Trilogy White Lotus : Give Me One More Chance #1

126 copy

Happy reading😉

Marc menatap sekilas bagian depan rumah mewah yang berdiri kokoh di hadapannya. Dengan ukiran indah di setiap pilar-pilarnya, berlatar belakang Yunani yang begitu kental.

Jantung laki-laki itu berdegup kencang. Amarah menguasai dirinya. Dalam hati ia terus menerus mengutuki dirinya, perbuatannya dan kini di sinilah dirinya, di kediaman keluarga gadis itu.

Marc tidak tahu separah apa kerusakan yang telah ia perbuat (lagi) hingga gadis itu harus dibawa pulang oleh kedua orangtuanya ke rumah ini—bahkan sebelumnya gadis itu sempat dilarikan ke rumah sakit dan sialnya, ia sebagai kekasihnya tidak tahu-menahu tentang sakitnya Laura. Betapa bodohnya dan tidak bergunanya ia.

Marc lupa. Entah sudah berapa kali ia melukai Laura, kembali menggoreskan luka di hati gadis itu, membuatnya menangis. Kali ini Marc yakin inilah puncaknya dan kemungkinannya ada dua; tetap bertahan atau mengucapkan selamat tinggal. Semuanya ada di tangan Laura. Gadis itu yang memutuskan. Gadis itulah yang akan menentukan. Karena gadis itulah yang ia sakiti.

Jika seandainya Laura memilih mundur, Marc dengan lapang dada menerima keputusan itu. Walaupun sulit, ia terima, yang terburuk sekalipun. Ia tidak ingin membuat gadis itu menangis lebih banyak karena dirinya. Laura berhak bahagia. Gadis itu berhak menentukan pilihannya.

Pintu terbuka saat Marc hendak menekan bel. Seorang wanita berusia kira-kira 40 tahun menyambutnya dengan senyuman hangat. Cerminan Laura versi beberapa puluh tahun lebih tua, pikir Marc dalam hati. Wajah wanita di hadapannya sangat cantik. Tak tampak keriput menghiasi wajah awet mudanya.

“Selamat sore,” sapa Marc gugup.

“Kau sudah datang?” sambut Elena dengan ramah. Senyum masih tampak di bibir wanita itu. Namun, sepasang bola mata itu tak mampu berbohong. Ada kesedihan yang terpancar. Hati Marc seakan tertohok.

“Apa Laura….”

Seakan tahu apa yang hendak dikatakan Marc, Elena segera memotong. “Dia ada di atas. Mengasingkan dirinya sendiri. Tidak mau makan dan… bicara pun hanya seperlunya. Kami sudah kehilangan cara untuk membujuknya,” jelas Elena sembari mempersilakan Marc duduk di ruang tamu.

Marc menoleh ke atas sebentar, kemudian memusatkan perhatiannya ke Elena.

“Apa separah itu?” tanya Marc, tanpa sadar sedari tadi ia menahan napas.

“Kami tidak pernah melihatnya sehancur ini sebelumnya.” Elena menggeleng sembari tersenyum lemah. “Beberapa hari yang lalu, saat Bibi dan Paman mengunjungi Laura di apartemennya, kau tahu, apa yang kami dapatkan saat itu?” Elena menatap lurus ke arah Marc. “Laura tergeletak tak berdaya di kamarnya dengan wajah pucat nyaris seperti mayat hidup. Kami segera membawanya ke rumah sakit dan kata dokter otaknya kekurangan suplai oksigen karena terlalu lama mengurung diri dalam kamar. Kondisinya sudah dalam taraf membahayakan. Seandainya saat itu kami terlambat membawanya ke rumah sakit, akan ada cerita lain, Marc.” Wajah wanita itu memperlihatkan raut lelah. Dan kesedihan itu semakin terpancar jelas.

“Aku minta maaf, Bibi. Aku pantas disalahkan karena kejadian ini. Kau berhak marah padaku—”

“Marc,” potong Elena sembari memandang Marc dengan sorot memohon. “Seandainya marah padamu dapat mengembalikan Laura seperti dulu, Bibi pasti akan melakukannya. Tapi itu tidak mungkin Bibi lakukan. Karena Laura mencintaimu. Dia menjadi seperti ini karena terlalu mencintaimu. Bibi tidak bisa menyalahkanmu. Ada hal-hal yang berada di luar kendali kita jika berkaitan dengan cinta. Cinta kadang bisa membuat kita bahagia hingga lupa diri dan membuat kita menangis karena patah hati. Hal-hal seperti itu pasti terjadi pada setiap orang, termasuk Laura.”

Marc diam membisu, meratapi kesalahan yang ia perbuat. Ia tidak tahu jika perbuatannya hampir membunuh Laura, membunuh gadis yang ia cintai. Beberapa waktu lalu, ia melakukan pemotretan dengan seorang model asal Portugal bernama Sara Sampaio dan berpose sangat intim dengan gadis itu. Awalnya Marc sempat menolak melakukan pose seperti itu. Namun, karena bujukan dari pihak Gas Jeans, salah satu perusahaan pakaian ternama di Spanyol yang mengontraknya, mau tidak mau Marc harus melakukannya. Toh, ia pikir ini hanya pemotretan biasa dan ia hanya cukup berpose secukupnya, lalu selesai. Tapi ia salah besar. Entah karena posenya terlalu intim atau sang fotografer yang terlalu lihai dalam pengambilan gambar, foto-foto yang dihasilkan sempat membuat Marc kaget. Rasanya ia tidak pernah sedekat itu dengan Sara saat pengambilan gambar sedang berlangsung. Begitu intim dan bahkan terkesan sensual.

Elena menyentuh tangan Marc, menepuk pelan punggung tangan laki-laki itu. “Sekarang, temuilah dia. Bujuk Laura. Pergilah, Marc.”

Marc memandang Elena untuk waktu yang cukup lama, sebelum ia memutar tubuhnya, kemudian menaiki undakan anak tangga menuju lantai dua.

Hampir semua sudut di lantai dua terbuat dari kaca yang menjulang tinggi. Marc melewati beberapa pintu hingga kemudian langkahnya berhenti di sebuah kamar dengan pintu ungu yang tidak tertutup sempurna. Marc tahu ini kamar Laura karena di antara semua pintu, hanya pintu inilah yang memiliki warna paling mencolok, selain karena warna ungu adalah warna kesukaan Laura.

Marc mendorong pintu tersebut tanpa menimbulkan suara, melangkah masuk tanpa ragu dan langsung disambut oleh berbagai ornamen berwarna senada dengan pintu kamar. Diam-diam Marc tersenyum kecil. Gadisnya sungguh pecinta ungu. Di apartemennya, Marc jarang melihat benda-benda berwarna ungu. Sangat berbeda jika berada di kamar ini. Marc bahkan melihat beberapa poster dirinya dan Casey Stoner tertempel di salah satu sudut dinding.

Sempat mencari-cari di mana keberadaan Laura, akhirnya Marc menemukannya. Tepatnya, gadis itu duduk di bawah, bersandar di samping tempat tidurnya dan membelakangi Marc.

Marc mendekatinya, mengambil tempat di sebelah gadis itu, yang sepertinya masih tidak sadar akan kehadiran seseorang di sampingnya.

Marc menatap intens pada Laura. Wajah gadis itu masih tampak pucat. Seolah tahu sedang diperhatikan oleh seseorang, kepala itu terangkat dan menoleh ke samping. Mata sayu itu menatap Marc selama beberapa saat. Wajah itu tak menunjukkan ekspresi apa pun hingga kemudian senyum itu… untuk pertama kalinya Marc melihat senyum tercantik yang pernah Laura tunjukkan untuknya. Anehnya Marc diliputi rasa takut melihat senyum ini. Rasanya ia seperti melihat Laura mencoba mengucapkan selamat tinggal padanya melalui senyuman itu.

***

Keduanya membisu. Marc bingung harus berucap apa lagi setelah melontarkan beberapa pertanyaan basa-basi. Sungguh, ia tidak pernah merasa secanggung ini sebelumnya. Biasanya tidak sulit bagi Marc untuk menemukan topik pembicaraan yang seru. Tapi kali ini ia seolah mati kutu. Tiga minggu tidak bertemu. Beginikah hasilnya?

Marc mendengar Laura mengembuskan napas. Mata gadis itu mengarah ke dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan indah di samping rumah; pepohonan pinus, bukit-bukit rendah dan sebuah danau buatan yang tampak cantik.

“Apa kau lihat teratai di sana?”

Sejenak Marc tertegun. Merasa tidak yakin dengan pendengarannya, ia menatap Laura.

“Apa?”

“Teratai yang berada di tengah-tengah danau itu.” Laura menunjukkan jari telunjuknya ke arah bunga teratai tersebut. “Indah sekali, bukan? Walaupun bunga itu hidup di atas lumpur. Tapi itulah teratai. Sekalipun hidup di tempat yang kualitas airnya jelek, dia tetap bisa hidup dan memancarkan keindahannya. Dia akan terus bermekaran sesuai perputaran jam dan akan kuncup jika waktu mengharuskan dia untuk kuncup, dan akan bermekaran lagi pada keesokkan harinya. Begitu seterusnya.” Lagi-lagi senyum berkembang di wajah gadis itu. Marc terdiam, coba menebak apa yang hendak disampaikan Laura.

Mata Marc tertuju lurus pada pergelangan tangan kanan Laura. Tidak ada gantungan apa pun di sana, termasuk gelang berbandul teratai yang pernah ia berikan ketika mereka liburan di Yunani.

Seolah tahu arah tatapan Marc, Laura sedikit memutar tubuhnya, membuka lemari terbawah di sebelah tempat tidurnya, kemudian menarik keluar sebuah benda yang telah ia bungkus dengan plastik bening.

“Ini…,” Laura menyodorkan benda tersebut pada Marc.

“Laura…,” Marc tidak tahu harus berkata apa. Lebih tepatnya kehilangan kata-kata. Antara terkejut dan kecewa.

Karena tak kunjung bereaksi, Laura menarik tangan Marc, membuka telapak tangan laki-laki itu dan meletakkan bungkusan plastik itu di atasnya. “Aku tidak berhak menerima ini,” Laura menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Ada sesuatu meledak dalam diri Marc. Amarah perlahan-lahan menguasainya. “Apa maksud semua ini?” desis Marc tertahan.

Laura menunduk. “Aku sedang berpikir untuk mengakhiri hubungan kita,” jawab Laura, mengatakannya seakan tanpa beban.

“Apa maksudmu?” Mata Marc membelalak. Mendadak ia seperti kehilangan orientasi. Terguncang. Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat sebelum kemudian berpacu cepat, mengentak-entak dadanya.

Laura menarik napas panjang dan mengembuskan dengan pelan. Bibirnya kemudian berucap, “Dua tahun kita lalui dengan berbagai cerita. Kau semakin terkenal. Waktumu tersita hanya untuk pekerjaanmu. Aku tidak sanggup harus menjalankan hubungan jarak jauh denganmu. Aku tidak sanggup menahan rasa cemburuku setiap kali kau berdekatan dengan paddock girls. Dan aku tidak bisa terus-terusan menahan rasa sakit setiap kali kau dikabarkan tengah dekat dengan wanita lain. Aku tahu pikiranku sangat kolot. Aku hanya ingin berkata jujur padamu. Dan sekarang keputusanku sudah bulat. Kita akhiri saja hubungan ini.” Laura menoleh ke arah Marc, meminta dukungan pada laki-laki itu untuk mempermudah keputusannya.

Udara menjadi sesuatu yang langka untuk Marc saat ini. Paru-parunya tidak bekerja dengan baik. Rasanya ada ribuan kerikil yang mengganjal di tenggoroknya.

Genggaman Marc menguat di bungkusan plastik itu. Raut terluka sangat tampak jelas di matanya. “Jangan. Kumohon, jangan berkata seperti itu,” lirihnya. Bungkusan itu terjatuh ke lantai kayu saat kedua tangan itu terangkat, merengkuh wajah Laura. Marc mendekatkan tubuhnya, hampir berada di hadapan Laura. “Katakan kau tidak serius mengucapkannya. Katakan padaku, Laura.” Getaran suara Marc terdengar memilukan di telinga Laura.

“Marc, aku….”

Ucapan Laura tidak selesai saat tiba-tiba saja Marc menarik wajahnya dan membungkam bibir itu dengan satu ciuman yang sarat akan kefrutrasian. Bibir laki-laki itu melumat dalam bibir Laura, seolah ingin memberi tahu sedalam itu juga perasaannya pada gadis itu, bahkan lebih.

Ada rasa sakit yang menghunjam dada Marc saat ciumannya direspons dengan sikap dingin dari Laura. Gadis itu tidak membalas, sengaja mendiamkan Marc dan membiarkannya melumat bibirnya.

Marc menjauhkan wajahnya dan menatap Laura dengan sorot mata begitu terluka. Mata laki-laki itu berair. “Balas aku. Kumohon balas aku, Laura. Aku mencintaimu. Aku sangat menyayangimu, Laura. Aku tidak bisa kehilangan dirimu,” erang Marc frustrasi seraya menempelkan keningnya ke kening Laura.

“Kau bisa, Marc. Kau bisa,” ujar Laura seraya meraih salah satu tangan Marc yang berada di pipinya dan meremasnya pelan. “Lihat dirimu. Kau tampan, terkenal dan rendah hati. Kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan pengertian.”

“Tapi kau adalah satu-satunya gadis yang kucintai, Laura. Kumohon, jangan lakukan ini padaku,” kata Marc dengan suara parau.

Laura menggeleng. “Aku tidak bisa, Marc. Rasanya sangat sulit setelah apa yang telah kita lalui. Mengertilah. Aku cukup lelah menjalani hari-hariku sebagai kekasihmu,” ucapnya lemah.

“Beri aku satu kesempatan lagi, Laura. Satu kali lagi. Kumohon,” pinta Marc.

Laura tidak tahan mendengar nada memohon itu. Air matanya mulai menggenang di sudut mata. Marc sama sekali tidak mempermudah keputusan tersulit yang pernah ia ambil selama eksistensinya. Jika ini tidak segera diakhiri, Laura takut ia akan menangis lebih banyak lagi.

“Aku lelah, Marc.” Laura mendorong pelan tubuh Marc, kemudian bangkit berdiri. Tubuhnya sedikit oleng dan hampir terjatuh jika saja Marc tidak sigap menangkapnya. Laura kembali mendorong tubuh Marc menjauh setelah mampu berdiri dengan benar. “Kau bisa keluar dari kamarku sekarang. Aku ingin beristirahat.” Gadis itu berbalik memunggungi Marc.

“Laura….”

“Keluar.”

“Sayang.”

“Keluar!” bentak Laura. Dua bulir air matanya jatuh membentuk riak kecil di pipinya.

“Baik-baik. Aku keluar,” ujar Marc dengan sikap mengalah. Mata laki-laki itu tidak dapat menyembunyikan sakit yang mendalam. Marc melangkah ke arah pintu yang ia masuki tadi. Sebelum mencapai ambang pintu, ia memutar tubuhnya, memandangi punggung gadis itu yang bergetar. “Seandainya suatu hari nanti kau merindukanku, kau boleh datang kepadaku. Aku akan memelukmu. Dan suatu hari nanti jika kau ingin kembali, hatiku akan selalu terbuka untukmu. Aku selalu siap menerimamu. Karena aku mencintaimu dan aku tahu kau juga mencintaiku.”

Usai berkata seperti itu, Marc keluar dan berjalan menyusuri anak tangga dengan langkah lunglai. Ia berhenti di undakan terakhir saat Elena muncul di hadapannya.

“Marc….”

“Dia mundur.”

Bersambung…

Oke, aku tau ini cerita ancur banget dan mungkin sebagian pembaca mulai merasa bosan dengan cerita yang ”itu-itu” saja kayak gak ada ide lain buat nulis sesuatu yang baru. Aku tidak keberatan kalau kalian mau kritik sepedas-pedasnya terhadap karyaku. Dan buat pembaca yang masih setia nunggu kelanjutan My Secret, His Son ataupun The One That Got Away, aku tidak bisa menjanjikan kapan akan melanjutkan kedua ff tersebut karena sekarang aku sudah disibukkan oleh jadwal kuliah yang padat yang setiap harinya selalu aja ada tugas. Aku juga mau ngucapin terima kasih buat pembaca yang pernah, masih dan tidak lagi membaca karyaku, tanpa kalian blog ini mungkin tidak akan ada apa-apanya dan tidak akan dikenal orang. Kutunggu komennya. Thanks for reading….

15 thoughts on “Trilogy White Lotus : Give Me One More Chance #1

  1. Kasian si Marc nya 😔 pantas Free Prectice nya hari ini awur2an😭 ternyata masalah lagi sama Laura tooh 😔 iya sih, kalau aku jadi Laura pasti cemburu banget..makanya, kalo punya cowok secakep Marc itu enaknya dimasukin dalam karung terus dikurung dalam menara tinggi *Rapunzel dong 😞* by the way, cepet dilanjut ya, Rit..penasaran dehh ☺️

    Suka

  2. ya ampun laura knpa dikau mengurung diri cuman gr” itu -_- jujur ni cerita bagus banget kak ritaaa😀 next part panjangin dong kak sumpah ni baca nya gak puas kurang banyak kak hehehe makasih kak buat tag nya😀 next nya jangan lama” ya kak😀

    Suka

  3. Masih awalan….
    Belum dapet feelnya hehe😀

    aku tunggu lanjutannya

    hmm
    Laura….patah hati sampe segitunya, emang sih LDR itu sulit dijalanin…tapi mau gimana lagi, lagian itu udah jd resiko kamu pacaran sama Atlet sekaligus publik figur kayak Marc.

    Just for Laura :

    “cinta bukan diketahui melalui jarak dekat ataupun jauh”

    “hatimu mungkin selembut kapas sehingga terpaan angin sedikitpun dapat menerbangkan helaian sisi dihatimu”

    “jangan kau gunakan kekuatan cintamu padanya dengan matamu karena apa yang kau lihat bisa saja melukai hatimu yang selembut kapas”

    #Gaje banget nih kata2ku buat Laura#

    Suka

  4. . kebiasaan’mu neng ngegantung cerita , bkn orang penasaran. hiiiiiii
    . ditunggu yah cerita lainnya
    . kalo bisa shii onoh shii sara sampa’H’io dimasukin adja karakternya

    Suka

  5. meskipun temanya itu2 aja tapi aku selalu terbawa suasana rit baca ff kamu! Haha. Btw saking terbawanya aku ngerasa sifat marc yg kyk gitu bener2 nyata. Buru2 posting next partnya yaaa😀

    Suka

  6. gw bisa ngeri kok perasaan laura, bukan lebay tapi disaat kita sayang banget sama irang lain pasti ada rasa yg selalu ingin bertemu, tidak LDR, bukan egois, tapi begitulah cinta, dan Laura bukan hanya sekedar LDR biasa, bukan hny beda provinsi, negara, bahkan kadang bisa besa benua kan?
    ditambah dengan gosip2 yg sering muncul, tambahan “bumbu” dari media, lengkaplah sudah.
    😞

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s