Juara 2 : Kau Adalah Yang Terbaik di Hati Kami

Penulis : Cut Ghaisa Safira

Blog dan Twitter : @ghaisa27_93

Daniel Pedrosa Ramal. Ya, itu adalah nama seorang pria berkebangsaan Spanyol yang selalu saja menjadi pengiring. Tidak pernah lebih. Namanya tidak pernah beranjak dari kisaran angka dua sampai empat di klasemen akhir. Bagaimanapun keras usahanya, tetap saja tidak bisa. Dani memiliki segalanya. Tapi tidak keberuntungan. Hanya satu-satunya modal utama yang tidak dimilikinya. Hal vital itu seolah tidak pernah mau menghampirinya. Entah karena apa. Hanya sekadar mendekatinya saja di tiap musim berlalu. Selalu begitu dan berulang-ulang. Ia selalu gagal menjadi yang pertama dalam setiap akhir musim olahraga balap motor paling bergengsi di dunia tersebut—MotoGP.

Bukannya ia tidak mempunyai keahlian. Tapi, lagi-lagi kembali pada satu hal paling pokok yang harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin menjadi raja di olahraga ini. Beruntung. Dan ia tidak memilikinya. Bagaimana ia tidak dikatakan memiliki segalanya? Dani Pedrosa sudah cukup mempunyai paket lengkap. Keahlian yang mumpuni, penggemar yang setia, keluarga yang selalu menyokong dari belakang, tim bernaung yang sangat luar biasa, hingga ketampanan yang sangat mempesona. Namun, semua itu rasanya sedikit hambar tanpa bubuk manis yang menjadi pelengkapnya. Juara dunia MotoGP.

Kedua bola mata cokelat madu pria itu masih belum bergerak. Fokusnya terus-menerus ditujukan ke arah layar monitor berukuran sedang yang tergantung gagah di sudut paddock-nya. Bahkan saking tegangnya, ia sampai menahan sedikit napasnya, sampai keringat keluar perlahan-lahan dari pori-pori pelipisnya. Laki-laki itu. Ya, rival sekaligus rekan setimnya sendiri. Mengapa pria itu begitu diagung-agungkan? Mengapa dia begitu dibangga-banggakan oleh semua orang? Mengapa pria itu sudah pernah mencicipi manisnya menjadi yang teratas walaupun baru satu musim berlaga? Sementara dirinya sendiri, yang bisa dikatakan sudah sangat senior di MotoGP, masih belum juga berhasil memegang tahta kelas para raja tersebut.

Dani masih tidak menggerakkan satu pun saraf motoriknya sampai suara itu akhirnya berhasil membuyarkan lamunannya.

“Dani?”

Pria yang merasa nama pendeknya dipanggil itu pun sontak menolehkan kepalanya. “Ya?”

“Kau sudah duduk tidak bergerak di sini selama hampir lima menit, Dani. Kau ini kenapa? Ada masalah?” tanya sosok dengan beberapa kerutan di wajah itu cemas.

“Tidak. Tidak ada apa-apa, Dad. Aku hanya…”

“Kau hanya terkesan dengan keahlian rekan setim-mu itu sendiri?” potong pria paruh baya itu.

Dani terdiam. Ia lalu menundukkan wajahnya. Entah karena rasa malu atau pilu yang tiba-tiba menyerang batinnya. “Apa aku akan selalu kalah darinya, Dad?”

Antonio terenyak. Ia tidak menyangka putra sulungnya ini akan bertanya demikian. Untuk pertama kalinya dalam karier yang sudah dirintisnya sejak bertahun-tahun yang lalu. “Kau hanya lebih menggunakan otakmu, Dani. Maksudku, lihat dia. Mengemudi seperti orang gila seolah tidak ada risiko yang menunggunya di lintasan super kejam itu,” ujar Antonio meyakinkan.

“Tapi itu yang membawanya ke suatu titik hidup di mana ia selalu disanjung-sanjung oleh semua orang,” bantah Dani halus. Ia terus menekan dirinya sendiri.

“Tidak. Dia tidak disanjung oleh semua orang. Kau tahu istilah zaman dulu, Dani? Semakin tinggi kesuksesan yang diraih oleh seseorang, maka semakin banyak pula rintangan dan cobaan dalam hidupnya. Dia memang mempunyai banyak penggemar, sudah tidak diragukan dan tidak terhitung lagi nominalnya. Namun, di samping banyaknya orang yang mencintainya itu, tidak terhitung juga banyaknya orang di luar sana yang membencinya,” ujar Antonio lagi menjelaskan. Naluri kebapakannya begitu lembut dan sangat menenangkan.

Hening untuk beberapa saat. Dani masih bergeming, begitu juga dengan pria di sebelahnya. Mungkin dalam hatinya ia tidak menampik kebenaran dari ucapan ayahnya, bahwa semakin tinggi kesuksesan yang diraih oleh seseorang, maka akan semakin banyak pula rintangan yang bermunculan dalam hidupnya. Tapi, tetap saja, logika tidak akan pernah sejalan dengan perasaan. Ia masih berpikir keras tentang bagaimana ia selalu dikalahkan oleh seorang laki-laki yang bahkan terpaut usia delapan tahun lebih muda darinya itu.

“Tinggal satu menit tersisa. Kau yakin tidak akan keluar lagi dari paddock ini dan mengikhlaskan pole position itu jatuh ke tangannya?” tanya Antonio, mencoba mencairkan suasana yang sebelumnya dingin, hampir sedingin es di kutub utara.

“Ya, aku yakin. Bahkan jika aku keluar lagi dari paddock ini pun aku tetap tidak akan bisa menghentikan keganasannya, kan? Jadi, kupikir aku lebih baik duduk di sini dan mulai mengaguminya. Lagipula, aku sudah puas dengan posisi start keempatku besok,” sahut laki-laki ber-wearpack oranye itu tajam. Tampaknya ia benar-benar sudah berada dalam suatu titik di mana keputusasaan berkembang baik di dalamnya.

Antonio mengangguk. Kini giliran ia yang mengatupkan kedua belah bibir keringnya. Terserah kau mau start dari posisi berapa besok, kau tetap anak laki-lakiku yang paling kubanggakan, Dani. Antonio hanya menggumam dalam hati.

***

Sirkuit sepanjang 4.627 km itu sudah dipadati oleh tidak terhitungnya orang yang berlalu lalang. Mulai dari banyaknya kru yang mondar-mandir bersama laptop di genggaman tangan mereka, para umbrella girl atau lebih dikenal sebagai gadis berpayung yang berbaris di hampir setiap starting grid, sampai orang-orang dengan kamera yang menyorotkan lensa kamera mereka ke arah setiap pembalap yang mereka lewati atau jumpai. Dani melihat ke sekelilingnya sekilas. Selalu saja seperti ini, gemingnya. Ia kembali menundukkan kepalanya sembari terus berdoa dalam hati, sesuatu yang selalu dilakukannya sebelum menjalani balapan dan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Sempat terbesit dalam hatinya, apa ia harus menanggung malu lagi kali ini? Untuk kesekian kalinya? Benarkah? Berulang-ulang Dani menggelengkan kepalanya, mengusir jauh-jauh pikiran negatif yang selalu saja mengusiknya sejak beberapa hari silam. Dan puncak yang paling parahnya adalah tadi malam.

Berangsur-angsur orang-orang mulai menyepi. Saling sibuk berjalan kembali ke tempatnya masing-masing. Balapan akan segera dimulai. Kurang lebih tiga menit lagi. Pria itu menerbitkan wajahnya, menatap lurus ke depan sepanjang hamparan luas sirkuit yang menghiasi pemandangannya. Ragu-ragu Dani melirik ke arah pria dengan seragam wearpack oranye lain yang sekarang tengah duduk dengan gagahnya di atas motor RC213V di grid paling depan. Pemuda itu tampak percaya diri sekali. Dani bisa merasakan itu, walaupun ia hanya melihat anak muda itu dari belakang.

“Dani, sudahlah, Nak.”

Pria berhelm itu refleks membalikkan wajahnya, saat menyadari secercah suara lembut dari sampingnya mengusik fokusnya dari punggung pria ber-wearpack sama tersebut. Cukup lama mata mereka saling bersitemu, hingga akhirnya Dani memutuskan untuk membuka celah kecil bibirnya. “Dad, doakan aku. Dari semalam pikiran-pikiran ini selalu saja berkecamuk dalam otakku, dan hampir membuatku gila. Aku tahu bahwa hal sebelumnya akan kembali terulang, dia langsung melesat saat lampu hijau menyala dan aku tidak pernah bisa menyusulnya atau bahkan tidak bisa mendekatinya. Aku sudah siap, Dad. Aku sudah siap untuk kembali menerima malu yang selalu saja kuterima sejak berlangsungnya awal musim ini.”

Antonio masih memandangi putranya untuk beberapa detik. Hatinya nyeri. Nyeri sekali melihat beban dan tekanan yang begitu besar yang harus ditanggung oleh putranya. Sejujurnya ia ingin menghentikan semua ini, menyuruh putranya berhenti membalap dan kembali ke Sabadell, tempat tinggal mereka sekaligus tanah kelahiran anak-anaknya, dan hidup tenang selamanya di kota indah itu. Namun, tampaknya itu hanya sekedar angan-angan mustahil yang tidak mungkin terealisasikan untuk saat ini. Dani pasti tidak bersedia untuk pensiun dini, terlebih di masa-masa sulitnya sekarang. Ia tidak terlahir untuk menjadi seorang pecundang hina yang akan lari dari kenyataan saat ia tidak bisa lagi membendung keganasan pembalap-pembalap lain yang jauh lebih baik darinya. Ia ingin membalasnya. Setidaknya, membuktikan bahwa ia masih mampu bersaing dan memberikan sebuah ancaman berarti.

“Dad tidak peduli, Nak. Dad tidak peduli kau mau selesai di urutan berapa nantinya, aku akan tetap mendukungmu. Apa pun yang terjadi. Apa pun. Bahkan di saat semua orang tidak mau lagi memihakmu, aku akan selalu di sini…,” Antonio menunjukkan jari telunjuknya pada dada putranya dan menekannya sedikit. “…di hatimu, selamanya.”

Lama Dani hanya menatapi sepasang bola mata coklat gelap ayahnya. Hatinya ikut sakit. Sakit sekali hingga rasanya ia ingin menjerit sekeras-kerasnya agar beban dan tekanan itu tak tahan terus bersarang di hatinya. Dani menelan ludahnya dengan susah payah, ia ingin menunjukkan. Ingin menunjukkan pada ayahnya bahwa ia tidak memiliki anak laki-laki yang payah. Ia akan membalasnya di sini. Ia akan mencobanya walaupun itu akan terasa sangat sulit. Lihatlah aku, ayah, janjinya dalam hati.

***

Warm up lap atau lebih akrab dikenal sebagai putaran pemanasan sudah selesai. Kini hanya tinggal para pembalap dan sebuah mobil asal Jerman—BMW yang masih berada di atas hamparan sirkuit luas, indah, sekaligus ganas itu. Detak jantung Dani berdegup dua kali lebih kencang. Sebenarnya ini bukanlah suatu hal yang lumrah yang terjadi padanya sebelum balapan. Ia bukan lagi pembalap junior yang akan selalu tegang dan kaku di saat-saat seperti ini. Jiwa dan batinnya sudah terbiasa. Sudah terbiasa saat berpapasan dengan situasi seperti ini. Suara geber motor terdengar jelas sekali, seolah saling sahut-menyahut antara satu mesin motor dengan mesin yang lainnya. Dani membuka plastik transparan tipis yang membaluti helm “Arai”nya. Ia lalu ikut menggeber-geber mesin kuda besi kebanggaannya.

Lampu merah berganti hijau. Balapan sudah dimulai. Seperti biasa, tikungan pertama di lap pertama selalu menjadi tempat terpopuler untuk terjadinya kecelakaan. Tidak terkecuali kali ini. Belum sempat memasuki tikungan kedua, satu pembalap terlambat mengerem dan mengakibatkan ia kehilangan kendali atas motornya dan menyeret beberapa pembalap lain mengikutinya keluar lintasan. Berguling-guling sebentar sebelum akhirnya dua dari mereka terhempas ke dinding pembatas sirkuit.

Desiran darah panas semakin menjalar liar di tubuh tertutup pria itu. Ia tahu. Cukup sadar bahwa empat pembalap yang berada tepat di belakangnya sudah terseret keluar lintasan dan gagal mewujudkan mimpi mereka untuk berada di atas podium. Keringat mulai mengucur tak terkendali dari pori-pori kulitnya. Panas. Panas sekali rasanya. Dani terus menggeber RC213V-nya hingga akhirnya ia berhasil mendekati pria itu dan berada tepat di belakangnya. Hanya terpaut 0,325 detik saja. Namun tiba-tiba, Dani merasa pikirannya berubah aneh. Fokusnya terpecah. Entah apa pemicunya, tapi yang jelas adrenalinnya semakin terpacu. Dorongan kuat dalam dirinya mulai menyembul keluar. Dimensi-dimensi berbeda sudah berputar di kepalanya.

“Bagaimana bisa kau akan menjadi juara dunia dengan gaya balapmu yang selalu tenang, Dani?”

“Bagaimana bisa kau akan mengalahkannya hanya dengan mengekorinya saja?”

“Bagaimana bisa kau menghentikan dominasinya hanya dengan mengandalkan sesuatu yang buruk akan menimpanya?”

“Kejar dia, Dani. Hentikan dia. Patahkan rekor-rekor setannya itu!”

Dani mendesah. Pikirannya berkecamuk. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Membalap sesuai bisikan-bisikan itu atau tetap mempertahankan gaya balapnya yang tenang dan terkesan membosankan? Dani terus menimbang-nimbang sambil tetap menjaga jarak dengan pria itu, yang dengan kokohnya memimpin jalannya balapan.

Dani semakin menancap gas motornya. Tidak, ia tidak ingin kalah dan dipermalukan lagi. Ia harus mengambil resiko lebih. Ya, ia harus. Fokus pria itu kembali berpusat ke arah motor serupa yang sudah berjarak 0,005 saja dari motornya. Berulang-ulang ia mencoba menyalip motor itu, namun selalu gagal. Tapi, namanya saja sudah kesetanan, Dani tetap bersikeras tidak mau mengalah. Ia harus berhasil menandingi keperkasaan bocah itu. Tunggu, apa ia masih pantas disebut bocah? Atau remaja? Atau sudah dewasa? Entahlah. Ia masih dalam kategori bocah di ajang balap motor paling bergengsi ini, namun fakta lain juga menunjukkan bahwa ia sudah berusia 21 tahun sekarang, yang notabene sudah merupakan ukuran usia dewasa. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalahnya sekarang adalah bagaimana mencari kesempatan dalam begitu sedikitnya kesalahan yang dilakukan oleh seorang Marc Marquez.

Akhirnya, dengan banyaknya usaha dan berkali-kali mencoba, Dani dengan cantiknya mampu melewati motor Marc di tikungan tajam yang berbelok ke kanan. Semua orang bersorak. Mulai dari penggemarnya, pengemar Marc, sampai penggemar pembalap lain pun ikut berteriak histeris. Mereka mungkin syok karena tidak biasa-biasanya melihat fenomena ini terjadi. Seorang Dani Pedrosa begitu ngotot dalam menyalip rekan setimnya? Rupanya Dani Pedrosa bisa tampil agresif juga?

Beberapa putaran berjalan dengan posisi yang tidak berubah. Masih Dani memimpin dan Marc menguntiti dari belakang. Namun, perpaduan antara keahlian yang di atas rata-rata dan teknologi motor yang super canggih, sukses membawa Marc kembali pada posisi awalnya. Posisi satu dan memimpin balapan. Dani menggeram. Sebisa mungkin ia sudah menutup jalan masuk bagi pria itu. Tapi, memang dianya saja yang nekat dan gila.

Tinggal tersisa dua putaran lagi dan Dani masih juga belum bisa membalikkan keadaan. Ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, namun itu belum cukup. Hingga akhirnya mereka sampai di trek lurus panjang pertanda putaran terakhir sudah dimulai. Air bening bercampur bakteri lagi-lagi menyeruak deras dari pori-pori kulitnya. Menciptakan air baru yang terasa asin jika dirasa. Dani bahkan sampai bisa merasakan lelehan keringat yang tak henti-hentinya mengalir di sekujur tubuhnya, terutama di dadanya.

Putaran terakhir di dua tikungan terakhir, cukup menjadi bukti bahwa seorang Dani Pedrosa bisa sangat membunuh di saat-saat tertekan seperti ini. Dani menyentuh ban belakang Marc ketika mencoba keras untuk kembali menyalipnya. Namun sial, ia gagal. Ia malah melebar dan hampir saja keluar jalur. Satu tikungan terakhir dan selesai. Lagi-lagi laki-laki itu berhasil berjaya dan ironisnya… Dani harus menyerahkan posisi duanya yang sedikit lagi akan berhasil digenggamnya ke pembalap ketiga yang tepat sekali berada cukup dekat dengannya. Dalam hati Dani terus menggerutu. Kecerobohannya sendiri telah membawanya dan menyeretnya lebih masuk lagi dalam lingkaran hitam tekanan dan penyesalan.

***

Tangan pria itu terangkat dan langsung menggebrak meja kecil yang terletak di sudut ruangan ganti itu. Ia marah. Ia kesal dan geram sekali karena kebodohannya sendiri yang terlalu berambisi dan terlalu gegabah. Bermaksud ingin bangkit dan membuat banyak orang terkesan, justru ia malah semakin masuk dalam jurang keputusasaan. Mata pria itu mulai memanas. Kedua tangannya mengepal dan gigi-giginya pun ikut menyuarakan gemeretak. Cukup lama Dani hanya meratapi nasibnya yang lagi-lagi gagal meraih kemenangan. Dan, harus menanggung malu karena terus dikalahkan oleh seorang junior.

Akhirnya, ia memutuskan keluar dari ruangan yang tidak terlalu besar itu ketika merasa napasnya mulai sesak karena kekurangan oksigen di dalam sana. Baru mau melangkahkan kakinya keluar, Dani lagi-lagi terpaku di tempat. Tubuhnya hampir ambruk ke belakang kalau saja tangan kanannya tidak refleks memegang badan pintu untuk menahan bobot tubuhnya.

“Tidak perlu menyesal, Dani.” Sosok tubuh yang tidak terlalu kuat itu pun langsung melempar tubuhnya tepat ke arah tubuh lemah pria itu.

“Dad? Mom? Erick? Kalian ada di sini? Kalian datang Mom, Erick?” Dani masih membulatkan kedua matanya. Tenggorokannya sedikit tercekat. “Bagaimana Dad tahu kalau aku menyesal karena semua ini?” lanjutnya.

Antonio tidak membalas. Dalam hati ia bergumam, ayah mana yang tidak tahu kalau putranya sendiri sedang menyesal ketika ia terus mengurung diri di ruangan kosong untuk waktu yang cukup lama setelah kejadian yang cukup menguras emosi?

“Sayang, kami semua tetap bangga padamu. Kau tidak perlu menunjukkan bahwa kau hebat dan tidak pecundang, Dani. Kami di sini semua tahu bahwa kau memang tercipta untuk menjadi laki-laki sejati dan memiliki keahlian yang sangat luar biasa.” Wanita itu maju dan langsung mendaratkan sebuah kecupan khas keibuan tepat di kening putra sulungnya.

“Hei, Dani. Ayolah, aku tidak mempunyai seorang kakak yang lemah sepertimu hanya karena menerima kekalahan. Semua sudah tergariskan dan aku percaya tidak selamanya kau akan berada dalam posisi seperti ini. Bangkit, Dani. Kuatlah. Kau masih mempunyai kami di sini yang akan selalu mendukung dan menerima kau walaupun kau sudah sampai di suatu masa yang benar-benar terpuruk sekalipun. Ya, mungkin seperti sekarang ini.” Erick menepuk bahu kaku kakaknya beberapa kali dengan penuh semangat. Senyum mengembang di wajah khas Spaniard-nya.

Tanpa sadar genangan air bening mulai timbul dan menggantung serta membayangi sepasang mata maskulin Dani. Hatinya tersentuh. Ambisi besar dan pertahanan kuatnya untuk tak meneteskan air mata di. depan keluarganya seketika luruh detik itu juga. Ia tidak bisa lagi menahan beban itu sendiri. Hati dan benaknya sakit tiap kali ia mencoba untuk meyakinkan dirinya.

“Aku… aku…,” Dani menelan ludah dengan susah payah. “Aku menyayangi kalian, Dad, Mom, Erick. Terima kasih untuk semuanya.”

Seulas senyum penuh kasih sayang terbentuk bersamaan di wajah mereka. Erick kembali menepuk-nepuk bahu tegang kakaknya. Sementara Antonio dan Basilia merentangkan tangan mereka.

“Kita keluarga, saling menyokong dan tidak akan pernah saling menjatuhkan. Untuk sekarang, besok, dan selamanya akan tetap begini. Kemarilah anak-anakku,” ujar Basilia penuh haru. Baik Dani maupun Erick saling merangkul erat kedua orang tua kebanggaan mereka. Erat, erat sekali.

“Aku berjanji pada kalian, aku akan menjadi seorang juara dunia suatu saat nanti.”

The End