My Secret, His Son #9

My Secret1 copy

Kuucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk Kak Riza atas bantuannya selama ini. Semoga gak bosan ya jadi editor-ku😀 Tidak lupa juga untuk Tike. Hai, di mana dirimu? Semoga sukses ya. Dan terima kasih atas usulan buat nama panggilan Miguel kecilku. Dan juga terima kasih untuk para pengunjung blog Symphony Rita yang tidak bosan-bosannya mampir dan bongkar-bongkar isi rumahku😀 Terima kasih banget. Oh ya, episode ini adalah episode favorit aku. Semoga jadi episode favorit kalian juga. Akhir kata, happy reading😉 Jangan lupa tinggalkan komen setelah membaca. Boleh melalui blog, Twitter : @MissTata_Real ataupun Facebook. Karena komentar kalian sangat berarti untuk aku. So, if you want to get the best, easy, just give the best😉

Sore itu, Laura melakukan kegiatan favoritnya, membersihkan pekarangan. Sebenarnya pekarangan rumahnya tidak kotor atau berantakan. Laura hanya ingin menata ulang beberapa petak bunga agar suasana rumahnya tampak berbeda. Apalagi sekarang sedang pertengahan musim semi, saatnya bunga-bunga bermekaran. Ia ingin mencoba beberapa tanaman baru seperti lilac dan rosemary untuk ditanam di bagian depan rumahnya. Sentuhan ungu dari kedua bunga itu pasti akan cantik.. Selain karena Laura suka warna ungu, alasan lain mengapa ia memberi aksen ungu ialah karena ia meyakini bahwa warna ungu akan membawa keberuntungan.

Miguel sedari tadi memerhatikan ibunya bekerja dari undakan anak tangga teratas. Ia menopang pipinya dengan kedua tangan di atas lutut. Bibirnya maju beberapa sentimeter.

Bocah itu jengkel pada Laura karena tidak diizinkan ikut membantu. Laura tahu jika sampai anak itu turun tangan, bisa-bisa pekarangannya hancur. Mengingat pengalaman tahun lalu di mana Laura harus bekerja ekstra keras untuk memperbaiki pekarangannya yang dipenuhi lubang di mana-mana. Siapa lagi kalau bukan Miguel dengan tongkat ajaibnya menusuk-nusuk tanah yang seharusnya sudah siap untuk ditanami. Bahkan ceceran tanah hitam sampai masuk ke teras rumah.

“Mommy, aku bosan,” rajuk Miguel dengan wajah cemberut.

“Sebentar lagi, Miguel,” sahut ibunya. Tangan wanita itu dengan cekatan menaburi pupuk tanaman di sekeliling petak bunga yang sudah mekar. Pupuk itu berfungsi agar lintah ataupun hama tidak masuk ke tanah yang dapat merusak kualitas tanaman.

Miguel melirik ke rumah sebelah. Tampak sepi. Mobil yang biasa terparkir di samping mobil Laura tidak terlihat di sana.

“Uncle Dani belum pulang ya, Mommy?” tanya Miguel masih menghadap ke rumah Dani.

“Belum, Sayang. Kan Uncle Dani baru pergi kemarin. Dia akan berada di Sabadell selama seminggu,” sahut Laura tanpa menoleh ke arah Miguel. Namun, bibir wanita itu membentuk lengkungan tipis.

“Hu-uh! Coba saja Uncle Dani ada di rumahnya. Aku kan tidak akan kebosanan di sini,” sungut bocah itu. Bibirnya semakin dimajukan ke depan. “Sampai Molly pun dibawa pergi. Ah, Mommy. Aku kesepian,” rengeknya.

“Sabar, Miguel,” ujar Laura sambil memindahkan bunga rosemary dari pot ke dalam petak.

Miguel mendengus keras, pertanda tingkat kebosanan bocah itu sudah mencapai titik maksimum. “Hm, kalau begitu, Mommy, bolehkah aku berkunjung ke rumah Grandma Ong? Aku rindu sekali padanya dan… dia berjanji akan membuatkan kue yang enak jika aku datang ke rumahnya.”

Kening Laura mengernyit. Kemudian ia terkekeh pelan. Dasar Miguel! Berlebihan sekali anak itu mengatakan ia merindukan Grandma Ong. Padahal setiap hari ia selalu bertemu dengan wanita berumur 59 tahun itu.

Grandma Ong keturunan Cina-Spanyol. Hampir seluruh hidupnya ia habiskan di Sevilla. Wanita tua itu tinggal sendirian setelah ditinggal mati oleh suaminya 10 tahun yang lalu akibat serangan jantung. Ia tidak memiliki anak. Wanita tua itu hidup mandiri. Ia sangat baik dan menyayangi Miguel.

“Kau hanya ingin mencicipi kuenya saja atau benaran rindu pada Grandma Ong?” goda Laura, tersenyum jail pada Miguel.

“Eh, hehe… dua-duanya,” jawab Miguel malu-malu sambil menyengir tak berdosa.

“Dasar. Ya sudah, pergi sana,” kata Laura, memberi izin.

Miguel menuruni anak tangga dengan cepat, lalu menghampiri ibunya. “Terima kasih, Mommy-ku yang cantik,” ucapnya dan langsung kabur menuju rumah Grandma Ong yang terletak dua blok dari sini.

Namun, tak sampai setengah menit kemudian, Miguel kembali muncul di hadapan Laura. Raut wajah anak itu seperti baru saja melihat hantu. Miguel langsung masuk ke rumah tanpa berkata apa-apa.

Tanda tanya besar menggelayut di benak Laura. Ini tidak seperti biasanya. Wanita itu lantas meninggalkan pekerjaannya dan melepas sarung tangan. Saat Laura hendak masuk ke rumah, sebuah suara sopran mengagetkannya dari belakang.

“Hola!”

Laura menoleh dan keningnya sedikit dikerutkan. Dilihatnya seorang gadis kecil berambut hitam ikal mengenakan gaun berwarna pink dan salah satu tangannya memegang sebuah payung kecil berwarna senada dengan gaunnya, bersama seorang wanita, mungkin pengasuhnya barangkali, dan tersenyum lebar padanya. Senyum gadis kecil ini sangat manis sebenarnya. Sayangnya beberapa gigi depannya ompong.

“Hola, Mamanya Mimigu. Mimigu-nya ada, tidak? Soalnya tadi aku sempat melihatnya di jalan,” katanya dengan suara cempreng khas anak kecil seraya menggerakkan pundaknya dengan gaya centil. Sepasang bola mata miliknya sengaja dikedip-kedipkan beberapa kali.

“Hola,” balas Laura ramah. “Kau pasti Anne, kan?” Wanita membungkukkan tubuhnya dan tersenyum ramah pada gadis kecil yang berdiri di hadapannya.

Anne mengangguk penuh semangat dan lagi-lagi memamerkan gigi ompongnya.

“Senang melihatmu di sini. Kau mencari Miguel?” tanya Laura.

“Iya, aku mencarinya. Dia ada, ‘kan?” Anne balas bertanya.

Laura tersenyum geli mendengar nama panggilan aneh dari Anne untuk Miguel. Tapi, sungguh, nama panggilan itu sangat lucu. Laura tidak tahan ingin kembali tertawa.

“Baiklah. Aku akan memanggilnya. Tunggu sebentar ya.” Laura mengusap puncak kepala Anne.

Laura masuk ke rumah dan menemukan Miguel berada di kamarnya. Mimik wajah bocah itu tampak kesal dan jengkel. Laura jadi bertanya-tanya apa Miguel memutar kembali dari rumah Grandma Ong karena bertemu dengan Anne di jalan?

“Miguel…,” Laura menghampiri Miguel yang sedang berbaring di atas tempat tidur. “Ada temanmu tuh.”

“Anne ya?” tanya Miguel dengan nada muak. “Aku tidak mau bertemu dengannya, Mommy. Suruh saja dia pulang,” ucapnya ketus.

Alis Laura terangkat. “Lho? Kenapa? Dia baru saja datang.”

“Dia itu menyebalkan, Mommy! Bawel, cerewet, dan sangat-sangat menyebalkan. Pokoknya aku tidak mau bertemu dengannya.” Miguel mengembungkan pipinya.

“Miguel, kau tidak boleh seperti itu. Ayo, keluar. Kasihan Anne sudah menunggumu,” bujuk Laura sambil menarik lembut tangan Miguel.

“Mommy,” rengeknya tidak senang.

“Ayo, Miguel.” Laura menarik tubuh Miguel.

Miguel akhirnya keluar dari kamar. Saat ia akan berjalan ke teras, mendadak ia berhenti di samping pintu. Bocah itu melongokkan kepalanya untuk melihat siapa tahu saja Anne langsung pergi. Tapi, harapan tinggallah harapan. Anne masih berdiri di luar dan sedang berbicara dengan pengasuhnya. Payungnya sudah dilipat dan dipegang oleh pengasuh Anne.

Laura yang berdiri di belakang terkikik geli.

Dasar anak-anak, pikirnya.

“Mimigu!” pekik Anne ketika dilihatnya Miguel keluar dari bibir pintu. Gadis kecil itu langsung mendekap Miguel erat-erat.

“Ih, jangan peluk-peluk aku!” Miguel memberontak dan sedikit mendorong tubuh Anne menjauh.

Pengasuh Anne tidak dapat menahan senyum melihat tingkah anak majikannya. Sementara Laura, wanita itu menutup mulutnya rapat-rapat. Tawanya hampir menyembur keluar.

“Ih, Mimigu nih…! Aku kan rindu sama Mimigu,” sungut Anne, mengerucutkan bibirnya.

“Sayangnya aku tidak rindu padamu!” balas Miguel padanya.

“Jangan begitu, Miguel,” tegur Laura dari belakang.

“Aku tidak suka, Mommy,” sungut Miguel dengan risih.

“Mimigu kenapa sih? Kan cuma dipeluk, bukan dicium. Atau kau mau aku cium?” Anne bertanya dengan nada lantang.

“Apa?! Dicium?” teriak Miguel histeris. “Awas saja kalau kau berani melakukannya.” Miguel melototkan matanya pada Anne.

“Aku berani kok. Sini, sini, aku cium.” Anne kembali mendekati Miguel dan menarik paksa pipi bocah laki-laki itu.

“Ih…, menjauh dariku! Pergi, pergi!” usir Miguel dan kembali mendorong Anne. Kali ini lebih keras. Miguel berlari ke belakang Laura, meminta perlindungan.

Suster Vane, pengasuh Anne, segera maju dan menangkap tubuh mungil anak majikannya. “Anne, jangan begitu dong. Kasihan Miguel,” ucap pengasuhnya.

Raut wajah Anne berubah. Mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca. “Mimigu kok jahat sih sama aku? Aku kan sayang sama Mimigu,” isaknya di pelukan Suster Vane.

Laura memutar tubuhnya dan menyeret Miguel ke depan. “Miguel, ayo minta maaf pada Anne.”

“Tidak mau!” Miguel menatap sebal ke arah ibunya.

“Kau membuat Anne menangis. Kau harus minta maaf, Miguel,” pinta Laura dengan nada sedikit keras.

“Tapi, Mommy…,” Miguel merengek, kemudian cemberut. “Iya, iya.”

Miguel maju beberapa langkah mendekati Anne. Ia mengulurkan tangannya ke arah Anne. “Aku minta maaf. Tapi, aku tidak suka kelakuanmu.”

“Aku kan menyayangimu, Mimigu,” balas Anne sembari mengelap hidungnya yang berlendir sebelum menyambut tangan Miguel.

“Ya, tapi kan tidak begitu juga,” Miguel mengernyit jijik. Bocah itu langsung menarik balik tangannya.

“Walaupun sudah berjabat tangan bukan berarti Mimigu sudah kumaafkan ya. Aku akan benar-benar memaafkan Mimigu kalau Mimigu mau peluk aku,” kata Anne dengan suara manja.

Di belakang, Laura terkikik pelan. Wajah Miguel berubah masam. Cepat-cepat anak itu memeluk Anne dan langsung menjauhkan tubuhnya. Anne tersenyum, kembali memamerkan gigi ompongnya.

“Oh ya, Mimigu, aku punya sesuatu lho untukmu.” Anne mengambil sebuah kotak bekal dari tangan pengasuhnya, lalu menyerahkan pada Miguel. “Ini kue jahe buatanku dan Suster Vane. Semoga kau suka ya,” katanya dengan mata berbinar.

Miguel menerima kotak itu dengan ekspresi aneh di wajahnya. Karena tak segera bilang terima kasih, Laura menarik pelan kerah baju Miguel dari belakang dan melototkan mata pada anak itu.

“Eh, eh, terima kasih ya,” ucap Miguel kaku dan senyum terpaksa.

***

Marc mengatur nafasnya setelah percintaan panas yang ia lakukan bersama Adel. Tangannya mendekap erat tubuh telanjang gadis itu ke dadanya. Jari-jarinya mengelus halus punggung Adel. Sesekali bibirnya mencium mesra bahunya.

Adel melingkarkan lengannya di pinggang Marc. Nafasnya berembus, menyapu dada Marc yang berkilauan tertimpa cahaya lampu.

Mereka berpelukan dalam diam. Cukup lama. Mata Marc sudah terpejam. Tarikan nafasnya terdengar teratur di telinga Adel. Sementara Adel, ia masih terjaga.

Adel mendongak, menatap wajah Marc yang tertidur pulas tampak damai. Mendadak hatinya diserang rasa sakit yang luar biasa. Dadanya sesak. Marc tidak pernah benar-benar mencintainya. Ia sangat sadar. Tapi ia selalu berpura-pura bodoh dan menganggap Marc memujanya. Bagaimana setiap kali mereka bercinta, Adel tahu di kepala Marc hanya ada wanita lain. Wanita yang entah sejak kapan mengisi relung hati pria yang kini terlelap di sampingnya. Wanita yang berhasil merebut hati laki-lakinya hingga tak ada ruang baginya. Wanita yang selalu membuat adel iri, sakit hati, dan kagum sekaligus iri karena ia berhasil merebut hati Marc-nya. Sakit hati karena gara-gara wanita sialan itu ia semakin tak mendapat tempat di hati Marc. Dan kagum, ia kagum pada wanita yang berhasil menaklukkan hati Marc.

Marc, monster kejam berwajah tampan yang baru saja bercinta dengannya malam ini. Monster kejam dengan segala sisi gelapnya, yang hanya wanita sialan itu yang mampu menyentuhnya. Ya, Marc memang menyentuh Adel. Tapi, pria itu membayangkan wanita lain, bukan Adel, orang yang jelas-jelas dimasuki Marc. Siapa yang tidak sakit hati diperlakukan seperti itu walaupun Marc tidak pernah menunjukkannya, kecuali malam itu, malam di mana Marc menyebut nama wanita sialan itu saat mencapai orgasme.

Air mata Adel bergulir di sudut matanya. Ia menangis tanpa suara. Hal yang sering terjadi setelah mereka selesai bercinta.

Cintai aku, Marc. Kumohon. Cintai aku seperti kau mencintai wanita itu, mohon Adel dalam hati.

To Be Continued…

Buat yang penasaran sama Anne, inilah penampakan si gigi ompong itu.

cove2r

Sayangnya gigi anak di foto ini terlampau bagus😀

4 thoughts on “My Secret, His Son #9

  1. Aku kembali…Ritaaaa, terimakasih dan sukses juga buat kamu *segera mencapai cita2mu menjadi guru b.jerman atau adalagi kah cita2nya ?*

    maaf baru sempet mampir🙂

    Wahhhhh Rita..eh gk nyangka nama panggilanku buat miguel tercetak salah maksudku terketik dengan jarimu.

    Ehemmm di komentar part 7 aku cabut, klo dr sisi Miguel, Laura harus dengan Marc…(setelah Marc ternyata seperti itu kelakuannya*udah tau dr part2 lainnya tapi sekarang setelah ada Dani mending Laura sama Dani saja*)

    Marc Br***s*k udah sana lo cepet nikahin Adel lupain Laura

    (tenang Mbak Adel, saya tidak jadi mendaftarkan anda ke situs jodoh.com) *senyum lebar*

    ehya, hmmm kok Anne rambutnya keriting …

    Mending peran Anne diganti Connie Talbot (bener gk yah gini tulisan namanya) aja entar aku kirim fotonya via twitter

    soalnya klo lihat Anne yg ini berasa gk cocok sama Mimigu aku.

    Eh maaf yah Rit, klo aku ngasih sarannya gini…tapi klo kmu masih tetep mau dengan peran Anne yg sekarng jg gpp.

    Rita, aku ada sedikit saran ke kamu…biar FF kamu byk yg baca…lebih byk lagi yg baca maksudku

    kamu bikin akun wattpad🙂
    udah tau belum tentang wattpad ?

    Wattpad itu jejaring sosial khusus buat author dan reader. Disana tempatnya para penulis diseluruh dunia. Jadi mending kamu nulis ffnya disana aja.
    Tapi itu terserah kamu, aku cuma ngasih saran aja.

    #salamkarya93🙂

    Suka

  2. Hm, ceritanya singkat2. Setiap cerita hanya mengangkat satu masalah. Tak masalah sih, tapi akunya yang capek ngetik2 untuk pindah.😉. . .
    Lanjut, tau kan aku gak suka baca cerita yang belum selesai. . .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s