My Secret, His Son #6

My Secret1 copy

Hai… *lambai-lambai tangan ala Miss World* #lebay.com Hehehe… Kali ini aku mau menghadirkan sebuah ff spesial untuk kalian. Kenapa aku sebut spesial? Karena ff ini ditulis oleh dua orang. Well, aku berduet dengan mamak kesayanganku. Siapakah dia? Hohoho… Kalo sering baca ff di blog ini pasti tau dong. Yap, dia adalah @Nataa_diva. Berkat dia, ff ini bisa nongol di blog lebih cepat dari yang kuperkirakan. Thanks yoo mamakku sayang. Akhir kata, aku cuma mau ngucapin selamat menikmati cerita kami dan jadilah pembaca yang budiman dengan meninggalkan komen setelah membaca. *yang mau sumbang ide juga boleh*😉

Gaun selutut berwarna putih gading yang dikenakan gadis itu bergoyang ke sana kemari seiring pergerakan arah angin musim semi yang bertiup lembut. Matanya tampak melamun. Hampir 2 jam ia berdiri di balkon itu.

Adel suka musim semi karena itu berarti bunga-bunga bermekaran dan bau harum tercium di udara. Namun, bunga-bunga itu seolah mengerti perasaan Adel karena tak satu pun dari tanaman indah itu bermekaran di pot-pot bunga kecil yang berjejer rapi di tralis besi balkon ini. Bahkan bunga pun tahu yang ia tidak bisa menikmati musim semi kali ini, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada sesuatu yang salah, sangat salah.

Adel menyentuh tangan kanannya yang diperban. Seketika ingatannya kembali ke malam itu. Adel menggeleng kuat. Air matanya jatuh. Ia tidak mau mengingat kejadian itu. Rasanya terlalu sakit. Ia tidak bisa melakukan apa pun karena semakin ia berusaha melupakan nama perempuan yang membuatnya nekat mengiris pergelangan tangannya, semakin pulalah nama itu berdengung keras di telinganya.

Adel menggigil, bukan karena kedinginan. Ia ketakutan.

Sejak kecil gadis itu tidak pernah diharuskan untuk memilih. Ia bisa mendapatkan apa pun dengan sekali jentikan jari karena ia berasal dari kalangan kelas atas dan keluarganya memiliki pengaruh di mana-mana. Apa pun yang Adel inginkan akan selalu ia dapatkan. Namun, seiring berjalannya waktu ia sadar ada hal-hal yang tidak bisa ia dapatkan. Sebab itulah ia mulai belajar untuk meraih apa yang ia inginkan dengan usahanya sendiri.

Dan… ia tidak pernah berhasil.

Ia gagal mendapatkan hati Marc. Ia gagal membuat Marc jatuh cinta padanya. Dan ia juga gagal merelakan Marc pergi. Adel tidak bisa hidup tanpa pria itu. Sungguh. Ia tidak mampu. Gadis itu terlalu mencintai Marc dan sangat takut pria itu akan meninggalkannya.

Adel tahu ia egois. Tapi salahkah jika ia ingin menggapai kebahagiaannya? Salahkah jika ia tetap mempertahankan Marc di sisinya? Bukankah kita seharusnya bersikap egois untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Ia hanya ingin Marc. Itu saja.

***

“Marc… Marc….” Adel kecil menarik baju Marc yang sedang mengutak-atik sepedanya.

“Ada apa? Aku sedang sibuk,” kata Marc tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Oh, ayolah….” Adel mulai merajuk.

Biasanya Marc tidak tahan jika Adel membujuknya. Ia mengikuti Adel ke meja kayu yang terletak di halaman belakang rumah Marc. Di atas meja itu terdapat selembar kertas dengan gambar seorang laki-laki dan perempuan serta bunga-bunga kecil yang menghiasi bagian kosongnya.

Marc mengambil dan membaca beberapa baris kalimat di bawah gambar itu.

“Kita akan terus bersama hingga dewasa. Kita akan menikah dan mempunyai banyak anak. Kita tidak akan pernah berpisah apa pun yang terjadi. Kita akan saling mencintai.”

Marc berpikir sejenak, lalu seulas senyum mengembang di bibirnya. “Baiklah, aku tanda tangani ya. Di sini, kan?” tunjuknya.

Adel mengangguk penuh semangat. Setelah Marc, ia juga membubuhkan tanda tangannya. Kemudian Marc kembali sibuk dengan sepedanya dan Adel melanjutkan lukisannya yang sempat terhenti. Bibir gadis kecil itu tersenyum riang.

Adel kecil yang dulu sekadar membuat perjanjian ternyata begitu berharap. Ia terlalu berharap kalau Marc benar-benar akan menjadi belahan jiwanya sampai nanti.

Saat umur mereka menginjak belasan tahun, Adel mulai berusaha mendapatkan hati Marc walaupun ia tahu itu tidak mudah. Tak jarang ia sering mengungkit soal perjanjian tertulis masa kecil mereka.

Marc menanggapi dengan sudut pandang berbeda. Ia hanya menganggap itu sebagai perjanjian konyol dua orang anak kecil yang tidak mengerti arti cinta sesungguhnya.

***

Jarum jam naik ke angka 8 malam saat Marc melangkah masuk ke rumah keluarganya yang terletak di Simón Verde, salah satu kawasan perumahan elite di kota Sevilla.

Marc menyampirkan jas kerjanya di bahu. Lengan kemejanya dilipat hingga batas siku. Pria itu disuruh pulang oleh ibunya ke rumah ini karena Adel, calon menantu kesayangannya yang tengah menjalani masa pemulihan pasca pulang dari rumah sakit. Marc awalnya tidak setuju. Namun, ibunya yang kepala batu itu tetap bersikeras agar Adel tinggal di rumah ini. Lagi pula bukankah sebentar lagi mereka akan menjadi suami istri, menurut beliau.

Saat melewati ruang tengah, langkah Marc terhenti ketika dilihatnya wanita yang melahirkannya itu duduk dengan kedua tangan bersedekap di dada. Wajahnya masam dan sangat tampak sekali wanita itu menyimpan amarah dalam dirinya.

“Mom?”

“Dari mana saja kau seharian ini?” Wanita itu bertanya dengan suara dingin.

“Tidak ke mana-mana. Aku berada di kantor,” dusta Marc.

“Jangan bohong!” murka Roser tiba-tiba.

Wanita itu bangkit berdiri dan menghampiri Marc. Bahu Marc sedikit terkulai. Ia tahu percuma saja tadi ia berbohong. Dalam sekejap ibunya itu bisa menjadi intel profesional. Wanita paruh baya itu tidak bisa bahkan tidak mudah untuk dibohongi.

“Siapa wanita itu?” tanya Roser dengan tampang yang begitu mengerikan. Kedua bola matanya hampir keluar menatap Marc.

“Sudahlah, Mom. Kau ini kenapa sih? Aku tadi hanya pergi ke toko bunga langganan Adel untuk membayar kerugian akibat pembatalan pemesanan. Itu saja. Tidak perlu berlebihan seperti ini,” sahut Marc mulai tidak suka. Ia berusaha menahan emosinya.

“Tidak perlu berlebihan? Kau bilang tidak perlu berlebihan?!” ulang Roser dengan nada sarkastis. “Apa kau tahu berapa lama Adel menunggumu pulang? Kau harus ingat calon istrimu berada di sini, Marc!” pekik Roser.

Dada wanita itu naik-turun. Bibirnya mengatup rapat.

“Dia sedang sakit dan kau malah mengabaikannya?! Bagus! Tidak kusangka selama ini aku membesarkan seorang anak laki-laki yang tidak bertanggung ja…”

“Aku tidak pernah mengabaikannya, Mom!” sela Marc, membalas perkataan Roser. Kini ia tidak punya lagi alasan untuk menahan diri, terlebih Roser mulai menekan dirinya.

“Dan kau bilang aku anak yang tidak bertanggung jawab? Jika aku seperti itu, sudah dari dulu aku tinggalkan Adel! Apa Mom pikir aku sudi dijodohkan dengan wanita pilihanmu itu?!”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat keras di pipi Marc. Roser semakin murka. “Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!” geram Roser pada Marc.

“Itu karena kau yang memulai, Mom. Aku hanya mengikuti permainanmu. Kau yang membuat semua ini menjadi rumit,” desis Marc dengan nada tajam pada Roser.

Pria itu lantas pergi dari hadapan ibunya dengan perasaan marah. Dari dulu hingga sekarang selalu seperti ini. Itulah mengapa ia tidak ingin pulang ke rumah dan lebih memilih tinggal di apartemennya.

Marc segera masuk ke dalam kamarnya, bermaksud ingin melepas lelah. Namun ia sedikit terkejut ketika dilihatnya Adel terlelap di atas kasurnya.

Perlahan, ia mendekati Adel. Perasaannya mulai berkecamuk. Ia sayang pada gadis itu, tapi hanya sebatas rasa sayang kakak pada adiknya.

Marc mengembuskan napasnya, lalu mendekatkan kepalanya ke wajah Adel. “Maafkan aku…. Aku tidak bermaksud seperti ini,” desahnya, nyaris tak terdengar.

Laki-laki itu memandang Adel. Lama sekali. Seolah setiap bagian wajah yang dimiliki gadis itu begitu menarik. Marc merasa nyaman saat berada di dekat Adel. Entahlah. Apa mungkin karena kebersamaan mereka sejak kecil? Marc menganggap mereka tidak lebih dari sahabat baik sejak kecil. Ia sendiri bingung mengapa semua bisa serunyam ini.

“Kau adikku yang cantik,” gumam Marc sambil mencium kening Adel. Lalu ia juga menciumi kedua pipi dan berakhir sebelum ia mencium bibirnya.

“Adik?”

Oh, tidak! Kapan Adel terbangun? Marc gelagapan sendiri dibuatnya.

“Hm…, maksudku, aku ingin mempunyai adik sepertimu….” Marc lagi-lagi berdusta.

Adel tersenyum kecil. Ia begitu mudah dibohongi, atau malah suka dengan segala macam kebohongan yang sering diterimanya. Ironisnya ia seperti sudah terbiasa dengan kebohongan yang dilontarkan Marc.

Adel meraih leher Marc dan menariknya hingga bibir mereka berpagutan. Rasa sakit di sebelah tangannya yang diperban seolah hilang begitu saja. Bibir mereka berpagutan cukup lama. Marc seolah ingin melepaskan segala emosinya.

Marc membantu Adel melepaskan pakaiannya dan tidak butuh waktu lama untuk mereka meloloskan pakaian masing-masing. Tangan Marc mulai bergelirya, menyentuh bagian-bagian sensitif Adel. Gadis itu mendesah kecil.

Mereka semakin larut dalam permainan panas. Tidak peduli berapa kali sudah mereka mencapai puncak. Hingga akhirnya mereka tertidur karena kelelahan. Marc memeluk Adel erat, sangat erat, seolah takut kehilangan gadis itu.

Egois? Mungkin. Cinta Marc memang untuk Laura. Sementara yang ia rasakan terhadap Adel hanya rasa sayang. Di satu sisi, Marc ingin segera lepas dari permasalahan ini dan di lain sisi, ia tidak ingin hubungannya dengan Adel berakhir begitu saja.

Entahlah mengapa Marc berpikir demikian. Apa karena Adel selalu ada ketika ia butuh? Apa karena Adel selalu memberinya yang perhatian lebih? Atau karena Marc ingin seseorang yang bisa ia jadikan sebagai pelampiasan?

Kalau benar begitu, ia memang bajingan brengsek.

Apakah ia menyesal? Ya. Sangat. Marc menyesali hidupnya jauh sebelum ia mengenal Adel dan Laura. Penyesalan terbesarnya ialah ketika ia tahu ia terlahir sebagai putra sulung di keluarga Márquez.

Marc berharap, sangat berharap tidak berada dalam situasi seperti ini. Ia lelah atas hidupnya yang selalu dipermainkan oleh takdir. Ia benar-benar benci pada dirinya sendiri.

To Be Continued…

Gimana hasilnya? Semoga suka ya….😀 Thanks for reading.

29 thoughts on “My Secret, His Son #6

  1. Ya ampun,, kok marc gitu banget sih?? jadi sebenernya siapa yg marc suka?? -___-
    kau membuat aku sebel sama marc, rita…

    Suka

  2. aaaakkkk kalo aku jadi Marc aku bingung banget, eh ini gak ada s Laura sama Miguel??? takpelah. Adel kasian jugaya dia terlalu cinta sama Marc, tau tau cintanya terbagi sama Lauraa cupcup*kasihadeltisu* abaikan yahh. dan kenapa Adel gakngerasa kalo dia dibohongi. miris banget dah yang jadi Adel itu. oke sekian komen saya maaf kalo ganyambung gyahahahah

    Suka

    • Soalnya si Adel penganut paham love is blind nisottt
      Marc bingung? Aku malah emosi liat dia tuh lembek banget. *ini penulisnya siapa sih sebenarnya?*

      Suka

  3. Go Adel Go Adel. Heran sama Marc, tiap ketemu Adel bawaannya napsu mulu. Kalo begini caranya mahh si Miguel cepet punya adik tiriii. *eh sotoy*

    Suka

    • Sama-sama napsu kak. Bukan Marc aja. Hihihi…. Si Miguel bakal cepet punya adik tiri?? Hohohoo…. Sepertinya aku tengah memikirkan sesuatu sekarang xixixixi….

      Suka

  4. kok pendek kak? penasaran bgt endingnya bakal gimana, ngebayangin Marc pulang lengan kemeja dilipat itu pasti ganteng *apasi* bagussss kak, ah sepertinya aku jatuh cinta sama ff bikinan kakak

    Suka

    • Bayangin aja si Marc pake kemeja kerja warna biru trus dua kancing di atas dibuka dan lengan bajunya dilipet ke siku. He would be a hot guy *uhukk* apalagi ditambah muka capeknya *aihhhhhhhh…..*

      Suka

  5. membahas cerita lain tentang adel dg kehidupan marc. . .#bagus pemilihan kata2 dan bahasa. . (*emang yg kmrn2 knp ?? Kata2 dan bahasa nya??, . . .
    Ya kan beda karya km sendiri dan karya duet kamu. . )
    Mengertikan maksud ku,?

    Komenya ttg kaka *merajuk* itu artinya marah kan?? Itu bhs melayu?? Kupikir bisa pake kata yg lain aja. .
    .
    #oke itu aja #yg lainya udah pasti bgs buanget

    Suka

  6. iiih si marc… kalo gak cinta sama adel knapa juga mau bercinta sama dia…
    .
    kangen miguel~~ >_<
    ditunggu lanjutannya

    Suka

  7. Waduhhh-.- Marc bikin greget:v, HAHAHA. Kak, jangan bikin cerita adelnya hamil. Kasihan Marc-nya, wkwk. Kurang panjang kak, next panjang yaaa:3. Harus ada Laura dan Miguel! WAJIB! *abaikan* Love this ff so<3 ( i mean 'don't say you never love me' and 'my secret, his son' ff)

    Suka

  8. . widihhhh , marc jangan permainkan hati laura , masih cinta mha laura tpi napa msih hub.batin mha adell

    . lanjutan’y dah ditunggu nuichhh , moga” cpet keluar dri oven

    Suka

  9. New reader X3… critanya bikin penasaran banget… tapi knp Marc begitu??? #gregetan…. aku tunggu lanjutannya😄 Go Go Go !

    Suka

  10. keren bangeet part nya!! aku sampe baca beberapa kali loh😀 pokoknya seneeeng banget sama part ini🙂 marc nya brengsek sek sek sekaleeee, adel nya kasian😦 mau request nih hehe bikin ending adel happy ending ya kasian liatnya😦 hehe

    Suka

  11. Heeeaaaa aku suka part ini….

    Hampir terbongkar ternyata hahaha

    hmmm pria emang gitu, semua pria bisa bercinta dengan perempuan mana saja…tidak selalu dgn perempuan yg dia cintai. Berbeda dgn wanita…

    Tapi si marc emang sebegitu cintanya kah dgn laura ???? Kan bukannya cinta itu selalu datang karena selalu bersama ? Hmmm sudah berapa lama kau dgn adel ? Kau hanya menganggap adik saja padanya…

    #Marc tukang PHPin Adel#

    Suka

Komentar ditutup.