Fanfiction : The One That Got Away #3

pageFF copy

Hai…😉 Ada yang masih ingat FF ini atau baru liat judul ff ini? Well, aku sarankan baca yang Part 1 | Part 2. Oh ya, kemarin ada yang bilang ff-ku makin hari kok makin pendek. Aku gak tau sih. Gak pernah itung berapa lembar waktu nulis. Soalnya aku selalu dan hampir semua ff-ku kutulis di memopad Blackberry. FF ini *mungkin* lumayan panjang dan agak membosankan. Kritik dan saran selalu kutunggu. Sekali lagi, jadilah pembaca yang budiman. Akhir kata, I wanna say HAPPY READING!😉😀

Estelle tak henti-hentinya meminta maaf setelah menyemburkan es lemon yang diteguknya ke wajah Bradley. Ia tidak sengaja. Semua ini gara-gara laki-laki tolol yang tiba-tiba muncul di sekolahnya. Entah apa maksud laki-laki itu melamar jadi salah satu guru di sini.

“Oh, astaga! Maaf, maaf, aku tak sengaja,” ujar Estelle seraya mengulurkan tangannya ke Bradley dan mengusap wajahnya yang basah terkena cipratan.

“Kau ini kenapa sih? Kalau tidak suka aku bahas guru baru itu ya bilang. Jangan begini dong. Keterlaluan sekali kau,” protes Bradley dengan suara merengek khas anak kecil. Cowok itu melepas kacamata Albert Eintens-nya itu, lalu mengambil sapu tangan di balik sakunya.

“Aduh, aku minta maaf, Brad. Sungguh, aku tidak sangaja. Tadi, aku cuma kaget melihat sesuatu, makanya muncrat,” pungkas Estelle dengan nada menyesal.

Beberapa orang tampak tertarik melihat ke arah mereka. Ini kejadian langka. Estelle yang super dingin bisa sekonyol itu saat melakukan kecerobohan. Lagi-lagi menjadi momen tak terlupakan. Sejak berteman dengan Bradley, Estelle tampak lebih manusiawi. Contohnya seperti kali ini.

“Memangnya apa sih yang kau lihat?” tanya Bradley, kembali memasang kacamata kebanggaannya.

“Laki-laki itu,” gumam Estelle, enggan.

“Siapa?”

“Saudara tiriku.”

“Apa?! Mak… sudmu guru musik baru kita itu sau… dara tirimu?” ucap Bradley terbata-bata, kebiasaannya jika terkejut. Estelle mengangguk.

“Astaga. Kenapa dia bisa mengajar di sini?”

“Nah, itu dia yang kuherankan,” sungut Estelle berubah sebal.

“Es, kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya? Dan, biasanya kalau perasaanku tidak enak pasti akan terjadi sesuatu yang tidak baik,” ucap Bradley yang dibalas tatapan merinding dari Estelle.

Estelle mengenal Bradley, dan ia tahu sahabatnya itu memang punya semacam intuisi mengenai sesuatu yang akan terjadi. Tapi, apa hubungannya dengan Marc?

“Es, setelah ini kita ada kelas musik, kan?” tanya Bradley, gugup.

“Brad, apa ini pertanda bahwa….”

“Jangan terlalu dipikirkan, Estelle. Kalau sampai dia berani macam-macam denganmu, aku akan memberinya pelajaran. Tidak peduli sekalipun dia adalah seorang guru.”

Senyum berkembang di wajah gadis itu. “Danke*!” ucapnya manis, dan bel masuk pun berbunyi.

*Terima kasih (Bahasa Jerman)

***

Semua orang terpesona, tepatnya para kaum hawa itu sampai meneteskan air liurnya melihat guru musik baru mereka berdiri di depan kelas. Estelle yang melihat ke sekelilingnya hanya bisa menatap bodoh. Ia tidak habis pikir, apa sih yang ada di pikiran gadis-gadis itu sampai bertingkah tolol seperti ini. Menjijikan!

“Aku Marc Marquez Alenta dan hari ini aku akan menjadi guru musik baru kalian. Salam kenal semuanya,” seusai Marc berkata seperti itu sembari menyunggingkan senyuman, beberapa siswi langsung mimisan di tempat duduk mereka. Estelle mengernyit melihat kejadian itu. Apa-apaan sih mereka? Berlebihan sekali, pikir Estelle dalam hati.

Tanpa Estelle sadari, Marc sempat melirik beberapa kali ke arahnya. Ia sedang mengusung misi balas dendam pada gadis itu setelah penghinaan yang ia dapatkan semalam. Marc rasa gadis itu perlu diberi pelajaran sedikit supaya tahu etika sopan santun.

“Baiklah. Hari ini kita akan mempelajari partitur piano. Aku pikir kalian sudah mempelajari membaca notasi blok. Karena itu adalah pelajaran yang paling dasar. Aku ingin…,” Marc melihat buku daftar absen kelasnya sejenak. Matanya dibuat seolah sedang mencari-cari nama siswa yang hendak ia panggil. “…Clarita Estellina Stoner, silakan maju ke depan.” Marc lalu mengarahkan pandangannya ke Estelle.

Estelle yang dipanggil tidak langsung maju. Sementara di sebelahnya, Bradley, mulai khawatir dengan situasi seperti ini. Cowok itu, bahkan teman-teman sekelasnya juga tahu jika Estelle tidak bisa membaca not balok.

Memang ini pelajaran yang paling dasar. Tapi, mau bagaimana lagi? Gadis itu lemah sekali dalam hal ini. Dan Bradley sangat yakin kalau Marc ingin mengerjai Estelle setelah tahu kelemahan gadis itu.

“Saya saja, Mr. Marquez.” Bradley tiba-tiba mengangkat tangannya dan sontak pandangan para siswa-siswi, termasuk Marc mengarah kepadanya.

Marc mengerutkan keningnya. “Aku menyuruh Clarita Estellina, bukan Anda, Mr. Smith,” tegas Marc.

“Iya, tapi kalau saya mau maju, tidak apa-apa, kan?”

“Tidak usah, Brad. Biar aku saja yang maju,” putus Estelle, lalu bangkit berdiri.

“Tapi, Estelle…,” protes Bradley. Estelle menatap Bradley sejenak, meyakinkan sahabatnya itu jika ia bisa mengatasinya sendiri.

Sementara Estelle maju ke depan, Marc sibuk membagikan beberapa kertas berisi partitur kepada siswa-siswi di kelas. Gadis itu kemudian diberi selembar kertas bergaris-garis yang sudah tercetak notasi-notasi balok.

“Silakan, Ms. Stoner,” ucap Marc tenang.

Estelle memperhatikan not-not itu. Keningnya mengerut dan di pelipisnya tampak beberapa butir keringat mulai bermunculan. Semua orang menunggu dengan tegang di kelas, kecuali Yang Mulia Terhomat Marc Marquez Alenta. Estelle ingin sekali meninju wajah sok berkuasanya itu.

Menit demi menit mulai berlalu dan Estelle masih tetap diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir. Tangannya mulai basah dan perutnya mulas. Tapi, ia benar-benar tidak ingin dikalahkan begitu saja. Estelle yakin Marc pasti ingin mempermalukannya. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Seorang Stoner pantang untuk dipermalukan di depan kelas. Mau ditaruh ke mana mukanya?

“Ada masalah, Ms. Stoner?” tanya Marc dengan sok tenang.

Estelle menatap Marc dan berkata, “aku lupa cara membacanya.”

Orang-orang di kelas seketika syok, tidak menyangka jawaban Estelle. Banyak yang mengira gadis itu akan menjawab ‘maaf, aku tidak membacanya’. Tapi, Estelle benar-benar hebat, mengatakan dengan alasan lupa cara membacanya.

“Lalu, apa yang kau ingat?” Nada suara Marc dibuat seolah tersinggung. “Ini pelajaran yang sangat mudah, Estelle. Kalau pelajaran yang dasar saja tidak bisa kau kuasai, lebih baik kau tidak usah masuk ke kelasku lagi. Aku tidak menerima siswi berotak udang sepertimu. Kau bisa keluar sekarang!” usir Marc.

Para siswa-siswi itu kembali dibuat terkejut. Estelle menatap kesal pada Marc. Telapak tangannya mengepal di sisi tubuhnya dan kertas yang ia pegang tadi sudah menjadi bentuk tak bernama lagi karena remasannya. Dalam hati ia menyuarakan agar tetap tenang dan tidak meledak sekarang juga.

Ini sekolahan dan ia tidak ingin keceplosan jika ia melawan Marc. Ia tidak ingin sampai orang-orang tahu bahwa laki-laki yang mengatainya otak udang ini adalah saudara tirinya. Saudara tiri keparat yang pantas dikirim ke neraka.

“Dengan senang hati kalau begitu,” ucap Estelle datar. Gadis itu kembali ke kursinya dan mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu keluar kelas itu. Marc menyerigai seraya menatap kepergian gadis itu.

“Mari lanjutkan pelajaran pertama kita.”

***

Tidak adil! Ini benar-benar tidak adil! Sialan! Estelle lagi-lagi mengumpat dalam hati. Terhitung sejak pagi tadi entah sudah ke berapa kali ia mengumpat. Ini semua gara-gara laki-laki sialan itu.

Langkah kaki Estelle membawanya menuju taman sekolah. Gadis itu mengambil tempat duduk di kursi panjang yang menghadap ke lapangan basket. Estelle melipat kedua tangannya di dada. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras, bahkan saking kerasnya ia bisa merasakan cairan asin bercampur karat di lidahnya. Ia benar-benar kesal dan marah.

Aku benci denganmu, Marc Márquez! desisnya dalam hati.

“Hei, kau Estelle, kan?” Suara itu mengusik lamunan Estelle.

Gadis itu memutar kepalanya ke kiri, lalu mendongak, melihat tubuh tinggi menjulang dengan seragam basket berdiri di hadapannya. Estelle mengenalnya. Scott Redding, kapten basket sekolah yang banyak diincar gadis-gadis Sydney International High School.

“Ada apa?” sahut Estelle, tak bersahabat.

“Tidak ada apa-apa. Aku tadi hanya ingin mengambil bolaku dan ya… aku melihatmu di sini. Kenapa tidak masuk kelas?” tanya Scott heran.

“Bukan urusanmu,” respon Estelle dingin.

“Kau dingin sekali. Padahal sekarang cuaca sedang bersahabat,” kata Scott, pura-pura memandangi langit.

Cih! Dasar pria Inggris, umpat Estelle dalam hati.

Biasanya laki-laki Inggris memiliki kecenderungan membahas cuaca. Ia tahu karena Bradley juga sering melakukan hal tersebut. Seperti tidak ada kerjaan saja, pikir Estelle.

“Kau mau apa?” tanya Estelle to the point. Ia terlalu malas meladeni komentar tidak penting cowok ini.

Scott mengambil tempat duduk di sebelah Estelle. “Kau selalu begini ya terhadap semua orang?” Scott menatap Estelle dari samping. Bulu mata panjang gadis itu tampak memesona dengan sepasang bola mata biru pudar yang lebih menyerupai warna keabu-abuan, kemudian dipertegas dengan lengkungan indah alis tipis berwarna senada dengan rambut gadis itu. Cokelat indah.

“Bukan urusanmu!” ketus Estelle, mendelik kesal ke arah Scott.

“Oh, ayolah. Aku kan hanya ingin berteman denganmu. Tidak boleh ya?” Scott memamerkan senyum manisnya.

“Tidak. Aku tidak ingin berteman denganmu. Dan sekarang, tolong tinggalkan aku sendiri!” usir Estelle dengan kasar.

Scott tidak terpengaruh dengan omongan Estelle. Cowok itu malah sedang fokus dengan warna kemerahan di sekitar bibir Estelle. “Oh, astaga. Bibirmu berdarah?” Dengan refleks Scott menyentuh bibir mungil Estelle dan langsung ditepis kasar oleh gadis itu.

Estelle bangkit dari kursi dan menatap tajam ke arah Scott. “Kuperingati kau! Jangan pernah kau menyentuhku!”

“Tapi, bibirmu….” Scott hendak menyentuh Estelle lagi, tapi lagi-lagi disentak kasar oleh Estelle.

“Sudah kubilang bukan urusanmu! Kalau kau tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi.” Estelle membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Scott yang masih terheran-heran.

***

Pertemuan kedua di meja makan. Makan malam. Estelle lagi-lagi hanya mengaduk makanannya tanpa memasukkannya sesuap pun ke mulutnya. Sebenarnya makanan ini enak. Hanya saja saat duduk bersama dua orang asing di sini merubah suasana hatinya. Selera makannya hilang. Ditambah dengan luka di bibirnya yang ia ciptakan tadi pagi.

Semua orang sadar Estelle belum menyentuh makanannya. Roser sebenarnya ingin menanyakannya, tapi berkaca pada kejadian tadi pagi membuat wanita itu mengurungkan niatnya. Sementara Marc masih sebodoh amat dengan adik tirinya itu. Casey-lah yang kemudian mengangkat bicara. “Ada masalah dengan makanannya? Kenapa tidak dimakan, Estelle?”

Estelle mendorong piringnya, “aku tidak lapar,” jawabnya. Sementara itu, Roser hanya menghela napas berat melihat tingkah anak tirinya.

Casey melihat ada yang berbeda dengan bibir bawah putrinya, tampak bergaris-garis dengan warna merah yang menyerupai darah segar. “Bibirmu kenapa, Nak?” tanya Casey dan mengundang perhatian Marc.

“Apa?” Estelle balik bertanya.

“Kau melukai bibirmu, Estelle?” Roser ikut mengangkat suara.

“Bukan urusanmu!” ketus Estelle dan hendak meninggalkan meja makan.

“Tahan di kursimu, Estelle,” ucap Casey dengan nada memerintah.

Estelle kembali ke duduk di kursinya dan ia sangat yakin Casey akan memarahinya lagi karena menjawab ketus pertanyaan Roser. Estelle sudah siap menerima omelan ayahnya.

“Dengarkan aku,” mulai Casey. “Kalau kau memang punya masalah dengan makanan, kau bisa mengatakannya, Estelle. Jangan hanya menutupi untuk dirimu sendiri. Kalau kau kesulitan menelan makanan karena luka di bibirmu, kau bisa meminta Bibi Roser untuk memasakan makanan yang lebih lembut untukmu. Jangan hanya diam saja, kau mengerti?”

Estelle memutar bola matanya. Ia tidak salah dengan apa yang barusan diucapkan Casey? Tumben ayahnya tidak marah-marah, bahkan terkesan perhatian padanya. Namun, Estelle merasa asing dengan perhatian itu dan sedikit tidak suka karena nama Roser dibawa-bawa oleh Casey.

“Terima kasih. Tapi, aku tidak lapar. Aku permisi dulu,” pamit Estelle dan beranjak dari kursinya.

“Aku benar-benar bingung menghadapinya. Aku beri perhatian padanya salah. Aku tidak beri dia pehatian juga salah. Sebenarnya apa mau anak itu?” Casey tidak tahu lagi harus bagaimana. Roser yang berada di sebelahnya hanya menepuk pelan bahu suaminya. Ia juga sama bingungnya dengan Casey.

***

Keesokan harinya Estelle tidak menunjukkan batang hidungnya di meja makan. Ia terlalu malas duduk bersama Roser dan Marc. Casey sedari tadi pagi sudah berangkat ke kantor karena ada rapat bulanan dengan dewan direksi.

“Estelle… Estelle…, tunggu, Nak!” panggil Roser saat melihat Estelle melewati ruang keluarga hendak berjalan keluar rumah. Estelle berhenti dan menunjukkan wajah malasnya.

Roser menghampiri Estelle sambil membawa sekotak bekal di tangannya. “Ini, bawalah,” ujar Roser menyerahkan kotak bekal itu pada Estelle. “Kau belum sarapan, kan? Kau bisa makan bekal ini di dalam mobil.”

Estelle hanya menatap datar ke kotak tersebut. Tanpa sepatah kata, gadis itu memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas dan berjalan ke luar rumah. Roser yang melihat kejadian ini merasa bahagia. Setidaknya Estelle sudah mau menerima pemberiannya, walaupun tidak ada kata terima kasih yang terucap dari bibir gadis itu. Roser yakin sedikit demi sedikit Estelle pasti akan menerima dirinya. Karena Roser percaya hati sekeras karang pun pasti akan luluh jika dihantam oleh kasih seorang ibu, walaupun Roser bukan ibu kandung Estelle. Tapi, Roser akan berusaha untuk terus menyayangi dan mencintai Estelle layaknya anak kandungnya sendiri. Hanya butuh penyesuaian saja.

“Hentikan mobilnya,” ucap Estelle saat Marc hendak memutar mobilnya masuk ke pelataran gedung sekolah. Marc berhenti dan Estelle langsung keluar. Gadis itu membiarkan mobil Marc melaju pelan memasuki gerbang sekolah.

Hal ini sengaja dilakukan Estelle karena ia tidak ingin orang-orang curiga kenapa ia bisa datang bersama Marc yang notabene seorang guru. Estelle tidak mau semua orang tahu Marc adalah kakak tirinya. Apalagi setelah kejadian kemarin yang membuat namanya menjadi trending topic di sekolah. Entah siapa yang menjadi radio keliling hingga kalimat Estelle si otak udang tersebar di penjuru sekolah.

Estelle tidak langsung masuk ke dalam sekolah. Ia berhenti sebentar di samping gerbang sekolah, kemudian mengeluarkan kotak bekal yang diberikan Roser padanya. Estelle mendekati tempat sampah yang berada tak jauh darinya, lalu melempar begitu saja kotak bekal itu tanpa melihat apa isinya. Well, ini juga salah tujuannya kenapa meminta Marc menurunkannya di sini.

Estelle lalu masuk ke halaman sekolahnya dengan langkah angkuh dan wajah dingin seperti biasanya.

***

Saat bel istirahat berbunyi, semua siswa-siswi di kelas Biologi meninggalkan kelas satu per satu hingga menyisakan seorang gadis yang tengah sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Gadis itu tampak panik. Seluruh isi tasnya berhamburan ke atas meja dan barang yang dicari-carinya tetap tidak ia temukan.

Di mana dompetku? Kok tidak ada sih? Estelle bertanya-tanya dalam hati.

Estelle menegakkan tubuhnya, yakin bahwa benda yang dicarinya tidak ada di dalam tas. Gadis itu menyentuh kepalanya. Ia memejamkan matanya dan coba mengingat di mana terakhir kali ia melihat dompet itu.

Seolah tersadar, wajah gadis itu meringis. Ia baru ingat dompetnya ia letakkan di atas meja belajar kamarnya dan ia lupa memasukkannya ke dalam tas pagi ini.

Bagus! Mau makan apa ia sekarang? Perutnya mulai gaduh, demo minta diisi setelah semalam ia melewatkan makan malamnya. Lalu, apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus pinjam uang ke temannya?

Aish! Seumur hidup ia belum pernah meminjam uang kepada siapa pun. Temannya? Memangnya ia punya teman selain Bradley di sekolah? Lagi pula cowok itu entah hilang ke mana setelah bel istirahat berbunyi. Jadi harus bagaimana dong?

Estelle terduduk lemas di atas kursinya. Ia meremas perutnya dan mengumpat dalam hati. Ia rasa hidupnya selalu ketiban sial akhir-akhir ini.

“Aku lapar,” gumamnya pada diri sendiri.

Estelle teringat kotak bekal tadi pagi yang diberikan Roser padanya. Lagi-lagi ia mengumpat. Seandainya tadi pagi ia tidak membuang kotak itu ke dalam tempat sampah, pasti nasibnya tidak seperti ini. Setidaknya ia masih bisa makan walaupun itu buatan Roser.

Bodohnya kau! maki Estelle.

Hampir setengah jam gadis itu duduk di sana. Hingga bel masuk berbunyi, ia mengambil tasnya dan keluar dari kelas Biologi.

Sembari menahan nyeri di perutnya, gadis itu melangkah masuk ke kelas musik. Dalam hati ia kembali mengumpat. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan Marc Márquez sialan calon penghuni neraka itu.

Estelle tidak peduli jika Marc akan mengusirnya lagi. Toh, ia hanya perlu duduk di kelas, lalu diabsen, kemudian jika ia diusir, ya tinggal keluar kelas saja. Tidak susah kok.

Bradley masuk tak lama setelah Estelle menempati kursinya. Sejujurnya Estelle ingin sekali memaki Bradley karena meninggalkannya saat jam istirahat. Tapi, nyeri di perutnya semakin bertambah. Asam lambungnya naik. Ia merasa mual. Mungkin ia harus mengurungkan niatnya.

“Kau sakit ya?” tanya Bradley, menyentuh bahu Estelle.

Estelle menggeleng pelan. Sementara di depan kelas Yang Mulia Terhomat Marc Marquez Alenta sudah berdiri dengan gagah dan menawan dan kembali membuat beberapa gadis mimisan. Kali ini Estelle tidak peduli. Perutnya terlalu nyeri untuk memerhatikan laki-laki itu.

Marc melirik ke arah Estelle sebentar. Ada yang berbeda dengan Estelle. Wajahnya pucat dan gadis itu sering menggigit bibirnya. Hm, memang apa pedulinya? Marc mengabaikan gadis itu dan memulai kelas musiknya dengan materi baru ketika teriakan Bradley dan jeritan syok dari penghuni kelas itu menyadarkan Marc; sesuatu telah terjadi.

Marc membelalakkan matanya terkejut. Jantungnya berhenti berdetak dan napasnya tertahan. Tubuh gadis itu merosot lemah ke lantai dengan wajah—sumpah demi Tuhan, Marc belum pernah melihat wajah sepucat itu seumur hidupnya.

Marc menerobos di antara kerumunan itu dan segera merengkuh Estelle dari dekapan Bradley. Bradley sempat tersinggung, namun ia tidak berkata apa-apa.

“Estelle… Es?” panggil Marc seraya menepuk pipi gadis itu dengan lembut. “Kau bisa mendengarku? Estelle?” Ada kecemasan yang berarti di mata Marc dan tak satu pun dari orang-orang itu sadar.

“Estelle, kau bisa mendengarku?” Kali ini suara Marc berubah cemas.

To Be Continued…

9 thoughts on “Fanfiction : The One That Got Away #3

  1. marc pura2 membaca absensi unk menyuruh estell kedepan. . .pdhl dia sudah kenal. . .tp . .di bisa kenal nama siswa mr.smith? . . Yg notaben y guru baru yg seharus nya belum hafal nama2 murit nya. . . . . .*saya tdk menyuruh km* . . .siapa nama mu*? Bradley *saya bradley smith mr.marc

    Suka

  2. Aduhhhh sukaaa bangettt ceritanyaa
    Aku paling demen Kɑ̤̥̈̊Ŀº pertamanya benci benci getuuu😀. Τ̣̣̥αρɪ̣̝̇ sebetulnya ‎​Αϑα rasaa hehehe.

    Ditunggu kelanjutannya yaaa.

    Suka

  3. Duh, Si estelle kena imbas juga abis buang makanan dari mami roser, tautau dompet pulak ketinggalan dirumah, pas kelaperannn jadi keingat makanan yg tadi dibuang, duhh lagian sih Estellee ini hhahhah, itu para murid liatin Marc ampe mimisan astaga, saking tamfannya kaliyaa hhahha, Scott kecentilan amat. aakkkhhhh, kesi baik banget, bijak pulakkk. aku suka aku sukaa Lanjutttttttttttttt

    Suka

  4. Sosok Clarita Estelle Stoner adalah sosok dr Rita Huang bener gk ??? *sok tau* *asal nebak*

    aku suka ff ini akhirnya dilanjutkan….

    Behhhh ngebayangin marc jd guru musik, apalagi main piano….trus pake tuxedo….bikin pagelaran konser musik gitu, bukan cuma konser balap di sicuit.

    Suka

  5. tuh kan.. salah sendiri siih.. kenapa pake dibuang segala bekal dariami roser.. kualatkaaaan jadinya. haduuuh estelle estelle..
    soal cewek yg mimisan gara gara lihat senyum marc.. aku maklum banget. soalnya kalo aku bisa lihat dia langsung, bukan cuma mimisan tapi langsung pingsan!! hahaha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s