My Secret, His Son #7

My Secret1 copy

Hope you like it and happy reading.😉

Pria paruh baya itu bersandar di belakang pintu, memandangi putri semata wayangnya yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidur bersprai putih gading. Robert menghampiri tempat tidur itu, kemudian duduk di tepi. Pandangannya tak pernah lepas dari wajah Laura. Tangan Robert terangkat, menyibak rambut Laura yang sedikit menutupi wajah ke samping.

Wajah Laura masih tampak pucat. Samar-samar Robert dapat melihat ada sisa air mata di sudut mata Laura. Hati Robert mendadak nyeri. Matanya kemudian memanas.

Hampir 5 tahun berlalu dan selama itu jugalah putrinya menyembunyikan rahasia yang seharusnya Robert ketahui. Laura merahasiakannya dengan sangat rapi, tanpa tercium oleh Robert. Dan Elena mengetahuinya. Demi Tuhan, istrinya tahu siapa laki-laki yang menumpahkan benih ke rahim putrinya. Elena tahu, tapi merahasiakannya dari Robert.

Robert telah melihatnya. Tadi sore. Laki-laki itu bergandengan tangan dengan Miguel, pulang ke rumah Laura dengan pancaran bahagia di wajah mereka. Persamaan wajah mereka sangat kontras. Robert tahu itulah ayah Miguel, ayah yang selama ini selalu dinantikan anak itu, ayah yang selalu ditanya Miguel di mana keberadaannya, dan ayah yang selalu dirindukan Miguel.

Jika hari ini 5 tahun yang lalu, Robert tidak dapat menghitung berapa bogem mentah yang akan ia layangkan ke wajah laki-laki keparat yang telah menghamili putrinya. Bahkan Robert bersumpah akan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Namun, hari ini ia mengubur semua amarahnya. Ia tidak mungkin memukul apalagi membunuh laki-laki itu. Melihat senyum Miguel, mata bocah itu yang berbinar-binar dan Robert melihat dengan sangat jelas, Miguel memuja Marc. Anak itu memuja ayahnya.

Robert mengusap matanya. Sebuah tangan meremas bahunya dari belakang. Robert menoleh, mendapati Elena berdiri di sana dengan raut wajah bersalah. Robert sadar ia tidak mungkin menumpahkan segala kesalahan pada Elena. Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Dan alasan itulah yang tidak Robert ketahui.

Robert kembali mengalihkan pandangan ke wajah Laura. Sorot lembut dari mata pria itu mengatakan apa pun dilakukan Laura di masa lalu bukanlah sebuah aib. Memang Miguel terlahir karena kesalahan. Tapi, anak itu adalah sebuah anugerah. Miguel adalah anugerah terindah yang hadir di keluarga mereka.

Robert teringat detik-detik kelahiran cucu kesayangannya itu. Jika dulunya ia mendampingi Elena ketika melahirkan Laura, tepat 5 tahun lalu ia dan Elena-lah yang mendampingi Laura saat melahirkan Miguel. Mereka memberi Laura dukungan dan kekuatan.

Robert ingat bagaimana ketika dokter mengangkat tubuh mungil yang penuh darah itu dan berkata ‘selamat, Mr. Sánchez, kau mendapatkan cucu laki-laki yang sangat tampan’. Robert menangis saat itu. Ia menangis bersama Laura dan Elena. Tangis bahagia menyambut kehadiran Miguel.

Robert mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Laura lama. “Dad sayang padamu. Apa pun yang terjadi, Dad akan menjadi orang pertama yang berdiri di depanmu. Tak seorang pun yang dapat menyakitimu,” bisik Robert.

***

Marc memain-mainkan pulpen di antara jari jempol dan jari telunjuknya, melirik dengan raut enggan pada berkas-berkas yang menggunung di atas meja kerjanya, menunggu untuk diperiksa satu per satu, kemudian dibubuhi tanda tangan sang presiden direktur perusahaan.

Marc menduduki jabatan itu, jabatan vital yang menjadi penentu ke mana perusahaannya akan mengarah. Ia termasuk cukup muda untuk usia seorang presiden direktur dan cukup matang dan dewasa untuk membina rumah tangga. Namun, opsi kedua ini tampaknya kurang menarik di mata Marc. Ia tahu tidak bisa menolak. Perjodohan sudah dilakukan, bahkan jauh sebelum calon istrinya lahir. Ia tinggal menunggu waktu saja untuk melangkah ke pelaminan.

Marc mendesah pelan. Raut bosan tampak jelas di wajahnya. Rasanya ia butuh udara segar—yang sebelumnya tidak pernah ia butuhkan saat sedang bekerja.

Marc melirik arlojinya. Jarum pendeknya mengarah ke angka 1. Hampir pukul 2. Mendadak tubuh Marc menggeliat gelisah di atas kursi kehormatannya. Tiba-tiba saja ia merasa sesuatu mendesak dalam benaknya.

Marc bangkit dari kursinya dengan tiba-tiba dan hampir membuat kursi itu terjungkang ke belakang. Pria itu menarik jas hitamnya yang tersampir di belakang kursi, cepat-cepat mengenakannya, lalu keluar dari ruang kerjanya.

Seorang gadis berpakaian kerja rapi sontak berdiri saat melihat sang presiden direktur keluar. Napasnya sedikit tercekat seperti biasa setiap melihat wajah bosnya yang memiliki kadar ketampanan yang tidak masuk akal. Pria itu terlalu menarik untuk diabaikan, terlalu sempurna untuk dicela dan terlalu seksi untuk dinilai.

Bosnya memiliki garis rahang yang kuat dan tegas. Dengan sepasang mata tajam yang dibingkai dengan sepasang alis tebal. Hidungnya mancung dan yang membuat para wanita tidak mampu mengalihkan pandangan mereka adalah sepasang bibir penuh, terbentuk begitu sempurna dan tampak sensual. Fisik pria itu tidak kalah menarik. Bertubuh tegap dan berdada bidang. Sangat maskulin. Pria itu adalah cerminan sempurna untuk segala menusia ciptaan Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki.

“Aku ada urusan mendadak. Batalkan semua janji temu hari ini. Atur ulang jadwal pertemuannya dan jika ada yang datang bilang saja aku ada rapat dengan salah satu klien,” kata Marc pada Alicia, sekretarisnya yang telah bekerja untuknya selama 2 tahun.

“Maaf, Tuan. Tapi, setengah jam lagi kau harus menghadiri pertemuan dengan salah satu klien penting dari Qatar untuk membahas proyek pertambangan minyak,” jelas Alicia, berusaha untuk tidak gugup. Marc ada di hadapannya dan sangat sulit untuk mencegah dirinya tampak bodoh di depan bosnya. Kadang mengagumi seseorang bisa membuat dirimu tampak bodoh, apalagi orang itu memiliki pesona yang begitu memabukkan.

“Tidak apa. Batalkan saja. Dia akan mengerti,” tukas Marc, tidak sabar ingin segera pergi.

“Kita tidak bisa membatalkannya karena proyek ini bernilai 800 juta euro, Tuan. Beliau memaksa ingin bertemu denganmu hari ini. Kalau tidak dia akan membat….”

“Biarkan saja. Aku tidak peduli,” potong Marc langsung dengan perasaan jengkel. “Aku harus pergi sekarang.”

Alicia melongo begitu Marc berlalu dari hadapannya. Apa bosnya sudah tidak waras? Kehilangan proyek 800 juta euro dan pria itu bilang biarkan saja? Demi yang Kudus.

Alicia kesal sendiri melihat tingkah bosnya dan tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu. Entah kenapa akhir-akhir ini Alicia merasa bosnya bertingkah aneh. Pembatalan semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya. Memangnya ada urusan mendadak apa hingga membuat bosnya itu pergi begitu saja dan menyia-nyiakan—demi Tuhan, Alicia hampir mendapat serangan jantung melihat angka sefantastis itu—proyek besar ini.

***

Marc memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya, mengabaikan suara klakson mobil lain yang memprotes karena pria itu memotong jalan mereka. Marc sebodoh amat. Ia hanya perlu sampai ke tempat tujuannya dengan tepat waktu.

Mobil Marc memelan saat memasuki pelataran salah satu sekolah swasta di kota Sevilla dan berhenti di depan pos penjagaan. Ia menyapukan pandangannya ke tempat itu dan tak ada tanda-tanda orang berada di sana. Bahkan Mr. Rossi si satpam sekolah pun tak tampak di sana.

Marc melirik arlojinya lagi. Ia terlambat 15 menit. Apa Miguel sudah pulang? tanya Marc dalam hati.

Perasaan kecewa dan sedih merasuki hati Marc. Sekali lagi ia menyapukan pandangannya ke pos penjagaan. Kosong. Dada Marc seperti terhimpit oleh ribuan ton benda keras. Rasanya begitu sesak. Ia rindu Miguel. Sangat merindukan bocah kecil itu. Padahal terakhir kali Marc melihat anak itu kemarin sore dan hari ini Marc dilanda keinginan kuat untuk bertemu anak itu lagi.

Marc menyandarkan kepalanya ke belakang kursi. Semangatnya menguap. Rasa lelah tiba-tiba saja menerjang tubuhnya. Marc sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia hanya ingin bertemu Miguel, memeluk dan mencium anak itu.

Mata Marc memandang jauh. Tiba-tiba ia terlonjak. Miguel… anak itu di sana. Anak itu sedang berjalan kemari—ke pos penjagaan seperti biasa. Rasanya beban yang menghimpitnya seketika terangkat, diganti dengan perasaan lega luar biasa.

Marc keluar dari mobilnya dan melangkah menuju pos penjagaan. Ia sudah melepas jas hitamnya dan meninggalkannya dalam mobil. Marc bersadar di dinding pos itu dan matanya terus mengamati Miguel dari jauh. Sebuah senyum mengembang di bibir Marc.

Miguel sepertinya belum menyadari Marc berdiri di pos penjagaan. Anak itu melangkah dengan langkah kecil, namun mantap, berjalan semakin dekat ke pos penjagaan. Tas ransel kecil menggantung di kedua bahu mungilnya. Raut wajah Miguel tampak serius. Di sana, tanpa sadar Marc tertawa geli.

Miguel mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara tawa yang terdengar familiar di telinganya. “Uncle Marc!” serunya tertahan, antara senang dan terkejut. Anak itu lantas berlari ke arah Marc.

Marc merentangkan kedua tangannya. Tak sampai tiga detik, tubuh Miguel itu sudah berada di dalam dekapannya. Marc mengangkat tubuh mungil itu, kemudian mencium pipinya.

“Aku merindukanmu, Jagoan,” ujar Marc dengan suara parau.

“Aku juga merindukanmu, Uncle Marc,” balas Miguel sembari menepuk-nepuk pipi Marc lembut.

“Kupikir kau sudah pulang. Kau dari mana saja? Kenapa baru keluar sekarang?” tanya Marc lembut.

Miguel menggeleng, menolak untuk menjawab.

“Miguel….”

“Aku sembunyi,” jawab Miguel pada akhirnya.

“Sembunyi? Kenapa?”

Miguel tidak menjawab.

“Miguel….”

“Ada satu gadis yang selalu mengejarku. Dia sungguh mengerikan. Tadi dia menungguku di depan sekolah. Aku tidak mau bertemu dengannya.”

Marc terkekeh pelan mendengar alasan Miguel. “Kau punya penggemar, eh?” goda Marc.

“Penguntit, lebih tepatnya,” sungut Miguel jengkel.

“Jangan berkata seperti itu. Gadis itu mengejarmu karena dia peduli padamu. Kau tidak boleh menghindarinya terus. Kau seorang anak laki-laki. Setiap anak laki-laki harus bersikap layaknya seorang gentleman, jangan seperti para ladies. Para ladies biasanya suka menghindar. Tunjukkan kalau kau seorang gentleman. Kau mengerti?”

Miguel mengangguk dengan ogah-ogahan. Ia bergidik ngeri membayangkan akan bertemu Anne setiap hari. “Akan kucoba,” ucapnya.

“Bagus!” Marc menggesekkan ujung hidung ke hidung Miguel, kemudian terkikik pelan. Mereka saling menatap, melupakan waktu untuk sejenak. Tak lama kemudian, tubuh Miguel menggeliat di gendongan Marc, minta diturunkan karena ia tidak suka digendong, apalagi di tempat umum seperti ini. Kan malu kalau dilihat orang, pikir bocah itu.

Mereka duduk di bawah pos penjagaan—tempat di mana Miguel biasanya menunggu jemputan. Miguel duduk berdempetan dengan Marc. Kakinya ia tekuk.

“Bagaimana keadaan Mommy-mu? Apa dia sudah lebih baik?” tanya Marc kembali mengawali percakapan.

“Tidak terlalu baik, Uncle Marc. Mommy masih merasa pusing,” ucapnya seraya memainkan ujung kemeja sekolahnya.

“Jadi yang menjemputmu hari ini siapa?” Marc mengerutkan keningnya. Tangannya mengusap-usap puncak kepala Miguel.

“Uncle Dani.” Miguel melirik Marc.

“Siapa dia?” tanya Marc tertarik.

“Dia teman Mommy. Dia tinggal di sebelah rumahku. Uncle Dani sering membantu kami. Dia baik sekali,” Miguel menjawab dengan polos.

“Kau dekat dengannya?” Entah kenapa Marc merasa harus menanyakan ini pada Miguel. Ia sendiri pun tidak tahu dari mana pertanyaan ini berasal.

“Lumayan. Tapi, dia lebih dekat dengan Mommy-ku. Mommy sering undang dia makan malam di rumah. Hm, mungkin lain kali aku akan menyuruh Mommy mengundangmu makan malam. Kau mau, kan?”

Marc menggeram dalam hati. Ada kemarahan yang tidak ia mengerti melesak dalam hatinya. Dani. Siapa dia? Laura dekat dengannya? Dan Laura sering mengundangnya untuk makan malam. Ada hubungan apa mereka? Apa mereka memiliki hubungan yang serius? Apa Laura dan Dani sudah ciuman atau bahkan mereka sudah melakukan…

Marc mengenyahkan pikiran-pikiran itu dari kepalanya. Tidak. Ia tidak boleh berpikiran yang macam-macam tentang Laura. Laura adalah ibu Miguel dan Marc yakin wanita itu tidak akan melakukan tindakan tercela. Laura sudah punya Miguel. Tapi, sekali lagi, Laura adalah wanita dewasa dan wanita dewasa membutuhkan nafkah batin. Demi Tuhan, apa Laura…

Sialan, Marc! Hentikan pikiran burukmu! Marc memaki dalam hati.

“Uncle Marc, kau dengar aku, tidak sih?” tuntut Miguel cemberut, merasa diabaikan oleh Marc.

Marc tersentak. “Iya, apa?” tanyanya kaku.

“Kau sedang sibuk ya?” Miguel bertanya balik.

“Tidak. Aku tidak sibuk,” dusta Marc.

Miguel merendahkan kepalanya, menatap Marc penuh selidik. “Lalu, apa yang kau lakukan di sini?”

Senyum kembali mengembang di wajah Marc. Marc teringat dulu kecil ia pernah merendahkan kepalanya seperti ini dan menatap curiga pada Roser, ibunya. Hatinya terasa hangat. Ia seperti melihat dirinya sendiri pada anak ini. Miguel begitu mirip dengannya.

Seandainya kau adalah putraku, Miguel, Marc berkata dalam hati.

“Hm, aku ada sedikit urusan di sini,” kata Marc, kembali berbohong.

Marc merasa sedikit bersalah pada Miguel. Dua kali ia bohong pada anak polos ini.

“Tuh kan…,” Miguel memanjang-manjangkan suaranya. “Kau bohong padaku. Tadi kau bilang tidak sibuk, lalu kau bilang ada sedikit urusan. Itu berarti kau sibuk. Hm, kau ini suka bohong ya, Uncle Marc? Bohong itu dosa, tahu. Mommy sering bilang kita tidak boleh berbohong. Nanti kita bisa kena tulahnya. Apalagi kau,” Miguel mendelik ke arah Marc, “kau malah membohongi anak kecil sepertiku,” sungutnya.

Marc antara geli dan merasa bersalah, kembali tertawa. Miguel mengerucutkan bibirnya, kesal karena Marc tertawa. Memangnya ada yang lucu ya?

“Baiklah, aku mengaku deh,” kata Marc setelah tawanya hilang. “Aku memang agak sibuk hari ini. Tapi, aku rindu padamu, makanya aku kemari,” aku Marc.

“Jadi kau meninggalkan pekerjaanmu hanya karena merindukanku?” tanya Miguel setengah percaya. “Baik sekali dirimu,” lanjutnya.

Marc meraih tubuh Miguel ke dalam pelukannya. Tangannya terangkat mengusap pundak Miguel dengan penuh sayang. Namun, perasaan Marc yang hangat sontak berubah. Mendadak ia dipenuhi berbagai emosi. Punggung Marc tegang dan kaku. Napasnya tertahan. Ada perasaan yang hendak meledak dalam dirinya begitu merasakan tangan Miguel yang mungil itu balas memeluknya. Tangan kanan anak itu menyentuh pinggangnya, sementara tangan kiri diletakkan di atas perut Marc. Jari-jari mungil Miguel meremas bajunya.

Marc mempererat pelukannya. Demi Tuhan, jika ini bukan tempat umum, mungkin ia akan menangis sekarang juga. Tubuh Miguel terasa sangat pas di dekapannya. Tangannya seolah tercipta hanya untuk merengkuh Miguel di dadanya.

“Baumu enak, Uncle Marc,” kata Miguel di dada Marc.

Marc menempelkan sebelah pipinya di kepala Miguel. “Baumu jauh lebih enak, Jagoan,” balas Marc seraya menghirup aroma rambut Miguel.

“Aku sayang padamu.”

Jika hari ini ia melepaskan 800 juta euro hanya untuk mendengar Miguel mengucapkan tiga kata itu, ia sangat rela. Bahkan ia rela membayar lebih jika itu diperlukan.

Mata Marc dibayangi cairan bening. Anak ini sukses menumbuhkan suatu perasaan yang Marc sendiri tidak tahu apa namanya. Miguel mampu memorakporandakan hati Marc. Rasanya tidak ada yang lebih hebat ketika mendengar Miguel mengatakan ia sayang padanya. Miguel sayang padanya. Anak itu menyayanginya.

To Be Continued…

Hi, my lovely readers. Thanks for reading my story. I really hope you guys leave comments below or just mention on my Twitter @ClevaLizzy. Don’t be silent readers, okay? Just put your respect here. Thank you😉

2 thoughts on “My Secret, His Son #7

  1. Damn,… Gua seumur hidup gak pernah ketemu papa ku,… Dan tankz cerita ini buat gua hanyut. Setelah 24 tahun lamanya gua keingat lagi betapa sangat bangett ingin memeluk orang yang bisa kupanggil papa.
    Gua iri banget sama anak ini beneran,… Gua sempat lupa sama perasaan ini, perasaan kangen sama yang namanya papa,… Kalau boleh berharap andai dia yang tidak pernah mamaku sebutkan namanya sampai akhir hayat mama, gua cuman mau bilang ” aku rindu sama papa, walau aku belum pernah melihatmu tapi aku merindukanmu. Entah di manapun kau berada, seperti apapun kau aku menyayangimu”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s