My Secret, His Son #12

My Secret1 copy

Happy reading😉

Marc sengaja datang ke sekolah Miguel setengah jam sebelum bel pulang berbunyi. Pria itu berjalan ke bagian administrasi sekolah dengan tergesa-gesa. Raut gelisah tak mampu disembunyikan oleh sang pemilik wajah tampan itu. Pria itu disambut hangat oleh Colin Edward, si petugas administrasi. Setelah dipersilakan duduk, mereka langsung masuk ke inti pembicaraan. Raut tak nyaman di wajah Marc semakin menjadi saat Mr. Edward menjelaskan apa yang menjadi penyebab salah satu siswanya yang bernama Miguel Sánchez tidak dapat mengikuti acara field trip.

Dada Marc bagai terhantam beton saat mencerna setiap informasi yang diberikan Mr. Edward. Perlahan, amarah menjalari saraf-sarafnya.

“Kami tidak bisa memaksa orangtua dari siswa yang bersangkutan untuk berpartisipasi dalam acara ini, Mr. Márquez, akibat masalah keuangan yang dialami oleh ibunya Miguel. Dan dengan berat hati, kami tidak mengikutsertakan Miguel dalam acara field trip ini.”

“Memangnya kau tidak bisa memberikan sedikit keringanan untuk mereka?!” bentak Marc, tiba-tiba merasa kesal terhadap petugas administrasi itu.

Mr. Edward sedikit menundukkan kepalanya, takut membalas pelototan yang diarahkan kepadanya. “Kami sangat menyesal, Mr. Márquez. Kami hanya menjalankan tugas sesuai prosedur yang berlaku.”

Lagi. Mr. Edward terlonjak kaget saat mendengar hantaman di meja kerjanya. “Peduli setan dengan prosedur konyolmu! Aku tidak mau tahu, masukan nama Miguel ke daftar siswa-siswi yang akan berangkat field trip. Paham?”

“Baik, Tuan,” jawab Mr. Edward patuh.

Marc mengembuskan napas berat. Pikirannya tertuju pada Laura. Benarkah wanita itu sedang berada dalam kesulitan? Apa toko bunga miliknya juga terkena imbas yang parah akibat krisis ekonomi yang sedang melanda Spanyol? Lalu, bagaimana wanita itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja atau tengah kesulitan menyelesaikan masalah keuangannya? Dan Miguel… apakah bocah itu juga merasakan dampak dari krisis tersebut?

Tentu saja, Bodoh! Marc menggeram dalam hati. Bocah itu tentu merasakan dampaknya.

“Dan Tuan…, ada satu informasi lagi yang ingin saya sampaikan,” ungkap Mr. Edward dengan intonasi rendah.

“Apa itu?” sambar Marc langsung.

“Kemarin ibunya Miguel telah mengajukan surat pernyataan pindah sekolah.”

“Kau bilang apa?!” Suara Marc naik satu oktaf. Terkejut. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita itu. Sebegitu parahnyakah krisis keuangan yang dihadapinya sampai-sampai harus memindahkan Miguel ke sekolah lain?

“Suratnya telah kami terima, Tuan. Dan sekarang kami sedang memprosesnya.”

“Tidak!” sergahnya cepat. “Tahan surat kepindahannya. Jangan pernah sesekali kau beri surat itu padanya,” desisnya tajam.

“Tapi, Tuan…,” Mr. Edward hendak membantah.

“Aku bilang jangan ya jangan!” Marc kembali membentak, lebih keras. “Aku kenal ibunya. Aku akan melakukan pembicaraan pribadi dengannya. Dan kau, kuperingati untuk terakhir kalinya. Jangan pernah kau beri surat itu atau kau akan kehilangan pekerjaanmu, Mr. Edward dan sekalipun kau melamar kerja ke instansi mana pun, kupastikan kau tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan. Kau mengerti?”

Wajah Mr. Edward memucat seketika. Untuk pertama kalinya, setelah mendengar ratusan berita burung mengenai pemilik yayasan mereka yang bertemperamen tinggi dan sering memutuskan kontrak kerja sepihak dengan seenak jidatnya karena tidak puas terhadap kinerja pekerjanya ataupun karena alasan lainnya, ia yang awalnya tidak percaya kini membuktikan dengan mata kepalanya sendiri. Pria itu mengancamnya. Bukan hanya sekadar ancaman kosong. Siapa yang tidak kenal Marc Márquez Alenta, pengusaha muda paling sukses yang memiliki ratusan anak perusahaan di luar maupun dalam Spanyol. Tidak perlu dipertanyakan lagi pengaruh pria tersebut. Sekali kau terkena blacklist darinya, maka tamatlah riwayatmu.

“Me-mengerti, Tuan,” jawab Mr. Edward terbata-bata.

“Bagus.”

Kursi yang didudukinya hampir terjungkang ke belakang saat tubuh besar dan kekar itu bangkit berdiri, meninggalkan ruang administrasi dengan raut angker di wajahnya. Marc tidak memedulikan staf-staf yang menyapanya saat melewati koridor. Kaki-kakinya yang panjang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai pos penjagaan. Mr. Rossi yang juga menyapanya di pos tersebut hanya dibalasnya dengan tatapan dingin nan mematikan, membuat pria paruh baya itu mengkeret di tempat.

Tepat saat bel pulang berbunyi, semua anak berhamburan keluar. Teriakan dan cekikikan terdengar di kejauhan dan semakin jelas saat anak-anak itu lewat di depan Marc. Mereka tidak mengacuhkan pria itu karena memang tidak tahu siapa pemilik tubuh besar dan kekar itu, kecuali orangtua mereka.

Beberapa orangtua yang hendak menjemput putra-putri mereka menyadari kehadiran Marc Márquez, namun enggan untuk sekadar menyapa ataupun beramah tamah. Karena tidak perlu menjadi genius untuk membaca suasana hati sang pemilik yayasan tersebut.

Marc melirik arlojinya. Hampir 10 menit setelah bel pulang, namun bocah kecil itu belum juga keluar.

Perasaan gelisah menaungi Marc. Ia ingin cepat-cepat bertemu Miguel. Ia rindu bocah kecil itu. Seperti ada rasa membutuhkan dalam diri Marc terhadap bocah laki-laki itu. Perasaan yang sungguh mendesak. Rasa yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Tidak pernah bahkan ketika ia bersama dengan Laura dulu dan hendak bertemu dengan wanita itu karena rindu yang tak tertahankan setelah seminggu tak berjumpa saat wanita itu harus pergi ke luar negeri mengikuti seminar kedokteran yang diadakan oleh salah satu rumah sakit di Jerman. Wanita itu terpilih karena selalu mendapatkan nilai sempurna di awal semester.

Tapi perasaan ini berbeda. Rasanya seperti ada alarm peringatan di dalam diri Marc untuk tetap mempertahankan Miguel di sekolah ini… terkhusus mempertahankan bocah itu di sisinya. Karena dengan Miguel bersekolah di sini, maka tidak ada alasannya untuknya untuk tidak bisa bertemu Miguel. Ia bisa menggunakan seribu alasan agar bisa melihat bocah itu dari dekat. Namun, jika Miguel bersekolah di tempat lain, ia tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama. Karena ia tidak memiliki otoritas seperti yang ia miliki di sekolah ini.

Marc tidak sanggup membayangkan apa jadinya jika Laura tetap bersikeras memindahkan Miguel ke sekolah lain. Ia akan berusaha mengurungkan niat wanita itu. Yang pasti tidak secara terang-terangan.

Lamunan Marc terusik saat mendengar teriakan cempreng dari seorang bocah perempuan yang sedang memanggil nama bocah laki-laki yang tampak tidak mengacuhkannya di depan.

Sudut-sudut bibir Marc lantas tertarik ke belakang, membentuk garis lebar. Raut keras yang sempat hinggap di wajahnya kini pudar seketika.

Pasti Anne, tebak Marc dalam hati.

***

“Mimigu… Mimigu…,” panggil sebuah suara cempreng saat sekolah telah usai.

Miguel menoleh ke belakang dan air mukanya langsung berubah. Anne berlari kecil menghampiri Miguel, disusul Suster Vane yang membawakan tas sekolah berwarna pink milik Anne, berdiri di belakang gadis kecil itu.

“Ada apa?” Miguel bertanya dengan wajah sebal.

“Aku dengar Mimigu tidak ikut field trip ya? Kok Mimigu tidak ikut sih? Kalau Mimigu ikut kan nanti kita bisa main bersama-sama di sana. Acaranya menyenangkan lho,” ucap Anne dengan semangat menggebu-gebu.

Miguel mengernyitkan keningnya. “Tidak ah. Aku bosan melihatmu terus,” balas Miguel, lantas membuat bibir Anne mengerucut ke depan.

“Mimigu kok begitu sih ngomongnya? Mimigu jahat!” teriak Anne dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.

“Eh, kau mau menangis ya? Jangan di sini dong. Kan malu. Menangisnya nanti saja kalau kau sudah pulang ke rumahmu.” Miguel menatap ngeri ke arah Anne.

“Aku menangis karena Mimigu tuh jahat sama aku. Mimigu selalu ketus jika berbicara denganku. Aku kan tidak punya maksud jahat sama Mimigu. Aku cuma mau berteman dengan Mimigu. Itu saja kok. Tapi kenapa sih Mimigu tuh selalu sakiti hati aku? Memangnya salah ya kalau aku mau berteman dengan Mimigu?” Anne terisak-isak.

“Eh, eh…,” Miguel menggaruk-garuk pangkal hidungnya, serba salah. “Aduh, bagaimana ini?” Miguel melemparkan tatapan bingung ke Suster Vane.

Suster Vane maju dan menyentuh kedua pundak mungil Anne. “Anne…, Miguel tidak bermaksud seperti itu. Miguel baik kok. Anne jangan menangis lagi ya. Nanti cantiknya hilang lho.” Suster Vane mengusap wajah Anne lembut.

“Tapi Mimigu selalu ketus sama Anne, Suster,” isak Anne lagi.

“Dia ketus karena merasa malu ada gadis cantik yang peduli padanya, Sayang,” ucap sebuah suara di belakang Miguel.

Miguel menoleh seketika saat mendengar suara familier itu dan sontak berseru, “Uncle Marc!” Mata Miguel membulat lebar dan cengiran lebar keluar dari bibirnya.

“Hai, Jagoan.” Marc menundukkan tubuhnya, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Rentangan tangan itu langsung disambut Miguel dengan menghamburkan diri ke dada bidang Marc.

“Aku rindu padamu,” ungkap Miguel.

“Aku juga, Sayang. Omong-omong, aku sedikit kecewa padamu hari ini.” Marc memberi jarak di antara tubuh mereka.

“Oh ya? Apa yang telah kulakukan?” Miguel bertanya dengan polosnya.

“Oh? Apa yang telah kau lakukan?” Marc sedikit menyipitkan matanya. “Berbicara tidak sopan pada seorang gadis dan bahkan membuatnya menangis, kau masih bertanya apa yang telah kau lakukan? Kau benar-benar keterlaluan.” Marc memasang ekspresi pura-pura kesal.

“Eh, itu…,” Miguel kehilangan kata-kata. “Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Benarkah?” Marc menaikkan kedua alis matanya. “Kalau begitu ayo minta maaf sama Anne. Kau telah menyakiti hatinya.”

“Ih, tidak mau. Aku sudah pernah melakukannya. Aku tidak mau melakukannya lagi.” Miguel mengembungkan pipinya kesal.

“Oh? Begitukah? Kau pengecut sekali. Sungguh bukan sikap seorang pria sejati,” sindir Marc yang langsung mendapat pelototan dari Miguel.

“Aku bukan pengecut, Uncle Marc!” tegas bocah itu.

“Kau pengecut ah,” ejek Marc, sengaja memancing reaksi bocah laki-laki itu.

“Iiiihhh…, aku bukan pengecut! Oke, sekarang aku minta maaf pada Anne.” Dengan kesal, Miguel mendorong tubuh Marc menjauh, berbalik ke belakang dan menghampiri Anne. “Aku minta maaf atas sikapku yang tidak sopan padamu. Kau mau kan memaafkanku, Anne? Aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi dengan catatan kau tidak terus-terusan mendekatiku. Bagaimana? Sepakat?” Miguel mengulurkan tangannya.

Anne melirik tangan Miguel yang terulur padanya, kemudian menatap sinis pada bocah laki-laki itu. “Tidak mau. Itu artinya Mimigu tidak mau berteman denganku. Kalau begitu aku juga tidak mau memaafkan Mimigu. Aku marah sama Mimigu. Pokoknya aku tidak akan memaafkan Mimigu. Hm.” Anne membuang muka. “Suster Vane, ayo kita pulang.”

“Eh, tunggu. Kau jangan begitu dong. Kan aku sudah minta maaf,” seru Miguel di belakang Anne.

Anne membalikkan tubuhnya dan membalas, “Makan saja maafmu. Mimigu jahat. Sudah ah, aku mau pulang. Ayo, Suster Vane.”

Marc terbatuk-batuk, bermaksud menyamarkan tawa yang hendak ia semburkan. Pria itu kemudian menarik Miguel mendekat, menyentuh kedua bahunya dan menatap bocah itu dengan saksama.

“Jadi bagaimana perasaanmu? Enak tidak diperlakukan seperti tadi?” tanya Marc, berusaha untuk tidak terkikik.

“Tidak enak, Uncle Marc. Anne menyebalkan.” Miguel mencemberutkan bibirnya.

“Nah, itulah yang dia rasakan saat kau tidak mengacuhkannya. Sekarang kau merasakannya, ‘kan?” Marc mengacak-acak rambut Miguel.

“Lalu, sekarang aku harus bagaimana? Dia tidak mau memaafkanku.”

“Kau mau menyerah begitu saja?” Marc balik bertanya. “Seorang gentleman pantang menyerah lho. Itu berarti kau harus mengejarnya dan berusaha untuk mendapatkan maafnya. Kau sanggup, ‘kan?”

“Harus ya?”

“Maju terus pantang mundur. Itulah prinsip seorang gentleman. Kau harus membujuknya. Oke?”

“Baiklah,” Miguel berujar pasrah.

“Yang semangat dong.” Marc kembali mengacak-acak rambut Miguel. “Aku punya kejutan untukmu.”

Mata Miguel membulat dengan sempurna saat mendengar kata kejutan. “Kejutan? Untukku?”

Marc mengangguk. “Kau mau tahu apa kejutanmu?” Marc memasang ekspresi jail di wajahnya.

“Apa itu? Apa itu, Uncle Marc? Ayo katakan!” Miguel mendesak.

“Pihak sekolah baru saja memberitahuku kalau kau bisa ikut field trip. Biayamu ditanggung oleh sekolah, karena mereka ingin semua murid bisa ikut.”

“Benarkah, Uncle Marc?” tanya Miguel, tak percaya. “Kau tidak menipuku, ‘kan?”

Marc bisa melihat, bahkan dengan sangat jelas binar gembira yang terpancar di kedua bola mata cokelat itu. Perasaan hangat seketika melingkupi dada Marc.

“Aku tidak menipumu, Jagoan.”

“Horeeee….” Bocah itu sontak bersorak-sorai dengan riang. “Terima kasih, Uncle Marc.” Miguel kembali memeluk Marc.

“Terima kasih kembali, Jagoan,” balas Marc di rambut bocah itu. Hati Marc semakin menghangat. Mendengar seruan riang bocah itu dan melihat raut gembiranya, rasanya Marc tidak ingin melepas pelukannya dari tubuh Miguel.

Kembali ia merasakan perasaan asing di hatinya. Anehnya, ia merasa nyaman dan… bahagia, sungguh.

To Be Continued…

Oke, aku tau ini part mengecewakan banget. Weird-nya ampun-ampunan dan alurnya bertele-tele. Silakan dikritik habis-habisan yak. Btw, tetep kuucapkan thanks for reading bagi yang telah membaca cerita ini. Kalo mau komen, seperti biasa boleh komen di Twitter, Facebook maupun di kolom blog ini. See ya😉

21 thoughts on “My Secret, His Son #12

  1. iya, part ini agak mengecewakan. harusnya bisa dibikin lebih panjang lagi, mungkin sampai laura tau kalau miguel bisa ikut field trip karena jasa marc, dan dari situ laura mulai merasa jatuh cinta lagi sama marc *cieeee*. btw marc kapan nikah sama adel?? trus dani ngilang terbawa angin ke mana?? semoga mereka kembali menampakkan batang hidungnya di part 13. keep writing!😀

    Suka

  2. ahhh bagusss bangettttt ..

    kangen berat dehhh ama Marc+Laura+Miguel …….

    Pleaseeee buat bersatu dong keluarga ini …. ga adil banget buat Miguel dehh kalo ampe enggak ….
    Pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

    Suka

  3. “Eh, kau mau menangis ya? Jangan di
    sini dong. Kan malu. Menangisnya nanti
    saja kalau kau sudah pulang ke
    rumahmu.” Miguel menatap ngeri ke
    arah Anne.

    Busetttttt Mimigu tega bener, orang mau nangis suruh ditunda.

    Part ini spesial ayah dan anak.😀

    Suka

  4. Eh ada yang ketinggalan komennya😀

    aku marah sama kamu MARC ! terutama sikap kamu, yang sok berkuasa gitu, kamu mentang2 bos besar seenaknya main pecat ngeblacklist karyawan. Hufttt awas aja kalau kamu gulung telor *eh salah gulung tikar* #plak dimarahin Adel pasti dah aku doain marc bangkrut😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s