Menyesalkah? Atau…

Banyak orang yang tanya sama aku, “Rit, gimana kuliahnya? Lancar gak?”,“Rit, kamu jadi ambil perhotelan? Kok bisa sih? Sayang banget lho padahal.”,“Rit, jadi masuk Sahid? Enak gak kuliah di sana?”, dan berbagai pertanyaan yang serupa.

Jawabanku? Fine-fine aja. Setidaknya pada awalnya. Ya, pada awalnya.

Memang pada awalnya aku iseng-iseng daftar ke sekolah pariwisata tersebut. Atau boleh dibilang sebagai back up kalo seandainya SNMPTN tidak jebol. Dan benar saja, pada akhirnya aku tidak jebol SNMPTN.

Sebenarnya ada banyak pilihan. Cuma aku bingung mau pilih yang mana. Niat hati pengen kuliah di Jogja. Tapi apa mau dikata ketika orangtua tidak memberi izin. Alasannya? Jarak yang jauh dan aku masih dianggap kurang dewasa dan belum bisa mandiri. Hingga pada akhirnya, kuterima dengan lapang dada dan pasrah tentunya, maka Sahid menjadi keputusanku. Toh, ini cuma program D1, pikirku waktu itu. Dan jangka waktu kuliahnya hanya setahun, dengan 6 bulan teori dan 6 bulan terjun ke industri hotel. Setelah itu selesai. Intinya hanya menghabiskan waktu dan menunggu hingga usia cukup untuk tinggal jauh dari orangtua.

Seperti yang kutulis di atas, pada awalnya semuanya baik-baik saja. Perkuliahan lancar dan menyenangkan hingga dua bulan kemudian, sesuatu terjadi. Tidak secara langsung, tapi sangat berefek ke psikologisku. Ibarat burung yang terbang tinggi di angkasa, kemudian terjatuh akibat terhempas badai tornado. Itulah yang aku rasakan. Kecewa dan sakit.

Rasa tidak nyaman menyeruak. Tidak ada lagi rasa senang seperti dulu. Rasa yang ternyata semu. Tidak nyata karena adanya manipulasi.

Aku merasa seperti itu. Dan dengan jujur aku bilang, aku mulai tidak betah. Tapi seorang dosen yang tahu masalahku kemudian menyakinkan aku untuk tidak memikirkan masalah tersebut, tetap fokus sama kuliah, dan semuanya akan baik-baik saja.

Aku coba. Awalnya berjalan dengan baik. Semuanya kembali berjalan lancar. Tak terasa ujian tengah semester dengan sukses kulalui. Bangga dengan nilai-nilaiku yang memuaskan.

Tapi, semua itu tidak cukup. Rasa tidak nyaman itu tetap ada. Hingga rasa lelah yang tak terucap ini tak mampu terus membisu. Aku semakin tak betah. Tapi aku coba bertahan. Setidaknya setelah 6 bulan teori ini kulalui, aku akan terjun ke lapangan. Dan di sinilah pembuktian apakah aku benar-benar punya bakat di bidang perhotelan atau jurusan ini hanya pintu pelarianku saja.

Beberapa planning sudah tersusun. Kalau gagal di sini, well, memang perhotelan bukanlah takdirku. Mungkin setelah terlepas dari kampus ini, aku akan pergi, mencari apa yang menjadi passion-ku; menulis, sastra, bahasa dan budaya. Aku akan mengejar apa yang menjadi tujuanku. Menjadi seorang penulis jika Tuhan mengizinkan, menjadi penerjemah jika takdir berkata itulah garis hidupku, menjadi seorang diplomat seperti cita-cita awalku.

Aku percaya rencana Tuhan itu indah. Rancangan-Nya tidak pernah mengecewakan umat-Nya. Dia Allah yang hidup dan aku akan berserah kepada-Nya. Ke mana pun dia akan membawaku, aku akan menapaki tempat tersebut, tempat yang telah Ia tujukan untukku.

Aku tidak mau mengeluh. Walau hati ini ingin. Toh, untuk apa ngeluh kalau tidak mengubah hasil akhir? Rasanya akan sia-sia dan tidak berguna.

Ada harapan yang selalu kuselipkan dalam doa, aku ingin menjadi terang di mana pun aku berada. Menjadi orang yang benar-benar orang, bisa menjadi panutan bagi orang lain. Dan yang terbesar adalah membanggakan kedua orangtuaku dan mengukir senyuman lebar di bibir mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s