Jadi Korban Bullying Itu…

Siapa sih yang mau dibully?

Apa sih yang terlintas di benak kalian kalau mendengar istilah bullying? Perlakuan tidak menyenangkan yang diterima seseorang? Menghina atau mengejek seseorang? Atau bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap seseorang?

Kata bully sendiri memiliki arti sebagai berikut : a person who uses strength or power to harm or intimidate those who are weaker atau seseorang yang menggunakan kekuatannya untuk menyakiti (secara fisik) atau mengintiminasi orang yang lemah.

Beberapa waktu lalu saya sempat menonton acara Kick Andy di MetroTV tentang bullying. Nontonnya cuma sekilas. Tentang seorang gadis Indonesia yang tinggal di Amerika, kemudian pindah ke Indonesia dan bersekolah di sekolah dasar—sekolah umum. Karena tidak terbiasa atau belum bisa menyesuaikan diri di sekolah tersebut, sang gadis dibully oleh teman-temannya. Alhasil dia pun pindah ke sekolah lain. Di sekolah yang baru, sang gadis masih juga dibully dikarenakan hanya dia satu-satunya siswi yang fasih berbahasa Inggris. Sang gadis dikata-katai sok pintarlah, sok cari mukalah, dan lain sebagainya. Namun, tahukah Anda, sang gadis yang pernah menjadi korban bullying ini berhasil menjadi orang sukses. Meraih IPK tertinggi di Universitas Indonesia dan sekarang menjabat sebagai Vice President di salah satu perusahaan. Kunci kesuksesannya adalah jadikanlah perlakuan yang tak menyenangkan itu sebagai cambuk untuk melesat menjadi yang terhebat.

Tentang bullying. Kata ini membuka lembar masa lalu saya, menempatkan diri saya sebagai korban. Saya masih sangat ingat bagaimana hari pertama ketika saya memasuki sekolah dasar yang pada saat itu saya berusia 4 atau 5 tahun. Terlalu muda memang. Tapi, itu keinginan saya dan orangtua hanya mengabulkan saja.

Hari pertama saya langsung kena palak. Sekumpulan orang mengelilingi saya saat saya hendak memilih tempat duduk. Salah satu dari mereka menyeletuk, “Kamu harus bayar kalau mau duduk di sini. Enak aja kamu. Kamu kira kamu siapa berani-beraninya duduk di sini. Bayar!”

Dan saya cuma tertunduk. Itulah hadiah pertama saya. Saya tidak bilang ke siapa-siapa, termasuk orangtua. Saya biarkan mereka memperlakukan saya seperti itu. Dan perlakuan mereka semakin menjadi-jadi. Waktu itu saya mikir, kenapa sih mereka jahat sama saya? Apa salah saya? Apa hanya karena saya merupakan kaum minoritas yang bersekolah di tempat yang didominasi oleh orang pribumi?

Ada satu permainan yang waktu itu cukup populer di sekolah saya. Nama permainan itu Sembunyi Buta. Tidak ada peraturan tentang jumlah pemain. Cara bermainnya sendiri cukup mudah. Pertama digambreng, kemudian terpilihlah orang yang harus jadi. Orang itu berjongkok, lalu dikelilingi oleh pemain-pemain lainnya. Ada nyanyian saat orang yang jadi itu dikelilingi. Seperti ini :

Lu, lu, C*na buta

Lu banyak taik mata

Dikejar anjing gila

Cari sampai dapat

See? Sarat akan penghinaan.

Lalu, saat saya ngeles di rumah guru saya, ada teman sekelas saya juga di sana. Saya lupa apa yang kami obrolkan waktu itu dan yang saya ingat adalah dia mengatai saya dengan kata-kata, “diamlah! Dasar C*na Kompet!”

Guru saya langsung memarahi dia. “Eh, mulutnya! Gak sopan! Kalau gak ada orang Cina, kamu bisa makan? Kamu beli jajan aja di tempat orang Cina.”

Dan anak itu langsung terdiam. Saya tertawa pada saat itu. “Makanya jangan hina orang Cina,” kata saya kepadanya.

Secara umum, bentuk-bentuk bullying ada beberapa macam, seperti :

1. Bullying fisik, contohnya memukul, menjegal, mendorong, meninju, menghancurkan barang orang lain, mengancam secara fisik, memelototi, dan mencuri barang.

2. Bullying psikologis, contohnya menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-olok, secara sengaja mengisolasi seseorang, mendorong orang lain untuk mengasingkan seseorang secara sosial, dan menghancurkan reputasi seseorang.

3. Bullying verbal, contohnya menghina, menyindir, meneriaki dengan kasar, memanggil dengan julukan, keluarga, kecacatan, dan ketidakmampuan.

Ketiga-tiganya pernah saya alami. Bullying secara fisik saya alami ketika duduk di kelas 3 SD. Saat itu kaki saya sedang terluka, bernanah, tapi sudah kering. Ketika saya melewati deretan meja untuk ke tempat guru saya, seorang anak menjegal kaki saya dan saya pun terjatuh. Saya langsung bangun dan tidak memedulikan anak itu. Dan saat saya kembali dari meja guru dan hendak berjalan ke kursi saya, dia kembali menjegal saya dan saya kembali terjatuh. Kaki saya berdarah dan tangis kesakitan pun pecah. Guru saya segera membawa saya keluar dan mengobati luka saya. Anak itu dimarah habis-habisan oleh guru saya. Dan saat kenaikan kelas, well, ternyata anak itu tidak naik kelas. Aku, ya, senang tidak senang sih. Tapi, adalah sedikit rasa puas. Itulah karma.

Masih di SD. Jadi waktu itu saya sering bermain sama satu cowok, inisialnya R. Soalnya rumah kami deketan. Tapi sering berantem juga. Nah, entah siapa yang nyebarin gosip yang mengatakan saya ciuman sama dia. Tak sampai satu jam, itu gosip langsung nyebar sampai 1 sekolah. Sampai kakak-kakak kelas dan guru-guru pun tahu. Itu asli malu banget. Rasanya pengen nangis. Kakak saya pun percaya sama gosip itu.

Saya sudah jelaskan sampai urat leher mau putus, tapi tak satu pun percaya sama saya. Tuhan…. Lalu, beberapa bulan yang lalu, adik kelas saya di SMA tanya begini, “Kak Rit, aku denger dulu Kakak pernah CB ya sama R waktu SD?”

Alamak! INi TIDAK BENAR, ADIKKU! ITU FITNAH! ITU FITNAAHHH…!!!

Perlakuan-perlakuan seperti itu tidak sampai di SD saja. Sampai SMP pun saya masih mengalami hal serupa. Tapi kali ini lebih mengarah pada bullying secara psikologis.

Saya memiliki seorang teman atau bahkan bisa dikatakan sahabat. 6 tahun kami bersama-sama di SD dan ketika masuk ke SMP, kami masuk ke kelas yang berbeda. Hal itulah yang membuat hubungan kami merenggang. Dan ketika naik ke kelas 8, kami sekelas lagi. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Well, di kelas itu saya hanya mengenal beberapa orang, termasuk sahabat saya itu. Namun, dia sepertinya tak acuh dan bermain bersama teman-teman lamanya yang waktu itu sekelas dengannya di kelas 7. Tapi, teman sahabat saya ini baik banget sama saya. Sampai suatu hari dia bilang begini sama saya, “Rit, si S itu kok gitu ya? Kalian teman satu SD, ‘kan?”

“Iya. Kenapa? Emangnya dia ngapain?” tanya saya.

“Dia suruh kami gak usah berteman sama kamu. Dia bilang kamu penjilat. Pokoknya yang jelek-jeleklah tentang kamu. Heran aku.”

Sahabat saya sendiri mengatai saya seorang penjilat? Remuk hati ini. Keesokan harinya, entah apa yang terjadi, si S, sahabat saya, dijauhi teman-temannya. Dan teman si S ini bilang ke saya, “Aku cuma mau ngasih dia pelajaran aja. Biar dia ngerasain gimana dikucilkan dan gak ada temen.”

Saya terharu. Thanks banget lho. Tuhan sungguh maha adil.

Bullying itu bisa terjadi kepada siapa pun. Dan puji Tuhan, memasuki bangku menengah atas, bullying yang saya terima hanya sebatas ejekan biasa yang tidak saya masukkan ke hati. Pernah sekali waktu itu saya mendapat hinaan dari teman sekelas saya. Dan saya langsung lapor ke guru BP dan orang itu, denger-denger sih dia dapat SP alias Surat Peringatan.

So, inti dari tulisan ini, saya cuma mau mengajak Anda sekalian yang pernah, sudah, atau yang akan dibully, sebagai antisipasi, saya sarankan Anda untuk segera melaporkan tindakan tak menyenangkan itu pada guru BP. Jangan takut. Kalau kalian takut, selamanya kalian akan ditindas. Pokoknya langsung lapor kalau hal itu terjadi pada Anda.

Sekian tulisan jelas gak jelas dari saya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s