Fanfiction : The One That Got Away #4

pageFF copy

Tuan Putri, kali ini kau membuatku sangat murka. Buang jauh-jauh gengsimu dan makanlah ini. Lain kali jangan pernah membiarkan dirimu kelaparan. Kau akan tahu akibatnya jika tidak mengindahkan perintah ini, kau mengerti? Prince.

Estelle bergidik ngeri membaca setiap rentetan kata di atas kertas putih yang sedang dipegangnya. Ia baru siuman beberapa menit yang lalu dan hidungnya langsung mencium bau harum makanan. Dan benar saja, ia melihat sebuah kotak bekal berwarna pink yang terletak di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Gadis itu masih berada di klinik kesehatan Sydney International High School. Hanya ia seorang di sini, duduk di atas tempat tidur empuk dan memasang ekspresi ngeri dan heran.

Prince? Siapa Prince? Estelle bertanya dalam hati.

Estelle mengedikkan bahunya. Sebodoh amatlah. Cacing-cacing di perutnya sudah merengek-rengek minta makanan. Gadis itu membuka kotak bekal tersebut dan hidung langsung dimanjakan bau spaghetti bolognese. Matanya berbinar-binar. Secepat kilat ia menyambar garpu dan menyuapkan spaghetti itu ke mulutnya.

Seketika mata gadis itu membelalak. Kunyahan di mulutnya berhenti. Astaga, demi sejuta dewa ganteng di mitologi Yunani, ini spaghetti terenak yang pernah ia cicipi. Siapa pun Prince itu, ia sangat berterima kasih sekali padanya. Mungkin nanti malam ia akan berdoa kepada Tuhan dan meminta dosa orang yang bernama Prince itu diampuni. Dengan catatan, kalau Tuhan mau dengar doanya. Kalau tidak, ya, setidaknya ia sudah berusaha.

Senyum manis tersungging di bibir Estelle. Gadis itu dengan lahap mencicipi spaghetti-nya hingga tidak sadar, diam-diam seseorang sedang mengintip di balik jendela yang tirainya tidak tertutup sempurna dan tersenyum geli melihat cara gadis itu makan.

***

Berita tentang Estelle jatuh pingsan di kelas musik langsung jadi buah bibir di penjuru sekolah saat jam istirahat kedua berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Alicia Lily Scheunemann, si radio keliling Sydney International High School menyebarkan berita tersebut. Alicia berada di kelas yang sama dengan Estelle saat gadis itu jatuh pingsan. Gadis itu bahkan melebih-lebihkan kejadian yang sebenarnya tidak terjadi.

Akibatnya baik junior maupun senior sibuk membicarakan anak pemilik yayasan sekolah itu. Ada yang prihatin dan ada juga yang mencemooh. Mereka mengira Estelle pura-pura pingsan di kelas musik agar mendapat simpati dari Mr. Márquez setelah sebelumnya gadis itu diusir dari kelas musik.

Bahkan terdengar gosip kedekatan tak biasa antara Marc dan Estelle—yang sumber beritanya entah berasal dari mana dan tidak dijamin keakuratannya. Rumor mengatakan Marc dan Estelle telah berpacaran jauh sebelum laki-laki menjadi guru musik di sekolah ini. Jika dikaji ulang, maksud Marc mengusir Estelle dari kelas musik dipicu lantaran sedang terjadi pertengkaran kekasih. Marc cemburu karena Estelle disebut-sebut main belakang dan menjalin hubungan gelap dengan kapten basket sekolah, Scott Redding. Menurut rumor yang berkembang, saat Estelle diusir dari kelas, gadis itu langsung mencari Scott dan mereka bertemu di taman sekolah. Dan yang lebih menghebohkan, Scott dan Estelle berciuman di sana. Jadi rasanya masuk akal juga jika kejadiannya dirangkai sedemikian rupa.

Saat jam istirahat kedua, Estelle masih beristirahat di klinik sekolah. Sebenarnya gadis itu sudah merasa sehat untuk meninggalkan tempat ini. Sangat sehat malah. Hanya saja ia tahu jika meninggalkan klinik pada jam istirahat seperti ini, semua orang akan membicarakannya dan memperkuat dugaan mereka. Tidak perlu menjadi genius untuk menebak isi otak mereka. Estelle sangat-yakin-sekali dirinya menjadi santapan gosip di kafetaria.

Dari dulu gadis itu tidak pernah peduli pada omongan orang lain. Sikap cueknya yang sebodoh amat orang mau berkata apa selalu ia tunjukkan kepada orang-orang yang terlampau ingin tahu dan mengorek informasi kehidupan pribadinya. Ia tidak suka dan tidak mau orang lain, kecuali sahabatnya, Bradley tahu kehidupannya yang sebenarnya. Kalaupun ia berbicara, ia hanya berbicara seperlunya dan tak satu pun perkataan bisa dijamin kebenarannya. Ia benci berbohong. Tapi, ia terbiasa melakukannya. Ia menyebut kebohongan sebagai ego wanita untuk tampak keren di hadapan orang lain. Sesederhana itu.

Suara decitan pintu memecah lamunan Estelle. Gadis itu menoleh, melihat siapa yang masuk ke dalam klinik. Sontak gadis itu mendelik kesal ke arah orang tak diundang itu.

“Mau apa kau kemari?” ketus Estelle. Tangannya disedekapkan ke dada.

“Melihatmu. Tidak boleh ya?” sahut Scott dengan nada lembut. Tidak sedikit pun cowok itu tampak tersinggung dengan nada ketusnya. “Hm, bagaimana keadaanmu? Kudengar kau pingsan di kelas Mr. Már….”

“Jangan pernah menyebut nama sialan di depanku,” potong Estelle dengan suara tajam dan dingin.

Scott membeku di tempat. Mendadak ia merasa panas dingin. Scott menelan ludah dan kembali tersenyum untuk menyamarkan kegugupannya. Gadis itu mengintimidasi dengan nada suara yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan tampak seperti orang tolol. Belum lagi tatapan tajam gadis itu. Sarat akan penghakiman dan menuduh. Tapi, Scott tahu yang sedang ditunjukkan Estelle sekarang adalah topeng.

“Kau membuatku takut,” tukas Scott, sengaja memilih kata-kata itu untuk menarik perhatian Estelle.

Estelle memalingkan wajahnya ke arah cowok itu yang berdiri tak kurang satu meter darinya. Senyum sinis menggantung di bibirnya. “Oh ya?” Hanya itu respon Estelle.

“Sejujurnya kau sedikit menakutkan,” lanjut Scott, mengabaikan kesinisan dalam suara Estelle. “Tapi, aku tahu kau sengaja melakukannya agar orang-orang takut padamu. Kau sedang kesepian, Es. Aku bisa membacanya melalui sorot matamu.” Scott menyapukan pandangannya ke wajah Estelle. “Kau mungkin bisa menyembunyikannya dari orang lain. Tapi, kau tidak bisa menyembunyikannya dariku. Aku sangat mengenalmu.”

Aku sangat mengenalmu.

Deg! Benak Estelle berguncang hebat. Mendadak detak jantungnya berhenti. Tiga kata itu. Estelle yakin pernah mendengarnya di suatu tempat, di suatu waktu. Tapi, ia tidak yakin di mana ia mendengarnya. Bayangan seorang pemuda sedang memeluk gadis kecil berputar di kepalanya. Samar-samar. Kedua wajah itu buram.

Estelle memejamkan matanya. Mendadak ia merasa sesuatu yang keras menghantam kepalanya. Sakit dan berdenyut-denyut. Kilasan demi kilasan berputar cepat dan kini lebih banyak. Ia tidak mengenal wajah orang-orang itu. Bunga, tanah basah, tangisan gadis kecil, petir, hujan, tamparan, teriakan, semuanya berputar menjadi satu, menariknya dan melemparnya masuk ke lingkaran hitam yang mengguncang jiwanya. Kilasan menyakitkan itu menghantamnya, memukul ulu hatinya. Tubuh Estelle bergetar hebat. Ia menggigit bibirnya, menahan getaran yang sama di tubuhnya. Keringat dingin mengalir di punggungnya.

“Ibumu sudah mati!”

“Daddy bohong! Aku benci sama Daddy!”

“Kau tidak punya ibu ya? Kasihan sekali kau.”

“Pasti ayahmu sedang cari istri baru. Kau akan memiliki ibu tiri. Bersiap-siaplah, Manis. Kau akan disiksa ibu tirimu.”

“Kau sahabatku. Aku sangat mengenalmu, Estelle.”

“Kau tidak sendirian. Aku ada di sini untuk melindungimu. Aku akan menjagamu.”

Estelle menggelengkan kepalanya kuat. Dua bulir air mata jatuh di pipinya. Ia terisak perih. Ia menangis pilu. Tubuhnya ditarik. Samar-samar ia mendengar suara detak jantung di telinganya.

Scott menyadarkan kepala Estelle di dadanya. Kedua lengannya melingkar di bahu gadis itu. Tubuh Estelle terguncang dan bergetar di pelukannya.

“Aku mengenalmu, Estelle,” bisik Scott di rambut Estelle.

“Hentikan. Kumohon hentikan, Scott. Kumohon,” raung Estelle. Gadis itu memukul lemah dada Scott.

“Kau tidak sendirian. Aku ada di sini untuk melindungimu. Aku akan menjagamu.” Scott mengusap punggung gadis itu lembut.

Estelle menangis hebat. Pertahanan diri yang selama ini ia bangun hancur begitu saja. Ia kalah. Tangannya meluncur turun dan melingkar di pinggang Scott.

***

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Estelle tak bersuara, tidak menghujat ataupun menghina Marc dan ibunya. Tatapan matanya kosong. Bekas tangisan masih tersisa di wajah cantiknya. Hidung gadis itu memerah.

Marc diam-diam melirik sekilas ke arah Estelle. Bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Tapi, secepat kilat ia membuang jauh-jauh pikiran itu. Seperti tidak ada kerjaan saja memikirkan gadis itu.

Marc membelokkan mobilnya memasuki kompleks perumahan mewah Mosman dan berhenti di sebuah rumah berlantai dua yang didesain semi modern dengan susunan bebatuan berwarna gading di dindingnya yang memberi kesan kuno sekaligus elegan. Warna hijau dari pepohonan mendominasi di halaman depan dan samping rumah itu.

Estelle turun dari mobil dan melangkah lunglai masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang. Marc mengekori gadis itu hingga tiba-tiba saja Estelle tersandung kakinya sendiri saat melewati ruang keluarga dan hampir terjerembab kalau saja gadis itu tidak berpegangan ke dinding.

Marc berhenti, mengawasi gadis itu. Kepala Estelle terkulai ke bawah. Sekilas matanya menangkap bahu gadis itu sedikit bergetar. Gadis itu beranjak, menaiki tangga dan tubuhnya menghilang ketika sampai di lantai atas.

Marc masih berdiri diam. Ia membalikkan tubuhnya saat mendengar derap kaki seseorang. Roser berjalan ke arahnya.

“Ada yang tidak beres?” tanya wanita itu cemas. Matanya melihat ke atas.

“Aku tidak tahu, Mom,” gumam Marc pelan.

“Apa menurutmu aku sebaiknya ke atas dan menghiburnya?” usul Roser.

“Jangan! Yang ada kau akan dimakinya,” jawab Marc dengan nada sengaja diketuskan.

“Marc, kau tidak boleh bersikap seperti itu padanya. Estelle hanya gadis malang yang kekurangan kasih sayang. Sudah sepatutnya kita memberi apa yang tidak pernah Estelle dapatkan.”

“Salahkan saja ayahnya. Dia yang membuat gadis malang itu kekurangan kasih sayang,” tukas Marc tajam.

“Marc, kita sudah sering membahas ini. Casey memang salah. Tapi, kau tidak boleh menghakimi dia terus.” Nada suara Roser yang mengandung kelembutan membuat Marc merasa bersalah.

Marc menatap ibunya dan berkata, “Bukankah dia yang membuat semuanya tampak sulit?”

“Kuakui dia memang melakukannya. Tapi, tetap saja kau tidak boleh bersikap seperti itu,” tegas Roser.

“Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Mom.” Marc menggeleng kepalanya pelan.

“Suatu hari kau akan mengerti, Marc. Kau pernah terlibat dalam situasi ini. Kau mengenalnya, Sayang,” tambah Roser sembari menepuk-nepuk lengan Marc.

Marc mendelik kesal mendengar kalimat terakhir ibunya. “Tidak. Aku tidak mengenal gadis keras kepala dengan mulut kurang ajar seperti dia,” sanggahnya.

“Marc….” Suara Roser memperingatkan.

“Sudahlah, Mom. Aku ingin beristirahat.” Marc mengecup pipi Roser, kemudian naik ke lantai atas. Saat hendak masuk ke kamarnya, ia menoleh sebentar ke pintu kamar di sebelahnya.

Aku tidak mengenalmu lagi, Clarita, bisik Marc dalam hati.

To Be Continued…

Hai, pembacaku tersayang. Ada kabar gembira nih. Karena aku lihat akhir-akhir ini animo pembaca terhadap fanfiction MotoGP meningkat dari hari ke hari, aku dan emak tersayangku, @Nataa_diva bermaksud bikin kontes menulis fanfiction untuk menantang para pecinta MotoGP yang ngakunya sih hobi menulis. Kalian berminat? Tenang aja. Ada hadiahnya kok. Tapi, gak terlalu besarlah. Hitung-hitung buat hiburan aja. Syarat dan ketentuannya menyusul ya. Sampai nanti😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s