My Secret, His Son #15

My Secret1 copy

Puji Tuhan setelah sekian lama gak nulis, akhirnya hari ini diberi kesempatan untuk mem-posting sebuah ff yang gak seberapa ini. Well, sejujurnya kurang pede. Nih ff mengandung unsur dewasa mennnnnnn. Jadi gak sehat banget bagi kalian yang masih di bawah umur baca yang beginian. Buat yang udah cukup umur, kuucapkan happy reading dan komentarnya ditunggu😉

Matahari bersinar cerah setibanya bus yang ditumpangi anak-anak dan para guru di tempat tujuan. Semuanya menyerbu turun–kecuali para guru tentunya. Pekikan semangat terdengar dari bibir mungil mereka. Ada yang saling bergandeng tangan, merangkul bahu, dan ada juga yang usil mengerjai teman mereka. Semuanya tampak gembira siang itu.

Semua anak dikumpulkan sebelum diberi izin masuk ke perkebunan. Mereka diberi instruksi mengenai cara terbaik memetik buah stoberi oleh seorang instruktor.

Mereka mendengarkan dengan saksama walaupun masih ada satu atau dua orang anak yang sibuk dengan diri masing-masing dan menggoda teman mereka yang sedang berkonsentrasi mendengarkan instruksi. Ada yang iseng mencolek pinggang teman mereka, menggelitik leher belakang, dan menjaili teman mereka dengan cara menarik-narik rambut–khususnya yang anak cewek. Si teman yang menjadi korban kejailan mereka hanya menggerutu dan melemparkan tatapan kesal. Tak jarang ada juga yang membalas perlakuan mereka.

Setelah pemberian instruksi selesai, masing-masing dari mereka diberi sebuah keranjang mungil. Sangat kecil hingga beberapa anak-anak mengernyitkan kening.

Keranjang sekecil ini bisa muat berapa buah? Mereka kan ingin memetik sebanyak yang mereka mau.

Total 30 anak itu dibagi menjadi 5 kelompok yang masing-masing didampingi oleh seorang ahli. Miguel masuk ke kelompok pertama yang didampingi oleh Mr. Alarcon, si pria berjanggut tipis dan berperangaian dingin. Mereka dibawa ke petak paling ujung.

Mr. Alarcon kemudian mencontohkan bagaimana cara memetik buah stoberi yang benar. Miguel dan teman-temannya memperhatikan dengan saksama, kemudian serentak ber-oh ria dan mengangguk-angguk kepala tanda mengerti.

Sebelum membiarkan anak-anak memetik buah, Mr. Alarcon bertanya apakah ada yang ingin ditanyakan.

Tangan pertama yang teracung ke atas kepala adalah milik seorang bocah menggemaskan yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Miguel Sánchez. Seperti kereta panjang, anak itu bertanya tanpa henti.

“Mr. Alarcon, aku ingin bertanya, kenapa stoberi berwarna merah? Lalu, kenapa saat dia berwarna merah kita baru boleh memetiknya? Oh ya, kenapa sih kita cuma boleh memetik 3 buah stoberi saja? Tidak boleh lebih ya? Kalau memetik 10 buah boleh tidak? Soalnya aku ingin memberi masing-masing buah hasil petikanku untuk Mommy-ku 2 buah, Grandma Ong 2 buah, Grandma dan Grandpa Sánchez 2 buah dan untukku 2 buah. Boleh tidak?”

Anak-anak lain mulai berkasak-kusuk. Seorang bocah laki-laki kemudian mendekati dan menepuk pundak Miguel dari belakang, lalu berbisik, “Hei, Man! Pertanyaan yang bagus. Aku juga ingin membawakan buah stoberi hasil petikanku untuk keluargaku. Bagus kau bertanya seperti itu.”

Dengan wajah salut anak itu mengangguk dan mengangkat jempol untuk Miguel. Sementara Miguel hanya terkikik geli.

Mr. Alarcon sempat menyapukan tatapan jengkelnya pada Miguel sebelum kemudian diserbu anak-anak lainnya dengan pertanyaan yang sama; kenapa hanya boleh memetik 3 buah saja? Kenapa, Mr. Alarcon? Memangnya apa yang akan terjadi jika kami memetik lebih dari 3 buah? Jawab pertanyaan kami, Mr. Alarcon.

Mr. Alarcon berdeham pelan. Ia mengacingkan bagian bawah kemeja tukang kebunnya yang terlepas sebelum menjawab pertanyaan anak-anak ini dengan ekspresi masam di wajah.

“Anak-anak, peraturan di kebun stoberi ini hanya memperbolehkan kalian memetik sebanyak 3 buah saja. Tidak ada pengecualian atau pengistimewaan. Setiap anak mendapatkan hak yang sama. Hanya 3 buah, tidak lebih dan tidak kurang. Jelas?” jelas Mr. Alarcon sedikit angkuh, kembali melemparkan tatapan sebalnya pada Miguel yang dianggapnya sebagai tukang rusuh karena telah membuat rusuh kelompok yang ia pegang dengan pertanyaan-pertanyaan cerdasnya.

“Tapi itu tidak cukup, Mr. Alarcon!” seru Albern si bocah berambut ikal dengan lantang.

“Aku sudah janji akan membawakan buah stroberi ini untuk sepupuku yang punya sepupu, sepupunya lagi, dan sepupunya lagi punya sepupu, dan ibunya sepupunya lagi. Kalau begitu kan aku jadi tidak enak,” ucap Lala, teman baiknya Anne dengan lesu.

“Yang benar saja. Masa cuma 3 buah?” Brian mengembungkan pipinya sebal. Tangannya disedekapkan di depan dada.

“Field trip ini tidak seru ah!” seru Jorge dengan raut kecewa.

“Sudahlah! Kalian itu kenapa sih? Masalah stroberi saja dibesar-besarkan. Peraturan ya peraturan. Kalian pikir ini kebun nenek moyang kalian? Seenaknya saja. Kekanakan sekali!” tukas Messi dengan raut wajah tak peduli yang seketika mendapat sorakan dari teman-temannya.

Mr. Alarcon menghela napas. Ia menatap ke sekeliling perkebunan. Sepertinya yang lain tidak mengalami masalah mendampingi anak-anak itu memetik buah stoberi. Tapi kenapa dirinya mendapat kesulitan seperti ini? Menyebalkan sekali.

Mr. Alarcon memejamkan matanya, coba mengatur napasnya. Ia bisa meledak seandainya anak-anak itu tidak segera menghentikan suara ribut mereka.

“Mr. Alarcon!”

“Mr. Alarcon, kau mendengarkan kami?”

“Mr. Alarcon!”

“Bisakah kalian berhenti memanggil namaku?!” bentak Mr. Alarcon, membuat anak-anak itu terdiam seketika.

Seandainya anak-anak itu dapat melihat dengan mata telanjang, ubun-ubun Mr. Alarcon tampak mengeluarkan asap. Pria itu terbakar emosi karena tingkah anak-anak ini.

Keributan yang terjadi di kelompok pertama tertangkap oleh sepasang mata tajam yang berdiri beberapa meter di belakang mereka. Sebelah alis sang pemilik mata terangkat, kemudian mata itu menggelap karena amarah.

Berani sekali kau membentak mereka, desisnya dengan raut wajah menakutkan.

Marc hendak maju untuk memberi pelajaran kepada tukang kebun sialan itu ketika tiba-tiba saja seorang gadis kecil tersungkur di kakinya dan menangis. Marc buru-buru mengalihkan perhatiannya dan membantu anak itu berdiri.

Perhatian Marc terpecah antara menenangkan gadis kecil itu dan mendengar bentakan yang terus dilayangkan si tukang kebun.

“Kalau kalian tidak segera menghentikan keributan ini, kalian tidak diperbolehkan memetik satu pun buah stoberi di kebun ini. Apa kalian mengerti?” tanya Mr. Alarcon dengan nada keras dan mengancam.

“Ya, Mr. Alarcon,” jawab anak-anak itu serentak dengan ekspresi ketakutan.

Mr. Alarcon memincingkan matanya. “Ingat, sekali lagi kalian membuat keributan seperti ini,” Mr. Alarcon mengarahkan tatapan kelamnya pada Miguel, “tidak ada memetik buah, tidak ada buah stoberi yang bisa dibawa pulang. Paham?!” bentaknya sekali lagi.

“Ya, Mr. Alarcon.”

Satu per satu anak kemudian maju didampingi oleh Mr. Alarcon dan mulai memetik. Wajah mereka tampak cemberut. Tak ada sisa semangat seperti yang mereka tunjukkan di awal.

Miguel mendapat giliran terakhir. Anak itu mendongakkan kepalanya memandang Mr. Alarcon karena tak segera membimbingnya memetik buah stoberi.

Sementara di belakang mereka, Marc kesal bukan main. Ia hendak mencekik leher Mr. Alarcon karena tak segera bergerak membantu Miguel. Namun, ia harus menunda rencananya itu sembari menunggu Miss Laurens datang dan membawa gadis kecil ini pergi.

Ujung bibir Mr. Alarcon tampak berkomat-kamit. Miguel tak mendengar jelas apa yang diucapkan pria itu. Namun, telinganya dapat menangkap sebuah kata kotor yang tak seharusnya diucapkan seorang pria dewasa di depan anak sekecil dirinya. Miguel mengetahui kata itu karena pernah menanyakan pada Laura apa arti kata tersebut. Dan kata mommy-nya, kata itu sangat kasar dan tidak sopan.

“Mr. Alarcon,” panggil Miguel. Pandangan bocah itu sedikit pun tak terlepas dari wajah Mr. Alarcon.

“Apa?” sahut pria itu ketus.

“Kau tahu tidak apa yang baru saja kau ucapkan?” tanya Miguel.

“Memangnya apa yang baru saja kuucapkan?” Mr. Alarcon balas bertanya dengan raut wajah sangat kesal. Pria itu sedikit memiringkan wajahnya.

Miss Laurens akhirnya datang dan membawa gadis kecil itu bersamanya. Marc baru saja akan menggerakkan kakinya ketika pertanyaan Miguel selanjutnya membuat ia berhenti melangkah.

“Kau pernah buka Alkitab, tidak?”

Eh? Miguel? Jenis pertanyaan seperti apa itu? Marc mengerutkan kening.

Pertanyaan Miguel tak terduga oleh Mr. Alarcon sebelumnya. Pria itu sedikit berjengit mendapat pertanyaan seperti itu.

“Apa maksudmu?” tanya Mr. Alarcon dengan nada tersinggung.

Tanpa merasa takut, Miguel berjalan mendekat ke arah Mr. Alarcon dan berkata, “Kau telah melawan perintah Tuhan. Di Alkitab jelas tertulis bahwa kita dilarang mengucap kata-kata kotor. Dan kau baru saja mengucap kata itu di depanku. Itu tidak baik, Mr. Alarcon. Kata mommy-ku mengucap kata kotor akan membuat kita tidak disukai orang. Jadi lain kali jangan mengucap kata itu lagi ya.” Miguel menyentuh salah satu tangan besar Mr. Alarcon yang mengepal di sisi tubuh, kemudian melanjutkan, “Kau pria yang baik dan cerdas. Aku tidak mau kau tidak disukai oleh banyak orang. Aku cukup menyukaimu, Mr. Alarcon,” ucap bocah itu dengan mata memandang tulus.

Mr. Alarcon terdiam, tak mampu mengucap sepatah kata pun. Ia dibuat takjub oleh bocah kecil ini. Mr. Alarcon bertanya-tanya dalam hati siapa orangtua bocah ini. Betapa luar biasanya mereka dapat membesarkan bocah semenakjubkan Miguel.

Demi Tuhan, bocah ini bahkan tak lebih dari 5 tahun. Mr. Alarcon tidak dapat membayangkan sebesar apa rasa bangga orangtuanya dapat memiliki bocah secerdas dan sebijak ini. Mereka sangat beruntung.

Sementara itu, Marc terharu mendengar ucapan Miguel. Ia juga tidak menyangka dibalik tubuh kecil bocah itu tersimpan sikap bijaksana yang luar biasa.

Kau berhasil membesarkan putramu, Laura, puji Marc dalam hati.

Sempat terdiam beberapa saat, Mr. Alarcon cepat-cepat memperbaiki ekspresi wajahnya. Ia berdeham sebentar sebelum menanggapi ucapan Miguel.

“Baik. Terima kasih. Akan kuingat hal itu. Sekarang giliranmu. Ayo,” kata Mr. Alarcon acuh tak acuh seraya memberi Miguel sebuah gunting kecil.

Miguel menerimanya dengan penuh semangat. Anak itu kemudian mengikuti gerakan Mr. Alarcon cara-cara memetik buah stoberi yang benar agar pohonnya tidak rusak dan akan terus menghasilkan buah. Kemudian untuk buah kedua dan ketiganya, Miguel dilepas untuk memetik buah stoberinya sendiri.

Miguel berjongkok di depan pohon stoberi yang akan ia petik buahnya. Kening bocah itu berkerut dalam saat mencoba memotong ujung tangkai sebuah stoberi yang merah dan besar. Pipi cempluknya naik turun. Tak ketinggalan, lidah anak itu sedikit dijulurkan ke depan, dikepit oleh bibir bawah dan atasnya.

Miguel sangat berkonsentrasi hingga ia tidak sadar diam-diam Marc yang berada di belakang petak tersenyum geli. Tawa Marc hampir saja pecah jika ia tidak cepat-cepat memalingkan wajahnya dan membungkam mulutnya dengan tangan.

Astaga, Miguel. Betapa menggemaskannya kau, Nak, batinnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Wajah Miguel seketika berubah berseri-seri saat ia berhasil memetik buah stoberinya. Ia mengacungkan buah itu tinggi-tinggi dan memamerkannya di hadapan teman-temannya.

“Yeah! Aku berhasil mendapatkannya,” soraknya, melompat gembira.

Marc ikut gembira melihat keberhasilan pria kecilnya memetik sendiri buah stoberi dari pohon. Ia kemudian berjalan mendekati kelompok itu.

“Wah! Sudah berhasil memetik buah stoberi ya? Bagaimana? Seru, tidak?” tanya Marc dengan nada riang sembari memamerkan senyum lebar ke anak-anak.

Mr. Alarcon yang sedikit terkejut melihat bos besarnya datang, kemudian membungkuk hormat padanya. Diam-diam, pria itu agak merasa waswas, takut atasannya tadi melihatnya berdebat dengan anak-anak masalah jumlah buah stoberi yang boleh dipetik. Walaupun wajah bosnya penuh senyum, justru wajah seperti itulah yang berbahaya. Mr. Alarcon hanya bisa berharap semoga Tuhan masih berbaik hati padanya hari ini.

“Tidak terlalu, Mr. Márquez,” jawab anak-anak itu serentak dan membuat Mr. Alarcon memucat di tempat.

Mati dia!

“Oh ya? Memangnya kenapa?” Marc bertanya dengan ekspresi pura-pura terkejut.

“Kata Mr. Alarcon kami hanya boleh memetik 3 buah saja. Itu kan tidak cukup,” celetuk salah satu anak yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Mr. Alarcon. Namun, tatapan itu tidak berlangsung lama saat tatapan dingin Marc melayang padanya.

“Dia bilang kalian hanya boleh memetik 3 buah saja?” Suara Marc terdengar angker di telinga Mr. Alarcon. Pria itu menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Ia benar-benar habis hari ini.

“Ya, Mr. Márquez.” Kembali anak-anak itu menjawab serentak.

“Mr. Alarcon,” panggil Marc dengan nada penuh peringatan. “Ikut aku,” lanjutnya.

Terima kasih, anak-anak. Terima kasih atas aduan kalian. Mr. Alarcon kemudian menyumpah dalam hati. Namun, sedetik kemudian ia menyesal telah mengucap sumpah. Teringat akan Miguel yang mengingatkannya tentang Alkitab dan perintah Tuhan.

Astaga!

Mr. Alarcon mengekori langkah Marc yang berjalan menjauh dari anak-anak itu. Saat ia pikir jaraknya sudah cukup aman untuk berteriak kepada Mr. Alarcon atas kebodohan pria itu tanpa terdengar oleh anak-anak, Marc membalikkan tubuhnya dan langsung merepetkan berbagai makian yang paling kasar dan jahat.

Wajah Mr. Alarcon memerah dan tertunduk malu.

“Dengan kebun seluas ini kau hanya memberi mereka kesempatan untuk memetik 3 buah saja? Otakmu kau letak di mana, hah? Aku menggajimu bukan untuk ini. Dan sikapmu juga. Sangat tidak beretika. Apa itu sikap seorang tukang kebun profesional?” teriak Marc penuh amarah.

Mr. Alarcon terdiam, tidak berani menatap wajah marah bosnya.

“Sialan kau!” maki Marc, kemudian diikuti serangkaian kata kasar lainnya.

Marc mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya ke wajah Mr. Alarcon. “Untuk kali ini kau kumaafkan. Kau tahu karena apa? Karena anak yang tadi menyentuh tanganmu adalah anak kenalanku. Kau tahu bukan kesalahan apa yang akan kau perbuat jika berani-beraninya memarahi apalagi membentak anak itu?! Aku akan membuatmu menjadi gelandangan termiskin yang pernah ada di Spanyol, Alarcon! Apa kau mengerti itu?”

“Ya, Tuan.” Mr. Alarcon menganggukkan kepala.

“Sekarang kau boleh pergi. Dan bilang sama anak-anak itu mereka boleh memetik sebanyak apa pun yang mereka inginkan. Kalau perlu beri berpetak-petak pohon jika salah satu dari mereka ada yang mau,” tukas Marc setelah amarahnya reda.

“Baik, Tuan. Perintah akan dilaksanakan.” Mr. Alarcon kembali mengangguk.

Sebelum Mr. Alarcon pergi, Marc kembali memperingatkan pria itu. Dengan suara dingin dan tatapan mematikan, Marc berkata, “Kau tidak kuizinkan membuat kesalahan yang sama. Sekali lagi kau mengulanginya, jalanan siap menampungmu. Kau camkan kata-kataku, Alarcon.”

***

Setelah mengantar Miguel ke sekolah hingga menunggu bocah kecil itu berangkat bersama teman-temannya, Laura dan Dani mampir ke sebuah toko swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga. Mereka seperti pasangan baru, berdiskusi mengenai barang apa yang dibutuhkan, memperkirakan kapan pemakaian barang yang hendak mereka beli habis, serta ukuran besar atau kecil barang tersebut yang memengaruhi harganya.

Sejak mendapat krisis keuangan, Laura lebih bijaksana membelanjakan uangnya. Jika sebelumnya ia sudah berhemat, sekarang ia harus lebih berhemat lagi.

Laura keberatan saat Dani ingin membayar semua barang yang mereka beli di kasir. Laura tidak ingin terus-terusan merepotkan Dani. Dani bukan–belum–suaminya dan Laura merasa ia tidak berhak menggunakan sepeser pun uangnya. Mengingat ia masih memiliki hutang kepada Dani, Laura tidak mau lagi menambah hutangnya. Sudah cukup ia merepotkan pria itu.

Walaupun dibaluti kelembutan dari luar, wanita itu menyimpan sifat keras kepala dalam dirinya. Dani akhirnya menyerah. Ia tidak mau mendebat Laura. Sudah cukup banyak masalah yang ditanggung Laura. Dani tidak mau mengusik wanita itu. Walaupun ada keinginan dalam hati untuk membantu. Apa saja, Dani rela melakukannya untuk Laura. Tujuannya jelas, yakni untuk memenangkan hati Laura. Ia bisa terus bersabar. Tapi Dani ingin Laura sadar bahwa tingkat kesabaran yang ia miliki hampir mencapai titik maksimum. Dani tidak bisa menunggu lebih lama. Ia harus mendapatkan jawaban wanita itu, secepatnya.

Laura mampir ke toko bunga sebentar saat hari mulai menjelang siang. Sedangkan Dani membawa belanjaan masuk ke rumah. Laura menyusul tak lama kemudian.

Dani meletakkan kantong belanjaan di atas meja dapur. Sembari menunggu Laura keluar dari kamar, Dani memandang ke luar jendela dengan ekspresi melamun.

Laura berjalan ke dapur saat dilihatnya punggung Dani bersandar kaku pada konter di sebelah bak pencucian piring. Mata Dani terlihat menerawang kosong. Kedua tangannya disedekapkan erat di depan dada. Samar-samar Laura dapat melihat urat nadi di sekitar pelipis Dani bergerak-gerak. Satu hal yang dapat Laura simpulkan, Dani tengah berpikir keras. Walaupun wajahnya tidak menampakkan sedang berpikir, tapi postur dan bahasa tubuh Dani mengatakannya.

“Dani….” Laura berjalan menghampiri.

Dani menoleh dan tersenyum sekilas ke arah Laura. “Hai, kau sudah datang,” ucapnya dengan mata melembut melihat Laura.

“Ada masalah?” tanya Laura sedikit khawatir sembari menyentuh pinggang Dani.

Darah Dani berdesir cepat saat merasakan sentuhan Laura. Dadanya menghangat. Seulas senyum kemudian terbentuk. Dani menarik Laura ke dalam pelukannya. Dirangkulnya tubuh itu erat-erat. Dani menenggelamkan wajahnya ke rambut cokelat Laura, menghirup dalam-dalam aroma wanita itu. Harum perpaduan susu dan mawar. Sangat lembut dan pas melambangkan si pemilik aromanya.

Laura balas melingkarkan kedua lengan di seputar pinggang Dani. Wajahnya ia sembunyikan ke cekung leher Dani. Laura mengembuskan napas sesekali. Dan entah mendapat keberanian dari mana, Laura mengecup rahang bawah Dani yang sedikit kasar akibat ditumbuhi bulu-bulu halus.

Dani terkejut mendapat kecupan yang sarat akan keintiman itu dan lebih terkejut lagi saat Laura tanpa merasa malu mendesah di bawah lehernya.

Detak jantung Dani berpacu cepat. Otot-ototnya menegang. Sarafnya bekerja dengan cepat. Ia kehausan. Bukan karena dehidrasi, tapi haus akan sebuah kebutuhan lain. Dan Laura secara terang-terangan membuka pintu untuknya. Wanita itu menyerahkan diri padanya. Laura ingin Dani memilikinya.

Dani memejamkan mata, berharap ini bukan sekadar mimpi. Sudah sejak lama ia membayangkan akan sedekat ini dengan Laura, dapat memeluk, menyentuh, dan membelai tubuh wanita itu.

“Dani…,” desah Laura pelan di permukaan kulit leher Dani yang memerah.

Dani tak dapat menahan diri lebih lama. Didorongnya tubuh wanita itu ke sudut konter, Dani memerangkap bibir Laura dalam kelembutan. Tangan Dani tidak ketinggalan menjelajahi setiap lekuk tubuh Laura. Jari-jarinya menelesup masuk ke balik blus hijau Laura, kemudian mengusap halus perut yang sangat Dani yakini dulu perut ini serata papan tanpa gelambir lemak sebelum menjadi tempat yang pernah ditinggal seorang bocah saat masih janin dulu.

Laura bergetar hebat saat bibir Dani dengan terampil mengeksplor seluruh tubuhnya. Mata Laura terpejam, menikmati bagaimana bibir hangat itu menyentuh lehernya, menciptakan tanda merah akibat kuluman kuat pria itu, dan sesekali pria itu menggigit nakal, membuat Laura tak tahan mengeluarkan jeritan nikmatnya.

Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan kenikmatan batin seperti ini. Terakhir kali ia melakukan… bersama ayah dari anaknya. Rasanya sama persis. Bagaimana dulu Marc menangkup payudaranya dengan kedua tangan kekarnya sembari meremas pelan, memainkan puncaknya dengan cara dikepit di antara sela jari telunjuk dan jari tengahnya. Bibir Marc juga mengulum kuat dan sesekali menggigit nakal putingnya.

Laura mendesah hebat saat Dani melakukan hal yang sama pada kedua payudaranya. Ia tidak sadar entah sejak kapan dan siapa yang telah melepas blusnya. Yang ia tahu kini kain berwarna hijau itu sudah teronggok ke lantai. Bahkan branya pun sama nasibnya dengan blus hijaunya.

Keadaan Dani juga tak jauh beda dari Laura. Kaus abu-abunya juga sudah raib dan bergabung bersama pakaian Laura. Dani menciumi setiap jengkal tubuh Laura yang dapat ia cium, menyentuh setiap bagian tubuh yang dapat ia sentuh, dan mempermainkan titik sensitif yang akhirnya ia temukan setelah mengeksplor ke sana kemari. Tepat berada di bawah pusar Laura yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan kecil.

Laura menjerit tertahan dan refleks meremas rambut tebal Dani saat pria itu menjulurkan lidahnya menyentuh bagian bawah pusarnya. Napas Laura memburu. Suaranya kembali terdengar saat Dani mengulum basah titik itu. Laura menjerit keras. Punggungnya melengkung karena sesuatu meledak di dalam dirinya. Bagian bawahnya menggelenyar hebat. Kuku-kuku jarinya tanpa sadar menancap ke punggung telanjang milik Dani.

“Oh, Tuhan. Astaga, Marc. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Oh…,” ceracau Laura dengan mata terpejam erat.

Tubuh Dani membeku seketika saat nama Marc keluar dari bibir Laura. Sakit hati menyerangnya. Remuk sudah jantungnya. Tidak ada kata yang tepat mewakili perasaannya. Ia sangat kecewa.

Masih berada di awang-awang akibat orgasme pertama yang ia dapatkan setelah hampir 6 tahun berlalu, Laura mengerjapkan matanya. Dilihatnya Dani yang telah berdiri dengan bahu kaku dan mata memandang penuh kekecewaan dan sakit hati. Seolah tersadar apa yang baru saja ia ucapkan, Laura sontak membulatkan matanya.

Kepanikan seketika melanda Laura. Astaga, apa yang baru saja ia lakukan? Menyebut nama pria lain saat ia mendapat orgasme.

Laura memandang ngeri ke arah Dani. Wajah pria itu mengeras. Matanya menatap kelam. Bibir yang tadi dipakai untuk menjelajahi tubuh Laura kini terkatup dalam dan diam. Hanya membentuk sebuah garis keras. Guratan kemarahan tampak di sepanjang garis rahangnya.

Wajah Laura memucat. Air mata mulai menggantung di kedua matanya. Dengan sisa harga diri yang masih ia miliki, Laura berbalik memunggungi Dani. Ia memunguti pakaiannya dan langsung kabur masuk ke kamar mandi.

Betapa menjijikannya kau, Laura! Laura memaki dirinya sendiri.

Laura menangis sejadi-jadinya. Ia tidak punya muka lagi untuk bertemu Dani. Jangankan Dani, ia saja jijik pada dirinya sendiri. Ia marah dan benci pada dirinya karena belum mampu menghapus Marc dari benaknya. Kenapa begitu susah memulai hidup tanpa harus memikirkan pria itu? Kenapa, Tuhan? Laura sudah mencoba mati-matian melupakan pria itu. Semua kenangan yang pernah mereka lalui sudah Laura buang jauh-jauh, bahkan sudah Laura kubur dalam-dalam. Tapi kenapa saat ia mencoba membuka dirinya untuk orang lain, bayangan pria sialan itu selalu muncul dan mengintervensi hidupnya di saat ia hampir menyerahkan diri seutuhnya pada Dani? Kenapa pria sialan itu harus datang kembali? Kenapa?

Suara ketukan pintu membuyarkan tangisan Laura. Terdengar suara Dani yang masih selembut beledu saat memanggil nama Laura dan meminta wanita itu keluar.

Tangisan Laura semakin kuat. Bagaimana bisa seorang pria yang sudah tersakiti masih dapat berbicara selembut itu padanya? Dani terlalu baik untuk wanita seperti dirinya. Pria itu tidak pantas mendapatkan Laura yang tak jauh beda dengan seorang wanita jalang.

Aku wanita jalang, Dani….

“Laura, kumohon, keluarlah. Aku ingin bicara denganmu,” pinta Dani, masih mengetuk pintu kamar mandi.

Laura bergeming. Ia tidak memiliki keberanian untuk menemui Dani. Sudah cukup banyak rasa malu yang harus ia tanggung. Ia tidak sanggup menunjukkan mukanya di depan Dani.

“Baik. Kalau kau tidak mau keluar, aku akan bicara di sini.”

Laura mendengar tarikan napas Dani sebelum pria itu bicara. “Dengarkan aku baik-baik, Laura. Aku tidak menyalahkanmu jika kau masih menyimpan perasaanmu untuk Marc. Dari awal aku sudah tahu, sekeras apa pun aku mencoba untuk menempatkan diri di ruang hatimu, tempat itu tidak pernah cukup untuk kutempati. Aku harus berbagi dengan pria yang bahkan telah lama tidak menempati ruang yang lebih besar di hatimu. Kau masih membiarkan tempat itu untuknya. Kau masih berharap ruang itu akan ditempati lagi olehnya.”

Tidak, Dani. Tidak lagi, Laura ingin berteriak menyangkal semua perkataan Dani. Tapi bibirnya terkunci. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menelan perkataannya tanpa mampu menyuarakan.

“Dia pria yang spesial bagimu. Aku tahu itu, Laura. Dia tidak akan tergantikan. Kenyataan bahwa Miguel hasil percintaan kalian adalah bukti tak terbantahkan. Kau menyembunyikan fakta ini untuk melindungi Marc, bukan? Tapi ketahuilah, suatu hari nanti, sekeras apa pun usahamu untuk menyembunyikannya, dia pasti akan tahu, Laura. Dan saat itu terjadi, Marc akan menjadi milikmu selamanya. Tak akan ada yang dapat menghalangi kalian. Termasuk aku, orangtuanya, ataupun Adel, calon istrinya sekarang. Aku hanya ingin bilang padamu, bersabarlah. Hari itu pasti akan tiba.”

Setelah berkata seperti itu, suara Dani tak terdengar lagi. Laura menunggu. Namun, suara yang hendak ia dengar bak hilang ditelan kesunyian.

Laura lantas keluar dari kamar mandi setelah berpakaian lengkap. Dilihatnya tak ada lagi sosok pria itu di dapur kecilnya. Laura menyusuri bagian tengah rumah. Pria itu tak ada di mana-mana.

Apa maksud perkataanmu, Dani? Di mana kau sekarang?

Laura berlari keluar rumah. Mobil Dani masih terpakir manis di samping rumahnya. Disambanginya rumah pria itu, Laura langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dilihatnya sebuah pintu yang terbuka dan di sanalah Dani berada dengan bahu terkulai lemas dan memunggunginya.

“Mau ke mana kau?” tanya Laura saat melihat Dani menarik sebuah koper dari atas lemari.

Dani tidak menjawab. Amarah Laura naik ke ubun-ubun. Disambarnya tangan Dani yang hendak memasukkan pakaian ke dalam koper dan dicampak begitu saja ke atas tempat tidur.

“Sesulit itu menjawab pertanyaanku? Aku tanya kau mau ke mana?!” tanya Laura murka. Matanya memandang marah ke arah Dani.

“Ke mana pun aku pergi, kau tidak perlu khawatir, Laura. Kau tidak akan kehilanganku karena dari awal aku bukan milik siapa-siapa. Tidak ada yang mengklaim diriku. Hanya aku saja yang tak tahu diri dan egois mengklaim dirimu dan Miguel sebagai milikku. Hari ini kau membuatku sadar. Aku bukan siapa-siapa dan tidak akan menjadi siapa-siapa bagimu,” gumam Dani perih.

Tangisan Laura pecah seketika. Dani meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.

“Jangan menangis, kumohon. Jangan, Laura. Aku tidak akan pergi lama. Hanya sebentar. Aku butuh waktu untuk berpikir.” Dani mengecup kening Laura.

“Jangan pergi,” ucap Laura tersedu-sedu.

“Hanya sementara, Laura. Aku pasti akan kembali saat waktu mengizinkanku untuk kembali.” Dani merengkuh pipi Laura dan mengusap halus. “Jangan menangis. Kita tidak akan kehilangan satu sama lain.”

“Aku akan kehilanganmu,” kata Laura dengan wajah banjir air mata.

“Jangan berpikir seperti itu.” Dani menghapus air mata Laura. “Tersenyumlah. Kau tidak boleh menangis.” Dani mencontohkan cara tersenyum pada Laura.

“Cukup, Dani!” bentak Laura seraya menyetakkan tangan Dani dari wajahnya. “Jangan berpura-pura bahwa kau baik-baik saja. Aku tahu kau terluka. Aku tahu kau sakit. Jangan bersikap seperti ini, kumohon. Tunjukkan padaku. Perlihatkan padaku bahwa kau tidak baik-baik saja. Jangan menyiksaku dengan kepura-puraanmu. Aku tidak mau bersikap seolah kau tidak apa-apa. Kumohon padamu.” Tubuh Laura merosot dan jatuh bersujud di depan Dani. Isakan wanita itu semakin menjadi.

Dani memandang Laura dengan raut penuh kesakitan. Pria itu bergeming. Sedikit pun Dani tidak mencoba untuk menghibur Laura lagi. Dirinya saja sudah tersakiti cukup parah. Bukan Laura, tapi dirinyalah yang butuh penghiburan.

“Aku harus pergi, Laura,” ucap Dani dengan mata terpejam, menahan air mata yang hendak jatuh.

Karena tak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal.

Secepat yang dapat ia lakukan, Dani memasukkan semua pakaiannya ke koper. Ia menyambar mantel tipis yang tergantung di belakang pintu, kemudian tanpa memedulikan Laura, Dani menyeret keluar kopernya.

Suara tangisan Laura semakin keras setiap langkah yang diambil Dani. Dani tidak akan berhenti karena ia tahu sekali saja ia membalikkan tubuhnya, maka ia tidak akan bisa meninggalkan wanita itu sendirian. Berita mengenai Miguel, cepat atau lambat pasti akan diketahui Marc. Tidak perlu menjadi genius untuk menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Saat hari itu tiba, Dani akan menjadi orang pertama yang tersenyum dan menyambut dengan sukacita atas kembalinya keluarga yang sempat tercerai berai akibat perlakuan tak adil dari nasib. Dani akan berbahagia untuk Laura dan Miguel. Dani akan berbahagia untuk kedua orang itu.

To Be Continued…

Agak mengecewakan ya? Atau mengecewakan banget? Sejujurnya ini gak sesuai dengan ekspektasiku sih. Ceritanya makin melantur ke mana-mana. Semoga next time penulisanku bisa lebih baik lagi ya.🙂 Thank you for reading😉

15 thoughts on “My Secret, His Son #15

  1. Sumpah sedih bgt de…😦 crita akhrnya kok jadi nyata ya? Di crita ini Dani meninggalkan laura smentara waktu u/ menyembuhkan luka hatinya, di Khdupan nyata Dani meninggalkan moto gp 2015 sementara u/ penyembuhan arm pump nya… Jadi tambah sedih

    Disukai oleh 1 orang

  2. baca scene terakhir agak menyayat hati sih..
    semacam menyuarakan kenyataan, dia menghilang sampai waktu yang dia sendiri belum bisa pastikan sampai kapan.. hahaha :’)

    Disukai oleh 1 orang

  3. part ini nyesekk :’) apalagi itu gimana perasaan Dani pas udah bercinta sama Laura eh malah Laura nyebut nama ‘ Marc ‘ langsung gimana gitu ya. hancur banget perasaan, habis itu juga Dani.ninggalin Lauraaa, sedih gilakk. :’))) lanjut-lanjuttt

    Disukai oleh 1 orang

  4. Berasa kayak ntn telenovela:-o

    Well,benarkah laura-marc bisa bersatu?
    Bisakah marc meninggalkan segala yg marc miliki demi laura?
    Bisakah marc hidup mulai dari titik 0 demi laura?

    Jawabanya ditunggu mbak laura amberita sanchezB-)

    Disukai oleh 1 orang

  5. Ceritanya makin seru,dan juga part ini bikin sedih dan senang,sedih karena dani pergi dan senang karena laura ternyata masih mencintai marc,
    Thor aku pengshipper pasangan marc dan laura,jadi kalo boleh request marc sama laura dijadiin pasangan sampe akhir ya

    Disukai oleh 1 orang

  6. Sekaligus aku baca emoat empatnya, dan ini sedih bgt. Rasanya kehadiran Dani gak ada pentingpentingnya dihidup laura. Tapi mau gmn lagi laura masih menyimpan rasa sama marc kaliyaa hehehe. Keep writing rit!!!!

    Suka

  7. oh my, this part is so.. so Good
    i cant explain with word 😅😅
    part ini benar2 luar biasa deh, semuanya masuk mulai comedy kocaknya Miguel, gila ya gen Marc kayanya berpengaruh banget bagi kecerdasanya, romanya jg dapat, penyusunan kata pas bagian NC jg baik, ga berlebihan, jadi readers bacanya nyaman, i like it.
    tapi disatu titik ga bisa ngebayangin rasanya jadi Dani 😢
    perasaan dia pasti hancur banget, bahkan saya sebagai readers aja kayanya kok ngerasa kalo Laura udah ngancurin Dani banget, tapi salut dia masih bisa bicara baik2 sama Laura, nah yg bikin penasaran gimana nanti kalo Marc tau kalo Laura masih cinta banget sama dia, apalagi kalo tau status Miguel? mungkin ga kalo Danu bakal nemuin Marc buat jelasin kalo Miguel itu anaknya, atau malah Marc bakal tau sendiri dengan cara lain.
    cant waiit for the next chapter ya 💜

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s