ONESHOT : Remember When

Terdapat sedikit unsur dewasanya. Tapi kurasa masih amanlah. Ini hanya sebuah karya, jadi jangan terlalu dibawa serius. Happy reading😉 Kritik dan saran kutunggu😀 Cover-nya nyusul ya. Lagi gak megang laptop soalnya. Jadi ketik dan posting-nya via hp. Maafkan kalo ada salah-salah ya

Konsentrasi pria itu pecah ketika bunyi ponsel mengudara di ruang kerjanya. Ia meraih benda pipih yang terletak di atas meja kerja, kemudian memandang display ponsel yang menampilkan sebuah panggil masuk.

Senyum tipis mengembang di bibir pria itu. Ia meletakkan bolpoinnya, mendorong berkas yang ia baca ke samping, kemudian memutar kursi kerjanya menghadap ke luar jendela besar yang menampilkan jejeran gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang ramai dilalui puluhan kendaraan. Seberkas cahaya kuning oranye masuk ke jendela tersebut. Pria itu sedikit menyipitkan mata, namun tidak merasa terganggu sama sekali dengan kilauan yang menusuk matanya.

“Hai,” sapanya lembut setelah menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

“Kau tidak lupa kan janji kita malam ini? Pulanglah lebih awal. Aku akan sangat kecewa jika kau tidak pulang tepat waktu,” cecar seorang gadis di seberang sana.

Senyum di bibir pria itu semakin lebar saat mendengar nada jengkel dari gadis itu.

“Tentu saja aku akan pulang tepat waktu. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Pria itu mendengus geli.

“Baiklah. Kupegang kata-katamu. Awas kalau kau tidak menepati janjimu. Telat sedetik, jangan harap kau bisa masuk dan tidur seranjang denganku malam ini. Mengerti?”

Pria itu terkekeh pelan mendengar ancaman gadis itu. “Mengerti, Cintaku. Aku tidak akan membiarkanmu tidur sendirian malam ini. Karena aku bisa gila jika tidur tanpamu di sampingku.”

“Cih! Mulutmu! Berlebihan sekali kau ini. Dasar pria! Aku tidak akan termakan omonganmu,” gadis itu mencibir.

Lagi-lagi Marc terkekeh. Pria itu melirik sekilas arloji yang melingkar di tangan kanannya, kemudian membalas cibiran gadis itu. “Wah, kau kejam sekali berbicara seperti itu padaku. Sungguh, aku tidak bohong, Sayang. Aku hampir gila saat kau mengusirku keluar dan membuatku tidur di atas sofa. Aku sangat kedinginan, kau tahu? Aku tidak terbiasa tidur tanpamu di dekapanku.”

“Oh, benarkah? Wah, kasihan sekali kau. Mungkin lain kali, hm, tidak, malam ini saja, kalau sampai kau terlambat, bersiap-siaplah kau peluk lantai dingin. Telat sedetik, jangan harap kau bisa masuk ke rumah apalagi berbagi ranjang denganku. Kau dengar itu, Marc Márquez?! Aku tidak main-main dengan ucapanku. Dan kau jangan memprotes apalagi mengataiku gadis yang kejam. Karena pria seperti kau memang pantas diperlakukan seperti itu. Kau mengerti?”

“Iya, Sayang. Aku sangat mengerti,” Marc berujar dengan suara yang sengaja dimanis-maniskan.

“Err…, berhenti menggunakan nada suara seperti itu, Marc. Kau membuatku mual,” ucap gadis itu dengan nada muak.

Selagi mendengar gadis itu berbicara, Marc membereskan berkas-berkas yang berada di atas meja kerjanya. Bibirnya bergetar saat mendengar sungutan kecil gadis itu.

“Oh, iyakah? Sepertinya kali ini aku belum berhasil. Hm, mungkin lain kali aku harus lebih meningkatkan kadar kemanisan ucapanku agar kau terbuai. Bagaimana?”

“Oh, Tuhan, tolong aku. Kenapa aku bisa memiliki suami gila sepertimu sih? Sepertinya hidupku di masa lalu bergelimangan dosa, makanya aku bisa mendapat suami stres sepertimu,” keluh gadis itu.

“Kuanggap itu sebagai pujian, Sayang. Dan biarkan aku meralat ucapanmu. Seharusnya kau bersyukur mendapat suami sebaik, setampan, semanis, selembut, sepengertian sepertiku ini. Kau tidak akan mendapatkan anugerah yang sama saat kau hidup kembali di kehidupanmu selanjutnya. Tapi aku tidak keberatan sih jika kau kembali ditakdirkan hidup bersamaku di masa depan. Siapa tahu saja takdir kita seperti itu?”

“Kau bicara apa sih? Sudahlah. Pembicaraan ini tidak akan ada ujungnya jika tetap diteruskan. Cepatlah pulang. Aku menunggumu.”

Marc mendorong sedikit kursi yang ia duduki ke belakang, kemudian meraih tas hitam di sudut meja kerjanya yang berbentuk L. Pria itu lantas bangkit berdiri, dengan salah satu tangan masih memegang ponsel di telinga, ia berjalan keluar dari ruang kerjanya.

“Iya, Sayang. Bersabarlah. Kita akan segera bertemu. Aku mencintaimu.”

Alana, sang sekretaris yang telah bekerja untuk Marc hampir satu tahun sontak bangkit berdiri saat melihat presiden direkturnya keluar dari ruang kerja dan langsung melemparkan senyum gugup kepada pria tersebut. Detak jantungnya menggila. Gadis itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, sedikit menunduk, dan tanpa dikehendaki sang empunya, tampak rona merah menghiasi kedua pipinya.

Marc tidak bereaksi melihat tingkah sekretarisnya. Pria itu menurunkan ponselnya, mendekati meja Alana, dan berkata, “Aku ada janji dengan istriku dan akan pulang lebih awal. Tolong sampaikan ke divisi pemasaran untuk merevisi laporan yang mereka berikan padaku tadi siang. Kutunggu hasil revisi itu besok pagi tepat jam 10.”

“Ba-baik, Tuan,” jawab Alana sedikit terbata-bata.

Seusai berkata seperti itu, Marc berlalu dari hadapan gadis cantik yang masih tampak terpesona dengan ketampanan bos besarnya itu. Sungguh merupakan karya hidup terindah yang pernah diciptakan Tuhan. Begitu rupawan, pikir Alana dalam hati. Sayangnya, pria itu sudah beristri.

Beruntungnya wanita yang menjadi istri seorang Marc Márquez, batin Alana, menyesali kenapa pria setampan itu lebih memilih untuk terikat seumur hidup dengan seorang wanita dalam ikatan pernikahan. Pria setampan dan sekaya Marc seharusnya bisa menikmati masa-masa bujangnya lebih lama lagi. Sangat disayangkan pria itu sudah menikah.

***

Laura tampak sibuk mempersiapkan dekorasi untuk acara makan malam yang sengaja ia siapkan untuk Marc. Gadis itu berniat memberikan kejutan untuk suami tercintanya setelah sebelumnya mengancam pria itu untuk pulang tepat waktu.

Kesibukan pria itu kadang menyita sebagian besar waktunya untuk fokus pada perusahaan yang dipimpinnya dan mengorbankan waktu kebersamaan mereka. Tak jarang Marc sering lembur sampai malam dan pulang saat gadis itu sudah terlelap.

Laura sering memprotes karena pembagian waktu antara pekerjaan dan keluarga yang tidak seimbang. Namun, tak jarang juga Laura harus menelan kembali protesnya. Sekuat tenaga gadis itu coba mengalihkan perhatian Marc agar tidak terlalu keras bekerja. Bahkan pernah suatu malam ketika Marc lembur di kantor, Laura sengaja mengirim pesan singkat erotis untuk memprovokasi suaminya. Dan hasilnya efektif. Tak sampai sejam kemudian, pria itu muncul di depan pintu kamarnya dan mereka berakhir di atas ranjang.

Namun, karena tidak mungkin ia terus-terusan mengirim pesan singkat erotis, gadis itu mengubah strateginya, yakni dengan memotong jatah bercinta mereka sampai seminggu. Tentu Marc langsung kebakaran jenggot. Ia tidak sudi jatah malamnya dipotong.

Akhirnya, setelah beberapa kali berganti cara, kini Laura menggunakan ancaman sebagai senjata terakhir agar pria itu pulang ke rumah pada saat jam kantor berakhir. Prinsipnya, kantor adalah kantor dan rumah adalah rumah. Jangan pernah sesekali menggunakan jam berada di rumah untuk berada di dalam kantor. Sampai pria itu melanggar, Laura tidak segan-segan menendang keluar suaminya dari kamar. Membiarkan pria itu tidur di atas sofa keras sangat ampuh memberikan efek jera padanya.

Laura menatap kagum hasil karyanya setelah susah payah ia buat. Dua buah lilin, setangkai mawar merah, sebotol sampanye dengan dua buah gelas tinggi, dan dua buah tatakan piring dengan masing-masing piring di atasnya, juga pisau dan garpu di samping piring. Mejanya tertutup kain satin putih. Dua buah serbet berwarna merah marun yang dilipatnya menjadi sedemikian rupa menambah kesan elegan pada meja makan tersebut.

Laura melirik jam yang tergantung di dinding. 15 menit lagi. Bersabarlah, Laura…. Dia akan segera pulang. 

Sembari menunggu, Laura masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah amplop dari dalam lemari kecil. Ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan sebuah foto buram yang belum tampak jelas. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Membayangkan Marc saat melihat foto ini, ia tidak sabar menunggu bagaimana reaksi pria itu.

Kuharap setelah kau mengetahuinya, kau tidak akan sering-sering lembur sampai malam lagi, Marc. Ada satu orang lagi yang harus kau jaga. Dan dia sekarang berada di dalam rahimku.

Laura menyentuh perutnya yang masih rata dan mengelusnya dengan lembut.

Walaupun kau baru sebesar biji kecambah, tapi Mama bisa merasakan kehadiranmu di sini, Sayang. Mama tidak sabar ingin segera mendengar tangisanmu, memelukmu dan menyusuimu.

Laura kemudian mengalihkan perhatiannya ke jejeran pigura yang tersusun rapi di atas lemari. Tangannya menyentuh sebuah pigura dengan bingkai sederhana, mengangkatnya dan melihat foto yang terpasang di sana lebih dekat. Di foto yang berlatar belakang sebuah ruang keluarga sederhana, dengan sebuah pohon natal yang dihias oleh kerlap-kerlip lampu kecil serta beberapa gantungan khas pohon natal, dan yang membuat air mata Laura tak terbendung adalah sosok wanita tua yang tersenyum lebar ke arah kamera. Wanita tua itu diapit oleh seorang gadis dan pemuda di kedua sisinya. Saling berangkulan dan memperlihatkan senyum hangat. Tampak sangat bahagia.

Seandainya Nenek masih ada di dunia ini, tentu aku tidak akan merasa kesepian. Aku merindukanmu, Nenek. Aku sangat merindukanmu, Laura terisak pelan.

Laura memeluk bingkai foto tersebut, mendekapnya erat di dada.

Aku akan segera menjadi seorang ibu, Nenek. Aku akan segera memiliki malaikat kecil yang lucu. Aku berjanji akan menjaga dan menyayanginya. Aku tidak akan menyia-nyiakan anak ini seperti yang dilakukan orangtuaku kepadaku. Kau tenang saja. Aku tidak akan seperti mereka.

Ya, aku tidak akan seperti mereka yang membuangku begitu saja.

Laura kembali memandangi foto itu. Maria Sánchez, sosok wanita hangat yang dulu sangat ditakuti suaminya. Senyum tipis tercetak di bibir Laura ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Marc. Betapa canggung dan tertekannya pria itu saat tinggal di satu atap yang sama dengan dirinya. Sosok Maria Sánchez seperti mimpi buruk bagi Marc. Wanita tua dengan tongkat kayunya dan akan merubah mimik wajah menjadi garang setiap melihat Marc. Tak jarang, wanita itu sering memukul Marc dengan tongkatnya jika berada terlalu dekat dengan Laura.

Mereka hidup sederhana di sebuah rumah kecil yang penuh dengan kehangatan.

Laura ingat bagaimana kegigihan Marc saat bekerja di rumahnya. Pria itu selalu menyelesaikan kewajibannya. Dan tanpa sepengetahuan Laura, ternyata Marc adalah salah satu lulusan terbaik di universitas terkemuka di Madrid. Pria itu mengirim surat lamaran kerja ke setiap perusahaan yang membutuhkan jasanya. Walaupun mengalami kesulitan saat awal-awal, namun dengan kesabaran dan kerja keras, pria itu berhasil membangun kariernya. Pria itu bahkan menjadi seorang presiden direktur di sebuah perusahaan tekstil.

Catatan kriminal yang sempat mencoreng nama Marc juga terhapus. Laura ingat kala itu, seorang pria berusia akhir tiga puluhan datang mengetuk pintu rumahnya dan meminta untuk bertemu Marc. Saat Marc muncul di hadapannya, pria itu bersujud sembari menangis dan mengakui bahwa dirinyalah yang telah membunuh Alicia, pelacur yang menjadi penyebab Marc pernah dipenjara. Mimpi buruk selalu menghantui pria itu setiap malam hingga nyaris membuatnya gila.

Akhirnya, Marc bebas tanpa syarat. Orang-orang yang sempat menggunjingnya beralih mengaguminya karena dengan patuh menjalani masa-masa hukuman atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan.

Marc bukan orang jahat. Itulah yang pernah Laura katakan pada pria itu. Dan terbukti pria itu tidak bersalah.

***

Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada saat kau harus duduk diam di samping gadis cantik, dengan wajah penuh luka memar dan rambut berantakan. Baju yang dikenakan pria itu terlihat kusam dan kumal. Celana jeans yang melekat di pinggangnya tampak koyak di beberapa bagian bawahnya. Sungguh menyedihkan melihat penampilan dirinya sendiri seperti itu.

Musim gugur baru saja memasuki awal bulan ini. Untuk pertama kalinya setelah 4 tahun terkurung dalam kamar busuk dan pengap, akhirnya ia dapat menghirup udara musim gugur tahun ini. Rasanya seperti sudah berpuluh-puluh tahun lamanya ia tidak menikmati udara bebas. Banyak yang berubah dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Jalanan yang dulunya sepi kini mulai ramai dilalui orang-orang. Berdirinya pusat-pusat perbelanjaan di atas tanah yang dulunya banyak ditumbuhi pepohonan. Bahkan beberapa mobil mewah yang ia tidak tahu apa merk-nya terparkir rapi di salah satu badan jalan. Ini seperti bukan kota kelahirannya yang dulu.

Marc sadar saat ia melewati trotoar jalan, orang-orang memandang ke arahnya dan berbisik membicarakannya. Marc terus berjalan hingga mendadak ia berhenti saat telinganya menangkap sangat jelas bisikan-bisikan dua orang pria di belakangnya.

“Lihatlah! Si pembunuh itu sudah pulang.”

“Kudengar ia akan dihukum mati jika melakukan pelanggaran yang sama.”

“Kau yakin dia akan membunuh pelacur lagi?”

“Entahlah. Kita lihat saja nanti.”

“Kuharap dia tidak melakukannya lagi. Para pelacur di kota ini ketakutan setengah mati saat tahu teman seperjuangan mereka berakhir di tangan si pembunuh itu. Akibatnya, populasi pelancur di kota semakin berkurang dan aku kesulitan mendapatkan mereka. Dia sangat merepotkan, kau tahu? Membuat kekacauan yang berdampak pada para lelaki bujang di kota.”

“Sudahlah, Jorge. Lagi pula tak semua pelacur pergi dari kota ini. Masih ada yang tersisa. Dan… kudengar kau baru saja membeli wanita simpanan. Apakah itu benar? Atau hanya omong kosong orang-orang di kelab?”

Marc menggepalkan tangannya. Ingin sekali ia menutup mulut kedua pria sialan yang membicarakannya. Tapi ia sadar, sekali ia salah langkah, maka tamatlah riwayatnya. Ia bisa dihukum mati jika kembali membuat pelanggaran yang sama seperti pelanggaran yang tidak pernah ia lakukan di masa lalu.

Ya, pelanggaran yang tidak pernah ia lakukan.

Pada malam itu, orang-orang di kelab serentak menuduhnya membunuh seorang wanita jalang. Ia tidak pernah melakukannya, sungguh. Wanita jalang itu terbunuh akibat hantaman keras dari botol minuman. Marc mendengar pecahan kaca dan jerit kesakitan di kamar sebelahnya, kemudian segera meninggalkan wanita jalang yang ia bayar untuk ditidurinya dan menghampiri kamar tersebut. Namun, betapa terkejutnya Marc ketika melihat wanita itu tergeletak dengan darah bercucuran deras di kepalanya.

Pada saat kejadian, ia mencoba menolong wanita malang itu. Tapi keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Orang-orang berdatangan ke kamar itu dan menuduhnya melakukan pembunuhan sadis terhadap wanita tersebut. Tak sampai sejam kemudian, ia dibawa polisi dan diperiksa. Hasilnya, ia resmi menjadi tahanan dan menghabiskan waktu 4 tahunnya di dalam sel.

Hal terberat yang harus ia hadapi kini adalah pengucilan yang dilakukan masyarakat terhadap dirinya. Dicurigai, dikatai, dan tidak dipercayai. Rumah yang 4 tahun lalu ia tinggali kini beralih fungsi menjadi gudang pemerintah. Ia geram dan marah, tapi tidak berdaya. Kenyataan bahwa ia sekarang tidak memiliki apa-apa, hidup menggelandang, rasanya lebih baik ia kembali ke dalam sel tahanan dan menghabiskan sisa hidupnya di sana.

Namun, Tuhan masih berbaik hati padanya. Di saat ia babak belur dipukuli oleh preman kota lima jam setelah kebebasannya, seorang gadis datang menyelamatkannya.

“Hentikan! Kalau tidak aku akan melapor ke polisi. Pergi kalian!”

Marc terkapar di jalan dengan luka memar di sekujur tubuh dan wajahnya. Gadis itu membantunya berdiri, memapahnya dan membawanya ke sebuah rumah kecil yang tak jauh dari tempat Marc dipukuli.

“Oh, astaga, Laura! Apa yang kau lakukan? Dan dia siapa?” seru seorang wanita tua yang tampak syok melihat cucunya membawa seorang gembel pulang ke rumah. Tatapan wanita tua itu tampak curiga.

“Aduh, Nenek. Nanti saja kalau kau mau marah-marah. Dia butuh pertolongan. Preman kota memukulinya hingga babak belur seperti ini.” Laura tidak memedulikan neneknya dan membawa Marc ke dapur. Marc meringis pelan saat Laura mendudukkannya di atas kursi.

“Melihat tampangnya, kurasa dia bukan pria baik-baik. Kau siapa?!” bentak wanita tua itu, mengarahkan tongkat kayunya ke arah Marc dan melemparkan tatapan menyelidik.

Laura menghela napas melihat sikap neneknya.

“Sudahlah, Nenek. Jangan seperti itu padanya. Kau tidak lihat wajahnya penuh luka memar. Biarkan aku mengobatinya dulu. Nenek istirahat saja ya?” Laura mendorong lembut bahu neneknya ke ruang depan.

“Tunggu-tunggu! Sepertinya aku mengenal kau. Kau pembunuh itu, kan? Kau yang membunuh Alicia itu? Oh, astaga! Ada narapidana di rumahku. Laura, Laura, usir dia. Usir dia! Dia berbahaya!” Wanita tua itu mendadak histeris.

“Nenek… Nenek….” Laura menahan tubuh wanita gempal itu. “Jangan seperti itu. Dia sedang terkena musibah.”

“Orang seperti dia tidak pantas ditolong, Laura!” Wanita tua itu tetap bersikeras.

“Tapi kau juga tidak berhak menghakiminya, Nenek!” Laura membalas. “Bukankah kau yang selalu mengajarkanku untuk berbuat kebaikan? Aku menolongnya. Dia membutuh pertolonganku, Nenek.”

Raut wanita tua itu tampak tidak senang. “Terserah kau saja. Dan kau,” sang nenek kembali mengarahkan tongkat kayunya ke arah Marc, “berani kau menyentuh cucuku, hidupmu akan berakhir di tanganku. Kau camkan kata-kataku, Anak Muda!”

Laura memandang Marc dengan tatapan minta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Gadis itu membawa neneknya ke ruang depan.

Laura muncul semenit kemudian dan tersenyum sungkan pada pria itu. “Abaikan ya. Nenekku memang begitu. Sebenarnya dia baik kok.”

“Tidak apa-apa. Maaf merepotkanmu.”

“Tidak,” sela Laura. “Sudah kewajibanku untuk menolong setiap orang yang berada di dalam kesulitan. Oh ya, namamu siapa?”

“Marc.”

“Marc?” Laura mengenyitkan keningnya.

“Marc Márquez Alenta.”

“Oh.” Gadis itu kembali tersenyum. “Aku Laura Amberita Sánchez. Kau bisa memanggilku Laura. Tunggu sebentar, aku akan mencarikan obat untukmu.”

Gadis itu menghilang lagi.

Sembari menunggu, Marc menatap ke sekelilingnya. Dapur kecil dengan perabotan sederhana, sebuah tungku perapian di sudut dinding dan sebuah meja makan dengan tiga buah kursi kayu yang salah satu kursinya sedang ia duduki.

Laura muncul tak lama kemudian. Kali ini gadis itu membawa sekotak obat-obatan. Laura menarik kursi di sebelah Marc dan duduk di samping pria itu. Tangannya dengan cekatan mengambil alkohol pembersih luka dan mengoleskannya dengan kapas ke luka Marc.

Marc meringis pelan saat cairan berbau tajam itu menyapu wajahnya.

“Tahan ya. Ini memang sedikit perih.”

Tak butuh waktu lama bagi Laura untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia tersenyum puas melihat seluruh luka di wajah dan tubuh Marc telah terobati dengan sempurna.

“Kau akan segera sembuh,” ujar Laura dengan tulus.

“Terima kasih. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu hari ini,” ucap Marc canggung.

Laura menghela napas dan membalas, “Berterima kasihlah pada Tuhan. Dia yang mempertemukan kita hari ini.”

Marc tersenyum pelan. Rasanya menyenangkan mendapat lawan bicara yang menarik. Gadis itu penuh kelembutan.

Keakraban Marc dan Laura terjalin dengan cepat. Walaupun pria itu masih tampak canggung.

Mereka berbicara sepanjang hari. Tanpa ada yang ditutupi dan disembunyikan, seolah mereka adalah kawan lama yang kembali dipertemukan. Marc merasa nyaman berbicara dengan gadis itu. Ia bisa leluasa menceritakan kehidupan kelamnya pada Laura. Bagaimana ia bisa berada di dalam kelab pada malam itu, membayar pelacur untuk ditidurinya dan terjadi pembunuhan di kamar sebelah. Ia tidak merasa malu sama sekali. Gadis itu tidak menghakiminya. Ia ingin Laura percaya padanya bahwa bukan ia pelakunya. Ia tidak pernah membunuh apalagi memukul wanita.

Pembicaraan kemudian dialihkan ke kehidupan Laura. Giliran Marc yang bertanya dan Laura yang menjawab. “Kalian hanya tinggal berdua di sini?”

Laura mengangguk pelan.

“Di mana orangtuamu?” tanya Marc heran.

“Aku tidak memiliki orangtua.” Laura mengusap-usap kedua lengannya. Sedikit merasa tidak nyaman. Tapi ia ingin terus bercerita dan membiarkan pria di sampingnya itu tahu kisah hidupnya.

“Maaf,” gumam Marc.

“Tidak perlu minta maaf.”

“Jadi kapan tepatnya mereka meninggal?” Marc menatap dalam ke manik mata Laura. Terpancar kesedihan yang mendalam saat gadis itu menjawab setiap pertanyaannya.

“Aku tidak memiliki orangtua, Mr. Márquez. Mereka tidak meninggal.” Laura tersenyum getir.

“Maksudmu?”

Wajah mendung menghiasi wajah Laura. “Mereka membuangku.” Laura menundukkan kepalanya lebih dalam. “Mereka tidak menginginkanku. Tepat saat malam natal Nenek menemukanku di sebuah keranjang telur paskah di depan pintu rumah ini. Suara tangis bayi mengusik beliau. Kau tahu kan cuaca akhir tahun bagaimana? Sangat dingin. Aku hampir mati kedinginan. Selimutku basahku dan hampir beku karena salju. Nenek cepat-cepat membawaku masuk dan menghangatkanku. Dia penyelamatku, kau tahu? Dialah satu-satunya keluarga yang kumiliki.” Laura mendongak. Matanya bertatapan dengan mata Marc yang memandangnya penasaran. Mata cokelat itu tampak meleleh dan Laura bisa merasakan kehangatan di sepasang bola mata itu. Garis rahang Marc tampak keras dan kuat. Namun, ada sisi dingin dari pria itu yang dapat Laura rasakan. Pria itu perpaduan hangat dan dingin. Sangat jelas pria itu sedang tersesat mencari tujuan hidupnya.

“Apa kau tidak tahu di mana keluargamu berada?” Marc kembali bertanya.

Laura menggelengkan kepalanya. “Tidak dan aku tidak berniat untuk mencari tahu. Mereka tidak menginginkanku. Jadi untuk apa aku mencari mereka. Toh aku punya nenek kok. Dia menyayangiku. Itu sudah cukup.” Dan senyum ceria itu kembali menghiasi bibir Laura.

“Aku turut sedih mendengarnya.” Marc memandang penuh simpati.

“Jangan bilang sedih, bodoh!” sungut Laura jengkel. “Aku justru senang karena tidak diinginkan. Aku sangat bahagia sekali hidup dengan nenek. Aku tidak butuh yang lain.” Mata polos itu menatap jail.

“Aku turut bahagia mendengarnya.” Marc tersenyum geli mendengar ucapan Laura.

“Terima kasih.” Laura mengangkat kedua alisnya, kemudian balas bertanya, “Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Aku tidak tahu,” gumam Marc pelan.

“Hm, begini. Bagaimana jika kau bekerja untukku? Well, kau tahu, nenekku sudah tua dan aku harus bekerja dari pagi hingga sore dan tak ada yang mengawasi nenekkku. Maksudku, kau bisa tinggal di sini dan mungkin juga melakukan beberapa pekerjaan di rumahku ini. Aku akan membayarmu. Walaupun tidak banyak. Tapi, akan kupastikan kau mendapatkan apa yang kau perlukan. Tempat tinggal, makanan, dan apa saja. Itu sih jika kau mau. Aku hanya menawarkan saja. Bagaimana?” Laura menunggu jawaban Marc.

Bukannya menjawab, tapi Marc balas bertanya. Jenis pertanyaan yang memang pantas ditanyakan. “Kau tidak takut padaku?”

“Mengapa harus takut?” Laura mengangkat kedua bahu mungilnya.

“Aku mantan narapidana.”

“Lalu?” Laura mengangkat kedua alisnya. “Aku percaya orang yang ingin menjadi pribadi yang baik pasti memiliki masa lalu yang kelam. Tidak ada orang jahat. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Dan kau melakukan kesalahan. Kesalahanmu adalah muncul di saat yang tidak tepat, makanya kau dipenjara. Aku cukup yakin kau orang baik.”

“Kau tahu dari mana?” Marc menatap intens wajah Laura.

“Begini, kau bilang kau dituduh melakukan penyerangan dan pembunuhan terhadap seorang wanita, bukan? Faktanya kau tidak seperti yang mereka kira. Kau tidak membunuh. Bahkan kau berniat menolong wanita itu.”

“Aku bukan orang baik.”

“Tapi, bukan orang jahat. Kau bisa belajar menjadi orang baik. Aku juga bukan orang baik. Tapi aku belajar untuk menjadi orang baik.”

“Kau terlalu baik.” Marc menghela napas lega.

“Itu karena aku belajar,” Laura terkekeh pelan. “Jadi bagaimana? Apa kau tertarik dengan penawaranku?”

“Aku bersedia,” ucap Marc dengan mantap.

“Bagus. Kalau begitu selamat datang di keluargaku. Kau bisa menjadi teman yang baik untuk nenekku.”

***

Jarum jam terus berputar pada setiap detiknya. Dan pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya. 30 menit sudah berlalu dan tidak ada tanda-tanda Marc akan pulang.

Laura berkali-kali menghubungi pria itu. Tapi ponsel Marc tidak dapat dihubungi.

Sebegitu tidak pentingnyakah aku hingga kau untuk ke sekian kalinya mengingkari janjimu? Kau di mana, Marc? Kumohon, jangan merusak kebahagiaan kita. Kau di mana sekarang?

Gadis itu berjalan mondar-mandir dan tiap 30 detik sekali menempelkan ponsel ke telinganya. Lagi-lagi tidak dapat dihubungi.

Laura telah mengganti pakaian santainya dengan gaun peach selutut dengan aksen brokat bagian dadanya. Ia tidak mau persiapannya sia-sia.

Pikiran gadis itu mulai melantur ke mana-mana. Apa Marc sengaja mematikan ponselnya? Atau sesuatu telah terjadi pada pria itu? Kecelakaan, mungkin? Atau mungkin saja Marc pergi ke kelab malam dan sekarang sedang bersenang-senang dengan wanita lain?

Tidak! Tidak! Laura menggeleng keras kepalanya. Marc tidak mungkin mengkhianatinya. Pria itu mencintainya dan tidak mungkin mencari wanita lain. Tapi, hati pria siapa yang tahu. Bisa saja dia sekarang sedang….

Oh, Tuhanku…. Laura semakin cemas memikirkan segala kemungkinan kenapa Marc terlambat. Air mata mulai membasahi pipi tembam milik gadis itu. Takut akan merusak riasan wajahnya, Laura segera menghapusnya. Namun, yang terjadi adalah semakin ia menghapus air matanya semakin pula air matanya mengucur deras.

Jangan seperti ini, kumohon…. Laura, hentikan tangisanmu! Kau akan merusak kejutan yang kau persiapkan untuk suamimu.

Laura frustrasi karena tidak mampu mengendalikan dirinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya hari ini. Ia tidak pernah merasa secemas dan secengeng ini sebelumnya. Ia tidak mampu berkompromi dengan dirinya sendiri. Air matanya tidak mau berhenti.

Tampak kacau dengan keadaannya, Laura berlari masuk ke kamarnya dan melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia tidak peduli lagi dengan riasan wajah dan tatanan rambutnya, serta gaun cantik yang melekat indah di tubuhnya. Semuanya tidak berarti lagi sekarang. Pria itu tidak pulang. Percuma ia menghabiskan waktunya seharian. Mendekor ruangan untuk acara makan malam mereka dan berdandan berjam-jam agar terlihat sempurna di mata Marc.

Pria itu tidak akan pulang malam ini. Dan ia tidak tahu suaminya ke mana.

Laura terisak hebat. Perasaannya benar-benar kacau. Rambut dan riasan wajahnya mulai berantakan. Ia tidak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanyalah menangis, menumpahkan segala kekecewaannya.

Namun, tak selang beberapa lama kemudian, Laura mendengar kenop pintu diputar. Entah ia hanya berhalusinasi atau memang benar-benar terjadi, Laura seperti mendengar seruan dari pria itu. Sangat jelas dan nyata.

Tapi Laura tidak berani membalikkan tubuhnya. Ia tidak mau berharap terlalu banyak dan berpikiran bahwa pria itu berada di ruangan yang sama dengannya. Karena ia tahu, saat ia berbalik dan tidak menemukan siapa pun, ia hanya menyakiti dirinya sendiri. Ia akan merasa sakit sendirian.

Tapi, suara pria itu benar-benar nyata.

“Laura, Sayang!”

Dan Laura merasakan rangkulan lembut di pundaknya. Marc sudah pulang. Suaminya sudah pulang ke rumah.

Laura langsung membalikkan tubuhnya dan menarik tubuh kekar itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Marc dan menangis sesenggukan.

“Kau dari mana saja? Kenapa baru pulang sekarang? Kenapa, Marc?” Laura terisak-isak.

“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu menunggu. Aku terjebak macet karena ada kecelakaan beruntun di jalan tol. Aku sungguh minta maaf,” Marc berucap penuh penyelasan di telinga Laura. Ia mengecup pelipis gadis itu. Salah satu tangannya membelai lembut punggung Laura.

“Setidaknya kan kau bisa mengangkat telepon dariku. Kau bisa mengabariku keadaanmu. Kau membuatku ketakutan, Marc. Aku kira kau lebih mementingkan pekerjaanmu daripada aku, istrimu sendiri. Bahkan aku sempat berpikiran kau pergi ke kelab malam dan bersenang-senang dengan wanita lain. Dan yang lebih parah, aku kira sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku sangat takut kehilanganmu.”

Hati Marc seperti tertohok mendengar Laura berasumsi seperti itu. Perasaan bersalah mengerubungi dirinya.

“Kau tidak akan kehilanganku. Tidak akan pernah, Laura. Aku berani jamin itu.” Marc mengeratkan pelukannya di tubuh Laura. Ia mengecup lama pipi gadis itu. “Aku minta maaf tidak mengangkat teleponmu. Ponselku kehabisan baterai.”

Laura membuat jarak beberapa senti di antara mereka. Gadis itu menatap Marc, kemudian tanpa disangka-sangka, Laura menarik
tengkuk Marc dan melumat pelan bibir tebal milik pria itu. Laura mengintenskan cumbuan mereka. Tangannya naik meremas rambut Marc. Desahan kecil keluar dari bibir mungil gadis itu.

Marc membalas cumbuan istrinya. Tangannya bergelirya di sekujur tubuh Laura, menyentuh titik-titik sensitif yang menjadi kelemahan gadis itu.

Desahan Laura semakin hebat. Gadis itu menarik jas kerja Marc dan melemparnya ke lantai. Tangannya dengan cekatan melepas satu per satu kancing kemeja Marc. Namun, saat Marc hendak melakukan hal yang sama pada gaunnya, Laura refleks menahan dada Marc.

“Jangan, Marc,” Laura mendesah kecil. Gadis itu coba mengatur napasnya akibat ciuman bergairah mereka.

Marc terkejut mendengar penolakan Laura. Tidak seperti biasanya. Lagi pula, gadis itu yang menyerangnya duluan dan sekarang gadis itu pula yang mengakhirinya.

“Kenapa, Sayang? Hm? Kenapa?” Marc bertanya dengan nada sangat lembut.

“Tidak apa-apa.” Laura menggelengkan pelan. “Tiba-tiba saja aku merasa pusing. Aku butuh istirahat.”

Marc memandang heran saat Laura menjauhkan tubuhnya, bangkit berdiri dan menuju ke kamar ganti. Tak lama kemudian, gadis itu keluar dan telah berganti pakaian untuk tidur, berjalan ke meja rias dan mulai membersihkan riasan wajahnya.

Langsung tidur tanpa menyantap makan malam? Bukankah gadis itu telah menyiapkan acara makan malam mereka? Lagi pula, sekarang juga masih terlalu dini untuk tidur.

Marc beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Laura yang sedang menyisir rambut. Pria itu menunduk dengan dada telanjang dan mengecup pipi Laura dari samping. Bau pembersih wajah tercium ke hidungnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Marc seraya menatap pantulan cermin di hadapannya.

“Hanya sedikit lelah.” Laura menunduk.

“Kau belum makan, Laura,” Marc mengingatkan gadis itu. Ia meremas lembut kedua pundak Laura, memijat-mijat pelan.

“Aku tidak selera.”

Laura bangkit dari tempat duduk, hendak berjalan ke arah tempat tidur sebelum tiba-tiba saja Marc menarik salah satu tangannya.

“Ada apa, Laura? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini? Kau masih marah padaku karena pulang terlambat?” Marc menuntut jawaban Laura.

“Tidak, Marc. Aku hanya kelelahan saja. Biarkan aku beristirahat. Kau juga, mandilah. Maaf aku tidak bisa menemanimu makan malam.”

Laura membalikkan tubuhnya, meninggalkan Marc yang masih tertegun di tempat, dan membaringkan dirinya ke atas tempat tidur. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum kelopak itu benar-benar tertutup. Napas gadis itu tampak teratur.

Marc bingung. Ia tidak mengerti kenapa sikap Laura tiba-tiba berubah.Marc berjalan mendekati tempat tidur dan mengambil tempat di samping Laura. Marc tergoda untuk menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Laura. Wajah gadis itu tampak damai saat tertidur.

Bahkan saat tertidur pun kau tetap cantik, Marc membatin. Perasaannya hangat melihat wajah polos istrinya.

Tubuh Laura bergerak, mengubah posisinya menyamping ke arah Marc. Selimutnya sedikit tertarik ke bawah.

Marc coba memperbaiki letak selimut Laura ketika tiba-tiba saja pergelangan tangannya dicekal. Marc tersentak pelan. Dilihatnya Laura masih tertidur pulas. Namun, tangan itu menuntunnya dan meletakkan tangan Marc di atas perut Laura. Masih dengan mata terpejam, Laura menggumam, “Aku hamil.”

Marc membelalakkan matanya syok. “Kau bilang apa?!” serunya, terkejut.

Laura terkekeh pelan. Ia membuka kedua kelopak matanya dan memandang Marc geli.

“Aku hamil.”

Tubuh Marc membeku. Wajahnya tampak kaku.

Tak kunjung mendapat respons seperti yang ia harapkan, Laura mulai was-was. Jangan-jangan Marc tidak senang mendengar berita kehamilannya.

Laura mulai berpikiran buruk. Dalam hati ia menghitung setiap detik yang berlalu. Hingga tiba-tiba saja….

“Aku akan menjadi seorang ayah?” Marc bertanya seperti orang linglung. “Benarkah aku akan menjadi seorang ayah?”

“I-iya,” Laura menjawab dengan tidak yakin. Ia tidak bisa menebak pikiran pria itu.

Namun, segala pikiran buruknya langsung sirna saat senyum lebar mengembang di bibir pria itu. Marc menarik tubuh Laura dan mendekapnya erat.

“Benarkah aku akan menjadi seorang ayah? Laura?” Marc masih tampak belum percaya dengan berita bahagia yang disampaikan Laura.

Laura mengangguk cepat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Oh, astaga. Kau sedang mengandung anakku? Kau sedang mengandung buah cinta kita? Oh, Tuhan. Laura, aku akan segera menjadi seorang ayah.” Tanpa sadar Marc menintikkan air mata. Rasa haru yang tak terbendung saat mengetahui ia akan segera memiliki bayi. Ia akan menjadi seorang ayah. Akan ada bocah kecil yang memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’. Oh, betapa bahagianya.

“Inilah alasan kenapa aku menolak bercinta denganmu. Usia kandunganku belum stabil, Marc. Aku tidak ingin mengambil risiko yang dapat membahayakannya,” Laura berucap sembari memandang Marc.

“Begitu juga aku. Aku tidak akan menuntutmu untuk berhubungan intim denganku. Aku juga tidak ingin malaikat kecil kita kenapa-kenapa.”

Laura tersenyum bahagia. Perasaannya menghangat saat Marc menyebutkan kata ‘malaikat kecil kita’.

Ia meraih wajah Marc dan mengusap air mata di wajah suaminya itu.”Marc, maukah kau berjanji satu hal padaku?”

“Kau ingin apa, Sayang? Apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkan semua permintaanmu,” jawab Marc, seraya menyentuh tangan Laura yang berada di wajahnya.

“Setelah ini, kumohon, jika kau ingin lembur, lemburlah seperlunya. Aku tidak mau sendirian di rumah. Aku ingin kau selalu berada di sampingku setiap malam. Kau mau kan mengabulkan permintaanku ini?” Pemilik sepasang bola mata cokelat itu terlihat sangat berharap suaminya mau memenuhi permintaannya.

“Tentu, Sayang. Tanpa kau minta pun, aku akan mengurangi jam kerjaku. Aku akan segera pulang saat jam kantor berakhir. Kau tidak akan kesepian di rumah,” gumam Marc, memandang lurus ke mata teduh milik Laura.

“Terima kasih,” Laura terisak kecil.

“Tidak perlu berterima kasih, Laura.” Gantian Marc yang menghapus air mata Laura. “Sudah menjadi kewajibanku untuk selalu ada bersamamu. Justru akulah yang harus berterima kasih karena kau sudah mengandung anakku.”

“Itu karena kau memercayakan benihmu di rahimku, Marc. Aku akan menjaganya baik-baik.”

“Kita, Laura. Bukan kau. Kita akan menjaganya baik-baik,” Marc meralat ucapan Laura.

Laura terenyuh mendengar perkataan Marc. “Aku mencintaimu,” bisiknya.

Marc mengecup kening Laura. “Aku juga, Laura. Bahkan terlampau sangat-sangat mencintaimu. Lebih dari yang kau tahu.”

“Marc,” panggil Laura.

“Iya, Sayang?” Marc merespons dengan penuh sayang.

“Aku lapar.”

Marc terkekeh geli. “Dasar.” Marc mengacak-acak rambut Laura dengan gemas. “Ayo kita makan.”

End

11 thoughts on “ONESHOT : Remember When

  1. ciyeeee mau jadi ayah. awas kalo matanya masih jelalatan *lirik jahat ke Marc* :p sederhana, ringan, tapi asik buat dibaca hihihihi maaci ritaaa

    Suka

    • Hai, Kakak😀 Akhirnya nih cerita nongol juga. Thanks for reading ya😉 Gak jelalatan lagi kok. Kan udah tobat *teringat satu kutipan di novel2 HR, suami yang baik adalah bajingan/playboy yang bertobat* hihihi…..

      Suka

    • Ide dasarnya terinspirasi dari novel LaVyrle Spencer yang Morning Glory. Bagian si cowok yang mantan narapidana. Untuk keseluruhan, idenya dapet sendiri. Sebenernya ini ff (adegan pas di dapur itu, yang Marc ditodong tongkat sama Maria) udah ketik setengah tahun yang lalu. Dieraminnya udah lama banget.
      Btw, thanks for reading ya dan masukan2 di inbox.

      Suka

  2. Aku paling suka bagian waktu Marc telponan sama Laura, bayanginnya keren kali yeee…, cie…, mau jadi bapak, ntar aku nya dipanggil tante, -_- aku bacanya loncat *kek tupai* lagi G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ mood baca yg dikit dewasa. Usia udah cukup sih, tp imajinasi lg liar, takut keblabasan😀 ditunggu cerita2 Marc-Laura selanjutnya, ya😉

    Suka

  3. bingung mau komen apa. intinya sih (jujur yaa) ceritanya agak mudah ditebak krn kamu udh sering nulis cerita marc-laura yg awalnya berantem tp ujung2nya baikan, trus ML -_- saran nih: cast cewek sesekali diganti atau gimanaa kek.

    Suka

    • Emang mudah banget ditebak. Aku gak terlalu suka bikin cerita yang berbelit-belit. Soalnya hidup di dunia nyata udah berbelit-belit banget. Jadi kutuangkan ide dalam bentuk tulisan biar bisa menghibur. Ceweknya diganti ya? Hm, nanti kupikirkan lagi.
      Btw, thnaks for reading😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s