{Epilogue} My Baby, You

Sesuai dengan judul, part ini adalah epilog dari My Baby, You. Jadi bagi yang belum baca ff itu, monggo, dibaca dulu biar gak bingung pas baca part yang ini. Happy reading😉

“Tidak mau! Aku mau Daddy! Aku mau Daddy, Mommy!” teriak bocah kecil itu sembari menepis keras lengan ibunya. Bocah perempuan itu mengembungkan pipi kesal. Bibirnya cemberut dan wajahnya memerah. Tampak pucat masih menghiasi wajah oval mungilnya.

“Iya, Sayang. Daddy sudah di jalan. Alba sabar ya,” sang ibu berucap sembari tersenyum lembut, penuh kesabaran menghadapi kerewelan putrinya.

“Aku mau Daddy, Mommy!” Bocah itu 4 tahun kembali merengek seraya menjambak selimut pink-nya dengan kesal.

“Tak lama lagi Daddy pulang, Sayang.” Laura memeluk bocah itu, mencium hangat keningnya dan mengusap lembut punggungnya. Laura menyentuhkan pipinya ke kening Alba. Sisa demam anak itu masih terasa.

“Daddy lama sekali sih. Aku kan kangen Daddy,” rajuknya.

Laura menyentuh pipi Alba dan tersenyum. “Nak, Daddy-mu pasti pulang kok. Alba yang sabar. Sebentar lagi Daddy sampai.”

“Mommy! Mommy! Daddy sudah pulang!” seru seorang bocah laki-laki sambil berlari masuk ke kamar. Di belakang seorang pria dengan tas ransel tersampir di bahu sembari menarik koper berukuran sedang, melangkah masuk dengan senyum hangat tercetak di bibirnya.

Mata Alba melebar. “Daddy!” serunya, langsung turun dari tempat tidur dan berlari ke arah pria itu.

Marc merentangkan tangannya lebar-lebar dan menyambut putri kecilnya ke dalam pelukan. “Aku kangen Daddy,” ucap Alba di telinga Marc.

“Daddy juga kangen sama Alba,” balas Marc sembari mengecup pipi Alba.

“Daddy kok perginya lama-lama sih? Pokoknya mulai sekarang Alba tidak mau Daddy perginya lama terus,” ucapnya masih dengan nada merajuk.

Marc menghirup rambut Alba, lalu menjawab, “Iya, Sayang. Daddy tidak akan pergi lama-lama.”

“Janji?”

“Janji.”

“Awas kalau bohong,” Alba melemparkan pandangan aku-akan-menuntutmu-jika-kau-berbohong ke arah ayahnya. Laura terkikik menyaksikan pemandangan tersebut.

“Ih, gantian dong. Aku kan juga mau dipeluk,” seru bocah laki-laki dengan jengkel karena dicueki di belakang Alba. “Alba, minggir dong,” usirnya.

“Ih, apaan sih kau? Mengganggu saja,” sahut Alba tak terima.

“Hei, jangan berantem dong,” Laura menengahi mereka.

“Miguel jahat, Mommy.”

“Kau yang manja!”

“Kau yang jahat!”

“Dasar anak manja!” sungut Miguel, mendengus pelan.

Miguel mendorong pelan tubuh Alba dan memeluk Marc.

“Tuh kan,” protes Alba, tidak terima dirinya didorong Miguel. “Mommy, Miguel jahat,” adunya.

“Jagoan, tidak boleh begitu dong,” Marc menasihati Miguel. “Ayo, minta maaf sama adikmu,” suruhnya.

“Tidak mau!”

“Miguel.” Laura menaikkan alis matanya, tanda wanita itu tengah memperingati bocah tersebut.

“Iya, iya,” Miguel mengalah. “Maaf ya,” ujar Miguel sembari mengecup pipi Alba.

Marc dan Laura tersenyum geli melihat tingkah anak kembar mereka. Mata mereka berpandangan, tersirat akan kerinduan mendalam setelah hampir seminggu tidak bertemu. Marc masih seorang pebalap MotoGP. Bahkan kini pria itu telah merengkuh 5 gelar juara dunia berturut-turut dan gelar itu akan terus bertambah.

Untuk sesaat Marc dan Laura mengabaikan anak-anak. Marc bangkit berdiri, menarik Laura ke arahnya dan memberi istrinya sebuah kecupan manis.

“Aku merindukanmu. Sangat,” bisik Marc dengan nada menggoda.

“Aku juga.”

Marc mendekati wajah Laura, bermaksud ingin mencium istrinya lagi. Namun, suara gaduh yang ditimbulkan Miguel dan Alba karena bertengkar memperebutkan mainan baru yang dibawakan Marc membuat pasangan suami istri itu harus bersabar hingga malam untuk mendapatkan waktu yang lebih intens.

***

Kedua pria itu duduk berdampingan di kursi yang disediakan rumah sakit untuk menunggu. Elena tak tampak di sana, sengaja meninggalkan mereka. Keduanya diam. Tak bersuara.

“Apa kau tahu jika Laura sedang mengandung anakmu?” Suara dingin Robert memecahkan keheningan yang sempat tercipta.

“Dia tidak pernah memberitahuku,” desah Marc lelah.

Robert mengerutkan keningnya dan mendelik tajam ke arah Marc. “Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali membunuhmu, kau tahu? Kau telah menghancurkan masa depan putriku,” sergahnya tajam.

“Aku akan bertanggung jawab, Om. Aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku,” kata Marc dengan nada amat menyesal.

“Tidak perlu. Kau tidak perlu menanggung apa pun. Kuharap kau tidak mendekati Laura lagi, demi kebaikannya,” putus Robert, kemudian bangkit dari tempat duduknya, hendak meninggalkan Marc.

“Tidak, Om. Kumohon, beri aku satu kesempatan lagi. Aku mencintai Laura. Aku sangat mencintainya. Aku tidak sanggup kehilangannya. Sungguh,” mohon Marc dengan raut wajah minta dikasihani.

Seumur hidupnya, Marc tidak pernah memohon kepada siapa pun, tidak pernah hingga kini untuk pertama kalinya ia memohon pada Robert, ayah dari gadis yang ia puja dan ia cintai, merendahkan harga dirinya dan melukai egonya. Ia tidak peduli. Bahkan jika memang diharuskan, Marc akan memohon sambil bersujud dan mencium kaki Robert demi mendapatkan Laura, cintanya dan juga hidupnya. Gadis itu segalanya untuk Marc. Ibarat bunga matahari yang akan mengarah ke mana pun sang mentari mengarah. Ia adalah bunga matahari itu. Ia tidak sanggup berdiri sendiri tanpa bantuan pancaran sang mentari, tanpa gadisnya, Laura.

“Dengan apa kau mencintainya?” tanya Robert dengan nada getir. “Kau pikir dengan cinta saja cukup membuat putriku bahagia? Apa kau tidak sadar dengan profesimu itu mengandung resiko yang sangat tinggi? Kau bisa mati kapan saja, Marc Márquez! Kau tidak pantas bersamanya. Tidak akan kubiarkan Laura bersamamu. Laura berhak mendapatkan pria yang lebih baik. Dia berhak mendapatkan pria yang bisa menjaganya, bukan pria yang setiap minggunya selalu mempertaruhkan nyawanya demi kejuaraan tolol. Aku tidak ingin membuat putriku salah untuk kedua kalinya. Tidak untuk kedua kalinya, Marc Márquez! Kau camkan kata-kataku!” tegas Robert dengan nada marah. Kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. Ingin sekali Robert menghajar wajah sialan Marc.

“Aku akan mengundurkan diri sebagai pembalap MotoGP jika itu sebagai syarat agar aku bisa bersama Laura. Aku akan melakukan apa pun demi mendapatkan Laura, Om. Kumohon, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji setelah ini tidak akan ada lagi air mata di wajahnya. Aku akan menjaganya dengan segenap hatiku. Mencintainya dengan tulus sampai akhir hayatku. Satu kesempatan lagi. Izinkan aku memilikinya, Om. Aku akan melakukan apa pun yang kau minta. Kumohon.”

Mata Marc memerah. Segalanya telah ia utarakan. Ia mencoba meyakinkan ayah gadisnya.

Robert memejamkan matanya. Pikirannya berkecambuk, bertentangan dengan batinnya. Hingga akhirnya, kepalan tangannya perlahan-lahan mengendur. “Aku tidak perlu janjimu. Yang kuperlukan adalah bukti. Sekali lagi kau membuatnya terluka, tak ada lagi kesempatan untukmu. Bahkan kau akan kubunuh dengan tanganku sendiri. Kau ingat itu!” desisnya sinis.

Sebuah senyum bahagia tersungging di bibir Marc. Air mata haru bergulir turun dari pelupuk matanya.

Mulai sekarang hingga seterusnya, Laura telah dan akan menjadi miliknya. Ia tidak akan sekadar janji. Ia akan membuktikan ucapannya. Ia akan membuktikannya pada Robert.

Aku akan mencintainya dengan tulus sampai akhir hayatku, ulang Marc dalam hati.

***

Suara pintu berdecit terdengar saat Marc mendorong pintu kamar, kemudian melangkah masuk dan kembali menutup pintu di belakangnya tanpa menimbulkan suara. Matanya memandang tubuh seorang wanita berpakaian gaun terusan hijau muda sedang memunggunginya, merapikan tempat tidur yang akan mereka gunakan. Tangan wanita itu dengan cekatan melipat selimut tebal tanpa merasa kesulitan, seolah itu adalah hal biasa yang sudah sering dilakukan.

Marc menikmati pemandangan wanita itu sedang bekerja. Tanpa sadar seulas senyum berkembang di wajahnya. Matanya melembut. Dan hatinya terasa hangat.

Ingatan tentang kejadian beberapa tahun silam saat ia mencoba meyakinkan ayah mertuanya kembali terngiang di kepala Marc. Seandainya pada saat itu ia tidak berjuang untuk mendapatkan Laura dan meluluhkan hati Robert, ia tidak akan dapat melihat pemandangan seperti ini. Pemandangan yang mungkin akan ia lihat hingga beberapa puluh tahun ke depan. Ia bahagia dengan kenyataan ia adalah pemilik wanita itu.

Laura membalikkan tubuhnya dan matanya langsung mengarah pada Marc, bersitatap dan perasaannya lantas menghangat. Seolah mata itu mampu mengirim sinyal kepadanya. Ia tertawan oleh mata cokelat itu dan tidak mampu berpaling.

Mereka tak bersuara, berdiri dan masih saling bertatapan. Seolah dengan hal sederhana itu sudah dapat menjelaskan perasaan masing-masing. Kerinduan setelah seminggu tak berjumpa dan tak saling menyentuh membuncah di hati mereka.

Marc bergerak, melangkah dengan langkah luwes ke arah Laura. Kakinya yang panjang sengaja melambat dan ia sadar wanitanya tercekat. Diam-diam ia merasa geli sekaligus senang. Bukankah itu artinya ia telah memesona wanitanya? Dan jaminannya ia akan terus hidup dan menua bersama wanita itu.

Laura meneguk ludahnya dengan sedikit lebih keras. Mendadak ia menjadi gugup saat pria itu berjalan ke arahnya dengan tatapan mata yang sangat intens, seolah sedang menelanjanginya. Pipinya merona seketika. Lantas wanita itu menundukkan wajahnya, mencoba menenangkan diri.

Oh, ayolah. Kalian bahkan sudah 5 tahun menikah. Bersikaplah yang normal, Laura. Ingat, kau bukan gadis remaja lagi. Kau….

Pikiran Laura buyar seketika saat tangan lebar dan kekar itu menyentuh dagunya. Detak jantungnya menggila, memukul dadanya dengan keras. Tanpa sadar paru-parunya berhenti bekerja.

“Kau cantik.”

Hanya dua kata dan Laura merasa tubuhnya akan luluh seketika jika saja ia tidak cepat menguasai diri. Demi Tuhan, itu adalah dua kata yang sering Marc ucapkan dan ia masih saja sering hilang kendali.

“Tidak ada kata lain, ya?” Laura bertanya di sela detak jantungnya yang masih bekerja di atas batas normal.

“Memangnya kau ingin mendengar apa?” Marc mengangkat dagu Laura. Dengan jarak yang sangat dekat, ia mengembuskan napas ke wajah wanita itu.

Laura memejamkan matanya. Tubuhnya merinding merasakan sapuan napas Marc.

“Kau mencoba menggodaku?” ungkap Laura sedikit bergetar. Bibir Marc sangat dekat kepadanya. Ia bisa menyentuh bibir itu dengan sekali memajukan bibirnya.

“Menurutmu bagaimana?” balas Marc dengan nada menggoda.

“Hentikan.” Laura merajuk. “Jangan membuatku malu,” gumamnya pelan.

Marc terkekeh pelan. Ia meraih kedua tangan Laura dan menciumnya dengan lembut. “Kenapa harus malu? Kau tidak perlu merasa seperti itu, Sayang.”

Laura menghela napas, kemudian menggeleng. “Entahlah. Aku hanya merasa malu setiap kau coba menggodaku. Aku takut aku akan mempermalukan diriku sendiri dan kau akan geli melihatku. Atau mungkin juga muak. Aku tidak ingin itu terjadi,” akunya

“Sstt,” Marc mendesis. Tangannya kembali terangkat menyentuh dagu Laura. Marc mengecup ringan bibir mungil itu. “Jangan berpikiran seperti itu. Sejujurnya aku suka melihatmu seperti ini. Merasa malu layaknya seorang gadis remaja yang sedang didekati oleh prianya. Bukankah itu berarti kau benar-benar jatuh hati kepadaku, hm?” Napas Marc berembus di bibir Laura. “Dan jangan pernah kau memiliki pikiran aku akan merasa muak denganmu. Jangan pernah. Aku tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu di saat kau selalu membuatku merasa dicintai. Aku seorang yatim piatu sejak kecil dan tidak pernah mendapatkan cinta dari kedua orangtuaku, Laura. Kaulah satu-satunya gadis dan wanita yang memberiku cinta, menawarkan kebahagiaan dan memberiku sosok figur seorang ayah sekaligus ibu pengganti kedua orangtuaku. Kau yang memberiku semua itu.”

Laura terenyuh mendengar ungkapan hati Marc. Hidup tanpa cinta dari kedua orangtua memang tidak menyenangkan. Laura senang ia bisa membuat Marc merasa dicintai.

Marc memang tidak memiliki orangtua sejak kecil dan hidup di sebuah panti asuhan kumuh di pinggiran kota. Ia menemukan passion membalapnya saat bertemu dengan Tito Rabat, teman satu sekolah yang kini menjadi sahabat karibnya, yang mengenalkannya pada dunia membalap. Mengajarkan Marc berbagai hal dasar membalap dan bahkan meminjamkan perlengkapan untuk membalap yang bernilai ribuan euro pada Marc.

Marc tidak tahu harus dengan apa ia membalas kebaikan sahabatnya itu, selain mempersembahkan gelar di setiap musimnya. Ia tidak akan pernah menjadi Marc Márquez yang sekarang tanpa bantuan sahabatnya itu. Ia berhutang banyak pada pria itu.

Laura menarik Marc mendekat. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu,” bisik Laura sembari mengecup bibir suaminya.

Marc membalas kecupan itu dengan lumatan kecil yang semakin lama menjadi lumatan bergairah. Tangannya menyusup di balik pakaian Laura, menyentuh semua bagian yang bisa ia sentuh. Bibirnya turun ke leher Laura, mencium dan meninggalkan jejak basah di setiap jengkal kulit wanita itu.

Napas Laura memburu. Desahan kecil terdengar di bibir wanita itu setiap Marc menyentuh titik-titik sensitifnya.

Tak butuh waktu lama, Marc berhasil melepas gaun yang dikenakan Laura. Marc mendorong tubuh Laura hingga wanita itu terjatuh di atas tempat tidur.

“Izinkan aku menyentuhmu,” ucap Marc setengah mendesah seraya menggigit daun telinga Laura.

“Sentuhlah, Marc. Sentuh sesuka hatimu. Aku mencintaimu,” balas Laura, meremas kuat rambut Marc saat pria itu memainkan puncak payudaranya.

“Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat.”

Laura ingin menangis mendengarnya. Ia tidak tahu harus bagaimana ia berterima kasih kepada Tuhan atas segala kebaikan-Nya, memberinya suami yang baik sekaligus ayah dari anak-anaknya. Tidak ada kata yang mampu menjelaskan betapa ia mencintai suaminya.

THE END

Jadilah pembaca yang budiman dengan meninggalkan jejak setelah membaca. Oke???😉😉😉 Thank you for reading😀

9 thoughts on “{Epilogue} My Baby, You

  1. Kyaaa..😍😍 jadi geeget sendiri bacanya 😭😭 Marc kok so sweet gitu yaa😍😍 aku sampai bisa merasakan apa yang Laura rasakan looh..degdeg-an gimana gitu..😍😍☺️☺️ Ditunggu lanutannya, Rit 👍☺️

    Suka

  2. kereeeeeeen<3 bikin ngefly sendiri jadinya ngebayanginjadi istri marc hahahahaha:)) tapi endingnya…. cukup sampe kiss aja deh kayaknya:) teruslah berkarya!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s