My Secret, His Son #8

My Secret1 copy

Cerita ini membosankan dan alurnya juga tidak jelas. Dan mungkin mengecewakan juga. Yang mau baca silakan baca dan jangan lupa beri komentar ya. Hargai usaha penulis😀 Boleh di blog, melalui Facebook ataupun Twitter. Dan omong-omong soal Twitter, sekali lagi aku umumkan, akun @ClevaLizzy sudah tidak aktif dan berganti menjadi @MissTata_Real semejak adanya kejadian kompor meleduk dan radio keliling rusak. Oh ya, tidak lupa aku juga mau mengucapkan terima kasih banyak ke Mamakku (read : Nata) yang bersedia mendengar keluh kesahku dan ngasih support setelah apa yang terjadi hari ini—bagi yang ngebaca berita di web itu pasti ngerti maksudku. Lalu, Kak Riza dan Diana—yang bersedia jadi tukang koreksi ff-ku. Thanks a lot. Akhir kata, Happy reading😉

Marc kembali ke kantornya dengan hati berbunga-bunga. Ia melangkah dengan ringan seolah tak terjadi sesuatu sebelumnya—setelah membatalkan proyek senilai 800 juta euro.

Marc bersiul riang saat melewati meja sekretarisnya dan sebelum masuk ke ruangannya ia sempat menyapa Alicia dan melemparkan senyum menawannya—yang demi Tuhan hampir membuat Alicia kejang-kejang karena sesak napas.
Alicia masih melongo setelah Marc hilang dari pandangannya. Kakinya melemas seketika dan ia jatuh terduduk di kursi kerjanya.

Alicia menyentuh dadanya, merasakan degup 3 kali lebih kencang daripada biasanya saat ia bertemu Marc dan kali ini ia bersumpah sepertinya ia terkena serangan jantung ringan. Degup jantungnya terlalu keras berbunyi, memukul-mukul dadanya.

Oh, Tuhan. Benarkah itu… Marc Márquez? Marc Márquez sungguhan? Itu Marc Márquez si presiden direktur perusahaan? Tidak mungkin.

Alicia memijat pelipisnya. Mendadak kepalanya terasa berat. Ia masih tidak percaya. Si dingin berwajah tampan itu tersenyum padanya. Demi Tuhan, pria itu tersenyum padanya dan bahkan bersiul di depannya.

Oh, Alicia. Kau harus segera mengundurkan diri dari tempat ini. Pria itu bisa membunuhmu. Kau bisa mati karena pesonanya.

Tidak! Tidak! Setidaknya ia bisa terhindar dari gangguan penglihatan dini karena setiap hari disuguhi pemandangan indah dari wajah bosnya.

“Bodoh!” umpatnya kesal. “Apa sih yang kau pikirkan, Alicia?” Alicia menjitak kepalanya berkali-kali.

Dasar bodoh!

***

Senyum lebar masih mengembang di bibir Marc. Pria itu melepas jas hitam yang ia kenakan lalu menyampirkan di sandaran kursi kehormatannya.

Hari ini mungkin menjadi hari terbaiknya. Marc masih bisa merasakan kehangatan tubuh Miguel di tubuhnya. Bau shampo dan keringat yang bercampur. Aroma yang sangat alami. Ia sangat menyukainya.

Marc mengempaskan tubuhnya di atas kursi lalu menarik berkas-berkas yang menumpuk di samping meja kerjanya dan mulai membukanya satu per satu. Setelah dibaca dengan saksama, tangannya bergerak, membubuhi berkas itu dengan tanda tangannya.

Marc membuka berkas selanjutnya dan matanya lantas berhenti pada kalimat kedua di paragraf awal; pengalihan anak perusahaan yang ada di Madrid.

Nama Julia Márquez tertera di sana. Sebagai penggerak pertama perusahaan ini sebelum diambil alih oleh Marc, nama Julia tak pernah terlepas dari seluruh aset perusahaan milik keluarga Márquez, sekalipun Marc sudah menduduki jabatan presiden direktur beberapa tahun yang lalu yang sebelumnya diduduki oleh Ramon, saudara laki-laki Julia.

Marc menegakkan punggungnya. Genggaman bolpoin terlepas dari jari-jarinya. Pandangannya menyapu sekilas ke arah sebuah pigura kecil yang terpajang di meja kerjanya.

Pigura itu menampakkan sebuah keluarga yang harmonis. Seorang wanita cantik dengan tubuh sedikit gempal, memangku seorang bocah kecil berwajah lucu yang berusia sekitar 2 tahunan, tampak tersenyum lembut. Di sebelahnya, seorang pria berusia awal tiga puluhan, tersenyum lebar dan sama seperti wanita tadi, memangku seorang bocah yang lebih tua 3 tahun dari bocah di sampingnya. Keempat sosok itu tampak sangat bahagia. Ya, sangat bahagia sebelum kecelakaan yang menimpa Julia dan menewaskan pria itu. Dan semuanya berubah.

Pikiran Marc melayang ke masa lalu, ke masa di mana dirinya dipersiapkan dengan sangat baik oleh ibunya—yang menjelma menjadi sosok monster setelah kematian ayahnya.

“Kau harus belajar, Marc Márquez!” bentak wanita yang merupakan ibu bocah 9 tahun itu. Wanita bertubuh gempal itu berkacak pinggang, melotot geram pada anak sulungnya.

“Tapi, aku lelah, Mom. Aku bosan belajar terus-terusan,” keluh bocah itu dengan wajah sebal.

“Seorang Márquez tidak boleh mengeluh! Kau harus belajar. Guru privatmu akan segera datang. Pahami semua yang diajarkan beliau. Kau mengerti?”

“Aku tidak mau!”

“Marc!”

“Aku tidak mau!”

“Kau harus mau!” sergah wanita itu dengan nada tinggi.

“Kenapa? Kenapa Mom selalu memaksaku belajar? Otakku lelah. Aku capek! Aku ingin bermain,” balas bocah itu, menatap sengit ke arah ibunya.

“Itu karena kau adalah pewaris keluarga Márquez, Marc! Kau harus belajar dan pintar agar kelak kau dapat memimpin banyak orang. Dan kau ingin bermain?” tanya Roser sembari tersenyum sinis. “Main saja dengan buku-bukumu. Itu akan membuatmu bertambah pintar.”

“Aku tidak mau menjadi pewaris! Aku tidak mau menjadi orang pintar. Berikan saja semuanya pada Alex,” sungut Marc seraya memandang kesal ke arah Alex yang sedang bermain bola kaki bersama beberapa pelayan laki-laki yang bekerja di kediaman Márquez.

Marc iri dengan Alex. Adiknya bisa melakukan apa pun tanpa ditentang oleh ibunya. Walaupun usia Alex saat ini menginjak 6 tahun, tapi perlakuan yang didapatkannya sangat berbeda dengan Marc pada saat ia berusia seperti itu. Sementara ia harus belajar mati-matian—di sekolah formal maupun di rumah—sejak berusia 5 tahun untuk menjadi seorang pewaris keluarga, menggantikan ayahnya yang telah wafat 3 tahun yang lalu akibat kecelakaan beruntun yang menewaskan beliau di tempat kejadian, Alex baru saja diperkenalkan dasar-dasar menghitung, berbeda dengan Marc yang pada usia 6 tahun sudah direcoki berbagai rumus matematika. Ini tidak adil, sungguh.

Roser, ibunya, bahkan sengaja memerintahkan guru privatnya untuk memukul Marc dengan rotan apabila bocah itu tidak mengerti dengan materi yang diajarkan oleh si anjing gila itu—julukan yang diberikan Marc pada guru privatnya. Entah sudah berapa luka memar akibat sabitan rotan di tubuhnya. Marc dituntut untuk segera mengerti dengan apa yang diajarkan gurunya.

“Marc, dengar,” Roser meraih pundak kecil Marc. “Kau telah ditakdirkan untuk menjadi seorang pewaris di keluarga ini. Kau anak sulung dan Alex anak bungsu. Seorang anak sulung akan dianggap pecundang jika gelar pewarisnya direbut oleh adiknya sendiri. Kau ingin menjadi seorang pecundang?”

“Persetan dengan gelar pewaris itu. Aku tidak sudi menjadi pewaris keluarga!” seru Marc tidak suka.

“Tidak sudi, eh?” ulang Roser, mendadak suaranya berubah lembut.

Marc lantas meringis saat ibunya tiba-tiba mencengkeram kuat pundaknya. Wajah ibunya kemudian berubah sinis. “Sakit!” rintih Marc.

“Sakit ya?” tanya Roser, masih dengan nada lembut yang dibungkus dengan kesinisan di wajahnya.

Marc meronta-ronta. Tapi, cengkeraman ibunya sangat kuat. Semakin ia melawan, cengkeraman ibunya bertambah kuat.

“Kalau kau tahu ini sakit, lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku tidak membesarkan seorang pecundang. Kau harus menjadi pewaris keluarga yang hebat. Tidak ada keberatan dan jangan melawan. Kau mengerti?” desis Roser sarat akan ancaman.

Marc mengangguk enggan.

“Keluarkan suaramu, Marc Márquez!” bentak Roser, menyentak tubuh mungil Marc. Anak itu terdorong beberapa langkah ke belakang. “Kau mengerti dengan apa yang kuucapkan?!”

“Aku mengerti, Mom,” jawabnya dengan suara bergetar.

Marc memejamkan matanya. Kenangan buruk memang tidak semestinya diingat. Mungkin ia bisa dengan mudah melupakannya jika ia tidak rutin dipaksa belajar dan mendapatkan bentakan setiap hari. Setiap kejadian itu melekat kuat di kepalanya dan sulit dihilangkan.

Marc mendesah pelan. Pikirannya kemudian tertuju pada Miguel, bocah yang ia temui tadi. Tanpa sadar bibir Marc membentuk lengkungan tipis. Bocah itu beruntung, sangat beruntung dan Marc bersyukur Miguel tidak harus melalui kehidupan seperti yang pernah ia lalui. Karena bocah itu memiliki Laura, wanita hebat yang pernah hadir di hidup Marc.

***

Daniel Pedrosa Ramal, seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir di salah satu universitas di kota Sevilla, memutuskan pindah ke kompleks perumahan sederhana yang terletak di distrik Triana. Alasan kepindahannya sederhana. Selain karena jarak ke kampus lebih dekat, pria itu mendapat tawaran kerja menjadi asisten dokter di sebuah klinik umum yang tak jauh dari kompleks perumahan tersebut.

Ia menyukai tempat ini. Lingkungan yang ramah, suasana yang menyenangkan, orang-orang yang hangat, dan tentu seminggu setelah kepindahannya kemari, tampaknya ia mulai nyaman dan bahkan menemukan sebuah alasan untuk mengungkap rasa syukurnya pada Yang Kudus karena tepat di sebelah rumahnya ada sebuah keluarga—ibu muda dan seorang anaknya yang lucu—menarik perhatiannya.

Dani ingat bagaimana hari pertama saat ia pindah ke kompleks perumahan ini—yang memiliki penduduk yang terlampau perhatian—ia mendapat banyak sekali kunjungan dan ucapan selamat datang. Itu baru salah satu bukti keramahan penduduk di kompleks, belum lagi hal-hal kecil lainnya.

Sekarang hampir setahun ia tinggal di sana dan selama itulah ia mengenal keluarga Sánchez yang tinggal di sebelah rumahnya. Laura, nama wanita yang menjadi ibu sekaligus tulang punggung keluarga, merupakan sosok wanita yang menakjubkan. Dengan usia yang masih terbilang cukup muda untuk menjadi seorang ibu yang lembut dan penuh kasih sayang.

Pertemuan pertama mereka berawal dari seruan seorang bocah laki-laki di samping rumah yang terdengar oleh telinganya. Bocah laki-laki itu menirukan suara Molly, anjing Pomeranian berbulu cokelat muda milik Dani. Sesekali tawa bocah itu pecah.

Dani mengintip melalui jendela dapur untuk melihat siapa yang sedang bermain dengan anak anjing kesayangannya. Dan ternyata bocah itu adalah bocah yang tinggal di sebelah rumahnya. Ibunya, Laura, keluar tak lama kemudian dan terkejut melihat anaknya bermain-main dengan hewan berbulu itu. Dani masih hafal pakaian yang dikenakan Laura, blus hijau berkerah putih dan celana jins hitam lima senti di bawah lutut.

“Astaga, Miguel…,” wanita itu menyerukan nama bocah itu di depan teras rumah. Raut wanita itu agak aneh. Perpaduan antara jijik dan takut.

“Ini puppy, Mommy. Lucu sekali,” balas anak itu semangat sembari mengelus-elus bulu-bulu lebat anak anjing itu.

“Itu anak anjing siapa?”

“Tidak tahu, Mommy,” jawab Miguel tak acuh dan kembali bermain dengan anak anjing itu.

Dani tersenyum geli melihat adegan itu, kemudian berjalan keluar rumah. “Itu anak anjingku,” sahutnya dan saat itulah mata mereka bersitemu untuk pertama kalinya.

Mereka berkenalan. Dani kemudian tahu wanita itu alergi terhadap bulu-bulu hewan. Maka dari itu, raut wajahnya agak aneh saat melihat Miguel bermain bersama Molly.

Mereka membicarakan topik-topik ringan. Hingga pada ketika Dani menyentuh sisi terdalam Laura dengan sebuah komentar yang terlontar begitu saja tanpa disaringnya terlebih dahulu.

“Ayahnya pasti bangga memiliki anak secerdas Miguel.”

Laura terdiam sejenak sebelum menjawab, “Dia tidak punya ayah.”

Dani mengernyitkan kening. “Oh, maaf, aku turut sedih mendengarnya…. Hm, kalau boleh tahu, sudah berapa lama?” tanyanya halus.

Laura tersenyum lesu. “Tidak. Kau salah paham. Bukan itu maksudku.” Wanita itu menunduk, memandang lantai teras dengan wajah muram. “Aku tidak menikah.”

“Oh, aku mengerti,” sahut Dani salah tingkah.

“Kau mengerti?” Giliran Laura mengernyitkan keningnya.

“Kau orangtua tunggal, tidak menikah dan membesarkan anakmu sendiri. Well, kau hebat,” sanjung Dani dengan tulus.

Laura tersipu malu disanjung seperti itu. Jarang ada orang seperti Dani yang mengerti keadaannya. Banyak yang menghakiminya karena memiliki anak tanpa ikatan pernikahan. Bahkan ayah dari sang anak pun tidak pernah muncul. Tapi, di sini, tak ada yang menyalahkan masa lalumu. Mereka menerima Laura apa adanya. Tidak memandang sebelah mata ataupun bersikap sinis padanya karena memiliki seorang anak haram.

***

Dani menghentikan mobilnya di sebelah VW Beetle biru milik Laura. Bocah kecil yang sedari tadi duduk manis di sampingnya langsung melompat keluar dan berlari masuk ke rumahnya.

Dani tertawa kecil mendengar Miguel berteriak memanggil ibunya, kemudian ikut menyusul bocah itu masuk.

“Oh ya, Mommy tahu, tidak, Mrs. Ham memuji gambarku lho,” kata Miguel pada Laura saat Dani melewati bibir pintu.

“Oh ya? Itu bagus sekali, Nak.” Laura sempat melirik ke arah Dani sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada Miguel.

“Mommy mau lihat?”

“Boleh,” jawab wanita itu seraya menyandarkan punggungnya pada sofa.

Miguel mengeluarkan buku gambar dari dalam tas dan membuka beberapa halaman. “Ini,” ujarnya, menyodorkan buku itu pada Laura.

Deg!

Senyum Laura seketika hilang. Seolah ada ribuan pisau menancap di dadanya, ia merasakan nyeri yang luar biasa. Tenggoroknya tercekat seakan ada gumpalan batu besar tersangkut di sana. Tanpa sadar air matanya menggenang.

Dani yang sadar akan perubahan raut wajah laura lantas mendekat, penasaran dengan gambar yang ditunjukkan Miguel.

“Mommy kok diam saja sih,” sungut Miguel karena Laura tak kunjung bereaksi.

“A-a…,” Laura buru-buru berdeham. “Miguel…,” Laura menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

“Gambarnya jelek ya?” tanya Miguel sedih.

“Tidak, Sayang. Gambarmu tidak jelek,” sanggah Laura cepat.

“Lalu, kenapa Mommy diam? Pasti karena jelek, kan?”

“Tidak, Sayang. Mommy…,” Laura mendongak dan menarik napas berat. Rasanya ada sesuatu yang menghimpit dadanya, keras dan menyesakkan.

“Miguel,” sela Dani seraya merangkul bahu Miguel. Pria itu mengambil tempat di sebelah bocah itu. “Sini. Uncle Dani coba lihat apa yang kau gambar.”

Miguel menyodorkan buku gambarnya pada Dani dengan wajah lesu. “Ini Mommy, aku dan ini Daddy,” ucapnya tak bersemangat sambil menunjuk ke orang-orang yang digambarnya dengan kerayon. “Daddy pergi kerja. Dan ini… aku dan Mommy tunggu Daddy di rumah,” Miguel menunjuk ke gambar di sebelahnya.

Dani tersenyum kecil, lalu mengacak-acak pelan rambut Miguel. “Gambarmu bagus. Sungguh,” Dani mengangguk.

Bibir Miguel merekah. “Benarkah?” tanyanya antusias.

“Pernahkah aku membohongimu?” Dani balik bertanya.

“Hm,” Miguel tampak berpikir, “sepertinya belum sih.”

“Nah,” Dani menarik Miguel lebih dekat. “Jadi, kenapa kau tidak mengganti pakaianmu sekarang? Atau kau butuh bantuan?”

“Tidak,” sela Miguel. “Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Kalau begitu pergilah,” ucap Dani seraya melirik ke pintu bergambar Captain Tsubasa.

Anak itu langsung masuk ke kamarnya, meninggalkan Dani dan Laura di ruang tengah. Laura masih diam membisu.

Dani meraih telapak tangan Laura dan menggenggamnya erat.

“Aku takut,” gumam wanita itu.

Dani memangkas jarak yang ditinggalkan Miguel dan mendekap Laura ke dadanya. Tangannya perlahan meluncur ke punggung wanita itu, mengusapnya lembut.

“Jangan,” bisik Dani di telinga Laura. “Kau tidak perlu takut.”

Laura melingkarkan lengannya di pinggang Dani. Bahunya bergetar. Wanita itu terisak pelan.

“Aku tidak tahu harus sampai kapan menyembunyikan ini dari Miguel. Aku takut, Dani. Aku sangat takut jika suatu hari nanti Miguel akan membenciku.”

Dani mempererat pelukannya. “Sstt… jangan berpikiran seperti itu. Beri dia pengertian. Dia akan mengerti,” ucap Dani seraya mengecup kening Laura.

Hening.

Mereka masih dalam posisi seperti itu. Dani menarik dirinya dan merengkuh wajah Laura. Ibu jarinya bergerak, menghapus sisa air mata di wajah Laura.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

Laura mendongak. “Apa?”

“Siapa Marc Márquez?”

Laura mematung. Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik sebelum terdengar gemuruh keras, memukul-mukul dadanya. Paru-parunya mengempis dan Laura merasa kesulitan bernapas.

“Laura?”

Mata Laura mengerjap beberapa kali. “Aku tidak tahu,” sahutnya cepat.

“Aku tidak mendengar kejujuran dari ucapanmu.”

“Sungguh, aku tidak tahu dan tidak kenal dengan orang yang bernama Marc Márquez,” jawabnya dan sedikit tercekat saat menyebut nama pria itu.

“Aku tidak memaksamu untuk bercerita. Tapi, aku tahu ada sesuatu di antara kalian,” tukas Dani, mengelus halus pipi Laura.

Laura menyipitkan matanya. “Apa maksudmu?”

“Kau boleh menyangkal. Tapi, Miguel adalah bukti yang tak terbantahkan.”

To Be Continued…

16 thoughts on “My Secret, His Son #8

  1. Noooo …. Laura ama Marc ajaaa😀 … kan lebih asyik kalo bersatu sekeluarga lagi …

    Ah tapi kenapa dulu Laura ga bilang ke Marc ttg Miguel yaa? Bingung dehh …

    Dani ama Adel ajaa😀 .. bolehhh yaaaa …

    Suka

  2. Ada Daniiiiii
    uhhh gk nyangka dia jd dokter *kereeen* entar klo sakit mau mampir ke dia ah.

    hmm *berpikir*
    setelah diresapi,dihayati…

    Kalau dilihat dr sisi Laura…mending Laura sama Dani.
    Tapi kalau dilihat dr sisi Sikecil Mimigu (Miguel panggilan kesayangan dr kak Tike) mending Laura sama Marc …

    Karena apaaa????? Oh gimana gk senyam senyum gaje coba, klo lg baca+ngebayangin Marc sama Miguel trus hmmm Laura yg jd ibu . Mereka seperti keluarga kecil yg sempurna…

    Maaf baru sempet baca yah Rit…

    Dan Adel ? Sebaiknya dicariin pasangan lagi deh *tenang mbak Adel nanti saya cari di situs jodoh.com*😀

    Suka

    • Aku juga dilema *penulis galau*
      Pengennya Laura sama Dani. Tapi Miguel gimana dong? Marc kan bapaknya. Dan Adel, aku juga gak tega nulis dia yang paling tersakiti *tapi gak pa-pa, ini demi kelangsungan cerita* Oke, sip!
      Makasih ya, Tik😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s