An Unexpected Love #1

@Nataa_diva

Pernahkah kalian merasakan cinta yang tak terduga? Entah apa yang kalian tahu tentang rasa itu, namun kalian ingin terus bersamanya dan melihat senyumnya setiap hari. Bahkan kalian cemburu jika mendapatinya dengan lawan jenisnya yang lain. Aneh, bukan?

***

“Dan, nanti tolong bawa ini ke kelas bahasa Inggris ya,” kata Adel sambil meletakkan setumpuk buku di depan Dani.

“Oke. Ada lagi?” tanya Dani memastikan. Ia tahu temannya yang satu ini pelupa sekali.

“Sepertinya tidak. Aku mau ke ruang musik dulu,” Adel melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan.

Konser musikal tahunan akan diadakan sebentar lagi. Adelaide Alessandra, sang jawara biola menjadi pemusik utama dari Juilliard School. Ia juga merupakan pemain tunggal tuan rumah. Itu sebabnya akhir-akhir ini ia berlatih keras sepanjang hari.

***

Suasana kelas bahasa Inggris terasa hening. Seisi kelas terdiam menantikan apa yang mungkin terjadi. Napas mereka tertahan saat pintu terbuka. Seorang gadis berkuncir kuda dengan santai berjalan ke arah mejanya.

“Adel.” Suara rendah Mr. Jorge terdengar begitu menakutkan.

“Ya?” sahut Adel membalikkan badannya.

“Tahu kau sudah terlambat berapa menit?” tanya Mr. Jorge datar.

Adel terlihat berpikir sejenak. Ia menempelkan jari telunjuk di dagunya, menggoyang-goyangkan kakinya lalu menatap gurunya lekat-lekat. “Tidak.”

“Adel!” seru Mr. Jorge, kemudian melanjutkan, “Keluar dari kelas saya sekarang juga!”

Adel mengangkat bahunya. “Baiklah. Besok kau bisa menjelaskan materi hari ini padaku di student corner. Terima kasih.”

Gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri, ia bermaksud menarik handle pintu ketika gerakannya terhenti. Adel menoleh ke belakang dan mendapati Mr. Jorge sedang menahan pintu sekarang.

“Ikut ke ruangan saya selesai kelas hari ini,” desis Mr. Jorge dingin, suaranya terdengar asing di telinga Adel.

Sambil bergidik ngeri ia segera keluar dari ruang kelas tanpa permisi pada Mr. Jorge. Adel memang dikenal sebagai satu-satunya anak di sekolah itu yang selalu membuat ulah dengan dosen muda bernama lengkap Jorge Lorenzo Guerrero. Mr. Jorge bisa saja mengeluarkannya dari sana kalau nilai Adel di bawah rata-rata. Hanya saja nilai yang didapatnya justru selalu sempurna.

Dulu Adel sering dihukum untuk menyikat kamar mandi, mengetuk pintu kelas satu persatu sambil berkata “saya tidak akan nakal lagi” seperti anak TK dan masih banyak lagi. Penyebabnya sepele. Adel tidak jarang lupa pesan yang dititipkan Mr. Jorge padanya, ditambah sikap cuek dan tidak acuhnya membuat dosen itu gampang sekali naik darah bila berurusan dengannya.

***

River Flows in You.

Alunan lagu itu mengalun lembut dari balkon lantai atas. Seolah menyampaikan isi hati pemainnya, siapa pun yang mendengar suara gesekan biola ini pasti terenyuh.

Daniel Pedrosa Ramal, laki-laki pendiam berotak encer tersebut sebenarnya mempunyai bakat musik seperti Adel. Hanya saja ia tidak pernah mencoba menunjukkan kelebihannya itu di depan banyak orang. Ia cenderung menutup diri karena merasa tidak ada yang bisa menjadi teman kepercayaannya.

Ia sedang mencari udara segar ketika telinganya menangkap sebuah nada. Dengan mengendap-endap, Dani memperhatikan gadis itu dari dekat. Entah perasaan aneh apa yang timbul dalam benaknya, tapi ia merasa nyaman melihat gadis itu sekarang.

“Permainan yang bagus,” sela Dani sebelum Adel kembali memainkan biolanya.

Adel tampak terkejut. “Sejak kapan kau berada di sini?”

“Hmm… tidak lama,” sahut Dani menyembunyikan kegugupannya. “Mau ikut aku ke ruang musik?” pertanyaan itu meluncur tiba-tiba dari mulutnya.

Dani sendiri bingung dari mana ia mendapatkan keberanian untuk menjalin persahabatan dengan gadis yang satu ini. Adel mengangguk penuh semangat, ia sudah lama tahu kehebatan laki-laki ini. Dan ia menebak Dani pasti ingin mengajaknya bermain bersama.

***

“Hebat!” seru Adel begitu lagu Kiss the Rain selesai mereka mainkan.

Dani tersipu malu.

“Bagaimana kalau aku sarankan, kau ikut dalam konser musik tahunan saja? Kita akan mempersembahkan sebuah lagu pada acara puncak. Kau mau?” tanya Adel menggebu-gebu.

“Ah? Aku… Ehm…”

“Ayolah. Nanti aku memberikan kejutan pada penonton dengan duet kita. Itu pasti akan jadi permainan yang luar biasa! Oke?” desak Adel setengah memaksa.

“Aku tidak janji…,” gumam Dani menundukkan kepala.

“Kau tidak percaya diri?” Adel memotong omongan Dani. “Dari dulu aku selalu mencari waktu yang tepat supaya bisa berbicara denganmu, hanya belum terlaksana. Sekarang, kau harus mendengarkan aku. Paham?”

Usia Dani 2 tahun lebih tua dari Adel. Karena Adel masuk kelas akselerasi di sekolah menengah pertamanya dulu, kini mereka sama-sama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Adel tidak pernah menganggap dirinya sebagai anak kecil, tapi bersikap dewasa agar bisa mengimbangi teman-teman di sekolahnya.

Di balik seriusnya percakapan mereka, seorang gadis rambut panjang berwajah bulat mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Ia tidak bisa melihat Dani berduaan saja dengan Adel. Tanpa berpikir panjang ia menyeruak masuk dan menyapa mereka.

“Halo Dani! Halo Adel!” gadis itu langsung mengambil tempat di sebelah Dani. “Ngomongin apa sih? Ikutan dong….”

“Bukan sesuatu yang penting,” kata Adel bersikap sebaik mungkin. Kalau ia tidak ingat hukuman yang akan ia dapatkan nanti, sudah ia lempar keluar jendela makhluk menyebalkan yang satu ini.

“Oh ya, bukankah kau disuruh menemui Mr. Jorge sehabis kelas hari ini selesai?” tanya gadis itu.

Alicia Lily Scheunemann, atau yang biasa dipanggil Alice sudah lama mendekati Dani. Segala hal tentang Dani dapat ia ketahui dengan mudah, bahkan isu yang tidak jelas saja ia tahu. Contohnya saja, Adel dan Alice berbeda kelas. Namun ia tahu kejadian tadi pagi.

“Astaga!” Adel menepuk dahinya keras-keras. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir, alasan apa yang akan ia berikan pada dosennya itu.

***

“Mati kau, Jorge Lorenzo!” geram Adel sambil menggebrak meja belajarnya kesal.

Ini sudah malam dan Mr. Jorge meminta Adel untuk datang ke rumahnya? “Gila…,” batin gadis itu berusaha sabar.

Dengan enggan ia mengganti pakaian tidurnya, kemudian mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas lemari. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal dan sudah memeriksa pintu rumah, Adel segera berangkat ke tempat Mr. Jorge. Hanya butuh waktu seperempat jam untuk sampai ke rumah dosen sialan itu.

“Tok… Tok…”

Pintu terbuka. Seorang laki-laki bertampang berantakan keluar dari situ. “Akhirnya kau datang juga. Cepat masuk.”

Adel mengikuti langkah Mr. Jorge, ia bersiap-siap menghajarnya jika ia berani berbuat macam-macam terhadapnya.

“Duduk di sana, dan tunggu aku sebentar,” kata Mr. Jorge menunjuk sofa berwarna putih.

Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. “Oh, hei! Barusan dosen itu bilang apa? Aku? Apa jangan-jangan…,” Adel menggumam dalam hati sembari berpikir. “Ah, tidak mungkin. Dunia bisa kiamat kalau aku berjodoh dengannya.”

Daripada menerka yang tidak-tidak, Adel memilih menjelajahi rumah Mr. Jorge. Ruang tamunya cukup luas dan rapih. Di halaman belakang ada kolam renang yang ukurannya terlalu luas untuk dipakai seorang diri. Dapurnya sendiri seperti dapur acara memasak, lebar dan lengkap, kalian pasti bisa menemukan apa pun di dalamnya. Di ruang tengah, ada piano klasik langka. Adel langsung terkagum-kagum. Sedetik kemudian, jari jemarinya menari dengan luwes di atas tuts piano.

***

Mr. Jorge baru saja kembali dari ruang kerjanya ketika ia mendapati seorang gadis sedang memainkan piano klasiknya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk menyentuh piano itu, apalagi memainkannya sembarangan. Namun entah kenapa, saat gadis itu menekan lembut tuts-tuts piano, ia teringat cinta pertamanya.

Caranya duduk di kursi piano, serta komposisi lagu yang dimainkan hampir sama dengan perempuan yang dulu mencampakkannya. Seberapa keras ia mencoba melupakan bayangan perempuan itu, semakin terbersit segala kenangan yang mereka pernah lalui bersama.

Perlahan, Mr. Jorge berjalan menghampiri gadis itu. Ia meletakkan buku tebal di samping meja di sebelah piano itu dan memandanginya penuh arti.

“Astaga! Kau mengagetkanku, tahu?” Adel menghentikan permainannya begitu mengetahui makhluk alien ini sudah berada di belakangnya.

“Maaf…”

Hah? Ia tidak salah dengar? Mr. Jorge meminta maaf padanya? Oh, tidak. Ada yang aneh sepanjang malam ini.

“Ah, tidak masalah,” sela Adel dengan percaya diri tanpa mendengar perkataan Mr. Jorge selanjutnya. “Kau tidak perlu meminta maaf padaku.”

“Maaf di sini bukan berarti aku mengharapkan ampunanmu, anak pintar. Maaf di sini berarti permisi. Bisakah kau menjauh dari piano itu sekarang juga?” desis Mr. Jorge setengah berbisik.

Adel merasakan mukanya memanas. Mungkin akan memerah seperti kepiting rebus. “Menyebalkan! Dasar makhluk rese!” umpatnya dalam hati.

To Be Continued…