Rainbow #1

Aku bermimpi tentang sebuah sayap kecil yang terkepak, berhenti di kursi kayu hitam pudar. Bulu-bulunya putih dan ia sendirian di tengah guyuran hujan. Kepalanya tertunduk dan matanya terpejam, seolah sedang berduka. Dalam hati aku bertanya-tanya, di mana pasangannya? Bukankah merpati selalu bersama?

Dan aku salah. Burung itu tidak sedang menunggu pasangannya, melainkan saudaranya yang telah pergi. Meninggalkannya sendiri. Ia kesepian.

***

Ada yang tak biasa di sini. Seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah anak tertua di keluarga Sánchez. Semua orang memasang raut tegang dan gelisah. Mereka sedang menunggu salah seorang anggota keluarga lagi. Gadis itu sebentar lagi akan pulang.

Robert selaku tuan rumah memasang ekspresi yang tidak bisa ditebak. Wajah tampannya yang kini dihinggapi keriput karena termakan usia terlihat keras. Garis rahangnya yang tegas dengan sepasang bola mata cokelatnya—yang kemudian diwariskan kepada putri semata wayangnya—tampak tidak tenang.

Sesuatu telah terjadi. Kabar yang didapatkannya beberapa jam yang lalu seakan melemparnya ke dasar jurang sekaligus memunculkan perasaan sukacita di hatinya. 16 tahun telah berlalu. Ia tidak pernah menyerah mencari permata lainnya yang hilang. Dan kini ia sudah menemukannya. Tidak ada keraguan sedikitpun di benaknya jika yang ditemukannya itu ialah permata hatinya yang selama ini ia cari.

Elena meremas legan Robert pelan. Raut wajah wanita berumur 40 tahun itu tak kalah gelisah dengan suaminya. Keharuan tak mampu disembunyikan Elena dari wajahnya. Walaupun dalam hatinya menyimpan sedikit kekhawatiran akan bagaimana reaksi putri mereka saat tahu mengenai hal ini.

“Apa kau benar-benar yakin, Robert? Sangat mustahil sekali setelah 16 tahun berlalu dan kini kau bisa menemukannya. Apa kau yakin anak itu adalah anak yang kau cari selama ini?” Chris, adik kedua Robert yang usianya 2 tahun lebih muda angkat bicara. Pria itu juga tidak kalah terkejutnya ketika mendengar berita ini.

“Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya, Chris,” desis Robert dengan emosi yang bercampur aduk.

Dex, adik bungsu mereka—satu-satunya pria di keluarga Sánchez yang belum menikah dan anti dengan hubungan jangka panjang di usianya yang ke 35 tahun—bertatapan dengan Chris. Ia masih belum bersuara. Biasanya pun jika ia bersuara, ia tidak akan didengar oleh kedua pria di hadapannya. Imej bad boy yang disandangnya sejak remaja sudah melekat pada diri Dex dan membuat kedua kakak lelakinya ragu akan jiwa tanggung jawab Dex. Namun, walaupun begitu Dex cukup handal mengurusi perusahaannya yang bergerak di bidang periklanan.

Chris menghelas napas berat. Ia tahu ini tidak mudah untuk kakak tertuanya.

“Lalu, bagaimana dengan Laura? Dia tidak pernah tahu masalah ini. Kau ingat? Kita semua sepakat menyembunyikan hal ini dan mengubur rahasia ini dalam-dalam. Dia akan sangat kecewa sekali jika dia tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Chris mencoba untuk tenang.

“Aku tahu, Chris,” balas Robert gusar.

“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” Chris bertanya dengan suara kalem.

Robert tidak langsung menjawab. Butuh 15 detik sebelum bibirnya bergerak dan membuat seluruh anggota terkejut. “Aku akan membawanya pulang,” putusnya dengan nada final.

“Dan membiarkan Laura kecewa?” sahut Dex tidak terima.

Dex tak habis pikir apa yang merasuki otak Robert hingga memutuskan membawa orang asing pulang ke rumah ini. Walaupun orang asing itu disebut-sebut sebagai anggota keluarga Sánchez yang telah hilang 16 tahun yang lalu. Bayangkan saja? 16 tahun. Rasanya sangat mustahil.

Dex tidak akan setuju dengan keputusan Robert. Mungkin ia bukan paman yang baik untuk Laura dan jarang memberikan contoh yang baik pada gadis itu. Tapi, Laura adalah keponakan kesayangannya dan ia tidak akan membiarkan siapa pun yang berani mengganggu ketentraman gadis itu.

“Apa maksudmu?” balas Robert, menyipitkan matanya ke arah Dex.

Dex bangkit dari tempat duduknya dan balas menatap Robert dengan tatapan sengit. Sementara para istri, Elena dan Linda—istri Chris—hanya memandang Dex dalam diam. Dex tidak peduli ia dianggap tidak sopan. Sebodoh amat, pikirnya.

“Laura selalu beranggapan dia adalah anak tunggal. Apakah kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Laura jika kau membawa anak itu pulang dan mengenalkan padanya sebagai….”

“Anak itu juga putriku, Dex!” potong Robert dan ikut bangkit berdiri. “Aku tidak mungkin membiarkannya hidup lebih lama di panti asuhan sementara dia punya rumah dan orangtua. 16 tahun aku dan Elena mencarinya. Dia putriku. Laura juga putriku. Mereka kembar,” tukas Robert, marah.

“Saudara kembar yang tidak pernah kau beritahu pada Laura. Itulah salahmu dan salah kita semua. Kau harus tahu bagaimana karakter Laura. Dia mudah kecewa, Robert.” Chris ikut bangkit berdiri dan berjalan ke arah Robert, lalu mendorong kakak tertuanya agar kembali duduk ke kursinya. Chris mengarahkan pandangannya ke Dex, memberi tanda agar pria itu juga duduk kembali ke kursinya. Untuk saat ini, peran Chris yang bijaksana memang dibutuhkan.

“Aku pulang!” seru seorang gadis bernada riang memecah suasana panas di ruang keluarga. Seketika raut tegang kembali menyelimuti mereka satu per satu.

“Mom, Dad, Paman Chris, Bibi Linda, oh, hai Paman Dex. Mengapa kalian semua ada di sini? Ada acara apa?” tanya Laura heran.

“Laura, kemarilah,” ujar Robert datar.

Laura melangkah sambil menenteng tas sekolahnya. Ia berjalan mendekat dan mengambil tempat duduk di sebelah ayahnya. Laura memandang mereka semua dengan tatapan bingung. Ia coba mengingat-ingat apa hari ini adalah hari istimewa, semacam ulang tahun salah satu anggota keluarga barangkali. Tapi, ia tidak mengingat hari ini merupakan hari istimewa.

“Ada apa? Mengapa kalian tampak tegang seperti ini?” Laura masih bertanya-tanya.

“Laura.” Robert berdeham sebentar. “Ada yang perlu kami sampaikan. Tentang….”

“Tunggu!” potong Laura. “Apa ini masalah pribadi? Dad, nilai sekolahku baik-baik saja dan kelakuanku di sekolah juga tidak bermasalah. Guru lesku juga sering memujiku dan aku juga tidak memiliki konflik dengan teman-temanku,” jelas Laura panjang lebar.

“Bukan tentang itu Laura,” sela Robert.

“Bukan? Lalu?” Laura penasaran.

Semua orang di ruangan itu menunggu dengan tegang dalam diam. Dex membuang mukanya ke arah lain. Ia tidak suka berada dalam situasi seperti ini.

“Kau akan bertemu dengan seseorang,” Robert menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “kembaranmu.”

Gadis itu sontak membelalak syok.

To Be Continued…

Pertama-tama, aku tau ini fanfic bener-bener gagal. Jadi kalo kalian bingung baca cerita ini, wajar aja kok. Soalnya yang nulisnya pun bingung ini cerita apaan. Trus Marc bakal muncul gak? Hm, kita liat saja ya. Soalnya ini ff iseng. Jadi belum aku bikin draft-nya. Cuma buat-buat doang soalnya. Kedua, aku mau ngucapin terima kasih buat para readers yang udah mampir dan baca ff-ku, serta telah meninggalkan komen di blog, di twitter maupun di facebook. Thanks banget. Itu aja deh. Byeee…..😀

13 thoughts on “Rainbow #1

  1. Adauuuuu Laura punya kembaran ????? Seperti apa pula tampaknya…

    Apa kembaran Laura tokohnya tetap Victoria Justice ???? Apa mereka kembar identik (eh bener gk yah ini istilah untuk kebar yg berbeda wajah)

    Marc ??? Boleh ada boleh tidak😀 *jahat yah* hmmm tetep ada donk….

    Jadiin Marc, pria yg kebingungan dgn kehadiran Laura dan kembarannya…
    Mungkin bisa tuh Marc dicouplekan sama kembarannya Laura (udah main jodoh-jodohin aja belum juga tau orangnya kyak apa)…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s