Mini FF : The Real Champion In Our Heart

cove2r

Marc menatap ke sekelilingnya. Orang-orang berlalu-lalang dengan berbagai kesibukan. Kamera menyorot ke sana kemari. Seorang umbrella girl atau biasa yang dikenal dengan gadis payung berdiri di sebelahnya, memayunginya dari sinar matahari.

Sebenarnya ide umbrella girl yang dipakai Dorna, selaku pimpinan tertinggi ajang balap MotoGP ini hanya untuk menaikkan rating saja. Gadis-gadis itu berpakaian seksi dan memamerkan tubuh indah mereka. Membuat siapa pun yang melihat mereka akan kesulitan menelan ludah.

Mata Marc memandang bosan. Ini merupakan tahun keduanya di ajang balap bergengsi tersebut. Setelah merengkuh juara dunia pada musim lalu di sirkuit Valencia yang turut serta mencatatkan dirinya sebagai pembalap termuda yang merebut titel juara dunia, tak lantas membuatnya puas. Ia lelah. Duduk di atas tunggangnya, memulai balapan, melahap lap demi lap yang kemudian membawanya menuju garis finish.

Orang-orang akan menyambutnya di parc fermé, tempat berkumpul para tim juara yang telah menunggunya. Mereka akan menyorak bangga untuk kemenangan yang telah diraihnya. Kemudian naik ke atas podium, merayakan kemenangannya dengan hujan sampanye dan diakhiri dengan wawancara. Selalu begitu dan berulang-ulang.

Setiap akhir pekan pemandangan seperti ini sudah biasa baginya. Balapan demi balapan harus ia ikuti setelah menandatangi kontrak dengan Repsol Honda, pabrikan yang menaunginya. Jauh di lubuk hatinya ada ketakutan yang sering mengerubungi. Ia mempertaruhkan nyawanya setiap memacu kuda besinya dengan kecepatan di atas 200km/h.

Dulu ia berambisi menjadi seorang juara dunia. Terkenal dan dicintai banyak orang. Dan ia mewujudkannya. Tanyalah pada publik Spanyol, siapa yang tidak mengenal sosok Marc Márquez Alenta, seorang pembalap muda bertalenta yang sering mengharumkan nama Spanyol dengan lagu kebangsaan yang selalu diputar setiap kali ia meraih kemenangan.

Ia tidak merasa bahagia dengan apa yang telah diraihnya. Ia memang seorang junia dunia. Dan dengan jujur ia ingin bilang ia benci menjadi seperti ini. Hidupnya berubah. Ia lelah. Ia bosan dengan rutinitas akhir pekannya. Ia ingin mengakhiri semuanya.

Semuanya sudah bersiap. Balapan akan dimulai. Orang-orang mulai meninggalkan grid, tempat para rider akan memulai perlombaan demi sebuah trophy dan kebanggaan. Dimulai dengan putaran Warm Up dan ketegangan pun merayapi setiap rider. Adrenalin mereka memacu deras dengan detakan jantung yang menalu kencang. Dan balapan pun dimulai.

Marc Márquez, memulai balapan di posisi pertama. Banyak yang memprediksikan ia akan memenangi balapan ini setelah sebelumnya ia menjadi rider tercepat di setiap sesi latihan bebas.

Namun, mereka salah. Balapan baru berlangsung 2 putaran dan pembalap yang bernomor 93 itu terpelanting keluar dan tubuhnya berguling-guling di gravel. Untuk sesaat tubuhnya tidak bergerak. Para medis langsung mengerubunginya. Mobil ambulans datang dan orang-orang berpakaian putih itu lantas menandu tubuhnya naik.

***

Ada 2 hal yang dipercayai oleh banyak orang. Balapan bukan tentang bakat saja. Namun, harus disertai keberuntungan pula. Marc beruntung. Pertama, ia beruntung masih selamat setelah kecelakaan hebat yang menimpa dirinya. Kedua, ia beruntung tak mengalami cidera yang berarti. Hanya mengalami memar di punggung dan sikunya saja.

Marc masih di Medical Centre, sebuah pusat kesehatan yang selalu tersedia jika terjadi kecelakaan di atas sirkuit. Di luar ia mendengar beberapa orang berdebat mengenai kondisinya. Suara ayahnyalah yang paling keras terdengar. Marc tahu, tidak mungkin kecelakaan hebat yang menimpa dirinya tadi hanya meninggalkan luka memar di tubuhnya. Ia rasa ada yang lain. Setiap ia memejamkan matanya dan membukanya lagi, ia seperti melihat objek di depannya terbagi dua. Ia melihat ada dua bayangan. Kesimpulannya, ia mengalami masalah pada penglihatannya.

Julia, ayah Marc masuk ke dalam ruangan yang ditempati Marc. Raut wajah Julia tegang Pria paruh baya itu mendekati putranya. Saat Marc melihat kedatangan ayahnya, ia melihat bayangan ayahnya ada dua.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Julia dengan nada khawatir.

“Aku baik.” Marc menjawab singkat.

“Kau tenang saja. Petinggi Honda akan mengusahakan perawatan terbaik untukmu. Matamu akan kembali normal.” Julia menyentuh telapak tangan Marc yang telentang.

Marc mendengar maksud lain yang tersirat dalam ucapan Julia. “Seberapa besar resikonya?” tanyanya langsung to the point.

Julia diam sejenak sebelum menjawab. “Kemungkinan terburuknya… kau mungkin bisa buta permanen,” jawabnya enggan.

“Aku tahu,” desah Marc sedih.

“Kau tidak perlu khawatir, Marc. Aku yakin mereka akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhanmu.”

Ya, semoga saja, Dad, balas Marc di dalam hati. Ketakutan seperti inilah yang ia maksud. Jika kau mendapatkan banyak, kau juga harus melepaskan sebagian. Dan yang ia pertaruhkan di sini sekarang adalah matanya.

***

Mungkin Tuhan mendengar doanya setiap ia mengeluh tubuhnya lelah. Dan Tuhan mengabulkan permintaannya. Kabar baiknya Marc tidak buta. Kabar buruknya ia tidak bisa ikut balapan di ajang MotoGP lagi. Keputusan final telah diambil oleh tim dokter yang menangani operasinya. Untuk selamanya ia akan melihat objek dengan dua bayangan. Ia cacat.

Roser, ibunya menangis. Julia, ayahnya tidak bisa terima. Dan Alex, adiknya tak mampu berkata apa-apa. Sebab ia sendiri juga turut ikut dalam ajang balap tersebut, di Moto3, dua kelas di bawah MotoGP.

Kini Spanyol kehilangan seorang pembalap bertalenta. Ia akan hilang dari ajang balap itu untuk selamanya. Marc coba tegar. Ia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan keluarganya. Ia ingin memperlihatkan walaupun kariernya sudah habis tapi ia belum habis. Ia masih Marc yang sama. Marc yang selalu menaati perkataan kedua orangtuanya, Marc yang selalu mencintai adik laki-lakinya dan Marc yang selalu tersenyum dalam suka maupun duka.

“Aku tidak apa-apa.” Kalimat itulah yang selalu terlonta di bibir setiap melihat pandangan sedih dari orang-orang terdekatnya.

Mereka semua coba tersenyum di hadapan Marc. Walaupun dalam hati, diam-diam mereka menangis. Marc, anak kebanggaan bagi Julia dan Roser, kakak teladan bagi Alex, dan sahabat terbaik bagi teman-temannya. Mereka semuanya mencinta pemuda berusia 21 tahun itu. Dan akan selalu begitu.

***

Marc duduk di tepi jendela kamarnya. Pandangan matanya melamun. Dua bulan sudah berlalu sejak kecelakaan itu. Hidupnya kini hampa. Tanpa deru mesin motor yang biasa ia dengar. Tanpa sorakan fans yang senantiasa mengelu-elukan namanya di setiap balapan. Ia bukan lagi Marc Márquez Alenta yang dulu. Ia hanya mantan juara dunia MotoGP. Pembalap termuda yang juara dunia sekaligus pembalap termuda yang mengakhiri karier balapnya. Semuanya sudah habis. Ia bukan siapa-siapa lagi.

Air matanya jatuh. Ia sering menangis diam-diam seperti ini tanpa sepengetahuan keluarganya. Seandainya waktu bisa ia putar, ia tidak mau mengeluh tubuhnya lelah. Ia ingin menarik kembali doanya. Ia ingin membalap lagi. Ia rindu duduk di atas kuda besinya. Ia rindu dengan suasana balapan, orang-orang yang berada di paddock dan ia rindu bertemu dengan penggemarnya. Salahkah jika ia berharap seperti itu?

Ia tidak pernah merasa kehilangan seperti ini sebelumnya. Marc terisak hebat. Isakannya berubah menjadi tangisan. Ia menyesal. Sangat menyesal setelah apa yang terjadi. Marc mengusap matanya. Bahunya naik turun. Hatinya sangat sakit.

Marc merasa kepalanya menyentuh sesuatu. Untuk sesaat ia agak terkejut. Namun, ia merasakan kehangatan. Tangan itu kemudian membelai rambut dan punggungnya. Marc balas melingkarkan tangannya di pinggang itu. Ia merasa aman di dekapan ini.

“Kau tidak sendirian, Nak. Menangislah jika kau ingin menangis. Kau tidak perlu sok tegar demi kami. Kau bisa berbagi dengan kami. Kau tidak perlu malu,” ucap Roser di rambut Marc.

“Maafkan aku, Mom. Aku telah membuat kalian kecewa padaku,” tangis Marc di dada Roser.

“Tidak, Marc. Kau tidak pernah membuat kami kecewa. Kami sangat bangga padamu, Nak.” Sebuah suara menyahut di dekat Marc.

Marc menjauhkan kepalanya dari dekapan Roser. Dilihatnya Julia yang berjalan menghampirinya dengan mata memerah. Julia menarik Marc berdiri. Matanya mengabur oleh air mata. Dirasakannya cengkraman kuat ayahnya di bahunya.

“Kau tidak pernah membuat kami kecewa,” ulang Julia. “Kau adalah anak kebanggaan kami. Kami semua sayang padamu. Kau terluka, kami juga terluka. Kau sakit, kami jauh lebih sakit, Marc. Jangan menyimpan kesedihanmu sendirian. Kau punya kami. Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang telah terjadi. Kau tidak salah.” Julia merengkuh Marc ke dalam pelukan. Mereka menangis bersama.

“Marc….” Alex berjalan mendekat. Wajahnya dibanjiri air mata. Alex masih tidak menyangka kakaknya, orang pertama yang mengajarkannya bagaimana cara menunggangi kendaraan beroda dua dirundung musibah seperti ini. Alex tidak bisa membayangkan apa jadinya jika dirinyalah yang tertimpa musibah seperti ini. Ia pikir ini tidak adil untuk Marc. Marc tidak pantas mendapatkannya.

“Alex….”

Alex memeluk Marc dengan erat. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan Marc sekarang.

“Jangan menangis,” bisik Marc dengan suara serak.

Alex semakin terisak hebat. Hatinya nyeri mendengar Marc menyuruhnya jangan menangis. Bagaimana mungkin ia tidak menangis melihat kondisi kakak kesayangannya seperti ini?

“Aku tidak menangis,” balas Alex dengan suara bergetar.

“Dasar bodoh!” Marc mendorong tubuh Alex. “Bajuku hampir basah semua karena air matamu dan kau masih berani bilang tidak menangis? Bodoh sekali kau,” umpat Marc.

Terselip nada canda. Alex tahu kakaknya tidak bermaksud menyebutnya bodoh. Inilah karakter Marc yang asli. Marc kembali.

“Kau kakak terbaikku,” aku Alex, mengusap matanya dengan kedua telapak tangannya.

“Ya, kau juga adik terbaikku,” kata Marc seraya tersenyum.

“Dan kalian berdua adalah putra terbaik kami. Kemarilah.” Julia dan Roser sama-sama merentangkan tangan. Marc dan Alex maju bersamaan. Mereka berpelukan hangat. Sangat erat.

Kau tidak perlu mengangkat sebuah trophy untuk menjadi seorang juara. Karena juara sejati adalah orang yang mampu berdiri tegar saat cobaan datang melanda. Kau tidak perlu takut. Ada mereka, keluargamu yang menyokongmu di belakang.

***

Hai…, jadi gimana ceritanya? Semoga dapat menghibur kalian semua. Dan, dulu aku pernah bilang kalo aku gak pernah mempermasalahkan yang namanya silent reader alias pembaca gelap. Nah, setelah ada beberapa kejadian yang bikin aku dongkol, mulai sekarang aku rada sebel *bukan benci* sama sider. Maka dari itu, jadilah pembaca yang pengertian. Bagi yang kenal aku pasti taulah karakter aku yang mood-mood-an. Intinya, aku berusaha memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan dan tentunya aku ingin balasannya, yaitu penghargaan dari kalian. Aku gak minta yang macam-macam kok. Just leave your comments dan itu akan membuat aku semangat menulis. Okei, see ya. Thank you for reading😉

.

29 thoughts on “Mini FF : The Real Champion In Our Heart

  1. setiap kalimat dari awal sampe akhir, kamu bisa membuat para pembaca ikut merasakan apa yg marc rasakan, dan kalimat2 terakhir begitu menyentuh,😦
    *semoga ini gk akan pernah terjadi*

    “udah lama banget gk mampir di blogmu rit, ternyata aku ketinggalan ff banyak banget, mungkin klo ada waktu senggang bisa kali ngacak2 blogmu utk nyari ff, hehehe (minta izin nihh,,) #Boleh kan??”🙂

    Suka

  2. Nagissssss bacanya Ritaaaa kamu bikin aku nangis….tanggung jawab ! Hahaha

    aisshhhh ini cuma FF tike ! Not True story !….

    Suka Quote di akhirnya….

    I’m back to your reader.

    Aku akan lebih sering coment langsung di blognya rit,dan bakal jarang di twitter lagi.
    Aishhh tag me lagi donk…klo post ff lagi.

    Suka

  3. *tisu ditrima gk mau dr author, maunya dari marc*😀

    oke kembali kasihhhhh.🙂

    Ah ya Rit, penulis2 FF MM…yg jd temenmu siapa aja…atau apa nama blognya. Cz lg haus pengen baca2 ff mm. Gara2 dianak tirikan sama novel haha

    Suka

  4. aku sampai meneteskan air mata, hiks… hiks…
    aku berharap saat di akhir cerita ternyata marc hanya bermimpi mengalami kecelakaan tersebut, ah tapi ternyata tidak begitu akhirnya… ^^`
    nice story🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s