Fanfiction : The One That Got Away #11

pageFF copy

Happy reading😉

Marc berjalan cepat menuju kamar Roser dengan rahang mengeras dan tangan terkepal di kedua sisi tubuh. Langkahnya konstan. Sorot tajam matanya membuat pelayan-pelayan yang dilaluinya merinding. Mereka tidak pernah melihat tuan muda yang baru seminggu terakhir tinggal di rumah tempat mereka bekerja tampak begitu marah.

Tanpa mengetuk pintu, Marc menjeblak pintu kamar Roser, menemukan wanita paruh baya itu memunggunginya dan tampak sibuk mencari sesuatu di bawah nakas sebelah tempat tidur berukuran king-size. Marc segera menghampiri wanita itu.

Roser membalikkan tubuh saat mendengar pintu kamarnya terbuka agak keras. Sedikit merasa jengkel kepada ‘si lancang’ karena tidak mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk ke kamarnya, tetapi perasaan itu seketika lenyap saat Roser menatap wajah keras milik Marc.

“Ada ap….”

Sebelum Roser sempat menyelesaikan ucapannya, Marc langsung memotong, “Kau tahu, ‘kan?” desisnya penuh amarah. Tidak peduli sekalipun Roser adalah ibunya, Marc terlalu marah untuk tidak mengarahkan tatapan tajam pada Roser. Ia dilanda berbagai emosi setelah mengetahui kenyataan yang akan menghancurkan sahabat masa kecilnya.

“Tahu apa? Apa maksudmu, Marc?” Roser melemparkan ekspresi kebingungan karena ia memang tidak tahu apa maksud ucapan putra sulungnya itu.

Marc menggeram. “Estelle dan Clarissa. Kau sudah mengetahuinya, ‘kan? KAU TAHU KAN, MOM? KAU TAHU DAN KAU TIDAK MEMBERITAHUKU!” teriaknya penuh kekecewaan. Ekspresi terluka memenuhi wajah Marc.

Butuh beberapa detik sebelum Roser dapat menangkap apa maksud perkataan Marc. Dan bagai disambar petir di pagi hari, hati Roser mencelus. Tenggorokannya tercekat. Roser coba menelan ludah untuk menekan gumpalan asing yang menyumbat rongga mulutnya sebelum ia menjawab Marc. Ragu, namun ia tahu Marc menunggu penjelasannya.

“Marc….”

Suara Roser yang gemetaran membuat orientasi Marc berputar. Ia terguncang. Seolah jatuh dari ketinggian dan mendarat di bebatuan krikil tajam, membuat seluruh tubuhnya tergores cukup dalam, ia terluka sangat parah. Hatinya sakit. Tapi ia tahu perasaan sakit ini mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka yang akan Estelle dapatkan saat gadis itu mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

Tidak. Marc tidak akan membiarkannya. Gadis itu sudah cukup banyak terluka. Sudah cukup banyak air mata yang ditumpahkan Estelle untuk menangisi hidupnya. Ia tidak akan membiarkan gadis itu semakin banyak merasakan sakit yang tidak seharusnya ia dapatkan. Estelle tidak berhak. Gadis itu tidak bersalah. Tapi… orangtuanyalah. Merekalah yang harus dipersalahkan atas penderitaan Estelle. Merekalah yang harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka yang membuat Estelle harus merasakan duka. Marc tidak akan membiarkan mereka menyakiti Estelle lagi. Tidak akan!

Sekuat tenaga Marc coba mengendalikan emosinya. Ia menekan suaranya. “Kapan? Kapan, Mom?” tanyanya dengan bibir terkatup rapat. Kernyitan di dahinya seperti orang menahan kesakitan. Mata gelapnya tidak kendur. Ia semakin menusuk Roser dengan tatapan tajamnya.

Merasa terintimidasi oleh sorot tajam Marc, Roser memalingkan wajahnya. Wanita itu tidak berani beradu pandang dengan Marc yang sedang marah. Ketakutan merasukinya. Ia tidak pernah melihat Marc dalam keadaan semarah ini. Tidak pernah hingga hari ini ketika fakta mengenai status kelahiran Estelle terkuak.

“Sejak aku mendengar tangis pertamanya,” gumam Roser dengan perasaan tak keruan. Ia tidak memiliki pilihan lain sekarang selain memberitahu Marc yang sesungguhnya.

“Apa?” Raut tak percaya tercetak di wajah Marc. Demi Tuhan, ibunya telah mengetahui hal ini belasan tahun yang lalu, bahkan saat hari di mana Estelle terlahir ke dunia. Roser tahu. Ibunya tahu. Dan ia tidak diberitahu.

Roser menyentuh lengan Marc yang tegang. “Aku minta maaf tidak memberitahumu soal ini, Marc. Kupikir belum saatnya kau mengetahui tentang status kelahiran Estelle. Tapi, percayalah. Itu tidak mengubah apa pun. Kau tidak akan kehilangannya. Adri sahabat terbaikku. Dia wanita yang baik. Sayangnya dia tidak diberkahi anugerah untuk memiliki anak. Karena tidak ingin mengecewakan Casey dan atas persetujuan Clarissa yang sebenarnya… adalah adik kandung Adri sendiri, Clarissa bersedia meminjamkan rahimnya… untuk menghasilkan keturunan sah dari keluarga Stoner,” jelas Roser sembari terisak pelan.

Marc memejamkan matanya, terlihat berpikir keras. Ia tidak mengerti kenapa wanita yang hampir 16 tahun bekerja sebagai pelayan rumah tangga di keluarga Stoner ternyata adalah ibu kandung Estelle.

“Kenapa harus Clarissa? Kenapa harus dia, Mom?” tanya Marc dengan nada frustrasi. “Tidak tahukah mereka apa akibatnya jika sampai Estelle tahu tentang ini? Kalaupun benar Clarissa adalah ibu kandung Estelle, tidak seharusnya dia tinggal di atap yang sama dengan Estelle. Sudah cukup banyak rasa sakit yang diterima Estelle, Mom. Dia tidak berhak mendapatkannya. Dia tidak berhak merasakan sakit akibat perbuatan orangtuanya. Estelle akan hancur, Mom. Dia akan hancur. Dan kau tahu apa artinya? Jika Estelle hancur, aku juga akan hancur.” Pria itu meremas rambutnya, kemudian mengusap wajahnya, menghapus cairan bening yang berkumpul di sudut matanya.

“Marc, aku tahu ini berat untukmu, terlebih Estelle. Tapi ini tidak sesederhana yang kau pikirkan. Benar Clarissa adalah ibu kandung Estelle. Justru itulah yang membuat dia tidak bisa pergi jauh dari sisi Estelle.” Roser berhenti, mengambil napas sejenak, kemudian melanjutkan dengan wajah muram. “Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Semuanya sudah terjadi. Kau ingat, bukan? Tugas kita di sini adalah untuk membantu Estelle. Dia juga tahu, Marc. Estelle tahu mengenai statusnya sebelum ingatannya hilang. Apa Clarissa memberitahumu penyebab Estelle amnesia?” Roser meremas jari-jari Marc. Wanita itu melemparkan pandangan penuh kasih dan kelembutan pada Marc hingga perlahan-lahan raut keras di wajah Marc mengendur.

“Karena Casey?” Marc bertanya dengan nada getir. Saat menyebut nama pria itu, lidah Marc terasa pahit. Ingin rasanya Marc mencekik leher bajingan sialan itu.

“Ya.” Roser mengangguk. “Dialah yang menyebabkan Estelle hilang ingatan. Estelle tidak pernah mengalami kecelakaan. Sekali pun di hidupnya ia tidak pernah. Semua cerita di media yang memuat beritanya adalah kebohongan untuk menutupi imej Casey di mata publik. Sesungguhnya yang terjadi adalah saat Estelle memergoki Casey dan Clarissa sedang bermesraan di kamarnya, Estelle syok berat. Dan yang membuatnya terpukul adalah saat Casey menyebut Estelle sebagai anak kandung Clarissa, bukan Adriana. Kau bisa bayangkan anak sekecil itu harus mendapati kenyataan bahwa ia adalah anak haram.”

“Estelle bukan anak haram! Akan kubunuh bajingan sialan itu!” Marc menggertakkan giginya. Kepalan tangannya kembali mengeras. Rahangnya menegang. Namun, ia tidak beranjak dari tempatnya, tetap menunggu Roser menyelesaikan ceritanya.

“Kalau membunuh Casey dapat memperbaiki keadaan, bunuhlah dia. Tapi situasi tidak akan berubah, Marc. Malam itu Casey sedikit mabuk. Saat ia melihat Estelle memergokinya, ia marah besar. Estelle ketakutan saat melihat Casey, makanya ia kabur. Tapi apa yang bisa dilakukan anak sekecil itu? Tepat di atas puncak tangga, Casey menangkapnya dan mengancam Estelle. Estelle memberontak dan Casey secara tidak sengaja mendorong Estelle dan….” Roser tidak sanggup melanjutkan ceritanya. Ia kembali menghapus air matanya.

“Keparat!” maki Marc penuh amarah. Tubuhnya mengejang. Mata kelamnya menggelap.

“Hal terakhir yang Estelle ingat saat ia siuman adalah Casey mendorongnya jatuh dari tangga. Semua ingatan masa lalunya hilang. Tapi ia berusaha mengoreknya dari media-media yang pernah memuat berita tentang keluarganya. Perlakuan Casey juga tidak berubah. Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau benci Casey, Marc. Tapi, dia pria malang yang hilang arah. Kematian Adriana membuatnya dirundung perasaan bersalah. Juga kejadian Estelle.” Roser memberi pengertian pada Marc. Ia tidak masalah jika Marc menuduh Casey. Tapi Roser ingin Marc tahu, keadaan Casey juga tidak sama baiknya dengan Estelle setelah kematian Adriana.

“Aku tidak akan bersimpati pada bajingan itu, Mom. Kau bisa pegang kata-kataku. Sekali lagi dia menyakiti Estelle, dia akan mati di tanganku,” desis Marc dengan suara rendah nan mematikan.

Roser mengulas senyum tipis. “Maka lindungi dia. Jaga Estelle, Marc. Bersabarlah menghadapi sikapnya. Emosinya juga tidak stabil. Anggap makiannya seperti candaan bagimu. Dia hanya terluka. Tapi jangan terlalu menunjukkan kepedulianmu. Perlahan-lahan, Marc. Kau pasti mengerti maksudku.”

Otot di sekitar wajah Marc mulai sedikit relaks. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Mom. Terima kasih.”

Saat Marc membalikkan tubuh hendak keluar dari kamar Roser, suara Roser menghentikannya. Marc tidak lantas memutar tubuhnya, melainkan berdiri diam menunggu apa yang ingin Roser sampaikan.

“Amnesia yang diderita Estelle termasuk tipe berat yang kecil kemungkinannya ingatannya akan kembali. Berusahalah lebih keras.”

Itu pasti, Mom, tekadnya dalam hati.

***

“Clarissa!”

Wanita yang dipanggil Clarissa itu tersentak kaget dan buru-buru memutar tubuhnya untuk menghadap sang nyonya rumah baru yang kini berdiri di depannya dengan ekspresi kaku. Clarissa baru saja keluar dari kamar Estelle. Sembari memegang nampan yang masih menyisakan makanan di atas piring, tangan Clarissa bergetar di bawah tatapan tajam Roser.

Clarissa coba menenangkan dirinya. Ia tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya. Ia tertangkap basah. Ya. Tertangkap basah. Berlama-lama di kamar Estelle dan menemani gadis itu makan, Clarissa telah melanggar aturan. Tak peduli ia adalah pelayan yang sudah cukup lama bekerja untuk keluarga Stoner, tapi perbuatan yang barusan tidak dapat dibenarkan.

Clarissa yakin Roser telah diberitahu Casey tentang peraturan ini. Hukum di rumah ini dengan sangat jelas mengatur tentang seorang pelayan rendahan dilarang berada di ruangan yang sama dengan anak majikan mereka lebih dari 5 menit. Tapi Clarissa melanggarnya. Terlalu sering melanggar malah. Ia pikir selama Casey tidak tahu dan Mr. Beer, kepala pelayan rumah tangga di rumah ini memberinya kelonggaran untuk menemui dan berbicara dengan Estelle, itu tidak menjadi masalah. Lagi pula, toh, jarang-jarang Clarissa dapat bertemu Estelle.

Ini semua karena sumpah terkutuk itu. Demi Tuhan, Clarissa tidak tahu apa yang ia pikirkan saat itu sampai bersedia mengucap sumpah yang kini membuatnya sangat menderita karena tidak bisa mengklaim apa yang menjadi miliknya. Ia sungguh menyesal pernah mengucapkannya. Hanya penyesalanlah yang tetinggal di hatinya.

Clarissa mengangguk takut-takut. “Iya, Nyonya?” responsnya dengan suara bergetar.

Melihat ketakutan Clarissa, perlahan Roser mengubah raut wajahnya menjadi lebih kalem. Sebuah senyum ia perlihatkan di wajahnya. “Kau tidak perlu merasa takut, Clarissa. Aku sudah sering melihatmu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” ucap Roser sembari berjalan mendekat ke arah Clarissa. Wanita itu meyentuh tangan Clarissa yang mencengkeram erat pinggiran nampan karena terlalu gugup. Kali ini Roser menyunggingkan senyum tulus sembari meremas pelan tangan Clarissa. “Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu.”

Clarissa dapat mendengar ketulusan dari ucapan Roser. Ia coba memberanikan diri menatap ke dalam mata Roser. Mata itu… tidak lagi menatapnya dengan cara yang sama seperti dulu. Tidak ada aura permusuhan. Sebaliknya, mata itu untuk pertama kalinya sejak kematian Adriana memancarkan kehangatan saat melihatnya. Clarissa merindukan mata itu. Sungguh. Ia sangat merindukan mata itu.

“Kak….” Mata Clarissa berkaca-kaca. Ia coba menahan diri untuk tidak terisak.

Senyum Roser bertambah lebar. Matanya juga berkaca-kaca. “Senang mendengar kau memanggilku dengan sebutan itu, Clarissa. Sudah lama sekali.”

“Ya. Sudah lama sekali.” Clarissa menganggukkan kepalanya. Dua butir air mata jatuh dari matanya.

“Jangan menangis. Aku tidak menemuimu untuk melihatmu menangis,” omel Roser seraya mengusap air mata Clarissa.

“Maaf,” ucapnya pelan.

“Ikut aku. Ada yang perlu aku bicarakan denganmu,” Roser berujar sembari menyentuh pundak Clarissa dan menuntun wanita itu pergi bersamanya.

Kelembutan Roser membuat Clarissa merasa aman. Ketakutan yang sempat merasuki tadi saat Roser menangkap basah dirinya setelah berlama-lama di kamar Estelle hilang.

Clarissa sangat bersyukur wanita yang sedang menuntunnya ini tidak melemparkan tatapan menghakimi atau menuduh kepadanya.

Roser membawa Clarissa ke taman belakang rumah. Setelah memastikan tidak ada pelayan lain yang berkeliaran di sekitar mereka, Roser menyuruh Clarissa duduk di salah satu kursi panjang putih yang menghadap ke danau buatan kecil yang dipenuhi daun bunga teratai.

Roser mengambil tempat di sebelah Clarissa. Nampan yang tadi dibawa Clarissa telah disingkirkan ke ujung kursi. Tak ada yang bersuara. Baik Roser maupun Clarissa sama-sama terdiam, tenggelam dalam kesunyian pagi.

Roser menghela napas dan melemparkan pandangannya ke arah Clarissa. Sebuah kekehan kecil terdengar dari bibirnya. “Ini konyol. Bukankah tadi aku mengatakan ingin membicarakan sesuatu padamu? Kenapa aku menjadi diam membisu seperti ini?” Roser menertawakan dirinya sendiri.

Clarissa tersenyum tipis mendengar kekehan itu.

“Hampir 16 tahun. Apa kau tidak lelah menunggu selama itu, Clarissa?” Roser memandang sedih pada Clarissa. “Apa tidak sedikit pun terbersit dalam pikiranmu bahwa suatu hari nanti dia akan memanggilmu dengan sebutan ibu? Apa kau tidak ingin dia, putri yang tidak bisa kau miliki memanggilmu dengan sebutan ibu? Kau ingin memilikinya, bukan? Kau ingin mendengarnya memanggilmu ibu, bukan?”

Clarissa mengembuskan napas dengan perasaan sesak di dada. Bayangan Estelle tersenyum kepadanya, menggelayut manja di pundaknya, dan memanggilnya dengan sebutan ‘Mom’ membuat sudut matanya kembali tergenang cairan bening. Ia ingin, sangat ingin Estelle memanggilnya dengan sebutan itu. Ia sangat merindukan saat seperti itu terjadi.

Estelle, putri yang ia kandung selama sembilan bulan, yang dengan susah payah ia lahirkan dengan pertaruhan nyawa, namun sedikit pun ia tidak memiliki hak untuk menjadi ibu gadis itu. Hati siapa yang tidak sakit? Sukmanya berteriak, menyuruhnya untuk mengambil Estelle pada saat gadis itu masih kecil dan membawanya pergi agar ia bisa merawat dan membesarkan anak itu sendirian. Tidak perlu lagi merasa takut atau khawatir. Tapi ia tidak berdaya. Ia tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk membawa Estelle kecil pergi bersamanya. Tidak bisa sekalipun ia adalah ibu kandungnya.

“Kau tahu, Kak? Satu-satunya kesalahan terbesar yang pernah kuperbuat adalah menuruti keinginan Kak Adri untuk menghasilkan anak dari rahimku. Tapi aku tidak menyesal. Karena Estelle hadir. Dia putriku. Anak yang pernah berada di rahimku dan yang kurawat selama sembilan. Sedikit pun aku tidak menyesal, Kak. Yang kusesalkan hanya satu hal. Sumpah yang tak bisa kutarik kembali.” Mata Clarissa mulai mengabur dan ia kembali terisak pelan.

“Aku menyesal, Kak. Sangat menyesal pernah mengucap sumpah untuk tidak mengakui Estelle sebagai anakku dan merelakannya dirawat oleh Casey dan Kak Adri. Tidak ada penyesalan lain yang pernah kurasakan sebesar penyesalanku menyerahkan anakku pada mereka. Rasanya sakit, Kak. Sakit sekali.” Clarissa meremas dadanya dan  mengerang penuh kesakitan.

Roser menatap iba pada Clarissa. Ia juga seorang ibu. Walaupun tidak pernah berada di posisi Clarissa, tapi ia dapat merasakan perasaan sakit seperti apa yang dialami Clarissa. Ia sangat mengerti. Tapi dengan teramat menyesal, Roser terpaksa harus mengabaikan perasaan wanita itu. Bukan untuk ini ia datang kepada Clarissa. Sebutlah ia kejam, tapi ia harus melakukannya. Demi Estelle, Marc, dan demi Clarissa juga.

“Aku memang tidak pernah tahu sebesar apa dan sebanyak apa luka yang harus kau tanggung, Clarissa. Tapi percayalah. Aku juga merasa sakit. Aku membencimu. Aku sangat benci padamu, Clarissa. Kau tak ubahnya seorang pengkhianat!” Roser menampakkan raut sakit hati. Ia memunculkan bayangan Adriana untuk membantunya mengaburkan perasaan iba yang tadi ia rasakan pada Clarissa.

Maafkan aku, Clarissa.

“Kak….”

Clarissa terkejut mendengar nada marah Roser. Pundaknya terasa berat seketika. Apa yang ia harapkan? Berharap Roser akan kembali baik padanya setelah kematian Adriana, sahabat yang dicintainya itu? Mustahil. Ia tidak akan pernah termaafkan. Ia pantas dibenci oleh semua orang, termasuk Roser.

Clarissa tahu ia bersalah. Ialah yang pantas disalahkan atas kematian Adriana. Seandainya malam itu ia tidak melayani Casey, maka semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Adriana tidak akan meninggalkan Australia dan kematian wanita itu pun tidak akan terjadi. Ini semua salahnya. Betapa kejamnya dirinya. Betapa bejatnya dirinya. Ia tak ubahnya seorang wanita jalang yang menggoda suami orang. Ia dengan sukarela melayani hasrat suami kakaknya malam itu.

Clarissa tak menampik apa yang dilakukannya semata-mata karena ia mencintai Casey. Pria itu cinta pertamanya. Satu-satunya pria yang dapat menggetarkan hatinya. Suami kakaknya sendiri.

Clarissa ingat, 16 tahun yang lalu, Adriana datang kepadanya dalam keadaan frustrasi dan berantakan. Penyebabnya tak lain adalah Casey mengancam akan menceraikannya karena pernikahan yang mereka bina selama 7 tahun tak menghasilkan apa-apa. Casey mendambakan seorang anak yang tak mampu diberi oleh Adriana.

Adriana pada saat itu sedih. Ia putus asa. Ia mencintai suaminya dan tidak ingin bercerai. Maka satu-satunya jalan agar rumah tangganya kembali utuh adalah memberi Casey seorang anak. Dan yang mampu menolongnya saat itu adalah Clarissa, adik kandungnya.

Adriana memohon padanya, memintanya untuk meminjamkan rahimnya. Sebenarnya ia bisa saja mencari wanita lain untuk dipinjamkan rahimnya. Tapi Adriana tidak percaya pada orang luar. Ia tidak ingin sembarangan mencari ibu dari calon anak yang akan ia dan Casey asuh memiliki kualitas jelek dan berasal dari kalangan dengan latar belakang tidak jelas.

7 tahun hidup bersama Casey cukup membuat Adriana tahu bagaimana kualitas yang diinginkan suaminya. Adriana mengenal Casey. Suaminya menyukai segala sesuatu yang sempurna. Lagi pula, ada sebersit kekhawatiran di benak Adriana seandainya ia meminjam rahim wanita lain selain Clarissa. Seandainya anak itu telah lahir dan Casey jatuh cinta pada wanita yang telah melahirkan anaknya, maka ia akan kehilangan Casey. Adriana tidak mau. Untuk itu, Adriana akhirnya memilih Clarissa yang pada saat itu berusia 22 tahun untuk meminimalisir resiko ia kehilangan Casey.

Adriana percaya pada Clarissa. Adiknya tidak mungkin mengkhianatinya. Maka ia rela membiarkan suaminya tidur dengan adiknya untuk menghasilkan keturunan. Tapi kenyataannya, perasaan lain tumbuh di hati mereka masing-masing. Casey dan Clarissa, dua manusia yang dipertemukan oleh Adriana saling jatuh cinta satu sama lain.

Adriana hancur pada malam itu. Ia kira setelah putri yang dikandung Clarissa lahir, ia dapat hidup bahagia bersama Casey. Tapi harapan tinggallah harapan. Setelah Estelle lahir, Clarissa memohon pada Adriana agar diperbolehkan bekerja menjadi apa saja di rumah ini dengan catatan ia dapat melihat putri yang dengan susah payah ia lahirkan dari dekat. Clarissa janji ia tidak akan mendekati putrinya. Ia hanya ingin melihat. Hanya melihat saja.

Adriana mengizinkannya. Ia percaya adiknya tidak akan mengkhianatinya. Tetapi, Clarissa berkhianat. Setelah kewajibannya untuk menghasilkan keturunan suami kakaknya usai, Clarissa melanjutkan hubungan gelapnya dengan Casey. Ia beralasan cintalah, cintalah yang membuatnya berani melakukan hubungan terlarang itu dengan Casey.

Roser menarik napas dan mengembuskannya perlahan sebelum kembali melanjutkan. “Betapa jahatnya kau, Clarissa. Betapa kejamnya kau terhadap kakakmu sendiri. Kau menghancurkan keluargamu sendiri. Kau menghancurkan Adriana. Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Apa kau sadar, Clarissa? Apa yang membuatmu berpikir untuk melakukan hal seperti itu?” Air mata menggenang di mata Roser. Ia sangat marah. Ia tidak menyangka, Clarissa, adik yang selalu dibanggakan Adriana itu tega berbuat hal seperti itu pada kakaknya sendiri.

“Aku minta maaf, Kak. Aku bersalah. Aku minta maaf,” isak Clarissa tersedu-sedu.

“Kalau maafmu dapat menghidupkan Adriana dan mengembalikan Casey menjadi sosok lembut seperti dulu, sudah dari dulu kau kumaafkan, Clarissa. Tapi kata maafmu tidak ada artinya lagi setelah apa yang terjadi. Kau bukan hanya menghancurkan Adriana. Kau juga menghancurkan keluarganya. Bahkan kau menghancurkan hidup putrimu sendiri. Apa kau pikir jika Estelle tahu tentang ini dia akan sudi memanggilmu dengan sebutan ibu? Demi Yang Kudus, Clarissa, kau akan mendapatkan balasan atas apa yang kau perbuat,” ujarnya dengan nada mengecam.

“Apa yang harus kulakukan, Kak? Aku benar-benar menyesal. Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku tidak bermaksud menghancurkan hidup Adriana, Casey ataupun Estelle. Aku harus bagaimana?” Clarissa terisak dengan bahu terguncang hebat. Ia melayangkan tatapan memohon ke arah Roser.

“Ada, Clarissa. Ada yang bisa kau lakukan.” Roser mengembuskan napas lelah.

Sejenak segenggam harapan muncul di mata Clarissa. Masih ada cara memperbaiki kesalahannya. Ia rela melakukan apa pun demi menebus dosanya pada Adriana dan juga kepada putrinya. “Apa itu, Kak?” tanya Clarissa pelan.

Roser memandang Clarissa penuh arti. “Bantu aku, Clarissa. Bantu aku pulihkan ingatan Estelle.”

Mata Clarissa membesar. Tubuhnya mendadak kaku. Pulihkan ingatan Estelle? Mengembalikan ingatan anak itu? Tidak! Ia tidak bisa. Jika Estelle dapat mengingat semuanya, ia akan kehilangan anak itu. Estelle akan membencinya. Estelle akan membencinya seumur hidup. Clarissa tidak mau.

“Itu kalau kau masih ingin menebus kesalahanmu pada Adriana, Clarissa. Keputusan ada di tanganmu.” Roser menyunggingkan senyum kecut.

Clarissa tertegun. “Kenapa? Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Kak?” tanyanya, membelalakkan matanya. Sebersit kemarahan merasuki dirinya.

“Kau tidak perlu menanyakan hal ini lagi, Clarissa. Pernah mendengar istilah nyawa dibayar dengan nyawa? Kau harus membayar semuanya. Kau harus membayar seluruh kesalahanmu. Well, tidak sepenuhnya. Casey juga bersalah. Kalian harus membayarnya, Clarissa. Harus!” tandas Roser sembari berdiri dari tempat duduk dan meninggalkan Clarissa yang masih syok di tempat.

Clarissa menatap kepergian Roser dengan perasaan gundah. Ia tidak bisa melakukan ini. Ini sama saja membunuh dirinya. Mengembalikan ingatan Estelle? Demi Tuhan, jika sampai Estelle dapat mengingat semuanya, gadis itu tidak akan sudi menatap wajahnya.

Air mata Clarissa semakin deras membanjiri wajahnya. Ia menghadapi dilema besar.

Sementara di sisi lain yang gelap, tanpa Roser atau Clarissa sadari sebelumnya, seseorang tersenyum licik di balik pepohonan yang berada tak jauh dari danau kecil itu.

Tak kusangka. Ternyata kau adalah anak haram, Estelle. Selamat datang, Sayang! Selamat datang di neraka yang telah diciptakan oleh ibumu sendiri. Tunggu pembalasanku.

To Be Continued…

Budayakan berkomentar atau sekadar meninggalkan jejak kaki setelah membaca. Hal itu sebagai bentuk penghargaan untuk si penulis. Tidak terhadap tulisan di blog ini saja. Tapi berlakulah sama terhadap setiap blog yang Anda singgahi. Tak lupa si penulis juga ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mampir dan membaca tulisan ini.🙂

6 thoughts on “Fanfiction : The One That Got Away #11

  1. Sekali lagi dia menyakiti Estelle, dia akan mati di tanganku… Eu si Marc ini cocok jadi temennya Sophia -,- Aku menunggu part selanjutnya tapi… aku kangen Miguel. MSHS soon please…

    Suka

  2. Aku emang paling suka bahasamu di FF The One That Got Away ini Rit, ringan, mudah dimengerti, tapi mengandung makna yg dalam. Coba kutebak, pasti yg nguping itu Alicia. Aku suka FF ini tuh, karena konfliknya yg greget dn jarang ditemui. Next ya Rit🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s