ONESHOT : The Vow

cove2r

Happy reading😉

Laura menghentikan kegiatan membacanya dan langsung mendelik kesal pada seorang pria yang duduk berjarak beberapa meja darinya. Pria itu memandanginya, tersenyum manis dan mengerling nakal pada Laura. Ia mengangkat cangkir kopinya ke arah Laura, mengajak bersulang, kemudian meminumnya. Dan pandangan pria itu masih saja terpaku padanya. Bibirnya tertarik ke belakang.

Dasar perayu ulung, gerutu gadis itu dalam hati.

Sebelah alis Laura terangkat, kebiasaannya saat menilai seseorang. Laura akui pria itu cukup tampan dan pakaian yang dikenakannya cukup stylish dengan kemeja biru yang dipadukan dengan jaket hitam dan celana jeans berwarna senada.

Namun, mata gadis itu langsung menyipit saat menangkap benda berkilauan akibat terpantul cahaya matahari yang melingkar tepat di jari manis tangan kanan pria itu.

Cih! Dasar bajingan! Mata keranjang! Brengsek! makinya dalam hati.

Pria menikah dan terang-terangan menebar pesona padanya. Laura membuang muka dan kembali melanjutkan kegiataannya, membaca novel Morning Glory karya LaVyrle Spencer, penulis favoritnya.

Matahari di kota Barcelona cukup bersahabat. Sayang jika ia melewatkan cuaca sebagus ini hanya di dalam rumah. Dan duduk di kursi kayu di luar café Sevoux berlindungkan payung merah dan ditemani secangkir cappucino hangat tanpa susu dengan sedikit cream di atasnya yang ditabur gula dan sedikit kopi pahit bubuk adalah cara terbaik menikmati hari ini. Mungkin ia akan sungguh menikmatinya jika pria itu berhenti menatapnya.

Laura menutup bukunya dengan kasar dan langsung menendang kursinya ke belakang. Beberapa pasang mata lantas tertuju padanya. Tapi, gadis itu sebodoh amat. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin pergi, menghampiri meja pria itu, dan mungkin ia bisa menghadiahkan beberapa tamparan yang pantas didapatkan pria brengsek, hidung belang, dan menjijikkan itu. Dan sialnya pria tak tahu malu itu menertawai dirinya.

Laura bisa saja melaksanakan rencana itu jika orang yang ia tunggu setengah jam lalu tidak datang di waktu bersamaan. Gadis itu melemparkan tatapan kesalnya pada Liam Hemsworth, kekasihnya yang berkebangsaan Australia yang sedang melanjutkan studinya di Barcelona dan mengambil jurusan Hukum.

“Hai, Baby,” sapa Liam sembari memeluk Laura dan mendaratkan kecupan manis di bibir gadis itu. “Maaf, aku terlambat. Aku ada kuliah tambahan tadi,” jelasnya.

“Kau bisa menghubungiku, bukan?” balas Laura dengan nada marah. Gadis itu kembali duduk di kursinya.

“Jika aku bisa,” Liam mengangkat kedua tangannya dan memiringkan kepalanya ke samping. “Tapi, si anjing gila perfeksionis yang selalu berkata second place is the first loser itu membuatku sungguh frustrasi,” ujarnya sembari menarik kursi di sebelah Laura.

“Si anjing gila?” Laura mengenyitkan keningnya. “Sepertinya aku pernah mendengar kata itu sebelumnya.”

“Dosenku, Laura,” jawab Liam sembari tertawa geli.

Laura membulatkan matanya dan tawanya meledak setelah tahu apa maksud Liam. Jahat sekali pria itu menamai dosennya dengan sebutan anjing gila.

“Kau akan dikeluarkan jika dia tahu kau menamainya dengan sebutan itu, Liam,” kata Laura setelah tawanya reda.

“Oh ya?” Liam meraih jemari Laura dan mendaratkan kecupan ringan di punggung tangan gadis itu. “Dia pantas mendapatkan sebutan itu. Dia seperti anjing. Sungguh. Maksudku dia akan menggonggong mahasiswanya untuk selalu menjadi nomor satu di mana pun kau berada. Jika nilaimu jelek, well, bersiap-siaplah kau akan digigit dan virus rabiesnya akan mengontaminasi tubuhmu. Aku serius,” ujarnya.

Laura tersenyum. Tatapan kesalnya melembut. Ia menyentuh wajah Liam, lalu turun ke sudut bibir pria itu dan mengelusnya halus di sana. Bibir Liam terbuka dan melahap ujung jemari Laura.

Laura menarik tangan cepat dan memukul pelan bahu pria itu, kemudian tertawa geli. “Kau nakal,” tukasnya.

“Kau seksi,” balas Liam, memamerkan senyum menawannya.

“Kupikir kau akan menyebutku pintar.”

“Si pintar yang seksi. Bagaimana?”

Laura mengangguk-anggukkan kepalanya dan membalas, “Boleh juga.”

Liam merapatkan tubuhnya pada Laura, meraih wajah gadis itu dan mencium rakus bibir mungilnya. Namun, tak sampai 3 detik, sepasang sejoli itu lantas menjauhkan tubuh masing-masing saat bunyi nampan jatuh yang disertai pecahan cangkir kopi membuat gaduh di luar café Sevoux.

Laura menoleh ke samping, ke arah pelayan café yang sedang memunguti pecahan gelas. Saat gadis itu memalingkan wajahnya, matanya kembali bersitemu dengan si pria brengsek, tak tahu malu dan hidung belang itu. Namun, kali ini ekspresi wajah pria itu berbeda. Masam. Tak ada senyum dan tatapan matanya meredup. Tak tersisa tatapan kagum seperti awal sebelum Liam datang.

Huh! Baguslah, Laura mendesah.

Tunggu! Sebelum Liam datang? Apa pria itu cemburu? Tapi, kedengarannya aneh sekali. Apa hak pria itu untuk merasa cemburu? Laura tidak kenal dengan pria itu dan rasanya ia juga baru pertama kali melihat pria itu.

“Liam?”

“Hm?” respons pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari novel milik Laura.

“Kapan kau akan menikahiku?”

Liam mengangkat wajahnya. Ada raut terkejut di sana. Butuh 3 detik sebelum senyum menawannya terukir kembali di bibir penuhnya.

“Kau ingin menikah?” tanya Liam seraya menggaruk ujung alis matanya.

Laura mengangguk. “Ya. Aku sangat ingin.”

Bahu Liam menegang. Ia membasahi bibirnya dan mengembuskan napas pelan.

“Laura….”

“Kita saling mencintai,” potong Laura.

“Ya, kita saling mencintai,” sahut Liam menyentujui ucapan Laura. “Tapi….”

“Tapi apa?

“Aku masih kuliah.”

“Lalu?”

Liam kembali membasahi bibirnya. “Kita tidak bisa menikah sekarang.”

Laura menatap buku-buku jarinya dan tersenyum sedih. “Kau mencintai wanita lain?”

“Tidak,” sergah Liam.

“Masalah kau masih kuliah atau tidak, itu tidak dapat dijadikan sebuah alasan, Liam. Dan aku sangat yakin baik kau dan aku sama-sama paham akan hal itu.”

“Kau benar,” gumam Liam pelan.

“Lalu, apa? Apa alasannya?” tuntut Laura marah. Mata gadis itu mulai dibayangi cairan bening.

Liam memandangi uap yang menggepul di atas cangkir kopinya dan menjawab, “Aku tidak bisa.”

“Kau tidak mencintaiku,” ujar Laura pedih.

“Aku mencintaimu, Laura.”

“Tidak.”

Laura bangkit berdiri dan meninggalkan Liam di sana. Sambil berjalan air matanya jatuh. Gadis itu menangis sesenggukan di sepanjang trotoar jalan. Kakinya membawa ia masuk ke keramaian pusat kota, tempat orang-orang berlalu-lalang. Tubuhnya berbaur di antara ratusan tubuh-tubuh yang melewati jalan yang ia lalui.

Gadis itu berhenti di tengah-tengah. Mendadak ia diserang rasa pusing yang teramat sangat. Ia memandangi sekitarnya. Semuanya berputar. Kakinya melemas dan ia seperti tak berpijak di bumi. Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

***

Ini bukan pertama kalinya ia menjadi seorang penguntit. Ia tidak bermaksud jahat atau menjadi penjahat atau juga merencanakan hal-hal buruk pada orang yang ia kuntit. Ia hanya ingin tahu dan melihat segala aktivitas yang dilakukan gadis itu.

Hari ini cuaca di Barcelona hangat dan sangat bersahabat setelah beberapa hari diguyur hujan dan sempat terjadi badai kecil. Gadis itu pergi ke café Sevoux, café favoritnya dan café favorit mereka berdua. Gadis itu duduk di luar café yang berlindungkan payung merah, satu-satunya tempat yang dipilih gadis itu di antara warna-warni payung yang ada di sana. Gadis itu memesan secangkir cappucino hangat tanpa susu dengan sedikit cream di atasnya yang ditabur gula dan sedikit kopi pahit bubuk, minuman kesukaannya. Gadis itu membaca novel Morning Glory, novel yang sudah puluhan kali ia baca tanpa merasa bosan karya penulis favoritnya, LaVyrle Spencer.

Pria itu tersenyum bahagia. Ia bahagia melihat gadis itu duduk di sana, terpapar cahaya matahari yang membuat wajah gadis itu seolah bersinar di antara belasan pelanggan café yang berada di sekitarnya. Gadis itu sedang berkonsentrasi pada bacaannya dan sesekali menyesap minumannya. Semilir angin kadang menerpanya, menerbangkan rambut cokelat pendek yang dimilikinya 2 bulan yang lalu.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Gadis itu tahu ia tengah dipandangi, lalu mendelik kesal pada pria itu dan menaikkan sebelah alisnya.

Pria itu ingin sekali tertawa menyaksikan ekspresi kesal gadis itu yang dianggapnya sangat lucu. Gadis itu kemudian membuang muka dan kembali melanjutkan acara membacanya. Namun, tak sampai semenit, gadis itu bangkit berdiri dengan cara menendang kursinya.

Kali ini ia tidak tahan untuk tidak tertawa. Ekspresi gadis itu benar-benar lucu. Namun, tawanya langsung lenyap begitu melihat seorang pria menghampiri gadis itu, memeluknya dan sial, mengecup bibirnya.

Ia menggeram. Kedua tangannya terkepal di atas meja. Rasanya ia ingin sekali meninju pria sialan yang mendekati gadis itu. Dan keinginan itu bertambah 100 kali lipat saat pria itu mengecup punggung tangan gadis itu dan sialnya, gadis itu menyentuh wajahnya dan… bibirnya.

Oh, sialan! Apa yang kau lakukan, Laura? batin pria itu berteriak saat menyaksikan ujung jemari gadis itu diisap.

Amarahnya semakin memuncak dan hampir meledak saat itu juga. Pria sialan itu mendekatkan tubuhnya dan—oh Tuhan, terkutuklah pria itu—mencium Laura, melumat bibir gadis itu dengan rakus.

Ia memukul meja dan menendang kakinya ke lantai hingga tiba-tiba saja terdengar bunyi pecahan kaca disertai nampan jatuh dan seorang pelayan café tersungkur karena terlanggar kakinya.

Terpujilah Tuhan, ia mengucap syukur dalam hati ketika dilihatnya pasangan kekasih telah menjauhkan diri.

Matanya kembali bersitemu dengan gadis itu. Ia menatap geram padanya dan ingin sekali mencekiknya—ralat, mencekik pria di sampingnya. Gadis itu mengalihkan tatapan dan kali ini ekspresi serius tampak di wajah cantiknya.

Samar-samar ia dapat mendengar percakapan mereka.

“Kapan kau akan menikahiku?”

Oh, sialan! Tidak! Kau tidak boleh menikah dengannya. Tidak boleh! Sialan! Kau tidak tahu apa yang sedang kau ucapkan, pria itu menggeram dalam hati.

Ekspresi gadis itu sedih. Pantulan cahaya matahari mengenai sepasang bola matanya dan tampak berkilauan.

Jangan menangis. Jangan menangis di hadapan pria bodoh itu, Laura. Kau tidak pantas menangis untuknya.

Gadis itu bangkit berdiri dan meninggalkan pria itu. Ia segera menyusul di belakang.

Gadis itu menuju pusat kota. Dari belakang ia melihat jelas bahu gadis itu naik turun, menangisi pria itu. Entahlah apa yang dilihatnya dari pria sialan itu. Tidak ada istimewanya, kecuali jika gadis itu tahu bahwa sudah bertahun-tahun ia tidak pernah berhubungan lagi dengan pria itu.

Sayangnya, gadis itu tidak ingat.

Tubuh mungil itu berhenti di tengah-tengah keramaian. Pria itu ikut berhenti. Namun, ia segera berlari ke arah gadis itu, menangkap tubuhnya sebelum tersungkur ke jalanan.

“Laura…,” panggilnya. “Sayang, kau bisa mendengarku?”

Mata gadis itu tetap terpejam. Dan ia segera membawanya ke rumah sakit.

***

Saat tersadar, gadis itu tampak bingung dengan keadaan sekitarnya. Butuh 1 menit sebelum ia benar-benar mengenali sekelilingnya. Rumah sakit. Ia selalu benci berada di sini. Baunya seperti racun pembasmi tikus.

Gadis itu sendirian di sini. Ia menoleh dan mendapati sesuatu yang terbungkus dalam kotak kado dan di atas kotak itu ada sebuah CD dan sebuah catatan kecil. Ia meraihnya dan sejenak matanya tertuju pada catatan itu.

Lihatlah ini sebelum kau membuka kotak kadonya.

“Oh, kau sudah sadar, Nona?” tanya seorang suster yang masuk ke ruang inapnya.

“Ya,” jawab Laura pelan.

“Bagaimana keadaanmu? Merasa pusing?” Suster itu mengeluarkan alat pengukur tensi darah, memasangkannya di bahu kiri Laura dan mulai memompanya.

“Aku baik. Tidak. Sedikit bingung sebenarnya,” jawab Laura.

“Itu normal. Kau pingsan di pusat kota dan suamimu membawamu kemari,” jelas suster itu sembari melepas alat pengukur tensi darah dari bahu Laura.

Laura mengerutkan keningnya. Sepertinya pendengarannya bermasalah. “Maaf. Apa katamu tadi?”

“Kau pingsan di pusat kota dan suamimu yang tampan itu melarikanmu ke rumah sakit,” ulang suster itu sembari tersenyum hangat dan kembali mencatat hasil pengukuran tensi darah Laura di papan khusus yang ia bawa tadi.

“Suami?” Kerutan di kening Laura semakin bertambah. Ia tidak mengerti. Suami siapa? Ia belum menikah dan tidak akan menikah karena Liam tidak ingin menikahinya. Lalu, siapa?

“Kau ingin aku memutarkan itu untukmu?” tawar sang suster, melirik CD yang dipegang Laura.

“Ya. Tolong,” Laura menyerahkan CD itu pada suster.

Setelah memasangkan CD itu di DVD Player, suster tersebut keluar, meninggalkan Laura sendirian.

Alunan musik River Flows in You mengawali layar hitam yang kemudian berubah terang itu. Tampak seorang gadis kecil berumur kira-kira 11 tahun dengan rambut disanggul indah, mengenakan gaun pink selutut dan memainkan piano itu. Tubuhnya mengikuti alunan musik. Jari-jari lentiknya menari halus di atas tuts-tuts piano. Mata gadis kecil itu terpejam, menghayati irama musik.

Laura menyipitkan matanya. Ia seperti mengenali wajah gadis kecil itu. Ada sesuatu pada gadis kecil itu membuatnya familier. Tapi, apa? Apa? Laura tidak ingat. Ia tidak memiliki ingatan apa pun tentang anak itu.

Kalung.

Laura mengeluarkan kalung yang selalu ia kenakan di leher. Kalung itu memiliki liontin berbentuk daun dan gadis kecil di layar itu juga mengenakan kalung yang sama.

Itu aku? Laura bertanya dalam hati.

Suara tepuk tangan bergema saat gadis itu selesai memainkan pianonya. Gadis kecil itu melangkah ke tengah-tengah panggung, menerima buket bunga mawar, lalu membungkuk indah ke arah penonton.

Tidak mungkin. Aku tidak bisa memainkan piano, Laura menggelengkan kepalanya.

Layar berganti dan sekarang musik Canon in D mengalun indah. Gadis kecil itu tidak tampak lagi. Berganti menjadi seorang gadis yang sama, namun dengan usia yang lebih matang, mengenakan gaun pengantin. Rambut gadis itu disanggul sederhana, ekor gaunnya menyapu kelopak bunga mawar, dan ia berjalan di samping ayahnya.

Dad?

Di depan sana, seorang pria dengan tuksedo hitam telah menunggunya, tersenyum padanya dan demi Tuhan, pria itu adalah pria yang Laura lihat di café tadi. Oh Tuhan, tidak mungkin ia menikah dengan pria itu. Tidak mungkin!

Air mata Laura jatuh.

“Aku, Marc Márquez Alenta, menerima engkau, Laura Amberita Sánchez, sebagai istriku, sahabat terbaikku dan kekasih yang kucintai. Aku berjanji akan mencintaimu dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat dan tidak peduli tantangan apa pun yang ada di hadapan kita, karena aku tahu janji kita di dalam Tuhan akan senantiasa membawa kita kembali.”

Laura terisak. Ini tidak mungkin terjadi. Ia tidak ingat. Sedikit pun ia tidak ingat pernah menikah dengan pria yang bernama Marc Márquez Alenta itu. Bagaimana bisa ia menikah dengan seseorang jika ia tidak pernah bertemu dengannya sampai hari ini ketika ia melihat pria itu di café.

“Aku, Laura Amberita Sánchez, menerima engkau, Marc Márquez Alenta, sebagai suamiku, yang akan menjadi mataku di saat aku tidak lagi dapat melihat, yang akan menjadi tanganku di saat aku tidak lagi dapat menggenggam, yang akan menjadi kakiku di saat aku tidak lagi dapat berdiri, dan yang akan menjadi memoriku di saat aku tidak lagi dapat mengingat setiap kenangan indah yang pernah kita lalui. Karena kau adalah satu-satunya pria yang kucintai dan mencintaiku. Aku berjanji akan terus hidup dan menjadi milikmu seutuhnya.”

Laura menangis hebat. Layar di hadapannya telah kembali seperti semula, hitam. Benarkah ia sudah menikah? Pertanyaan itu terus mengusik relungnya.

Laura mengusap matanya. Setelah tangisnya reda, ia membuka kotak kado itu dan mengeluarkan satu per satu benda-benda yang ada di dalamnya.

Benda pertama, foto pernikahannya. Ia tersenyum bahagia di dalam foto itu. Pria itu merangkul pinggangnya dan ikut tersenyum bahagia bersamanya.

Laura mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dilapisi kain beludru merah. Laura membuka kotak itu dan air matanya kembali jatuh. Ia mengambil cincin itu dan memandangi lekat. Cincin ini sama dengan cincin yang melingkar di jari manis pria itu. Ada ukiran nama di dalamnya; Marc.

Benda ketiga, foto lagi. Foto itu memperlihatkan wajahnya yang pucat, mengenakan pakaian operasi dan pria itu berada di sampingnya, tetap tersenyum.

Laura menghapus air matanya. Benda terakhir di dalam kotak itu, pakaian bayi. Oh, Tuhan. Tangan Laura sontak terangkat, menutup bibirnya. Air matanya mengucur deras.

“Ini tidak mungkin terjadi!” Laura menggeleng kepalanya kuat. “Ini mimpi! Ini tidak mungkin! AKHHH!” jeritnya dan mencampak semua benda-benda itu.

Benda-benda itu berhamburan di lantai, menghasilkan bunyi pecahan dari bingkai foto pernikahan itu. Laura meremas rambutnya, ia menjerit histeris. Ia bingung, ia tidak tahu apa yang terjadi padanya.

Seorang pria berjaket hitam dan beberapa suster lantas masuk ke ruang inap ini. Pria itu langsung berlari ke arah Laura dan mendekap erat gadis itu.

“LEPASKAN AKU!” jerit Laura sembari mendorong kasar dada pria itu dan melepaskan beberapa tinju dan cakaran di wajahnya.

“Laura, dengar,” Marc tetap memeluk Laura, tidak peduli pada sakit yang mendera wajahnya.

“AKU BILANG LEPASKAN, SIALAN!” Laura mendaratkan beberapa tinjuan di perut Marc.

“Kau bisa membahayakan bayi kita jika kau tidak berhenti sekarang juga,” sergah Marc tajam dan sukses membuat tubuh Laura tak bergerak.

Wajah Laura memucat seketika. “Kau bilang apa?”

“Kau sedang mengandung, anakku, buah cinta kita,” jawab Marc.

“Aku hamil?” tanya Laura syok.

Laura berjengit saat tangan Marc menyusup masuk ke bajunya, menyentuh perutnya—yang demi Tuhan, Laura tidak sadar perutnya tidak serata yang ia kira—dan mengelusnya lembut.

“Di sini, bayi kita,” bisik Marc lembut.

“Tidak mungkin,” desis Laura.

Marc meraih tangan Laura dan langsung ditepis gadis itu. Namun, Marc tidak peduli dan kembali meraih tangan Laura, lalu membawa tangan itu ke perutnya.

“Rasakan di sini.” Marc menatap penuh cinta pada Laura. “Dia hidup, di dalam rahimmu. Kau sedang mengandung buah cinta kita, Laura.”

“Bagaimana mungkin?”

“Kau tahu siapa aku?” tanya Marc. Laura menggeleng.

“Aku akan menjelaskannya padamu. Dan kau tidak boleh menyela, kau mengerti?”

Laura mengangguk patuh. Ia tidak tahu kenapa ia melakukan ini. Ia bukan tipe gadis yang gampang menurut.

Marc merengkuh kedua pipi Laura. Gadis itu sontak menepis dengan menggeleng kasar kepalanya.

“Ssttt…,” Marc menahan pipinya.

“Kau bisa menjelaskannya tanpa menyentuhku!” hardik Laura.

“Tak boleh menyela, kau ingat?”

Laura menatap sengit pada Marc dan akhirnya membiarkan pria itu menyentuhnya.

“Seenak kau saja,” gerutu gadis itu.

“Dua kali, Laura,” peringat Marc.

Lagi-lagi Laura mendelik kesal.

“Kau pernah mengidap tumor ganas. Stadium 3. Tak ada pilihan selain… kau dioperasi dengan opsi mungkin kau bisa saja meninggal karena tingkat keberhasilannya hanya beberapa persen. Tapi, kau berhasil melaluinya. Kau selamat. Tapi, ingatanmu tidak selamat. Kau kehilangan sebagian memorimu. Sejak awal dokter telah mewantiku jika kau selamat, ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Kau bisa buta, lumpuh, dan hilang ingatan. Jika boleh memilih, aku ingin kau selamat dari operasi itu tanpa harus kehilangan sesuatu. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu,” jelas Marc.

“Kenapa kau tetap menikahiku kalau kau tahu aku akan mati?” sela Laura.

“Pertanyaan bagus. Dan tiga kali kau menyelaku.” Marc mengelus pipi Laura. “Aku ingin membuatmu bahagia sebelum kematian menjemputmu. Biarlah aku yang menangis karena kehilanganmu. Aku menikahimu karena itulah keinginan terbesarku. Dan semuanya menjadi sulit ketika kau hamil 2 minggu. Kuakui aku sangat bodoh karena tidak hati-hati. Padahal kau akan menjalani operasi pengangkatan tumor itu pada minggu depannya. Dan kau menolak dioperasi. Kau menolak mengaborsi bayimu karena kau sangat ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Semuanya bertambah rumit. Besar harapan kau hidup semakin mengecil.”

“Dan aku tetap mempertahankan janin ini?” Laura menyentuh perutnya, merasakan gundukan kecil itu di sana.

“Ya, kau mempertahankan janin ini.” Marc menyentuh tangan Laura di atas perutnya, meremasnya pelan.

“Sudah berapa minggu?” tanya Laura, melunak.

“14 minggu.”

“Aku tidak sadar.”

Marc membawa Laura ke dalam pelukannya, hal yang sangat ia rindukan berminggu-minggu lalu.

“Soal video itu, apa gadis kecil itu aku?” tanya Laura.

“Ya. Itu kau. Kau seorang pianis. Kau lulus dengan predikat Cum Laude di Juilliard,” desah Marc di rambut Laura.

“Aku tidak ingat apa pun dan aku juga tidak mengingatmu. Aku hanya mengingat Liam. Itu saja,” ucap Laura, membuat dada Marc terasa sakit. “Dan… aku tidak yakin janin ini milikmu. Bisa saja ini milik Liam. Aku pernah bercinta dengannya. Beberapa kali seingatku saat kami bersama. Ya, kami saling mencintai. Mungkin ini bayi Liam. Ya, ini pasti bayi Liam.” Laura mendorong tubuh Marc. Tatapan gadis itu menjadi antipati. “Aku harus menemui Liam. Dia harus tahu aku sedang mengandung bayinya. Dan kami akan menikah. Dia tidak punya alasan untuk menolakku kali ini. Kau mau mengantarku?” tanya Laura, dan langsung diralat di detik itu juga. “Bodoh!” Laura menjitak kepalanya sendiri. “Seharusnya aku tidak meminta bantuan orang asing,” gerutunya.

Dunia Marc seolah runtuh. Ia hampir tersungkur jika saja kakinya tidak kuat menopang tubuhnya. Hatinya nyeri. Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi? Haruskah ia kembali kehilangan istrinya? Kehilangan belahan jiwanya dan kehilangan bayinya juga?

“Di mana sepatuku?” Gadis itu menunduk, sibuk mencari sepatunya. “Hei, apa kau melihat sepatuku?” tanya Laura pada Marc.

Marc tidak menggubris pertanyaan Laura. Cukup! Sudah cukup! Sudah cukup ia berpura-pura menjadi orang asing. Laura istrinya dan gadis itu sedang mengandung anaknya. Ia berhak atas gadis itu.

“Hei, apa kau melihat se….” Ucapan Laura terhenti saat dilihat Marc melemparkan tatapan penuh amarah padanya. Mendadak ia merasa terintimidasi dengan tatapan itu. Tubuhnya menegang dan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia merasa mual.

“Sudah cukup?” Suara rendah pria itu ibarat bola pijar yang siap ditembakkan ke arahnya. “Sudah cukup, hm?”

Laura melangkah mundur. Ia dirasuki ketakutan yang teramat sangat saat mata penuh amarah itu menusuknya.

“JAWAB AKU, SIALAN!” Marc melompat ke arah Laura, mencengkeram pergelangan tangannya dan menghunuskan tatapan tajamnya pada gadis itu. “Sudah cukup kau menyakitiku dengan tingkahmu itu, hah? Asal kau tahu saja, 2 bulan, aku bersabar menunggumu, menunggu kepulihanmu, menahan rasa sakit yang kau timbulkan karena tidak ingat siapa aku, dan menahan rasa cemburu setiap melihat kau bercumbu dengan Liam. Apa kau pikir menyenangkan menjadi seperti itu? Hah? Apa kau pikir menyenangkan melihat istrimu dicium pria lain di hadapan suaminya sendiri? Jawab aku!” bentak Marc.

“Kau kasar,” desis Laura sembari meringis.

Marc mengempas pergelangan Laura dan meremas rambutnya dengan kesal. Mata pria itu berkaca-kaca. Amarah menguasainya. Marc berjalan ke arah lemari kayu yang terletak di pojok ruangan bersebelahan dengan jendela besar yang menghadap ke jalan raya dan langsung meninju kaca lemari itu hingga pecahan kacanya berhamburan ke lantai.

Laura terlonjak kaget. Ia menatap ngeri ke tangan Marc yang bersimbah darah, menetes ke lantai. Dilihatnya Marc menoleh ke arahnya. Pria itu menangis.

“Entah apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu ingat padaku. Aku lelah, Laura. Aku sangat lelah. Semua yang kulakukan ini tidak berarti untukmu. Ya, kau benar. Aku adalah orang asing. Mulai hari ini, kau bebas. Aku akan pergi ke tempat pengacaraku dan mengurus surat perceraian kita. Sampai bertemu di pengadilan.”

Usai berkata seperti ini, Marc berlalu, meninggalkan Laura yang masih terpaku di tempat. Gadis itu tidak bergerak selama beberapa detik hingga tiba-tiba saja ia merasakan sakit kepala hebat menderanya. Samar-samar ia seperti menyaksikan film yang berputar dengan kecepatan tinggi. Suara tawa, canda, teriakan, tangisan, semuanya bersatu padu.

Laura meremas kepalanya. Mendadak ia merasa mual yang teramat sangat.

“Aku, Marc Márquez Alenta, menerima engkau, Laura Amberita Sánchez, sebagai istriku, sahabat terbaikku dan kekasih yang kucintai.”

“Marc, aku hamil.”

“Aku berjanji akan mencintaimu dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat dan tidak peduli tantangan apa pun yang ada di hadapan kita, karena aku tahu janji kita di dalam Tuhan akan senantiasa membawa kita kembali.”

“Aku tidak mengingatmu. Aku hanya mengingat Liam. Itu saja.”

“2 bulan, aku bersabar menunggumu, menunggu kepulihanmu, menahan rasa sakit yang kau timbulkan karena tidak ingat siapa aku, dan menahan rasa cemburu setiap melihat kau bercumbu dengan Liam.”

“Kau tidak boleh hamil, Laura. Itu akan membahayakan nyawamu.”

“Kumohon, biarkan aku menjadi ibu sebelum hari kematianku. Kumohon, Marc. Aku ingin menjadi seorang ibu.”

“Apa kau pikir menyenangkan menjadi seperti itu? Hah? Apa kau pikir menyenangkan melihat istrimu dicium pria lain di hadapan suaminya sendiri? Jawab aku!”

“Karena kau adalah satu-satunya pria yang kucintai dan mencintaiku. Aku berjanji akan terus hidup dan menjadi milikmu seutuhnya.”

“Kau tidak perlu takut karena aku akan menjadi matamu, tanganmu, kakimu dan menjadi memorimu. Kau tidak akan kehilangan apa pun.”

“HENTIKAN!” teriak Laura histeris. “Kumohon hentikan! Kumohon!”

“Aku, Laura Amberita Sánchez, menerima engkau, Marc Márquez Alenta, sebagai suamiku, yang akan menjadi mataku saat aku tidak dapat lagi melihat, yang akan menjadi tanganku saat aku tidak dapat lagi menggenggam, yang akan menjadi kakiku saat aku tidak dapat lagi berdiri, dan yang akan menjadi memoriku saat aku tidak dapat lagi mengingat setiap kenangan indah yang kita lalui. Karena kau adalah satu-satunya pria yang kucintai dan mencintaiku. Aku berjanji akan terus hidup dan menjadi milikmu seutuhnya.”

“Mulai hari ini, kau bebas. Aku akan pergi ke tempat pengacaraku dan mengurus surat perceraian kita. Sampai bertemu di pengadilan.”

“Tidak!” Mendadak ketakutan menyelimuti Laura. Gadis itu langsung berlari keluar dari rumah sakit, tidak peduli kakinya yang telanjang dan masih mengenakan pakaian orang sakit.

Gadis itu mencegat sebuah taksi dan menyerukan sebuah alamat pada sang supir. Membayangkan Marc akan menandatangani surat cerai membuat Laura bergidik ngeri. Tidak. Marc tidak boleh melakukannya. Pria itu tidak boleh menceraikannya.

Taksi itu berhenti di sebuah gedung bertingkat. Laura langsung menghambur keluar, tak peduli pada supir taksi yang terus memanggilnya karena belum membayar ongkos perjalanan. Dan cobaan itu kembali hadir. Laura dicegat beberapa petugas keamanan gedung dan menariknya keluar. Gadis itu meronta-ronta dan menggigit lengan salah satu petugas.

“Hei, kau!” teriak petugas lainnya saat Laura berhasil lolos.

Laura berlari ke arah lift dan menekan tombolnya. Sembari menunggu pintu lift terbuka, gadis itu terus mengawasi sekitarnya. Dan sial, seorang petugas keamanan berhasil menemukannya.

Laura berlari, entah ke mana ia pun tidak tahu. Ia hanya ingin bertemu Marc. Kakinya terus berlari hingga seseorang menangkapnya dan memutar tubuhnya ke depan.

“Laura, apa yang kau lakukan di sini?”

Laura terpaku di tempat. Antara terkejut dan bahagia bertemu Marc di sini. Napas gadis itu masih terengah-engah.

“Sayang, kau tidak apa-apa, kan?” tanya Marc khawatir.

Laura menggeleng cepat.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau mencariku?” Suara Marc melembut. Hati Laura bergetar. Ia rindu perasaan ini.

“Marc,” Laura menatap Marc lekat. “Apa kau telah… menandatangani surat itu?”

Marc tidak menjawab. Laura menunggu dengan cemas.

“Marc…,” panggil Laura, membuyarkan kebungkaman Marc.

“Ya,” jawabnya.

Tangan Laura sontak terangkat ke bibirnya. Air matanya bergulir turun. Sorot terluka membayang di matanya. Gadis itu mundur beberapa langkah, kemudian memutar tubuhnya dan berjalan dengan bahu terkulai lemas. Isakan kecil keluar dari bibirnya.

Marc memandangi punggung gadis itu yang mulai menjauh. Ia tidak berani berharap banyak. Tapi, gadis itu jelas-jelas mengejarnya kemari dan sorot mata terluka itu…. Oh, Tuhan, apa Laura sudah ingat dan merasa terluka karena ia telah menandatangani surat perceraian itu?

Marc membelalakkan matanya saat tubuh mungil itu terperosot. Marc segera menghampiri gadis itu dan membawanya ke dalam pelukan. Laura menangis sesenggukan di dada Marc.

“Aku ingat siapa dirimu. Aku ingat, Marc,” isak Laura.

Tubuh Marc menegang. Ia mempererat pelukannya di tubuh Laura. Rasanya beban yang menimpanya berminggu-minggu lalu terangkat begitu saja. Dan berganti dengan kelegaan luar biasa di relung hatinya.

“Kau ingin pulang?” tanya Marc lembut.

“Ke rumahmu?” Laura balik bertanya.

“Tidak. Bukan. Bukan rumahku, Laura,” jawab Marc pelan dan menatap intens pada Laura. Marc menyentuh wajah Laura. Ujung jemarinya mengelus lembut pipi gadis itu. “Tapi, rumah kita,” lanjutnya kemudian.

Laura mengangguk penuh semangat dan segera melingkarkan tangannya di leher Marc. Marc mengangkat tubuh Laura, menggedongnya melewati orang-orang, membawa gadis itu pulang.

Akhirnya setelah 2 bulan, gadis itu pulang bersamanya.

THE END

Gimana? Semoga suka ya… Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca cerita ini. Boleh komen di blog, Twitter maupun di Facebook. Aku maksa lho hihihi… *ditabok* Aku cuma harap tidak ada silent reader di sini. Menulis itu tidak gampang. Jadi hargai usahaku, oke? Akhir kata, thank you for reading😉

24 thoughts on “ONESHOT : The Vow

  1. marc .dan laura sebelum nya udah nikah . .trus laura menjalini oparasi .sehingga ingatan nya hilang. . . .trus knp gak di teman ni setelah operasi. . .di ajak ke tmp2 yg bisa menggigatkan kenangan2 manis mereka biar sembuh . . . .kenapa bisa terpisah dg laura selama itu?? #2 bln dg pria lain. . .

    Suka

    • Karena terlalu beresiko. Laura lebih emosian, gampang marah dan labil. Beda sama Laura yang sebelum dioperasi; kalem. Kalo didorong terlalu jauh bakal gak baik buat kondisinya dia. Dan si Marc pingin yang terbaik buat Laura. Karena saking sayangnya, dia gak mau ngelakuin hal-hal itu (temani Laura dan membantu Laura mengingat semuanya. Pokoknya yang dilakukan secara terang-terangan). Soalnya Marc sendiri gak punya kendali diri yang kuat buat ngadepin Laura. Dia takut lepas kendali semisalnya bisa saja dia peluk atau cium si Laura yang dapat mengakibatkan Laura jadi benci sama dia. Jadi dia cuma ngelakuin hal-hal kecil tanpa sepengetahuan Laura.

      Suka

  2. Rita …… thank youuuu .. suka dehhh ama story nyaa ….

    nanya nih: si laura beneran pacaran ama liam? atau liam pura-pura aja buat nolong marc?
    kalo ga kenapa si liam nolak nikah ama laura kan yaaa? ….

    penasaran euiiiii

    Suka

    • Cuma pura-pura. Liam sudah tau kondisi Laura. Kan gak mungkin si Liam nikah sama istri orang lain yang masih sah secara hukum.🙂
      Anyway, thank you for reading😉

      Suka

  3. wahhh keren bgt ceritanya rita. sampe tersedu sedu loh bacanya. sukses deh buat fanficnya kalo bisa sih dibikin sequelnya hehe. good job rit!!!!! :))

    Suka

  4. hiks.. marc bener bener.. berat banget hidupnya. dilupain sama orang yg dia cintai. rasanya pasti kaya mau mati. hiks hiks hiks
    aku terharu sama diaaaaa.. apalagi pas ngebayangin dia nangis… hiks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s