Mama sudah dibuntungi sama laki-laki cacat itu!” ucap Elena dengan nada mengecam.

Laura melotot tak senang. “Mama! Kalau bicara jangan sembarangan ya. Kami tahu batas. Jadi jangan pernah Mama bicara seperti itu lagi. Dan satu lagi, aku tidak suka Mama menyebut Marc laki-laki cacat. Dia tidak cacat!”

Ekspresi puas setelah mendengar pengakuan Laura tergurat di wajah Elena. “Oh, bagus kalau begitu. Karena Mama tidak sudi punya cucu dari laki-laki tak berguna seperti dia.”

“Mama!”

“Apa?!” balas Elena, menantang. “Memang benar kan dia laki-laki tak berguna? Memang bisa apa dia di atas kursi rodanya? Berjalan saja susah apalagi mau bekerja. Menyusahkan saja,” dengus wanita itu jijik.

Laura benar-benar marah sekarang. Kalau kedatangan ibunya ke sini hanya untuk menghina Marc, ia tidak segan-segan akan mengusir ibunya dari sini. Peduli setan. Mulut jahat ibunya tidak akan berhenti kalau belum dibungkam paksa.

“Mendingan Mama pulang sekarang. Aku tidak mau bertemu dengan Mama.”

Elena memincingkan matanya. “Kau mengusir Mama?” Suara tajam Elena membuat bulu kuduk Laura meremang. Ekspresi angker mulai terlihat di wajah ibunya.

Laura mendeham samar. “Ya,” jawabnya, sengaja dibuat seketus mungkin.

“Laura!” bentak Elena keras.

Bahu Laura tersentak. Tapi ia tidak gentar menghadapi ibunya. Jika ditanya dari mana ia mewarisi sifat keras kepala, ibunyalah yang berjasa menurunkan sifat itu kepadanya. Laura bisa lebih keras kepala dari ibunya jika ia mau.

“Apa? Apa yang Mama mau sebenarnya?” Laura bertanya dengan bibir terkatup.

“Tinggalkan dia dan ikut Mama pulang ke Amerika. Tempatmu bukan di sini.”

“Tidak mau,” jawab Laura dengan keras kepala.

“Kau harus mau.” Elena memaksa.

“Mama!” Laura memprotes.

Elena memandang garang. “Laura, dengar. Aku bicara begini karena aku tahu apa terbaik bagimu. Jangan kau butakan matamu dan keraskan hatimu. Marc bukan saja cacat, tapi dia tidak punya masa depan,” desis Elena, menekan setiap kata-kata di kalimat terakhirnya.

Gigi Laura saling beradu. Kepalan tangannya terbentuk sempurna. Ia balas memandang tatapan garang ibunya. “Jangan pernah Mama menghina Marc, apalagi mengatainya. Aku tidak peduli secacat apa pun dia, tapi Marc masih punya masa depan. Akulah masa depannya.”

“Cih!” Elena mendecak lidah. “Percaya diri sekali anak Mama ini. Akhirnya kau mau mengakui dia cacat, ‘kan? Cih!” Elena menggelengkan kepalanya.

Laura sakit hati mendengar kata-kata ibunya. “Seharusnya Mama tidak bicara seperti itu. Mama ingat, tidak? Marc bahkan bisa menerima Laura apa adanya saat Laura mengalami kecelakaan setahun lalu. Dia bahkan rela setiap habis race tidak pulang ke Andorra atau Cervera demi menjaga Laura di rumah sakit. Sedetik pun dia tidak pernah meninggalkan Laura. Apa begini balasan Mama ke Marc? Begini balasan Mama untuk orang yang rela mengorbankan waktunya untuk menjaga putri Mama? Bahkan Mama sendiri, demi Tuhan…,” Laura menahan isak yang hendak pecah, “…tidak pernah ada saat Laura butuh. Ke mana Mama seminggu setelah Laura kecelakaan? Laura bahkan belum bisa berjalan dengan kaki Laura sendiri. Tapi Marc…, Marc yang selalu menemani dan ada untuk Laura. Mama ke mana?” tanya Laura dengan suara tercekat. Dua bulir air mata membasahi pipinya.

“Mama tidak ada di sana bukan berarti Mama tidak mengawasimmu, Laura,” sela Elena tajam, tidak terima dituduh sebagai ibu tidak bertanggung yang meninggalkan putrinya saat sedang sekarat di rumah sakit.

“Oh ya? Apa yang Mama awasi? Aku atau bajingan sialan yang suka memeras ua–“

PLAK!

Tamparan keras mendarat mulus di pipi Laura. Laura memegangi wajahnya yang terkena lima jari ibunya. Kulitnya terasa panas dan berdenyut-denyut.

“Tutup mulut kurang ajarmu! Beraninya kau mengatai Andrew bajingan sialan.” Elena menusuk tatapan membunuhnya tepat ke manik Laura.

Laura memandang muak ke arah ibunya. Perasaan benci perlahan-lahan menjalar ke tubuhnya. Laura menyunggingkan seringaian mengejek.

“Itulah kau,” kata Laura dengan nada mencemooh. “Kau tidak pernah menerima apa pendapat orang mengenai dirimu. Sama sepertiku. Tapi aku bersyukur mewarisi rasa malu dari Dad sehingga aku tahu sejauh mana aku bisa bertindak. Tidak seperti kau yang sudah putus urat malunya.”

Elena melotot, tidak senang penghinaan yang terang-terangan dilemparkan putrinya padanya.

“Kau memang ibuku, tapi kau bukan Tuhan yang memutus siapa jodohku kelak. Kau tidak berhak, kau tahu?” tukas Laura dengan kabut amarah di matanya. “Satu lagi, jika kau masih punya harga diri, setidaknya kau tahu diri untuk segera meninggalkan tempat ini. Aku tahu harga dirimu tidak mengizinkanmu dipermalukan seperti ini. Apalagi oleh putrimu sendiri. Aku hanya ingin kau belajar, Ma, hidup bukan hanya sekadar menilai kedudukan atau harta yang dimiliki seseorang. Tapi ini,” Laura menunjuk kepalanya, “dan ini,” kemudian turun ke dadanya.

Merasa cukup dipermalukan, Elena menggeram, “Jangan berpikir kau sudah menang. Kau akan menyesal pernah melakukan hal ini ke Mama. Kau lihat saja nanti. Camkan kata-kataku.”

Senyum tersungging di bibir Laura. “Tenang saja, Ma. Aku akan dengan senang hati menanggungnya,” jawab Laura dengan tenang.

Elena mendengus. “Kau tidak akan berkata seperti ini lagi saat hal itu terjadi. Aku berani jamin itu.”

Laura menaikkan kedua alisnya. “Kita lihat saja, Mama. Keyakinanku atau omong besarmu yang akan benar pada akhirnya. Aku tidak takut.”

Aura permusuhan sangat kentara di antara mereka sebelum Elena memutuskan untuk angkat kaki. Laura menatap dalam diam mobil yang dikendarai Elena menghilang di pertigaan jalan.

Laura mengembuskan napas berat. Dalam hati ia merasa sangat bersalah telah berkata seperti itu pada ibunya. Hanya Elena yang dimiliki Laura. Ayahnya telah meninggal saat Laura berusia 10 tahun akibat serangan jantung yang didapatkannya ketika dalam perjalanan pulang dari Brazil.

Sejak kematian ayahnya, ibunya stres berat. Gonta-ganti pasangan pun menjadi kebiasaan ibunya untuk menghilangkan stres tersebut.

Aku tidak bermaksud menantangmu. Tapi kau yang memaksaku melakukan ini. Maafkan aku.

Laura menutup pintu. Saat ia membalikkan badan, seketika ia membeku di tempat. Tatapan Marc yang duduk di atas kursi roda menghunjamnya, seolah sedang menelanjanginya. Penuh penghakiman, tuduhan, kemarahan, kekecewaan, sekaligus ada kegembiraan di sana. Namun, poin terakhir adalah partikel terkecil di antara semuanya.

Marc tidak senang setelah melihat pemandangan Laura melawan ibunya. Walaupun gadis itu mati-matian membelanya, hal itu justru membuat Marc terlihat semakin buruk dan benar kata ibu Laura, ia tidak berguna. Ia lelaki tak bermasa depan.

“Marc….” Laura mendekati Marc. Marc tidak berkata apa-apa. Hanya diam. Namun, sorot dingin di sepasang matanya membuat Laura cemas.

“Tidak seharusnya kau melawan ibumu seperti tadi,” ucap Marc setelah diam cukup lama.

Marc memandang Laura. Jenis pandangan yang membuat Laura takut.

“Benar kata ibumu. Tempatmu bukan di sini, Laura. Kau terlalu cantik dan otakmu terlalu cerdas untuk menjadi seorang pengasuh laki-laki cacat sepertiku. Kau seharusnya pulang ke Amerika dan melanjutkan studimu yang tertunda. Aku tidak ingin menghambatmu. Lagi pula aku juga sudah merasa lebih sehat untuk melakukan semuanya sendiri. Dengan adanya kau di sini malah menghambat kepulihanku. Pulanglah. Minta maaf pada ibumu. Bilang padanya kau menyesal telah mengasarinya dengan perkataanmu.”

Air mata menggenang di pelupuk mata Laura. Ia tidak menyangka Marc akan menyuruhnya melakukan ini. Setelah apa yang ia lakukan demi mempertahankan Marc, begini balasan yang ia dapatkan? Marc menyuruhnya pulang. Pulang? Diusir?

Laura menggigit bibir bagian dalamnya. Ia berlutut, meletakkan tangannya di atas tangan Marc. Mata Marc tetap dingin. Seketika sesuatu seperti kaca pecah dalam diri Laura. Serpihan-serpihan tajamnya menancap ke organ-organ dalamnya, menggores cukup dalam.

“Kau serius saat mengatakan ini?” tanya Laura dengan nada perih.

Marc tidak memandang ke arah Laura. “Ya,” jawabnya datar.

“Marc….”

Laura seperti terlempar dari ketinggian 1000 kaki, jatuh ke dedurian tajam, menggores setiap jengkal kulitnya. Bahkan rasa sakit itu tidak melebihi rasa sakit di hatinya.

“Pulanglah, Laura. Jangan datang lagi. Pulang.” Suara Marc bergetar saat menyuruh Laura pulang. Laura sadar itu.

“Kau tidak menginginkanku pergi, Marc.” Laura menggenggam tangan Marc yang langsung disentak kasar oleh pria itu.

“Aku menginginkanmu pergi. Aku mau kau pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu lagi,” seru Marc dengan nada tinggi.

Perkataan Marc melukai Laura lebih dalam. Tapi ia tahu Marc tidak bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Pria itu berdusta. Marc bohong.

“Seratus kali kau memintaku pergi, Marc, seratus satu kali akan kutolak permintaanmu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Karena aku tidak mau. Karena mencintaimu. Hanya kau satu-satunya alasan kenapa aku masih bisa menjadi Laura yang seperti ini. Kau yang membentukku. Kau yang mengubahku dari si dingin antisosial menjadi manusia sesungguhnya. Kau yang mengajarkan kepadaku bagaimana caranya tersenyum pada orang lain. Padahal itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan namun tidak bisa kulakukan sebelum aku bertemu denganmu. Kau banyak mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik, Marc. Kumohon, jangan memintaku pergi. Aku ingin hidup denganmu. Aku ingin berbagi semuanya denganmu. Izinkan aku tetap di sini. Bersamamu.” Laura terisak-isak saat meminta Marc mengabulkan permintaannya. Gadis itu beringsut mendekat. Tak peduli ia akan kembali ditolak Marc, Laura menyentuh wajah Marc. Matanya menyorot permohonan yang tak mampu disuarakan.

Marc tidak kuasa menolak. Ia juga mencintai Laura. Ia tidak cukup kuat membohongi dirinya sendiri. Tapi apa dirinya pantas? Laura terlalu sempurna. Sedangkan dirinya? Hanya sepasang tubuh dengan kaki cacat yang akan menghabiskan seluruh hidupnya di atas kursi roda.

“Kau gadis terkeras kepala yang pernah kutemui, Laura,” komentar Marc. Dan Laura tahu, itulah jawaban yang ingin ia dengar dari Marc.

***

Epilog will be coming soon. Waiting for your comments below. Thank you for reading😉

14 thoughts on “ONESHOT : Find The Way

  1. jadi sebenarnya, ini cerita tentang apa? Laura yg cemburu ngeliat Marc jalan bareng Sara atau Laura yg berani melawan ibunya demi menemani Marc yg lumpuh? trus apa kabar Stuart dan Eleanor? nggak diceritain juga tuh gimana dulunya Laura bisa kecelakaan?

    hmm, saranku sih, fokus di satu ide aja di tiap cerita, biar kesannya ceritanya nggak bercabang2 dan akhirnya malah meninggalkan subplot yg nggak penting.

    epilognya segera diposting, ya.😀

    Suka

  2. Aku suka saat Marc memanggil “Ra…” Nyess banget feelnya. Bener kata Kak Tami, banyak bagian yg kurang jelas. Tapi aku suka idemu yg memfokuskan beberapa cerita. Yg penting semua harus jelas diepilognya😀

    Suka

    • Aku juga suka panggilan itu. Panggilan yang dikasih Marc ke Laura kalo si Marc-nya udah bener-bener frustrasi. Hihihi…. Thank you for reading and masukannya juga ^^

      Suka

  3. Nah ini kmrn yg aku bilang ke kamu “ini cerita konfliknya padet ya rit.” Dan udah dikomen sama kak Tami.

    Aku ngena banget pas yg marc kecelakaan. Bayangin beneran.

    Sekali lagi, angka gabole ditaruh di awal kalimat ya Rita. Aku ga akan bosen ngingetin yg satu ini 😄✌

    Good Job. Ditunggu cerita yg lain 😚

    Suka

  4. hai… aku new reader nih.. salam kenal.. baru baca ini doang. tapi kayaknya aku salah pilih ff ini dulu. kenapa?? karena udah bikin aku sedih dan frustasi nggak karuan gara gara bayangin gimana kalau itu bener bener terjadi pada marc. hhhh.. sedih aku.😦
    tapi aku masih mau keliling di sini. minta ijin, tak obrak abrik dulu ya librarynya. hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s