Juara 1 : Because of El Clasico

Penulis : Sindi Primi Pujiyanti

Blog dan Twitter : @sindihpujiyanti

Malam ini adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh Marc dan Arez. Malam ini adalah malam di mana laga El Clasico dihelatkan. El clasico adalah sebutan pertandingan yang mempertemukan tim raksasa Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. Marc mendukung tim dengan julukan El Blaugrana, Barcelona, sementara Arez mendukung tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu, Real Madrid.

Keduanya menonton bersama di café yang berada di La Rambla. Tepat pukul 02.00 pm, café yang bernama The Rock Café ini sudah disesaki para pengunjung yang ingin menonton El Clasico. Arez yang memakai jaket putih bertulisan Real Madrid dengan kebawahan rok putih selutut sudah stand by di situ mendahului temannya, Marc Marquez. Sebenarnya di café tersebut hanya ada Madridista saja yang menonton, jika kedua pendukung disatukan ditakutkan ada seorang oknum yang memicu perkelahian dari kedua pendukung tim. Pengecualian untuk Marc. Dia memang Barcelonista, tapi dia berpura-pura menjadi seorang Madridista demi bisa menonton bareng bersama Arez.

Peluit dibunyikan tanda permainan dimulai, tapi Marc tak kunjung datang. Arez yang menempati kursi di tengah-tengah café melihat ke belakang, mengecek apakah temannya itu sudah datang atau belum. Lima menit berlalu akhirnya Marc menampakan batang hidungnya juga, dengan memakai kaus berwarna merah dan jeans hitam yang sangat kontras dengan jersey yang dipakai oleh para Madridista.

“Kau telat,” ejek Arez.

“Sepertinya pertanda Barcelona akan kalah di markasnya sendiri.”

Marc hanya mengangkat bahu dan duduk berseberangan dengan Arez. Arez menghirup wangi sabun bercampur parfume dari tubuh Marc, sepertinya dia baru mandi.

“Kau baru mandi ya?” tuduh Arez sembari menunjuk Marc.

Marc menyeringai. “Wangi, ya?”

“Tercium wanginya. Kamu belum mandi pagi ya?”

“Sudah dong. Biar keren saja mandi dulu,” ujar Marc sembari tertawa kecil.

Arez menjulurkan lidahnya, bermaksud mengejek Marc.

Pertandingan sangat sengit dan akhirnya dengan gaya permainan yang diterapkan oleh Barcelona, tiki-taka, berhasil membobol gawang yang dijaga oleh kapten Real Madrid, Iker Casillas.

“Yes! Good job Leo!” ujar Marc senang.

Arez hanya manyun saja. “Lihat saja nanti juga akan berbalik keadaannya.”

“Tapi menurutku Barca pasti menang,” ujar Marc dan seketika dia merubah posisi duduknya sehingga kini dia bersebelahan dengan Arez.

“Kita taruhan, yuk?” Arez menoleh ke arah Marc yang sedang menyeringai.

Arez mengetuk-ngetuk dagu dengan jari langsingnya. Dia yakin Madrid akan menang dan berlandaskan keyakinan itulah Arez menyetujui ajakan Marc.

“Okey. Siapa takut. Kalau Barca kalah kau harus mentraktirku makan apa pun yang aku mau.”

“Okey. Kalau Madrid kalah malam ini kau harus menginap di apartemenku, ya?” ujar Marc sembari menyeringai dan membuat Arez mengerjap-ngerjap tak percaya.

“Menginap di apartemenmu?”

Marc mengangguk.

“Tak ada pilihan lagi?”

Marc menggeleng.

“Kau gila, Marc!” ujarnya sembari meninju bisep Marc pelan.

Marc mengelus-ngelus bisepnya, “memangnya kenapa? Kau takut?”

“Takut?”

“Iya, kau takut aku berbuat yang macam-macam ya?” goda Marc sembari menggelitik pinggang Arez. Arez menepis lengan Marc.

“Kata siapa?”

“Lalu, kenapa kau tidak mau? Lagipula bisa saja Madrid yang memenangkan pertandingan ini sehingga kau bisa makan sepuasnya.”

Arez mengerutkan keningnya, berpikir mengenai taruhan ini.

“Bagaimana? Deal?” ujar Marc menyodorkan tangannya.

Arez ragu-ragu untuk melakukan persetujuan dengan Marc. Tapi dia yakin Madrid dapat mengalahkan Barca walaupun kali ini Madrid ketinggalan satu gol.

“Bagaimana kalau seri?”

Marc mengangkat bahunya. “Tak ada yang menang berarti tak ada taruhan.”

Arez mengangguk dan menjabat tangan Marc dengan mantap. Marc menyeringai, “siap-siap saja. Kau akan tidur di apartemenku, Arez,” kekeh Marc.

“Tidak semudah itu, Marc. Lihat saja Madrid akan menolongku dari keinginanmu itu.”

Akhirnya kedudukan pun menjadi 1-1. Café The Rock seketika riuh oleh sorak-sorai pendukung Madridista. Arez sampai bangkit dari duduknya dan berjoget-joget senang. Marc yang melihatnya pun tertawa.

“Jangan senang dulu, Arez. Masih ada 45 menit untuk membalikkan keadaan.”

“Ya,ya, tapi bola itu bundar, Marc. Sudahlah Madrid akan menang.”

Sementara babak pertama sudah selesai. Mereka berdua memesan minuman dan camilan untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan.

“Marc,” panggil Arez.

“Hmm?”

“Ada teman sefakultasku yang menyukaimu lho.”

Marc diam saja. Ia memandangi french fries-nya yang baru saja datang.

“Namanya Edelina. Kau kenal, kan? Dia sangat cantik.”

Krauk… Krauk…

Hanya bunyi itulah yang menjawab perkataan Arez.

“Kau mendengarkanku, tidak?” senggol Arez kesal.

“Iya, iya, aku mendengarkanmu, cerewet.”

Dibilang cerewet Arez pun mengerucutkan bibirnya.

“Jangan manyun, cerewet,” goda Marc sembari mencubit pipi Arez.

Arez meninju bisep Marc lumayan kencang dan membuat Marc meringis.
“Habisnya kau tidak mendengarkanku.”

“Siapa bilang? Aku mendengarkanmu. Eum, siapa tadi gadis yang menyukaiku itu?” Marc mengingat-ngingat, “aha…! Edelina, kan? Anak baru di BEM yang kita ikuti?”

Arez menganggguk dan meminum kopi yang dipesannya. “Tahu tidak alasan dia mengikuti BEM yang kita ikuti itu?”

Marc menggeleng. Sebenarnya dia tidak peduli tentang Edelina.

“Dia masuk BEM Matematika karena kamu lho, Marc. Tidak percaya? Kemarin dia cerita kepadaku. Edelina itu anaknya sangat cantik dan juga pintar, banyak yang menyukainya. Dan sekarang dia malah menyukaimu. Cieee… akhirnya ada yang menyukaimu juga, Marc,” kekeh Arez sembari menyenggol Marc.

Marc hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. “Entahlah. Aku tidak peduli dengan Edelina. Dia juga bukan tipeku.”

Arez mengibaskan tangannya. “Ah, kau ini memasang tipe terlalu tinggi, Marc. Edelina itu kan sangat cantik dan pintar. Sempurna deh. Lelaki mana coba yang tidak ingin menjadi pacarnya?”

“Ada. Contohnya aku,” ujar Marc, membuat Arez menatapnya dan menyipitkan mata.

Arez terdiam beberapa detik, masih memandang Marc yang asyik memakan french fries-nya.

“Kau cemburu ya?” goda Marc yang membuat Arez salah tingkah.

“Ih, siapa yang cemburu? Tidak kok,” ujar Arez sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan jari-jari Marc membantunya. Karena tangannya dan Marc bersentuhan Arez menurunkan tangannya dan sekarang tangan Marc masih tetap memegangi rambut Arez, menyibak rambutnya.

“Wajahmu merah, tahu,” ujar Marc tersenyum.

Arez melepaskan tangan Marc dan pura-pura mengipas-ngipas dengan lengannya. “Udaranya panas, Marc.”

Marc terkekeh. “Don’t try to pretend with me, Arez. Because I don’t like pretend. To be honest with yourself, anything,” dan kata-kata Marc membuat Arez terdiam dan tertunduk memandangi gelas yang berisi kopi.

***

Pemenang dari laga El Clasico jilid satu adalah Barcelona dengan skor akhir 3-1, maka dari itu Arez harus menuruti permintaan Marc. Tapi yang benar saja! Tidur di apartemennya Marc?

Setelah sebagian pengunjung Café keluar dengan wajah sedih, Arez masih terdiam di tempatnya dan memasang wajah muram.

“Ayo, Arez, kita ke apartemenku. Kau harus menepati janjimu,” ujar Marc bangkit dari kursinya.

“Yang benar saja, Marc, menginap di apartemenmu? Aku juga masih punya apartemen, Marc.”

“Hanya satu malam saja, Arez. Ayolah,” pinta Marc dengan memelas.

Arez menghela napas berat dan bangkit dari duduknya. “Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Aku tidak mau menginap di apartemenmu sebelum kau membayar apa yang aku makan tadi.”

Marc terkekeh. “Itu soal gampang, Arez.”

Marc mengeluarkan beberapa lembar euro dari dompetnya dan disimpannya di atas meja. Arez baru teringat jika urusan uang selalu mudah di mata Marc. Maklum Marc berasal dari keluarga berada. Gadis itu menyesal lantaran dia tidak memesan makanan yang paling mahal kalau tahu Marc akan membayarnya.

“Ayo,” ajak Marc sembari menarik lengan Arez.

Arez mengikuti Marc tanpa suara. Setelah Arez masuk mobil Lamborghini Aventador berwarna merah milik Marc, tak seperti biasanya Arez tidak banyak bicara, pedahal dia sering semobil dengan Marc.

“Sejak kapan kau menjadi pendiam?” tanya Marc.

Arez menghela napas.

“Jangan berpikir yang macam-macam. Aku hanya memintamu untuk menemaniku saja. Aku ini masih berpendidikan kok, tenang saja,” seringai Marc pada Arez.

“Iya. Hah, semoga malam ini cepat berakhir.”

“Semoga malam ini sangat panjang.”

Arez menatap Marc dan kembali meninju pelan bisep laki-laki itu.

***

Setelah sampai di apartemen mewah milik Marc, mereka pun menuju kamar Marc yang tak kalah mewah dengan luarnya. Arez terkagum-kagum melihat kamar Marc yang mewah serta rapi. Sudah lama mereka berteman, tetapi Arez baru pertama kali menginjakkan kakinya di apartemen Marc.

“Anggap saja rumah sendiri,” ujar Marc sembari melepas jaketnya dan menyimpannya di gantungan. Arez pun melakukan hal yang sama.

“Kau mau minum apa?” tanya Marc dari arah dapur.

“Apa saja,” ujar Arez sembari melihat foto keluarga Marc yang terpajang di ruang TV.

Terlihatlah keluarga Marquez yang beranggotakan ayah, ibu, Marc dan adiknya. Mereka bergaya formal, Marc dan adiknya memakai jas dengan dasi berwarna hitam.

Arez tersenyum, Marc sangat mirip dengan ayahnya, pikir Arez.

Karena Arez memberikan jawaban apa saja untuknya, maka Marc membuatkan susu untuk Arez. Langkah Marc terhenti saat melihat Arez yang memunggunginya, sedang melihat foto keluarganya.

Marc melihat Arez dari ujung kaki ke ujung kepala. Gadis itu memakai dress berwana kuning-putih tidak berlengan. Dia sangat cantik dan lucu memakai dress itu. Sepanjang malam mereka di café, Marc tidak mengetahui apa yang dipakai oleh Arez selain rok berwarna putih karena dari tadi gadis itu memakai jaket club kebanggaannya.

Cukup lama Marc memandang Arez dan tanpa ia sadari sebuah senyuman terlukis di wajah tegasnya. Dan di saat itulah Arez melihat ke belakang, mata mereka pun bertemu. Entah mengapa saat matanya bertemu dengan Arez hatinya bergetar dan jari-jarinya spontan memegang erat pada gelas yang dibawanya. Arez memiringkan kepalanya dan tersenyum pada Marc.

“Itu keluargamu?” tanyanya.

Marc menghampiri Arez dan memberikan segelas susu. “Iya,” jawab Marc.

“Aku baru tahu kau memiliki adik.”

Mereka duduk di sofa yang menghadap ke layar TV dan pdoto keluarga Marquez. “Namanya Alex. Aku beda 3 tahun dengannya,” ujar Marc, menatap foto adiknya tersebut, lalu melihat Arez yang sedang menghabiskan susunya kemudian menyimpan gelasnya di meja yang berada di pinggir.

“Kau anak tunggal, kan?” tanya Marc.

“Iya. Bagaimana kau tahu?”

Marc terkekeh, “Kau tidak tahu ya kalau aku ini mantan peramal.”

Arez tertawa dan mencubit lengan Marc. Marc pun berhenti tertawa dan menyandarkan punggungnya, menyilangkan kakinya serta merentangkan kedua lengannya di sofa.

Arez ikut menyenderkan punggungnya dan tak menyadari lengan Marc yang direntangkan, seolah Marc sedang merangkul Arez.

Keduanya terdiam memandangi foto keluarga Marquez. Akhirnya Marc memecahkan kesunyian itu. “Aku terlihat ganteng kan di foto itu?”

Arez bangkit dari menyandarkan punggungnya dan menatap Marc, ingin tertawa.

“Iya, kan?” goda Marc.

“Itu sih hanya efek kamera saja,” ejek Arez.

“Halah, bilang saja ganteng. Jangan bohong,” goda Marc.

Arez mencibir.

“Gantengan mana aku dengan Rio?” tanya Marc usil.

Mendengar nama Rio, seketika raut wajah Arez muram. Marc terkekeh, “Maaf-maaf sudah mengungkit luka lama.”

Arez menghela napas. “Jangan sebut nama orang itu lagi, Marc. Aku muak dengannya!”

Rio Hernandez adalah mantan pacarnya Arez ketika dia di tingkat satu. Mereka berpacaran 1 tahun 3 bulan dan hubungan mereka kandas dikarenakan Rio selingkuh dengan gadis dari universitas lain. Saat itu Arez sangat sakit hati apalagi dia melihat dengan kepalanya sendiri Rio mencium bibir gadis jalang itu. Karena pada saat itu Arez sudah dekat dengan Marc, dia cerita kepada Marc. Marc sangat baik, dia mendengarkan curahan Arez yang berbicara dan menangis sesenggukan. Bahkan Marc dengan senang hati meminjamkan pundaknya untuk tangisan Arez. Sejak saat itu, Arez dan Marc berteman baik. Bahkan Marc sudah seperti diary berjalan bagi Arez.

Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Arez, Marc mengalihkan pembicaraan.

“Ceritakan padakau Edelina itu. Sifatnya bagaimana?”

Arez terperangah. “Edelina?”

Marc mengangguk.

“Katanya dia bukan tipemu.”

“Bukan tipeku bukan berarti aku tidak boleh menanyai tentang Edelina, kan?” tanya Marc, menyeringai.

“Edelina itu anaknya baik, pintar, rajin, ulet dan yang pasti dia sangat cantik. Dia seorang model, tahu kan majalah Victoria Secret? Edelina salah satu model di situ. Hebat ya? Dia juga banyak yang suka. Dia anak orang berada… blablablabla….”

Sebagian besar kata-kata tentang Edelina tidak didengarkan oleh Marc. Dia hanya tersenyum sembari memandangi Arez yang sedang mencerocos. Marc sangat menyukai cerocosan Arez.

“Makanya kau adalah orang yang beruntung karena disukai oleh Edelina, putri yang sempurna,” ujar Arez mengakhiri cerita tentang Edelina.

Marc tersenyum dan bangkit dari sofa dan mengambil jaketnya di dekat pintu keluar. Arez menerutkan keningnya. “Mau ke mana, Marc?”

“Ke apartemenmu. Kita ambil barang-barangmu. Memangnya kau nyaman tidur memakai baju itu? Atau kau ingin memakai baju tidurku?” kekeh Marc.

Arez mengerutkan keningnya dan mengikuti Marc yang sudah keluar duluan.

***

Di apartemennya Arez, dia mengambil barang-barang yang diperlukannya untuk menginap di apartemen Marc. Seperti alat mandi, handuk dan pakaian yang akan di kenakannya.

“Ayo, Marc,” ujar Arez pada Marc yang sedang menunggu di ruang tamu. Marc pun mengedikkan bahunya, menyuruh Arez mengikutinya.

Sifat Arez kembali seperti semula. Arez kembali mencerocos lagi. Marc yang mendengarnya tersenyum senang dan merespons dengan anggukan atau sekadar “hmm”.

“Lho, Marc, kita mau ke mana?” tanya Arez bingung karena saat di belokan menuju apartemen Marc, laki-laki itu tidak berbelok melainkan lurus saja.

“Kita jalan-jalan sebentar ya?” ujar Marc melihat Arez sembari cengir kuda.

Arez menimbang-nimbang. “Okey.”

Dan mobil pun melaju.

Rupanya Arez dibawa ke tempat makan. “Kita bungkus saja makanannya,” ujar Marc yang hanya memesan minuman soda dan burger, begitu juga dengan pesanan Arez. Arez menatap Marc sembari mengerutkan keningnya.

“Kita makan di tempat berikutnya,” Marc nyengir kuda kembali.

“Di mana?”

“Ada deh,” jawab Marc membuat Arez penasaran.

Mereka pun membungkus dan membayar makanannya.

“Sudah aku saja yang bayar,” ujar Marc cepat-cepat mengambil uangnya.

“Muchas gracias, Marc,” ujar Arez.

Marc tersenyum dan menggenggam tangan Arez sembari membawanya keluar dari restoran tersebut.

“Kau belum pernah kan jalan-jalan malam denganku?”

Arez menggeleng.

“Sekaranglah waktunya. Kau tak akan menyesal.” Marc mengedipkan matanya sebelah, membuat Arez salah tingkah.

***

Tawa menyelimuti Place de Catalunya. Banyak orang dengan mobil mereka nonton film komedi yang diputarkan melalui layar lebar. Arez dan Marc duduk di atas mobil Lamborghini. Arez kelihatanya senang, dia tak henti-hentinya tertawa mendengar guyonan dari pemeran film tersebut. Marc ikut tertawa. Tapi, saat dia tertawa pandangannya tak pernah lepas dari Arez. Marc tersenyum senang. Dia mengangkat lengannya ingin mengusap rambut sebahu Arez, tapi ia urungkan niatnya. Belum saatnya, pikir Marc.

Walaupun film itu berakhir, tapi tawa Arez dan Marc masih saja ada. Mereka membicarakan bagian dari film itu yang paling lucu menurut mereka.

“Sungguh, Marc. Itu adalah film terlucu yang pernah aku tonton,” ujar Arez sembari menepuk bahu Marc dan seketika rok Arez tersibak sampai setengah paha. Marc merasa tidak senang melihat pemandangan tersebut. Dia langsung membuka jaketnya dan menutup paha Arez. Arez mengerutkan keningnya tak mengerti.

“Kau mau menjadi bahan godaan anak-anak itu,” ujar Marc sembari melihat sekempulan anak remaja lelaki yang tertawa-tawa sambil memegang botol vodka.

“Aku tidak senang melihat itu,” ujar Marc salah tingkah.

“Eum, iya. Terima kasih, Marc.” Dan mereka pun terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Marc mengajak Arez pulang. Selama perjalanan keduanya terdiam. Arez tenggelam dalam pikirannya sembari melihat pemandangan kota Barcelona lewat jendela, kemudian melihat pantulannya di kaca spion. Arez baru menyadari kalau dirinya tidak secantik Edelina. Tapi, mengapa Marc begitu baik terhadapnya? Ah, iya Marc memang begitu. Dia selalu baik pada siapa saja.

Bukan hanya Arez yang tenggelam dalam pikiran, Marc pun begitu. Dia mengernyitkan keningnya sembari menyetir mobilnya. Marc merasa marah pada Arez dan dia juga merasa marah pada dirinya. Harusnya dia menyarankan Arez untuk memakai celana panjang, sungguh Marc tidak ingin aurat Arez dilihat oleh orang lain.

Deru mesin dimatikan. Mereka sudah sampai di apartemen Marc. Keduanya masih terdiam walaupun kini mereka sudah ada di ambang pintu.

“Marc,” ujar Arez memecahkan kebisuan di antara mereka.

Marc berbalik.

“Maaf selalu merepotkanmu.” Marc mengangkat halisnya.

“Kau selalu menolongku, kau selalu membantuku bahkan kau selalu membuang uang cuma-cuma untuk mentraktirku makan,” ujar Arez. “Terima kasih Marc. Yang tadi memang salahku, kau begitu agar aku tidak menjadi pemuas nasu para remaja itu.”

Marc tersenyum dan memegang kedua pundak Arez. Mereka pun masuk ke apartemen. “Marc,” ucapnya lagi.

“Hmm?”

Dan mereka berpandangan. “Aku tidak mengerti kenapa kau selalu berbuat baik kepadaku.”

Marc tersenyum. Karena aku menyayangimu, Arez. Marc mengacak-ngacak rambut Arez dan kecupan ringan mendarat di kening Arez. Arez terpaku, jantungnya berdegup sangat kencang.

Maksudnya apa Marc? tanyanya dalam hati, tapi tak berani ditanyakan pada Marc yang meninggalkan dirinya dengan seribu pertanyaan.

***

Dilihatnya sudah jam 1 malam. Arez dan Marc belum juga tidur. Marc sedang menonton TV, menonton berita. Arez yang telah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju tidur menghampiri Marc dan tiba-tiba mematikan TV.

“Ini sudah malam, Marc. Ayo, tidur. Begadang tidak baik untuk kesehatanmu.”

Arez menarik lengan Marc hingga Marc berdiri.

“Ugh! Badanmu bau, Marc.”

Marc mencium ketiaknya sembari tertawa.

“Mandi sana dan ganti bajumu.”

“Kau ini terdengar seperti ibuku saja, Arez.”

“Ayo, sana mandi. Mau tidur tidak nyaman? Ugh! Bau! Sumber penyakit, tahu,” perintah Arez, tak memerdulikan perkataan Marc.

“Tapi, aku sudah mandi, Mom,” ujar Marc mengejek, benar juga Marc sudah mandi.

“Kalau begitu ganti bajumu.” Marc malah duduk kembali di sofa.

“Kalau begitu ambilkan bajuku di lemari,” suruhnya sembari terkekeh.

Arez membulatkan matanya, memangnya dia pembantu apa. Dan entah mengapa, Arez menurutinya walaupun hatinya menggerutu.

Gadis itu membuka lemari Marc yang bertempat di kamar Marc. Lemari itu besar dan tidak terkunci. Arez sempat ragu membuka lemari Marc dan dia berdoa agar dia tidak menemukan pakaian dalam. Doanya tak dikabulkan. Pintu pertama lemari itu berisikan pakaian dalam Marc.

“Iuh,” ujarnya begidik.

Beralih ke pintu berikutnya. Salah lagi, tapi untungnya isinya bukan seperti pintu pertama, tetapi pakaian formal Marc seperti jas, dan lain-lain.

“Pasti ada di sini,” tebak Arez membuka pintu ketiga. Bingo!

Arez menyilangkan lengannya di bawah dada. Dia melihat kaos dan boxer yang tertata rapih, bahkan pakaian Marc di pintu nomer 1 dan 2 tertata rapih juga.

“Marc memang orangnya rapi,” gumamnya.

Dia mengambil kaus berwarna merah dan boxer hitam selutut yang kelihatannya Marc mempunyai 2 lusin boxer sejenis itu.

“Tadaaaaa… ayo ganti baju,” ujar Arez.

Marc mengambil baju yang disodorkan Arez. “Lama sekali.”

“Aku tidak tahu kau menyimpan baju ini di pintu lemari nomor berapa,” Marc hanya terkekeh dan masuk ke kamarnya.

Lama sekali Arez menunggu Marc selesai. Gadis itu menguap dan mengantuk sekali. Dia melangkahkan kakinya ke kamar Marc dan membulatkan matanya. Terlihatnya Marc sedang memainkan PSP sembari tidur-tiduran di kasur. Marc menepuk-nepuk bantal di sebelahnya.

“Ayo tidur, katanya sudah malam,” cengir Marc.

Arez bergidik.

“Ya sudah. Kalau kau tidur di situ aku akan tidur di sofa,” ucap Arez dan disergah oleh Marc.

“Jangan di sofa! Tidak nyaman.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak tidur di sofa saja, Marc?”

“Lah? Aku kan tuan rumah masa tidur di sofa.”

Arez manyun. Marc tertawa kecil. Mau tak mau Arez menghampiri ranjang tersebut.

“Kenapa kau tidak tidur di bawah saja?”

“Arez, Arez…, nanti kalau aku sakit bagaimana? Mau tanggung jawab?”

Arez menghela napas.

“Janji aku tidak akan melakukan apa-apa,” janji Marc.

Arez pasrah saja, dia sangat ngantuk sekali. Dia pun tertidur dan tanpa disadari oleh Arez, Marc menyelimutinya. Keduanya tidur dalam satu ranjang dengan Arez membelakangi Marc, tapi Marc malah menghadap ke arah Arez.

***

Suasana di stadion Bernabeu sangat ricuh. Para penonton keluar dari tempatnya. Anehnya tidak ada para pemain Barca ataupun Madrid. Di sana hanya ada pendukung dari kedua tim saja. Kedua pendukung itu saling melempari dengan batu. Arez yang berada di tengah lapangan sangat ketakutan dan napasnya memburu mencari Marc. Dia mengedarkan pandangannya dan akhirnya dia melihat orang yang dicari.

“Marc!” panggil Arez kemudian berlari menghampiri Marc.

Tapi, langkahnya terhenti, lutunya lemas dan tangannya menutup mulutnya yang menganga. Marc dipukul oleh tongkat bisbol bagian kepalanya. Marc berdarah.

“Marc!” teriaknya dibarengi dengan tangisnya yang meledak.

“Arez, Arez, Arez…,” ujar Marc menggoyang-goyangkan tubuh Arez. Sepanjang ia tidur, Marc mendengar igauan Arez dan anehnya dia memanggil manggil namanya.

Arez terbangun tiba-tiba dengan napasnya memburu. Matanya berkaca-kaca dan dia melihat ke sekeliling dan ada Marc di sampingnya yang sedang duduk menatapnya. Dan tangis pun pecah.

“Kau kenapa? Kau mimpi buruk?” ujar Marc lembut sembari menghapus air mata Arez. Arez mengangguk dan dengan spontan dia memeluk Marc. Marc tercengang.

“Syukurlah itu hanya mimpi, Marc. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku sedang berada di Santiago dan semuanya tampak aneh. Semua pendukung turun ke lapangan dan saling menyerang. Aku takut, Marc, aku takut. Kemudian aku melihatmu dan menghampirimu tapi, tapi….”

Arez menangis sesenggukan di dalam pelukan Marc. Marc yang awalnya kaget dengan pelukan Arez pun membalas pelukannya dan kini ia mengusap-ngusap rambut Arez seraya menenangkan.

“Tapi kau dipukul oleh tongkat bisbol, Marc. Kau pingsan dan berdarah. Aku takut kehilanganmu….”

“Sudah, Arez, sudah. Itu hanya mimpi dan aku ada dis ini, di hadapanmu. Aku tidak akan meninggalkanmu,” ujarnya melonggarkan pelukannya dan mengusap air mata Arez.

“Aku takut, Marc,” ujar Arez dengan suara serak.

“Sudah, ada aku di sini, kau tidak perlu takut. Mau kembali tidur?” tanya Marc dengan lembut. Arez ragu-ragu. Dia takut bermimpi buruk. Tapi, akhirnya dia mengangguk.

Dan Arez pun tertidur di dada Marc yang bidang. Marc mengusap-ngusap rambut Arez. Setelah dipikir-pikir ada sesuatu yang menggelikan dalam mimpi Arez yang diceritakan oleh Arez. Dia berada di Santiago dan semua pendukung turun ke lapangan? Apakah ini efek dari El Clasico? Marc tertawa kecil karena tak ingin membangunkan Arez.

“Arez, Arez. Kau ini sangat lucu,” gumam Marc.

***

Suara TV saling sahut-menyahut dengan suara mesin cuci. Arez mengerang, dia masih ngantuk dan dengan malas dia membuka matanya. Dia meregangkan badannya dan melihat ke sekeliling, Marc tidak ada. Rupanya dia sudah bangun.

Arez bangkit dari tempat tidur dan membereskannya. Dia mencuci muka dan gosok gigi di kamar mandi yang berada di kamar Marc. Gadis itu terdiam dan melihat pantuan wajahnya di cermin. Matanya sembab. Dia mengingat-ngingat kejadian tadi malam.

“Aku bermimpi seram semalam dan aku menangis,” ujar Arez tersadar. Lalu dia menghela napas, pasti Marc akan mengejeknya karena dia menangis.

Marc yang sudah bangun memulai aktivitas seperti biasanya. Dia mencuci, lalu menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Arez. Mendengar deheman dari Arez, Marc menengok ke belakang.

“Tidurmu nyenyak, Tuan Putri?” tanya Marc.

Sebenarnya Arez ingin tertawa terbahak-bahak melihat Marc yang memakai celemek dapur, tapi dia tahan. Tapi sungguh, Arez ingin tertawa melihat Marc Marquez memakai celemek dapur, terlihat seperti ibu-ibu.

“Iya, begitulah,” jawab Arez mengangkat bahunya.

“Kau duduk saja di sana, nanti aku siapkan makanannya.”

“Aku tidak boleh membantu ya?”

Marc menengok ke belakang, “memangnya kamu mau kalau aku suruh membantu pekerjaan dapur?”

Arez tertawa, “You know me so well-lah Marc.”

Marc tertawa dan kembali kepada kegiatannya.

Arez paling malas kalau berusuan dengan dapur. Dia tidak bisa memasak, tapi Marc jago, lelaki itu jago memasak bahkan tak jarang Marc membawakan bekal untuk Arez, kegiatan yang terbalik.

Arez mengganti chanel TV kepada siaran yang menayangkan Spongebob. Marc menyukai berita, bahkan di saat pagi seperti ini dia menyetel berita. Arez bertanya-tanya, apakah Marc tidak bosan menonton berita? Apakah Marc tidak pernah menonton hiburan?

“Makanannya sudah siap,” ujar Marc mengagetkan Arez.

Kali ini Marc sudah tidak memakai celemek lagi.

Arez mengusap-usap kedua tangannya. “Uuuh… pancake,” ujarnya.

Mereka sarapan bersama sembari menonton TV. Dan seperti biasanya, di sela-sela mengunyah Arez selalu berbicara sampaikan dia tersedak.

“Nanti saja bicaranya, Arez. Kau tersedak terus,” ujar Marc dengan nada khawatir.

Arez menenggak susu yang dibuatkan Marc. “Tak apa, Marc. Kalau aku simpan pembicaraan ini aku takut lupa.”

“Biar aku yang mengingatkanmu,” ujar Marc terkekeh.

Setelah mereka sarapan bersama, Marc mengajak Arez untuk menonton film yang dibuatnya.

“Bagus tidak filmnya? Kalau tidak bagus aku tidak mau menonton.”

“Lihat saja nanti,” cengir Marc sembari menyetel DVDnya.

“Kau pasti akan senang,” ujar Marc sembari duduk kembali ke sofa.

Arez mengerutkan keningnya. “Memang film apa sih, Marc?”

Marc menunjuk ke layar TV dan tertulis dengan tulisan besar berwarna emas.

“Best part of El Clasico special for Madridista,” gumam Arez. “Wow, Marc! Kau membuatkan ini untukku?”

Marc terkekeh. “Untukmu? Tidak. Aku hanya iseng.”

Arez memukul Marc pelan.

Gadis itu sangat takjub dengan apa yang dibuat Marc. Best part of el clasico special for Madridista? Wow! Arez sangat senang, apalagi itu Marc merangkum pertandingan el clasico dari tahun ke tahun.

“Boleh ya aku meminta kasetnya?” pinta Arez.

Marc menatap Arez dan menimbang-nimbang. “Gimana ya….”

“Ayolah, Marc…”

Marc tertawa.

“Iya, iya. Anything for you, Arez.”

Arez mengerucutkan bibirnya. “Gombal,” ujarnya dan mereka tertawa.

Sampai pada menit ke 10, layar menjadi hitam. Dan lagu WMYB dari One Direction melatarbelakangi gambar hitam tersebut. Arez mengerutkan keningnya. Dia merasa filmnya menjadi aneh. Dan sepasang lego pun muncul. Arez menutup mulutnya dengan kedua lengannya saat lego tersebut ternyata Marc dengan dirinya. Arez melihat Marc yang tak berekspresi apa-apa. Arez tak mengerti maksudnya apa. Maksudnya apa Marc? ujarnya dalam hati.

Film terus berlanjut. Dan film itu menceritakan kegiatan yang dilakukan oleh Arez dan Marc selama ini. Pergi ke kampus bersama, makan bersama, BEM bersama, mengerjakan tugas bersama, pokoknya kegiatan mereka sehari-hari. Kemudian layar kembali lagi menjadi hitam dan sekarang lagu Marriage Your Daughter berkumandang.

Kalau tadi ada lego sekarang malah ada sebuah tangan yang sedang menulis sesuatu yang cepat. Setelah kata itu selesai, Arez tercengang. Dia menatap Marc yang sudah mendahuluinya menatap dirinya. Marc tersenyum, sangat manis dan mengharapkan sesuatu.

“Apa jawabannya?” tanya Marc. Arez gelagapan. Marc mendekat dan memeluk Arez.

“Aku menyukaimu. Dari awal kita bertemu,” ujarnya lirih, “maukah kau menjawab pertanyaanku di film tersebut?”

Arez melepaskan pelukan Marc dan menatap layar yang bertulisan, Arez Gonzales Redroguez maukah kau menjadi pacarku? Arez sekali lagi menatap Marc. Lelaki itu tersenyum dan dengan sabar menunggu jawaban Arez.

“Kenapa kau menyukaiku?” tanya Arez serak.

Marc tersenyum menatap dalam mata Arez dan mengangkat bahunya. “Entahlah. Memangnya jika seseorang menyukai suatu individu apakah harus ada alasannya? Jika ada, aku tidak menemukan alasannya Arez,” ujarnya sembari menyelipkan rambut Arez ke belakang telinganya.

“Aku tidak secantik Edelina, Marc.” Tangan Arez memegang lengan Marc yang tadi menyelipkan rambut Arez ke belakang telinganya.

Marc menangkup wajah Arez dengan kedua telapak tangannya. “Memangnya jika ingin menjadi pacarku harus cantik ya?”

Arez membuang muka. “Seharusnya kau memilih Edelina, Marc. Dia pantas denganmu.”

Marc menggeleng. “Tidak, Arez. Aku memilihmu dan hanya kaulah yang aku inginkan.”

“Tolong, jangan permainkan aku, Marc,” ujar Arez lirih.

Marc melepaskan lengannya, dia menatap Arez yang masih membuang mukanya.

“Aku tidak mempermainkanmu, Arez.”

“Tapi, kenapa harus aku?” tanyanya dengan suara ditinggikan. Arez masih tak percaya dengan pengakuan perasaan Marc. Dia senang tapi, dia juga takut kalau ini hanya candaan Marc.

Marc menghela napas. “Aku juga tidak tahu, Arez. Aku tidak punya alasan untuk pertanyaanmu itu. Aku hanya ingin selalu di dekatmu, aku ingin kau berada di sisiku. Aku juga peduli kepadamu, Arez.”

Marc mengacak-ngacak rambutnya. “Aku gila karenamu, Arez Gonzales!”

Arez menatap Marc dan menggigit bibir bawahnya.

“Jadi jawabannya apa, huh? Tidak?” tanya Marc sembari melihat lurus kepada TV yang menampilkan layar berwarna hitam. Lelaki itu pun berdiri dan menghela napas berat. Sia-sia saja perhatiannya selama ini kepada Arez. Gadis itu tidak pernah peka terhadap perasaannya.

Arez menarik lengan Marc sehingga lelaki itu duduk kembali. Gadis itu membisikkan kata-kata di telinga Marc.

“Aku juga gila karenamu, Marc.”

Marc terperangah dan menatap Arez yang tersenyum.

“Jadi jawabannya?”

Arez mengangguk. Senyum mengembang diwajah tegas Marc. Dia langsung saja memeluk Arez dengan erat.

“Marc, sesak nih.”

“Tapi, kenapa jawabannya lama sekali?” tanya Marc.

“Karena… aku takut kau tidak bersungguh-sungguh. Tahu kan kau ini selalu bercanda dan sangat baik kepada siapa pun sehingga orang-orang itu akan menyangka kalau kau menyukai mereka.”

Marc tersenyum. “Aku memang baik kepada siapa pun tapi, aku hanya sangat baik kepada orang yang aku sayangi, yaitu kamu.”

Marc melonggarkan pelukannya dan kini mencium Arez dengan lembut.

FIN

2 thoughts on “Juara 1 : Because of El Clasico

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s