Mini FF : Gonna Marry Her

cove2r

Ini ff iseng-iseng. Dicatat! Iseng-iseng! Dijamin bakal bikin mual. Bagi yang gak suka romance, kusaranin, mending gak usah baca ff ini deh daripada entar illfeel sama Marc. Well, happy reading😉

Marc mendatangi Yoga Center, salah satu tempat pelatihan yoga terbesar di Madrid. Mengenakan atasan abu-abu berbahan flanel pas tubuh yang dipadu dengan celana jeans biru gelap, pria itu tampak menawan. Wajahnya mampu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya saat ia memasuki lobi, membuat mereka tak bisa berpaling dari karya Tuhan yang memiliki pahatan wajah dan tubuh sempurna selama sekian detik sebelum Marc menghilang dari pandangan mereka.

Walaupun jarang mendatangi tempat ini, Marc masih ingat letak setiap ruangan yang mengajarkan tipe-tipe yoga tertentu sesuai kebutuhan para peserta. Marc membelokkan kakinya ke kiri, berjalan lurus, kemudian berhenti di depan ruangan yang bagian dindingnya terbuat dari kaca dan tertutup tirai krem dari dalam. Tidak ada tulisan tipe yoga ataupun tanda baca di depan pintu tersebut, tapi Marc tahu inilah tempat di mana gadisnya sedang berlatih penapasan di dalam sana.

Laura rutin seminggu dua kali datang ke tempat ini. *Penyakit asma yang pernah dideritanya saat kecil dan berpikir bahwa ia telah sembuh total, ternyata masih menjadi momok mengkhawatir untuk gadis itu. Dokter memang pernah memvonis ia telah bersih dari penyakit itu. Namun, nyatanya ia hampir mati kehabisan napas saat berada di Bali setahun lalu. Ia tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Terlebih Marc. Pria itu sangat khawatir akan keadaan Laura saat menemukan gadis itu kesakitan karena kesulitan bernapas.

Karena takut asma Laura kambuh lagi, sepulangnya mereka dari Bali, Marc menyarankan Laura untuk mengambil kelas yoga untuk melatih pernapasan. Dan ternyata saran Marc sangat manjur. Terhitung sejak setahun lalu, Laura tidak pernah mengeluh tentang asma lagi. Hal yang sangat melegakan Marc.

Marc melirik arlojinya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia datang 5 menit lebih cepat. Well, setidaknya ia tidak terlambat. Ia ingin memberi kejutan pada gadisnya setelah hampir sebulan tidak bertemu akibat jadwal race yang mengharuskannya meninggalkan daratan Eropa selama 4 pekan dan menjajal lintas balap di benua Asia dan Australia.

Marc menyandarkan tubuhnya ke dinding sementara matanya tertuju ke pintu ruangan bertirai krem itu. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Sejujurnya ia bukan tipe pria penyabar. Marc tidak suka menunggu. Ia ingin segala sesuatunya berjalan cepat. Tapi satu pengecualian untuk Laura. Ia rela menunggu gadis itu hingga selesai yoga. Toh, rasanya tidak buruk menghabiskan waktu 5 menit dengan bersandar di dinding dan terus menatap ke arah pintu. Bayangan tentang memeluk tubuh mungil Laura dan merasakan sentuhan bibir penuh gadis itu menggelitik benak Marc. Ia merindukan Laura, sungguh. Hampir sebulan ia tidak menyentuh—memeluk dan mencium— Laura. Ia merindukan rasa manis bibir gadis itu. Ia merindukan bagaimana cara gadis itu mendesah akibat pagutan bibirnya di atas Laura. Laura akan meremas rambutnya dan membuka diri lebih lebar untuk Marc agar pria itu bisa menjamah seluruh bagian dalam dirinya.

Marc hampir gila membayangkannya. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia butuh melihat Laura sekarang. Ia butuh gadis itu di sini sekarang juga.

Dan keinginannya terkabul.

Pintu ruangan kaca itu terbuka. Marc refleks menegakkan tubuhnya. Jantungnya mulai berdegup kecang saat melihat satu per satu peserta yoga keluar. Marc coba mengatur napasnya yang mulai tak beraturan. Ia tidak memedulikan tatapan penasaran dari para peserta yoga yang mayoritas berasal dari kaum hawa. Ia terlalu sibuk memandangi pintu, berharap Laura akan segera muncul.

Tak sampai semenit kemudian, senyum Marc mengembang lebar. Sorot matanya menghangat. Mengenakan kaus hitam berbahan tipis tanpa lengan dan celana putih pendek 20 sentimeter di atas lutut, gadis itu tampak luar biasa cantik dan seksi di mata Marc walaupun raut lelah tercetak di wajahnya. Marc sangat menikmati penampilan gadis itu. Sisa-sisa keringat masih menempel di wajah dan bahunya.

Sadar sedang diperhatikan seseorang, Laura mengangkat wajahnya. Matanya sukses membelalak syok melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. Tubuhnya membeku. Handuk kecil yang ia pegang jatuh ke lantai. Jantungnya bertalu-talu, sangat kencang hingga ia sendiri dapat mendengar entakan itu di telinganya sendiri. Dadanya sedikit sesak. Ia rasa asmanya akan kambuh.

Tak ada yang bersuara. Para peserta yoga yang sempat melirik penasaran ke arah Marc mulai meninggalkannya dan pergi membersihkan diri dari keringat yang menempel di tubuh mereka.

Tahu Laura tidak akan beraksi, Marc mengambil inisiatif duluan. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah pelan. Diam-diam, Marc menikmati ekspresi wajah Laura dalam setiap langkah yang ia ambil. Wajah tegang Laura tak mampu disembunyikan.

Marc menunduk, memungut handuk kecil Laura. Sebelum menegakkan tubuhnya, Marc membiarkan dirinya mengangumi kaki jenjang milik Laura. Sebenarnya kaki gadis itu tidak semulus yang Marc harapkan. Terdapat sebuah bekas luka bakar memanjang kira-kira 10 sentimeter di bawah lutut kanannya. Tapi hal itu tidak mengganggu Marc. Sebaliknya, bekas luka kecil itu membuat Laura tampak lebih manusiawi.

Tinggi Laura hanya mencapai dada Marc. Cukup pendek untuk ukuran seorang gadis di Eropa dan pas untuk ukuran seorang gadis di Asia. Sepertinya ia mewarisi DNA ibunya untuk masalah pertumbuhan.

Marc tidak menyerahkan handuk itu kembali ke Laura, melainkan menyentuhkan handuk itu ke wajah Laura. Dengan penuh kelembutan, Marc menghapus titik-titik keringat yang memenuhi wajah Laura, kemudian turun ke bagian bahu yang terbuka.

Tak satu pun dari mereka yang bersuara. Laura menikmati usapan halus handuk kecil itu wajah dan bahunya.

Tubuh Marc semakin mendekat. Pria itu menurunkan handuk kecilnya. Ia meraih dagu Laura, mengangkatnya sedikit, kemudian mengurung mata cokelat Laura dengan tatapan memujanya.

“Tahukah kau betapa aku merindukanmu?” bisik Marc seraya mengembuskan napas ke wajah gadis itu.

Laura merinding. Sepertinya cuaca bulan November belum terlalu dingin. Tapi ia mulai gemetar di bawah tikaman lembut tatapan Marc.

Laura menelan ludahnya. Ia membuka mulutnya, tapi tak satu kata pun keluar.

Marc mengulas senyum. “Tidak perlu setegang itu. Aku tidak akan memakanmu. Mungkin sedikit ciuman. Kau keberatan?”

Jika dalam situasi normal, Laura pasti akan terbahak dan mengolok-olok Marc karena pertanyaannya berusan. Siapa yang akan meminta persetujuan sebelum mencium kekasihnya. Biasanya juga Marc menciumnya tanpa mengenal tempat dan waktu. Tapi, sekali lagi, itu jika dalam situasi normal. Namun, kali ini berbeda. Marc bertanya kepadanya terlebih dahulu. Itu bisa dimaklumi setelah hampir sebulan mereka tidak bertemu dan bersentuhan. Sejujurnya Laura sedikit terkejut melihat Marc ada di sini. Pria itu mengatakan baru akan kembali besok. Kenyataannya pria itu memberinya kejutan dengan muncul di tempat ini.

“Marc….” Laura menyebut nama Marc lamat-lamat. Sembari mengatur napasnya, Laura coba tersenyum. Tipis.

Marc tahu apa arti senyuman itu. Gadisnya butuh bentuk penyesuaian akan kehadiran dirinya. Sudah terlalu lama dan ia tidak pernah berpisah dengan Laura selama ini.

“Aku mengerti, Sayang,” Marc membalas seraya mengecup kening Laura.

“Terima kasih,” Laura berucap di bawah kecupan Marc di keningnya.

“Ganti pakaianmu. Kita akan makan malam.” Marc menyentuh kedua bahu Laura dan meremasnya pelan.

“Baiklah. Beri aku waktu 10 menit. Aku akan segera kembali,” katanya dengan wajah berseri-seri. Degup jantungnya mulai mereda. Laura antara merasa lega dan bersalah. Ia lega karena mereka tidak akan berciuman sekarang, tapi merasa bersalah karena ia dapat melihat dari sorot mata Marc bahwa pria itu sangat mengharapkan sebuah kecupan.

Marc tidak tahan untuk tidak mengacak-acak rambut Laura yang diikat ekor kuda. “Pergilah. Aku tunggu di lobi.”

Gadis itu mengangkat kedua alisnya, kemudian meninggalkan Marc. Laura tahu Marc masih memandanginya. Mendadak ia berhenti. Laura memutar tubuh kembali. Marc masih ada di sana dan memandanginya.

“Aku juga merindukanmu. Terima kasih atas kejutannya. Aku senang kau kembali.”

Ucapan Laura seperti angin segar bagi Marc. Peduli setan dengan tempat dan waktu, kedua kaki berototnya berjalan cepat ke arah Laura. Marc mendorong Laura ke sudut, meraih dagunya dan membungkus bibir penuh Laura dengan bibirnya. Marc melumatnya tanpa mengenal kata lembut. Bibir laparnya mengeksplor ke dalam sudut-sudut mulut Laura.

Laura mengalungkan kedua lengannya ke leher Marc, menarik pria itu lebih dekat ke arahnya. Laura membuka mulutnya dengan sukarela dan membiarkan Marc menguasainya. Ia sempat takut saat Marc mendorongnya ke dinding dan membungkamnya dengan bibir tebal yang sangat ia kenal. Namun, ketakutan itu langsung sirna. Ia juga merindukan Marc. Ia merindukan sentuhan pria itu.

Laura mendesah hebat saat Marc mengecup rahangnya. Jari-jari Marc menyusup ke belakang kepalanya. Tekanan yang diberikan pria itu tak membuatnya merasa tidak nyaman. Justru ia sangat menikmatinya.

Marc berhenti saat mendengar napas Laura mulai pendek-pendek. Ia punya batas tersendiri saat berciuman dengan Laura. Marc tidak lupa gadisnya memiliki penyakit asma. Ia harus lebih bisa menahan diri saat bibirnya berada di atas Laura.

“Apa aku membuatmu ketakutan?” tanya Marc dengan napas sedikit terengah.

Laura mengangguk. “Sedikit.”

“Maaf.”

“Sstt.” Laura meyentuhkan ujung jemari ke bibir Marc. “Jangan minta maaf. Aku hanya terkejut. Hampir sebulan, Marc. Ini waktu yang cukup lama bagi kita,” ucapnya.

Marc kembali mengecup bibir Laura, singkat dan ringan. “Apa caraku menciummu terkesan liar?” tanyanya.

“Ya. Tapi aku menyukainya,” aku Laura malu-malu.

“Bagus. Karena aku tidak akan mengubah cara berciumanku. Kau harus menikmatinya.” Marc mengacak-acak rambut Laura yang berantakan. “Pergilah. Kita akan terlambat. Kau tidak boleh makan di atas jam 9 malam.”

“Baiklah. Mungkin pertama-tama kau bisa mundur dan biarkan aku lewat, Tuan Pebalap!” Laura mendorong tubuh Marc lembut, kemudian berjalan cepat melewati tubuh kekarnya dan menghilang di belokan koridor.

Marc menggeleng-gelengkan kepalanya, gemas melihat tingkah gadisnya. Melihatnya hari ini, Marc merasa ia kembali jatuh cinta seperti saat pertama kali melihat Laura. Apakah ini cara cinta bekerja? Sepertinya sih. Karena tidak pernah ada kata bosan setiap kali ia kembali bertemu Laura. Bahkan timbul keinginan untuk terus dan terus melihat wajah gadis itu.

Marc rasa ia sudah menemukan pelabuhan tetap untuk hatinya berlabuh. Keinginan untuk mematenkan gadis itu sebagai hak milik pribadinya semakin menguat. Tidak ada cara lain. Ia akan melamar gadis itu. Segera!

***

*Penyakit asma : ada di serial MotoGP Series 2013 (fanfiction MotoGP pertama buatan saya). Bagi yang mengikuti blog saya dari awal July 2013 pasti tahu tentang penyakit yang diderita Laura ini. Sayangnya cerita tersebut sudah dihapus dari blog karena beberapa alasan. Tapi akan kembali di-posting dalam waktu yang belum dapat dipastikan.

Thank you for reading.🙂 Komennya ditunggu. Satu lagi, karena di cover ada tertera @ClevaLizzy yang merupakan akun Twitter lama saya, saya cuma mau bilang, akun tersebut sudah tidak aktif dan beralih ke @MissTata_Real. Jadi kalau ada pertanyaan atau mau minta password ff, silakan mention ke sana aja. Sekian😉

7 thoughts on “Mini FF : Gonna Marry Her

  1. Lho? Ini udah ending apa belom? Kukira mereka bakalan dinner, habis itu Marc melamar Laura. Ternyata udah abis. Iya sih ini mini ff, tapi kukira nggak mini2 amat *halah* tft ya Rit, selalu suka sama ffmu😉

    Suka

  2. Aku suka banget sama oneshoot ini, sumpah :”)
    Feelnya dapet banget, romantic storynya keren, tata bahasanya juga cakep, secakep Marc😀
    Tetap semangat nulis ya🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s