My Secret, His Son #10

My Secret1 copy

Sedikit duet dengan Mamak Nata di ff ini. Makasih buat Kak Riza yang udah ngasih saran. Tapi entah kenapa aku masih ngerasa gimana gitu sama ff ini. Sedikit aneh dan mungkin salahku juga karena tidak bisa menempatkan adegan per adegan pada posisi yang pas (read : salah posisi). Kritik dan saran kutunggu. Kalau perlu, kasih aja kritik sepedes-pedesnya. It’s okay. Aku lebih butuh yang satu ini untuk mengevaluasi tulisanku. Akhir kata, happy reading😉

“Mama Roser…,” panggil sebuah suara manja dari arah aula depan.

Roser mengangkat wajahnya dan senyum hangat lantas berkembang di bibirnya. Roser meletakkan majalah yang sedang dibacanya, kemudian bangkit dari sofa, lalu berjalan menghampiri seorang gadis kecil berambut ikal panjang hitam yang dibiarkan tergerai dan mengenakan gaun kuning selutut itu. Gadis itu tidak sendirian. Di belakangnya ada seorang pengasuh.

“Adel, Sayang…,” Roser membungkuk dan meraih tubuh mungil gadis berusia 8 tahun itu ke dalam pelukannya. “Aku rindu sekali padamu. Sudah lama kau tidak mengunjungi Mama,” ucapnya di puncak kepala Adel.

Adel mendongak dan memamerkan gigi ratanya. “Aku juga rindu Mama Roser,” balas Adel seraya menunjukkan mimik polosnya.

Adelaide Alessandra Stoner, putri tunggal dari pasangan pengusaha besar, Casey Stoner dan Adriana Stoner yang memiliki basis perusahaan di berbagai belahan dunia. Perusahaan Casey bergerak di bidang elektronik, sementara Adriana di bidang kecantikan. Banyak produk-produk terkenal yang lahir dari perusahaan mereka. Jadi tidak heran mereka sering keluar masuk negeri, menghadiri rapat, peluncuran produk dan sejenisnya. Dan Adel, gadis kecil itu harus ikut ke mana pun orangtuanya berada. Kadang jika orangtuanya berada di negara yang berbeda, Adel lebih sering ikut ibunya.

Roser tersenyum geli. Wanita itu mengusap penuh sayang rambut Adel. “Kau pasti ingin bertemu dengan Marc, ‘kan?” duga Roser.

Adel mengangguk penuh semangat. Ia sangat ingin bertemu dengan teman sepermainannya. Karena sering berada di luar negeri, Adel tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Marc.

“Baiklah. Ayo kita ke belakang. Dia sedang belajar dengan guru privatnya.”

Maksud kata belakang yang dipakai Roser merujuk pada sebuah perpustakaan luas dengan puluhan ribu buku-buku menghiasi setiap raknya. Dinding perpustakaan itu dihias jendela kaca besar dan menjulang tinggi yang menambah kesan modern. Lantai dan dan beberapa perabotan di dalamnya terbuat kayu, serta sebuah tungku perapian berada di tengah-tengah, memberi sentuhan klasik. Perpaduan yang sangat pas.

Roser membawa Adel masuk ke sana.

Kedua orang itu mendongak saat pintu perpustakaan terbuka. Mr. Lorenzo, guru privat Marc berkepala plontos itu mengangguk sopan ke arah sang nyonya besar. Berbeda dengan Marc yang duduk di hadapan Mr. Lorenzo, menyipitkan matanya pada gadis kecil yang berdiri di sebelah ibunya. Gadis kecil itu tersenyum lebar dan melambai padanya.

“Mr. Lorenzo, apa kau keberatan jika kelasmu diakhiri lebih cepat?” tanya sang nyonya besar dengan penuh wibawa.

“Tentu, tidak, Ma’am,” jawab Mr. Lorenzo tanpa senyum. “Saya akan memberi beberapa pekerjaan rumah untuk Marc,” lanjutnya.

“Tidak, jangan,” sela Roser, membuat baik Marc dan Mr. Lorenzo sedikit terkejut. Ini tidak seperti biasanya. “Hari ini kau tidak perlu memberinya pekerjaan rumah.”

“Baiklah. Kalau begitu saya pamit,” kata Mr. Lorenzo dan segera berlalu.

Marc masih duduk diam, memandangi Roser dengan penuh tanda tanya besar di kepalanya. Buku-buku di hadapannya masih terbuka dan ia enggan menutupnya kembali. Kemudian matanya beralih pada gadis kecil itu, masih tersenyum pada Marc.

“Nah, Marc,” mulai Roser tanpa nada datar seperti biasa saat wanita itu berbicara padanya. “Bawa Adel jalan-jalan. Kalian sudah lama tidak bertemu, ‘kan? Kau bisa bermain dengan Adel.”

Marc bergeming. Karena tidak tahan, Roser menatap putranya dengan tatapan jangan-membantah-dan-lakukan.

Marc menarik diri dengan ogah-ogahan dan berjalan ke arah pintu keluar. Sebelum melewati ambang pintu, ia membalikkan tubuh dan matanya tertuju pada Adel.

“Ayo kita ke halaman belakang. Kita bermain di sana saja,” ajak Marc pada Adel dengan nada tak bersahabat.

Senyum Adel sedikit memudar. “Kau tidak suka ya aku mengganggumu?”

Tubuh Roser tersentak. Wanita itu langsung melotot pada Marc.

Marc menggaruk tengkuknya, sedikit terintimidasi karena tatapan ibunya. “Bu-bukan…. Maksudku tidak seperti itu. Aku hanya terkejut melihatmu di sini,” ungkap Marc sembarangan.

“Benarkah?” Adel mengerutkan keningnya. Senyumnya hilang. “Tapi, kenapa kau tidak tersenyum kepadaku?”

“Aku… eh, aku…,” Marc kehilangan kata-kata.

“Adel, Sayang,” sela Roser dengan nada sangat lembut. Wanita itu sedikit menunduk. “Coba hitung sudah berapa lama kalian tidak bertemu?” tanya Roser sembari mengelus-elus pipi tembam Adel.

Adel menggeleng. “Setahun, mungkin.”

“Kau tahu dalam setahun orang bisa sangat cepat berubah? Termasuk Marc,” Roser melirik Marc, lalu kembali ke Adel. “Marc banyak berubah.”

“Aku tidak mengerti, Mama Roser,” kata Adel.

“Coba kau lihat tubuh Marc,” suruh Roser seraya menuntun Adel. “Apa yang berubah?”

“Dia bertambah tinggi dan…,” Adel sontak memalingkan wajahnya. Mendadak ia merasa malu. Pipi gadis itu merona.

“Dan apa?” goda Roser, tersenyum geli melihat tingkah Adel.

“Mama…,” rengek Adel manja.

“Marc bukanlah Marc yang dulu. Dia sudah tumbuh menjadi anak remaja. Sikapnya juga berubah,” bisik Roser di telinga Adel

“Apa itu ciri khas anak remaja?”

“Begitulah. Mereka biasanya sok jual mahal.”

Adel terkikik pelan. “Apa anak remaja boleh berpacaran?” tanya Adel malu-malu.

“Boleh dong, Sayang.”

“Aku ingin berpacaran dengan Marc, Mama,” bisiknya.

“Kalau begitu rebutlah hatinya. Dia akan menjadi pacarmu,” ujar Roser tersenyum lebar.

Di balik senyumnya, diam-diam Roser mendelik ke arah Marc dan memberi putranya peringatan melalui sorot tajam matanya.

***

Akhirnya, hari yang selalu ia nanti-nantikan tiba juga. Sebuah momen yang sangat ia impikan sejak dulu, menjadi istri sah seorang Marc Marquez Alenta.

Sebuah gazebo kayu yang berada di tengah-tengah taman belakang kediaman keluarga Márquez—terbentang luas dengan hamparan hijau dari reremputan basah dan pepohonan rindang—beratap terbuka dengan setiap sisinya dihias kain putih berbahan satin, akan menjadi tempat Marc dan Adel mengucapkan janji suci. Gantungan botol yang berisi baby breath di tiang atap menambah kesan manis, serta jejeran bunga lainnya di jalan masuk semakin mempercantik tempat ini. Setiap mata yang memandangnya akan merasa nyaman. Ditambah sebuah danau buatan terletak beberapa meter dari gazebo membuat semuanya tampak luar biasa indah.

Semua kursi telah terisi penuh, pengantin pria sudah siap di depan altar, dan kini yang ditunggu adalah pengantin perempuannya. Adel tahu ia harus segera menyusul Marc di luar sana. Ia menghela napas gugup. Sebentar lagi acara pemberkatan akan dilangsungkan.

Adel mematut dirinya untuk terakhir kalinya di depan cermin besar yang tertempel di dinding, memastikan dirinya tampak sempurna untuk hari istimewanya, menjadi ratu sehari dan pemaisuri di hati Marc. Rambut ikalnya yang dijepit ke samping membuatnya tampak anggun.

Berbalut gaun terbuka pada bagian punggungnya berwarna broken white dan sebuket lily calla di tangannya, Adel mulai berjalan dari ambang pintu menuju taman belakang yang telah disulap sedemikian rupa bak di negeri dongeng—sungguh merupakan pernikahan impian setiap wanita.

Ia bisa melihat Marc dari tempatnya berdiri. Pria itu terlihat sempurna dengan jas hitam dan kemeja berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Adel. Perlahan, langkah kaki membawa Adel semakin mendekat ke arah Marc. Senyum tak pernah terlepas sedetik pun di wajah manisnya.

Adel merasa ia akan meraih apa yang ia inginkan saat ini, beberapa meter lagi ia sampai di depan altar. Mereka tinggal mengucapkan janji suci pernikahan, lalu mulai detik itu Marc akan menjadi suaminya. Jarak mereka tinggal satuan langkah, namun entah kenapa suasana di sekitarnya terasa aneh. Semua mata tamu tertuju pada altar, tidak pada dirinya.

Dan senyum itu seketika memudar.

“Marc Marquez Alenta, bersediakah engkau menerima Laura Amberita Sanchez sebagai istrimu dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, dalam kesusahan maupun kebahagiaan dan akan selalu mencintainya sebagai pasangan hidupmu?”

Mendadak tubuh Adel membatu di tempat. Apa… ia tidak salah dengar? Adel bahkan belum berdiri di samping Marc ketika pendeta itu menyebutkan janji pernikahan. Lalu, siapa yang disebutkan tadi? Laura? Si penjual bunga itu?

Tidak. Ini tidak mungkin. Pasti ada yang salah.

Kepanikan sontak merasuki Adel. Dilihatnya barisan terdepan, tempat di mana seharusnya keluarga Marc dan keluarganya berada. Namun, di mana keluarganya? Kenapa hanya ada keluarga Marc saja? Roser, ibunya Marc, tampak menangis terharu menyaksikan putranya yang akan menempuh hidup baru.

Mama Roser, Adel memanggil dalam hati dengan nada pilu.

“TIDAK!” Adel menjerit. Air mata mengalir turun di pipinya. Tidak ada yang mendengar jeritannya. Tak satu pun memedulikan kehadirannya.

Isakan Adel semakin keras. “Kumohon, Marc! Hentikan pernikahan ini. Kumohon. Bukan dia! Tapi, aku! Aku calon istrimu, calon pasangan hidupmu!”

“Ya, aku bersedia.”

Adel merasa kedua kakinya lemas. Tubuhnya merosot di tengah-tengah bentangan kain satin yang memanjang yang ia lalui tadi. Sementara di sisi kiri dan kanan para tamu undangan bertepuk tangan. Siulan terdengar di mana-mana. Dan tiba-tiba saja semua mata menatap tajam ke arahnya. Sebagian membicarakan dirinya, sebagian menunjuk ke arahnya sambil mencemooh. Suara tawa terngiang-ngiang di telinganya. Adel terisak hebat, tangannya berusaha menutupi telinganya erat-erat. Kepalanya terasa berputar, pandangannya kabur, ia tersungkur dengan perasaan yang hancur. Hatinya sangat sakit.

***

“Adel… Adel…, bangun, Sayang. Hei, kau hanya bermimpi. Adel, Nak.” Roser menggucang pelan tubuh Adel.

Mata Adel sontak terbelalak. Sirat ketakutan tampak di kedua bola mata beningnya. Napasnya memburu. Bibirnya gemetaran. Pelipis dan lehernya basah oleh keringat.

“Mama,” bisik Adel hampir tidak terdengar.

“Tidak apa-apa, Sayang. Kau hanya bermimpi. Semua akan baik-baik saja.” Roser merengkuh tubuh Adel ke dalam pelukannya. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Adel dan bibirnya membisikkan kata-kata menenangkan di telinga gadis itu.

“Aku takut, Mama,” isak Adel di dada Roser.

“Apa yang kau takutkan, Sayang? Bilang pada Mama.”

Adel menjauhkan tubuhnya. Dengan mata basah ia menatap Roser dan berkata, “Aku rasa Marc tidak ingin menikah denganku.”

Dahi Roser berkerut mendengar perkataan Adel. “Apa maksudmu, Sayang?” Roser meraih telapak tangan Adel dan meremasnya lembut. “Dia tidak memiliki alasan apa pun untuk tidak menjadikanmu sebagai istrinya. Hei, lihat dirimu. Kau sempurna, Adel. Kau calon istri impian. Kau cantik, baik dan….”

“Marc tidak mencintaiku,” potong Adel dengan nada perih. Pujian-pujian Roser tidak berarti banyak untuknya. Ia tidak butuh pujian. Ia hanya butuh cinta yang tak ia dapatkan dari laki-laki yang ia cintai.

“Adel, dengar Mama,” Roser menangkup pipi Adel yang agak tirus. Gadis itu kehilangan berat badan semejak kepulangannya dari rumah sakit. “Marc mencintaimu. Hanya saja caranya mencintaimu tidak sama dengan kebanyakan pria.”

Benarkah? tanya Adel dalam hati. Adel ingin percaya pada kata-kata Roser. Ia sangat ingin. Tapi rasanya sangat sulit. Ia bukan lagi Adel kecil yang mudah dibohongi dan diperdaya oleh kata-kata.

“Tidak, Mama. Marc tidak pernah dan tidak akan pernah mencintaiku. Dia….”

“Itu tidak benar!” Roser memotong ucapan Adel. “Dengar. Hanya kau gadis satu-satunya yang ada di hati Marc. Tidak ada yang lain. Kau mengerti?” ucapnya seraya menghapus sisa-sisa air mata di wajah manis Adel.

Adel terdiam beberapa saat. Coba merenungkan kata-kata Roser barusan. Masih ada keraguan di benaknya. Tentang Marc dan… Laura. Adel tidak mengenal Laura. Ia hanya tahu wanita itu adalah orang yang pernah ia datangi bersama Marc untuk membeli bunga. Hanya itu. Tapi kenapa Laura bisa muncul dalam mimpinya? Lalu, apa maksudnya? Apa ini semacam pertanda? Marc pernah berhubungan dengan Laura? Adel masih sangat ingat Marc pernah menyerukan nama Laura pada saat…. Apa mungkin itu adalah Laura yang sama? Laura si penjual bunga itu?

“Adel?”

Adel tersentak dari lamunannya. “I-iya?” responsnya tergagap.

“Kau baik-baik saja, ‘kan? Apa kau mau Mama membuatkan sup hangat untukmu?” tawar Roser seraya tersenyum hangat pada calon menantunya.

“Tidak, terima kasih. Aku sedang tidak ingin memakan apa pun,” tolak Adel dengan sopan.

Mata Adel menyapu ke jendela kaca yang masih tertutup oleh tirai, melindungi sinar matahari masuk ke kamar. Walau begitu, sinarnya masih saja lolos melalui celah-celah kecil. Pasti matahari sudah meninggi, tebak Adel dalam hati. Ia bangun kesiangan. Tempat di sampingnya sudah kosong. Pasti Marc sudah berangkat ke kantor.

Roser memandang Adel sejenak. Wajah gadis itu masih muram. Roser kembali membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Tangan Roser bergerak, membelai rambut hitam milik Adel.

“Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja hingga hari pernikahan kalian,” bisik Roser.

“Aku tidak mau kehilangan Marc, Mama.” Adel menggeleng di dada Roser.

“Tidak akan, Sayang. Mama jamin hanya kau satu-satunya yang ada di hati Marc. Dia tidak akan berpaling ke wanita mana pun. Dia milikmu. Hanya kau yang pantas untuknya. Mama janji,” janji Roser pada Adel.

Ada tekad kuat dalam kata-kata Roser. Dan Adel sangat lega mendengarnya. Ia tahu jika Roser sudah berkata Marc adalah miliknya, maka selamanya Marc akan menjadi milik Adel.

To Be Continued…

Jadilah pembaca yang budiman, oke? Boleh komen di Twitter @MissTata_Real, Facebook Rita Huang maupun di blog. Thank you for reading😉

11 thoughts on “My Secret, His Son #10

  1. Dani-nya kemana ya? Aku penasaran pas bagian dia bilang “Miguel adl fakta yg tak terbantahkan” tp habis itu ngilang terbawa angin, dan malah nyeritain Miguel ketemu Anne trus sekarang pernikahan Marc-Adel. ._. Kalimat Dani itu potensial buat jadi konflik dan twist baru loh. Part 9 dan 10 seakan “menghindar” dari konflik dan malah nyeritain subplot yg memang menarik sih tp bikin ceritanya terkesan bertele-tele. ._.

    Suka

    • Sejujurnya, aku selalu nge-blank kalo udah nyangkut bagian Dani *efek gak cinta sama doi* Susah banget bangun chemistry-nya. Jadi emang bener sih ceritanya bertele-tele dan porsinya pun gak seimbang. Btw, makasih atas kritikannya😉

      Suka

  2. yg ingin ku tanya kan ttg mimpi adel . Udah di jawab di paragram bawah. . .

    Trus kan yg atas membahas waktu lampau. .harus nya kan di kasih tanda yg beda. . Dulu aq pernah kritik yg begitu. . Trus di karya km yg lain. . Km bikin warna tulisan beda. .biar tau itu alur nya mundur . . .

    Ini si adel blm resmi nikah. . .wah. . Bisa2 batal kawin. . .

    Oke itu aja . . .*semangat rita. . .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s