Fanfiction : The One That Got Away #10

pageFF copy

Happy reading ^_^

Pintu ruang kerja Casey terjeblak terbuka. Seorang wanita gempal melangkah masuk, tidak peduli dengan tatapan tidak senang yang dilemparkan Casey karena dianggap tidak sopan masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu. Roser terlalu kesal untuk sekadar mengetuk pintu. Hanya membuang-buang waktu dan ia ingin segera bicara pada Casey.

“Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu? Apa sesulit itu melakukannya?” Casey bertanya dengan nada sinis. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi tinggi hitam yang ia duduki. Matanya menatap tajam ke arah Roser.

“Ada hal yang lebih penting lagi daripada kau meributkan soal sopan santunku masuk ke ruang kerjamu. Kau pikir apa yang sedang kau lakukan? Kau gila ya?!” Suara Roser meninggi. Matanya balas menatap Casey garang. “Kau tidak bisa melakukan hal ini, Casey! Ini sudah berada di luar rencana kita. Kau akan menyakiti Estelle lebih banyak. Semua yang kita lakukan akan sia-sia,” cecar wanita itu dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. Tampak sekali Roser ingin membunuh Casey dengan tatapannya.

“Lalu apa yang bisa kau harapkan? Alicia keponakanku, Roser. Dia putri dari kakak kandungku. Aku tidak bisa mengabaikannya. Dia keluargaku dan sekarang keluarganya sedang tertimpa musibah,” Casey menjawab tanpa memperlihat emosi apa pun di wajahnya. Ia meraih berkas di atas meja dan kembali menyibukkan dirinya dengan membaca setiap rentetan kalimat di berkas tersebut. Tidak menganggap seolah Roser ada di ruangan yang sama dengannya.

Roser terperangah melihat respons Casey yang menurutnya sangat keterlaluan. Sungguh, Roser ingin sekali meninju wajah sok tenang milik Casey. Dasar pria tidak berperasaan! Pantas saja Estelle membencimu! Roser menggeram dalam hati.

“Tidak peduli siapa pun Alicia dan apa yang sedang terjadi padanya, kenyataannya Estelle adalah putri kandungmu, Casey. Pikirkan dulu putrimu. Kalau Estelle saja tidak bisa kau urus, bagaimana kau bisa mengurus Alicia? Mereka saling membenci! Estelle tidak pernah suka pada Alicia. Kalau kau ingin adegan jambak-jambakan terjadi setiap hari, maka langkah yang kau ambil sangat tepat. Membiarkan Alicia tinggal di sini bersama kita akan semakin memperburuk keadaan!” seru Roser dengan mata menyalang penuh kemarahan.

Casey kembali mendongak menatap Roser dan berkata dengan tenang, “Estelle akan menerima kehadiran Alicia di rumah ini, Roser. Cepat ataupun lambat.”

“Itu katamu!” Roser berkata dengan nada mencela. “Ini peringatan terakhirku, Casey. Kau dengar? Ini peringatan terakhirku. Aku sudah kehabisan cara untuk menghadapimu. Jangan pernah kau menyalahkan siapa pun, terutama Estelle, jika terjadi hal-hal yang tidak kau inginkan. Kau tidak cukup mengenal Alicia untuk tahu apa yang akan dilakukan gadis itu terhadap Estelle.”

Roser tidak habis pikir jalan pikiran Casey yang menurutnya tidak masuk akal. Entah apa maksud pria itu dengan mengizinkan Alicia tinggal di rumah ini. Bagaimana bisa Casey memperbaiki hubungannya dengan Estelle jika saja pria itu sendiri tidak ingin hubungannya dengan Estelle membaik. Malah sekarang Casey membawa Alicia ke rumah ini. Menambah masalah dan kesulitan bagi Roser untuk mendamaikan hubungan ayah dan anak itu.

“Dia keponakanku, Roser! Dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang dapat membahayakan Estelle. Mereka keluarga. Air sekental apa pun tidak mampu menandingi kentalnya darah. Mereka terlahir dari darah yang sama. Ada darah Stoner di tubuh mereka,” tegas Casey dengan nada sedikit tersinggung.

“Darah Stoner yang akan membuat mereka saling membunuh. Cukup, Casey. Kurasa sekeras apa pun aku bicara padamu, tidak akan ada gunanya jika kau tetap berkeras pada keputusanmu. Ingat, sudah berapa banyak luka yang kau torehkan di hati Estelle? Sebanyak itulah kesalahanmu padanya. Dan kau dengar apa kata Estelle? Adriana akan sangat sedih melihat keadaanmu seperti ini.” Roser sengaja menekan suaranya saat menyebut nama Adriana. Ia sungguh tidak tahan dengan tindakan Casey yang sudah berada di luar ambang batas. Membiarkan Alicia masuk ke rumah ini sama saja membiarkan Estelle semakin membenci Casey.

“Cukup, Roser!” Casey membentak cukup keras. Pria itu bangkit dari kursinya dan menatap marah ke arah Roser. “Jangan pernah kau menyebut nama mendiang istriku. Dia tidak tahu apa-apa dan dia tidak terlibat,” sambungnya dengan ekspresi dingin.

Roser mendengus muak. Adriana. Lagi-lagi wanita itu.

Kau sukses membuat Casey lemah hanya karena aku menyebut namamu, Adri, Roser meringis pelan.

“Justru dialah aktor utama kenapa semuanya menjadi seperti ini, Casey. Aku tidak menyalahkannya. Ini takdir. Tapi, kini kaulah yang memegang peran vital itu. Semuanya tergantung padamu. Selesaikan semuanya,” gumam Roser. Kemarahannya menguap, hilang ditelan ekspresi dingin yang terpampang di wajahnya.

“Aku sedang mencoba, Roser. Tapi apa pun yang kulakukan selalu salah di mata Estelle. Dia tidak pernah melihatku dengan cara yang positif. Dia menuduh dan selalu membantah ucapanku. Bagaimana bisa aku menyelesaikan semuanya? Kematian Adriana membawa dampak yang sangat besar terhadap kehidupan kami. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.” Suara Casey bergetar. Pria itu sedikit menunduk. Bahu terkulai pasrah.

Selemah itukah kau, Casey?

“Apa kau tidak ingin mencari tahu kenapa Estelle bersikap seperti itu padamu? Itu karena kau tidak mengacuhkan sejak kematian Adriana. Demi Tuhan, Casey. Estelle hanya gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Tapi kau memperlakukannya seolah dialah penyebab kenapa Adriana meninggal. Kau membuatnya tampak seperti seorang pembunuh. Secara tidak langsung kau menuduhnya membunuh Adriana. Apa kau sadar, hah? Ini bukan salah Estelle. Tapi salahmu karena tidak mampu mengendalikan sikapmu!” Roser membentak dengan keras.

“Aku tidak pernah memperlakukannya seperti itu, Roser!” Casey balas membentaki Roser. Mata pria itu melotot tajam.

Roser mengembuskan napasnya keras. “Ya, kau memang tidak pernah. Tapi hal itulah yang dirasakan Estelle saat kau mendiamkannya, saat kau tidak mengacuhkannya padahal dia sangat membutuhkan kasih sayangmu. Kau mematahkannya saat dia berusaha untuk bangkit. Kau menghancurkannya, Casey. Kau menghancurkan hidup putrimu sendiri. Apa kau sadar itu?!”

Casey tidak lantas menjawab. Pria itu membalikkan tubuhnya, memunggungi Roser dan menghadap ke jendela kaca tak bergorden yang menampakkan pemandangan langit tak berbintang. Casey mendongakkan wajah, menatap titik-titik kecil yang berjatuhan membasahi jendela tersebut. Pria itu memejamkan matanya. Ingatan tentang Adriana kembali berputar di kepalanya. Kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui menyeruak. Dada Casey bagai dihantam ratusan ton beton. Ekspresi wajahnya tampak gundah.

“Ada hal-hal yang tidak bisa kukatakan padamu. Perasaan bersalah, Roser. Perasaan bersalahlah yang membuatku bersikap seperti ini. Perasaan itu mengubahku menjadi ayah yang mengerikan untuk Estelle,” Casey bergumam dengan sedih. “Aku selalu dihantui perasaan itu setiap malam. Aku tidak tahu bagaimana caranya agar terbebas dari perasaan itu. Setiap melihat Estelle, Roser, demi Tuhan, aku seperti melihat sosok Adri ada pada dirinya. Itulah yang membuatku sakit setiap melihat wajahnya. Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup seperti ini, Roser. Dan setiap aku menyakiti Estelle, wajah Adri-lah yang terbayang di benakku. Dia seolah hidup di setiap tempat di rumah ini.”

Roser harus menajamkan telinganya saat mendengar suara Casey yang semakin lama semakin melirih. Roser memang tidak tahu bagaimana rasanya ditinggal orang yang ia cintai. Ia tidak memiliki orangtua sejak kecil. Makanya ia tidak pernah merasa kehilangan mereka. Satu-satunya kehilangan menyakitkan yang pernah ia alami adalah ketika ia harus mengantar kepergian sahabat terbaiknya di pemakaman. Tepat 6 tahun yang lalu.

Casey mencintai Adriana, itu jelas dilihat dari pria itu merasa terpukul saat Adriana meninggal. Tapi apa maksud Casey dengan perasaan bersalah? Apa ini ada kaitannya dengan kematian Adriana? Tidak mungkin Casey membunuh Adriana yang jelas-jelas kematiannya disebabkan oleh jatuhnya pesawat yang ditumpanginya dari London ke Sydney. Roser semakin tidak mengerti.

“Aku ingin mengakui sesuatu, Roser. Mungkin setelah kau mendengarnya, kau akan benci padaku.” Casey mengambil napas dalam, kemudian mengembuskan perlahan-lahan. “Akulah yang membunuh Adriana.”

Mata Roser terbelalak syok. Oksigen seolah terhenti di udara saat kata-kata itu meluncur dari mulut Casey. Seolah tak percaya apa yang baru saja ia dengar, dada Roser bagai terhantam benda tumpul yang beratnya beratus-ratus kilogram.

“Demi Tuhan, Casey! Apa maksudmu…? Kau tidak mungkin….”

Roser terguncang hebat. Kakinya bergetar. Wanita itu menyentuh bibir meja kerja Casey, coba menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Butuh semenit untuknya menenangkan diri.

Casey memutar tubuhnya. Sorot terluka terpancar dari sepasang mata biru keabuan miliknya.

“Aku bersalah, Roser. Akulah yang menyebabkan Adriana meninggal. Dia pergi ke Inggris setelah….” Casey tak jadi melanjutkan kata-katanya. “Dia marah besar padaku. Bahkan dia telah menyiapkan surat gugatan cerai untukku sebelum berangkat ke Inggris.” Mata Casey terpejam saat mengatakannya. Bagai film yang tidak ingin ia tonton, ingatan pertengkaran hebat pada malam itu berputar di kepalanya. Tangan Casey terkepal. Ia ingin menghentikannya. Namun, ia tidak bisa. Ia tidak berdaya.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Casey?” Roser mengerang frustrasi. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.

Casey terdiam beberapa saat sebelum bibirnya bergerak dan membuat Roser terperanjat. “Aku mengkhianatinya, Roser. Aku… berselingkuh.” Casey menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya, Roser melihat Casey menintikkan air matanya. Pria itu terisak-isak. Mendadak rasa nyeri juga menyerang dada Roser.

“Oh, Tuhanku…. Casey, kau….” Roser menempelkan tangannya di bibir. Tidak tahu harus berkata apa. Ia sungguh tidak menyangka Casey akan berbuat sedemikian rupa. Hancur sudah pemikirannya tentang Casey sangat mencintai Adriana. Jika pria itu benar mencintai Adriana, Casey tidak mungkin mencari wanita itu. Perlahan, kebencian mulai menjalari diri Roser. Amarah berkumpul di matanya. Casey… pria itulah yang menyebabkan Adriana meninggal. Roser terpukul. Ia merasakan sesak yang tak terelakkan di dada. Paru-parunya seolah macet memompa aliran udara.

Mata Casey memerah saat ia mengangkat wajahnya, memandang Roser dengan raut amat menyesal. “Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf.”

“Untuk apa kau minta maaf padaku?” Roser bertanya dengan sangat dingin. “Yang kau sakiti adalah Adriana, Casey. Yang kau selingkuhi adalah Adriana. Bukan aku. Kau tidak perlu minta maaf padaku. Karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan.” Roser mengembuskan napas lelah. “Seandainya Estelle tahu apa terjadi sebenarnya, tidak ada jaminan dia akan tetap tinggal di rumah ini. Atau bahkan, dia bersumpah tidak ingin melihatmu lagi, Casey.”

“Kumohon, jangan katakan padanya. Dia tidak boleh tahu, Roser. Aku tidak ingin kehilangan Estelle,” bisik Casey, memohon belas kasih Roser.

Roser memandang sengit ke arah Casey. “Dia tidak perlu tahu hal ini untuk meninggalkanmu. Perlakuanmu terhadapnya akan membuat Estelle berpikir untuk pergi dari rumah ini. Percayalah padaku, Casey. Kau telah merusak segalanya. Kau bahkan telah merusak kepercayaan yang kuberikan padamu. Kau menipuku. Kau menipu Marc. Kau mengkhianati kami, Casey.” Ekspresi dingin di wajah Roser membuat tulang belakang Casey membeku. Ia memang telah merusak segalanya. Ia menghancurkan apa yang telah ia bangun.

Roser menyunggingkan senyum sinis, puas melihat ekspresi Casey yang semakin merana. “Kau tahu? Jika aku harus hidup seratus tahun lagi, aku akan sangat senang melihatmu membusuk di penjara. Tak terhitung sudah berapa banyak kesalahan yang kau perbuat terhadap Adriana, Estelle, termasuk aku dan Marc, Casey. Untuk masalah Alicia, kumaafkan kau membiarkan dia tinggal di rumah ini. Tapi sekali kulihat dia berani menyentuh Estelle, aku tidak akan segan-segan menendangnya keluar dari sini sekalipun dia adalah keponakanmu. Karena bagiku, Estelle jauh lebih penting dan berharga untukku. Dia tiada duanya. Kuharap kau juga mengerti alasanku.”

***

Salah satu kursi tampak menganggur saat sarapan pagi tiba. Semuanya sudah duduk di kursi masing-masing, termasuk penghuni baru yang baru saja pindah ke kediaman Stoner. Alicia tampak tidak peduli pada kursi kosong tersebut. Berbeda dengan Marc yang memandang kursi itu dengan tanda tanya besar di kepala. Hampir sama dengan Marc, Roser memiliki asumsi sendiri kenapa Estelle tidak ikut sarapan. Gadis itu pasti tidak tahan harus duduk dan makan di meja yang sama dengan Alicia. Sementara Casey tampak tidak terpengaruh oleh keadaan sekitarnya.

Marc mendorong kursinya ke belakang. Alicia dan Casey refleks mengangkat wajah mereka dan memandang Marc heran. Sementara Roser, senyum wanita itu sedikit mengembang saat tahu apa yang diucapkan Marc kemudian.

“Aku akan mencari tahu kenapa Estelle belum turun dan ikut sarapan bersama kita. Aku permisi,” ucapnya, meninggalkan meja makan dan berjalan cepat menaiki setiap undakan anak tangga.

Alicia melemparkan tatapan jengkelnya. Sementara Casey hanya diam saja dan meneruskan sarapannya.

Saat mencapai puncak tangga, Marc membelokkan tubuhku dan mendekati pintu dengan hiasan glitter berukir nama Estelle. Pintu itu tidak tertutup. Marc memelankan langkah kakinya. Tangannya yang terulur hendak menyentuh kenop pintu kamar Estelle mendadak terhenti di udara ketika mendengar dua perempuan berbicara di dalam sana.

Estelle berbicara dengan siapa?

Didorong oleh rasa ingin tahu, Marc sedikit mendorong pintu kamar Estelle tanpa menimbulkan suara. Sebuah pemandangan tak lazim menyambut Marc saat ia melihat siapa yang sedang bersama Estelle.

Seorang wanita dengan pakaian tipis hitam tak berbentuk, sebuah celemek putih menggantung di pinggang, dan sebuah topi kain menahan rambutnya—jika Marc tidak salah lihat—yang memiliki warna secokelat rambut milik Estelle. Dengan pakaian seperti itu sudah tentu wanita itu adalah salah satu pelayan rumah tangga mereka. Tapi, siapa wanita itu hingga berani-beraninya memangku kepala Estelle di pahanya? Tangannya mengusap rambut Estelle dan sesekali menepuk lembut pipi Estelle. Gadis itu terkikik pelan dan suaranya terdengar lemah. Dan apa yang dikatakan Estelle benar-benar membuat Marc terkejut. Estelle memanggil wanita itu dengan sebutan Bibi Clarissa.

Clarissa?

Nama itu terdengar familier di telinga Marc.

Marc mendorong lebih lebar pintu itu untuk mengintip lebih dekat sosok wanita yang bernama Clarissa. Posisi tubuh Clarissa yang menyamping karena memangku Estelle membuat Marc sedikit kesulitan meneliti wajah wanita itu. Dan ketika wanita itu ikut terkikik mendengar ucapan Estelle, kepala wanita itu tidak sengaja menoleh ke arah pintu.

Seperti tersambar petir di pagi hari, tubuh Marc membeku begitu melihat dengan jelas sosok wanita itu. Tatapan mereka bertemu. Wanita itu juga sama terkejutnya dengan Marc karena tertangkap basah sedang bersama Estelle. Clarissa buru-buru mengalihkan perhatiannya ke Estelle.

Marc masih terkejut. Tidak mungkin itu dia, batinnya menolak untuk memercayai kenyataan yang baru saja ia lihat.

Tanpa mampu dikendalikan, pikiran Marc terlempar ke masa lalu, ke malam di mana ia melihat Casey berdiri di depan kamar Clarissa. Pria itu memeluk dan mencium mesra Clarissa. Demi Tuhan! Bahkan Casey melakukan hal itu seminggu setelah kematian Adriana. Marc berani bersumpah saat itu Casey dalam keadaan sangat sadar.

Tatapan Marc kembali mengarah ke Estelle dan Clarissa. Entah pikiran dari mana, sekilas Marc melihat ada kemiripan antara wajah Clarissa dan Adriana.

Marc memikirkan beberapa kemungkinan. Wajah Clarissa mirip dengan wajah Adriana. Wajah Estelle sangat mirip Adriana. Dan wajah Estelle juga mirip dengan wajah Clarissa.

Mungkinkah Clarissa itu adalah Clarissa… Tuchyna?

Clarissa Tuchyna.

 Adriana Tuchyna.

Mustahil!

Bagaimana bisa nyonya rumah sebelumnya menjadikan adik kandungnya sendiri sebagai pelayan rumah tangga?

Estelle… apakah gadis itu tahu Clarissa adalah adik ibunya?

 Kenapa semuanya menjadi serumit ini?

***

Kepala Estelle tertoleh ke samping saat pintu kamarnya terbuka. Seorang pelayan dengan gaun hitam selutut bercelemek putih yang tergantung di atas pinggang, serta sebuah topi kain membungkus rambutnya melangkah masuk seraya melemparkan senyum lembut ke arah Estelle.

“Selamat pagi, Sayang. Kok belum bangun?” tanyanya seraya mendekati ranjang Estelle.

Estelle menarik selimutnya ke atas dada, mengerang pelan, kemudian balas tersenyum pada pelayan wanita paruh baya itu. Estelle selalu suka setiap Clarissa masuk ke kamarnya dan menyapanya seperti ini. Wanita itu sangat baik dan lembut. Terlebih wajah Clarissa mirip dengan wajah mendiang ibunya. Setiap Estelle merindukan ibunya, ia akan mencari Clarissa dan meminta sebuah pelukan. Tentu saja tanpa sepengetahuan ayahnya dan Mr. Beer, kepala pelayan di rumah ini. Ia akan membuat Clarissa dalam masalah besar jika Mr. Beer melihat kedekatan mereka. Pria paruh baya itu telah diperintahkan Casey untuk menjauhkan Estelle dari seluruh pelayan di rumah, terutama Clarissa karena wanita itu adalah salah satu pelayan yang paling lama bekerja di rumah ini selain Mr. Beer.

Estelle tidak diperbolehkan berbicara dengan pelayan rumah jika memang tidak diperlukan dan ia dilarang melakukan kontak dengan mereka. Casey tidak sudi Estelle bergaul dengan pelayan. Karena menurutnya, sangat tidak pantas apabila majikan berbicara lebih dari 5 menit dengan seorang pelayan. Itu melanggar norma kalangan aristokrat. Bagi mereka, pelayan tetaplah pelayan yang bekerja untuk mendapatkan upah. Mereka harus bekerja sesuai dengan kewajibannya dan yang terpenting mematuhi perintah tuannya.

“Malas bangun,” Estelle bertutur dengan manja seraya memutar badannya menghadap Clarissa.

“Anak gadis tidak boleh malas.” Clarissa duduk di tepi ranjang Estelle. Tangannya menyibak rambut Estelle yang menutupi wajah. “Nanti kau kesulitan mendapatkan suami.”

Estelle mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Clarissa. Ia mengangkat kepala dan meletakkannya di atas pangkuan Clarissa. Wajahnya ia sembunyikan di perut Clarissa yang memiliki sedikit gelambir lemak.

“Bodoh amat! Ini kan hari Minggu, Bibi. Lagi pula, hari ini aku juga tidak ada acara. Aku hanya ingin berbaring di tempat tidurku.” Estelle memejamkan matanya.

“Tapi kau membuat yang lain khawatir karena tidak menemukanmu di meja makan. Sudah dua hari kau tidak menampakkan batang hidungmu saat sarapan tiba.” Clarissa menyentuh alis tipis Estelle dan mengelusnya lembut.

Estelle memutar kedua bola matanya dan berkata dengan nada sinis, “Kau tidak usah khawatir, Bibi. Mereka tidak akan repot-repot memikirkanku.”

Clarissa menghentikan elusannya. Matanya menilik penuh sayang pada Estelle. “Sayang, mereka peduli padamu. Terlebih ibu tirimu. Dia menyayangimu.”

Estelle mengembuskan napas dengan kesal. “Sudahlah, Bibi. Jangan pernah kau menyebutnya lagi di depanku. Kau membuat telingaku panas,” ucapnya jengkel.

“Aku tidak bohong, Sayang. Dia sayang padamu. Dia begitu pedu—”

“Bibi, cukup!” Estelle memotong dengan tajam. Matanya melotot marah ke arah Clarissa. “Aku tidak suka kau membicarakannya. Kau sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Kumohon jangan khianati aku dengan ucapanmu itu. Kau menyakitiku.” Estelle memperlihatkan ekspresi terlukanya yang sontak membuat Clarissa merasa bersalah.

“Oh, Sayang. Maafkan Bibi. Bibi tidak bermaksud seperti itu.” Clarissa buru-buru memeluk Estelle dan mengusap punggung gadis itu.

“Aku tahu, Bibi. Kau tidak perlu minta maaf,” gumam Estelle di perut Clarissa. “Oh ya, Bibi Clarissa, kau tahu tidak?” Estelle memutar sedikit tubuhnya dan menatap mata cokelat Clarissa yang tampak menawan. “Terkadang aku sangat berharap kaulah wanita yang dinikahi ayahku. Aku sangat ingin kau menjadi ibuku.”

Clarissa menegakkan tubuhnya dengan perasaan tidak nyaman. Ini bukan pertama kalinya Estelle berkata seperti itu. Kata-kata yang membuat Clarissa takut.

“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kau tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Aku tidak pantas bersanding dengan ayahmu.” Clarissa memperlihatkan senyum gugupnya.

“Kenapa?” Estelle bertanya dengan nada polos. Gadis itu mengembuskan napas lagi, kemudian mengembungkan pipinya. “Kurasa tidak ada salahnya jika ayahku menikahimu terlepas apa pun statusmu. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin memiliki ibu seperti dirimu.”

Clarissa mengusap gemas pipi Estelle yang dikembungkan. Gadis itu tampak lucu. “Justru itulah masalahnya. Kau tidak peduli pada statusku. Tapi aku sangat peduli. Aku hanya seorang pelayan rumah tangga, Estelle. Dan fakta itu tak terbantahkan. Aku tidak pernah berharap suatu saat bisa menikah dengan ayahmu. Sekali pun tak pernah kubayangkan akan menjadi nyonya rumah di rumah ini.”

“Tapi aku menyayangimu, Bibi Clarissa.” Estelle sedikit merajuk. “Kau sangat pantas menjadi istri untuk ayahku dan ibu untuk diriku.”

“Aku juga menyayangimu, Estelle. Aku sangat mencintaimu. Kau sudah kuanggap seperti putriku sendiri. Biarlah keadaan tetap seperti ini. Kita bisa saling menyayangi tanpa ada ikatan antara ayahmu dan aku.”

“Aku masih sangat berharap, Bibi. Kau akan menjadi ibu yang sempurna untukku.” Kali ini Estelle mengerucutkan bibirnya.

“Sstt, sudahlah, Sayang. Kalau kau tidak segera menghentikan pembicaraan ini, aku akan keluar dari kamarmu,” ujar Clarissa, sedikit mengancam. Sejujurnya, wanita itu tidak nyaman setiap membicarakan topik ini. Tak sekali pun tak Estelle bahas masalah ini setiap mereka memiliki kesempatan untuk bersama. Estelle terlalu berharap padanya. Ia takut, sungguh.

“Kau sedang mengancamku?” Estelle sedikit tersinggung.

Clarissa tersenyum geli melihat ekspresi marah Estelle. “Hanya menggertak saja. Tapi aku bersungguh-sungguh berkata akan keluar jika kau tetap meneruskan pembicaraan tak pantas ini.”

“Oh, baiklah. Aku menyerah. Aku tidak akan meneruskannya. Kau tidak akan keluar, ‘kan? Jangan ya? Aku tidak mau Bibi keluar. Aku tidak suka sendiri di saat aku merasa sedih. Bibi mau kan tetap menemaniku di sini?” Estelle merengek-rengek.

Clarissa terkikik pelan. Sungguh, tidak ada yang lebih menyenangkan saat melihat ekspresi gadis di pangkuannya ini. Dalam waktu sedetik gadis itu bisa menjadi begitu menggemaskan, dan detik selanjutnya bisa menjadi begitu menyebalkan. Tapi, itulah Estelle. Tidak ada yang dapat melihat sisi tersembunyinya jika kau tidak mengenalnya dengan baik.

“Tentu, Sayang. Aku akan berada di sini bersamamu. Selama yang kau inginkan.” Clarissa mencubit lembut ujung hidung Estelle.

“Bagus. Karena aku tidak suka ada kata ‘tidak’.”

“Dasar kepala batu.”

“Kuanggap itu sebagai pujian.” Estelle menaikkan kedua alisnya dan terkikik pelan.

“Terserah padamu.”

“Aku sayang Bibi.” Estelle memperlihatkan kesungguhan ucapannya melalui sorot matanya yang tulus.

“Bibi juga sayang padamu.”

“Oh ya, bagaimana kabar putrimu? Dia baik-baik saja, ‘kan?” tanya Estelle tiba-tiba.

“Ah… dia… baik.” Clarissa terlihat tidak yakin. Wanita itu menyunggingkan senyum agar tampak tidak sedang berbohong.

“Bibi, boleh aku meminta sesuatu?” Mata Estelle tampak memohon.

“Apa, Sayang?”

“Mau diusap-usap,” gumam Estelle manja. Estelle meraih telapak tangan Clarissa yang berada di samping tubuhnya dan menyentuhkannya di atas kepalanya, kemudian menggerakkan tangannya dengan usapan lembut. “Seperti ini.”

“Ugh! Manjanya, Anakku,” keluh Clarissa seraya mengecup kening Estelle dan mengusap-usap kepala Estelle.

“Aku suka kau menyebutku ‘anakku’.” Estelle memejamkan matanya, menikmati gerakan mengusap dari telapak tangan Clarissa.

“Kau mau aku menyebutmu seperti itu lagi?” tawar Clarissa.

Estelle mengangguk cepat. “Mau sekali. Sebut sebanyak yang kau bisa dan sebut sebanyak-banyaknya sampai aku bosan. Tapi kurasa aku tidak akan bosan mendengarmu menyebutku sebagai anakmu.”

“Aku akan melakukannya untukmu. Anakku, anakku, anakku, oh kau anakku.”

“Itu berlebihan sekali, Bibi.” Estelle membuka matanya dan tertawa geli.

“Kau mulai bosan?” tanya Clarissa, menghentikan usapannya.

“Tidak. Kan sudah kubilang aku tidak akan bosan. Bibi, usap-usap lagi. Jangan berhenti,” suruh Estelle, kembali menyentuh tangan Clarissa.

“Baiklah, Tuan Putri.” Clarissa menggeleng-gelengkan kepalanya. Senyum masih tak terlepas dari wajahnya hingga kemudian matanya tidak sengaja menangkap sosok seorang pria berdiri di belakang pintu kamar Estelle. Usapan Clarissa terhenti seketika saat melihat siapa yang mengintip di balik pintu itu.

 Marc….

Mendadak perut Clarissa mulas memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Marc melihatnya. Apa yang akan dipikirkan pria itu melihat kedekatan mereka? Clarissa buru-buru menyembunyikan pandangannya dan mengalihkannya ke wajah Estelle.

Estelle hampir jatuh ke dunia mimpinya ketika Clarissa kembali membuka suaranya. Salah satu tangan wanita itu menyentuh pipi Estelle.

“Semalam kau tidur jam berapa, hm? Lihatlah, lingkaran hitam di bawah matamu sangat besar. Kau mirip panda hidup,” komentar Clarissa saat melihat lingkaran mengerikan di bawah mata Estelle. Wanita itu coba mengalihkan perhatiannya dari Marc. Ia tahu pria itu masih ada di sana.

“Aku tidak tidur sama sekali. Aku tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun walaupun aku sangat mengantuk.” Estelle mengerjapkan matanya beberapa kali. “Aku rasa aku mengidap insomnia akut, Bibi. Akhir-akhir ini aku sulit tidur dan saat tertidur pun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasanya ada sesuatu yang dikirim iblis untuk mengganggu tidurku.”

“Sesuatu? Seperti apa?” Clarissa penasaran.

“Mimpi, Bibi. Mimpi buruk. Aku sering terbangun ketika mendapatkan mimpi buruk,” lirih Estelle. Matanya terasa berat.

“Seberapa sering kau bermimpi buruk?” Wanita itu menjaga ekspresi wajahnya agar Estelle tidak curiga. Punggung wanita itu terasa lembab akibat keringat yang tiba-tiba mengucur. Ini semua karena tatapan Marc. Clarissa dapat merasakan tatapan pria itu semakin tajam mengarah kepadanya.

“Sangat sering sejak kepulangan ayahku ke rumah ini. Aku tidak bisa tidur nyenyak. Dan mungkin, sekarang aku tidak akan bisa tidur.” Estelle memejamkan matanya lagi.

“Apa karena ada Alicia?” Clarissa bertanya dengan hati-hati.

Nama Alicia seperti mantra pengusir kantuk. Terbukti saat Clarissa menyebut nama Alicia, kantuk Estelle seketika menghilang, diganti dengan perasaan jengkel di dadanya.

“Ya,” jawabnya ketus.

“Dia tidak akan berani macam-macam denganmu. Aku bersumpah, Estelle.” Clarissa menatapnya serius. Wanita itu coba mengabaikan Marc dan fokus pada Estelle.

“Tapi ayahku berdiri di belakangnya, Bibi,” Estelle berkata dengan sedih. “Dia sangat pandai memutarbalikkan fakta.” Estelle mengembuskan napas dengan keras. “Huh! Sebenarnya mau apa sih dia menumpang tinggal di sini? Apa keluarganya jatuh miskin? Kurasa perekonomian keluarganya baik-baik saja. Menyebalkan sekali! Bibi Clarissa, apa kau tahu maksud tujuannya datang kemari?”

Clarissa memain-mainkan rambut Estelle dengan cara memuntir-muntirkan ujungnya. Matanya menerawang. “Semalam saat aku hendak pergi ke kamarmu, aku tidak sengaja mendengar perdebatan ayahmu dan Nyonya Roser tentang Alicia,” Clarissa berkata dengan lirih.

Semoga Marc tidak mendengarnya. Ia akan disebut penguping dan kembali tertangkap basah karena mendengar hal-hal yang tidak seharusnya ia dengar tadi malam.

“Pasti ibu tiriku sangat bahagia melihatku menderita.” Kesinisan tak mampu terhapus dari ucapan Estelle. Ia sangat membenci ibu tirinya.

“Dengarkan aku dulu, Estelle,” sela Clarissa.

“Baiklah. Lalu, apa yang mereka bicarakan? Berdebat? Yang benar saja.” Estelle mendengus muak.

“Nyonya Roser meributkan soal kepindahan Alicia ke rumah ini. Beliau tidak setuju. Dia membelamu dengan mengatakan akan terjadi pertumpahan darah jika kau dan Alicia tinggal di tempat yang sama. Dan—”

“Baik sekali dia membelaku. Teruskan, Bibi,” ucap Estelle, menyindir ibu tirinya.

“Ayahmu mengatakan Alicia memiliki sedikit masalah keluarga. Makanya beliau mengizinkannya tinggal di sini.” Clarissa melihat ke arah pintu lagi. Ia sedikit menyipitkan matanya. Sepertinya Marc telah meninggalkan kamar ini. Clarissa mendesah lega.

“Masalah keluarga?” ulang Estelle. Sebelah alisnya terangkat. “Apa ayahnya selingkuh lagi? Atau ibunya kabur bersama laki-laki lain? Atau mungkin kakak laki-lakinya tertangkap basah karena transaksi narko….”

“Estelle! Jaga omonganmu. Itu sangat kasar, kau tahu?!” Clarissa melotot tajam pada Estelle.

“Kau membelanya?” Estelle menuduh Clarissa. Sorot mata gadis itu tampak terluka.

“Aku tidak membelanya. Tapi ucapanmu sangat tidak dibenarkan, Estelle. Sejahat-jahatnya Alicia, dia juga merasakan apa yang kau rasakan. Tapi kau jauh lebih baik darinya. Alicia tidak punya siapa-siapa lagi kecuali ayahmu. Sedangkan kau masih memiliki aku, Bradley dan… siapa teman barumu itu?” Clarissa coba mengingat-ingat nama cowok yang pernah diceritakan Estelle padanya.

“Scott,” jawab Estelle.

“Ah, iya. Scott.”

Estelle memajukan bibirnya beberapa senti. “Tetap saja aku tidak suka dia tinggal satu rumah denganku. Oh ya, kau salah, walau bagaimanapun juga Alicia masih memiliki orangtua dan seorang kakak laki-laki. Dia tidak sendirian. Setidaknya mereka semua masih hidup. Omong-omong, Bibi Clarissa, aku berencana pergi dari rumah ini dan hidup mandiri. Bagaimana menurutmu?”

“Apa? Tidak! Aku tidak setuju.” Clarissa menolak keras rencana Estelle. “Kau belum cukup dewasa untuk hidup mandiri. Pokoknya aku tidak akan memaafkanmu jika sampai kau meninggalkan rumah ini.” Lagi, Clarissa melototkan matanya pada Estelle.

Estelle tersenyum jail melihat ekspresi galak Clarissa. “Apa yang akan kau lakukan jika aku pergi?”

“Aku akan menyeretmu pulang, menjewer telingamu sepanjang perjalanan dan menggembok pintu kamarmu selama seminggu.” Clarissa memperlihatkan ekspresi sungguh-sungguhnya.

“Ugh! Kau kejam sekali.” Estelle mengernyitkan hidungnya.

“Demi mempertahankanmu di rumah ini,” sela Clarissa seraya menarik hidung Estelle dengan gemas.

“Sudah kuduga. Kau pasti menentang rencanaku ini. Tapi, Bibi, sungguh aku tidak tahan tinggal di rumah ini. Rasanya ini bukan rumah. Tapi neraka.” Estelle merenungkan hidupnya.

Clarissa turut bersedih atas apa yang terjadi pada Estelle. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. “Bersabarlah, Sayang. Kita akan cari jalan keluarnya bersama-sama. Kau harus tetap berada di rumah ini. Jangan mau kalah, oke? Alicia akan tertawa jika kau menyerah begitu saja.”

“Aku lelah, Bibi. Aku lelah hidup seperti ini,” gumam Estelle sedih.

“Bibi mengerti, Sayang. Bibi sangat memahami bagaimana kehidupan yang harus kau jalankan. Jangan menyerah,” hibur Clarissa. Tangannya kembali mengusap-usap kepala Estelle. Clarissa sempat mencuri pandang ke arah pintu. Sepertinya Marc benar-benar telah pergi.

“Bagaimana kalau nanti Alicia melakukan tindakan semena-semena di rumah ini? Kau tahu kan dia sangat licik? Dia jahat, Bibi.”

“Ssttt…. Sudahlah, Estelle. Aku berjanji dia tidak akan berani sedikit pun menyentuhmu. Aku akan membelamu. Dan sekarang, waktunya istirahat. Kau bisa sakit jika kurang tidur.”

“Aku sudah sakit, Bibi,” ucap Estelle terdengar lemah.

“Sakit? Benarkah? Sakit apa, Sayang? Apa yang sakit?” tanya Clarissa dengan nada khawatir. Wanita itu memperhatikan wajah Estelle. Gadis itu memang sedikit pucat.

“Kepalaku. Kurasa aku sedikit demam.”

“Benarkah?” Clarissa menyentuh kening Estelle. “Well, tubuhmu sedikit hangat. Kau mau aku mengompresmu?” Clarissa bertanya dengan penuh sayang.

“Ya.” Estelle mengangguk kecil.

“Tunggu sebentar ya. Aku akan segera kembali.” Clarissa memindahkan kepala Estelle ke atas bantal. “Omong-omong, kau ingin aku membawakan sarapanmu kemari? Kau belum makan dari semalam.”

“Ya, Bibi. Aku juga merasa lapar. Bawalah. Aku akan menunggumu di sini. Jangan lama-lama ya,” ucap Estelle, makin terdengar lemah.

“Iya, Sayang. Aku akan segera kembali.” Clarissa mengecup kening Estelle sebelum keluar.

Clarissa terlonjak kaget sesaat setelah ia menutup pintu kamar Estelle dan membalikkan tubuhnya, menemukan Marc berdiri menyandarkan punggung di samping pintu dan menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap tajam Clarissa.

Jantung Clarissa berdetak kencang. Kepalanya tertunduk, tidak berani menatap Marc.

“M-maaf, Tuan.” Suara Clarissa bergetar karena takut.

“Estelle sakit?” tanya Marc dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca.

Clarissa mengangguk. “Ya. Dia sedikit tidak enak badan. Tubuhnya agak hangat.”

Marc memandang saksama pelayan wanita di hadapannya ini. Ia ingin memastikan wanita ini adalah benar wanita yang ia lihat malam itu.

 Tidak salah lagi. Dia adalah wanita yang sama.

“Pergilah. Bawakan air kompresan dan sarapan untuknya. Dia harus makan,” Marc menyuruh dengan penuh kewibawaan pada nada suaranya.

“Baik, Tuan. Itulah yang ingin kulakukan. Permisi.” Clarissa sedikit membungkuk saat melewati Marc. Namun, langkahnya terhenti saat Marc kembali memanggilnya.

“Clarissa!”

“I-iya, Tuan?” Clarissa membalikkan tubuhnya. Kali ini ia memberanikan diri menatap Marc.

“Boleh kutanya sesuatu?”

Clarissa menggigit bibirnya. “Apa, Tuan?”

Tatapan Marc menusuk mata Clarissa. “Seberapa dekat hubunganmu dengan Estelle?”

Clarissa menelan ludahnya dengan susah payah. Sudah ia duga, pasti Marc akan bertanya soal ini padanya.

“Maaf, boleh kutahu kenapa Tuan bertanya seperti itu?” Clarissa balas bertanya.

“Aku hanya ingin tahu,” jawab Marc singkat.

Clarissa tampak ragu saat menjawab pertanyaan Marc. “Kami… sangat dekat, Tuan Márquez.”

“Bisakah kau menjelaskan lebih spesifik lagi?” tanya Marc, mulai sedikit kehilangan kesabaran.

“Aku mengasuh Estelle sejak dia masih bayi. Namun, karena ada beberapa hal, aku berhenti bekerja ketika Estelle berusia 9 tahun dan kembali mengasuhnya setahun kemudian. Aku sudah menganggapnya seperti putri kandungku sendiri. Estelle sering menumpahkan keluh kesahnya padaku. Setiap dia merasa sedih, dia selalu datang padaku dan minta pelukan. Kurasa Anda bisa membayangkan seberapa dekatnya aku dengan Estelle, Tuan. Namun, Tuan Stoner tidak pernah senang jika Estelle terlalu dekat padaku. Maaf, maksudku Tuan Stoner tidak pernah senang jika Estelle dekat dengan semua pelayan di rumah ini karena status kami yang hanya pelayan rendahan,” Clarissa coba menjelaskan dengan singkat.

Marc menyipitkan matanya menatap Clarissa. Marc tidak perlu menyimpulkan cerita dari Clarissa. Dari cara Clarissa menyebut nama Estelle pun, Marc tahu hubungan mereka lebih dari sekadar dekat. Seorang pelayan rumah tangga takkan berani menyebut anak majikan mereka tanpa embel-embel ‘Nona’. Tapi Clarissa berbeda.

“Kau yakin hanya karena itu Casey tidak suka kau—maksudku kalian terlalu dekat dengan Estelle?”

“Ya, Tuan.” Clarissa mengangguk lagi.

“Aku ingin tahu kenapa kau berhenti saat Estelle berusia 9 tahun? Dan kenapa pula kau kembali bekerja di sini?”

Pertanyaan Marc menohok Clarissa. Pria itu terlampau ingin tahu. Clarissa memejamkan matanya sejenak, kemudian menjawab, “Maaf, Tuan. Untuk pertanyaan ini, aku sedikit keberatan untuk menjawabnya. Karena ini mengarah ke masalah pribadi.”

“Kau pernah hamil sebelumnya?”

DEG!

Pertanyaan tak terduga. Wajah Clarissa tiba-tiba memucat.

“A-aku t-tidak p-pernah ha-mil,” Clarissa menjawab dengan terbata-bata. Kegugupan memuncak dalam dirinya.

“Apa Estelle tahu hal itu?” Marc semakin mendesak Clarissa dengan pertanyaannya.

“Tidak.”

“Kau menipunya dengan mengatakan kau memiliki seorang putri dan selalu menolak setiap Estelle ingin bertemu dengan putrimu.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Marc tahu banyak tentang dirinya.

“Maaf, Tuan. Aku harus pergi,” Clarissa buru-buru pamit.

“Kau tidak perlu segugup itu, Clarissa,” Marc berkata dengan dingin.

“Maafkan aku, Tuan.” Clarissa menundukkan wajahnya.

 Sudah kuduga. Bajingan sialan! Enyahlah kau dari dunia ini! Kau pantas membusuk di neraka. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri jika dugaanku ternyata benar.

“Tidak perlu minta maaf, Clarissa. Kau tidak salah. Terima kasih telah memberitahuku.” Marc menyungging seulas senyum. Senyum yang membuat Clarissa bergidik ngeri.

“Sama-sama, Tuan. Dan, Tuan, karena apa yang ingin Anda ketahui telah terpenuhi, aku izin undur diri. Aku harus mengambil air kompresan dan sarapan untuk Estelle.”

Clarissa cepat-cepat membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Marc sebelum suara pria itu kembali menghentikannya. Lagi.

“Silakan. Tapi, tunggu. Satu lagi pertanyaan lagi.”

“Iya, Tuan?” Clarissa menghadap ke arah Marc.

“Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Estelle?” Mata Marc menusuknya, lebih tajam dari sebelumnya.

“Maksud, Tuan?” tanya Clarissa, kesulitan menelan ludahnya karena terintimidasi tatapan Marc.

“Penyebab dia amnesia. Aku yakin itu bukan karena kecelakaan. Kau berada di rumah ini saat Estelle hilang ingatan. Kau harus menjelaskannya padaku. Sejelas-jelasnya, Clarissa. Tanpa sedikit pun kebenaran yang kau tutupi.” Marc menekan suaranya.

“Aku tidak mengerti apa yang Tuan katakan,” dusta Clarissa ketakutan.

Marc menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendengus pelan. “Berhentilah bersikap seolah kau tidak tahu apa-apa, Clarissa. Aku tahu kau menyimpan rahasia besar yang tidak bisa kau ungkapkan karena pengaruh ancaman tuanmu. Kau tidak perlu takut. Dan… aku hanya memberimu dua pilihan, jelaskan padaku atau kau akan menyesal seumur hidupmu. Karena aku tahu siapa kau sebenarnya.”

Clarissa membeku di tempat.

To Be Continued…

Ceritanya sedikit maksa ya? Well, I think so. Tapi semoga gak mengecewakan ya.😀 Konfliknya emang parah. Berdoa aja semoga dewa ide masih berbaik hati padaku dan ngasih ide-ide cemerlangnya untukku. So, jangan tanya kapan kelanjutan ff ini. Soalnya ini tergantung ide yang kuperoleh. Nulis itu gak gampang lho *ciyuss deh kalo yang ini* Dan jangan protes dan bilang ini ff kurang panjang. Jari-jariku udah gempor lho😥 *nangis di pojokan* Cukup sekian cuap-cuappnya. Thank you for reading dan jadilah pemaca yang budiman. Mari kita saling menghargai, oke?😉

17 thoughts on “Fanfiction : The One That Got Away #10

  1. Penasaraaaannn… kenapa Alicia tinggal dirumah Casey?, siapa Clarissa sebenarnya? Dan, Casey… ow ow ow ternyata kau penyebab Adriana meninggal tega sekali kau bang. membuat istrimu yang cantik itu meninggal. oke ini berlebihan. Well, akuuuuu sukaa banget FFnya, konfliknya parah. daan lagi-lagi TBC nya bikin penasaraaannn. Lanjutkan Boliz. semoga dewa ide datang hingga FF ini bisa dilanjut cepat yeayy oke sekian komenankku. semangat Bolizz ngetiknyaaa…..😀

    Suka

  2. Dari sekian FF kamu yg pernah aku baca, aku lebih suka gaya penulisanmu di FF ini. Meski konfliknya berat, tapi bahasanya ringan dan mudah dimengerti. Diksinya keren deh. Kukira Clarissa cuma tokoh yg suka nyempil2(?) Doank, ternyata dia juga punya andil besar. Buat Casey, cepet tobat sebelum nyesel😀 ditunggu next-nya🙂

    Suka

  3. woaaahh…Casey ternyata ada main sama Clarissa, tampar aja tampar! *anarkis* btw aku ngerasa cerita ini terlalu panjang deh, masih bisa dipadatkan lagi, dan aku setia menunggu bagaimana penyelesaian konflik Casey-Estelle yang udah bener2 keterlaluan :p Keep writing😀

    Suka

  4. Wowwww kerennnnn ….

    Penuh misteri ternyata ….. suka banget dehhhhhh ….
    Marc ternyata banyak tahu juga yaa …ahhhhh harusss dilanjutkann .. penasaran berat nihhh

    Suka

  5. Btw kak kasi bocoran dikit dong?? Ntar.. Si marc nya bakal jadi ama si estelle ya?? Tapi kan mereka itu saudara tiri y?? Tapi ga urus deh, mereka itu pas2 aja kok, oiya kak, ayo dong kak saat2 marc sama estelle nya banyakin rada2 romance2 nya biar chemistry nya dapet, nah saat bacanya juga pastiiii aaa.. Ga kebayang deh kak.. *sama juga banyakin sesi ceritanya marc ama estelle dong kak(^v^*Yayaya kak? Tapi tetap semangatttt y kak.. Nulisnya..okeee deh kak,,, selaluuu ditunggu y kelanjutannya..

    Suka

  6. ehm ehm…
    part ini ada orang baru lagi.. hmm jadi clarissa itu siapa? selingkuhan casey dulu?? kayaknya dia deket banget sama estelle.. trus marc juga kayaknya nggak suka ya sama dia.
    casey makin hari makin keterlaluan..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s