Mini FF : Grow Old With You

cove2r

Setelah puasa bikin ff selama *cek kalender dulu* sebulan lebih, finally I come back with a new one. Aku gak terlalu menaruh ekspektasi besar untuk ff ini. Mungkin beberapa pembaca bakal mati kebosanan ngebacanya. Ini ff punya narasi berjibun mennnnn. Trus banyak typo *sepertinya* bertebaran. So, happy reading😉

Laura mematut dirinya untuk terakhir kali di depan cermin besar yang tertempel di dinding kamarnya. Rambut ikal cokelat sepunggung yang dulu dimilikinya kini tinggal separuh. Bukan karena ia sengaja memotong rambut kesayangannya itu, tapi keadaanlah yang memaksanya harus merelakan mahkota indahnya itu.

Luka tusuk yang dideritanya di bagian depan perut yang menembus hingga punggung belakangnya, membuatnya harus mendapat perawatan selama 4 bulan di rumah sakit. Dokter menyarankan agar rambutnya dipotong hingga setengah punggung untuk memudahkan mereka mengobati lukanya karena hal ini sangat riskan mengingat rambut dapat menyebabkan kontaminasi silang walaupun luka yang diderita Laura sudah terbalut oleh perban khusus. Selain itu juga agar tidak mengganggu jalannya proses penyembuhan.

Sejujurnya ia tidak setuju dengan saran dokter yang menanganinya pada saat itu, begitu juga kedua orangtuanya. Tapi demi kesembuhan Laura, hal itu harus dilakukan. Toh, rambut bisa tumbuh lagi kan seiring berjalannya waktu? Satu-satunya hal yang harus ia pusingkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk menghilangkan bekas luka ini. Laura tidak mau bekas luka ini terus membekas di tubuhnya. Bukan karena ia malu memiliki bekas luka tersebut, namun faktor traumatis akibat kejadian itu membuatnya terkadang merasa waswas setiap ditinggal sendirian. Luka ini selalu membawa ingatannya kembali ke kejadian 4 bulan lalu, ke hari di mana luka tersebut bisa bersarang di perut hingga menembus ke punggungnya.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Jam baru menunjukkan pukul 19.30. Turun dari subway, Laura berencana pergi ke Starbucks untuk membeli secangkir kopi kesukaannya sebelum pulang ke apartemen. Ia membutuhkan kafein karena harus bergadang mengerjakan makalah yang mesti ia kumpulkan besok.

Namun, rencana seketika berubah saat ia sadar sedang diikuti oleh seseorang di belakang.

Laura berusaha tidak panik. Walaupun tubuhnya sudah bergetar karena ketakutan.

Kepanikan membuat Laura tak mampu berpikir. Bukannya langsung pulang ke apartemen, gadis itu berjalan di sepanjang trotoar jalan menuju pusat kota. Hal yang dapat ia pikirkan saat itu adalah mencari pertolongan.

Segalanya berjalan dengan cepat. Gadis itu sampai di pusat kota. Dan di sana jugalah tragedi berdarah itu terjadi.

Laura mengira ia sudah aman karena berpikir orang itu pasti tidak akan berani berbuat macam-macam di tengah keramaian seperti ini. Dan ia salah. Orang itu, yang seingat Laura seorang pria mengenakan pakaian serba hitam, sempat menghilang dari belakangnya. Laura lega mengetahui ia sudah berhenti diikuti. Namun, tak disangka-sangka, sesuatu yang dingin dan tajam menembus perutnya. Darah mengucur seketika. Dan Laura sadar darah yang mengalir deras hingga blus birunya bermandikan cairan merah itu adalah darahnya sendiri.

Pria dengan tubuh tinggi menjulang dan berpakaian serba hitam itu kini ada di depannya, menusuk perutnya dengan pisau tajam dan panjang hingga menembus ke belakang punggungnya. Wajah pria itu tertutupi syal. Yang terlihat hanya matanya saja. Laura masih ingat warna bola mata pria itu adalah cokelat hazel. Mata itu memberinya tatapan bengis.

Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Saat ia tersadar, tubuhnya sudah terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Kata ibunya, ia hampir mati kehabisan darah saat perjalanan menuju rumah sakit. Akibat tusukan itu, selain ia harus merelakan salah satu ginjalnya diangkat karena pecah terkena tusukan, ia harus terbaring koma selama seminggu.

Masa pemulihan yang memakan waktu hingga 4 bulan hampir membuatnya gila. Dua bulan pertama ia tidak diizinkan turun dari tempat tidur. Segala sesuatunya harus dilakukan di atas tempat tidur, termasuk buang air kecil hingga buang air besar.

Mengingat kembali masa-masa itu membuat Laura mual. Dua bulan yang penuh dengan kesakitan harus ia lalui sendirian. Well, tidak benar-benar sendirian sebenarnya. Ibunya selalu setia mendampingi. Sementara ayahnya, yang harus membagi antara pekerjaan dan dirinya, tidak pernah absen untuk membesuk putri semata wayangnya. Robert memang tidak bisa selalu mendampingi Laura. Namun, pria paruh baya itu selalu memantau perkembangan putrinya melalui sang istri. Statusnya sebagai pengusaha papan atas membuatnya tidak dapat meninggalkan perusahaan barang sehari pun.

Ada satu hari saat Laura sedang tertidur, Robert datang kepadanya dan menangis. Meminta maaf karena tidak dapat menjadi ayah yang baik untuk Laura karena selalu sibuk mengurusi perusahaan. Bahkan saat putri kesayangannya sakit pun, ia tetap tidak dapat meluangkan waktunya kecuali di akhir pekan untuk menemani Laura. Ia merasa sangat buruk menjadi ayah untuk Laura.

Sejujurnya Laura tidak pernah protes ayahnya memiliki kesibukan yang sangat luar biasa itu. Ia tidak menuntut banyak perhatian. Ia tahu ayahnya sayang padanya. Itu sudah cukup baginya. Walaupun tidak mengontrol secara langsung, tapi Laura tahu Robert memiliki banyak mata-mata yang secara rutin melaporkan apa saja yang telah dilakukan putrinya dan dengan siapa hari itu putrinya bertemu dan berbicara. Sangat mendetail.

Selain itu, menjadi seorang pengusaha memang membuat Robert mendapat banyak pesaing. Sejauh ini Robert dapat menanganinya dengan baik. Tapi saat persaingan itu mulai tidak sehat dan membuat keluarganya berada di bawah ancaman, ia tidak tinggal diam.

Selama ini, diam-diam Robert juga menyewa orang untuk menjaga putrinya, tentu tanpa sepengetahuan Laura. Gadis itu hanya tahu ayahnya memata-matainya, bukan memberikan penjagaan ekstra ketat. Laura akan mengamuk seandainya tahu ayahnya melakukan hal ini.

Laura tipe anak yang tidak suka kebebasan direnggut. Mengetahui ayahnya menaruh penjaga di mana-mana sudah pasti akan membuat gadis itu marah besar. Hanya Elena, Adel, sepupu sekaligus satu-satunya sahabat yang dimiliki Laura, dan orang terakhir yang mengetahui hal ini adalah Marc, kekasih gadis itu.

Untuk Marc, Robert memaksa laki-laki itu harus menerima pengaturan semacam ini jika ingin tetap berhubungan dengan Laura. Bukan karena Robert tidak percaya Marc tidak mampu menjaga Laura, tapi ini lebih kepada demi kenyamanan bersama.

Laura adalah putri semata wayangnya dan Robert tidak ingin kehilangannya. Terima tidak terima, jika ingin berhubungan dengan Laura, maka orang itu juga harus berhubungan dengan Robert dan harus menerima segala pengaturan yang ia buat demi melindungi Laura. Suka atau tidak, mereka wajib mematuhi hal ini.

Namun, hal yang masih disesali Robert sampai sekarang adalah walaupun ia sudah menyewa orang-orang untuk menjaga putrinya, putrinya tetap terluka. Hari itu orang-orangnya kecolongan. Mereka lengah memastikan keselamatan putrinya, hal yang membuat Robert sangat murka.

Setelah kejadian tersebut, tak terlihat lagi wajah-wajah orang sewaannya. Jangan ditanya ke mana perginya mereka. Karena Robert telah memberi mereka pelajaran yang sangat berharga. Lebih berharga daripada hanya sekadar menguliti mereka hidup-hidup dan mencabik-cabik daging mereka. Ini bahkan lebih kejam daripada mengeluarkan isi perut mereka dan menaburkannya ke jalanan. Mereka pantas mendapatkan yang lebih buruk karena telah lalai menjaga putri kesayangannya.

Selain Elena dan Robert, Marc juga sering mengunjungi Laura. Seminggu bisa dua atau tiga kali laki-laki itu datang. Kadang bisa juga selama seminggu batang hidung lelaki itu tidak kelihatan. Semuanya tergantung pada padat atau tidaknya jadwal Marc.

Adel sendiri sering datang membesuk. Kehadiran gadis itu sangat disyukuri oleh Elena karena wajah muram Laura seketika berubah setiap melihat Adel dengan segala kekonyolannya menghibur putrinya itu.

Laura merapikan gaun kuning tua selutut yang ia kenakan, membuka dan mengikat kembali pilinan tali kulit yang melingkar di sekitaran pinggang hingga membentuk sebuah simpulan cantik.

Laura mendesah pelan. Kembali ia menatap dirinya di depan cermin. Dengan penampilan baru, ia muncul sebagai Laura baru. Banyak yang berubah pada dirinya. Secara fisik dari segi potongan rambut, pipi tampak lebih cekung dan tubuh terlihat lebih kurus. Itu penampilan luarnya. Tapi dari dalam? Ia tidak berani menilai dirinya sendiri. Setelah kejadian penusukan itu membuat Laura menjadi pribadi yang lebih sensitif. Gadis itu jadi mudah menangis. Kehilangan salah satu ginjal juga memengaruhi psikisnya. Ia semakin minder dengan dirinya sendiri.

Laura dari dulu memiliki masalah dengan kepercayaan diri dan kini semakin parah. Boleh dibilang setelah keluar dari rumah sakit, Laura mengalami krisis.

Banyak yang merasakan perubahan itu. Paling parah Marc. Dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, gadis itu menolak bertemu dengan Marc. Selalu ada alasan yang diberikan Laura setiap mencoba menghindar dari Marc yang selama dua minggu ini datang sebanyak 10 kali ke rumah orangtua Laura.

Dari 10 kali percobaan dan akhirnya semalam Marc berhasil menemui Laura setelah diyakinkan berkali-kali oleh Elena bahwa Marc hanya ingin bertemu, ingin melihat keadaannya, dan memastikan bahwa ia baik-baik saja. Melalui Elena, pria itu juga mengatakan rindu padanya.

Benarkah Marc rindu padanya? Sejenak keraguan merasuki dada Laura.

Selama 4 bulan lamanya ia terbaring di rumah sakit dan walaupun kunjungan Marc bisa dikategorikan dalam level sering mengingat padatnya jadwal pria itu, apakah selama itu Marc tahan menungguinya menghabiskan sisa masa perawatannya di rumah sakit? Benarkah pria itu setia padanya dan tidak melirik gadis lain saat ia berjuang memulihkan dirinya pasca operasi yang entah ke berapa belas kalinya.

Entahlah. Ia pun tidak tahu sudah berapa kali ia dioperasi. Laura tidak pernah mengingatnya. Terlalu banyak obat bius yang disuntikkan kepadanya.

Saat pria itu masuk ke kamarnya, berjalan dengan ritme pelan, dengan mata sedetik pun tak terlepas dari wajah Laura. Laura melihatnya dengan sangat jelas. Raut merana penuh kerinduan tergambar jelas di wajah Marc. Sorot mata pria itu tampak putus asa, ingin mengeluh, namun di saat bersamaan menyorot bahagia.

Ada perasaan hangat menjalari hati Laura saat setelah dua minggu tidak bertemu dengan Marc. Ia merasa… nyaman dan mungkin… bahagia juga. Satu hal yang kemudian membuat Laura tersadar adalah bahwa ia juga sangat merindukan pria ini. Dua minggu lamanya ia tidak bertemu dengan Marc, saat melihat wajah pria itu kini, rasanya seolah beban dan kesakitan batin yang menderanya terangkat begitu saja. Bahkan sisa rasa sakit di perut yang sebelumnya terasa menusuk kini hilang. Ia tidak merasakan bentuk kesakitan apa pun. Hanya ada perasaan membuncah dalam dirinya. Perasaan nyaman dan aman, seolah mata pria itu menawarkan perlindungan dan obat penawar sakit kepadanya.

Berada di ambang krisis kepercayaan diri, tatapan yang diberikan Marc kepadanya membuat Laura berada di atas angin, membuatnya merasa dicintai dan dibutuhkan. Tatapan itu memujanya, membuatnya seperti seorang gadis cantik yang digilai. Kenyataannya ia hanyalah gadis kurus tinggal tulang dengan wajah sepucat mayat yang coba bangkit dari tekanan psikis akibat tragedi berdarah yang coba ia hapus dari ingatannya. Tapi Marc membuatnya tampak berharga. Marc membuat dirinya diinginkan. Marc menginginkannya. Tampak jelas di mata pria itu.

Tanpa suara, Laura membiarkan dirinya tenggelam dalam dada Marc. Ia membiarkan pria itu merengkuhnya, membungkus tubuhnya dengan protektif, tidak erat, namun sangat jelas pria itu ingin memperjelas bahwa gadis ini, gadis yang sedang ia peluk ini adalah miliknya. Tak seorang pun dapat mengambilnya dari Marc. Ia tidak akan segan-segan menendang atau memukul hingga babak-belur orang yang berani atau coba mengambilnya dari Marc. Ia akan membunuh orang itu kalau perlu.

“Senang rasanya dapat memelukmu seperti ini. Sudah sangat lama. Lama sekali,” bisik Marc penuh kerinduan.

Laura tidak membalas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya ingin tetap seperti ini, berada di pelukan Marc, dan melupakan segalanya. Hanya ia dan Marc. Hanya mereka berdua, saling berbagi kehangatan dan cinta.

Cinta? Tiba-tiba Laura meringis dalam hati. Masihkah ada cinta untuknya setelah penolakan untuk bertemu yang ia berikan kepada Marc dua minggu terakhir ini?

Marc….

Laura mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang Marc sambil mencoba menghilang keraguan yang perlahan-lahan mulai menghancurkan kepercayaan dirinya. Laura memejamkan matanya, coba mengalihkan pikirannya dengan berkonsentrasi mendengarkan detak jantung Marc.

Dia milikku. Marc milikku. Dia hanya mencintaiku, Laura coba membisikkan kata-kata ini untuk menenangkan hati kecilnya.

Namun, suara lain menyahut, “Benarkah? Benarkah dia hanya mencintaimu? Apa kau yakin, Laura? Lihat dirimu. Apa kau masih berharap Marc mencintaimu mengingat kondisimu yang sekarang?”

Diam! Diam! Diam!

Tubuh Laura tiba-tiba mengejang. Napasnya memburu.

Benarkah itu, Marc? Benarkah kau tidak mencintaiku lagi? Apa aku akan kehilanganmu segera? Empat bulan ini, apakah kau masih menyisakan cinta untukku? Apa ada gadis lain yang menarik minatmu selama aku terbaring di rumah sakit? Marc….Laura terisak dalam pelukan Marc. Ia mendorong tubuh Marc menjauh darinya, kemudian mengambil jarak beberapa langkah.

“Laura, Sayang.” Tampak kebingungan menghiasi kedua bola mata Marc.

Marc coba mendekati Laura, namun tangan kanan gadis itu terangkat ke atas, meminta Marc berhenti di tempat.

“Jangan. Jangan dekati aku,” ucap Laura, menggelengkan kepalanya dan balas menatap Marc dengan tatapan penuh keraguan. Tubuhnya bergetar hebat. Air mata semakin deras membanjiri wajahnya.

Melihat keadaan Laura seperti itu membuat Marc khawatir. “Laura.” Marc kembali coba maju.

“AKU BILANG BERHENTI DI SITU DAN JANGAN COBA-COBA DEKATI AKU!” teriak Laura, membuat tubuh Marc membeku seketika. Seluruh saraf Marc seolah mati rasa. Gadis itu meneriakinya. Menolaknya. Lagi.

Laura meremas rambutnya frustrasi dengan tangan gemetar. Pandangannya sudah sepenuhnya kabur karena air mata.

Marc menggeram di sela-sela giginya. Ia marah pada dirinya sendiri. Hatinya sakit. Sangat sakit karena menjadi pihak yang tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiri diam dan menyaksikan gadisnya menangis. Ia benar-benar seorang pencundang. Melangkah saja ia tidak mampu.

Ada apa, Laura? Kau kenapa? Ada apa, Sayang? tanya Marc tanpa mampu menyuarakannya karena masih syok melihat betapa cepatnya perubahaan suasana hati Laura.

Butuh waktu 10 menit untuk Laura meredakan tangisnya. Dan Marc hanya menyaksikan saja.

Bahu gadis itu merosot. Dengan wajah sembap dan mata bengkak, Laura menengadahkan kepalanya, menatap lurus ke arah Marc.

Mendadak perasaan tak enak merasuki Marc. Tatapan itu bukan jenis tatapan yang ia harapkan dari Laura.

Laura menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan-lahan sebelum mengucap, “Pulanglah. Jangan pernah temui aku lagi. Kita akhiri sampai di sini saja, Marc. Pulanglah. Pulang….” Sekuat tenaga Laura menahan air matanya agar tidak tumpah kembali.

Marc merespons ucapan Laura dengan memberi tatapan penuh kesakitan. Hatinya seperti teriris-iris, seolah ada ribuan pisau yang menancap di sana, mencabiknya, dan membuatnya hancur berkeping-keping.

Kedua manusia itu saling menatap nanar dalam diam. Tak ada yang bersuara. Hanya tatapan. Mereka saling melukai satu sama lain.

“Begini cara kau menyiksa kita? Hm? Beginikah, Laura?” gumam Marc, coba mengendalikan suaranya.

Marc ingin berteriak. Ia benar-benar marah. Tapi ia hanya tetap berdiri di sana. Tidak coba mendekat atau pergi seperti yang diinginkan Laura.

Laura membisu. Ia tidak sanggup menjawab. Setetes air mata kembali membasahi pipinya.

“Kau berhasil, Laura. Aku tersiksa. Kau juga. Kita sama-sama tersiksa. Apa yang membuatmu berpikir untuk melakukan semua ini? Bilang sama aku. Apa, Laura?” suara Marc mulai melirih. Mata pria itu memerah.

Laura bungkam. Tangisnya kembali pecah. Laura menangis tersedu-sedu.

“Jangan hukum aku, Laura. Jangan,” bisik Marc, perlahan-lahan coba mendekati Laura. Dalam hati Marc berdoa Laura tidak memintanya mundur. “Jangan hukum dirimu sendiri,” lanjutnya.

Gadis itu tidak menyuruhnya mundur. Marc semakin berani mendekatinya.

Marc memangkas jarak yang memisahkannya dengan Laura. Pria itu kini berdiri di hadapan Laura. Tangannya terulur, menyentuh kedua pundak Laura. “Tak apa jika kau hanya menghukumku saja. Tapi kumohon, jangan hukum dirimu sendiri. Kau tak pantas mendapatkannya. Jangan dengan cara seperti ini. Kau boleh sakiti aku. Aku akan menerimanya. Tapi aku tidak rela kau juga terluka. Lihat aku. Lihat aku, Laura,” kata Marc dengan nada memohon.

Laura merasa sesak mendengar nada memohon Marc. Ia juga tidak menginginkan hal ini. Ia juga tersiksa. Jenis siksaan yang sakitnya lebih parah daripada luka tusuk yang ia derita. Dan rasa sakit itu berkali-kali lipat menyerang ulu hatinya.

Marc menangkup wajah tirus Laura dan memandang penuh kelembutan ke dalam matanya. Ujung ibu jarinya menghapus air mata Laura yang kembali mengalir.

“Kau boleh menolakku jika hal itu membuatmu lebih baik. Tapi kenyataan kau justru tersakiti, bukan? Aku juga, Laura. Hatiku sakit saat kau bilang tidak ingin bertemu denganku lagi,” gumam Marc, pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke Laura dan menempelkan keningnya ke kening Laura yang lembap oleh keringat.

Laura memejamkannya matanya. Tangannya menyentuh lengan Marc. Ia suka berada di posisi seperti ini. Ia dapat merasakan embusan napas Marc menerpa wajahnya. Rasanya hangat.

Kau benar, Marc. Aku menyiksa kita berdua. Kau dan aku saling tersakiti. Aku harus bagaimana? Laura bertanya dalam diam.

“Jangan seperti ini, kumohon,” bisik pria itu. “Izinkan aku memperbaiki semuanya,” pintanya.

Laura terisak. Bukan isakan pilu. Melainkan isakan bahagia.

Marc menginginkannya. Pria itu menginginkannya.

“Marc, aku minta maaf,” lirihnya.

“Sssttt….” Marc membawa Laura ke pelukannya. Tangannya menyapu rambut belakang Laura. Bibirnya mengecup puncak kepala gadis itu. “Tidak apa. Tidak apa, Sayang,” bisiknya menenangkan.

Begitulah kisah pertemuan semalam. Hari ini akan menjadi hari pertamanya pergi bersama Marc setelah 4 bulan mendekam di rumah sakit dan 2 minggu tersiksa di rumahnya. Laura sendiri tidak tahu Marc akan membawanya ke mana. Ia tidak terlalu memusingkan hal itu. Yang terpenting Marc selalu ada di sampingnya dan ia tidak perlu khawatir ke mana pun Marc akan membawanya.

Pintu di belakang terbuka. Elena melangkah masuk dengan senyum khas keibuan tercetak di bibirnya.

Laura memutar tubuhnya dan balas tersenyum kepada mamanya. Sejenak gadis itu melihat kedua alis Elena sedikit terangkat, yang dapat diartikan Laura ibunya mengeluarkan ekspresi tercengang.

Tercengang karena apa? Karena Laura tersenyum.

Ya, setelah keluar dari rumah sakit, gadis itu tidak pernah tersenyum seperti sekarang. Hanya ada guratan kesedihan dan senyum pura-pura saat ia bilang baik-baik saja ketika ditanya ‘apa kabar?’ dan ‘bagaimana keadaanmu?’ serta ‘apa kau baik-baik saja?’. Jenis pertanyaan yang dua minggu lalu dibencinya karena jelas ia tidak baik-baik saja dan masih ditanya seperti itu.

Sekarang semuanya berbeda. Tidak ada Laura yang murung lagi. Kini yang berdiri di hadapan Elena adalah Laura yang dulu, Laura yang penuh semangat dan ceria. Inilah putrinya yang sesungguhnya.

“Sudah siap? Marc sudah datang tuh. Katanya mau ketemu sama bidadari Mama yang jelita ini,” ucap Elena seraya melangkah mendekat ke Laura.

Laura tersipu. “Mama…,” ucapnya sedikit merengek.

Elena terkekeh geli. “Apa, Sayang?” tanyanya sembari membelai sayang puncak kepala Laura.

Mereka memiliki tinggi yang sama. Jadi jika kalian bertanya-tanya dari siapa Laura mendapatkan gen bertubuh pendek, jawabannya adalah dari ibunya. Sedangkan dari ayahnya, Laura mewarisi rambut dan mata cokelat, serta hidung mancung Robert.

“Laura malu,” akunya sedikit mengerucutkan bibir.

“Malu kenapa? Anak Mama memang cantik kok,” kata Elena, menepuk-nepuk pelan pipi Laura.

“Dulu. Sekarang tidak lagi.” Dan raut murung itu kembali menghiasi wajah Laura.

Elena mengembuskan napas pelan. “Nak,” Elena merengkuh pipi Laura, memaksa gadis itu menatapnya. “Mencintai seseorang itu tidak memandang fisik, melainkan hatinya. Kau akan selalu cantik di mata Marc karena Marc mencintaimu.”

Laura mengerjapkan matanya sekali. “Benarkah?”

“Pernahkah dia menyebutmu cantik?” Elena balas bertanya.

“Hm,” Laura tampak berpikir sejenak. “Beberapa kali seingat Laura.”

“Saat kapan dan apa yang kau kenakan saat itu?”

Laura melipat bibirnya ke atas, kebiasaannya saat mengingat sesuatu. “Pertama kali saat kami kencan untuk pertama kalinya. Kedua kali saat kami makan malam di sebuah restoran. Ketiga kali saat dia menjemputku di kampus dan keempat kali saat kami berci….”

Laura terdiam, tidak jadi melanjutkan setelah kata yang hendak diucapkan berada di ujung lidah.

“Saat kalian apa?” Elena menunggu sembari mengangkat kedua alisnya. Tatapan jail tampak di kedua bola matanya.

Laura menunduk malu. “Ma…, Laura malu,” ujarnya, kembali merengek. Ia tidak mau mamanya mengetahu gaya berpacarannya dengan Marc dan apa saja yang mereka lakukan. Walaupun sesama perempuan dan mamanya juga pernah muda, tapi Laura tidak suka membagikan kisah cintanya dengan Marc. Laura akan menceritakannya jika ia butuh saran dari mamanya. Dan saat itu terjadi, gadis itu dengan cerdas menggunakan beribu perumpaan untuk menggambarkan seperti apa permasalahan yang sedang ia hadapi. Ia tidak bisa terang-terangan cerita ke mamanya, terutama menyangkut hubungannya dengan Marc.

“Tidak perlu malu, Sayang. Mama mengerti kok.” Elena dengan lembut merangkul pundak putri semata wayangnya. “Ada yang mau Mama sampaikan padamu. Gunakan kesempatan selagi kesempatan itu berpihak kepadamu. Memang ada kesempatan kedua. Tapi kesempatan kedua takkan pernah sama dengan kesempatan pertama. Kau sudah dewasa dan sudah bisa menentukan apa yang terbaik untukmu sendiri. Saran Mama, selalu dan gunakan hatimu. Percaya pada dirimu sendiri. Kesempatan akan berpihak kepadamu kalau kamu yakin sama diri sendiri.”

Laura menarik diri dari mamanya dan menatap Elena dengan ekspresi bingung. Ia sepenuhnya mengerti apa yang diucapkan Elena. Tapi tidak mengerti kenapa mamanya menyampaikan hal ini padanya, seolah akan ada keputusan yang ia ambil nantinya. Keputusan seperti apa?

“Sudah gih. Marc sudah menunggu. Kasihan kalau kelamaan.” Elena merangkul Laura dan membawa gadis itu keluar.

***

Love is when you can’t find the right words to describe your woman. I’m Marc Márquez and I’ve fallen in love with this girl for many times. I couldn’t remember when exactly this feeling appears and makes me looking like a stupid person. I don’t know. I just want to make her to be mine, to be my girl and to be a woman I’ll marry. I love her. I love everything about her, even the things I don’t like, I love. So that simple.

Tito pernah bertanya kepada Marc apa yang membuatnya begitu tergila-gila pada Laura. Jawaban Marc sederhana. Karena gadis itu adalah alasan kenapa ia tidak bisa menarik napas dengan benar setiap berada di dekatnya. Gadis itu menawannya, mengambil paru-parunya, membuatnya kesulitan bernapas setiap kali mata mereka saling memandang dalam diam. Saat berada jauh darinya, dada Marc terasa sakit. Paru-parunya seolah tidak bisa bekerja dengan benar. Mau tahu apa penyebabnya? Itu karena ia telah meninggalkan sebagian oksigennya pada gadis itu, merelakan gadis itu memegang hidupnya. Terdengar berlebihan? Kenyataannya memang seperti itu.

Marc tidak ingat sejak kapan ia meletakkan Laura sebagai prioritas teratas di hidupnya. Ia memiliki keluarga dan posisi Laura sejajar dengan mereka. Karier berada di nomor dua.

Cukup beresiko memang mengingat hubungan mereka hanya sebatas pacaran, bukan bertunangan apalagi menikah. Tapi bukankah hal itu justru membuatnya semakin bersemangat untuk mempertinggi status hubungan mereka?

Kepada Laura, yang sejak dua tahun telah mengisi hidupnya, yang telah Marc percayakan menjaga separuh hatinya, yang sanggup mengaduk-aduk perasaan Marc, menguras emosinya, namun dengan mudah merasa bahagia hanya dengan melihat wajahnya saja.

Berada di samping Laura membuat jantung Marc berdebar keras. Namun, saat berada jauh dari gadis itu, jantung Marc terasa sakit. Bukan karena ia memiliki riwayat penyakit jantung, tapi sakit yang ia rasakan akibat memendam kerinduan kepada gadis itu.

Seseorang pernah berkata, hiduplah bersama orang yang kau anggap kau tidak mampu hidup tanpanya. Marc telah menemukan orang itu. Dialah Laura.

Sejauh ini Marc tidak menemukan alasan tepat lainnya kenapa ia tidak bisa merasa tidak sesak napas setiap memandang wajah manis Laura. Ia membuat dirinya tampak bodoh saat berhadapan dengan gadis itu dan ia tak malu mengakuinya.

Gadis itu, Laura, adalah satu-satunya orang membuat Marc tak mengenal lagi akan dunia karena… gadis itu telah mengambilnya. Laura mengambil dunianya dan membuatnya lupa cara untuk berhenti menatap mata cokelat itu.

Marc menginginkan gadis itu. Ia menginginkan Laura menjadi bagian dari hidupnya. Ia mencintai setiap aspek yang ada pada diri gadis itu. Semua, tanpa terkecuali. Sesederhana itu.

Perasaan itu kembali muncul. Saat melihat gadis itu muncul bersama ibunya, mengenakan gaun kuning selutut, dengan sapuan make up tipis di wajahnya, dan menuruni satu per satu anak tangga, napas Marc tercekat di tergorokan. Gadis itu cantik. Bukan. Lebih dari cantik. Sangat cantik.

Marc refleks berdiri, berjalan mendekat saat gadis itu menginjakkan kaki di anak tangga terakhir. Satu hal yang mampu ia ucapkan itu adalah, “Laura.”

Ia hanya menyebut nama gadis itu. Dan gadis itu tersenyum padanya.

***

Mereka berjalan dengan tubuh bersisian, tangan saling menggenggam erat, dan kaki berayun sama. Cuaca cerah dengan sapuan angin akhir musim semi membuat segalanya bertambah sempurna. Jalanan yang mereka lalui di sepanjang taman itu menjadi saksi bisu, bukti bahwa kedua manusia itu berjalan di jalur ini dengan penuh kebahagian.

Deretan pohon rindang yang berjejer di samping jalan yang mereka lewati menambah kesan damai. Dalam diam, mereka tampak menikmati kebisuan seperti ini.

Marc tidak merasa terganggu saat orang-orang yang mengenali sebagai pebalap MotoGP menunjuk-nunjuk ke arahnya, kemudian berbisik. Ia tidak peduli. Sebanyak apa pun orang yang ditemui di taman ini dan mengenalinya, ia hanya akan berkata, “Lihatlah semaumu. Aku tengah berbahagia sekarang. Tapi aku tidak sudi membaginya denganmu.”

Marc menolehkan kepalanya saat merasa tangannya tertarik ke belakang. Marc menoleh dan melemparkan pandangan bertanya pada Laura.

“Marc, aku haus,” ucap gadis itu pelan.

Marc melebarkan matanya. Dengan cepat ia menemukan sebuah kursi panjang yang berada tak jauh dari mereka. Marc menuntun Laura ke kursi itu dan mendudukkan Laura di sana. Ia kemudian berjongkok di hadapan Laura, masih menggenggam erat tangan gadis itu, kemudian berkata, “Kau tetap di sini. Tunggu aku. Aku akan segera kembali.”

Laura mengangguk.

Marc bangkit, mengecup ringan kening Laura sebelum kemudian melesat bagai anak panah, menghilang dari pandangan Laura.

Laura tersenyum geli. Sembari menunggu Marc membawakan air untuknya, Laura memperbaiki lipatan ujung gaunnya yang tertiup angin, kemudian memandang sebuah danau yang terhampar luas di depannya.

Laura menarik napas sebanyak-banyaknya, membiarkan udara masuk ke rongga paru-parunya. Kepalanya kemudian jatuh ke samping. Laura tertegun sejenak menatap sebuah pemandangan lain yang membuat hati siapa pun melihatnya akan terasa hangat.

Sepasang kakek nenek yang duduk tak jauh darinya, saling menyuapi satu sama lain sebuah hotdog di tangan mereka. Sesekali sang kakek tertawa dan mengacak-acak rambut si nenek dan si nenek balas memeluk pinggang sang kakek. Mereka saling memandang penuh cinta.

Laura tidak menyadari seseorang memandanginya dari samping, kemudian tersenyum penuh arti saat tahu apa yang sedang menjadi perhatian Laura.

Marc melangkah tanpa menimbulkan derap, kemudian mengambil tempat di samping Laura tanpa suara.

Laura masih tidak sadar Marc berada di sampingnya sebelum sebuah lengan membungkusnya dari belakang. Marc meletakkan dagunya di pundak Laura, kemudian berbisik, “Kau ingin seperti mereka?”

Laura tergelak, kemudian menerima botol air yang disodorkan Marc padanya. Ia membuka botol air itu tanpa kesulitan, meminumnya seteguk, sebelum menoleh ke arah Marc dan pipinya bertemu dengan bibir hangat Marc.

“Semua orang pasti menginginkannya, Marc,” ucap Laura, kembali mengalihkan pandangannya ke pasangan tua itu dan melanjutkan, “Hidup dan menua bersama orang yang kau cintai. Sangat menyenangkan jika memiliki alur hidup seperti itu. Mereka berkenalan, berkencan, lalu menikah, memiliki anak-anak yang lucu dan membesarkan mereka bersama-sama. Melihat mereka tumbuh besar, kemudian menikah. Begitu seterusnya.”

Mata Laura menerawang jauh. Pelukan di pinggangnya kemudian terlepas. Marc memutar tubuh Laura agar menghadap ke arahnya.

“Kau tahu manfaat lain setelah kau hidup bersama orang yang kau cintai?” tanya Marc, memandang ke dalam mata Laura.

Laura menggeleng.

“Saat kau telah menemukan orang yang kau anggap sebagai pasangan hidupmu, kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Dia akan mencintaimu, mengayomimu, memenuhi semua kebutuhanmu, dan yang terpenting dia akan selamanya terikat kepadamu.”

Laura mengernyitkan keningnya. “Lalu, manfaat lainnya apa? Bukankah itu sudah seharusnya dilakukan oleh pasangan hidup ya? Tapi manfaat lain seperti yang kau sebut tadi apa?” tanya Laura.

Marc merengkuh pipi Laura dengan gemas. “Laura, dengar. Kau takkan selamanya terlihat muda, ‘kan? Yang ingin kusampaikan padamu adalah saat kau hidup bersama orang yang kau cintai, kau tidak perlu takut terlihat tidak cantik atau tua di matanya. Cantik atau jelek itu tidaklah penting. Cinta tidak memandang itu. Sedangkan menua? Kau tidak perlu khawatir. Saat kau mulai menua, dia akan menua bersamamu. Begitu pun sebaliknya. Dia tidak takut terlihat tua atau jelek di matamu.”

Sejenak Laura tertegun, coba mencerna kata-kata Marc. Senyum perlahan-lahan mengembang di bibir Laura. “Kau benar. Mereka tidak akan takut terlihat tua atau jelek saat saling memandang satu sama lain. Menua bersama. Kata itu sangat indah, Marc.” Mata Laura berbinar.

“Laura,” Marc menyebut nama itu dengan lembut.

“Iya?”

“Aku ingin menua bersamamu.”

Laura membeku. Napasnya terhenti. Matanya tak berkedip. Tadi Marc bilang apa?

“Aku ingin menua bersamamu.” Marc mengulangi ucapannya. “Aku ingin bangun dan menemukanmu di sampingku setiap pagi. Aku ingin membentuk sebuah keluarga dengan kau sebagai wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku. Aku ingin membagi semua yang kumiliki. Laura,” Marc berdiri, kemudian berlutut di rumput hijau dan mengeluarkan sebuah kotak beludru dari celana jeans-nya. Ia membuka kotak itu dan menyodorkannya pada Laura. “Maukah kau membantuku mewujudkannya?”

Laura tak bergerak. Pandangannya kosong seperti orang linglung. Dan yang ia ketahui kemudian adalah air matanya jatuh.

“Marc.” Bibirnya bergetar saat mengucap nama pria itu.

“Menikah denganku, Laura. Terlepas dari ketidaksempurnaanmu, akan kulengkapi dengan kelebihanku. Sebaliknya denganku. Aku butuh kau untuk melengkapi kekuranganku. Hanya kau yang kuinginkan dan kuberi kuasa untuk mengatur hidupku. Menikahlah denganku.”

Laura tidak tahu harus berucap apa. Ini jauh melebihi lamaran impiannya. Dan sekarang Marc melamarnya dengan cara yang begitu sederhana seperti yang ia impiankan. Tanpa jas, gaun, lilin, makan malam, dan disinari cahaya bintang. Ini adalah lamaran pernikahan tersederhana, namun manis. Dan ia menyukai cara Marc melamarnya.

“Marc, aku….” Dan gadis itu menganggukkan kepalanya.

Benda berkilauan itu kemudian berpindah ke jari manisnya. Sangat pas. Batu safir di tengah-tengah cincin itu berkilau terkena paparan cahaya matahari.

Laura tidak sadar Marc menariknya berdiri, membawanya ke dalam dekapan hangat pria itu, kemudian mereka tenggelam dalam ciuman panjang dan manis.

“Terima kasih telah mengizinkan aku menjadi orang yang akan menua bersamamu. Kita akan menjalaninya. Bersama, Laura.”

Dan Laura kembali meneteskan air mata karena terharu.

***

Has it touched the finish line? I think not yet. Wait for their wedding day.😉 Thank you for reading and don’t forget to put your comment below or anywhere you like to put.😀

7 thoughts on “Mini FF : Grow Old With You

  1. Bolizz. si Laura-Marc ini bikin.aku.ngiri ajaya…. romantis bingit yaelah….. beneran loh aku iriiiiiii :3. apalagi kata-kata pas menua-menua bersama. uhh berada di awang2 itu Laura ye. hhahah *apalahini* pokoknya aku tergila2 sama ffmu. selalu sih hhaha (moga ngerti aye ngomong apaya*

    Suka

  2. gadis itu adalah alasan kenapa ia tidak bisa menarik nafas dengan benar setiap berada di dekat nya .gadis itu menawan nya, mengambil paru-paru nya,membuat nya kesulitan nernafas setiap kali mata mereka saling memandang dalam diam.saat berada jauh darinya daanya terasa sakit,paru-paru nya seolah tidak bisa bekerja dengan benar.penyebabnya adalah karna ia telah meniynggalkan sebagian oxigen pada gadis itu, merelkan gadis itu memegang hidup nya. GADIS ITU

    ya tuhaaan… seandainya aku yg jadi gadis itu, aku gk mau minta apa-apa lagi deh…
    beneran iri sama laura. romantis lah pokok namah *b.sunda* Aku sukaaaaaa ceritanya😀

    Suka

  3. aaaaah.. manis banget mereka. aku suka pas marc bilang “Menikah denganku, Laura. Terlepas dari
    ketidaksempurnaanmu, akan kulengkapi
    dengan kelebihanku. Sebaliknya
    denganku. Aku butuh kau untuk
    melengkapi kekuranganku. Hanya kau
    yang kuinginkan dan kuberi kuasa untuk
    mengatur hidupku. Menikahlah
    denganku.”
    manis bangett.. huweeee #terharu

    Suka

  4. Hello im your new reader.
    Ga sengaja Ketemu blog yg keren ini, dan aku baru tau kalo di dunia balap juga punya FFnya tersendiri, jujur q speechless waktu nemu blog ini, karna selama ni q hanya baca ff korea doang, thankyou so much, udh membuat ff yg keren.. q suka penggunaan gaya bahasanya, sederhana dan ga membosankan, pemilihan kata dan sudut pandanya juga bagus dan ga ada nemuin typo juga, everything was perfect. Salam kenal yaaa🙂

    Suka

  5. Hollaaaa, im new reader on your blog🙂
    Nemu blog ini secara ga sengaja sebenarnya, insiden kecelakaan pencarian “marquez girlfriend” di mbah google yg serba tahu, lalu keluarlah Laura Amberita,yg aku kira awalnya adalah tokoh nyata, sampat nemu di ask.fm yg bilang kalo itu hny cerota di dunia FF, jadi disinilah saya🙂
    Suka banget sama story yg ada disini, jujur gw speechless waktu tau kalo di dunia balap jg punya fanfiction, karna q sebelumnya belum pernah dengar, paling sering itu baca ff korea, tapi ternyata kamu muncul diantara sekian banyak penulis berbakat yg membuat ff dengan latar belakang yg cukup langka. Aku suka sama pemilihan katanya, sudut pandang tokoh, alur yg teratur, hingga reader bisa ngerasain dan masuk ke cerita, dan bebas typo jg salam kenal ya🙂 .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s