Curhatan Seorang MABA

Kali ini mau cerita tentang kelanjutan hidupku setelah dipecat secara hormat dari SMA tercintaku. Well, ini bakal jadi postingan pertamaku yang berisi tentang masa-masa perkuliahan di salah satu sekolah tinggi pariwisata di Bintan. Jadi buat yang belum tahu, aku cuma mau ngasih tahu kalo aku akhirnya melanjutkan sekolahku di Sahid Bintan Institute of Tourism. Lho? Kok bisa? Ya, dibisa-bisain ajalah. Wong udah jadi mahasiswi di STP ini kok. Hihihi….

Lalu, bagaimana kehidupannya? Seru gak jadi mahasiswi? Ada perubahan gak? Pasti dong ada yang berubah.

Kehidupanku baik-baik aja. Sangat baik malah. Cuma ya gitu. Aku masih belum bisa beradaptasi dengan suasana perkuliahan. Maksudnya dunia pariwisata dan segala tetek-bengek yang berhubungan dengan pariwisata masih terasa asing banget buat aku seperti istilah-istilah baru yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Tapi, it’s not too bad-lah. Cuma aku sedikit kesulitan untuk mengimbanginya. Soalnya otakku sudah ter-setting khusus untuk otak scientist (teori), sedangkan di pariwisata lebih kepada profesi (praktik). Jadi, it’s quite hard for me-lah. But, I’ll try to change my mind. Soon.

Untuk teman-temannya lumayan asyik. Enak diajak bertukar pikiran dan bekerja sama. Jadi everything’s fine untuk masalah friendship.

Trus apa kabar bagi para dosen? Hm, relatiflah. Ada yang ngebosenin dan ada juga yang nyenengin. Tapi tetep, tugas selalu ada untuk setiap harinya. Kesimpulannya seperti ini : Gak mau dikasih tugas? Ya gak usah kuliah. Gitu kok repot.

Kalo baca cerita-cerita di atas kayaknya gak ada masalah ya? Sebenarnya ada sedikit masalah sih. Dan aku masih nimbang-nimbang buat kuceritakan di sini. Soalnya masalah ini cukup sensitif dikarenakan berkaitan dengan SARA. Lah? Emangnya diriku diapakan toh? Tenang. Diriku tidak diapa-apakan kok. Cuma ya, ada sedikit kejadian pada minggu lalu yang kurang menyenangkan dan bikin aku naik darah. Tapi harapanku sih semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Kita kan sama-sama umat beragama. Walaupun berbeda, setidaknya bisalah kita saling menghargai dengan menjalankan kepercayaan masing-masing. Jadi kita bisa merasa nyaman satu sama lain. Tidak perlu adanya pemaksaan kehendak yang berada di luar kepercayaan seseorang.

Untuk perubahan secara pribadi sih, hm, tidak terlalu banyaklah. Yang paling mencolok mungkin sejak kuliah mulai menyentuh alat-alat make up yang sebelumnya najong bener dipegang. Soalnya anak pariwisata apalagi di bagian perhotelan, grooming is the first. You have to look interested *rapi dan bersihlah pokoknya* so your guests in hotel will be satisfied. And don’t forget to always smile to everyone. Nah, yang ini susah-susah gampang. Kenapa? Emangnya kalo situ lagi dongkol masih mau senyum sama orang lain? Kalo senyum paling senyum terpaksa. But, in hospitality industry we need to serve with a warm heart and smilee. Entah itu situ lagi dongkol gara-gara diputusin pacar, lagi ngambek sama ortu karena uang jajan dipotong, dan lain sebagainya. Kesimpulannya harus ikhlas lahir dan batinlah.

Hm, mungkin cukup sekian yang bisa aku tulis. Buat yang tanya-tanya bagaimana kelanjutan ff-ku? Well, I’m not sure that I’ll be posting soon. But, I’ll to write as much as I can. It depends on my free times. See you😉

2 thoughts on “Curhatan Seorang MABA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s