My Secret, His Son #14

My Secret1 copy

Kayaknya udah lama banget ya MSHS gak di-update. Udah mulai basi nih. Kali ini aku kembali berduet dengan Kak Riza. Kakak yang satu ini emang Teope begete. TOP BANGET! Hihihi…. Thanks ya, Kak. *kecup basah* Dan sekarang saatnya kuucapkan selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen atau jejak ya. Boleh komen di blog, Twitter, ataupun Facebook. Di mana pun kalian suka deh.😉

Warning : Sejujurnya aku gak terlalu yakin sama part ini. Panjang banget soalnya dan sangat membosankan. Oh ya, kalo misalnya menemukan typo atau kesalahan penulisan, mohon dikoreksi ya😉 Happy reading😀

Adel tidak pernah merasa sesendirian ini. Tidak pernah bahkan ketika orangtuanya pergi ke luar negeri untuk menghadiri acara peluncuran produk terbaru perusahaan atau rapat guna memperlebar sayap perusahaan mereka di daratan Eropa, meninggalkannya sendirian di rumah dan hanya ditemani oleh seorang pengasuh yang setia mendampinginya. Ia berpikir saat itu ia masih memiliki pengasuh makanya ia tidak merasa kesepian. Rutinitas hidup seperti ini memang sudah biasa untuk kalangannya.

Sebenarnya ia merasa kesepian. Hidup di lingkungan aristokrat tak lantas membuatnya bahagia. Hidup bergelimang harta, namun tanpa cinta. Semua orang sibuk pada urusannya masing-masing. Bekerja dari pagi hingga malam demi mengumpulkan pundi-pundi kekayaan yang ia sendiri tidak mengerti untuk apa hidup bergelimang harta jika tubuh dan pikiran mereka diforsir habis-habisan. Adel sangat yakin dengan kekayaan yang dimiliki keluarganya sekarang tidak akan habis bahkan dimakan hingga tujuh turunan.

Hal yang tidak bisa ia pahami adalah kenapa orangtuanya terus-terusan bekerja dan tidak memikirkan perasaannya? Tidak masalah jika mereka ingin bekerja. Tapi mengabaikan anak sendiri, terlalu sibuk pada pekerjaan sampai-sampai lupa ada keluarga yang menunggu mereka di rumah, apa itu tidak keterlaluan?

Adel pernah memprotes karena perhatian yang dilimpahkan kedua orangtuanya sangat sedikit kepadanya. Ia tidak butuh barang-barang mewah dan bermerk di sekelilingnya. Ia hanya butuh kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan secara nyata.

Gadis itu bahkan pernah nyaris meninggal saat usianya masih kanak-kanak. Adel pernah coba bunuh diri karena tidak tahan dengan hidupnya yang ‘terlalu sempurna’ bak seorang putri, namun tak mendapat kasih sayang. Ia depresi berat karena sering ditinggal pergi orangtuanya. Setiap malam ia berteriak histeris, menjerit ketakutan, kemudian menangis-nangis seperti orang kerasukan. Adel kecil akan berhenti setelah diberi obat penenang.

Bayangkan, anak sekecil itu bahkan butuh obat penenang untuk beristirahat.

Sejak saat itu, orangtuanya, terutama ibunya sering membawa Adel ikut bersamanya menghadiri rapat-rapat atau peluncuran produk terbaru di luar negeri. Adel akan dibawa ke mana pun ibunya pergi.

Walaupun tidak menyenangkan harus ke sana kemari, setidaknya itu bisa sedikit mengobati kesepian Adel. Ia bisa melihat wajah ibunya dan sesekali berbicara saat ibunya tidak terlalu sibuk.

Namun, kesepian yang ia rasakan kini jauh lebih parah dari yang ia alami waktu kecil. Kali ini disebabkan oleh pria yang sangat ia cintai.

Adel memang memiliki Marc dalam genggamannya, namun pria itu tak lantas menjadi miliknya. Ada sisi yang tak mampu dijangkau Adel. Sisi yang sangat dalam dan jauh.

Ia hampir menyerah jika saja fakta itu tidak menahannya untuk tetap kuat dan bertahan di sisi Marc. Ia memang tidak bisa memiliki laki-laki itu. Adel sudah sadar akan hal itu sejak pertama kali ia melihat ke dalam mata Marc dan penolakan besar tergambar jelas di sepasang mata cokelat gelap milik pria itu.

Tapi, ia bisa apa? Ia terlanjur mencintai pria itu. Ia tidak mampu berpaling ke pria mana pun sekalipun ia ingin. Ia mencintai Marc. Ia mencintai semua bagian dari pria itu. Ia mencintai cara Marc melemparkan senyum palsu padanya. Ia mengagumi cara Marc menunjukkan kepedulian yang dilandasi rasa kasihan. Ia menyukai cara Marc berkata mencintainya padahal hatinya berkata tidak. Dan yang paling Adel cintai dari seluruh bagian dari pria itu adalah, ia percaya pada setiap kebohongan yang dilontarkan Marc.

Ia percaya pada setiap perkataan pria itu yang mengatakan ingin selalu bersamanya, tidak ingin berpisah dengannya, dan yang paling menyakitkan adalah Marc berkata tidak akan berpaling ke wanita lain padahal pria itu jelas-jelas mencintai wanita lain.

Sejak awal ia sudah tahu cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi bodohnya Adel, ia selalu percaya sikapnya dan cinta yang diberikannya kepada Marc akan mengubah pria itu, akan membuat pria itu balik berpaling kepadanya, dan akan balas mencintainya.

Ia terlalu percaya diri, ia tahu itu. Hingga pada akhirnya, ia merasakan sakit yang teramat sangat. Ia menjadi pihak yang menangis lebih banyak. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi agar Marc benar-benar melihatnya dengan tulus, bukan semata-mata karena rasa iba.

Adel duduk dengan bahu terkulai lemah di depan meja riasnya. Mata sayunya menatap ke arah cermin besar yang balas memantulkan bayangan dirinya. Benarkah itu dirinya? Adel bertanya di dalam hati dengan perasaan getir.

Kau memang pantas dikasihani, Adel. Tak sedikit pun dari dirimu yang tidak dapat membuat Marc merasa kasihan padamu. Kau sungguh menyedihkan. Percaya begitu saja pada kata-katanya. Sudah berapa sering kau dibohongi Marc? Sudah tidak terhitung, Adel. Apa lagi yang kau harapkan? Memalukan sekali kau mengemis-ngemis untuk dicintai seperti itu. Memalukan! Pantas dia hanya menganggapmu tidak lebih dari seorang pengemis cinta!

“Hentikan!” teriak Adel marah sambil menggebrak meja. Ia menggertakkan giginya. Matanya memanas. Sosok dalam bayangan cermin itu tampak mengerikan sekaligus… menyedihkan.

Kenapa? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Kenapa ia yang harus merasakan semua rasa sakit ini? Kenapa harus dirinya? Ini sungguh tidak adil. Apa dosanya di masa lalu hingga ia harus mendapatkan hukuman sekejam ini? Kenapa ini terjadi padanya? Kenapa, Tuhan? Adel menjerit kesakitan dalam hati.

Gadis itu menangis frustrasi. Ia sungguh benci dengan keadaannya seperti ini. Lemah tidak berdaya dan hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apa pun. Hatinya sakit. Ia terluka, sangat parah. Dan pria itulah yang menyebabkan ia terluka separah ini.

Adel meremas rambutnya dengan putus asa. Ia merasa kesepian. Sangat kesepian. Bodohnya, ia masih sangat berharap pada laki-laki yang telah menyakitinya untuk datang kepadanya. Adel tidak dapat memungkiri, sebanyak apa pun Marc menyakitinya, ia masih menginginkan laki-laki itu. Ia membutuhkan Marc untuk tetap bisa hidup.

Kau memang menyedihkan, Adel. Kau hanya akan membuat dirimu semakin hancur jika terus mengharapkan Marc.“Hentikan, kumohon! Hentikan!” erang Adel parau, memerintahkan suara dalam pikirannya untuk berhenti berbisik. Ia tidak ingin mendengar bisikan-bisikan itu walaupun ia sadar bisikan-bisikan tersebut berisi kebenaran. Tapi ia tidak sanggup jika harus berhenti mencintai Marc. Ia bisa mati.

Kenapa, Marc? Kenapa kau tidak bisa sedikit saja mencintaiku? Aku harus apa agar kau mencintaiku? Aku tidak ingin kehilanganmu.

***

Laura keluar dari kamar Miguel dengan wajah tertunduk lesu. Matanya sedikit sembap karena menangis, menyesal telah membentak Miguel di sekolah. Akibatnya anak itu tidak mau berbicara padanya. Miguel mengurung diri di kamar, tidak memedulikan Laura yang terus membujuknya dan meminta maaf berkali-kali.

Laura tahu ia salah. Ia hilang kendali saat emosi merebak dalam dirinya dan ia tidak sengaja melampiaskannya pada Miguel.

“Masih belum mau bicara?” tanya Dani yang datang dari arah dapur, membawa dua gelas teh hangat dan memberikan salah satu gelas pada Laura. Laura menerima gelas itu, mengucapkan terima kasih, dan mengulas senyum tipis. Raut lelah sangat tampak di wajahnya.

“Aku akan membujuknya,” ucap Dani, tahu bahwa Laura tidak berhasil membujuk Miguel agar mau bicara padanya.

Laura sudah menceritakan kejadian tadi siang pada Dani. Bagaimana Marc dengan otoritasnya memasukkan nama Miguel ke dalam daftar anak-anak yang akan ikut field trip besok. Dan yang membuat Laura masih kesal hingga kini adalah pria arogan itu menuduhnya sebagai ibu egois yang hanya memikirkan diri sendiri. Memangnya siapa pria itu hingga berani-berani menyebutnya seperti itu?

Laura tak dapat memungkiri bahwa ada perasaan takut dalam dirinya. Laura yakin secara tidak sadar Marc dapat merasakan ikatan batin antara ayah dan anak pada Miguel. Ada sebuah perasaan yang terbentuk di antara mereka. Laura dapat melihat ikatan itu dengan sangat jelas saat menjemput Miguel di sekolah tadi, melihat kedua pria berbeda generasi itu saling berpelukan. Ekspresi wajah mereka tidak bisa bohong mengenai perasaan masing-masing.

Laura tidak ingin membohongi dirinya sendiri, walaupun ia sangat ingin. Ia tidak mau kebenaran itu terungkap walaupun ia selalu dirundung perasaan bersalah karena telah menyembunyikan hal yang seharusnya diketahui Marc.

Namun, ia menghadapi dilema besar. Ia tidak bisa memberitahu Marc. Mungkin satu-satunya jalan terbaik adalah menjauhkan Marc dari Miguel. Ia tidak ingin segala sesuatunya bertambah sulit.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Dani. Miguel benar-benar marah padaku.” Laura menundukkan kepalanya. Raut letihnya ditutupi oleh raut bersalah di wajahnya. Bahu wanita itu terkulai lemas.

Dani maju selangkah lebih dekat. Salah satu tangannya menyentuh pundak Laura, kemudian mengusap pelan dengan gerakan menenangkan.

Laura memejamkan matanya, membiarkan waktu berjalan selama beberapa detik sebelum ia mendongak dan matanya bertemu dengan sepasang bola mata karamel milik Dani yang mengintip di balik helaian bulu mata panjangnya. Sorot matanya meneduhkan hati Laura.

Saat melihat kedua sudut bibir pria itu tertarik ke atas dan menampakkan senyum tipis, jantung Laura berdebar-debar dan darah berdesir cepat di bawah permukaan kulitnya. Dani selalu berhasil membuatnya merasa seperti ini. Dan Laura… antara takut dan senang merasakan hal semacam ini pada Dani.

“Serahkan semuanya padaku,” ucap Dani seraya meyentuh puncak kepala Laura dan mengusapnya sekilas. “Semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku.”

Laura mengangguk. Jika Dani menyuruhnya untuk percaya pada pria itu, Laura akan percaya. Jika Dani berkata semuanya akan baik-baik saja, maka semuanya memang akan baik-baik saja.

Mendadak ingatan tentang malam itu meyeruak di benaknya. Mungkin ia harus mulai memikirkan lamaran yang pernah ditawarkan Dani kepadanya. Ia rasa hidup bersama pria itu akan memudahkannya. Pria itu bisa menjadi sosok pemimpin dan kepala keluarga idamannya. Dan pria itu juga bisa menjadi sosok ayah ideal untuk Miguel.

***

Laura tidak ingat kapan terakhir kalinya ia makan malam bersama seseorang di luar. Rasanya sudah lama sekali ia tidak duduk dan makan di hadapan seorang pria dewasa yang kini sedang tersenyum padanya.

Laura tersipu malu. Tatapan Dani sejak mereka duduk di meja salah restoran sederhana di distrik Triana tidak terlepas dari wajahnya. Mereka bercengkerama, membicarakan topik apa pun yang terlintas di pikiran masing-masing.

Laura terbahak saat Dani menceritakan masa-masa sekolah menengah pertamanya, bagaimana ia dihukum oleh ayahnya yang kebetulan merupakan kepala sekolah di tempatnya bersekolah karena ketahuan menindas adik kelas. Alhasil, pria itu harus menjalani hukuman pengabdian pada masyarakat dengan menjadi petugas kebersihan selama 50 jam.

Sungguh, Laura tidak percaya pria selembut Dani ternyata dulunya adalah seorang berandalan. Pernah ditilang polisi karena tidak memakai helmet, mengerjai kakek tua yang sedang berjualan kacang, dan yang paling parah, membuang anjing kesayangan seorang nenek yang tinggal di sebelah rumahnya ke tong sampah depan kompleks perumahan mereka.

“Itu sangat keterlaluan, kau tahu? Coba kau bayangkan jika Molly yang dibuang ke dalam tong sampah, kau pasti akan panik sekali mencari keberadaannya. Lalu, bagaimana selanjutnya? Apa anjingnya ditemukan?” tanya Laura penasaran.

“Ibuku yang menemukannya,” Dani tergelak.

“Dasar!” Laura mencubit gemas lengan Dani.

Saat makanan yang mereka pesan datang, mereka makan dalam diam. Ketegangan mulai terasa saat mereka selesai menyantap hidangan penutup. Baik Dani maupun Laura sama-sama terdiam, mendadak kehilangan topik pembicaraan.

Situasi canggung itu terselamatkan dengan pertunjukan Flamenco di atas panggung kecil di dalam restoran itu. Berbeda dengan Laura yang tampak menikmati pertunjukan tari tersebut, Dani berkeringat dingin di kursinya. Jantungnya berdegup kencang. Tangan kirinya merabah saku celananya, merasakan tonjolan berbentuk persegi itu dengan gugup.

Ini pertama kalinya ia melakukan hal semacam ini pada seorang wanita. Ia sangat ingin mengungkapkan perasaannya pada Laura. Ia ingin menawarkan sesuatu yang… mungkin bisa membuat wanita itu bahagia. Ia tulus akan perasaannya. Ia tulus akan cintanya pada Laura. Ia ingin menjadi pendamping, sosok suami dan pemimpin bagi wanita itu.

“Laura….” Suara Dani bergetar saat memanggil nama wanita itu.

Laura mendongak. “Iya?” Sorot matanya membuat tubuh Dani membeku. Jika tadinya saat Dani menjemput Laura ia tidak sempat memperhatikan pakaian yang dikenakan wanita itu, kini Dani baru menyadari Laura mengenakan gaun hijau tanpa lengan. Dengan rambut dibiarkan tergerai secara alami, Dani melihat kecantikan wanita itu memancar walaupun Laura hanya memoles wajahnya dengan make up tipis. Wanita itu benar-benar cantik.

Dani tergelak dalam hati. Bagaimana mungkin ia baru sadar wanita itu ternyata memiliki kecantikan bak seorang dewi. Lucu rasanya saat ia memandangi Laura, namun tidak menyadari wanita itu ternyata sangat cantik.

“Apa aku sudah mengatakan bahwa kau tampak cantik malam ini?”

Laura tersipu. Pipinya memerah. “Kau juga tampak tampan malam ini,” balasnya.

“Apakah itu balasan untuk bersikap sopan atau menurutmu aku memang tampan?” Dani menaikkan kedua alisnya, memandang jail ke arah Laura.

“Kau…,” Laura tampak berpikir sejenak. “…tampan. Sungguh.” Laura menganggukkan kepalanya.

“Aneh rasanya aku dipuji seperti itu,” komentar Dani seraya mengedikkan bahunya. Mendadak Dani merasa kepanasan.

“Sama. Aku juga merasa aneh dipuji seperti itu,” ungkap Laura, menaikkan kedua alisnya.

“Tapi kau sungguh cantik. Aku tidak sedang berbohong,” Dani berkata dengan nada serius.

“Apakah itu penting?” Laura mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya sedikit menyipit.

“Tidak,” gumam Dani. Tangan Dani kembali merabah sakunya. Dadanya bergemuruh.

Mungkin ini waktu yang tepat, pikirnya.

“Lalu?”

Dani membuang napasnya dan berkata, “Laura, dengar. Aku tidak bermaksud menggodamu atau semacamnya. Aku bilang kau cantik karena kau memang cantik. Aku mengatakan apa yang menurutku benar. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman.”

Laura mengibas kelima jari di depan wajah Dani. “Tidak perlu minta maaf. Memangnya kau buat salah apa sih?” Laura menunjukkan cengiran lebar, hal yang lantas membuat Dani sulit bernapas.

Pertunjukan Flamenco hampir usai. Dani mulai panik. Ia berpikir keras bagaimana caranya agar ia dapat mengungkapkan perasaannya pada Laura di tempat ini, sekarang juga, dan sebelum malam ini berakhir.

“Hm, Laura,” panggil Dani lagi.

Laura menyahuti Dani dengan ceria. “Iya?”

Dani menelan ludahnya dengan susah payah dan dengan gugup berkata, “Aku….”

Laura menunggu dengan sabar.

“Aku….”

“Iya? Kau kenapa?” tanya Laura lembut.

Dani mengeluarkan kotak beledru merah dari saku celana dan menyodorkannya pada Laura. Dani membuka kotak itu dan sebuah cincin bertakhtakan berlian tunggal berkilauan di bawah sorot lampu restoran.

Ekspresi terkejut tak mampu Laura tutupi di wajahnya.

“Aku tahu cara melamarku terkesan tidak romantis. Tapi aku akan coba melakukannya dengan cara yang benar.” Dani bangkit dari kursi dan berjalan ke depan. Kemudian pria itu menekuk salah satu lututnya dan berkata, “Aku mencintaimu, Laura. Aku ingin menjadi seseorang yang berarti untukmu dan Miguel. Aku tidak peduli dengan masa lalumu, karena hal itu tidak penting bagiku. Aku memang tidak bisa menjanjikan banyak hal untukmu. Tapi aku bersungguh-sungguh tentang perasaanku. Laura… bersediakah kau menjadikanku ayah untuk Miguel dan suami untukmu?”

Laura tidak mampu berkata apa-apa. Lidahnya kelu. Sementara itu, pertunjukan Flamenco telah usai. Orang-orang di dalam restoran tersebut mengalihkan perhatian mereka. Terdengar sorak-sorai, tepuk tangan riuh dan siulan penuh semangat. Mereka mendesak Laura untuk segera memberikan jawaban.

“Dani….” Hati Laura mencelus. Ia tidak ingin mempermalukan Dani di hadapan orang-orang. Tapi ia juga tidak bisa menerima Dani sekarang juga. Ia butuh waktu untuk berpikir.

Seolah paham apa yang sedang dipikirkan Laura, Dani berucap, “Kau tidak perlu menjawabnya sekarang.” Dani menutup kotak itu, meraih tangan Laura dan meletakkan kotak itu di atas telapak tangan wanita yang ia cintai ini. “Kau boleh menyimpannya. Aku memberimu waktu untuk berpikir. Dan jika kau bersedia, datanglah padaku dan bawa cincin ini. Aku akan menyematkannya di jari manismu.”

“Kau akan menunggu?” tanya Laura sedikit merasa tidak enak.

“Selama yang kau inginkan.” Dani tersenyum tulus.

***

“Hai, Teman,” Dani menyapa Miguel yang berbaring memunggunginya. Tangannya terulur menyentuh rambut belakang Miguel dan mengusapnya penuh sayang. “Masih marah ya?” tanya Dani dengan nada lembut.

Miguel membalikkan tubuhnya dan merengut ke arah Dani. “Mommy jahat padaku. Mommy tidak sayang lagi pada Miguel,” ucapnya dengan bibir cemberut. Pipi cempluknya mengembung karena kesal.

“Kata siapa, hah?” Dani mencondongkan tubuhnya. “Sini,” ujarnya seraya meraih Miguel ke dalam pelukannya.

“Mommy marah-marah sama aku. Padahal aku tidak membuat kesalahan. Aku cuma mau ambil mobil mainan yang diberikan Uncle Marc saja kok. Memangnya itu salah ya?” Miguel mengadu dengan jengkel. Alisnya mengerut. Bibirnya semakin mengerucut. Ia tidak terima dimarah oleh Laura.

“Iya kan Mommy-mu sudah minta maaf. Dia tidak bermaksud memarahimu. Dia sayang padamu, Miguel,” ucap Dani seraya mencium rambut Miguel.

“Aku sedih,” ungkap Miguel, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Dani. Bocah itu mendesah pelan.

“Sedih kenapa, Nak?” tanya Dani lembut. Tangannya menepuk-nepuk punggung Miguel.

“Mommy sepertinya tidak suka pada Uncle Marc. Padahal aku suka. Aku suka berbicara dengannya. Aku suka dia memberitahuku hal-hal yang tidak aku ketahui. Aku suka saat dia memelukku dan mendengar semua yang kukatakan. Aku sedih jika nantinya aku tidak bisa bertemu dengan Uncle Marc lagi, Uncle Dani,” gumam Miguel dengan nada sedu yang tak bisa disembunyikan.

Ada perasaan iri dalam hati Dani mendengar betapa Miguel menyukai sosok Marc. Ia memang tidak terlalu mengenal pria itu selain mengetahuinya dari Laura bahwa Marc adalah ayah kandung Miguel. Pria itu juga seorang pewaris perusahaan besar di Sevilla. Dan alasan kenapa Laura meninggalkannya dan tidak memberitahunya bahwa pada saat itu ia sedang mengandung Miguel adalah, Laura sadar ia tidak sepadan jika bersanding dengan Marc. Perbedaan kasta yang sangat mencolok membuat wanita itu harus mengubur mimpinya untuk bisa bersama Marc.

“Kau sangat menyukainya ya?” tanya Dani, berusaha untuk tidak menampakkan raut tidak suka di wajahnya.

Miguel memundurkan wajahnya dan memandang serius pada Dani. “Sangat. Aku sering merindukannya. Rasanya aku ingin bertemu dengannya lagi. Bahkan sekarang aku sudah merindukannya,” ungkap Miguel dengan polos, sangat berterus terang tentang apa yang ia rasakan.

“Kau ingin bertemu dengannya?” Dani coba menghalau perasaan kecewa dan sedih yang merasuki hatinya dengan menyunggingkan senyum tipis. Jujur, perkataan polos Miguel seolah melemparnya ke tepian jurang. Sedikit saja didorong, ia akan jatuh ke dalam jurang yang ia sendiri tidak tahu berapa kedalamannya.

Miguel mengangguk cepat. Sepasang bola matanya tampak sangat berharap.

Dani menghela napas berat. Ia tidak dapat memungkiri bahwa sejauh apa pun ia berjuang untuk mendapatkan Laura dan Miguel, ia tetap kalah telak dari Marc. Pria itu tidak perlu mengambil hati Laura ataupun Miguel untuk menang dari Dani. Karena kedua orang yang ia perjuangkan mati-matian itu dengan sukarela jatuh hati pada Marc.

Dani bohong jika ia pernah mengatakan tidak peduli pada masa lalu Laura karena hal itu tidak penting untuknya. Ucapannya waktu itu menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Ia memang tidak peduli, tapi tidak bagi Laura. Wanita itu peduli karena ini menyangkut masa depan Miguel.

Berjuang membersihkan gumpalan emosi di kerongkongannya, Dani kembali bertanya. Jenis pertanyaan yang akan melukai hatinya semakin dalam. Tapi ia penasaran. Ia ingin tahu sebesar apa perasaan Miguel pada Marc. “Apa yang akan kau katakan jika bertemu dengannya?”

“Aku merindukannya. Aku ingin dipeluk. Aku tidak ingin kehilangan Uncle Marc. Aku mencintainya.” Raut sedih di wajah Miguel seolah menampar Dani. Rasa sakit itu langsung menjalar ke saraf-sarafnya, mematikan seluruh sistem pergerakan tubuhnya.

Dani kembali mendekap Miguel di dadanya, meletakkan dagunya di atas kepala Miguel. Tangannya mengusap-usap punggung Miguel.

Dani menarik napas dan mengembuskannya dengan sedikit susah payah. Ia memejamkan matanya. Rasanya seperti ada ribuan kerikil menyumbat rongga paru-parunya. Ia kesulitan bernapas.

Sebesar itukah rasa sayangmu pada ayah kandungmu, Nak? Aku harap akulah yang menjadi pria beruntung itu. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.

Dani berdoa, seandainya masalah ini selesai dan hasil akhirnya tidak seperti yang ia harapkan, semoga ia bisa menjalani hidupnya dengan benar tanpa kedua orang yang sangat ia cintai ini.

***

Adel berbaring dengan posisi menyamping saat pintu kamarnya terbuka. Terdengar derap melewati tempat tidurnya, kemudian berhenti untuk beberapa saat. Dan hening.

Adel memejamkan matanya, coba mengabaikan kehadiran pria itu yang sangat Adel yakini sedang memandangnya di balik cahaya lampu kuning yang temaram.

“Kau sudah tidur?” Pemilik suara rendah itu bertanya.

Adel tidak menjawab. Dengan mata yang masih terpejam, bulir-bulir mata mulai mengalir di sudut matanya. Perasaan sakit itu kembali menyeruak di dadanya.

“Adel….” Pria itu mengubah nada suaranya menjadi lebih lembut.

Adel pura-pura tidak dengar. Ia menggerakkan tubuhnya sedikit, menarik selimut hingga menutupi kepalanya dan di situlah ia menggigit ujung ibu jari dan telunjuknya untuk menahan isak tangis. Ia tidak mau Marc melihatnya dalam keadaan menyedihkan.

Adel merasakan beban di sebelah tempat tidurnya. Selimutnya yang menutupi tubuh hingga kepalanya disibak secara perlahan-lahan. Kemudian kelima jari itu mengusap kepala belakang Adel.

“Aku tahu kau belum tidur. Bangunlah. Aku ingin bicara,” ujar Marc dengan kelembutan luar biasa.

Adel tidak kuasa untuk tidak membalikkan tubuhnya, walaupun sedikit ragu-ragu. Mata Marc tertuju lurus padanya. Tangan pria itu berpindah. Ujung ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir di pipi Adel.

Marc memajukan tubuhnya lebih dekat pada Adel, kemudian memberi sebuah kecupan singkat di kening gadis itu.

“Kau keberatan jika aku tidur di sampingmu?” tanyanya, meminta persetujuan dari Adel.

Adel menggeleng. Walaupun hatinya masih sakit akibat perbuatan Marc yang mengingkari janjinya, Adel tak kuasa menolak Marc. Ia terlampau menginginkan pria itu.

Marc berbaring di samping Adel. Pria itu menarik Adel bersandar ke dadanya. Hidungnya menghirup aroma vanila yang mengeluar dari rambut Adel.

“Kau keberatan jika aku ingin meminta maaf padamu?”

Adel mengeratkan pelukannya di tubuh Marc. “Jangan,” desahnya. “Jangan meminta maaf. Anggap saja hari ini tidak terjadi apa-apa. Aku tidak ingin mendengar kau minta maaf. Itu menyakitiku. Kumohon.” Adel meremas bagian atas kemeja pria itu.

“Aku bersalah,” aku Marc, menyapukan napasnya di kening Adel.

“Tidak. Ini salahku,” bantah gadis itu cepat. “Ini salahku. Seharusnya sebagai calon istri yang baik aku tahu jadwalmu hari ini. Tidak seharusnya aku membuat janji padahal kau sudah memiliki janji lain. Seharusnya aku mengecek terlebih dahulu ke sekretarismu untuk mengetahui jadwal harianmu. Ini salahku. Jangan minta maaf. Akulah yang harus minta maaf karena mengganggumu.” Adel menahan tangis saat mengatakannya. Menyangkal bahwa ini bukan salah Marc, tetapi salahnya, membuatnya terlihat semakin menyedihkan. Perasaan pilu semakin dalam menusuk dadanya.

“Adel….” Marc semakin dirundung perasaan bersalah. “Ini bukan sal—”

“Tidurlah. Besok kau harus ikut field trip bersama-sama anak-anak, bukan? Aku tahu dari Alicia. Istirahatlah, Marc. Kau pasti membutuhkan tenaga ekstra. Aku akan menemanimu ke sekolah besok. Selamat malam, Marc.” Adel mengakhiri percakapan itu. Mungkin karena faktor kelelahan baik fisik maupun batin, napas gadis itu perlahan-lahan berubah menjadi teratur tak lama kemudian.

Sementara itu, Marc tidak bisa tidur. Perasaan bersalah sekaligus kasihan yang ia rasakan pada Adel membuatnya benar-benar terlihat buruk, bahkan di matanya sendiri. Ia menjelma menjadi sosok monster mengerikan untuk Adel.

Marc tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ia berusaha mencintai Adel. Tapi hal itu tidak pernah berhasil ia lakukan. Lalu, ia harus bagaimana?

***

Pagi ini Laura sibuk menyiapkan segala perlengkapan yang hendak dibawa oleh Miguel untuk field trip. Hatinya benar-benar berat melepas putranya untuk mengikuti acara yang diadakan setiap pergantian semester oleh pihak sekolah.

Laura mengembuskan napas panjang. Ia menghentikan aktivitasnya saat matanya melirik ke brosur kecil tentang field trip yang diadakan sekolah Miguel di atas meja makan.

Laura mengambil brosur itu dan membaca ulang subjudul yang tertera di atas untuk ke sekian kalinya; Belajar Seru di Alam Terbuka.

Tapi menghabiskan banyak uang, keluh wanita itu.

Tujuan field trip kali ini para murid akan diajak ke sebuah peternakan dan perkebunan organik milik badan usaha kecil-kecilan yang masih berada di bawah naungan yayasan sekolah. Ditilik dari susunan acaranya, anak-anak akan diajak memetik buah stoberi, bercocok tanam, dan memerah susu sapi. Pasti akan sangat menyenangkan. Membayangkan Miguel bersenang-senang selama field trip sedikit dapat mengobati kegundahan Laura. Wanita itu yakin, saat pulang dari perjalanan edukasinya nanti, anak itu pasti mengoceh sepanjang hari tentang perjalanan mereka.

Mendadak wajah Marc melintas di benak Laura. Walaupun enggan mengakuinya, tapi pria itu benar. Miguel juga berhak bahagia. Miguel berhak mendapatkan kesenangan yang sama seperti anak-anak lain. Lagi pula mungkin ini juga menjadi kesempatan terakhir Miguel untuk bersama teman-temannya. Setidaknya Laura ingin ada kenangan manis yang tertinggal saat Miguel meninggalkan sekolahnya dan pindah ke sekolah baru. Di lain sisi, Laura juga ingin membuktikan kepada Marc bahwa seluruh penilaiannya tentang Laura tidak seperti yang dituduhkan pria itu tempo hari lalu.

Aku bukan ibu yang egois untuk Miguel, Marc. Aku tak seperti itu, ungkapnya dalam hati ketika ia bimbang memutuskan apakah Miguel akan ikut field trip atau tidak semalam.

Hubungan Laura dan Miguel sendiri sudah membaik. Semalam setelah dibujuk oleh Dani, anak itu akhirnya mau bicara padanya. Laura lega sekaligus sedih. Lega karena putranya tidak memusuhinya lagi dan sedih karena ia sebagai ibunya Miguel tidak mampu membujuk anaknya sendiri. Bukankah itu terlihat buruk?

Miguel keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggangnya dan memasang ekspresi kedinginan hingga membuat Laura terkikik geli. Miguel berlari ke kamarnya dengan segera ketika melihat mommy-nya memandangnya dengan ekpresi geli. Ia mulai tak suka dilihat seperti itu meski terkadang ia masih dimandikan oleh Laura.

“Miguel, sudah selesai pakai baju, belum?” seru Laura dari arah dapur. “Sudah, Mommy. Sebentar,” balas bocah laki-laki itu dari balik pintu berposter Captain Tsubasa.

Laura memasukkan sandwich dan biskuit cokelat kesukaan Miguel ke dalam tas biru yang biasanya dipakai Miguel untuk sekolah. Wajah serius Laura seketika berubah ketika melihat Miguel datang dari ruang tengah dengan mengenakan pakaian olahraga berwarna hijau dan menenteng sepatu olahraga di kedua tangannya.

Miguel setengah berlari menuju meja makan dan duduk manis ketika sudah sampai di kursi kebesarannya itu.

“Mommy, aku senang kau akhirnya mau mengizinkanku ikut field trip,” kata Miguel, penuh dengan keceriaan di wajah bulatnya.

“Dan Mommy senang kau mau bicara lagi pada Mommy. Maafkan Mommy ya, Nak,” jawab Laura sambil menunduk ke arah Miguel.

“Tidak apa-apa, Mommy. Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu sedih kemarin.” Miguel mengerucutkan bibir mungilnya itu, kemudian memeluk Laura hangat. Bocah kecil itu menenggelamkan wajahnya di rambut harum ibu yang sangat dicintainya itu.

“Tidak apa-apa, Nak.” Laura mengakhiri pelukan itu, kemudian mengusap lembut rambut Miguel. Bibirnya tertarik ke belakang melihat putranya tampak begitu bahagia pagi ini.

Laura bangkit dan mengambilkan sarapan berupa roti bakar dengan selai blueberry dan tak lupa Laura juga menuangkan susu cokelat sapi kesukaan Miguel ke dalam cangkir plastik biru kesayangan anak itu.

“Dihabiskan ya makanannya.” Laura mengusap rambut Miguel, kemudian berlutut untuk memasangkan kaus kaki dan sepatu untuk Miguel.

Miguel makan dengan lahap. Pagi ini, anak kecil bermulut cerdas itu jelas memperlihatkan kalau hatinya sedang gembira. Berkali-kali ia menyanyikan lagu anak-anak yang membuat Laura terkikik ketika mendengarnya.

“Mommy, aku sudah kenyang. Tidak habis,” ucap Miguel dengan raut wajah cemberut sembari mendorong piring yang masih tersisa beberapa potong roti ke depan.

“Miguel.” Nada memperingatkan terdengar dalam suara Laura. Wanita itu memberi tatapan kau-harus-segera-menghabiskan-sarapanmu kepada Miguel.

“Mommy, aku kenyang,” ucapnya setengah merengek. “Nanti kalau aku muntah bagaimana? Lagi pula, kenapa sih Mommy selalu menyuruhku untuk menghabiskan sarapan?” tanya bocah itu sembari mendengus pelan. Hidung mungilnya mengerut.

Laura menghela napas panjang, kemudian hendak menjawab pertanyaan Miguel sebelum sebuah suara mendahuluinya lebih dulu.

“Karena kalau kau tak menghabiskannya, cacing-cacing di perutmu akan bernyanyi dan membuatmu tak nyaman.” Laura dan Miguel menoleh ke arah suara itu. Keduanya tersenyum ketika melihat Dani datang dan membawa beberapa snack untuk bekal Miguel.

“Nah, kalau kau tak nyaman nanti kau tak bisa menikmati hari-harimu. Nanti Miguel yang tampan ini jadi pemarah, cemberut, dan jelek. Mau seperti itu?” Dani mendekati meja makan dan tersenyum gemas melihat kedua mata Miguel yang melebar ketika mendengar penjelasannya.

“Begitu ya? Tapi aku sudah kenyang, Uncle Dani.” Kali ini Miguel memberikan ekspresi memelas, meminta pertolongan Dani.

Dani hanya melirik sekilas ke arah Laura kemudian duduk di samping Miguel.

“Kalau begitu, mari kita buat perjanjian sebagai seorang laki-laki,” kata Dani sambil melipat tangannya di atas meja dan menatap Miguel sungguh-sungguh.

Miguel tak mau kalah. Ia berbalik menatap Dani dengan mengerutkan dahinya, tanda ia benar-benar memperhatikan pria di depannya itu.

“Kau tidak harus menghabiskan makananmu di rumah. Kau bisa menghabiskannya selama perjalanan menuju sekolah. Tapi janji, makanan harus habis tepat ketika kau akan naik bus. Bagaimana?” tawar Dani, memberi alternatif untuk bocah itu.

Miguel semakin mengerutkan dahinya kali ini. Bibir mungilnya itu bergerak ke kanan dan ke kiri. Matanya menatap Laura dan hanya dibalas dengan tatapan geli ibunya.

“Kalau aku tak menghabiskannya?” tanya Miguel lagi.

“Kau tidak boleh ikut field trip,” jawab Dani tegas.

Miguel melotot mendengar jawaban Dani dan langsung berseru, “Aku akan menghabiskannya!”

Dani dan Laura tertawa mendengar teriakan bocah lugu ini. Tak menunggu waktu lama, setelah Laura memasukkan bekal makanan dari Dani untuk Miguel, mereka bertiga berangkat menuju sekolah.

Selama perjalanan, Miguel tak henti-hentinya bertanya apakah makanannya tinggal sedikit atau sudah habis dengan wajah waswas. Laura ingin sekali tertawa melihat ekspresi Miguel, namun tak tega jika harus tertawa di depan Miguel. Makanan itu masih saja belum habis ketika mereka sampai di sekolah.

“Bagaimana ini? Makananmu belum habis,” ucap Laura dengan ekspresi lemah ke arah Miguel.

“Ini gara-gara Mommy! Mommy memberiku sarapan banyak sekali!” balas Miguel, menuding Laura dengan wajah cemberut.

Dani menoleh ke samping, memandang Laura jenaka. “Masih tersisa banyak makanannya?” tanyanya pelan.

“Sedikit,” jawab Laura dengan gerakan tangan ibu jari dan telunjuknya.

Dani membuka pintu kemudi dan membuka pintu belakang, kemudian menggendong Miguel seperti anaknya sendiri. Laura masih membawa kotak makan dan tas Miguel. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.

Saat melintasi halaman depan sekolah, Laura mulai sadar mereka menjadi pusat perhatian. Beberapa wali murid tampak menunjuk-nunjuk ke arah mereka, kemudian berbisik-bisik dengan wali murid lainnya. Laura merasa tak nyaman. Sebisa mungkin ia menjaga jaraknya dengan Dani.

Dari lantai atas, Marc melihat jelas kedatangan Miguel bersama Laura dan pria yang pernah ia lihat sekali saat menjemput Miguel. Pria berparas tampan itu tampak dekat dengan Miguel, memperlakukan Miguel seperti anaknya sendiri.

Dani Pedrosa, Marc mengucap nama itu dalam hati dengan nada sinis.

Perasaan tidak rela kalau Miguel dekat dengan pria lain menggebu-gebu dalam dadanya. Marc menggertakkan giginya keras-keras, menahan amarah yang kini tiba-tiba muncul.

“Sialan!” desisnya.

Adel yang berada di belakangnya mendengar desisan pelan itu, kemudian berjalan mendekat ke arah Marc. Ia memeluk Marc dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung kekar pria yang tak lama lagi akan menjadi suaminya.

“Ada apa, Marc? Kau terlihat tegang,” ucapnya lirih. Adel merasakan tangan Marc meremas tangannya lembut dan merasakan bibir pria itu di punggung tangannya. Perasaan hangat muncul dalam diri Adel, Marc membalas pelukannya.

“Tidak, Adel. Aku hanya benci harus meninggalkanmu hari ini,” dusta Marc, berusaha melepaskan pelukan Adel. Kini mereka berdiri berhadapan.

“Kalau begitu jangan pergi,” balas Adel sedikit cemberut. Wanita itu terlihat lebih natural hari ini dengan hanya mengenakan kemeja hitam dan jeans ketat warna biru gelap dipadu wedges yang membuat membuat Adel tampak menawan. Rambut cokelatnya terurai dengan sedikit sentuhan penjepit rambut kecil yang membuatnya tampak mengagumkan.

“Tidak bisa, Adel. Aku sudah terlanjur janji dengan kepala sekolah untuk berpartisipasi dalam acara ini. Sebutlah ini semacam pengenalan antara pemilik yayasan dan anak-anak yang bersekolah di sini.” Marc membelai pipi Adel dengan lembut. Matanya menatap sayang gadis yang ada di depannya. Pertengkaran yang ia pikir akan terjadi semalam ternyata tidak terjadi. Wanita itu mengalah. Marc tahu hal itu dilakukan Adel karena gadis itu tidak ingin kehilangannya.

“Anak-anak itu masih kecil. Mereka tidak akan mengerti. Marc, jangan melakukan sesuatu jika kau tak menginginkannya,” jawab Adel dengan nada suara merendahkan. Wanita itu menatap calon suaminya dengan tatapan penuh cinta. Adel menempatkan tangannya di dada Marc dan bergerak perlahan melingkar di leher Marc.

Gerakan Adel membuat api gairah dalam diri Marc menyala. Ia tak peduli jika kini mereka berada di sekolah dan siapa pun dapat melihat apa yang mereka lakukan di ruangan ini. Penampilan Adel yang sederhana hari ini benar-benar mengingatkan Marc kepada Laura yang dulu. Wanita itu suka sekali memakai kemeja dengan celana jeans ketat. Bedanya Laura lebih suka memakai flat shoes.

Marc menurunkan tangannya di pinggul Adel dan menarik calon istrinya itu mendekat. Wajah mereka tak berjarak, hidung mereka saling bersentuhan. Adel dapat merasakan napas hangat Marc menyapu wajahnya. Sementara Marc persis dapat merasakan napas Adel yang mulai memburu.

Perlahan Marc menempelkan bibirnya pada bibir Adel. Ia tak tahan jika hanya sekadar ciuman. Kemudian Marc memindahkan Adel ke sofa ruangan khusus miliknya dan menindih calon istrinya itu. Ciuman Marc semakin liar hingga membuat Adel menggeliat tak menentu di bawahnya. Tangan Marc bergerilya menyusuri tubuh calon istrinya yang masih berpakaian lengkap. Tangan Adel tidak ketinggalan meremas baju olahraga bermerk yang terbalut pas di tubuh Marc.

Marc mencium leher Adel tepat saat ponselnya berbunyi dan membuat mereka sama-sama berhenti. Marc mengenggelamkan wajahnya di leher Adel sejenak, menghirup dalam-dalam bau gadis itu sebelum bangkit dan mengangkat panggilan tersebut.

“Baiklah, aku segera turun,” ucapnya setelah mematikan sambungan telepon. Marc melihat Adel merapikan pakaian dan penampilannya yang kusut akibat ‘kecelakaan’ yang baru saja mereka perbuat.

Pria itu mendekati calon pengantinnya itu dan menciumnya perlahan.

“Ketika kita menikah nanti, seperti itulah cara kita menghabiskan waktu di pagi hari, Sayang,” bisiknya seduktif kepada Adel hingga membuat Adel merona.

***

Miguel masih berada di pangkuan Dani dengan celotehannya yang terkadang membuat Dani tak tahan untuk tidak mencubit pipi bulat bocah itu. Tak jarang, Dani juga mencium Miguel layaknya ia mencium anak sendiri.

Laura melihat pemandangan itu dengan haru dari tempatnya berdiri. Hati kecilnya semakin meneriakkan jawaban ‘iya’ untuk lamaran yang diajukan oleh Dani.

Celotehan Miguel terhenti karena mendengar pengumuman melalui speaker yang tersebar di seluruh penjuru sekolah bahwa field trip akan segera dibuka oleh pemilik yayasan. Miguel melompat dari pangkuan Dani dan nyaris terjungkal seandainya tidak ditahan oleh Dani.

“Hati-hati, Miguel.” Dani menampakkan ekspresi lega ketika berhasil menahan Miguel dengan tangannya.

“Maaf, Uncle Dani. Aku terlalu bersemangat,” jawab Miguel dengan senyum lebar. Bocah itu seolah tak merasakan ada sepasang mata lain yang memperhatikannya dari jauh dan pemilik mata itu hampir saja berteriak melihatnya nyaris terjungkal.

Marc memberikan sambutan singkat untuk field trip kali ini. Miguel berada di barisan paling depan sehingga ia dapat melihat pria yang begitu dikaguminya itu berbicara dengan lantang dan penuh wibawa. Senyum tak lepas dari bibir Miguel ketika melihat Marc bicara dengan cara yang berbeda di depan umum. Sungguh berbeda ketika bicara dengannya.

Marc juga tak dapat melepaskan pandangannya dari Miguel. Ia memang memandang keseluruhan orang yang hadir, namun yang menjadi fokus utamanya adalah Miguel. Hatinya menghangat saat melihat bocah kecil kesayangannya itu tersenyum memandangnya. Ia meleleh ketika Miguel memberikan tepuk tangan dengan semangat ketika dirinya selesai memberi sambutan.

Marc turun dari podium dan sedikit melakukan improvisasi dengan menyapa anak-anak baris terdepan. Istilah modus sangat cocok ditujukan padanya. Ia menyentuh pipi satu per satu anak yang ada di baris terdepan hingga ketika ia sampai di depan Miguel, ia tak hanya menyentuh pipi bocah itu. Marc memberikan kedipan mata singkat yang langsung dibalas kedipan juga oleh Miguel. Hanya Marc dan Miguel yang tahu apa arti kedipan itu.

***

Adel menatap iri anak-anak yang berlarian menuju bus dan ditemani oleh orangtua mereka masing-masing. Ia dulu tak pernah merasakan saat-saat seperti itu. Senyum pahit kemudian terukir di bibirnya.

Marc mendekati Adel dan menyentuh pipi calon istrinya itu. “Aku pergi dulu ya. Aku akan menghubungimu segera setelah acara ini selesai,” ucapnya lembut.

“Janji?” tanya Adel manja.

“Janji.” Marc mengecup mesra dahi Adel dan memandang gadis itu sayang. “Sekarang pulanglah. Aku akan berangkat bersama yang lain setelah ini.”

Marc mengantar Adel ke parkiran khusus petinggi yayasan dan membukakan pintu mobil sedan gelap yang terparkir manis tak jauh dari tempatnya berdiri.

***

Semua anak berebut masuk bus. Laura menahan Miguel untuk tidak ikut berebut dan menunggu sampai keadaan lengang. Ketika keadaan sudah terlihat lebih sepi, Miguel dengan digandeng oleh Dani berjalan dengan bersemangat menaiki bus. Tepat ketika Dani mengangkat Miguel hingga mencapai tangga bus pariwisata itu, Marc datang menghampiri dengan tatapan tak bersahabat kepada Laura dan Dani.

“Hati-hati ya. Jangan nakal, ini bekal dari Mommy-mu dimakan.” Dani mengusap lembut rambut Miguel, tak menyadari kehadiran Marc.

“Iya, Uncle. Mommy, sini. Cium,” Miguel membentangkan tangannya ke depan berniat minta dipeluk Laura. Laura memeluk putranya itu sayang dan mencium pipi Miguel.

“Hati-hati ya. Jangan nakal. Ikuti apa yang dikatakan ibu guru. Jadi anak yang baik, oke?” Laura menyerahkan tas biru milik Miguel dan kembali mencium pipi Miguel.

“Iya, Mommy,” jawab anak itu dengan manis.

Marc memandang tajam Laura dan Dani, terlebih pada Dani. Marc terang-terangan memandang benci kepada Dani yang berani bersikap sok manis di depan Miguel. Sebelum masuk ke dalam bus, Marc memandang Laura sekilas.

“Senang melihatmu membuktikan bahwa kau tak egois,” ucap Marc singkat kemudian menutup pintu bus itu dengan kasar.

Laura tersinggung dengan ucapan Marc barusan. Entah apa maksud pria itu. Laura ingin sekali mencekik leher pria congkak sok berkuasa itu.

“Kurasa dia tidak suka padaku,” komentar Dani sesaat setelah pintu bus dibanting kasar oleh Marc.

“Dia memang tidak pernah suka melihat orang lain bahagia.” Laura menatap marah pada bayangan Marc yang tampak di pintu kaca bus.

“Maksudmu?” tanya Dani heran.

“Lupakan, Dani! Atau aku akan segera masuk dan membunuhnya jika kau terus membicarakannya,” desis Laura penuh amarah.

Hati Dani mencelus. Perasaan tak nyaman merayapi tubuhnya. Laura tidak akan semarah ini jika ia memang sudah tidak memiliki perasaan apa pun pada pria itu.

Entah kenapa Dani merasa jarak di antara mereka semakin terbentang lebar. Laura dengan dunianya sendiri yang terkadang terombang-ambing akibat terempas badai masa lalu. Sementara dirinya, hanya sebagai penonton di luar lingkaran. Ada batasan yang tak bisa ia jangkau walaupun ia ingin melibatkan diri dan masuk ke dalam dunia Laura. Ia tidak mampu untuk membuat dirinya menjadi bagian terpenting dari hidup wanita itu. Sekeras apa pun ia mencoba.

***

Di dalam bus, Marc melihat Miguel duduk manis dan bergurau dengan teman-temannya yang lain. Marc sengaja pindah duduk di belakang bersama dengan anak-anak yang lain untuk ikut bergurau dengan Miguel. Akhirnya Marc tak tahan dan meminta Miguel duduk di sebelahnya karena bangku di sebelahnya masih kosong.

“Halo, Jagoan. Senang mendengar tawamu,” Marc mendekap Miguel dan menyandarkan dagunya di kepala bocah itu.

“Aku juga senang mendengar suaramu, Uncle Marc,” balas Miguel seraya tersenyum lebar. Kedua tangannya terbentang dan memeluk Marc erat. Jari-jari mungilnya meremas baju olahraga yang dikenakan Marc. “Aku sangat merindukanmu,” gumamnya.

Hati Marc terasa hangat saat mendengar ucapan Miguel. Ia juga merindukan bocah ini.

“Benarkah? Padahal baru saja kemarin kita bertemu. Kau sudah rindu sekali padaku,” ujar Marc sembari terkekeh pelan.

“Entahlah. Sebenarnya aku sudah mulai merindukanmu saat pulang sekolah kemarin. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku sangat… sangat… sangat merindukanmu.” Pengakuan Miguel kali ini sukses membuat napas Marc tertahan beberapa saat. Tak ada kata yang dapat mewakili betapa bahagianya ia saat mendengar secepat itu Miguel merindukannya.

“Tapi aku takut,” Miguel berkata lagi. Kali ini ekspresinya tampak tidak terlalu gembira. Ada kesedihan yang terpancar di sepasang bola mata milik bocah itu.

Melihat perubahaan mimik wajah Miguel, Marc lantas bertanya, “Apa yang kau takutkan, hm?” Pria itu mengusap pipi cempluk Miguel dengan penuh sayang.

“Sepertinya ada yang salah pada diriku,” gumam Miguel pelan.

“Salah bagaimana?” tanya Marc, mengernyit bingung.

Miguel menggelengkan kepalanya. Wajah murungnya membuat Marc sedikit khawatir. Ini tidak seperti biasanya.

“Ceritakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?” Marc sedikit mendesak.

“Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang terjadi,” jawab Miguel pelan. “Tapi….” Bocah itu mulai tampak ragu-ragu. Kepala Miguel tertunduk, tidak berani menatap ke arah Marc.

“Apa, Sayang? Katakan padaku? Kau kenapa? Apa yang kau rasakan?” tanya Marc frustrasi karena Miguel tak kunjung mengatakan apa yang salah pada dirinya.

“Uncle Marc,” panggil Miguel lirih.

“Iya, Sayang?” Marc menyahuti dengan raut putus asa.

Bocah itu menatap Marc dibalik bulu mata lentiknya. “Kau tidak nyaman ya bersamaku?” tanya Miguel takut-takut.

Marc terdiam selama dua detik, coba mencerna apa maksud Miguel.

“Tidak. Tidak, Miguel. Aku tidak merasa seperti itu. Aku tidak pernah merasa tidak nyaman saat bersamamu. Apa yang membuatmu berpikir aku tidak nyaman bersamamu?” tanya Marc, balas memandang ke arah Miguel. Kerutan di kening pria itu semakin dalam.

“Ini.” Jari-jari mungil Miguel menyentuh kerutan di kening Marc. “Saat kau merasa tidak nyaman, kulitmu akan terlipat seperti ini.” Miguel mengelus-elus lipatan itu. “Mommy sering melipat kulitnya seperti ini setiap kali aku membuatnya kesal. Jangan kesal ya. Aku tidak ingin kau kesal padaku.” Mata Miguel melirik penuh harap pada Marc.

Hati Marc tersentuh. Rasanya mustahil sekali bocah sekecil ini memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Tapi Miguel melakukannya. Anak itu mampu membaca ekspresi wajahnya.

Marc ingin menumpahkan air matanya. Ia tidak peduli jika ia sedang bersama anak-anak lainnya di bus ini. Ia terlalu emosional. Perasaannya campuk aduk. Anak ini kembali memorakporandakan hatinya.

“Aku tidak sedang kesal padamu, Miguel. Lipatan ini muncul karena aku gusar kau tak kunjung mengatakan apa yang salah pada dirimu. Aku tidak suka harus menunggu lebih lama untuk tahu apa yang mengganggu pikiranmu. Katakanlah, katakan apa yang salah. Jangan takut. Aku akan mendengarmu,” tutur Marc dengan suara bergetar. Mata pria itu memancarkan ketulusan begitu mendalam.

“Baiklah. Tapi setelah mendengar ini kau jangan mengejekku ya? Aku akan malu sekali jika kau mengolok-olokku.” Pipi cempluk Miguel semakin bertambah bulat saat ia berbicara.

“Aku tidak akan mengejekmu. Aku janji.” Marc mengangkat talapak tangannya.

“Aku ingin mengaku.” Keraguan kembali tampak di sepasang mata cokelat gelap milik Miguel. Jari-jari mungilnya menyentuh telapak tangan Marc sementara ia melanjutkan ucapannya. “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Walaupun terlihat baik-baik saja, tapi,” Miguel mendongak, menarik tangan Marc dan menyentuhkannya ke dadanya, ” di sini rasanya sakit sekali. Rasanya tidak enak, Uncle Marc. Saat aku tidak melihatmu, aku sedikit kesulitan bernapas. Rasanya tidak nyaman. Tapi saat aku bertemu denganmu, rasa sakit ini tidak terasa lagi. Bahkan rasanya aku bisa menarik napas sebanyak-banyaknya. Lalu, aku menyimpulkan bahwa mungkin rasa sakit ini ada karena aku sedang merindukanmu. Apakah itu masuk akal? Sepertinya memang ada yang salah pada diriku. Aku tidak berani bilang sama Mommy.”

Marc tidak mampu berkata-kata selain menarik Miguel ke dalam dekapannya, memeluk tubuh bocah itu lebih erat. Rasanya Marc tidak ingin melepas pelukan ini jika saja ia tidak sadar Miguel butuh menghirup udara. Bocah itu akan kesulitan bernapas jika ia terlalu kuat memeluknya.

“Tidak ada yang salah. Kau tidak perlu takut.” ucap Marc, masih tak kuasa menahan gelombang emosi yang merasuki dadanya. Ia menarik napas panjang dan berkata, “Karena bukan kau saja yang merasakan hal seperti itu. Aku juga, Miguel. Aku juga merasakan perasaan sakit itu saat merindukanmu. Aku bahkan sulit tidur. Aku selalu memikirkanmu. Aku selalu bertanya-tanya, apakah kau sudah makan, apa kau sudah menyelesaikan pekerjaan rumahmu, kartun apa yang kau tonton hari ini, apa kau tidur dengan nyenyak, apa kau mendapat mimpi buruk, dan berbagai pertanyaan remeh lainnya. Aku tidak bisa melewatkan satu hari pun tanpa memikirkanmu. Aku mencintaimu,” tukasnya pelan. Marc tidak tahu entah sejak kapan cairan bening mulai berkumpul di pelupuk matanya.

Miguel yang melihat kesungguhan di mata Marc ikut merasakan gumpalan emosi yang belum pernah ia rasakan. Ia semakin tidak ingin berpisah dengan uncle kesayangannya itu.

“Uncle Marc….”

“Iya, Sayang?” Marc merespons lembut.

“Terima kasih sudah mencintaiku. Aku juga mencintaimu,” balas Miguel, mengalungkan kedua tangannya di leher Marc. “Aku bahagia, Uncle Marc. Aku sangat bahagia,” bisiknya.

To Be Continued…

20 thoughts on “My Secret, His Son #14

  1. akhirnya post juga ini FF. oh mimigu sudah kangen sekali ini. kamu pinter banget deh ikhh… akkkh boliss aku gabisa ngomong apa-apa lagi initu keren banget sumpah. gak bohong yaampun. Oh iya, itu Laura mau menerima lamara. Dani? terus si Marc juga memberika. harapan ke.Adel lagi. ohh yaampun makin seru ajadah. lanjuttlanjutt

    Suka

  2. Mimigu pinter banget gilak kak😀 moment yang seru saat Migugu sama Marc di bus,suwerr deh aku suka bgt moment itu kelietan batin ayah dan anak nya tak bisa dipisahkan,kalo Laura sama Dani boleh juga tuh udah cocok kok😀 si Marc nya kasih ke Adel aja kasihan dia nya selalu menderita🙂

    Suka

  3. Oh man gua gak bisa ngomong,…. Penulis gua terima kasih banyak buat penulis,…
    Penulis mampu membuat momen ilusi yang dimana gua bisa membayangkan bagaimana reaksi jika menemukan siapa papaku,…
    Penulis, bolehkah seluruh cerita dari My secret, His Son dari awal dikirim ke email gua,… Sangat sangat berterima kasih jika bisa membaca secara penuh,…
    Tankz penulis melalui cerita ini mengingatkan gua dimana 19 tahun silam betapa berharap bisa bertemu dengan papaku,… Walau sampai usia ke 24 tahun kini gua belum sekalipun bertemu dengannya,… Tankz penulis glad to read this story,…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s