I Need You More

Author : @Nataa_diva

“Jadi kau tidak bisa menemaniku nanti malam?” tanya Adel datar.”Sepertinya begitu. Pekerjaan di kantor menumpuk dan aku harus membereskan semuanya. Kau tetap mau pergi malam ini?”

Adel mengangkat kedua bahunya–meski ia tahu Dani tidak bisa melihat gerakannya–sembari menghela napas. “Aku bisa pergi sendiri, Dani. Lagipula aku bukan anak kecil yang bisa tersesat di pusat perbelanjaan.”

“Hm, benar.” Dani menandatangani selembar kertas putih, lalu melanjutkan, “Kalau begitu, hati-hati ya. Aku akan menemuimu besok malam. Sampai nanti, sayang.”

Adel melempar ponselnya ke nakas di samping tempat tidurnya. Dengan malas ia mengambil penyedot debu dari dalam lemari, satu set sprei baru, dan pembersih cair serta kain lap. Lebih baik membuang tenaga untuk bersih-bersih daripada meluapkan kekesalannya pada orang lain. Adel bukan tipe orang yang pandai menutupi emosinya. Suasana hatinya mudah ditebak, dan dapat berubah dengan cepat. Ia memang lebih menggunakan perasaan dan emosinya–menurut orang-orang di sekitarnya.

Lewat setengah jam, gadis itu sudah mulai menyentuh jendela kamarnya. Sudut-sudut perabotan yang sedikit berdebu juga ikut dibersihkan. Setelahnya, baru ia mengganti sprei yang baru diganti minggu kemarin. Ia melepaskan sprei lama dan melemparnya ke dalam keranjang khusus pakaian kotor. Kemudian, masih dengan perasaan kesal, ia memasang sprei baru. Namun keberuntungan tampaknya tidak berpihak pada gadis itu.

Lehernya tertarik–atau salah urat mungkin– hingga membuat Adel mengerang kesakitan. Ia memijit tengkuknya dan duduk di samping tempat tidur. Pukul 2 tepat. Waktunya makan siang, tapi perutnya sama sekali tidak lapar. Suara ketukan di pintu memaksanya melangkahkan kaki ke arah sumber suara.

“Iya?”

Ternyata Laura. Adel lupa kalau Laura menginap di rumahnya sampai orangtua sepupunya itu kembali dari Paris. Pembantu hariannya pun juga tidak datang selama 2 hari.

“Mau ikut makan siang bersamaku dan Marc?” tawar Laura. Ia melongok ke dalam kamar dan terkejut mendapati kamar Adel sangat bersih. Biasanya, Adel bisa membersihkan kamar lebih dari sebulan sekali–itupun kalau Adriana yang memaksanya untuk membereskan kamar.

“Aku tidak lapar, kau pergi saja berdua dengannya. Aku tidak mau mengganggu kencan makan siangmu,” ujar Adel sambil tertawa.

Kadang Adel merasa iri terhadap Laura. Gadis itu memiliki Marc–sahabat masa kecilnya, dan kini menjadi pacarnya–yang sangat menyayanginya. Bukannya Dani tidak sayang padanya, tapi akhir-akhir ini ia jadi lebih mengutamakan pekerjaan di kantor dibanding dirinya–menurut Adel. Sebagian besar waktunya yang dulu dihabiskan untuk bermain ke rumah Adel kini beralih ke pekerjaan kantornya.

Laura masih berdiri di ambang pintu, ia terlihat cantik berbalutkan gaun pendek krem polos. Pantas saja Marc sangat tergila-gila pada Laura, tidak mengherankan memang. “Kau yakin tidak mau ikut? Aku bisa mendengar perutmu menjerit-jerit minta diisi. Sungguh, tidak masalah bila kau ikut makan siang bersama kami.”

“Laura,” kata Adel seraya membalikkan badan Laura menghadap ruang tamu. “Aku tidak lapar, dan aku sedang malas keluar rumah. Aku mau istirahat dan melemaskan otot-otot leherku. Rasanya seperti tertarik.”

“Apa yang kau kerjakan, huh? Tidak biasanya kau bersikap begini. Well, Marc sudah datang menjemputku. Aku tahu tidak ada gunanya memaksamu, si keras kepala. Sampai nanti,” Laura melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Adel.
Sepeninggalan Laura, Adel menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia memejamkan matanya, dan tiba-tiba saja rasa kantuk menyergapnya. Adel tertidur pulas semenit kemudian.

***

Tengkuknya dingin. Seperti ada balok es yang ditaruh di atas kulit tipisnya. Ia menggeliat, tangannya terangkat memegangi tengkuknya. Berharap ia dapat membuang balok es sialan itu ke dalam perapian. Namun bukan benda mati itu yang ia sentuh–walau baru ujung jarinya yang menempel–dengan tangannya. Ini tampaknya… sebuah tangan juga?

Gadis itu meraba-raba dan langsung terbangun setelah yakin kalau itu adalah sebuah tangan. Di sebelahnya, seorang laki-laki terlihat memamerkan sederet gigi rapihnya dengan tatapan usil.

“Aku tahu aku pasti akan mengagetkanmu,” celetuknya tanpa rasa bersalah.

“Dani… Sedang apa kau di sini?” geram Adel, diikuti pandangan tajam yang dilemparkan ke arah Dani.

“Tadinya aku mau menemanimu pergi, tapi kata Laura lehermu sakit. Jadi aku mengompresnya dengan kantong es. Sekarang aku sedang memijit tengkukmu. Apa masih terasa sakit?” tanya Dani. Terselip nada khawatir dalam suaranya.

Adel menarik napas, lalu menghembuskannya kencang-kencang. “Tidak. Tidak apa-apa, kok.”

“Masa? Kau bahkan mendesah–kesakitan–saat aku memijitmu tadi. Apa itu tidak menandakan ada yang salah dari lehermu?” Dani tidak memerdulikan nada ketus dari suara Adel–yang berbanding terbalik dengan suaranya.

Seketika muka Adel memerah. Ia tidak bisa berkelit. Mata biru keabuan milik Dani selalu bisa mengunci seluruh isi otaknya, membuatnya tidak bisa berpikir bila berada di dekat laki-laki itu. Adel memang keras kepala, namun Dani adalah salah satunya–selain Casey dan Adriana–yang bisa menghentikan argumentasi Adel. Dani jugalah yang bisa membuat suasana hatinya cepat berubah.

“Aku pikir kau sibuk di kantor. Mungkin hanya salah urat, besok pasti sudah tidak masalah. Kalau pekerjaanmu masih banyak, pulanglah. Selesaikan semuanya saja dulu.” Adel mencium kening Dani dan mengusap pipinya dengan lembut. “Aku benar-benar tidak apa-apa, percayalah padaku.”

Dani malah menyenderkan kepalanya di pundak Adel alih-alih pulang ke rumah dan memeriksa jadwalnya. Napasnya tenang dan teratur, sama sekali tidak menunjukkan keraguan.

“Aku bercanda, Adel.”

“Apa maksudmu?”

“Pekerjaanku sebenarnya sudah selesai, rencananya aku akan memberimu kejutan. Tapi kau keburu marah, jadi kejutanku gagal. Ngomong-ngomong, kau lagi PMS ya? Kenapa sensitif sekali hari ini?”

Adel menggigit bibir bawahnya. Agak malu mengatakan alasan kenapa ia marah pada laki-laki itu. “Tidak. Aku hanya.. Ah, lupakanlah. Aku minta maaf soal kejadian tadi siang, tidak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan seperti itu.”

Dani merengkuh wajah Adel, mengecup bibirnya lembut dan memandang ke arahnya. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Adel tahu Dani sedang menunggu penjelasannya.

“Aku akan berangkat ke Australia selama 2 minggu. Kau juga harus berangkat ke Amerika sebentar lagi, bukan? Mungkin kita tidak bisa bertemu dalam waktu yang lama,” ucap Adel sambil memainkan ujung selimutnya. “Aku hanya ingin menghabiskan seminggu ini bersamamu, sebelum aku berpikir kalau aku terlalu egois. Aku tidak memikirkan pekerjaanmu di kantor yang harus kau selesaikan, aku terlalu mementingkan diriku sendiri.”

“Kau tidak egois. Itu hal wajar yang diharapkan semua orang, bisa berada di dekat orang yang kita sayang setiap harinya.”

Dani memeluk Adel. Erat sekali, seakan takut gadis itu akan terlepas dari pelukannya dan menghilang ke dimensi lain. Keduanya menghabiskan menit demi menit dalam keheningan dan tanpa bergerak. Yang terdengar hanyalah bunyi detak jantung mereka.

***

February, 2015

Aku sedang memeriksa perlengkapan yang akan dibawa sambil menunggu grup tur tiba di bandara. Kali ini aku membawa grup perusahaan asuransi ternama di Spanyol. Jadi aku harus memastikan semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah selama di Australia nanti. Bendera grup sudah, name tag peserta sudah, banner juga sudah. Apalagi ya? Oh! Kostum hasil karya semalam suntuk yang akan dipakai sewaktu mengunjungi sebuah desa di dataran kecil Queensland.
Aku mencari Stefan dan menemukan laki-laki berbadan bongsor itu di dekat konter check-in.

“Hai, Stef. Kostumnya?” tanyaku was-was. Kalau sampai ketinggalan, matilah aku. Untungnya Stefan menganggukan kepalanya dan menunjukkan label bagasi yang ia pegang.

“Sudah beres, Ms. Stoner. Aku juga sudah menghubungi supir dan katanya mereka akan tiba di Bandara sebentar lagi. Kau tenang saja,” jelas Stefan seraya tersenyum penuh rasa bangga.
Stefan Bradl. Dia adalah asistenku yang baru saja bekerja bulan lalu. Melihat hasil kerjanya yang baik, aku menerjunkannya langsung di lapangan untuk membantuku. Ini pertama kalinya dia menemaniku keluar negeri.

“Itu membuatku lega. Terimakasih Stefan,” ucapku tulus.

“Nah! Mereka sudah datang. Ayo, kita check-in dan segera masuk ke dalam pesawat!”

Aku hanya tertawa kecil melihat antusiasme Stefan yang menggebu-gebu. Dia mendatangi para peserta, lalu melambai ke arahku. Aku berjalan menghampirinya. Dan tugasku–seperti biasanya–menjelaskan tentang prosedur check-in sampai tiba di bandara tujuan. Juga beberapa jadwal singkat secara garis besar. Setelah itu kami melakukan check-in, menimbang bagasi, serta membagikan name tag kepada para peserta. Kita melewati rangkaian pemeriksaan sebelum akhirnya memasuki ruang tunggu untuk masuk ke dalam pesawat.

Tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku hampir lupa belum mengaktifkan airplane mode di pengaturan ponselku. Video call dari Dani.

“Kau ada dimana sekarang?”

“Di bandara, di ruang tunggu. Memangnya kenapa?”

Ia terdiam sejenak, membuatku menebak-nebak apa yang ingin dikatakannya. “Aku kira kau tidak pergi sepagi ini. Tadinya aku mau mengantarmu ke Bandara, lalu pergi ke kantor. Aku ada rapat dengan Mr. Tan siang ini.”

“Maaf ya, aku lupa memberitahumu soal jadwal keberangkatanku. Hm, soal rapat, aku tunggu berita baik darimu,” kataku. Perhatianku tersita sejenak saat pemberitahuan yang diumumkan lewat pengeras suara menggema memenuhi ruang tunggu. Panggilan untuk masuk ke dalam pesawat.

“Kau sudah harus masuk pesawat, kan? Jaga dirimu baik-baik, kabari aku kalau kau sudah sampai. Aku tutup teleponnya ya,” Dani mencium layar ponselnya.

Hal itu sontak menarik kedua sudut bibirku ke atas membentuk seulas senyuman. Terkadang aku merasa menjadi salah satu perempuan paling beruntung karena dapat memilikinya, tapi tidak jarang aku menakutkan sesuatu yang bisa saja terjadi di masa depan. Mungkin hadirnya orang ketiga, atau… Ah, semoga itu tidak akan pernah terjadi.

Aku segera menyusul Stefan dan grupku. Seorang pramugari membantuku menemukan tempat duduk di kelas bisnis. Sebuah tempat ternyaman menurutku–tepat di sebelah jendela. Pramugari lainnya memberikan beberapa lembar data untuk diisi dan dikumpulkan sebelum pesawat mendarat. Setelah aku yakin tidak ada yang terlewat, aku memakai penutup mataku dan beristirahat selama penerbangan berlangsung.

***

“Bisa dimulai sekarang?” Stefan melongokan kepalanya dari balik pintu.

Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah anggukan mantap. Pribadi Adel sangat berbeda sekali antara di kantor dengan di rumah. Ia bisa bersikap dewasa dan fokus jika berada di kantor, tapi jangan tanya seberapa pusingnya Casey dan Adriana di rumah bila Adel sedang uring-uringan.

“Freddie Seth,” suara Stefan terdengar hingga ke dalam ruang kerja Adel. Seorang laki-laki berumur 20 tahun melangkah masuk dan berdiri di hadapan Adel.

“Seth, kenapa kau hanya berdiri mematung saja di situ?” tanya Adel. Matanya menatap Seth–tajam.

“Karena anda belum mempersilahkan saya duduk, Ms. Stoner.”

Adel menyeringai, tampaknya Seth akan lulus wawancara hari ini. Ia langsung memberondongi Seth dengan 5 pertanyaan klasik. Sehabis itu, beberapa orang yang sudah mengirimkan surat lamaran masuk satu persatu untuk diwawancarai, sama seperti Seth tadi. Orang terakhir, seorang gadis berambut pirang, terlihat agak berantakan ketika memasuki ruangan. Adel tidak begitu terkejut dengan penampilan gadis itu, tidak sampai ia menyadari siapa yang kini duduk di kursi kosong–tepat di samping gadis itu–sembari memasang tampang polos.

“Kalau ada yang mau dibicarakan, tunggu sampai waktu makan siang. Aku sedang bekerja sekarang,” ujar Adel, lalu meraih map kuning bertuliskan nama Alicia Scheunemann. “Oke, Alicia. Kau berasal dari Jerman?”

“Iya kak!” seru Alicia tanpa memerhatikan raut wajah Adel yang mulai berubah.

“Well, kau ingin masuk ke bagian mana kalau kau diterima bekerja di sini?”

“Tour Leader! Kalau tidak, tour guide juga tidak masalah kak. Aku tidak suka ditempatkan di bagian tiket,” cerocos Alicia setengah berteriak.

“Ugh! Entah apa jadinya jika seisi kantor bertransformasi menyerupai dirinya. Sakit kepala ringanku bisa berganti menjadi vertigo dalam sekejap.” Adel membatin dalam hati.”Apa alasannya kau…”

“Aku ingin jalan-jalan keliling dunia gratis, menambah koleksi album fotoku, mendapatkan tip yang banyak dan mencari pacar di luar negeri. Hebat, kan?” cengiran lebar mengembang di bibirnya. “Oh ya, bagaimana caranya agar aku bisa sukses seperti kakak? Punya banyak uang, bisa jalan-jalan kemana saja, dan…”

“CUKUP!” bentak Adel tiba-tiba, disusul gebrakan meja yang mungkin tidak disangka keduanya–Alicia dan laki-laki itu, yang masih duduk mematung di sana. “Lamaranmu ditolak, kau boleh meninggalkan tempat ini sekarang juga!” Adel bangkit berdiri dari kursinya, bermaksud ingin segera keluar dari sana saat sebuah tangan hangat menangkap lengannya.

“Adel! Kau terlalu berlebihan! Alicia anak dari sahabat ayahku, dia menitipkan Alice padaku. Ia menyuruhku mencarikannya pekerjaan dan aku pikir lebih baik bila mempekerjaannya di tempatmu.”

“Aku? Berlebihan!? Yang benar saja,” cetus Adel kasar. Ia menyentak lengannya hingga terlepas dari genggaman laki-laki itu.

“Sejak kapan kau berubah menjadi sosok mengerikan seperti ini, Adel? Aku bisa memaklumimu kalau kau sedang dalam suasana hati yang tidak bagus, namun kau tidak pantas bersikap begini terhadap Alice.”

“Hah!” Adel mendengus. “Kalau begitu jauhi saja aku! Kau pergi ke Amerika, pulang membawa gadis Jerman ini, lalu membuat keributan, apa kau tidak sadar siapa yang berlebihan di sini? Kau bahkan tidak pernah membentakku seperti tadi, kau selalu membelaku, tapi kini! Karena gadis itu kau tega mempermalukanku? Siapa yang berubah, hah!? Siapa!?” nada suara Adel meninggi, tidak bisa dikontrol dan gadis itu tidak perduli sedang berada dimana ia sekarang. Ia juga menghiraukan dengan siapa ia berbicara–Dani.

“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan menjauh darimu sampai kita siap untuk berbicara dengan kepala dingin. Aku pulang bersama Alice, apartmentnya agak jauh dari sini. Aku permisi,” ujar Dani. Kemudian ia berbalik ke arah pintu dan melangkahkan kakinya lebar-lebar, disusul Alicia di belakangnya yang terus menerus mengucapkan permintaan maafnya.

Tapi Adel sudah lelah, suara cempreng Alicia pun tidak dapat menembus gendang telinganya. Tubuhnya merosot ke kursi, bahunya naik turun–berusaha menahan air mata yang melesak keluar–dan ia langsung menelengkupkan kepalanya ketika Dani dan Alicia sudah menghilang dari pandangannya. Apa yang ia takutkan selama ini menjadi kenyataan. Ia tidak pernah mengharapkannya. Namun mengapa semuanya harus terjadi secepat ini?

Adel bahkan belum bertatap muka dengan Dani selama hampir 6 minggu. Dan pertemuan hari ini harus berakhir menyedihkan seperti itu. Entah kapan ia siap berbicara dengan Dani. Memikirkan kejadian tadi sedikit menimbulkan rasa muak dalam dirinya. Ia muak dengan sikap tempramentalnya, dengan Alicia, dengan semuanya–termasuk dengan Dani.

To Be Continued…