My Secret, His Son #11

My Secret1 copy

Jangan jadi pembaca gelap ya. Gelap-gelap itu gak bagus lho. Percaya deh. Hihihihi…. Happy reading😉😀

Laura memijat pelan keningnya dan sesekali mengembuskan napas dengan berat. Tangannya sibuk membolak-balikkan kertas-kertas yang berisi laporan keuangan bulanan toko bunga miliknya.

Bencana, batinnya.

Omzet penjualannya turun drastis daripada bulan sebelumnya. Tidak ada pemasukan. Yang ada ia merugi. Krisis ekonomi yang kini melanda Spanyol telah membawa dampak signifikan pada beberapa industri yang ada. Dan Laura merasakan imbas dari krisis tersebut.

Bagaimana ini? Laura menggigit bibirnya, memikirkan berbagai tagihan yang sudah menunggu di depan mata. Ia tidak tahu harus membayar dengan apa.

Bingung. Ia tidak tahu harus meminjam uang kepada siapa. Orangtuanya? Tidak. Ia tidak akan melakukannya. Karena sejak ia memutuskan untuk pergi dari rumah orangtuanya dan memilih hidup mandiri bersama Miguel, Laura bertekad tidak akan pernah mau menyusahkan mereka setelah apa yang ia perbuat. Laura berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha bekerja lebih keras demi Miguel.

Dan sekarang ia berada dalam kesulitan.

Pesawat telepon di sudut meja kerjanya berdering. Laura memandang sekilas pada benda itu sebelum mengangkatnya.

“Halo, dengan Morning Glory Florist. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Laura tak bersemangat. Sangat berbeda dengan Laura yang seperti biasanya.

“Hai, ini aku,” sahut orang di seberang sana dengan suara lembut.

“Aku tahu,” balas Laura, tersenyum kecil. Setidaknya suara pria itu sedikit mampu mengurangi kegundahannya.

“Sedang apa?”

“Memeriksa laporan keuangan,” jawab Laura dengan nada lelah.

“Ada masalah?”

“Sedikit.”

“Ada apa?”

Laura diam sejenak. “Krisis.”

Laura mendengar tarikan napas pria itu, kemudian diembuskannya dengan pelan.

“Aku memiliki tabungan.”

“Tidak perlu, Dani!” sergah Laura cepat.

“Tapi kau sedang membutuhkannya, Laura,” balas Dani tak kalah cepatnya.

“Tidak. Aku tidak berhak menggunakan uangmu.” Laura menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

Laura kembali menggigit bibir bawahnya. “Karena….”

Sunyi beberapa detik. Laura tidak tahu harus menjawab apa. Yang pasti ia tidak ingin menggunakan uang Dani. Sudah cukup banyak ia merepotkan pria itu. Ia tidak mau terus-terusan menyusahkan Dani dengan masalahnya.

“Laura….”

“Tidak, Dani,” erang Laura sedikit frustrasi, memohon agar pria itu mengerti.

“Anggap saja ini sebagai pinjaman. Bagaimana?” tawar Dani.

“Aku tidak bisa.”

“Laura, dengar.” Terdengar tarikan napas Dani lagi. “Lakukan ini demi Miguel, bukan demi dirimu sendiri. Biaya paling besar yang harus kau tanggung adalah biaya sekolah Miguel, bukan? Lakukan demi dia. Aku tahu kau ingin memberikan yang terbaik untuk putramu.”

Tangan Laura terangkat, kembali memijat keningnya. “Aku berencana akan memidahkan Miguel ke sekolah pemerintah.”

Hening lagi.

“Karena dia?”

“Ya,” jawab Laura pelan.

“Dia ayahnya, Laura.”

Karena itulah aku tidak ingin Miguel tahu bahwa Marc adalah ayahnya, Dani, ungkap Laura tanpa mampu menyuarakannya.

Laura mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit toko. Matanya memanas. Hatinya selalu nyeri setiap diingatkan tentang Marc. Tentang ayah Miguel.

“Apa aku jahat, Dani?”

“Tidak. Kau wanita yang baik, Laura. Aku mengerti kenapa kau melakukan ini.”

Laura mengembuskan napas melalui rongga mulutnya. Tangannya dengan cepat mengusap air mata yang mulai jatuh di sudut matanya.

“Aku akan segera mentransfer uangnya. Kau bisa mengembalikannya kapan saja kau mau,” kata Dani.

“Terima kasih.”

“Tidak masalah. Mulai sekarang kau dan Miguel adalah tanggung jawabku. Sudah seharusnya aku melakukan ini untuk kalian.”

“Dani….” Laura kehilangan kata-kata.

“Tiga hari lagi aku akan pulang. Sampai bertemu ya?”

“Baiklah. Aku tunggu.”

Setidaknya beban yang berada di pundak Laura sedikit berkurang. Ia bersyukur memiliki Dani, pria yang selalu menjadi dewa penolongnya di saat ia berada dalam kesulitan.

***

Kening Miguel berkerut saat ditatapnya menu makan malam yang dihidangkan Laura di atas meja. Tak satu pun dari makanan tersebut merupakan makanan kesukaannya. Terlebih semuanya berwarna hijau.

“Kenapa tidak ada daging, Mommy?” tanya Miguel, mendadak selera makannya hilang. Ia tidak suka sayuran.

Laura yang masih berada di balik konter, berbalik dan meletakkan semangkuk sup jagung. Wanita itu menarik kursi di sebelah Miguel. “Memangnya kenapa kalau tidak ada daging, hm?” tanya Laura lembut. Senyum terkulum di bibir wanita itu. Tangannya terangkat mengusap rambut Miguel yang mulai memanjang.

Ekspresi cemberut mulai terlihat di wajah Miguel. “Aku tidak mau makan,” rajuknya.

“Oh? Benarkah?” Laura memasang ekspresi pura-pura terkejut. “Wah, bagus sekali kalau begitu. Kalau kau tidak mau makan, ya sudah, biar Mommy saja yang memakan semuanya. Jadi jatah makan malam Mommy semakin banyak. Kan lumayan.” Laura mengangkat kedua alis matanya dan mengangguk jenaka.

“Mommy rakus,” cibir Miguel masih dengan tampang cemberut.

“Biar. Rezeki kan tidak boleh ditolak.” Laura memamerkan senyum manisnya pada Miguel. Wanita itu meraih sendok sup dan mulai menuangkan sup jagung dari mangkuk besar ke mangkuk kecil yang lebih kecil. “Hm, jadi kau yakin tidak mau makan?” tanya Laura sekali lagi.

“Tidak,” jawab Miguel keras kepala.

Laura menghentikan kegiatannya, menghela napas sejenak, kemudian memandang ke arah putranya. Tangannya kembali mengusap rambut Miguel. “Jangan begitu, Nak. Kau tidak boleh pilih-pilih makanan. Kau harus bersyukur dalam segala keadaan. Kau harus bersyukur hari ini masih bisa makan. Jadi makanlah apa yang ada. Kau tahu? Masih banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan. Mereka kelaparan, bahkan mati karena kekurangan gizi,” terang Laura.

“Tapi makanannya tidak enak, Mommy,” rengek bocah laki-laki itu. Matanya memandang ngeri ke arah piring yang berisi beraneka macam sayuran.

Laura terkekeh pelan. “Kalau kau bersyukur, semuanya akan terasa enak. Lagi pula, di sayuran juga terdapat banyak vitamin. Kau tidak tahu ya kalau makan sayur bisa membuatmu pintar?” tanya Laura, memasang ekspresi serius di wajahnya. “Wah, wah, ternyata anak Mommy kurang pintar. Itu artinya kau harus banyak makan sayuran. Ayo kita berdoa dulu sebelum makan.”

Miguel melipat kedua tangannya dengan setengah hati. Bibirnya masih mengerucut karena jengkel. Sesekali sungutan kecil lolos dari mulutnya. Dan ketika Laura selesai memimpin doa pun, anak itu masih tampak jengkel.

“Tuhan mendengar sungutanmu, Sayang,” goda Laura sembari tersenyum jail.

“Ih, Mommy nih,” sungut bocah itu (lagi).

Laura tertawa. Namun, jauh di lubuk hatinya tersimpan kesedihan mendalam. Ada perasaan sakit yang menderanya karena tidak mampu memberikan apa yang diinginkan putranya.

Maafkan Mommy, Nak. Mommy janji akan bekerja lebih keras lagi sehingga kau bisa makan makanan kesukaanmu, batin wanita itu.

“Makanlah,” suruh Laura sembari menatap putranya dengan penuh sayang.

***

Semua orang sedang membicarakan field trip yang akan diadakan pihak sekolah dengan semangat menggebu-gebu. Tak terkecuali Miguel. Bocah itu terlihat tidak sabar menantikan acara yang diadakan setahun sekali ini. Apalagi tahun ini merupakan tahun pertamanya mengikuti field trip bersama teman-teman sekelasnya. Pasti akan sangat menyenangkan.

Wajah semringah bocah itu tak dapat disembunyikan saat Laura menjemputnya di sekolah. Sepanjang perjalanan pulang, Miguel terus bercerita mengenai acara itu dan tidak sadar perubahan mimik wajah Laura.

“Jadi, Mommy, aku boleh kan ikut field trip itu?” tanya Miguel dengan nada sarat akan pengharapan sesaat setelah Laura memarkir mobilnya di samping rumah.

Laura masih belum menjawab sampai mereka masuk ke rumah. Wanita itu memandang Miguel dalam diam. Sepasang bola mata itu memancarkan berbagai kesedihan. Ia tidak tahu harus bagaimana menyampaikan hal ini pada Miguel. Laura sudah diberitahu terlebih dahulu acara tersebut melalui e-mail yang dikirim rutin oleh pihak sekolah beberapa hari lalu dan biaya yang harus dikeluarkan lumayan besar hanya untuk acara yang berdurasi 1 hari. Ia tidak mampu membayar biaya tersebut. Uang yang dipinjamkan Dani hanya cukup untuk menutupi beberapa tagihan. Dan ia tidak mungkin meminjam lagi.

“Miguel…,” Laura membungkuk, memegangi kedua bahu mungil Miguel. Matanya memandang lurus pada bocah itu. Sesuatu bergejolak di dada Laura. “Kau ingin sekali ya mengikuti field trip itu?”

Miguel mengangguk dengan cepat. “Semua orang ikut, Mommy.”

Tenggorok Laura tercekat. Dadanya seperti dihantam benda tumpul. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, menyerang saraf-sarafnya.

“Nak…,” Laura memulai dengan susah payah. “Kau tahu kan field trip itu memerlukan biaya yang lumayan banyak? Mommy tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membiayai field trip-mu. Apalagi akhir-akhir ini penjualan di toko bunga kita sedang tidak baik.”

Kali ini giliran Miguel yang terdiam. Raut wajah bocah itu tak terbaca. Tapi Laura tahu ada perasaan kecewa di hati bocah itu. Laura ingin menangis rasanya. Ia benar-benar benci menjadi tak berdaya seperti ini.

“Ya sudah. Tidak apa-apa, Mommy. Lagi pula, tahun depan aku juga masih bisa ikut kok.”

Ucapan Miguel seperti tamparan keras bagi Laura. Perasaan bersalah semakin menggelayut di hatinya. Ia tidak pernah mengharapkan respons seperti ini dari Miguel. Tidak.

“Maafkan, Mommy, Sayang. Maaf,” Laura menarik Miguel ke dalam pelukannya. Air matanya jatuh membasahi rambut Miguel.

“Tidak apa-apa, Mommy. Aku juga minta maaf karena selalu menyusahkan Mommy,” balas Miguel di dada Laura.

“Tidak pernah, Sayang. Kau tidak pernah menyusahkan Mommy. Justru kaulah alasan kenapa Mommy masih bisa hidup sampai sekarang. Kau adalah sumber kekuatan Mommy.” Laura mengeratkan pelukannya.

“Mommy,” Miguel menggeliat di pelukan Laura. Anak itu mendongak menatap Laura. Kedua tangannya terangkat, menyentuh pipi Laura. Jari-jari mungilnya bergerak mengusap air mata yang menempel di wajah cantik ibunya. “Jangan menangis. Mommy jelek kalau menangis.”

Laura tergelak pelan. Sebuah senyuman kemudian mengembang di wajahnya. Rasa haru tak mampu wanita itu sembunyikan.

“Nah, begini lebih baik. Mommy akan terlihat cantik jika tersenyum seperti ini,” ucapnya seraya mengelus-elus kedua sudut bibir Laura.

“Terima kasih, Sayang.” Laura mengecup kening Miguel.

“Sama-sama, Mommy. Aku sayang Mommy.”

“Mommy juga. Lebih dari hidup Mommy sendiri.”

***

Marc melangkahkan kakinya menuju ruang makan, tempat di mana Roser dan Adel telah menunggunya untuk makan malam. Pria itu terlambat setengah jam dari waktu yang telah ditentukan.

Marc mengambil tempat yang telah disiapkan untuknya. “Maaf atas keterlambatanku. Kuharap kalian dapat memaklumi kesibukanku di kantor,” ungkapnya pada kedua perempuan itu.

Roser tidak menjawab. Sedangkan Adel hanya melemparkan senyum simpul dan berkata, “Tidak apa-apa, Marc.”

Makan malam dimulai dalam keheningan. Dentingan halus dari pisau dan garpu perak yang saling beradu menjadi latar di meja makan yang berlapis kain sutra berwarna emas itu. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan sebelum sang nyonya rumah yang membuka suara untuk pertama kali.

“Jadi… kapan kau akan mengambil cuti dan fokus pada pernikahanmu?” tanya Roser sembari memasukkan potongan daging kalkun ke mulutnya. Wanita itu duduk di kepala meja. Sorot matanya mengarah tajam pada putra sulungnya yang duduk di sebelah kirinya. Sementara Adel, sang calon menantu duduk di sebelah Marc.

“Aku tidak berpikir untuk mengambil cuti, Mom. Lagi pula, perusahaan sedang sibuk-sibuknya dan akan sangat tidak menghargai waktu jika aku mengambil cuti,” jawab Marc, mengangkat gelas wine miliknya dan menyesapnya pelan.

“Kupikir mengambil cuti beberapa hari tidak akan membuat perusahaan dalam masalah besar.” Roser sengaja mengetuskan nada suaranya.

“Kukira sejak kecil aku selalu dididik untuk tidak membuang-buang waktu. Atau kau sudah lupa?” balas Marc, melemparkan pandangan sengit ke arah ibunya.

“Ini berbeda!” sergah Roser, mulai terpancing.

“Apa bedanya?” Marc mengangkat sebelah alis, sengaja menatang Roser.

Adel yang sedari tadi diam coba mengambil alih pembicaraan. Tangan kanannya ia letakkan di atas paha kiri Marc. Marc tersentak pelan di kursi ketika merasakan sentuhan tersebut.

“Ibumu benar, Marc. Ambillah cuti beberapa hari. Hari pernikahan kita juga semakin dekat. Kami tidak ingin kau kelelahan menjelang hari bahagia kita.” Adel memandang lembut ke arah calon suaminya.

“Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” balas Marc seraya tersenyum kecil.

“Tapi….”

“Adel, kau percaya padaku, ‘kan?” sela Marc, memotong perkataan Adel seraya menyentuh tangan gadis itu yang berada di atas pahanya dan meremasnya pelan. Tatapan pria itu memperlihatkan kesungguhan dan Adel tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Semudah ini ia memercayai Marc.

***

Marc melonggarkan dasinya saat Adel masuk ke kamarnya. Gadis itu berdiri membelakangi pintu, memandang lurus ke arahnya.

“Apa ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Marc, melepas kancing teratas seragam kerjanya.

“Ya.” Adel berjalan menghampiri Marc. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan,” ucapnya seraya membantu pria itu melepas satu per satu kancing kemejanya. Mata gadis itu terfokus pada kancing-kancing tersebut.

“Ada apa, Adel?”

Tangan Adel berhenti di perut Marc. Ia mendongakkan kepalanya. Sejenak keraguan menggelayuti hatinya. “Kau tahu wanita pemilik toko bunga yang kita kunjungi beberapa waktu lalu, ‘kan?” tanya Adel dengan suara yang lebih menyerupai bisikan.

Butuh beberapa detik untuk Marc mencerna apa yang dimaksud Adel. Tanpa bisa dicegah, perlahan-lahan ketegangan mulai menyusupi dada Marc. Tidak mungkin Adel mengungkit masalah itu jika tidak ada sebabnya. Dan ia harus berhati-hati agar Adel tidak curiga.

“Kenapa dengan wanita itu?” tanya Marc, berusaha membuat suaranya terdengar normal.

“Kau mengenalnya?”

“Tidak.”

“Sungguh?”

“Adel, dengar.” Marc mengembuskan napas panjang. “Bagaimana bisa aku mengenal wanita itu sedangkan yang mengenalkan aku dan dia pada saat itu adalah kau. Memangnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini?” Giliran Marc yang balas bertanya.

“Maaf. Aku tidak bermaksud menuduhmu macam-macam. Hanya saja entah kenapa perasaanku mengatakan bahwa kau telah mengenalnya sebelum aku memperkenalkan kalian. Hm, lupakan saja. Anggap saja aku tidak pernah menanyakan apa pun padamu.” Adel menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku akan menyiapkan air hangat untukmu,” ujarnya seraya tersenyum tipis, kemudian berlalu dari hadapan Marc.

Marc memandangi punggung Adel yang hilang di balik pintu kamar mandi dengan perasaan bersalah.

Kau tidak salah, Adel. Aku memang mengenalnya. Aku minta maaf.

Getaran ponsel di saku celana membuyarkan lamunan Marc. Ia meraba sakunya, kemudian menarik keluar benda pipih itu. Ada sebuah e-mail masuk dari yayasan sekolah yang ia naungi.

Marc membuka e-mail yang disertai attachment sebuah dokumen yang berisi daftar nama-nama siswa-siswi yang akan mengikuti field trip. Sebenarnya e-mail tersebut tidak terlalu penting, hanya sebuah formalitas yang ditunjukkan pihak sekolah kepadanya selaku pemilik yayasan. Namun, matanya langsung terbelalak lebar saat membaca daftar murid yang tidak ikut acara tersebut; MIGUEL SÁNCHEZ.

To Be Continued…

Gimana? Semoga gak terlalu mengecewakan ya. Terima kasih buat yang sudah baca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya. Boleh di blog, Twitter, maupun di Facebook. Pokoknya jadilah pembaca yang budiman. See ya😉

17 thoughts on “My Secret, His Son #11

  1. Senangnyaaa datang jugaa lanjutannya …. Terima kasih yaaa

    Ahhhhhh gimana nihh si Dani kok baek bangett … tega ga yahhh minta Laura ninggalin Dani buat Marc.

    Kalo cowo sebaek ini ditinggalin ga tega, tapi kalo dia mati demi Laura …..

    Kayaknya si Adel tipe psiko yahh … bisa-bisa dia mau bunuh Laura atao Miguel dehh …

    Hmmm trus masih penasaran dulu Laura ninggalin Marc kepana ya? Apa krn mama Marc yg ambisius kahhh?

    Suka

  2. Aduh teman, bisa gak kalo buat cerita ending nya gak usah gantung napa? Penasaran nih.
    Eh mau tanya juga, makan malamnya dimana? Kok lagi makan marc nya datang adel nya mau siapin air panas. Untuk apa? Mereka tinggal serumah? Ditunggu kelanjutannya teman. . .

    Suka

  3. Rit, kenapa selalu begini akhir partnya? Don’t you know i’m so corious about this story? So please, jangan buat gantung ceritanya-_-
    Anyway, buat konfliknya nambah dong mumpung daninya udah deket banget sama laura, jadi pengen ngeliat marc nangis karena laura. Kan jadi keliatan kalo cintanya marc tuh tak lekang oleh waktu. *asik* haha.
    Hmm.. buat kamu, rit. Semangat terus ya ngetiknya. :))

    Suka

  4. Aku gk suka sama Marc….
    #jujur :p

    Kasihan klo lihat dua wanita itu (Laura+Adel)

    gk tau kenapa, apalgi si Adel. Duhhhh cintamu dibalas kebohongan Del…udah cari pria lain aja, biar marc nyesel. Udah nyia-nyiain kamu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s