Mini FF : Just Believe in Me

Author’s note : Well, setelah sekian lama hilang dari peredaran, baru ngepost ff hari ini. Sebenernya sih mau ngelanjutin part yang kemarin2. Cm berhubung tidak rampung2 juga ya akhirnya di post sajalah mini ff ini dulu. Hohoho. Dan buat Rita, anak emak tersayang *peluksambilguling2*, thanks boleh ngotor2in blog kamu nak, thanks jg ide berserta pembenaran ejaan *yg selama ini tidak emakmu ini ketahui -.-* Anyway, happy reading ya! Maklumin aja kalo agak boring + gaje😀.

***

Alicia Scheuneman, model asal Jerman yang sempat diisukan dekat dengan salah satu pengusaha minyak terbesar, kini membuat sensasi lagi. Baru saja diberitakan putus minggu lalu, Alicia sudah menjalin hubungan yang dikabarkan cukup kontroversial.

Bagaimana tidak? Pasca berakhirnya satu tahun kisah cinta Alicia dan Maverick –pengusaha itu, seminggu kemudian Alicia langsung mengumumkan rencana pertunangannya dengan seorang dosen muda asal Spanyol. Diketahui dosen itu bernama Daniel Pedrosa. Berbagai foto mesra keduanya pun sudah beredar luas.

Bagaimana tanggapan Bradl, suami Alicia terkait isu yang sedang hangat diberitakan di media itu? Dan bagaimanakah kelanjutan hubungan Alicia dengan Dani Pedrosa? Apa mereka benar-benar akan merealisasikan rencana pertunangan mereka? Mari kita saksikan dalam berita acara hari ini…

Klik!

Adel mematikan televisi. Ia melempar benda mati berbentuk persegi panjang itu dengan kasar ke meja. Apa-apaan berita tadi? “Dasar infotaiment sialan!” umpatnya dalam hati.

Sisa sarapan pagi itu ia habiskan sekenanya. Tidak peduli menelan makanan tanpa dikunyah bisa berdampak buruk atau tidak. Perasaannya sudah terlanjur kesal sekarang. Emosinya meluap tidak keruan dan jarum jam hampir menunjukkan angka delapan tepat.

Oh, tidak. Adel bisa terlambat berangkat ke kampus. Ini akibat ia menonton televisi pagi itu dan terlalu sibuk mendengarkan serentetan kata tidak penting yang diucapkan presenter tersebut.

Dengan terburu-buru ia mengambil kunci mobilnya di atas lemari, kemudian pergi ke kampus. Ia bertekad tidak akan mendengarkan laki-laki itu, apalagi berbicara dengannya.

***

“Anak-anak, sehabis kelas saya selesai, ada kelas tambahan selama dua jam pelajaran. Boleh ikut, boleh tidak. Kalian harus ingat kalau ujian semester dilaksanakan sebentar lagi. Well, selamat siang anak-anak,” kata Mr. Jorge.

“Kau mau ikut kelas tambahan tidak?” Laura menyikut lengan Adel.

“Emang kelas tambahan siapa sih?” tanya Adel.

“Mr. Dani,” jawab Laura.

Adel tercekat. Saat telinganya menangkap nama laki-laki itu saja sudah cukup membuatnya sakit.

“Tidak, aku mau pulang dulu,” sahut Adel singkat.

Gadis itu mengambil tas punggungnya dan keluar dari kelas seni. Beberapa anak yang masih ada di dalam sana hanya melongo melihat Adel. Tidak biasanya gadis itu membolos dari kelas, bahkan kelas tambahan pun tidak pernah mencatat absensi dirinya.

Sambil memasukkan buku sketnya ke loker, berkali-kali Adel menghela nafas. Ia segera melangkahkan kakinya ke tempat parkir begitu selesai mengunci lokernya.

“Tunggu,” sebuah tangan menahan pintu mobil.

Adel melengos. “Aku mau pulang. Bisa singkirkan tanganmu dari situ?”

“Kau masih marah?” tanya laki-laki itu.

“Kau pikir sendiri saja, Dani.” Adel menjawab ketus, lalu menutup pintu mobil.

Decitan ban menggema di tempat parkir, sebelum akhirnya mobil hitam itu menghilang dari pandangan Dani. Entah sudah berapa kali ia mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya, Adel tetap saja tidak menggubrisnya.

Dengan langkah gontai, Dani kembali ke dalam kampus. Sebagai seorang dosen muda lulusan terbaik di Spanyol, ia memang menjadi incaran kaum hawa di kampus. Namun dari sekian banyak perempuan, pilihannya jatuh pada gadis itu. Ya, Adelaide Alessandra.

Bukan karena gadis itu kaya dan punya segalanya. Bukan juga karena gadis itu pintar dan cantik, melainkan karena gadis itu menarik. Adel disukai banyak orang dan dapat menarik perhatian mereka dengan mudah. Itulah yang menjadi nilai tambah sendiri bagi Dani.

***

“Ujian kali ini menentukan apakah kalian bisa mengikuti ujian akhir semester. Kalau nilai kalian buruk pada ulangan kali ini, maka ujian kalian akan ditunda sampai bulan depan. Jadi kalian harus bersungguh-sungguh. Mengerti?” jelas Dani panjang lebar.

Seisi kelas mengangguk. Kertas berisi soal ujian tentang anggaran perjalanan wisata mulai dibagikan. Di meja depan, anak-anak dengan nilai terbaik sengaja dikelompokan di situ. Untuk mencegah kecurangan. Adel termasuk diantaranya.

Setengah jam sudah berlalu. Lembar jawaban Adel hampir terisi penuh. Di soal terakhir, mendadak kepalanya terasa berat. Pandangannya kabur, dan tangannya bergetar pelan. Adel berusaha menyelesaikan soal itu.

Ia tidak peduli apapun sekarang, yang ia pikirkan hanyalah nilai ujian akhirnya. Semua mata pelajaran memberikan nilai sempurna untuknya, dan ia tidak mau merusaknya dengan nilai buruk pada ujian ini.

Saat kalimat terakhir selesai ditulis, gadis itu jatuh pingsan di kelas. Dani yang panik tanpa berpikir lagi langsung membawa Adel ke rumah sakit milik ayahnya, setelah menitipkan kelas pada dosen lain.

***

“Kau sudah sadar?”

Adel bergeming. Sunyi dan tidak ada tanggapan.

“Oh, ayolah.. Mau sampai kapan kau terus bertingkah begini?” erang Dani frustrasi. “Aku semakin cemas melihatmu pingsan seperti tadi, Adel.”

Gadis itu menatap Dani dengan tatapan aku-meminta-penjelas anmu-sekali-lagi.

“Apa kau tidak percaya padaku? Kau tidak ingat komitmen pertama kita waktu itu? Aku sudah menceritakan semuanya padamu, aku tidak pernah punya hubungan apapun dengan wanita itu.”

“Benarkah?” akhirnya Adel membuka mulutnya juga.

“Apa aku pernah berbohong padamu?”

Adel berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan. “Tapi, kenapa media memberitakanmu akan bertunangan dengan model itu? Apa kau tidak tahu betapa cemburunya aku melihat berita itu?”

Dani tertawa. “Aku tahu. Dan karena itulah aku membiarkanmu tenang beberapa hari. Eh, ternyata kau marah lebih dari yang aku kira.”

Bibir Adel mengerucut. “Bagaimana sekarang pemberitaan media? Sampai kapan kau harus muncul disana bersama model itu? Aku bingung, kenapa kau yang jadi sasarannya. Padahal, kan, kau bukan orang terkenal..”

“Rupanya kau terlalu sibuk belajar ya? Wanita itu sudah membuat sensasi lagi dengan laki-laki lain. Pemberitaan kami berakhir setelahnya. Aku tidak tahu apa yang membuat suaminya bisa bertahan sejauh ini. Lagipula, buat apa kau memusingkan berita yang belum tentu jelas kebenarannya?” jelas Dani.

Kini Adel terdiam lagi. Gadis itu merasa ia membuang waktu untuk hal tidak berguna seperti itu. Menutup telinga terus malah membuatnya semakin tidak percaya pada Dani.

“Maaf,” ujar Adel menyesal.

“It’s okay. Well, sebagai pelunasan permintamaafanmu itu, kau harus menemaniku pergi seminar ke Jerman,” kata Dani tiba-tiba. “Aku pergi saat liburan panjang semester, jadi kau tidak perlu khawatir,” tambahnya lagi.

Adel meraih tangan Dani dan meremasnya lembut. “Apa tidak masalah aku pergi bersamamu nanti? Ehm, maksudku, kalau anak-anak lain tahu bagaimana?”

“Lebih tepatnya kalau hubungan kita ketahuan, bagaimana? Begitu, kan, maksudmu?”

Gadis itu mengangguk.

“Kita jawab saja apa adanya. Aku pacarmu dan kau adalah pacarku, jadi aku juga tidak akan melihatmu didekati laki-laki lain. Aku tidak sanggup,” Dani meledek Adel dengan raut mukanya yang dibuat memelas.

Adel tersenyum lebar dan mengacak-acak rambut Dani. Tidak lama, Adel diperbolehkan pulang. Ia hanya diinfus satu botol saja dan selebihnya diberi vitamin untuk satu minggu ke depan.

Kemudian Dani mengantar Adel pulang dan memastikan gadis itu beristirahat sebelum liburan semester diumumkan.

“Istirahat yang cukup, hm?” ucap Dani sembari mengecup kening Adel.

“Hmm… By the way, terima kasih ya.”

Dani menarik kedua sudut bibirnya ke atas, memamerkan sederet gigi putihnya yang berjajar rapih. Ia mengangguk, lalu keluar dari kamar Adel dan kembali lagi ke kampus.

***

Selamat pagi pemirsa, selama satu jam ke depan, saya Kamila Rosabel akan menemani anda dalam berita selebriti hari ini. Kabar terhangat kembali datang dari Alicia Scheuneman. Model Jerman itu kini menggandeng Scott Redding, pembalap sekaligus calon pewaris perusahaan Crown terbesar di Eropa.

Hampir menginjak usia kepala tiga membuat Scott tampak serasi dengan Alicia, yang kini sudah bercerai dari Bradl. Tampaknya…

Klik!

Adel hanya tersenyum pagi itu. Baginya pemberitaan di media tidak penting. Benar kata Dani, ia tidak perlu memusingkan apa yang belum tentu benar.

Ia menarik nafas lega. Setidaknya masalah kemarin sudah selesai.[]

4 thoughts on “Mini FF : Just Believe in Me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s