Fanfiction : The One That Got Away #5

pageFF copy

Janjiku sih post-nya semalem. Tapi, karena ada beberapa hal yang menghambat, akhirnya baru sekarang di-post. Gak pa-palah, ya? Hihihi… Seperti biasa, jadilah pembaca yang budiman. Di sini kita saling menghargai. Kritik dan saran selalu ditunggu. Akhir kata, happy reading😉

Estelle mematut dirinya di depan cermin, memastikan penampilannya untuk terakhir kali sebelum turun dan sarapan. Tangan gadis itu terangkat, merapikan kerah kemeja putihnya yang sedikit terlipat. Gadis itu lalu berdiri menyamping, memeriksa rok lipit merah kotak-kotaknya, kemudian kembali memutar tubuhnya ke depan cermin.

Estelle coba tersenyum. Namun, bayangan di hadapannya membalas dengan senyum kecut. Senyum itu kemudian hilang dan digantikan dengan tatapan sebal. Lingkaran di bawah matanya berhasil ia samarkan. Tapi, warna putih pucat seperti mayat masih mendominasi di wajahnya. Padahal ia sudah menggunakan pewarna pipi dan bibir untuk menyamarkannya. Tapi, untung saja matanya tidak terlalu sembap. Gadis itu rela bangun lebih pagi hanya untuk mengompres matanya dengan air es dan hasilnya lumayan memuaskan.

Rambut panjang Estelle yang bergelombang dibiarkan tergerai jatuh. Gadis itu menjepit poninya ke atas dengan jepitan mungil berbentuk snowflake, menampakkan kening indah kebanggaannya. Estelle beruntung memiliki bentuk kening yang sempurna dengan garis tegas sekaligus feminin yang membuat banyak orang iri.

Estelle menaikkan sebelah alisnya, kemudian mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Seketika pancaran keangkuhan mengeluar dari wajahnya. Tampak dingin dan sulit didekati. Inilah yang diperlukan Estelle. Ia tidak butuh perhatian apalagi dikasihani. Itu bukan gayanya.

Estelle mengambil rompi dan tas sekolahnya, kemudian keluar dari kamar. Saat hendak menuruni tangga ia berpapasan dengan Marc yang hendak turun juga. Estelle berhenti sebentar. Tanpa sadar matanya menyorot penampilan Marc dari atas ke bawah.

Pagi ini Marc mengenakan kemeja biru langit. Rambutnya disisir ke atas dan diberi gel. Wajahnya tampak segar dan… lumayan tampan. Samar-samar Estelle mencium bau aftershave yang mengeluar dari tubuh laki-laki itu dan seketika pipinya bersemu merah tanpa bisa dicegah.

Estelle cepat-cepat memperbaiki ekspresi wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, ia melewati tubuh Marc dan berjalan anggun menuruni setiap undakan tangga.

Marc menggeleng pelan dan senyum geli lantas mengembang di bibirnya.

Dasar, dengusnya dalam hati.

***

“Aku juga merindukanmu, Sayang,” ucap wanita paruh baya itu dengan nada lembut di gagang telepon.

“Kalau begitu kapan aku boleh mengunjungi kalian? Aku penasaran dengan gadis keras kepala yang diceritakan Marc kepadaku,” ujar seorang pria di seberang sana.

“Nanti. Kau harus bersabar. Setelah aku yakin mampu mengambil hatinya, kau boleh datang. Aku yakin kau pasti tidak akan percaya aku bisa mengubah sifat keras kepalanya,” balas wanita itu dengan riang.

“Baiklah. Aku percaya padamu. Jadi bagaimana kabarmu di sana? Apa kau menikmatimu hari-harimu menjadi Nyonya Stoner?”

Wanita paruh baya itu terbahak-bahak, lalu menjawab setelah tawanya reda. Ia yakin sekali pria itu pasti sedang cemberut. “Lumayan. Hm, ini hanya sementara, Sayang. Aku akan segera kembali begitu tugasku selesai.”

“Well, kutunggu kalau begitu. Satu lagi, kulihat suami barumu itu cukup tampan. Awas saja sampai kau jatuh cinta padanya. Aku bersumpah akan membunuhnya jika hal itu sampai terjadi. Kau mengerti, Sayang?” Terdengar nada posesif yang kembali membuat wanita itu tertawa.

“Mengerti, Cintaku!”

Senyum di bibirnya masih berseri-seri saat wanita itu meletakkan gagang teleponnya. Ia sudah tidak sabar untuk menjalankan rencana selanjutnya. Wanita itu memiliki prinsip apa pun bisa dilakukan jika ada kemauan dan tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Ia tinggal mengeksekusi setelah mempersiapkan segala sesuatunya tadi malam.

***

Estelle melangkahkan kaki melewati halaman depan sekolahnya. Keningnya mengerut, merasa heran karena tak melihat satu pun siswa-siswi yang berkeliaran di sini. Ia coba mengingat hari apa ini. Rabu. Tapi, kenapa sepi sekali? batinnya.

Di belakang, Estelle mendengar suara orang berlarian. Gadis itu menoleh dan dilihatnya Bradley dengan raut cemas tengah menghampirinya.

“Kau…,” Napas Bradley putus-putus. “…harus ikut aku sekarang juga. Ini benar-benar gawat, Estelle,” lanjutnya dengan tersengal-sengal.

Kening Estelle semakin terlipat ke dalam. “Kau bicara apa sih?” tanya Estelle bingung.

“Alicia.”

Belum sempat ia mencerna apa maksud Bradley, cowok itu langsung menariknya masuk ke gedung sekolah. Mereka melewati laboratorium sains dan gedung olahraga, kemudian memasuki lorong panjang yang mengarah ke kafetaria. Samar-samar Estelle mendengar suara ribut-ribut. Dan benar saja, dari kejauhan gadis itu melihat puluhan mungkin ratusan orang memadati kafetaria.

Estelle melambatkan larinya, lalu berhenti di belakang orang-orang yang sedang memunggunginya. Ia mendengar jelas orang-orang itu mengumpat kata jalang berkali-kali. Seketika Estelle tahu siapa yang menjadi objek pembicaraan mereka.

Estelle menggertakkan giginya kesal. Ia menggeram dalam hati. Bradley menyentuh bahunya, meremas pelan, turut berduka akibat ulah si biang gosip itu.

“Es…,” bisik Bradley pelan.

Estelle menoleh dan tersenyum sinis. Sebelah alisnya naik. “Tidak apa, Brad. Omong-omong, apa kau ingin menonton pertunjukkan gratis?”

***

Pagi itu Sydney International High School dihebohkan dengan sebuah berita yang disiarkan oleh radio keliling langganan mereka. Siapa lagi kalau bukan Alicia, si biang gosip sekolah. Gadis itu membuat gempar satu sekolah dengan gosip terbarunya yang bertajuk : Kelakuan Bejat si Anak Pemilik Yayasan Sekolah

Alhasil, Alicia dikerubungi oleh para pecinta gosip untuk mendengar siaran lengkapnya di kafetaria. Tempat itu dipilih karena ruangnya luas dan mereka leluasa untuk mendengarkan apa pun yang mereka inginkan.

Spekulasi pun berkembang dan nama Estelle semakin hancur di mata mereka. Alicia memulai siaran pagi itu dengan gayanya bak seorang presenter gosip papan atas.

“Percaya atau tidak, yang pasti aku mendapatkan informasi ini dari sumberku yang sangat… sangat… sangat… TERPERCAYA,” mulainya dengan suara dipanjang-panjangkan. Alicia berdeham sebentar, lalu melanjutkan, “Anak pemilik yayasan sekolah kita yang selama ini terkenal galak dan sombong itu ternyata memiliki hubungan yang cukup serius dengan guru musik kita. Bahkan menurut sumberku, mereka tinggal satu rumah dan kemungkinan besar mereka telah bertunangan,” katanya dengan semangat menggebu-gebu. Ia sengaja membuat suaranya terdengar histeris dan bisa ditebak ucapannya yang barusan sukses membuat pendengar setianya membelalakkan mata.

“Kau pasti bercanda!” seru Maverick Vinales, si anggota klub pecinta lingkungan.

“Omong kosong,” komentar Anna Smith, adiknya si cupu Bradley Smith. Gadis berkacamata Albert Einsten itu cukup mengenal Estelle walaupun tidak terlalu dekat dengannya. Anna banyak mendengar tentang Estelle dari Bradley dan ia sangat yakin si biang gosip itu hanya mengada-ngada dan mencari sensasi.

“Lanjutkan, Alicia!”

“Well, aku sih berani jamin setelah lulus sekolah, si angkuh itu pasti langsung menikah. Coba kalian bayangkan, kalau tinggal satu rumah, mustahil mereka tidak melakukan hubungan… ya, kalian-tahulah-maksudku,” lanjut Alicia sembari mengangkat bahu, mendramatisir keadaan.

Mereka yang mendengarkan sontak mendengus dan memasang ekspresi jijik. Sebagian kelompok itu ada yang tidak percaya dan beberapa orang menganga saking syoknya mendengar berita tersebut. Beberapa komentar merendahkan bermunculan setelah itu. Hujatan dan hinaan terlontar dari mulut mereka.

“Cih! Tak kusangka kelakuan si angkuh itu begitu menjijikan,” cibir Allen, si atlit renang yang sering memenangkan berbagai turnamen.

“Gadis jalang,” maki Danny Kent, cowok yang pernah ditolak Estelle.

“Seingatku Estelle baru berusia 16 tahun. Berani sekali dia tinggal serumah dengan laki-laki,” bisik Tito Rabat ke temannya.

“Aku kira dia masih perawan. Ternyata…,” cibir Jack Muller, si anak basket temannya Scott.

“Kau percaya dengan Alicia?” tanya Pol Espargaro pada kekasihnya, Bella yang duduk di sampingnya.

“Entahlah. Aku tidak yakin Estelle seperti itu. Walaupun aku tidak terlalu mengenalnya, tapi aku pernah satu kelompok dengannya di kelas biologi dan kurasa dia tidak seperti yang dibicarakan Alicia,” jawab Bella.

“Guys, guys…,” sela Alicia memotong acara hujat-menghujat mereka. “Ada satu berita lagi yang hampir membuatku kena serangan jantung saat mendengarnya. Well, kalian tahu kan kejadian kemarin saat si jalang itu pingsan di kelas musik? Ternyata dia cuma pura-pura saja. Soal pertengkaran kekasih itu memang benar adanya. Kalian tahu apa yang terjadi di klinik sekolah setelah itu? Saksi mataku melihat si jalang itu bermesraan dengan kapten basket sekolah kita!” Alicia membuat tanda kutip di jari-jari kedua tangannya.

“APA?!”

Sontak teriakan dari seluruh siswa-siswi itu menggema di kafetaria. Mulut mereka kembali menganga lebar saking syoknya dengan gosip yang mereka dengar. Kini umpatan-umpatan itu terdengar semakin terdengar jelas dan keras.

“Pelacur!”

“Cantik-cantik, tapi kelakuannya bejat!”

“Kurasa kau sudah bosan hidup, Alicia!” teriak seorang gadis di pojok kafetaria. Namun, tak ada yang memedulikan gadis itu.

“Mengerikan!”

“Begitukah perilaku anak pemilik yayasan sekolah? Membuat malu saja!”

Alicia tertawa senang mendengar berbagai makian yang ditujukan ke Estelle. Gadis itu dengan gaya centilnya mengangguk setiap ada pertanyaan yang terlontar dari para penonton dan sesekali menjawab mereka.

“Sedang membicarakanku?” celetuk suara terdengar cukup keras dan penuh ancaman di barisan belakang kerumunan orang-orang itu.

Mereka sontak menoleh ke belakang dan mendapati objek gosip mereka berdiri di sana dengan tangan bersedekap di dada. Tanpa diperintah, orang-orang itu segera menyingkir dari hadapannya dan membuka jalan untuk gadis itu dan si cupu yang berada di sebelahnya.

“Sudah kubilang kau cari mati, Alicia,” teriak gadis tadi dan langsung mendapat pelototan tajam dari para penonton. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya.

Alicia terduduk dengan punggung tegak dan kaku. Tubuhnya bergetar di bawah tatapan mengintimidasi Estelle. Ia menelan ludahnya dengan susah payah seolah ada sesuatu yang menyangkut di kerongkongannya.

Estelle berjalan dengan langkah santai ke arah Alicia. Bradley memilih berdiri di belakang Estelle. Tatapan mata gadis itu menyorot tajam, menelanjangi Alicia. Estelle bisa melihat keringat dingin mulai bermunculan di pelipis Alicia. Senyum angkuh lantas menggantung di bibir mungilnya.

“Kudengar kau punya gosip baru pagi ini. Mau berbagi denganku?” tanya Estelle pura-pura riang.

Alicia mengkeret di tempat. Ia tahu ia berada dalam posisi beebahaya sekarang. Para penonton ikut tegang melihat dua orang gadis—yang satu sedang duduk dengan raut wajah pucat dan ketakutan dan yang satu lagi berdiri dengan angkuh dan mengancam.

“Ah… bu… bukan a… apa-a…pa, Estelle,” jawab Alicia tergagu dan coba memamerkan senyum seolah tidak terjadi apa-apa.

“Estelle? Aku pikir tadi kau menyebutku dengan kata si jalang. Atau aku yang salah dengar?” Estelle menaikkan sebelah alis matanya.

Alicia bertambah pucat. Detak jantung bertalu-talu, memukul dadanya hingga ia merasakan sesak luar biasa. Tetesan keringat mengalir di pelipis kanannya.

Karena tak segera menjawab, Estelle membungkukkan tubuhnya di depan Alicia. Kerumunan itu lantas mendekat karena tidak ingin melewatkan kejadian menarik di hadapan mereka.

“Sayang sekali sebenarnya,” ucap Estelle dengan nada dibuat-buat prihatin melihat keadaan Alicia.

Alicia menunduk, tidak berani menatap wajah Estelle yang berada di depannya.

Estelle meraih dagu Alicia, mengangkatnya kasar dan menekannya kuat. “Kau…,” Estelle menghunjam tatapannya ke mata Alicia. Suaranya seketika berubah sinis. “Ini bukan yang pertama kalinya kau berbicara yang tidak-tidak tentangku. Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, kau ingat? Besok, silakan angkat kaki dari sekolah ini. Cari sekolah lain yang mau menampung siswi yang dikeluarkan secara tidak hormat. Kau mengerti?” desis Estelle, cukup lantang untuk membuat para penonton terkesiap.

Estelle menghempas dagu Alicia, lalu menegakkan tubuhnya dan berbalik memunggungi si biang gosip yang wajahnya seputih mayat itu. Estelle tidak memedulikan tatapan penonton yang lagi-lagi dibuat syok olehnya.

“Kita pergi, Brad,” ucapnya pada Bradley yang masih terpaku di tempat.

Estelle berjalan keluar dari kafetaria tepat saat bel jam masuk berbunyi. Di belakangnya Bradley menyusul. Kepala cowok itu sesekali menoleh ke belakang, penasaran dengan nasib Alicia selanjutnya.

Estelle masih dapat mendengar keriuhan di belakangnya. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. Matanya terasa panas. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang medesak keluar.

Estelle berjalan dengan langkah cepat dan setengah memperhatikan jalan di depannya. Matanya mengabur oleh air mata. Hingga tiba-tiba saja sesosok tubuh muncul dari arah berlawanan dan menabraknya. Estelle hampir jatuh kalau saja Bradley tidak sigap menangkap tubuhnya dari belakang.

“Aku tidak apa-apa!” sentaknya kasar, mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Dua bulir air mata Estelle jatuh. Buru-buru gadis itu menegakkan tubuh. Kepalanya mendongak dan seketika hatinya mencelos melihat siapa yang menabraknya tadi. Laki-laki itu hanya menatap datar ke arahnya.

“Kau…,” desisnya marah. Estelle mengusap matanya dengan kasar. “Sumpah demi apa pun, sejak kau dan ibumu masuk ke rumahku, kalian merusak segalanya. Terkutuklah kau, Marc Márquez. Terkutuklah kau!”

Usai berkata seperti itu, gadis itu sengaja menabrak tubuh Marc dan melewati laki-laki dengan perasaan kesal. Sementara Bradley, sekali lagi ia terpaku di tempat. Saat ia tersadar, cowok itu buru-buru hendak menyusul Estelle. Namun, belum selangkah ia berjalan, lengannya ditahan Marc. Tatapan tajam guru musiknya itu langsung menusuk ke maniknya.

“Jelaskan padaku!” bentaknya dengan nada marah.

To Be Continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s