My Secret, His Son #5

My Secret1 copy

Ceritanya sedikit garing dan membosankan. Jadilah pembaca yang budiman. Happy reading😉

Salahkah jika kita terlalu berharap pada takdir yang sering kali mempermainkan hidup manusia? Ia ingin, sangat ingin. Berharap kenyataan yang ia hadapi sekarang dapat ia putar, seolah dirinyalah yang menjadi pemeran utama di panggung kehidupan pria itu. Berdiri di samping pria itu, mendampinginya dan akan selalu ada untuknya. Salahkah ia?

Aku mencintai wanita lain.

Ia tidak berani berharap lebih. Tapi, hati kecilnya tidak dapat memungkiri jika ia sangat berharap wanita lain yang dimaksud pria itu adalah dirinya. Jika hal itu benar, maka otomatis dirinya jugalah sebagai tokoh antagonis, duri dalam hubungan pria itu dan gadis yang sebentar lagi akan dinikahinya.

Ia mencintai pria yang salah. Sejak awal mereka memang tidak tidak bisa dipersatukan.

“Aku ingin istirahat,” gumamnya, mengakhiri sesi percakapan mereka.

Sedari tadi Laura menyadari sesuatu hal. Matanya tak sengaja menangkap sebuah benda yang berkilauan. Pria itu bahkan telah mengenakan cincin di jari manisnya. Wanita itu menangis dalam hati.

Semuanya sudah berlalu. Kisah mereka akan terkubur selamanya dalam kenangan masa lalu.

***

Marc keluar dari kamar Laura dengan langkah lunglai. Hari yang sangat melelahkan. Ia merasa seluruh energinya tersedot habis. Kembali ia membuat kesalahan. Kembali ia membuat hubungan itu menjadi renggang, semakin jauh.

Ia seorang bajingan. Bagaimana mungkin bisa seorang pria yang akan menikah dengan kekasihnya secara terang-terangan mengatakan mencintai wanita lain di depan wanita yang ia cintai itu? Marc sangat yakin Laura tahu siapa wanita lain yang ia sebut.

Di konter dapur, terdengar Miguel sedang berdebat dengan Elena. Marc menoleh ke dua orang berbeda generasi itu. Bibir Marc tertarik ke belakang. Miguel, anak itu memasang tampang memelas pada Elena. Pancake yang dibuat Elena masih terhidang di hadapannya dan belum disentuhnya sama sekali.

“Oh, ayolah. Mengapa tidak boleh? Anak anjing kan baik dan lucu, Grandma.” Miguel mengerucutkan bibirnya. Kedua tangan mungilnya dilipatkannya di atas meja.

“Miguel, Sayang. Mommy-mu sangat alergi terhadap bulu-bulu. Dia tidak tahan jika ada hewan berbulu berada di dekatnya.” Elena coba memberi pengertian pada Miguel.

“Memangnya alergi itu apaan sih?” sahut Miguel sebal.

Elena menegakkan tubuhnya dan menarik napas sejenak. Butuh kesebaran ekstra untuk menghadapi Miguel. Ini seperti mengulang kembali momen yang pernah ia alami dahulu. Laura kecil juga sama cerewetnya dengan Miguel. Jadi pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya memang benar adanya.

“Alergi itu semacam reaksi tubuh kita yang merasa tidak nyaman terhadap sesuatu yang berada di dekat kita,” jelas Elena dengan sabar.

“Benarkah?” Ekspresi wajah Miguel berubah. Ia tampak tertarik dengan topik yang sedang ia bahas dengan neneknya. “Kalau begitu aku juga merasa tidak nyaman tiap Anne berdekatan denganku. Apakah itu artinya aku alergi terhadap Anne?”

Elena mengerutkan keningnya, tampak berpikir. “Anne? Siapa dia?”

“Teman sekelasku. Rumahnya berjarak 4 blok dari sini. Orangnya sangat bawel dan suka mengomel. Aku tidak tahan jika berdekatan dengannya. Aku tidak suka gadis seperti itu,” gerutu Miguel. Wajahnya berubah sebal.

Elena terkekeh pelan mendengar gerutuan cucunya. Bibir Miguel semakin mengerucut.

“Baiklah, baiklah. Kita hentikan dulu percakapan hari ini. Kau belum menyentuh pancake-mu. Segeralah makan,” perintah Elena, mengakhiri percakapan mereka.

Miguel mengambil garpu plastik yang terletak di samping piring, lalu menusukkannya ke pancake berukuran kecil yang telah dilumuri saus kesukaannya, blueberry. Bocah itu menyuapkan pancake ke bibir mungilnya dan mengunyahnya dengan semangat begitu lelehan saus blueberry menyentuh lidahnya. Rasanya begitu lezat.

“Enak sekali, Grandma. Tapi lebih enak buatan Mommy sih,” komentar Miguel dan kembali memasukkan sepotong pancake ke dalam mulutnya.

Elena tersenyum geli. Ia tidak tersinggung selalu dibanding-bandingkan dengan Laura. Bukankah itu berarti Miguel sangat menyayangi ibunya lebih dari apa pun dan? Anak itu tak ingin ada satu orang pun yang bisa menyaingi Laura. Laura terlalu istimewa di hati Miguel.

“Grandma,” panggil Miguel di sela-sela makannya. “Pancake ini terbuat dari telur, kan?”

“Iya. Memangnya mengapa?” sahut Elena kalem.

“Aku penasaran. Sebenarnya siapa sih yang diciptakan duluan. Ayam dulu atau telur dulu?”

Elena cengo diberi pertanyaan seperti itu. Keningnya berkerut. Walaupun sudah berpengalaman mengurusi anak-anak, tapi jika ditodong pertanyaan seperti ini tetap saja ia tidak bisa menjawab. Ayam apa telur dulu ya?

Sementara di sana, tanpa mereka sadari seseorang mengulum senyum di bibirnya mendengar pertanyaan polos Miguel.

***

Marc baru kembali dari kamar kecil saat dilihatnya Miguel yang diam-diam sedang melongokkan kepalanya ke dalam kamar Laura. Anak itu mengintip dari celah pintu kecil yang tidak tertutup rapat.

Marc menyunggingkan senyum geli. Sebegitu takutnyakah Miguel menganggu waktu istirahat Laura?

“Hai, Jagoan. Sedang apa kau di situ? Kemarilah.” Marc menghampiri Miguel, kemudian berjongkok, menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Miguel.

Miguel sempat terkejut melihat kehadiran Marc. “Uncle Marc, Mommy sedang istirahat ya?” tanyanya sedikit gugup. Anak itu menggaruk batang hidungnya yang tidak terasa gatal.

“Iya, Sayang,” jawab Marc pelan.

Miguel menundukkan kepalanya. Bibirnya sedikit cemberut.

“Kasihan Mommy. Dia pasti kecapekan sekali,” katanya tak bersemangat.

“Maka dari itu Mommy-mu butuh banyak istirahat. Omong-omong, mengapa kau sendirian di sini? Grandma mana?” Marc bertanya balik. Dilihat di sekelilingnya tidak ada tanda-tanda keberadaan Elena.

“Grandma pergi ke toko. Katanya ada sedikit masalah. Pelanggan Mommy ada yang komplen,” jawab anak itu dengan polos.

Marc mangut-mangut. “Jadi kau sendirian di sini?” Marc mengangkat alisnya. “Hm, bagaimana kalau kita bermain?” tawar Marc.

“Ide bagus. Tapi….” Ekspresi muka Miguel berubah. Ia meringis.

“Ada apa, Miguel?” Marc menyentuh pundak Miguel.

Miguel tak segera menjawab. Ia masih meringis. “Mau pup,” desahnya tertahan.

Marc membulatkan matanya. Tawanya langsung pecah. Miguel lagi-lagi memasang tampang sebal. Marc segera menghentikan tawanya.

“Oh, baiklah. Ayo kita ke belakang sebelum monster berbau naga itu keluar di sini. Ayo, ayo.” Marc menggiring Miguel ke toilet.

“Hm, kau sudah bisa duduk di atas kloset, kan?” tanya Marc ketika dilihatnya cincin kloset duduk di dalam toilet itu agak kebesaran untuk ukuran bokong Miguel.

Bocah itu menjepit kedua kakinya. Badannya sedikit membungkuk. “Bisa kok,” jawab Miguel cepat. Ia sudah tidak tahan lagi ingin segera membuang monster berbau naga itu.

Marc mendudukkan Miguel ke atas kloset dan seketika bunyi mencret terdengar di dalam kloset yang diduduki Miguel. Marc terbatuk-batuk mencium bau tak sedap itu. Benar-benar bau naga. Dan sekali lagi bunyi mencret kembali terdengar. Kali ini Marc buru-buru keluar dari toilet saking tidak tahan dengan baunya.

“Bau ya, Uncle Marc?” teriak Miguel dari dalam.

“Bau sekali, kau tahu?” balas Marc dengan napas tersengal-sengal. Ia tidak menyangka kotoran anak-anak jauh lebih busuk daripada orang dewasa.

“Ya sudah. Kalau kau tidak kuat, kau boleh menungguku di luar. Tapi, kau harus janji tidak boleh meninggalkanku sendirian di sini,” ujar Miguel setengah berteriak.

“Baiklah. Aku tidak akan ke mana-mana.”

Marc bernapas lega. Bau monster itu masih tercium. Setidaknya tidak sebau ketika kau berada di dalam. Marc berani bersumpah, baunya benar-benar memabukkan dan berpotensi membuat orang-orang jatuh pingsan.

“Uncle Marc,” panggil Miguel dari dalam. Anak itu terlihat santai di atas kloset. Ia menggoyang-goyangkan kakinya ke sana kemari.

“Iya, Miguel? Ada apa?” sahut Marc. Pria itu melonggarkan dasi kerjanya.

“Omong-omong, hari ini kau tidak bekerja ya?”

“Tidak. Aku kerja kok.”

“Kerja? Tapi kau ada di sini. Bagaimana bisa kau bilang sedang kerja?” Miguel tidak puas dengan jawaban Marc.

“Aku kan menjagamu. Itulah pekerjaanku. Apa kau sudah selesai?” Ia melirik sekilas arloji di tangan kirinya. Hm, sudah terlalu sore untuk kembali ke kantor.

“Belum. Tapi kau tidak digaji Mommy-ku untuk menjagaku.” Suara Miguel kembali mendebat Marc.

Marc menyedekapkan kedua tangannya di dada. Punggungnya ia sandarkan ke tembok. “Kau sangat pandai bicara, buddy,” sindir Marc. Sejujurnya dari tadi setiap ia mengatakan apa saja pasti ada saja bantahan dari Miguel. Namun, Marc tidak merasa kesal sama sekali.

“Grandpa juga sering bilang begitu. Jadi, apa kau bolos kerja hari ini?” Terdengar suara mencret lagi. Marc meringis di tempat. Ia belum terbiasa mendengar suara-suara seperti itu.

“Sesekali bolos kerja itu menyehatkan, kau tahu? Kau tidak perlu berkutat dengan berkas-berkas jelek dan menjengkelkan itu.” Marc menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit berwarna kuning kecokelatan itu.

“Benarkah? Kalau begitu sesekali bolos sekolah juga menyehatkan dong?” Miguel balik bertanya.

“Mungkin. Kau bisa mencobanya,” sahut Marc riang.

“Tidak ah,” timpal bocah itu langsung. “Aku tidak mungkin melakukannya. Bisa-bisa Mommy menghukumku. Uncle Marc, aku sudah selesai,” ucapnya kemudian.

Marc memutar tubuhnya. Sebelum masuk ke dalam, ia menarik napas dalam-dalam. Dengan cepat ia menghampiri Miguel dan menurunkan anak itu dari dudukan cincin kloset. Marc melihat ke bawah sebentar. Ia mengernyit jijik ketika dilihatnya kotoran berwarna kuning itu di dalam kloset. Cepat-cepat ia menekan tombol flush dan terbawalah monster berbau naga itu di pusaran air.

Marc menarik tisu di samping kloset. Disuruhnya Miguel nungging. Marc menahan rasa jijiknya saat mengelap bokong Miguel. Dalam hati ia terus menghibur dirinya dengan kata-kata, “tidak apa-apa. Ini pelajaran baru. Jadikan saja ini sebagai pengalaman.”

Selesai mengelap bokong Miguel, Marc cepat-cepat membuang tisu yang telah berubah warna itu ke dalam lubang kloset. Kembali ia menekan tombol flush.

“Mommy-mu galak, eh?” tanya Marc, menyambung percakapan mereka yang tadi.

Miguel menerima celana yang diberikan Marc, kemudian memakainya. “Kadang-kadang sih. Tapi, dia ibu yang baik kok. Mommy sayang kepadaku,” ucapnya.

“Dia memang perempuan yang mengagumkan, bukan?” Marc membelakangi Miguel. Ia membersihkan tangannya di atas wastafel.

“Begitulah,” jawab Miguel dengan bangga. “Hm, omong-omong, kau jijik ya dengan kotoranku?”

Marc terbatuk. Ia tersedak ludahnya sendiri. Astaga, anak ini….

***

Marc dan Miguel berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan. Tangan mereka saling bergandengan. Siapa pun yang melihat keintiman mereka seperti itu pasti akan berpikir mereka adalah sepasang ayah dan anak yang sedang menikmati jalan-jalan sore.

Matahari mulai beranjak pulang. Sinarnya yang kuning kemerahan menyapa wajah mereka berdua. Baik Marc maupun Miguel sama-sama menyipitkan matanya. Mereka duduk di bangku panjang di bawah naungan pohon Walnut. Rasanya sangat menyenangkan menyaksikan matahari terbenam dari sini.

Jari-jari mereka masih menaut satu sama lain. Miguel menunduk. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia menatap tangan Marc. Ada sebuah cincin yang tersemat di jari manis pria itu.

“Kau mengenakan cincin?”

Marc ikut menunduk, melirik cincin yang disebut Miguel. “Ya,” sahutnya singkat.

“Sejak kepan kau mengenakan ini?” tanya Miguel.

“Belum lama,” balas Marc enggan.

Miguel melepas tautan tangan mereka. Ia meraih tangan kanan Marc dengan kedua tangan mungilnya dan memperhatikan cincin itu dengan saksama.

“Ini cincin apa?” tanya Miguel penasaran.

“Cincin tunangan.” Suara Marc tiba-tiba terdengar berat.

“Kau sudah bertunangan?” Miguel mengerutkan kening.

“Ya, begitulah.” Marc menjawab sekenanya. Tapi tidak resmi, lanjutnya dalam hati.

Sebenarnya cincin ini hanya sebagai tanda. Adel bersikeras ingin menyematkan cincin ini ke jarinya. Mereka memang tidak jadi tunangan. Tapi, gadis itu ingin orang-orang tahu bahwa sebentar lagi mereka akan menikah. Bahwa Marc adalah miliknya.

“Apa kau mencintai gadis itu?” Miguel bertanya dengan nada polos.

“Kau ingin aku bohong atau jujur?” Marc balik bertanya. Ada nada ragu yang terselip dalam ucapannya.

“Mommy mengajarkanku untuk selalu berkata jujur walaupun itu pahit,” celoteh bocah itu.

Marc menghembuskan napasnya keras. Ia memandang ke depan sebentar, lalu kembali menghadap Miguel. “Sejujurnya tidak terlalu.

Miguel membulatkan matanya. “Tidak terlalu? Lalu, kenapa kau mengikatnya?” tanya Miguel, sedikit histeris.

“Dia yang mengikatku,” ucap Marc dengan suara lemah.

Kali ini giliran Miguel yang menghembuskan napasnya keras. “Kau tahu? Sebuah hubungan tidak akan bertahan jika tanpa cinta. Itu tidak baik,” ceramah bocah kecil itu.

“Ya, aku tahu itu. Eh, omong-omong kau belajar dari mana kata-kata itu?” tanya Marc heran. Anak ini terlalu pandai bicara. Bahasanya terlalu tinggi untuk seukuran anak berusia 4 tahun—hampir 5 tahun sebenarnya.

“Keluar begitu saja dari mulutku. Apa kau dipaksa?” Lagi. Miguel terus menanyai Marc.

Marc tidak langsung menjawab. “Sebenarnya terpaksa,” gumamnya.

Wajah Marc berubah murung. “Baiklah. Aku mengerti,” kata Miguel pada akhirnya.

“Mengerti apa?” timpal Marc.

“Kau tidak ingin membicarakannya denganku,” jawab Miguel, sangat jujur.

Marc tidak merespon ucapan Miguel dan itu berarti Marc memang tidak ingin membicarakannya dengan Miguel.

“Apakah gadis itu cantik? Aku jadi penasaran. Sejujurnya saat kau dan kekasihmu datang ke toko Mommy, aku tidak terlalu memperhatikannya.” Miguel menggeser posisi duduknya agar lebih dekat ke arah Marc.

“Kau ingin melihatnya?” Miguel mengangguk antusias.

Marc mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto Adel pada Miguel.

“Cantik sekali,” komentar bocah itu.

“Ya, dia memang cantik.” Marc ikut menimpali.

“Bukan. Maksudku gaunnya yang cantik, bukan orangnya,” ralat Miguel dan langsung mendapatkan pelototan dari Marc. Namun, itu tidak berlangsung lama. Tawa mereka pecah seketika.

Langit mulai menghitam. Lampu-lampu jalanan telah dinyalakan. Dan mereka bersiap untuk pulang ke rumah.

To Be Continued…

22 thoughts on “My Secret, His Son #5

  1. Oh Mimigu (tiba-tiba punya panggilan kesayangan buat keponakanku ini)😀 gaya bahasamu udah melewati usiamu dude… dasar keturunan hormonnya Marc nihh jadi umur 5 thn tau tentang cinta.

    Saya suka…saya suka…saya suka…adegan Marc nungguin Mimigu BAB :p

    Suka

  2. Imut bangetkan nick name dari aku Miguel😉

    Ah bagaimana kalau si Anne…gadis kecil yg suka ngributin Miguel disekolah itu, slalu manggil Miguel dgn sebutan Mimigu
    #saran

    Suka

  3. aduuuh..
    mereka sweet banget deh.. bikin aku senyum senyum sendiri bacanya.. apalagi pas marc nungguin miguel pup.. hahaha kocak banget. udah gitu miguel pake tanya kalo marc jijik sama kotorannya.. hadeuuh..
    emang sifat miguel yang bawelnya setengah mati ditambah gaya bahasanya yang udah kelewat dewasa itu selalu jadi hiburan tersendiri buat aku.. hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s