My Secret, His Son #13

My Secret1 copy

Setelah sebelumnya aku berduet dengan mamak tercintaku, Mak Nata, nah, kali ini aku berduet dengan Kak Riza. Makasih banget atas bantuannya, Kak. Hihihi… Diriku selalu merepotkan dikau :p Nah, buat yang penasaran sama tulisan Kak Riza (dia juga penulis ff lho), kalian bisa acak-acak blog dia. Silakan klik di sini. Well, part ini lumayan panjang. Semoga gak bosen ya. Akhir kata, kuucapkan selamat membaca dan maafkan kegejean kami ya. Kritik dan saran ditunggu. Ingatlah untuk selalu menjadi pembaca yang budiman.😀

Tubuh langsing dan tinggi semampai bak supermodel itu menginjakkan kakinya di gedung bertingkat yang berdiri kokoh di hadapannya. Sejenak, gadis itu membetulkan letak kacamata hitamnya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan tanpa ragu melangkah masuk ke gedung tersebut.

Semua mata tertuju padanya. Para karyawan di perusahaan itu menghentikan aktivitas mereka dan terpaku pada gadis tersebut. Keramaian yang pada awalnya sempat tercipta sontak disusupi oleh keheningan. Yang terdengar hanya mesin fotokopi yang sedang mencetak kertas dan suara operator yang  mengumumkan jadwal rapat mingguan di divisi pemasaran.

Adel tidak memedulikan tatapan mereka. Ia terus berjalan menuju lift, menekan tombol di sampingnya dan tak sampai tiga detik, dentingan halus terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu besi tersebut. Adel melangkah masuk, menekan tombol yang berada di deretan paling atas. Sembari menunggu laju lift yang akan membawanya ke lantai teratas, Adel melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Tepat pukul 2.30. Seharusnya pria itu ada di ruang kerjanya.

Dentingan halus kembali terdengar. Adel melangkah keluar dan kejadian seperti tadi kembali terulang. Bedanya, karyawan yang berada di lantai teratas tidak sebanyak yang di bawah dan mayoritas adalah karyawan permanen serta para petinggi yang telah bekerja lama. Tatapan yang mereka berikan juga tidak seintens para karyawan di bawah.

Adel membelokkan kakinya ke kiri, berjalan terus dengan ritme teratur. Beberapa orang yang mengenalnya menyapanya. Adel membalasnya dengan tersenyum ramah.

Tempat yang hendak ia tuju hampir sampai. Ruang kerja milik presiden direktur perusahaan. Dari luar, ruangan tersebut tampak besar dan luas. Didesain dengan konsep kontemporer, seluruh dindingnya terbuat dari kaca yang menjulang tinggi dan dibingkai gorden abu-abu―warna yang masih membuat Adel jengkel kepada Marc―di setiap sudut ruangan. Gadis itu sempat memprotes, memangnya tidak ada warna lain yang lebih cerah, apa? Begitu katanya saat Marc menyuruh bawahannya memasang gorden tersebut. Adel benci melihat warna gorden itu setiap kali ia datang kemari karena kesan suram dan dingin yang dihasilkan membuatnya tidak nyaman. Tapi lain cerita untuk Marc. Sepertinya pria itu sangat nyaman dengan warna tersebut. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria itu.

Seorang gadis yang dikenali Adel sebagai sekretaris Marc lantas berdiri saat melihat Adel berjalan mendekati mejanya. Alicia tersenyum sopan kepada calon istri atasannya itu.

“Selamat siang, Miss Stoner. Senang sekali bertemu dengan Anda. Ada yang bisa saya bantu?” Alicia menyapa dengan ramah.

“Ya. Aku ingin bertemu dengan Marc. Dia ada, ‘kan?” Adel melepas kacamatanya, melipat kedua tangkainya, kemudian menjepitkan salah satu tangkai di belahan dada blus putih gading yang ia kenakan.

Senyum tetap tidak terlepas dari wajahnya. Alicia kemudian menjawab, “Maaf, Miss. Sepertinya Anda kurang beruntung hari ini. Mr. Márquez sedang tidak berada di ruangannya.”

Adel mengernyitkan keningnya. Ekspresi bingung tampak di wajah cantiknya. Gadis itu kembali bertanya, “Tidak berada di ruangannya? Memangnya dia pergi ke mana?”

“Beliau sedang ada rapat dengan pihak sekolah, Miss. Begitulah yang beliau katakan sebelum pergi tadi.”

Raut wajah Adel berubah. Lipatan di dahinya semakin dalam.

“Dia tidak bilang seperti itu padaku tadi pagi,” gumam Adel pada dirinya sendiri dan tidak sadar ucapannya didengar Alicia.

Alicia coba menetralisir keadaan. “Maaf, Miss. Akhir-akhir ini Mr. Márquez memang sering mengadakan rapat dengan pihak sekolah. Mungkin ada proyek baru yang ingin dibang….”

Adel tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan Alicia. Ia terlanjur… kecewa. Ya, itulah yang ia rasakan sekarang.

Sebegitu mudahnyakah pria itu melupakan janji yang telah ia buat?

“Marc, nanti siang aku mau fitting baju pengatin. Kau mau kan menemaniku? Dan nanti kau sekalian juga fitting-nya, ” Adel berkata dengan manja seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Marc.

Marc seperti biasa merespons ucapan gadis itu dengan sebuah kecupan manis di bibirnya. “Jam berapa?”

“3. Bisa, ‘kan?” Adel menatap dengan tatapan memohon. Ia sangat berharap Marc bersedia menemaninya.

“Jam 3, ya?” Marc tampak berpikir sejenak.

“Jangan bilang kau punya janji?” Adel memperlihatkan ekspresi cemberut.

Marc terkekeh pelan dan kembali mengecup bibir mungil Adel. “Datanglah ke kantorku setengah jam sebelumnya. Aku akan menemanimu.”

“Benarkah?” Adel sontak membulatkan matanya. Tampak binar di kedua bola mata itu. “Awas kalau kau bohong. Kau akan menerima akibatnya,” lanjutnya setengah mengancam. Suaranya dibuat seserius mungkin.

“Oh ya? Memangnya apa yang akan kau lakukan jika ternyata aku tidak berada di kantor?” Marc bertanya balik, tidak merasa terintimidasi oleh ancaman Adel. Pria itu malah tertawa geli.

“Aku akan pergi mencari pria lain yang bisa menepati janjinya. Tidak sekadar mengumbar janji kosong. Mungkin aku juga akan menikahinya. Dia akan menjadi sosok suami yang sempurna untukku,” ucap gadis itu dengan nada merajuk.

Marc menggeleng-gelengkan kepalanya dan lagi-lagi tawa geli keluar dari mulutnya mendengar jawaban kekanakan Adel. Begitulah Adel jika sudah menuntut janji yang dibuat orang lain kepadanya. Tapi, menikahi pria lain? Mungkinkah itu? Marc tidak berani berharap hal itu akan terjadi. Ia terikat. Benang merahnya ada pada Adel. Dan gadis itu bergantung padanya. Ia tidak bisa lari.

“Oh… memangnya kau bisa hidup dengan pria lain selain aku?” tanya Marc sembari mendengus. Ia mengangkat kedua alisnya. Tatapan matanya berubah jail.

“Bisa. Kau bisa mencobanya jika tidak percaya. Aku akan berpaling ke pria lain jika kau tidak menepati janjimu.” Adel mencemberutkan bibirnya. Pipinya mengembung. Wajah gadis itu terlihat menggemaskan.

Marc kembali terkekeh. Tangannya naik merengkuh kedua sisi wajah Adel. Ia memajukan wajahnya ke wajah gadis itu. Hidung mereka saling bersentuhan.

Adel memejamkan mata saat embusan napas Marc menyapu wajahnya. Ia selalu suka setiap Marc melakukannya. Kulitnya tergelitik. Bau segar napas pria itu selalu mampu membangkitkan gairahnya.

“Aku percayamu, Adel. Sangat. Dan… jangan pergi. Jangan pernah kau mencari pria lain. Akulah yang tidak bisa hidup tanpamu. Kita sudah ditakdirkan bersama. Apa pun yang terjadi, kau maupun aku takkan terpisahkan. Karena kita satu. Kau untukku dan aku untukmu.”

Seperti cokelat yang meleleh ketika diletakkan di suhu tinggi, begitu juga halnya dengan Adel yang meleleh akibat perkataan Marc. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang, mengentak-entak dadanya. Darahnya berdesir cepat di bawah permukaan kulitnya, menciptakan sensasi tersendiri. Dan perasaan itu semakin menjadi-jadi saat Marc mengakhiri pertemuan mereka pagi itu dengan ciuman manis dan panjang.

Tapi, kenyataannya….

Perasaan pilu perlahan-lahan menyusup ke dada Adel.

Diam-diam Alicia memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Adel. Yang dapat ditangkap di penglihatannya adalah ekspresi kecewa, walaupun tidak secara terang-terangan ditunjukkan Adel. Ia memang tidak mengerti persoalannya secara keseluruhan. Tapi satu hal yang dapat dirasakan Alicia sebagai sesama perempuan, yakni perasaan dibohongi. Bagaimana rasa sakit yang ditimbulkan akibat salah satu pihak mengingkari janji.

Ternyata berita itu memang benar, Alicia berujar dalam hati, turut bersedih atas apa yang terjadi pada Adel.

***

Di bawah pos penjagaan salah sekolah swasta di kota Sevilla, Marc memangku Miguel di atas pahanya dan sesekali menempelkan hidungnya di rambut cokelat milik bocah kecil itu. Kedua tangannya melingkari pinggang Miguel.

Miguel kini sedang menceritakan asal-usul perseteruannya dengan Anne yang membuatnya tak ingin dekat-dekat dengan teman perempuan yang paling rajin mengganggunya itu. Sesekali Marc tertawa geli dan memberikan nasihat dengan kata-kata sederhana untuk bocah laki-laki itu.

“Apakah Mommy-mu pernah membalas perlakuanmu yang menyebalkan?”

“Tidak.”

“Lalu, dari mana kau belajar membalas perlakuan orang lain yang menyebalkan kepadamu?”

“Itu keluar begitu saja, Uncle Marc. Aku kesal. Anne sering menggangguku, bahkan ia pernah datang ke rumahku. Lagipula menurutku itu wajar sih,” Miguel mengatakannya dengan wajah serius. Alis tebal Miguel berkerut, mengingatkan Marc kepada Laura ketika mereka masih berhubungan dulu. Miguel memincingkan matanya untuk kembali memikirkan argumennya kepada Marc.

“Memang wajar. Tapi lebih baik kalau kau membalasnya dengan kebaikan.”

“Kalau aku membalasnya dengan kebaikan, Anne akan semakin mendekatiku, Uncle Marc. Aku tak suka dekat-dekat dengannya. Tidak suka!” Miguel turun dari pangkuan Marc dan memandang sengit Uncle kesayangannya itu. Bibirnya mengerucut dan alisnya menurun serta hidungnya yang kecil itu kembang kempis tanda ia menahan emosi.

“Baiklah. Maafkan aku kalau begitu. Kau mau memaafkanku, ‘kan?” Marc memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari Miguel. Matanya memandang lekat bocah kecil menggemaskan yang ada di depannya itu. Ia tak menyangka bahwa rasa sayang tumbuh begitu subur di hatinya untuk bocah cerdas ini.

Miguel hanya mengangguk dan memeluk Marc secara spontan. Lengan mungilnya melingkar begitu saja di leher Marc, membuat Marc hampir terjungkal jika ia tak berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya.

Marc membalas pelukan Miguel dengan usapan lembut di belakang kepala bocah itu. Sesekali ia menempelkan hidungnya di telinga Miguel, menghirup aroma yang sering ia rindukan ini.

“Miguel!”

Suara bernada seruan itu membuat Marc dan Miguel menghentikan acara berpelukan mereka. Kedua lelaki berbeda generasi itu memandang dengan cara yang berbeda kepada si pemanggil tersebut.

Miguel memandang mommy-nya dengan pandangan berbinar, sementara Marc memandang Laura dengan tatapan yang tak mampu dibaca. Marc sengaja mengarahkan tatapan seperti itu, mengantisipasi hal yang mungkin akan terjadi. Ia sudah memprediksikannya. Masalah field trip itu dan keterlibatan dirinya.

Tidak seperti biasanya saat Laura menjemputnya dan Miguel akan langsung berlari ke pelukan wanita itu, bocah itu justru tetap berdiri di samping Marc, memegang erat tangan pria dewasa yang sudah dikenalnya beberapa minggu terakhir.

Laura menyipitkan mata melihat kedekatan mereka.

Dasar pria sialan! Rupanya begini cara kau mendekati putraku. Aku tidak akan membiarkan hal ini berlangsung lebih lama, Marc Márquez! Laura menggeram dalam hati.

Ia bertanya-tanya, seberapa sering pria itu menemui Miguel di sekolah? Kedekatan seperti itu tidak akan tercipta jika pria itu hanya sekali atau dua kali menemui Miguel.

Sialan kau, Marc!

“Mommy, aku punya berita baik lho. Uncle Marc baru saja memberitahuku kalau aku bisa ikut field trip. Pihak sekolah yang membiayaiku untuk field trip itu, Mommy,” soraknya gembira, tidak sadar perubahan raut wajah Laura.

Laura mau tidak mau harus menahan emosi yang hinggap di dadanya dan tersenyum melihat celotehan putranya. Ada sebersit rasa hangat merasuki hatinya melihat anak semata wayangnya tertawa bahagia. Mata Miguel berbinar ketika menyampaikan hal itu, membuat Laura langsung meleleh. Namun, pandangannya seketika berubah ketika melihat Marc. Siapa lagi kalau bukan dia, si pemilik yayasan sekolah. Laura tahu, pasti Marc berada di balik semua ini.

“Oh ya?” respons Laura. Kedua alisnya terangkat. “Mengapa bisa seperti itu ya? Kenapa tiba-tiba pihak sekolah mau membiayaimu? Kemarilah, Nak. Coba jelaskan pada Mommy.” Laura menggerakkan tangannya, tanda meminta Miguel untuk mendekat padanya.

Miguel yang diminta mendekat berlari kecil hingga tas ransel mungilnya bergoyang-goyang tak beraturan. Melihat hal itu, sudut-sudut bibir Marc lantas tertarik ke atas.

Sesampainya di depan Laura, Miguel menengadahkan wajahnya untuk menatap Laura yang jauh lebih tinggi darinya. Laura menatap geli ke putranya, kemudian berjongkok seperti biasa.

“Aku tak tahu bagaimana ceritanya, Mommy. Uncle Marc yang memberitahuku kalau aku bisa ikut field trip karena pihak sekolah yang membiayaiku.” Miguel menatap polos ke arah Laura. Kemudian ia mendekatkan bibirnya di telinga Laura dan berbisik, “Maukah kau bertanya kepada Uncle Marc mengapa mereka membiayaiku? Aku juga ingin tahu.”

Laura terkekeh mendengar bisikan Miguel. Anaknya begitu polos dan selalu ingin tahu, membuatnya teringat pada masa kecilnya dulu. Di lain sisi, hati Marc menghangat melihat adegan ibu dan anak di depannya. Ia mengenali senyum itu, senyum renyah Laura. Senyum yang membuat wanita di depannya ini selalu tampak cantik. Senyum yang dulu selalu menemani hari-harinya sebelum semuanya berakhir dengan menghilangnya wanita itu.

Laura berdiri, memandang Marc dengan tatapan sinis. Ia berusaha menahan emosinya dan mencoba bersikap sopan karena ini masih berada di lingkungan sekolah. Entah mengapa hati kecilnya masih ingin melindungi Marc, masih ingin menjaga wibawa Marc di depan umum. Walaupun ia benci melakukannya, tapi pada akhirnya hal itu tetap ia lakukan.

“Saya ucapkan terima kasih untuk kebijakan yayasan yang memperbolehkan Miguel untuk mengikuti field trip di semester ini, Mr. Márquez. Bisakah saya bicara dengan pihak sekolah mengenai hal ini?” tanya Laura. Matanya menghunjam Marc tajam, menyiratkan tantangan dan kekesalan yang luar biasa kepada laki-laki menyebalkan di depannya itu.

“Tentu. Ikutlah denganku, Miss Sánchez,” Marc membalas dengan tak kalah dinginnya dan sengaja menekan suaranya saat menyebut nama wanita itu. Ia berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan arah ruang rapat kepada Laura. Sementara itu, Laura menggandeng Miguel erat sembari mengekori langkah Marc.

Sesampainya di lantai dua, mereka berjalan menuju lorong dan tiba di suatu ruangan dengan pintu berwarna hitam dengan desain minimalis namun terlihat kuat bagi siapa pun yang melihatnya.

Sebelum masuk ke ruangan, Marc berjongkok di depan Miguel dan mengusap lembut lengan anak itu. Posisi Marc membuat Laura mundur beberapa langkah dan genggamannya di tangan Miguel terlepas. Wanita itu kembali menatap tajam Marc.

“Kau tunggu di luar ya? Kalau kau mau bertanya kenapa kau tak boleh masuk, itu karena ini adalah urusan orangtuamu dengan pihak sekolah. Nanti, kau juga akan masuk ke ruangan ini dan bicara dengan pihak sekolah kalau itu adalah urusanmu dan sekolah. Mengerti?”

“Mengerti.” Miguel mengangguk paham.

“Sekarang kau duduk di kursi itu. Jangan ke mana-mana, tunggu sampai Mommy-mu keluar. Aku akan ke dalam mengambilkanmu mainan. Tunggu.” Marc masuk ke ruangan dan keluar dengan membawa kotak berisi replika mobil F1 Ferrari beserta remote control-nya.

“Ini untukmu. Jangan ke mana-mana ya,” ucap Marc sekali lagi.

Senyum mengembang di bibir Marc melihat Miguel yang terpana dengan mainan yang diambilkan olehnya. Miguel tiba-tiba menjadi begitu penurut, berakibat pipinya tampak berisi dan bibirnya begitu menggemaskan, membuat Marc tak tahan ingin mencubit pipi bocah itu.

Setelah memastikan bahwa Miguel tak akan dilanda kebosanan, Marc mempersilakan Laura masuk ke ruang rapat. Ruangan dengan aksen hitam putih itu terasa dingin dan mengintimidasi. Ruangan tersebut cukup luas, tertata rapi dengan sebuah meja mahoni besar memanjang yang biasa digunakan untuk rapat serta jejeran kursi berwarna putih keabu-abuan membuat Laura merinding. Berdua dengan seorang Marc Marquez di ruangan bernuansa formal seperti ini. Mimpi apa kau semalam, Laura? ejeknya dalam hati.

Marc berdiri di tengah ruangan, menatap Laura lekat. Tak membiarkan wanita di depannya itu bertindak leluasa di daerah kekuasaannya.

“Jadi, apa yang ingin kau ketahui tentang kebijakan yayasan dengan membiarkan Miguel ikut field trip?” Pertanyaan yang sarat akan tantangan keluar dari mulut Marc. Pria itu menatap angkuh ke arah Laura.

“Siapa yang mengeluarkan kebijakan itu?” Laura bertanya tanpa rasa takut.

“Aku.”

“Kenapa?”

“Karena aku mampu, Laura. Kau lupa? Aku pemegang otoritas tertinggi sekolah ini,” jawab Marc sombong.

Laura menggertak giginya dengan kesal. “Apa maumu, Marc? Apa yang kau mau dari putraku?” tanya Laura dingin. Ia benar-benar menahan emosinya kali ini. Sangat berusaha.

“Aku ingin Miguel bahagia. Aku ingin membuat Miguel merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya. Aku ingin dia mendapatkan hal yang sama persis seperti yang didapatkan teman-temannya.”

Laura tertegun tak percaya. Marc begitu peduli kepada Miguel. Pria itu ingin Miguel bahagia. Sejenak perasaan bersalah melanda Laura. Namun, cepat-cepat ia membuang perasaan itu. Ini bukan waktunya untuk meratapi rasa bersalahnya.

“Tolong katakan pada Miguel kalau yayasan membatalkan pembiayaan itu. Aku tak mau berhutang kepadamu.”

“Akan kubatalkan pembiayaan itu jika kau punya alasan yang masuk akal.” Marc mengangkat kedua alisnya, memperlihatkan sisi arogannya.

Laura tercekat. Marc jauh lebih mematikan ketika bersikap lebih dingin. Laura ingin melihat Marc yang meledak-ledak sehingga ia dengan mudah mejawab pertanyaan laki-laki yang dulu sangat dicintainya itu.

“Kau orang asing. Kau tak tahu apa-apa tentang Miguel. Kau… kau baru mengenal Miguel beberapa minggu belakangan. Dan keputusanmu ini akan membuat orangtua murid yang lainnya berspekulasi. Itu alasanku,” Laura mengatakannya dengan gugup. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri kenapa harus merasa gugup pada saat-saat seperti ini.

Dengusan mengejek keluar dari mulut Marc. “Ibu macam apa kau? Kau rela mengorbankan kebahagiaan anakmu hanya karena kau takut bagaimana pandangan orang lain terhadap dirimu? Kau rela melihat Miguel hanya diam ketika teman-teman sekelasnya bercerita tentang betapa asyiknya field trip yang baru saja mereka jalankan? Tak kusangka kau begitu egois, Laura!” Marc menyipitkan matanya, marah mendengar alasan Laura yang dianggapnya tidak masuk akal. Entah apa yang ada di kepala wanita itu. Apa karena masa lalu mereka? Tapi apakah etis hubungan masa lalu itu dijadikan alasan mengapa Marc tidak boleh mendekati Miguel. Laura coba menjauhkannya dari Miguel. Wanita itu tidak ingin Marc mendekati Miguel. Marc tahu itu. Dan ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

“Tutup mulutmu! Kau tidak berhak berkata seperti itu! KAU TIDAK BERHAK!” murka Laura. Dadanya berdebar-debar karena amarah. Kali ini ia benar-benar kehilangan kesabaran. Wajah gugupnya berubah menjadi garang mendengar perkataan Marc barusan.

“Dengarkan aku, Marc Marquez! Dengarkan aku baik-baik,” Laura setengah mendesis. “Miguel sepenuhnya tanggung jawabku. Kau tak usah sok menjadi pahlawan dengan membiayai field trip-nya. Kau tak usah bersikap sok baik dengan selalu menjadi pemecah masalah yang sedang kami hadapi! Kau. Menjijikkan.” Napas Laura memburu ketika mengatakannya. Ia benar-benar tak terima dikatai Marc seperti itu.

“Aku tahu kalau Miguel adalah tanggung jawabmu. Sepenuhnya.” Marc menekankan kata sepenuhnya untuk menyindir Laura. Marc berjalan mendekat dan menatap Laura dingin. “Dan Miguel juga punya hak untuk bahagia. Sepenuhnya.”

“Aku tahu kau membenciku, meski aku tak tahu apa alasannya. Bukankah harusnya aku yang membencimu karena kau meninggalkanku begitu saja? Sayangnya aku tak bisa membencimu, Laura. Dan sialnya, justru aku mencintai anakmu. Aku mencintai anakmu lebih dari aku mencintaimu di masa lalu.”

Laura tertegun. Hatinya sesak mendengar apa yang baru saja dikatakan Marc. Ia tak menyangka Marc memiliki perasaan yang begitu dalam kepada Miguel.

Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Laura ingin menangis rasanya.

“Aku tak peduli kau mencintai anakku atau tidak, itu urusanmu. Tapi yang bisa kukatakan kali ini adalah maaf. Maaf membuatmu sia-sia memberikan pembiayaan untuk field trip Miguel di semester ini, karena pada hari yang sama kami sudah berencana berlibur bersama kakek dan nenek Miguel. Akhhh…!!!” Laura meringis saat Marc mencengkeram kasar lengannya.

“Kebohongan semacam apa lagi yang kau buat, hah? Kau pikir aku bodoh? Aku tahu kau berada dalam krisis, Laura! Aku tahu itu!” desis Marc penuh amarah.

“Marc, lepas. Sakit,” ucapnya tertahan.

“Sakit kau bilang? Sakit?” Marc mempererat cengkeramannya, berusaha membuat Laura merasakan apa yang dirasakannya kini.

Laura mengangguk dengan raut kesakitan. Air matanya menggenang. Ia tak berdaya kali ini. Tubuh kekar Marc melilitnya. Membuatnya tak mampu bergerak. Pandangan Marc kini berubah ganas. Ia memandang Laura seolah-olah ia hendak memangsa wanita itu.

“Pilihan ada di tanganmu sekarang. Kebahagiaan Miguel atau egomu atas masa lalu kita?” bisik Marc, bibirnya menempel tepat di telinga Laura. Ia menghirup aroma tubuh wanita yang pernah mengisi relung hatinya. Tangan yang tadinya mencengkeram kasar lengan Laura kini berpindah menyentuh pipi wanita yang ada di depannya itu.

Mata mereka bertemu, saling menyiratkan sesuatu yang tak sama. Laura penuh kebimbangan sementara Marc penuh dengan kepastian. Kepastian untuk selalu membahagiakan Miguel. Ia mendekat, hingga bisa merasakan napas Laura yang tak beraturan. Ia bahkan bisa merasakan tubuh Laura yang gemetar.

Kau masih Laura-ku yang dulu, batin Marc.

Marc menundukkan wajahnya, kemudian mempertemukan bibir mereka. Untuk yang pertama kali sejak perpisahan mereka. Marc merasakan bibir wanita itu. Tidak ada yang berubah dan rasanya masih tetap sama.

Marc menelusuri bibir Laura lembut, menunggu Laura membalasnya. Perlahan, Marc mulai menekan bibirnya, memaksa Laura untuk membalas, hingga….

PLAK!

Tamparan keras langsung mendarat di pipi Marc. Laura mendorong kasar dada Marc, memaksa pria itu mundur beberapa langkah. Air mata yang tadi menggenangi pelupuk matanya kini tumpah membasahi pipinya.

“Kau pikir semudah itukah kau menyentuhku? Dasar pria sialan, keparat dan tidak tahu malu! Kau sungguh menjijikan. Kau menjijikan! Seumur hidupku, tidak pernah aku merasa semenyesal ini karena pernah mengenal dan menjadi kekasihmu. Aku benar-benar menyesal atas apa yang pernah terjadi di antara kita. Amat menyesal! Kau dengar itu, Marc Márquez!”

Laura mengusap matanya dengan kasar. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan hendak menyentuh gagang pintu sebelum suara Marc menghentikan gerakannya.

“Laura, tunggu.”

Wanita itu menunggu dengan dada naik turun.

“Besok, jam 9. Kami menunggu kedatangan Miguel.”

Laura memejamkannya, menarik napas sejenak, kemudian menarik pintu hitam itu dan menghilang dari pandangan Marc.

“Miguel, ayo kita pulang!” seru Laura sembari berjalan mendekati bocah itu yang masih sibuk dengan mainan barunya.

“Oh, sudah selesai ya?” tanya bocah itu dengan mimik polos.

Laura tak menggubris pertanyaan Miguel, lantas menarik tangan bocah itu sedikit kasar sehingga mobil yang berada di pangkuannya jatuh ke lantai.

“Eh, Mommy, tunggu dong. Itu mainannya jatuh,” Miguel berseru seraya menoleh ke belakang. Tapi Laura tidak memedulikannya, tetap menarik tangan Miguel, dan bahkan setengah menyeret bocah itu.

“Mommy!” Miguel merengek, tidak rela mainannya ketinggalan.

“Diam, Miguel!” bentak Laura, membuat Miguel tersentak kaget.

“Mommy kenapa sih? Kok marah-marah sama aku? Itu mainannya ketinggalan. Aku mau ambil dulu. Ih, Mommy!” Miguel meronta-ronta minta dilepaskan.

“Miguel, Mommy bilang diam!” Laura mengempas keras tangan Miguel dan menatap tajam ke arah bocah laki-laki itu.

“Mommy jahat!” Miguel berteriak dan mulai menangis.

Hati Laura seperti teriris-iris saat mendengar tangisan Miguel. Perasaan bersalah lantas mengerubunginya.

Oh, Tuhanku….

Laura berlutut di depan Miguel, menyejajarkan tingginya dengan bocah itu. Kedua tangannya terangkat merengkuh wajah mungil putranya. Wanita itu kemudian menarik Miguel ke dekapannya.

“Maafkan Mommy. Maafkan Mommy, Miguel. Mommy minta maaf,” Laura ikut terisak di rambut Miguel.

Sementara itu, beberapa meter di belakang mereka, Marc berdiri diam, menatap lurus ke depan, terpaku pada kedua orang itu. Tangannya menyentuh mobil mainan yang ia pungut dari lantai.

Melihat pemandangan yang ada di depannya, hati Marc perih. Seandainya ia bisa, ia ingin menghampiri ibu dan anak itu dan berbagi air mata dengan mereka. Ia ingin memeluk mereka, menghibur dan membuat mereka tertawa. Ia ingin masuk ke kehidupan mereka. Ia ingin menjadi orang yang berarti untuk mereka, terutama Miguel. Karena ia sangat menyayangi bocah itu, lebih dari apa pun.

 To Be Continued…

18 thoughts on “My Secret, His Son #13

  1. Ku sedih😦 . Yaudah sih Marc kalo emang udh cinta mati ama Laura lepas aja ilah si Adel keganjenan itu. Lagi juga ngapain nge php in anak orang. Eh jangan deng, biarin Adel tau dengan sendirinya kalo sebenernya justru dia yg jadi perusak hubungan orang. Aahhh penasaran kayak apa endingnya…. Good Job duet mautnya Ka Rita dan Ka Riza😀

    Suka

  2. Marc PHP iihhh…kalau suka Laura ya Laura aja, Adel ya Adel aja *ikut emosi*. Aku masih setia menunggu kapan kira2 Marc tau kalau Miguel itu anaknya, dan kapan ada konflik lagi dengan Dani *teteeeep Daninya mana???* wkwk keep writing ya! btw kalo bisa, penulisannya dipadatkan lagi sih, aku ngitung ada 3 part cuma ngebahas field trip *cmiiw*

    Suka

  3. Marc..dirimu kok begitu sih? *lirik adel* mudahnya dirimu mengumbar janji lalu tidak menepatinya😦 kasian.kasian.kasian *ala ipin* dan Laura juga..kok dirimu tak bisa membaca hati seorang Marc Marquez yang masih begitu mencintaimu😦 oh dilema cinta..

    Astaga..kok bahasaku jadi kayak gitu ya? Sudahlah..ditunggu next part nya Rit..😀

    Suka

  4. Marc, kau bagaikan mendung yang tak berarti hujan *loh apa ini :3 maksudnya PHP gitu… Kesian Adel, yak, diPHP-in mulu. Cari pria lain gih, masih banyak ikan di laut *kiasan gagal😀 ditunggu next-nya🙂

    Suka

  5. Wuiiihh… duel maut yg emejing kak😀..
    bener nih, di part ini bkin nyesek.. pensaran sma endingnya,, ^^ next partnya di tunggu..
    oh, iya.. aku itu sebenarnya reader lma dsni.. tpi bru skrg beri komentar *tepatnya si di The One That Got Away part 9 aku jd udh beri komentar* #gk nanya -,- mian ya klo aku mnjd reader gelap hehehe😀

    Suka

  6. Wuiiihh… duel maut yg emejing kak😀..
    bener nih, di part ini bkin nyesek.. pensaran sma endingnya,, ^^ next partnya di tunggu..
    oh, iya.. aku itu sebenarnya reader lma dsni.. tpi bru skrg beri komentar *tepatnya si di The One That Got Away part 9 aku jg udh beri komentar* #gk nanya -,- mian ya klo aku mnjd reader gelap hehehe😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s